Dampak Covid-19 bagi Kesehatan Mental Remaja

Pandemi covid-19 yang melanda dunia ini tidak hanya berefek pada kesehatan fisik. Akan tetapi, kesehatan mental juga dapat terdampak. Apa akibat negatif wabah ini bagi mental remaja?

Ya, penerapan physical distancing dan aktivitas belajar di rumah dalam jangka waktu yang relatif lama ini dapat memengaruhi kondisi psikis remaja. Awalnya, mungkin mereka merasa senang karena tidak perlu hadir di sekolah. Namun, seiring waktu berjalan, ada situasi dan kondisi yang rasanya ‘kurang bebas dan leluasa’, tidak seperti wabah ini terjadi.

Nah, menurut NYU Langone Health, mayoritas remaja menjadi tampak murung, sedih bahkan kecewa selama menjalani ‘karantina’ atau isolasi diri di rumah masing-masing. mereka bertanya-tanya kapan situasi ini akan selesai dan kembali seperti dulu.

Perubahan situasi yang cukup mendadak gegara pandemi ini memang berdampak secara psikologis. Para remaja belum bisa lagi bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya, bermain, beraktivitas, atau menonton acara bersama. Meski di satu sisi, mereka bisa berinteraksi dengan menggunakan teknologi seperti zoom meeting, google meeting dan sebagainya. Namun, atmosfernya tentu terasa berbeda.

Menurut dr. Aleta G. Angelosante, PhD, asisten profesor departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, ada berbagai faktor yang perlu diketahui. Bahwa perasaan sedih, kecewa dan sebagainya itu hal yang wajar dan normal. Media sosial yang bisa dimanfaatkan tidak bisa sepenuhnya sebagai pengganti interaksi sosial di antara mereka.

Perlu diperhatikan orangtua bila si remaja kemudian menunjukkan gejala seperti berikut:

  • Merasa sakit perut, pusing, dan keluhan fisik lainnya.
  • Menjauh atau mengisolasi diri dari orangtua, teman, bahkan mengubah kelompok pertemanan.
  • Semangat belajar turun sehingga prestasi akademik pun melorot.
  • Sering mengritik diri sendiri

Lalu, bagaimana cara menangani efek negatif pademi covid-19 terhadap psikis remaja? Berikut ini, tips menjaga kesehatan berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) :

  • Pertahankan kegiatan rutin sehari-hari. Atau,susun berbagai aktivitas baru.
  • Ajak remaja untuk mengobrol santai tentang pandemi ini. Gunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami remaja.
  • Dukung terus semangat dan motivasi remaja dalam belajar. Ciptakan suasana belajar di rumah yang menyenangkan. Susun jadwal sehari-hari belajar, diselingi dengan kegiatan bermain yang mengasyikkan di rumah.
  • Libatkan remaja dalam kegiatan positif yang dapat mengungkapkan perasaannya misalnya, menulis, melukis, dan sebagainya.
  • Bantu si remaja untuk tetap aktif bersosialisasi dengan teman-teman atau kerabat dan saudaranya. Bisa dilakukan secara virtual menggunakan teknologi internet.
  • Pastikan si remaja tidak tergantung menghabiskan waktu hanya untuk bermain gadget atau games. Meskipun mengasyikkan, namun lama-lama akan terasa jenuh dan bosan. Selingi dengan kegiatan lain, mungkin misalnya olahraga ringan di dalam rumah, menyiram tanaman di halaman, memasak, menyanyi, dan kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Hal ini juga sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya.

Yang pasti, efek  pandemi covid-19 terhadap mental remaja perlu diwaspadai.  Peran orangtua sangat penting untuk selalu memerhatikan sang remaja. Boleh jadi, kelihatannya ia biasa-biasa saja tanpa masalah. Namun, tidak ada salahnya bila orangtua memerhatikan lebih seksama, lakukan pendepatan dan dialog yang terbuka sehingga bisa diketahui apakah ia baik-baik saja. Atau, justru kondisi mentalnya terdampak pandemi covid-19.

Foto : freepik.com

Cegah Bosan di Rumah saat Pandemi Covid-19

Kebosanan muncul pada sebagian keluarga di rumah saja karena sifat pasif. Mengapa sebagian keluarga merasakan kebosanan hidup satu atap bersama keluarga? Jawaban yang seringkali muncul adalah karena tidak memperoleh atau tidak mendapatkan, atau tidak “menemukan” hal yang menarik perhatian yang dirasa menyenangkan dalam kehidupan keluarga di rumah.

“Sehingga solusinya mudah jika tidak ingin merasa bosan, yaitu ubah menjadi bersifat aktif. Kunci agar anggota keluarga memiliki perilaku aktif tersebut berkaitan dengan “value atau nilai” tentang keluarga. Seberapa penting keluarga bagi seseorang? Seberapa penting terbangunnya ikatan keluarga antar anggotanya? Seberapa penting waktu kebersamaan antar keluarga? Seberapa penting membangun suasana yang sehat dan membahagiakan di keluarga,” ujar Prof Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, IPB University sekaligus Ketua Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia.

Jadi, bagaimana anggota keluarga mencari, menggali, mengembangkan, menciptakan aktivitas yang menyenangkan dan atau yang menarik perhatian dalam rutinitas kehidupan keluarga.

Menurut Prof. Euis Sunarti, ada delapan tips mencegah kebosanan “dirumah_ aja” saat wabah COVID-19. Yakni ubah nilai dan cara pandang. Jadikan kesempatan “dirumah aja” sebagai momen berharga untuk keluarga menemukan jati dirinya, untuk tumbuh dan tumbuh dan berkembang. Kedua, bangun kesadaran berharganya keluarga dan waktu kebersamaan keluarga. Ketiga, perluas ruang dan irisan komunikasi antar anggota keluarga, sehingga banyak hal yang bisa diceritakan, diobrolkan dan didiskusikan dalam keluarga.

“Bangun suasana keterbukaan antara anggota keluarga dan lakukan hal-hal atau aktivitas yang meningkatkan kebersamaan. Kelima periksa dan tambal bolong-bolong tugas perkembangan keluarga dan tugas perkembangan setiap individu. Keenam, dorong minat dan hobi anggota keluarga dan atau menumbuhkan kepeminatan baru  seperti memfoto, memasak, menjahit, buat desain grafis, buat menulis, berkebun, dan lain-lain,” ujarnya.

Selain itu, ekspresikan semangat, kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan dalam mengerjakan rutinitas sehari-hari (menularkan energi positif agar sabar bertahan bersama, walau ada situasi yang tidak menarik dan menyenangkan). Berusaha mengembangkan humor, saling apresiasi dan penerimaan terhadap aktivitas yang dilakukan anggota keluarga. “Hindari hal-hal negatif seperti acuh-cuek, menyepelekan atau kritik berlebihan,” tandasnya.

Foto : freepik.com

Tips Manfaatkan Media Sosial Saat Wabah Covid-19


Untuk mengurangi kejenuhan saat Work From Home (WFH), biasanya kita lebih sering membuka media sosial. Namun tahukah Anda bahwa tidak semua informasi yang tersedia di media sosial adalah informasi yang benar atau faktual. Agar tidak termakan isu palsu atau hoax saat menggunakan media sosial, Willy Bachtiar, SIKom, MIKom, dosen dari Sekolah Vokasi IPB University bagikan tipsnya.

Pertama, follow akun resmi pemerintah dan media yang kredibel saja. Pada situasi saat ini, sebaiknya kita hanya mengakses berita atau informasi dari akun resmi pemerintah dan media yang terpercaya. Stay update penting, akan tetapi lebih penting memastikan sumber informasinya, setidaknya dapat meminimalisir berita hoax.

Temukan hal baru dengan menciptakan rasa ingin tahu yang besar. Contohnya mempelajari tanggapan orang lain terhadap suatu hal seperti buku, film, resep masakan selama bulan Ramadhan, olahraga yang aman, atau hal menarik lainnya. Karena hal tersebut merupakan cara yang baik untuk membangkitkan minat yang dapat mendukung keinginan untuk belajar hal baru, meningkatkan ikatan sosial dan menciptakan sikap yang lebih baik selama masa pandemi COVID-19.
 
“Jadikan media sosial sebagai sarana pengembangan diri. Kita dapat membagi ide, gagasan, atau hasil karya, juga pandangan terhadap suatu hal. Dengan media sosial juga kita bisa memperoleh banyak informasi dengan mengikuti forum diskusi online maupun mengikuti akun-akun yang memberi motivasi dan dampak positif bagi diri,” ujarnya.

Selain itu, kita juga bisa berbagi segala sesuatu yang telah dicapai. Menggunakan media sosial dengan cara yang positif juga bisa dilakukan dengan membagikan hal-hal yang kita lakukan dengan baik atau membagikan pencapaian yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Misalnya saja dengan memposting jumlah buku yang telah dibaca selama WFH, aktivitas olahraga, masakan buatan sendiri, atau kerajinan tangan buatan sendiri yang dilakukan di rumah.

Buatlah konten secara bijaksana. Di era digital saat ini, orang dengan sangat mudah menyebarkan konten positif maupun negatif. Padahal akibat dari konten yang dimuat di media sosial harus dipertimbangkan dahulu secara sungguh-sungguh. Apalagi di masa seperti ini semestinya kita membuat konten yang bijaksana, sebarkan kebaikan dan hal positif untuk mendukung sesama, serta kurangi konten yang cenderung menyudutkan dan provokatif.

“Kita juga harus membangun empati. Pada situasi saat ini, harus lebih teliti dan selekif dalam membaca sebuah informasi. Upayakan tidak berlebihan dalam ber-selfie karena bisa menghilangkan empati. Juga disarankan tidak banyak menggunakan emoticon atau emoji di media sosial saat terjadi musibah atau krisis seperti saat pandemi COVID-19,” imbuhnya.

Kurangi terlalu banyak informasi, karena pada situasi saat ini, kepanikan, rasa takut dan kecemasan dialami banyak orang. Kita harus paham dengan kondisi psikologis kita karena akan membantu imun kita tetap baik. Salah satu cara agar tidak mengalami masalah tersebut adalah dengan mengurangi banyak informasi yang diterima atau diakses. Kita harus bisa mengatur kapan harus mengakses informasi, informasi seperti apa yang harus dicari dan diterima, dan pastikan informasi yang valid dan krusial saja.

“Mari berlomba-lomba memberikan manfaat bagi khalayak. Pada masa pandemi COVID-19 ini, dengan penerapan Work From Home dan Learn From Home waktu yang kita miliki untuk mengakses media sosial tentu lebih banyak, namun pastikan menjadi lebih bermanfaat. Hal-hal yang bisa kita lakukan diantaranya adalah memberikan informasi tips dan trik atau cara menangkal virus COVID-19, mengedukasi masyarakat untuk mengetahui gejala COVID-19, prosedur dan langkah dalam penanganan COVID-19,” tandasnya.

Foto : freepik.com

Tips Kelola Perubahan di Masa Pandemi Covid-19

Tidak ada sesuatu yang permanen, kecuali perubahan, begitu ungkapan para filosof. Wabah COVID-19 telah mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan. Diperlukan kemampuan kita agar siap dan mampu mengelola perubahan.

Pandemi COVID-19 membawa dampak perubahan pada masyarakat yang diharap hanya sementara, ibarat sekedipan mata. Lockdown, karantina, kacaunya rantai suplai logistik dan lainnya, merupakan sinyal dari sebuah komunitas yang mengalami pelambatan dari sebuah moda kecepatan tinggi.

Dr Siti Amanah, dosen dari Divisi Komunikasi dan Penyuluhan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University menyampaikan lima tips agar kita siap dan mampu mengelola perubahan.

Pertama, senantiasa terbuka akan perubahan, hindari praduga atau pikiran negatif. Hal ini memudahkan kita melalui berbagai situasi dan memberikan energi positif untuk melangkah ke depan.

Kedua, buat rencana aksi nyata untuk kurun waktu tertentu, setidaknya satu sampai dengan tiga tahun. Rencana hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek termasuk sistem, struktur, sumber daya, tingkat dukungan serta kendala dalam realisasi rencana.

Ketiga, mengidentifikasi dan melibatkan pihak-pihak terkait dalam perubahan. Hal ini untuk memastikan perubahan berjalan lancar dan bermanfaat bagi individu, keluarga, kelompok, organisasi dan masyarakat luas. Keempat, memperjelas tahapan dan mekanisme perubahan.  Hal ini diperlukan  agar seluruh unsur dalam sistem atau organisasi mengerti “aturan main”, sehingga aksi terwujud sesuai harapan.

Kelima, memonitor dan mengevaluasi perubahan yang dicapai secara terus menerus. Hal ini dikarenakan setiap rencana perlu dilaksanakan, dimonitor, dievaluasi dan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Foto : freepik.com                                      

Tips Bertahan Hidup Menghadapi Wabah COVID-19

COVID-19 tak hanya menghantui kondisi kesehatan masyarakat. Pandemi ini ternyata juga menjadi tantangan bagi keluarga-keluarga Indonesia untuk terus  menjalani kehidupan rumah tangga di tengah COVID-19. Keluarga harus memiliki ketahanan dalam keadaan apapun, termasuk dalam menghadapi bencana COVID-19 ini.
 
Dr Herien Puspitawati, selaku Ketua Divisi Ilmu Keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University memberikan lima tips ketahanan keluarga di tengah COVID-19 ini.

Kelima tips itu adalah fleksibel dalam beradaptasi, menjaga keeratan dan kelekatan keluarga, mengubah gaya hidup keluarga, menjaga tradisi dan kebiasaan positif keluarga, serta mengelola waktu dan aktivitas.

“Agar memiliki daya  tahan yang kuat , adaptasi harus dilakukan keluarga secara fleksibel sesuai dengan besarnya bencana COVID-19. Adaptasi dilakukan baik secara fisik maupun mental-psikologi-spiritual. Adaptasi fisik dimulai dari work from home, study from home dan tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Adaptasi mental-psikologi-spiritual dilakukan dengan cara mengontrol emosi, meningkatkan rasa syukur dan mendekatkan diri kepada Tuhan,” ujar Dr Herien.

Sementara itu, keeratan dan kelekatan keluarga dilakukan melalui komunikasi dan interaksi yang baik. Dukungan secara material maupun emosional-mental-spiritual menjadikan anggota keluarga kuat dalam menghadapi bencana dan merasa bagian dari keluarga.

Setiap keluarga juga perlu mengubah gaya hidup. Gaya hidup keluarga yang selama ini kurang efisien, menurut Dr Herien seharusnya diubah saat bencana COVID-19. Gaya hidup yang lebih sederhana dengan cara menurunkan standar hidup keluarga adalah sesuatu yang baik agar keluarga dapat bertahan hidup. Penghematan semua pengeluaran, masak makanan bersama keluarga, menanam tanaman pekarangan adalah perilaku produktif yang sangat tepat dilakukan di saat bencana.
 
“Hindari pemborosan yang kurang efisien. Hindari hutang sebisa mungkin. Minta pertolongan saudara, teman dan tetangga apabila mendesak,” tutur Dr Herien.
 
Memelihara tradisi dan kebiasaan positif keluarga seperti kegiatan gotong royong, perilaku saling membantu, saling peduli dan saling menasihati harus ditingkatan. Tradisi positif seperti ini menciptakan ketergantungan, kebersamaan dan kekompakan keluarga dalam menghadapi bencana.
 
Dr Herien juga menyarankan, selama bencana COVID-19, atur waktu dan aktivitas sebaik mungkin. Ada kegiatan individu dan ada kegiatan bersama keluarga. Bagi Ayah atau Ibu yang bekerja dari rumah, atur aktivitas kerja sesuai jadwal kerja yang dilakukan di rumah. Bagi anak sekolah, atur aktivitas belajar dan mengerjakan tugas sesuai jadwal sekolah. Selebihnya atur kegiatan rumah tangga seperti membersihkan rumah dan masak sesuai dengan tugas yang disepakati.
 
“Jangan lupa istirahat dan menikmati kebersamaan keluarga. Untuk menghilangkan kejenuhan, maka ciptakan suasana privasi yang disepakati bersama,” imbuhnya.

Foto : freepik.com

Kiat Menjaga Keharmonisan Keluarga Saat Pandemi Covid-19

Saat pandemi yang mengharuskan masyarakat berdiam diri di rumah dalam jangka panjang, pada sebagian keluarga akan muncul ketidakharmonisan karena kejenuhan kerap kali datang. JiIka kondisi tersebut dibiarkan, tidak dapat dipungkiri konflik rumah tangga pun bisa terjadi. Lalu bagaimana menjaga agar keluarga tetap harmonis di saat pandemi?

Prof Dr Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University sekaligus Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Ketua Penggiat Keluarga (GIGA) Indonesia bagikan tips agar keharmonisan keluarga tetap terjaga saat pandemi.

“Kita perlu menguatkan dan melembagakan nilai dan tujuan berkeluarga serta pentingnya membangun dan memelihara keharmonisan keluarga kepada seluruh anggota keluarga dengan cara yang tepat sesuai kematangan perkembangan setiap anggota keluarga,” ujarnya.

Ciptakan suasana keluarga yang nyaman terbangunnya koherensi, fleksibilitas dan bonding (kelekatan) yang membawa kepada kesabaran setiap anggota untuk bertahan lama (getting along with others) dalam melakukan proses pembelajaran dan aktivitas keluarga. Buat setiap individu anggota keluarga merasa “diterima dan dipahami” oleh anggota keluarga lainnya dengan mengembangkan komunikasi asertif dan interaksi yang hangat (warmth interaction).

Pastikan anggota keluarga secara umum merasa puas dengan kehidupan keluarga. Caranya yakni dengan membiasakan mengekspresikan rasa syukur dan merasa cukup terhadap situasi atau kondisi pemenuhan kebutuhan setiap anggota dan keluarga secara kesatuan.
Bangun lingkungan fisik rumah dan lingkungan yang “home sweet home” sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman dan betah tinggal di rumah. Temukan kearifan-kearifan dari setiap anggota keluarga. Misalnya dengan saling mengerti, memahami, memaafkan, juga mencontohkan menahan marah dan menahan berkata yang akan melukai dan disesali, demikian pula mendorong sifat altruistik dan kesediaan berkorban untuk keluarga.

“Cegah konflik kepentingan antara tujuan keluarga dengan tujuan individu, dan konflik antar anggota keluarga. Caranya adalah dengan mengalokasikan peran dan sumberdaya secara adil, serta menuntut akuntabilitas peran yang disepakati bersama,” imbuhnya.

Selain itu membangun, memelihara, menguatkan pemahaman dan penerimaan suami istri terhadap pembagian peran, fungsi, dan tugas juga penting, tujuannya untuk terbangunnya hubungan suami istri yang tenang, tentram, penuh kasih sayang (sakinah mawaddah wa rahmah).

Kembangkan pola komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak yang hangat, menerima dan mencintai anak apa adanya. Latih anak-anak mengelola emosi yang sehat. Orang tua perlu mengarahkan, mendisiplinkan dan menuntut kepatuhan dalam batas-batas yang proporsional.

“Dan ciptakan suasana kasih sayang, penerimaan dan kepedulian antar anak. Kita juga bisa mengembangkan kegiatan atau penugasan yang terbangun pola senioritas yang sehat serta bertanggung jawab,” tandasnya.

Ilustrasi : freepik.com

Pandemi COVID-19 Peluang Pembentukan Karakter Anak

Pandemik dan situasi yang terjadi selama kurang lebih dua bulan ini di Indonesia merupakan kondisi yang tak dapat dielakkan oleh kita semua, termasuk keluarga dengan anak-anak di dalamnya. Memasuki akhir bulan April, kita mulai menjalani ibadah di bulan Ramadhan bagi umat Muslim.

Lalu bagaimana sebaiknya orangtua menyikapi kondisi ini dan memberikan penjelasan kepada anak-anak?  Dr Ir Dwi Hastuti, MSc, dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia IPB University mengatakan kondisi pandemi COVID-19 di saat kita sedang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan ini bisa menjadi peluang membentuk karakter mulia pada anak-anak.

“Pandemi virus COVID-19 adalah situasi yang tidak dapat dielakkan oleh setiap orang di belahan dunia. Untuk itu, penting sekali dijelaskan pada anak bahwa sumber penyakit COVID-19 ini adalah virus yang ukurannya sangat kecil, tidak dapat dilihat kasat mata oleh mata manusia. Tetapi dampaknya sangat berbahaya karena bisa membuat orang meninggal kalau tidak ditangani dengan cepat oleh pihak kesehatan,” ujarnya.

Untuk itu, anak-anak harus mulai diajarkan untuk mematuhi peraturan, terutama terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal ini penting diajarkan kepada anak sejak mereka masih kecil, agar terbentuk rasa hormat dan ketundukkan pada sebuah peraturan.  “Beritahu mereka bahwa peraturan dibuat untuk kepentingan bersama,  tanamkan dalam diri bahwa peraturan tentang PSBB diperlukan, yaitu dengan tetap di rumah, menghindari bertemu dengan orang lain apalagi orang yang baru dikenal, menjaga jarak sekitar lebih dari satu meter dengan orang baru, menggunakan masker, menjaga kebersihan diri dan tangan. Terutama dengan mencuci tangan memakai sabun dalam air mengalir, “ jelasnya.

Menurutnya kedisiplinan di rumah juga menjadi nilai yang perlu dibangun kembali selama Work From Home (WFH) dengan semua keluarga. Mulailah dengan kesabaran karena membangun kedisiplinan harus dimulai dengan hal-hal kecil.

“Selanjutnya adalah tahan ujiaan. Memasuki bulan Ramadhan, semua manusia mendapat ujian besar dengan pandemi virus COVID-19 yang sangat mengerikan ini. Pandemi ini membuat seluruh sendi kehidupan manusia sebagai makhluk sosial mau tidak mau harus berubah. Sejarah ini dapat dijadikan pembelajaran bahwa manusia secara sendiri maupun bersama-sama akan mendapatkan ujian dan musibah. Hal ini merupakan sendi karakter yang dapat ditanamkan di suasana pandemik ini. Bahwa kita harus bisa menahan diri, bisa mengendalikan diri (self control) sedemikian rupa agar kita tidak stress. Beri tahu anak-anak bahwa semua manusia mengalami hal ini, sehingga anak-anak bisa sabar (patience) dalam menghadapi situasi ini,” imbuhnya.

Kepala SUA Labschool Pendidikan Karakter IPB University ini juga menjelaskan bahwa kita harus memberikan contoh dengan melakukan perbuatan baik. Penting untuk diberitahukan pada anak-anak sejak kecil bahwa setiap perbuatan baik seperti berpuasa akan mendapatkan ganjaran pahala dari Tuhan. Dan sebaliknya, setiap perbuatan buruk akan mendapatkan ganjaran hukuman pula dari Tuhan.  Dengan ini harapannya anak-anak akan selalu merasa diawasi dan selalu merasa “aman” selama ia melakukan perbuatan yang baik saat diketahui oleh orang lain maupun tidak diketahui orang lain.

“You are what you are when nobody else around”. Itulah prinsip yang dapat ditanamkan kepada anak, agar ia menjadi baik, di manapun ia berada, baik dilihat orangtua maupun tidak dilihat.

Foto : freepik.com

Tips Terhindar dari Cabin Fever Saat Pandemi COVID-19


Work From Home (WFH) dan physical distancing masih menjadi cara terbaik untuk menghindari paparan COVID-19. Namun kedua cara ini memiliki sisi negatif. Yakni bisa membahayakan mental dan terperangkap dalam emosi labil yang dinamakan “cabin fever”.  Masyarakat harus lebih waspada dengan cabin fever sebab banyak dari kita yang harus tinggal di rumah sampai waktu yang belum ditentukan.
 
Ir Wien Kuntari MSi, dosen Program Studi Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi (SV) IPB University menyampaikan bahwa cabin fever adalah perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama “terisolasi” dan merasa terputus dari “dunia luar”.

“Gejala cabin fever tidak hanya sekadar merasa bosan saja, tetapi jauh lebih serius dari itu. Sebab, tanpa penanganan yang tepat, gejala cabin fever akan sulit dikontrol. Beberapa gejala lainnya yaitu pola tidur tidak teratur, kegelisahan, sulit berkonsentrasi, turunnya motivasi, mudah tersinggung, sulit bangun dari tidur, lemah lesu, tidak sabaran, merasa sedih dan depresi untuk waktu yang lama,” katanya.

Lalu bagaimana agar kita terhindar dari cabin fever, berikut tips yang bisa dilakukan : Pertama,  merutinkan olahraga ringan. Ini adalah salah satu cara paling ampuh dalam mencegah cabin fever.  Olahraga dilakukan bersama keluarga inti.

Kedua menjaga komunikasi. Kita masih bisa bertatap muka dan ngobrol selama yang  diinginkan dengan kerabat ataupun  sahabat melalui media online, sehingga bisa membuat kita tidak merasa sendirian. Ketiga, ekspresikan segala sisi kreatif yang kita miliki misalnya melakukan hobi kita seperti melukis, mencoba resep baru, craft, menjahit, berkebun dan sebagainya.  

“Hal yang harus tetap dijaga adalah agar otak kita tetap sibuk dan bisa melawan rasa bosan yang mungkin kita rasakan selama WFH,” ujarnya.

Keempat yaitu membawa “dunia luar” ke dalam rumah. Contohnya membuat bioskop mini untuk menonton film bersama keluarga atau memesan makanan dan kita menata ruangan di rumah seperti tempat lain. Kita juga bisa mencoba hal baru seperti membuka jendela untuk menghirup udara luar, memindahkan tanaman yang cocok ditanam di dalam rumah.

“Jalani gaya hidup sehat, istirahat yang teratur, cuci tangan dan tetaplah aktif walau di dalam rumah. Tidak heran, berolahraga memang bisa membantu tubuh melepas hormon endorfin yang bisa meningkatkan suasana hati. Hal-hal sepele inilah yang akan menolong dari virus corona dan gangguan mental yang disebabkannya. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, jangan remehkan berbagai kegiatan di atas. Sebab, mereka bisa mengobati perasaan rindu kita terhadap dunia luar,” tandasnya.

Foto: freepik.com

Adakah Dampak Covid-19 pada Kesehatan Mental Anak?

Pandemi wabah virus corona Covid-19 telah menjangkiti puluhan ribu orang di berbagai penjuru dunia dan termasuk juga di negara kita, Indonesia. Tentunya, sudah berbagai upaya dilakukan untuk mencegah dan mengatisipasi penyebaran atau penularan virus ini. Bagi yang sudah berusia dewasa dan para orang tua, tentu akan bisa mendukasi atau mencari informasi sendiri melalui berbagai platform seperti media internet dan televesi.

Lantas bagaimana dengan mereka yang masih anak-anak? Perlukah bagi kita untuk memberikan penjelasan terkait virus corona ini dengan berbagai cara sesuai kemampuan? Hal ini tentu terlihat seperti mudah untuk dilakukan, namun justru perlu pemikiran yang matang dan saat yang tepat supaya justru tidak menimbulkan rasa takut dan kecemasan berlebihan yang juga berimbas pada kesehatan mental anak-anak.

Perhatian kesehatan mental pada saat merebaknya wabah Covid-19 tidak hanya akan sangat penting bagi mereka yang berusia dewasa, namun juga pada anak-anak. Seperti juga pada imbauan karantina mandiri atau physial distancing sebagai salah satu cara untuk meredukasi penyebaran virus corona.

Namun, physical distancing dan juga karantina mandiri bisa memiliki dampak negatif terkait keadaan mental seseorang. Hal ini seperti juga yang dilansir dari American Psychological Association yang menjelaskan jika upaya physical distancing atau karantina mandiri bisa menyebabkan rasa takut, stres, cemas, mudah bosan, mudah marah, frustasi serta stigma di masyarakat.

Bagi anak-anak yang semula bisa bebas bersekolah, bermain dan bekumpul dengan teman-temannya, tentu akan bisa mempegaruhi tingkat emosianalnya pada saat memasuki masa perkembangan. Hal ini tak lepas dengan hubungan sosialnya atau aktivitas yang menjadi berkurang dan terbatas. Imbasnya, anak-anak mudah merajuk, suka mencari perhatian dengan berbagai cara.

Tips Menjaga Kesehatan Metal Anak Pada Saat Pandemi Virus Corona

Dan berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa Anda terapkan sebagai orang tua untuk menjaga kesehatan mental anak pada saat pandemi virus Corona Covid-19 seperti yang sudah dilansir dari laman National Geographic:

1. Orang Tua Tenang, Anak Tenang

Seperti diketahui, perilaku anak pada masa perkembangan akan banyak belajar dengan meniru orang terdekatnya, terutama orang tuanya. Jika para orang tua terlihat tenang, anak-anak juga akan tenang. Namun jika sebaliknya, justru anak-anak juga akan peka dan memiliki rasa cemas dan panik berlebihan.

2. Berikan Jadwal Kegiatan Rutin Yang Fleksibel

Dengan memberi atau menjadwalkan kegiatan yang fleksibel dan mudah dimengerti bagi anak-anak. Hal ini tentu akan bisa membantu memberikan rasa tenang terutama dimasa-masa tidak menentu ini. Semisal bisa dengan sering berolahraga bersama, mengontrol kegiatan belajar atau kegiatan belajar yang diberikan sekolah secara online.

3. Jujur Tapi Jangan Beri Informasi Yang berlebihan

Anak-anak tentu akan bertanya mengapa pada saat ini mereka tidak diperbolehkan masuk sekolah, dilarang bermain diluar rumah secara bebas dan juga di batasi waktu bertemu dengan teman-temannya.

Untuk itu bicarakanlah dengan anak tentang virus Corona dan juga efekknya dengan sewajarnya dan tidak berlebihan. Dan di saat bersamaan, yakinkan pada mereka akan selalku dalam kondisi aman dan terlindungi.

4. Batasi Penggunaan Media Internet Dan Hiburan Elektronik

Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyalahkan efek negatif media sosial, televisi dan juga media internet. Karena saat ini merupakan salah satu media teknologi dan alat komunikasi jarak jauh.

Namun yang perlu di diketahui, jika layar elektronik bisa memiliki efek negatif terhadap kesehatan mental dan fisik anak-anak sehingga bisa menimbulkan rasa cemas dan juga tidak nyaman. Sehingga sebaiknya batasi penggunaan layar elektronik bagi anak-anak dan jangan berikan lebih dari dua jam setiap harinya.

5. Jangan Reaktif Terlalu Berlebihan

Memang tidak bisa dipungkiri jika pandemi virus corona ini bisa menimbulkan rasa takut dan kecemasan berlebihan. Untuk itu sebagai orang tua sebaiknya bisa mengontrol dan memanajemen emosi dengan baik supaya tida menular pada anak-anak.

Karena rasa takut yang berlebihan ini bisa menjadikan imunitas atau daya tahan kekebalan tubuh akan serangan berbagai virus penyakit menjadi lemah sehingga anak bisa menjadi rentan terkena serangan penyakit.

Nah demikian tadi terkait ulasan dampak virus corona Covid-19. Jaga keluarga kita dengan menerapkan pola hidup sehat seperti yang sudah dianjurkan pemerintah dan dinas kesehatan seperti sering-sering cuci tangan dengan sabun, memakai masker dan tidak membatasi aktivitas diluar rumah sebagai langkah untuk mencegah penularan virus Corona Covid-19 agar tidak semakin meluas dan cepat berakhir.

Foto: freepik.com

Virus Covid-19, Bisa Berefek Psikis Pada Remaja?

Dampak dari pandemi virus corona Covid-19 memang memiliki pengaruh yang besar pada kehidupan manusia dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Situasi ini membuat semua orang diminta untuk tidak banyak melakukan aktivitas diluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Langkah ini dianjurkan sebagai salah satu upaya untuk menekan dan mecegah penyebaran virus corona Covid-19 supaya tidak semakin meluas.

Dengan hanya menghabiskan waktu didalam rumah dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Tentu akan bisa mempengaruhi kesehatan mental terutama bagi mereka yang yang masih berusia remaja.

Terlebih banyak juga dari mereka yang memiliki tingkat kecemasan dan rasa takut begitu tinggi akan bahaya virus ini yang sudah menjakiti puluhan ribu orang di berbagai penjuru dunia. Situasi ini bisa membuat seseorang bisa mengalami rasa jenuh dan kemudian menjadi stres akibat pandemi global ini.

Bagi anak yang berusia remaja dan mungkin termasuk juga Anda. Dari yang semula bisa melakukan aktivitas secara normal dan kemudian lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Mungkin Anda anda akan mengalami perubahan fisiologis seperti pada kebiasan rutinitas tidur dan nafsu makan.

Mungkin ada beberapa anak yang sebenarnya merasa lebih nyaman ketika menarik diri dari aktivitas lingkungan sosial atau sudah terbiasi dalam posisi terisolasi dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah saja. Namun, denga meningkatnya rasa kekhawatiran dan juga rasa takut akan pandemi virus corona Covid-19 ini, bisa jadi membuat mereka kemudian akan merasa khawatir bukan hanya saja terkait tentang kesehatan, tapi juga masa depan yang akan terjadi diwaktu yang akan mendatang.

Meski memang efek ini masih termasuk tahap reaksi normal, namun peran para prang tua sangat penting dalam mengamati perilaku dan perubahan sikap anaknya. Jadi, orang tua juga harus bisa untuk membantu menjaga kesehatan mental anak-anaknya. Hal ini penting, untuk mencegah reaksi yang lebih jauh dan tidak diinginkan yang bisa memberikan reaksi efek yang lebih buruk.

Kenapa hal ini perlu ditekankan dengan baik lebih mendesak? Karena rasa khawatir atau cemas yang berlebihan bisa memberikan efek atau reaksi yang dapat merugikan diri sendiri, serangan panik, agresif fisik atau verbal yang bisa saja mengancam keselamatan diri sendiri atau juga orang lain. Dan yang paling ditakutkan tentu dampak seperti pemikiran kematian atau upaya bunuh diri.

Anak remaja dalam kondisi sehat memang memiliki imunitas yang lebih baik dibanding anak-anak atau para orang tua yang berusia lanjut. Akan tetapi menurut hasil analisa para ahli yang sudah dilakukan sejak lama. Mereka menganalisa jika kesepian atau efek dari terisoliasi bisa menyebabkan kecemasan, depresi dan juga demensia pada anak remaja atau orang dewasa.

Dampaknya jelas, bisa membuat respons sistem kekebalan tubuh kemudian menjadi lemah dan juga tingkat obesitas yang semakin tinggi. Selain itu juga akan bisa membuat tekanan darah menjadi tinggi sehingga bisa menimbulkan penyakit jantung serta harapan hidup yang menjadi lebih pendek juga dapat menjadi faktor yang akan memiliki pengaruh.

Oleh karena itu, hubungan sosial memang sangat dibutuhkan dan diperlukan bukan saja untuk memerangi pandemi virus corana Covid-19 ini, akan tetapi juga untuk membangun kembali dan memulihkan diri. Namun karena saat ini memang dianjurkan tidak banyak keluar rumah dan hanya melakukan aktivitas dirumah saja, tidak ada salahnya jika kita selalu untuk mematuhi aturan pemerintah dan dinas kesehatan dalam menerapkan langkah pola hidup sehat sebagai bagian untuk mencegah penularan virus corona Covid-19 agar pandemi global ini segera berakhir.

Foto : freepik.com