Tips Cegah Anak Tantrum di Tempat Umum

Anak tantrum di tempat umum? Moms mungkin mengalami hal ini. Lalu, bagaimana supaya Si Kecil tidak tantrum saat di tempat umum? Yuk, simak uraian berikut ini.

Bawa mainan atau benda favoritnya

Saat bepergian, jangan lupa Moms untuk membawa mainan atau  benda favoritnya. Misalnya, boneka, mobil-mobilan atau lainnya.

Pasalnya, menurut National Association of School Psychologists, tantrum yang terjadi pada anak umumnya terjadi karena ia mengalami perubahan aktivitas rutin.

Misal, pada siang hari biasanya lagi asyik bermain boneka. Namun, pada kesempatan siang lainnya, Moms mengajak ia mengunjungi tempat lain. Nah, perubahan aktivitas rutin ini dapat menimbulkan tantrum pada Si Kecil.

Kenapa demikian? Karena adanya perubahan rutinitas memicu rasa bosan pada anak. Mungkin ia mengharapkan bisa bermain-main Bersama temannya. Namun, pada saat itu ternyata ia justru berada di suatu tempat yang berbeda, yang tidak ia kenal dan tidak familiar, apalagi harus bertemu dengan orang banyak.

Karena itu, Moms coba bawakan juga mainan atau apapun benda kesukaannya agar ia tidak merasa bosan saat di tempat umum. Dengan begitu, mungkin akan mengurangi risiko ia melakukan tantrum.

Sempatkan istirahat

Nah, saat Moms mengajak Si Kecil ke area publik, pastikan Moms meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat. Hal ini dapat mengurangi potensi anak mengalami tantrum. Bisa jadi, berada di keramaian dan bertemu dengan banyak orang membuat anak lelah.

Coba perhatikan, apakah Si Kecil tampak kelelahan. Kalau ia terlihat lemas dan kurang bersemangat, tidak banyak bicara, mungkin ia sudah capek. Ujung-ujungnya malah memicu ia melakukan tantrum.

Akan tetapi sebaliknya, bila Si Kecil masih tampak aktif, bersemangat, banyak bertanya kemungkinan ia belum merasa lelah.

Oh ya, perlu kita pahami Moms, ketika anak berada di tempat yang baru didatangi, kemungkinan muncul rasa bosan. Apalagi, ia merasa di tempat yang tidak membuatnya nyaman untuk bergerak secara leluasa. Kemungkinan ia akan merengek karena bosan, ingin pulang dan tak betah di tempat tersebut. Pastikan untuk tidak terlalu berlama-lama di tempat tersebut supaya anak tidak tantrum.

Karena itu, untuk menghindari terjadi tantrum, pastikan Moms menjelaskan pada Si Kecil mengenai kegiatan berikutnya yang bisa membuatnya senang. Misalnya, jelaskan bahwa selanjutnya ia akan diajak ke tempat area bermain.

Nah, selamat mencoba mengantisipasi anak tantrum ya Moms!

Foto : freepik.com

Perilaku Balita (2)

Nah, berikut ini beberapa perilaku anak usia balita dan cara menanganinya:

1.Tantrum

Perilaku anak usia 3-4 tahun merupakan kelanjutan dari perilaku yang dipelajarinya atau dibentuk lingkungannya bahkan sejak bayi. Anak usia 3-4 tahun masih belajar untuk membentuk perilaku yang sesuai (adaptif) dengan norma sosial sehingga ia terkadang masih berperilaku kurang tepat, seperti tantrum namun frekuensi maupun intensitasnya sudah berkurang dibanding saat usia 2 tahun.

Umumnya, usia 2-3 tahun adalah periode puncak perilaku tantrum. Anak menangis keras, memukul, melempar, berguling-guling, dan berteriak apabila keinginannya tidak dikabulkan. Julukan/labelling biasanya mulai disematkan berdasarkan perilaku yang diperlihatkannya saat tantrum maupun interpretasi dari orangtua. Misal, anak tidak menuruti nasehat orangtua lalu menangis dengan suara keras sambil berguling-guling. Lalu,  orangtua akan berkata bahwa anak nakal. Hal ini seharusnya tidak dilakukan karena labelling cengeng atau nakal dapat menyebabkan anak mengidentifikasi dirinya seperti apa yang disematkan.  Anak akan mempertahankan perilaku tersebut karena menganggap hal itu bagian dari dirinya, terlebih jika lingkungan menjadi penguat perilaku tersebut. Misal, saat anak merengek meminta sesuatu yang dilarang, lalu orangtua mengatakan ia cengeng seraya menuruti keinginannya.

Tak sedikitorangtua yang tidak tahan mendengar rengekan anak agar keinginannya dikabulkan. Alhasil, segera dituruti tanpa berpikir panjang apakah keinginan tersebut baik untuk anak atau sekadar mempertimbangkan nominal rupiah dari barang yang diinginkan anak. Orangtua seperti ini cenderung berpikir bahwa dengan bertambahnya usia maka perilaku anak akan berubah padahal hal itu tidak mungkin terjadi. Anak justru akan mempelajari, rengekan adalah cara tepat mendapatkan keinginan. Dengan bertambahnya usia, anak semakin pintar mencari cara lain agar keinginannya dikabulkan. Misal, menangis keras seraya berguling-guling di tanah untuk menarik perhatian orang lain sehingga orangtua merasa malu. Di usia remaja kelak bisa jadi anak mengancam tidak mau sekolah jika keinginan tak dikabulkan. Anak yang merasa diabaikan orangtua juga dapat membuat ulah untuk mendapatkan perhatian.

Solusi:

Ajak anak bicara dengan intonasi suara yang tegas, tidak membentak dan perlahan. Misal, saat anak merengek kita dapat mengatakan, “Mama/papa tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tenang dulu baru bicara. Ayo sekarang tarik nafas dan hembuskan perlahan agar tenang.”

Setelah anak mampu bersikap tenang dan menyampaikan keinginan, beri apresiasi. Lalu, orangtua mulai menyatakan penolakan atau persetujuan. Bila menolak mengabulkan keinginan, alasannya harus rasional, bukan menakut-nakuti anak atau memberi janji yang tak mungkin dipenuhi. Sebelum menyampaikan alasan penolakan sebaiknya orangtua menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk empati. Sebaliknya, jika orangtua hendak mengabulkan keinginannya namun tidak saat itu, anak perlu mendapat penjelasan termasuk mengajaknya untuk bekerja sama dalam merealisasikannya. Misal dengan menabung atau menggunakan sistem token

2. Penakut

 Anak usia 3-4 tahun menunjukkan perilaku penakut karena dibentuk oleh lingkungan dengan menanamkan rasa takut serta membiasakan anak untuk merasa nyaman dengan rasa takut tersebut.Lingkungan sering menakut-nakuti anak saat terjadi situasi tertentu misalnya saat ada halilintar. Alhasil, anak akan mengembangkan rasa takut karena doktrin dari lingkungan. Tanpa disadari sebenarnya sikap menakut-nakuti telah mengurangi potensi anak untuk belajar karena lingkungan menanamkan rasa takut melakukan eksplorasi ataupun menghadapi situasi.

Saat anak menunjukkan rasa takut dengan perilaku menangis ataumenghindari situasi tertentu, lingkungan justru berharap anak bersikap berani.  Maka lingkungan pun memberi labelling penakut pada anak. Terlebih lagi saat anak merasa takut, lingkungan tidak mengajarkan anak bagaimana mengatasi rasa takutnya namun cenderung merespons dengan perilaku yang kurang mendidik seperti hanya memberikan rasa nyaman (memeluk) tanpa membantu anak untuk terampil mengatasi rasa takut.  Atau justru malah mencemoh maupun menertawakan anak.       

Solusi:

Amati perilaku anak saat takut, misal meremas tangan, memejamkan mata, menarik diri, atau menangis. Amati objek atau situasi yang menyebabkan anak merasa takut. Lalu, gali informasi dari anak apa yang ditakutinya dari objek atau situasi tersebut (apakah karena bentuk benda, suara, dan lainnya) serta hal buruk apa yang anak pikirkan tentang situasi atau objek tersebut. Bantu anak untuk mengatasi rasa takutnya dengan:

-Beri penjelasan untuk mengkoreksi pemikiran salah sang anak mengenai situasi ataupun objek tersebut.

-Latih ia untuk mengendalikan rasa takut seperti dengan mengatur nafas agar menjadi tenang, melakukan self talk bahwa anak dapat menghadapi situasi tersebut.

-Dampingi anak untuk melakukan poin di atas saat menghadapi situasi atau objek tersebut. Orangtua dapat mengurangi pendampingan saat anak sudah dapat melakukan poin di atas.

-Orangtua juga sebaiknya memberi contoh bagaimana cara anak seharusnya menghadapi situasi atau objek tersebut. Orangtua sebaiknya berhenti menjuluki penakut.

-Beri apresiasi atas usaha yang anak lakukan bahkan untuk kemajuan yang kecil sekalipun dan motivasi ia untuk terus mau berusaha.(hil)

Foto: freepik.com