Alasan Disiplin Orang Tua Diabaikan Remaja

Banyak orangtua yang merasa kesulitan ketika mereka harus menghadapi anak yang sudah memasuki usia remaja. Bukan hanya cara berpikiran yang akan berubah. Tetapi juga sikap dan juga mungkin pengaruh lingkungan untuk itu ada beberapa penyebab ataupun alasan, mengapa anak remaja sulit untuk bisa menerapkan disiplin yang diberikan oleh orang tuanya. Berikut ini informasi selengkapnya.

 

Strategi Disiplin yang Berbeda

Setiap anak memiliki tingkat disiplin dan juga toleransi yang berbeda sehingga terkadang orang tua hanya berpikir bahwa untuk melakukan disiplin yang adil. Misalnya kakak dan juga adik harus memiliki penerapan yang sama, padahal sebenarnya strategi disiplin bisa saja berbeda.

 

Hal ini tentu menjadi tantangan bagi orang tua terutama bagi yang memiliki lebih dari satu anak. Bagaimana cara menyesuaikan strategi untuk bisa mendisiplinkan anak dengan tujuan yang sama. Walaupun caranya berbeda saat memutuskan untuk mendisiplinkan anak pertimbangan semua kebutuhannya.

 

Misalnya saja sang kakak tidak pernah terbiasa untuk meletakkan sepatu di di rak sepatu sedangkan adiknya melakukan hal tersebut namun tidak terbiasa untuk menyikat gigi di pagi hari. Kedua hal kegiatan tersebut sama-sama tidak disiplin, padahal kegiatannya berbeda. Orangtua harus memiliki metode yang berbeda bukan berarti tidak adil namun disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan.

 

Disiplin dan Galak, dua hal berbeda

Hal kedua yang harus diketahui oleh orang tua yaitu banyak sekali para ibu ataupun ayah yang berpikir bahwa disiplin dan juga galak sama halnya. Ada hal kedua hal tersebut sangat berbeda jauh disiplin bukan berarti galak, tetapi konsisten dan juga tegas dengan yang diberikan.

 

Sehingga tidak ada toleransi ataupun alasan yang dapat membantahnya kecuali ada urgency tertentu. Tetapi jika galak umumnya orang tua hanya bisa marah dan juga melampiaskan atau menyalahkan sang anak. Tidak menuruti aturan tersebut tanpa memberikan atau jelaskan mengapa anak harus mengikuti aturan yang diberikan.

 

Pahami Karakter Anak

Alasan ketiga kenapa seringkali sikap disiplin orang tua tidak bisa didengarkan oleh anak remaja. Karena pendekatan yang dilakukan oleh orang tua seringkali sembarang dan dan asal hal ini dikarenakan orang tua merasa bahwa mereka memahami sifat dan juga karakter yang dimiliki oleh anak-anak. Tetapi orang tua perlu ingat bahwa anak memasuki masa remaja.

 

Maka akan ada banyak faktor yang mempengaruhi mulai dari sifat anak tersebut hingga kondisi lingkungan tempat mereka tumbuh dan juga berkegiatan. Sehingga bagi orang tua kita juga jangan pernah lelah untuk mempelajari apa yang berbeda dan berkembang dari diri anak kita. Mulai dari emosi dan juga pikirannya. Jangan sampai kepentingan dan juga perasaan seolah-olah anda sebagai orangtua adalah segalanya merasa bahwa apa yang dimiliki oleh seorang anak paling anda paham.

 

Jelaskan Makna Disiplin

Selanjutnya alasan kenapa penerapan disiplin tidak bisa di terapkan atau dipahami oleh anak remaja. Karena banyak orangtua yang ingin anaknya paham dan juga setuju dengan berbagai aturan serta metode disiplin yang diberikan oleh orang tua, tanpa membantu menjelaskan ataupun memberikan keterangan yang lengkap. Kenapa anak tersebut harus mematuhinya? padahal anak remaja sudah bisa berpikir walaupun mereka masih sering terpengaruh oleh emosi.

 

Itulah deretan alasan dan juga penyebab kenapa sikap disiplin orang tua tidak didengarkan oleh anak remaja. Sebenarnya masih banyak lagi tantangan yang mungkin terjadi dan hal tersebut harus dipahami oleh orang tua. Sehingga anda bisa mencari metode dan juga cara yang tepat untuk bisa merubah dan juga menerapkan sikap disiplin. Sehingga didengarkan oleh anak.

Foto : freepik.com

Cara Bijak Hadapi Remaja Berpacaran

 

Tidak bisa kita pungkiri bahwa perkembangan anak remaja terutama di zaman sekarang ini memang sangat besar. Sehingga orangtua harus ekstra hati-hati dan juga mencoba untuk bisa mengawasi pergaulan yang mereka lakukan. Namun tidak membatasi dan juga mengekang. Salah satunya adalah ketika kamu menemukan anak remaja yang ternyata mulai pacaran. Bagaimana sih cara bijak untuk menghadapinya berikut ini informasi lengkapnya.

  1. Respons yang Tepat

Pertama yang harus dihadapi oleh orang tua ketika menemukan anaknya ternyata sudah pacaran di usia remaja yaitu memberikan respon yang tepat. Hal ini dilakukan karena apabila orang tua sudah marah atau emosi terlebih dahulu. Umumnya anak remaja akan mencoba untuk menutupi apa yang telah mereka lakukan, dan cenderung untuk membangkang atau menghindari adanya aturan yang diberikan oleh orang tua.

Baik secara terang-terangan maupun diam-diam. Jangan sampai anak tersebut melakukan kebohongan atau bahkan diam-diam melakukan pacaran tanpa diizinkan, dan diketahui oleh orang tua dampaknya akan semakin buruk. Sehingga respon menjadi hal yang paling penting cobalah untuk dengarkan dan juga bijaksana dalam menanggapi respon anak-anak. Bahkan beberapa orang tua mencoba untuk menanggapi dengan santai dan memberikan ledekan atau ejekan.

  1. Usia Tepat

Selanjutnya hal yang bisa dilakukan untuk bisa memahami, ataupun melakukan cara dan respon bijaksana, ketika menemukan anak remaja pacaran yaitu memastikan bahwa mereka telah memasuki usia yang seharusnya. Menurut penelitian dan juga beberapa instansi menganggap bahwa hormon anak remaja terus berkembang. Namun usia yang cukup untuk memahami sebuah hubungan dan melakukan pacaran yaitu di usia 16 tahun.

Di indonesia sendiri usia tersebut masuk ke dalam salah satu usia yang cukup dini umumnya orang tua mengizinkan anak pacaran. Ketika berusia 17/18 tahun dengan begitu apabila kamu sebagai orang tua. Ternyata menemukan anak pacaran dengan usia yang lebih muda dari usia tersebut. Ada baiknya kamu bantu mengarahkan sebagai orang tua dan dengarkan alasan mereka, kenapa memutuskan untuk menjalin hubungan di usia yang sangat muda.

  1. Dengarkan Cerita Mereka

Ketika memastikan untuk mendengarkan cerita dari anak remaja ternyata mereka sudah memiliki hubungan romantis ataupun berpacaran. Maka acara selanjutnya yang bijaksana yaitu menanggapi atau mendengarkan cerita mereka secara lengkap. Pastikan kamu paham sebagai orang tua apa saja sih yang diinginkan oleh sekarang dan kenapa mereka memutuskan untuk menjalin hubungan dengan pasangannya.

Ada alasan tertentu, bahkan tidak jarang loh sebenarnya anak remaja itu tidak paham apa itu pacaran. Mereka hanya tidak ingin diledek oleh teman-temannya atau mereka hanya terbawa oleh lingkungan karena iri, dengan teman yang sudah berpacaran. Jangan sampai respon yang tidak bijaksana, menyebabkan anak-anak merasa malas atau cenderung menutup diri dan merasa pesimis terlebih dahulu.

  1. Membimbing dan Mengawasi

Cara bijak lainnya untuk menanggapi anak yaitu memastikan bahwa kamu sebagai orang tua membimbing bukan melarang,  apalagi mendikte. Jika memang anak remaja kamu ternyata sudah memasuki usia yang memang wajar untuk memiliki pasangan misalnya 16 tahun atau 17 tahun. Maka kita tidak bisa melarang apa yang mereka lakukan namun bukan berarti mengizinkan kamu harus tetap bisa membimbing dan juga mengawasi hubungan yang mereka lakukan.

Bahkan tidak jarang banyak orang tua yang membiarkan pasangannya untuk main di rumah. Sehingga orangtuanya bisa tahu apa yang anaknya lakukan sekedar ngobrol,  makan keluar bersama dan juga nonton bersama teman-teman bukanlah hal yang salah. Biarkan mereka menikmati masa muda dan jangan lupa bantu awasi anak remaja yang kamu miliki. Dengan adanya bantuan tambahan misalnya lingkungan atau teman-teman.

Foto : freepik.com

Cara Menghadapi Anak Remaja yang Suka Berbohong

Berbicara mengenai cara mendidik ataupun pola asuh yang dimiliki, oleh masyarakat Indonesia, memang sangat beragam apalagi di era milenial seperti sekarang ini. Sudah banyak orangtua yang mempelajari berbagai pola asuh untuk anaknya. Sehingga menjadi lebih baik salah satunya adalah mengajarkan anak remaja yang mungkin mengalami banyak sekali kesulitan.

 

Salah satu kelas yang sulit untuk diterapkan karena orangtua merasa bingung adalah menemukan bahwa anak remajanya sering melakukan kebohongan. Lantas kira-kira bagaimana ya cara menghadapi anak remaja yang sering bohong. Mungkin berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan?

 

  1. Respon Sangat Penting

Pertama terapan disiplin dengan bijaksana cara orang tua untuk bisa merespon ketidakjujuran merupakan tantangan yang seringkali dihadapi oleh orang tua. Saat ini bukan hanya mendorong anak untuk lebih melakukan kebohongan di masa depan. Terkadang banyak orangtua yang meresponnya dengan marah, seolah orang tua tidak pernah melakukan kebohongan.

 

Hal ini sebenarnya bisa saja dilakukan namun remaja memiliki arena lain yang cukup tinggi. Sehingga mereka memungkinkan untuk melawan orang tua lebih besar lagi. Ingatlah bahwa keterbukaan akan mendorong kejujuran. Selain itu pahami ga dan jelaskan kepada mereka bahwa tujuan dari adanya kebohongan ini. Apakah karena kondisi yang sulit untuk diterima ataupun hal yang dilakukan saat anak, merupakan hal yang salah berikan hadiah kepada mereka, ketika sudah berhasil melakukan kejujuran dan juga saat mereka selesai untuk menghadapi kebohongan.

 

  1. Meluruskan Persepsi

Cara kedua yang bisa dihadapi apabila menemukan anak remaja berbohong yaitu meluruskan persepsi. Apabila anak remaja berbohong karena adanya imajinasi atau daya hal-hal yang dilakukan oleh mereka maka berikan respon positif. Lalu jelaskan kepada anak bahwa sebenarnya yang terjadi bukanlah sesuatu yang diinginkan.

 

Berikan juga alasan kenapa mereka melakukan tersebut misalnya saja seorang anak remaja berbohong memiliki nilai yang bagus. Padahal sebenarnya nilainya jelek? untuk itu cobalah luruskan sebagai orang tua kamu menerima nilai jelek anak. Namun apakah hal tersebut diiringi dengan perubahan atau tidak itulah yang sangat penting.

 

  1. Tanyakan Alasan yang Jelas

Umumnya seseorang melakukan kebohongan pasti karena ada alasannya tetapi kebanyakan anak remaja berbohong. Karena takut kesalahannya diketahui, dan pada akhirnya dimarahi atau mendapatkan hukuman yang tidak ingin mereka terima. Ada beberapa alasan lain yang mungkin bisa dilakukan mulai dari menarik perhatian, hingga ingin memperoleh keinginan yang belum terwujud.

 

Jika seperti ini terjadi maka cobalah ajak bicara anak remaja. Karena pada dasarnya mereka sudah bisa diajak bicara dan juga berfikir ceritakan kepada mereka. Apa yang diinginkan dan juga cari win-win solution nya. Dengan begitu mereka akan belajar untuk membuat konsekuensi dan memutuskan untuk bisa mengambil keputusan dengan tepat dan tidak berbohong lagi.

 

  1. Konsekuensi dan Hukuman Konsisten

Anak remaja yang berbohong merupakan salah satu kebiasaan buruk yang dilakukan. Sehingga jangan sampai dibiasakan atau didiamkan saja pembiasaan yang konsisten merupakan pola asuh selanjutnya yang wajib dilakukan. Ditambah lagi anak remaja ini bertujuan untuk bisa menentukan. Apakah hal berbohong tersebut merupakan hal yang ditoleransi atau tidak.

 

Apabila orang tua terus konsisten memberitahukan bahwa sebenarnya berbohong merupakan hal yang buruk. Maka kamu bisa mendapatkan pemahaman yang sangat jelas bahwa adanya aturan yang tertulis dan tidak tertulis, untuk menerapkan iya dan tidaknya sebuah aturan.

 

  1. Tanamkan Nilai Moral dan Agama

Terakhir tentu saja menanamkan nilai moral dan juga agama. Bagaimanapun juga anak remaja biasanya masih kesulitan untuk mencari jati diri. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh lingkungan baru sehingga mereka merasa keluarga, tidak diperlukan dan lingkungan baru lebih menarik. Cobalah bekali moral dan juga nilai agama sebanyak-banyaknya sehingga mereka tahu apa yang mereka lakukan salah.

Foto :freepik.com

 

Depresi dan Cara Penanganannya pada Remaja

 

 

Sebagian remaja pasti pernah mengalami masalah depresi. Dampak depresi yang dihasilkan pada remaja ini dapat membuat pikiran menjadi stress, gangguan kecemasan, dan bahkan bisa  memicu niatan untuk bunuh diri.

 

Dengan keadaan ini maka akan berdampak buruk pada kehidupan remaja pada saat di rumah, keluarga, lingkungan rumah dan sekolah. Untuk mengetahui apa penyebab dan bagaimana cara mengatasi masalah depresi pada remaja simak penjelasannya dibawah ini.aa

 

Penyebab timbulnya depresi pada remaja

Faktor-faktor yang dianggap dapat mengakibatkan masalah depresi yang dialami oleh remaja yaitu sifat bawaan, hormon, kimia otak, pola pikir yang negatif, dan trauma.

 

Kebanyakan orang tua sulit untuk mengenali dan mendiagnosis terkait gejala depresi yang dialami pada anaknya.

 

Biasanya gejala depresi yang muncul ini sering dianggap sebagai perasaan yang timbul seiring dengan masa pubertas dan penyesuaian remaja. Akan tetapi depresi adalah gangguan dan masalah yang lebih dari kebosanan akut atau ketidaktarikan dengan sekolahan.

 

Ketika mengalami masalah depresi ini kebanyakan remaja akan menunjukkan tanda-tanda yaitu tampak sedih dan mudah tersinggung, minat yang menurun drastis, penurunan energi dan perubahan nafsu makan, perasaan bersalah dan kesulitan berkonsentrasi, dan lain-lain.

 

Gejala yang timbul pada remaja ketika depresi ini sangat sulit untuk disebut normal atau tidak, maka untuk mengatasi hal ini sebaiknya orang tua mengajak anak untuk berkomunikasi sebab dengan berkomunikasi orangtua dapat menilai terkait remaja yang dapat mengatur perasaannya atau tidak.

 

Apabila remaja tersebut tidak dapat mengontrol perasaannya, maka haruslah masalah ini didiskusikan untuk mencari solusi dan mengatasinya. Untuk mengatasi dan menangani masalah depresi pada remaja antara lain sebagai berikut :

 

Menceritakan Masalah Yang Dihadapi Kepada Orang Yang Lebih Dewasa

Untuk menangani masalah depresi pada remaja ini sebaiknya jangan memendam masalah sendiri dan coba untuk mendiskusikannya dengan orang tua atau orang dewasa yang dipercayai.

 

Memang pada dasarnya akan sulit dalam mengungkapkan perasaan ke orang lain terutama pada saat remaja itu memiliki perasaan yang tertekan, atau malu.

 

Namun ketika membicarakan suatu masalah yang dialami bukan berarti tidak baik, cacat, ataupun tanggapan buruk lainnya.

 

Akan tetapi dengan membuka dan menerima perasaan dengan seseorang maka para remaja akan merasa disupport dan tidak merasa sendirian.

 

Pola Hidup Sehat

Untuk memperbaiki suasana hati remaja ada baiknya memilih gaya hidup yang sehat dan menyenangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara makan secara teratur, berolahraga dan tidur yang cukup.

 

Kegiatan ini telah banyak terbukti meredakan kasus depresi pada remaja. Perlu dipastikan juga bahwa remaja memiliki waktu tidur yang cukup dan makan-makanan yang seimbang.

 

Selain hal itu juga jangan pernah memiliki pikiran untuk mengkonsumsi minuman keras, merokok, dan bahkan narkoba. Hal ini disebabkan karena benda-benda ini akan membuat gangguan depresi yang dialami  pada remaja akan semakin akut.

 

Terbuka Dan Jangan Memgurung Diri

Apabila memiliki masalah depresi dan mengurung diri di kamar hal itu justru malah memperburuk keadaan depresi yang sedang dialami.

 

Ada baiknya seorang remaja tetap selalu bersosialisasi dan terbuka untuk menghindari rasa depresi yang semakin berlebihan.

 

Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi waktu dalam bermain sosial media dan bergabung dengan kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang menyenangkan.

 

Kontrol Rasa Cemas

Bagi sebagian besar remaja mengalami stres atau kecemasan yang berlebihan ini akan timbul seiring berjalannya gangguan  depresi.

 

Adanya kecemasan ini akan dapat menguras energi emosional sehingga akan mempengaruhi kesehatan fisik remaja.

 

Rasa cemas dapat timbul dari berbagai macam hal contohnya ketika susah bergaul, grogi, atau kebanyakan pikiran.

 

Untuk mengatasi hal ini maka Coba menenangkan pikiran untuk mencari solusi dari permasalahan depresi pada remaja.

Foto : freepik.com

Fenomena Kenakalan Remaja, Apa Penyebabnya?

 

Dewasa ini tidak jarang beredarnya fenomena terkait dengan kenakalan yang dilakukan oleh remaja yang banyak beredar di media massa. Seperti contoh remaja yang melakukan perkelahian, tawuran, penggunaan narkoba dan miras, dan kenakalan remaja yang lain.

 

Kerusakan pada moral remaja ini sudah marak menyebar di seluruh lapisan masyarakat mulai dari usia anak-anak sampai orang dewasa dan lansia pun ikut terkena dampaknya.

 

Seseorang dapat dikatakan remaja apabila telah berusia 13 – 18 tahun. Pada masa remaja pun belum dapat dikatakan sebagai dewasa, sebab remaja merupakan sebuah masa peralihan dalam pencarian jati diri sehingga tak jarang bahwa remaja melakukan perbuatan yang disebut dengan kenakalan remaja.

 

Masalah atau perbuatan yang dilakukan oleh remaja ini memiliki nilai negatif  mulai dari menyimpangnya norma-norma hukum yang ada, sehingga masyarakat juga akan memberikan perhatian lebih secara khusus semenjak adanya peradilan yang diperuntukkan anak-anak nakal.

 

Berikut ini akan dibahas penyebab dan juga solusi dari permasalahan remaja. Adapun penyebab dari timbulnya kenakalan remaja ini diantaranya :

 

Tidak Dapat Mengontrol Diri

Remaja yang masuk ke dalam golongan nakal ini ialah remaja yang tidak dapat memahami atau membedakan antara tingkah laku yang baik dan tingkah laku yang buruk yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.

 

Ada juga remaja yang mengetahui terkait perbedaan tingkah laku yang baik dan buruk tersebut, namun remaja itu tidak dapat mengembangkan dan mengontrol diri dalam bertingkah laku dengan menyesuaikan pengetahuan yang didapatnya.

 

Kurang Mendapat Perhatian

Perhatian yang diberikan oleh keluarga kepada anak-anaknya merupakan salah satu pondasi bagi perkembangan anak.

 

Apabila pada lingkungan tempat tinggal dan sekolah tidak memberikan perhatian kepada anak didiknya, maka hal tersebut akan menghambat dalam perkembangan anak.

 

Hal ini disebabkan karena perhatian yang diberikan oleh keluarga atau masyarakat sekitar ini akan mempengaruhi perilaku dan pertumbuhan anak pada masa remaja.

 

Contoh lingkungan keluarga yang menyebabkan adanya kenakalan yang terjadi pada remaja ialah keluarga yang broken home, keluarga yang memiliki masalah berat, keluarga yang mempunyai ekonomi bermasalah dan keluarga yang berantakan.

 

Pemahaman Agama Cenderung Minim

Salah satu penyebab timbulnya kenakalan remaja yaitu kurangnya pembinaan agama yang diberikan kepada anak.

 

Padahal seharusnya agama memiliki pondasi atau peranan yang sangat penting sebab didalamnya terkandung nilai-nilai moral yang berasal dari agama dan tidak akan berubah seiring berjalannya waktu dan tempat.

 

Pembinaan dan pengetahuan terkait agama bagi remaja ini perlu ditanam sejak usia dini sehingga dapat membentuk kepribadian dan karakter anak dengan baik dan tidak menyimpang.

 

Dari beberapa faktor penyebab permasalahan kenakalan remaja yang telah dipaparkan diatas, maka tentu ada solusi dalam menangani permasalahan tersebut.

 

Kenakalan remaja yang diaplikasikan dalam bentuk apapun pastinya memiliki dampak yang buruk dan negatif bagi masyarakat maupun bagi dirinya sendiri.

 

Untuk mengatasi hal tersebut maka keluarga  dikatakan sebagai andil yang berperan penting dalam pembentukan pribadi remaja ini harus memulai untuk melakukan perbaikan dari sikap dan memberikan bimbingan terkait agama yang baik.

 

Dengan usaha pembimbingan yang dilakukan oleh orang tua ini maka akan mengubah remaja dan mengarahkan remaja pada perbuatan yang bernilai positif dan bertanggung jawab, sehingga remaja ini dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya dengan Mandiri.

 

Selain peran dari orang tua dalam membimbing remaja ada pula lingkungan sekitar yang harus diperhatikan ketika mendidik anak sehingga tidak melakukan kegiatan yang menyimpang dan timbul kenakalan remaja.

Foto : freepik.com

Gangguan Psikologis Yang Rawan Terjadi Pada Remaja

 

Masalah psikologis yang terjadi pada remaja akan mempengaruhi perasaan, perilaku, suasana hati dan bahkan pikiran.

 

Gangguan psikologis ini umumnya muncul di waktu-waktu tertentu kecuali apabila remaja tersebut mengalami gangguan psikologis yang kronis.

 

Dengan adanya gangguan psikologis ini akan dapat mempengaruhi hubungan  dengan orang lain. Berikut ini beberapa Apa jenis gangguan psikologis yang rawan terjadi pada remaja.

 

Gangguan Saraf

Gangguan saraf merupakan gangguan yang telah didiagnosis selama usia bayi ataupun anak-anak. Gangguan psikologi saraf ini meliputi cacat intelektual, keterlambatan dalam perkembangan global, terganggunya komunikasi, dan autisme.

 

Pada cacat intelektual ini sering dikatakan sebagai keterbelakangan mental. Yang melatarbelakangi gangguan psikologis yang terjadi adalah bermula pada usia dibawah 18 tahun yang mempunyai perilaku adaptif.

 

Perilaku adaptif merupakan salah satu perilaku yang didalamnya mengikutsertakan terkait keterampilan praktis dalam kehidupan sehari-hari, contohnya interaksi sosial, keterampilan hidup, dan lain-lain.

 

Keterbelakangan mental atau gangguan intelektual ini seringkali dites menggunakan tes IQ yang mana dipatok dengan skor di bawah 70.

 

Bipolar

Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan yang terkait dengan perubahan suasana hati dan juga perubahan tingkat energi.

 

Gangguan bipolar ini seringkali melibatkan antara suasana hati yang kritis dan masa-masa depresi. Suasana hati yang dialami oleh pengidap gangguan bipolar ini akan meningkat seiring dengan ucapan yang disebut sebagai hypomania.

 

Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan ini diartikan sebagai salah satu gangguan  psikologis yang didalamnya terdapat rasa khawatir, rasa cemas, dan rasa takut yang berlebihan dan dialami secara terus-menerus.

 

Rasa takut yang timbul dalam diri seseorang ini akan melibatkan sebuah respon secara emosional terkait sebuah ancaman yang didapat, baik ancaman yang berasal dari khayalan ataupun ancaman dari dunia nyata.

 

Gangguan kecemasan ini akan melibatkan suatu antisipasi terkait ancaman yang mungkin akan muncul di masa yang akan datan. Jenis gangguan kecemasan ini dibagi menjadi beberapa macam yaitu gangguan kecemasan umum, kecemasan sosial, spesifik fobia, Agrograpobia, dan lainnya.

 

Stres

Salah satu gangguan psikologis yang rawan terjadi pada remaja yaitu stres. Stress ini diakibatkan karena sebuah trauma yang terkait dengan peristiwa stres.

 

Gangguan stress ini dibagi menjadi beberapa jenis yaitu gangguan stres akut, penyesuaian gangguan, gangguan stres pasca trauma, dan gangguan keterikatan reaktif.

 

Gangguan stres akut ini melibatkan korban yang memiliki tingkat gangguan stres yang parah dan dalam jangka waktu 1 bulan setelah kejadian yang membuatnya menjadi trauma.

 

Contohnya perang, bencana alam, kecelakaan, melihat kematian, dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan pada gangguan stres akut ini yaitu akan mengalami gejala disosiatif atau dapat dikatakan sebagai realitas yang berubah dan tidak mampu untuk mengingat aspek penting yang terjadi pada sebuah peristiwa.

 

Gangguan Somatik

Gangguan somatik sebelumnya disebut sebagai gangguan somatoform. Gangguan somatik ini merupakan gangguan fisik yang tidak dapat diprediksi terkait penyebab dari gejala tersebut.

 

Berdasarkan penjelasan medis, gangguan fisik ini dikatakan sebagai gangguan yang lebih mengarah kepada perasaan, pikiran, dan perilaku yang cenderung tidak normal yang terjadi sebagai tanggapan atas gejala yang timbul.

 

Gangguan somatik ini juga melibatkan keasyikan yang terjadi dalam gejala fisik yang umumnya dapat berfungsi dengan normal.

 

Sehingga pada gangguan ini akan mengakibatkan tekanan emosi yang tidak dapat dikontrol dan dan akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal demikianlah yang menyebabkan salah satu gangguan psikologis.

Perubahan Psikologis Remaja Yang Perlu Diketahui

 

Remaja merupakan generasi penerus masa depan. Remaja juga akan menjadi sebuah pemimpin dan mengemban kewajiban yang jauh lebih besar dari pada masa anak-anak.

 

Namun untuk mencapai hal-hal tersebut maka seorang remaja dikatakan telah melewati proses secara fisik dan psikologis nya.

 

Berikut ini akan diulas terkait perubahan psikologis remaja yang perlu diketahui.

 

Penyesuaian Bentuk Fisik Yang Baru

Sudah menjadi hal wajar apabila pada masa remaja ini masih memerlukan adaptasi dengan seksualitas.

 

Masa remaja ini menjadi penentuan identitas seksual yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan hubungan romantis. Sedangkan ketika memasuki fase dewasa, identitas seksualitas yang dimiliki oleh individu masih banyak dicari di fase remaja yang sebelumnya telah ditetapkan secara jelas.

 

Dalam masa remaja ini akan mempunyai potensi yang berhubungan dengan keintiman emosional antara individu satu dengan individu yang lain, sedangkan pada masa dewasa perkembangan intim yang serius mulai tumbuh seperti cinta atau komitmen.

 

Mengembangkan Kemampuan Berpikir

Dalam mengembangkan kemampuan berpikir ini diartikan sebagai kepercayaan terkait apa yang telah dilihat dan melihat sebuah masalah hanya dari satu sudut pandang.

 

Pemikiran pada masa remaja ini akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, sehingga pada masa dewasa pemikiran abstrak ini akan semakin tertata dengan baik.

 

Sedangkan pada fase remaja pemikiran tiap individu akan berubah lebih kearah idealis dan juga filosofis yang mengarah kepada perubahan psikologis.

 

Menyadari Jati Diri

Pada masa remaja tentunya masuk ke dalam fase-fase dalam pencarian dan pengenalan jati diri.

Dengan seiring berjalannya waktu, setiap individu pasti akan memiliki kesadaran bahwa mereka memiliki kedudukan yang berbeda dengan orang tua mereka.

 

Maka disinilah awal mula remaja akan mencari dan memahami jati diri yang sesungguhnya.

Para remaja akan mengenal diri sendiri sebagai entitas yang dianggap unik, kata-kata terpisah dari orang tua, serta anggota yang sah dari masyarakat

 

Memenuhi Tanggung Jawab

Apabila ada anak remaja yang mengatakan bahwa sudah memiliki pemikiran dewasa, maka hal itu belum dapat dipastikan sebab pada masa remaja masih berada dalam tahapan mempelajari keterampilan yang dibutuhkan.

 

Hal inilah yang bertujuan agar peran-peran mereka dapat dilaksanakan dengan baik ketika dewasa. Masa remaja merupakan salah satu masa yang sangat rentan terkait masuknya banyak informasi dari berbagai media- media atau sumber-sumber informasi yang hilir mudik.

 

Oleh sebab itu sebaiknya orangtua tidak diperbolehkan untuk menolak apa yang terjadi dalam proses pendewasaan pada anak remajanya.

 

Sebab masa remaja ini dapat dikatakan sebagai masa dalam pencarian suatu jati diri, dan ada baiknya orang tua harus melakukan diskusi atau pendekatan secara intim dengan anaknya yang telah beranjak remaja.

 

Menjalin Kedekatan Dengan Orang Tua

Tidak jarang ditemui pada masa remaja bahwa jarak yang terjalin antara orang tua dengan anak ini akan jauh berbeda ketika masih dalam fase usia dini.

 

Pada fase ini para remaja kebanyakan memilih mendengarkan dan menggunakan saran yang dilontarkan oleh teman sebayanya daripada saran yang diberikan oleh orangtua.

 

Akan tetapi ini berubah ketika remaja tersebut akan beranjak pemikiran yang lebih dewasa.

Ketika dewasa akan membuat pemikiran terbuka dengan memandang orang tua yang dianggap sebagai individu terpisah dan juga untuk mempertimbangkan saran- saran dan masukan-masukan yang orang tua berikan.

 

Seiring bertambahnya usia konflik-konflik dengan orang tua pun juga akan semakin menurun. Hal inilah yang merupakan salah satu perubahan psikologis.

Foto : freepik.com

Meneropong Masalah Kenakalan dan Kriminalitas Remaja

Berbicara tentang angka kriminalitas di Indonesia mungkin sudah tidak bisa di hitung dengan jari lagi, namun kita perluas lagi pembahasan ini. Beberapa kriminalitas dilakukan oleh remaja.  Masih belum jelas atas dasar apa mereka melakukan hal tersebut, namun yang jelas mereka masih tergolong remaja dan mereka masih belum paham tentang sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan.

 

Ada beberapa kilas berita ketika mewawancarai salah seorang tersangka kriminal narkoba yang pastinya masih tergolong remaja. Ketika di wawancarai mengapa mereka melakukan hal tersebut dan dengan raut wajah polos disertai suara yang sangat pelan mereka menjawab bahwa perbuatan mereka adalah kesalahan dari orang tua yang kurang mengontrol pergaulan mereka. Beberapa orang di antara tersangka tersebut mengatakan bahwa mereka sangat bosan di rumah ketika harus mendengarkan orang tuanya berkelahi setiap malam karena masalah ekonomi. Namun ada juga beberapa di antara mereka yang bosan berdiam diri di rumah karena salah satu orang tuanya melakukan perselingkuhan dan ini sangat membuatnya kurang nyaman untuk berdiam diri di rumah.

 

Permasalahan ini sangatlah sulit diatasi, mereka yang kekurangan pemantauan dari keluarga secara langsung mengambil jalan keluar dengan cara menjadi kriminal. Tidak hanya narkoba, bahkan di antara mereka ada yang menjadi perampok. Hal ini mereka lakukan karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat tidak cukup untuk kehidupan sehari – harinya. Mereka yang kekurangan pendidikan ini pun harus mencari kerja dengan cara tidak halal yakni dengan menjadi perampok.

 

Yang sangat sekali disayangkan ketika seorang remaja terjerat kasus pembunuhan. Beberapa kasus mengatakan bahwa mereka disuruh untuk menjadi pembunuh bayaran yang bertugas membunuh orang atas perintah. Sangat miris sekali kejadian ini, ketika hendak di tanya alasan  mengapa mereka melakukannya dengan sangat polos mereka menjawab bahwa ini semua tuntutan ekonomi keluarga. Di tengah masalah ekonomi keluarga yang sangat kurang, mereka terpaksa menjadi pembunuh bayaran yang bisa menutupi kekurangan ekonomi mereka.

 

Anehnya, jenis kriminalitas tingkat tinggi ini sebagian besar dilakukan oleh para remaja. Remaja yang kehilangan masa depannya karena kondisi keluarga yang tidak harmonis dan ada juga karena kondisi ekonomi keluarga. Mereka bisa menjadi apa saja asalkan menghasilkan uang dan kesenangan untuk menutupi sesuatu yang tidak mereka inginkan. Namun pada saat mereka sudah tertangkap oleh polisi dan sudah tidak bisa lagi melakukan hal tersebut, mereka tampak merasa menyesali perbuatannya.

 

Kondisi psikologis remaja yang terlibat dalam kasus kriminal ini sebenarnya sudah sangat rapuh. Bagaimana tidak, kewajiban yang harus mereka jalankan pada usia mereka adalah belajar dan mengejar mimpi yang sudah mereka impikan. Tertutup oleh kondisi keluarga yang kurang harmonis dan juga kondisi ekonomi keluarga sehingga memaksa mereka untuk harus bisa mandiri. Sangat disayangkan sekali kejadian seperti ini pasalnya mereka yang seharusnya berjuang untuk menggapai mimpi mereka harus terhenti ketika mereka terlibat kontak kriminal. Hal ini terjadi juga bisa saja dari sisi kondisi psikologis mereka yang sudah rapuh dan tidak bisa terkendali lagi sehingga mereka memilih jalan kriminal untuk menutupi kondisi ekonomi keluarga maupun kurangnya kasih sayang orang tua yang tidak mereka dapatkan di dalam keluarga.

Foto : freepik.com

 

Waspada Bullying di Kalangan Remaja

 

 

Permasalahan yang masih sering terjadi di kalangan remaja selain narkoba adalah kenakalan remaja berbentuk bully. Hal ini sudah sangat sering terjadi di negara kita Indonesia dan rata – rata pelakunya adalah remaja atau bahkan anak – anak yang masih di bawah umur. Lalu target yang akan mereka bully adalah orang yang ada di sekitar mereka yang terlihat kuper atau kurang pergaulan. Dengan kondisi seseorang yang berpenampilan kurang menarik dan atau bahkan kurang enak di pandang, mereka melakukan pembully-an.

 

Banyak sekali cara yang mereka gunakan untuk membully ini, contohnya adalah pemalakan. Mereka tak segan meminta uang secara berkala kepada target bully ini dan jika target tidak memberikannya akan ada konsekuensi berupa pukulan atau bahkan penindasan kepada target tersebut. Yang sangat disayangkan sekali ketika berita bully ini harus kita dengarkan dari kalangan anak dibawah umur. Mereka yang masih mempunyai kewajiban belajar ternyata mereka harus menjadi pelaku pembully-an.

 

Beberapa studi kasus menyatakan bahwa rata – rata mereka yang menjadi pelaku pembully-an ini bukan di dasari dari kurangnya perhatian dari orang tua mereka namun ini bisa terjadi karena mereka ingin terlihat seperti pemberani di kalangan sekitarnya. Ada juga beberapa dari mereka menjadi pelaku bully ini untuk menguji seberapa berani mereka menghadapi orang – orang yang ada disekitar mereka. Dan yang paling sangat disayangkan adalah ketika mereka harus menciptakan sebuah geng atau komplotan di dalam lingkungan sekolah. Hal ini mereka akui untuk meningkatkan solidaritas antar anggota geng atau komplotan ini harus ada yang berani melakukan pembully-an.

 

Kondisi psikologis mereka yang menjadi korban bully ini sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, mereka harus tetap berani ke sekolah untuk belajar namun di belakang itu masih terus di hantui perasaan takut di bully oleh teman – temannya. Rata – rata mereka yang menjadi korban bully ini pada akhirnya menjadi kuat dan berhasil. Mereka menjadi brontak atas perlakuan yang mereka dapatkan di sekolah. Ada juga beberapa dari mereka yang menjadi korban bully ini secara tidak tahu – menahu mengapa bisa menjadi korban bully.

 

Kurangnya rasa empati dan rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh para pelaku pembully-an ini yang menjadikan mereka mempunyai rencana untuk membentuk suatu kelompok negatif yang tugasnya untuk membully mereka yang terlihat kurang perhatian atau tidak nyaman di pandang menurut mereka. Di lain sisi, kondisi mereka yang menjadi korban bully juga sangat hancur. Mereka masih terus di hantui oleh rasa takut untuk mengejar mimpi mereka karena pembully-an tersebut. Ada juga beberapa di antara mereka menjadi brontak dengan cara membalas semua perbuatan para pembully ini yang sudah dilakukan kepadanya. Ini menjadikan para korban bully yang memilih brontak akan merasa lebih hancur lagi karena kurangnya rasa sabar yang dimiliki mereka.

 

Pada akhirnya, orang tua korban pembully-an ini hanya bisa menyerahkan kasus ini kepada pihak berwajib yang sebelumnya sudah melakukan laporan kepada pihak sekolah. Kurangnya kepedulian antar sesama dikalangan remaja membuat aksi pembully-an ini kerap terjadi. Mereka menjadi terlihat lebih tangguh dan gagah berani ketika sudah melakukan aksi pembully-an ini namun tidak pernah berpikir bahwa apa yang mereka lakukan ini akan menimbulkan banyak sekali dampak negatif terutama bagi para korban. Mereka pun juga terdampak menjadi dikucilkan oleh orang yang ada di sekitar.

Foto : freepik.com

Anak Praremaja, Apa Saja Tantangannya? (1)

Anak menemukan persoalan dalam lingkungan pergaulannya. Bagaimana cara mengatasinya?

Anak usia praremaja merupakan tahap awal dari perkembangan menuju usia remaja. Pada usia ini, anak akan mengalami masa transisi antara masa kanak-kanak ke remaja (adolescence). Tahap ini juga sering disebut sebagai tahap usia sekolah, karena anak banyak menghabiskan waktu sehari-hari di sekolah. Tahap ini biasanya ditandai dengan kebutuhan anak untuk menjalin hubungan dengan teman yang mempunyai jenis kelamin sama, kebutuhan untuk mempunyai sahabat yang dapat dipercaya, serta mempunyai kebutuhan untuk membangun hubungan dengan teman sebaya yang memiliki kesamaan dengannya.

Pada usia ini anak mulai mengalami peningkatan dalam kemandirian serta fleksibilitas untuk dapat bekerja sama yang saling menghargai dan menguntungkan. Anak mulai belajar untuk menyesuaikan diri dengan teman sebayanya serta mulai melakukan hal-hal kecil secara mandiri, misalnya membuat minuman/makanan sendiri.

Mereka juga mulai lebih realistis, seimbang, serta lebih mampu mengekspresikan diri secara sadar. Anak mulai membentuk, mengikuti atau mencoba masuk ke kelompok tertentu yang mewakili dirinya pada saat itu. Mereka pun mulai menyenangi/ mempunyai penyanyi favorit atau kegiatan tertentu misalnya bernyanyi, olahraga, atau menari. Pun mereka mulai memusatkan perhatian pada diri sendiri, khususnya mulai memperhatikan diri mereka secara fisik.

PILIH TEMAN SEBAYA

Seiring perkembangannya, anak usia ini akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersama teman-temannya. Kemampuan sosialisasinya kelak akan membentuk dan mengajari mereka bertingkah laku di dalam lingkungan. Mereka akan mempelajari keterampilan dalam berbicara, bergaul/bersikap, berpakaian/berpenampilan, dan sebagainya. Keterampilan yang dipelajari ini sudah pasti berbeda dengan keterampilan yang sudah didapatkan di rumah.

Anak di usia praremaja mulai membandingkan dan menilai apakah perilaku mereka yang selama ini diperoleh dari didikan di rumah sudah sesuai dengan perilaku yang ada di luar rumah. Anak mulai menentukan kesesuaian diri mereka dan mencoba untuk beradaptasi dengan nilai-nilai yang ada dalam lingkungan teman sebaya. Pada saat inilah peran teman sebaya sangat penting.

Namun ingat, teman sebaya dapat memberikan manfaat yang positif maupun negatif. Hal ini bergantung pada proses penerimaan anak dalam menghadapi perbedaan. Sebaiknya ia sudah memiliki nilai-nilai dasar yang kuat untuk membentengi diri dari pengaruh negatif.

Beberapa manfaat yang didapat dengan adanya teman sebaya adalah proses pembelajaran sosial. Anak mulai mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana harus berbagi dan menerima perbedaan di dalam kelompok. Ia juga belajar tentang kejujuran, keadilan, kerja sama serta tanggung jawab. Selain itu ia jadi mengetahui bahwa ada peran-peran sosial yang berbeda dengan yang selama ini diketahui, seperti menjadi pemimpin, anak buah, sahabat dan lain sebagainya.

Saat anak mulai memilih untuk mengikuti atau membentuk kelompoknya sendiri, umumnya memilih teman sebaya dengan jenis kelamin yang sama. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk berteman dengan jenis kelamin berbeda.

Selain itu, anak praremaja juga suka membentuk kelompok yang beranggotakan anak yang popular. Mereka mulai saling memilih teman yang sesuai dengan nilai kelompok mereka. Pemilihan ini memberi peluang kepada anak untuk menjadi yang popular atau tidak. Pada umumnya, anak akan memilih teman sebaya untuk mendapatkan sahabat yang bisa dipercaya, teman yang bisa diajak untuk bekerja sama dalam mengerjakan tugas maupun untuk berbagi cerita dan saling membantu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

 Nah, anak yang popular biasanya dipilih menjadi anggota kelompok karena mereka cenderung tidak memiliki masalah dalam proses sosialisasi serta mampu berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Anak yang tidak popular cenderung mengalami masalah dalam perkembangan sosialisasinya. Mereka tidak disukai oleh teman-temannya karena beberapa hal, seperti cenderung bersifat mengganggu, egois dan kurangnya sifat positif. (hil)

Foto: freepik.com

MASALAH PERTEMANAN

Di usia ini, anak ditantang untuk dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan harapan dari lingkungan. Masalah yang timbul di usia praremaja biasanya disebabkan konsep diri yang kurang baik serta self esteem yang rendah. Anak dengan konsep diri yang baik serta mempunyai kepercayaan diri yang tinggi akan mampu mempelajari keahlian-keahlian baru serta mengikuti atau bergabung dengan kegiatan-kegiatan yang berarti. Mereka juga mampu untuk menghadapi risiko yang terjadi atas pilihan yang dibuat.

Sebaliknya, anak yang konsep dirinya kurang baik dan memiliki self esteem yang rendah akan merasa rendah diri, tidak produktif, takut untuk mencoba hal baru maupun menjalin hubungan dengan teman baru, serta mudah menyerah.

Anak seperti itu akan mengalami masalah dalam menjalin hubungan sosial dengan teman sebayanya. Penyesuaian sosial yang kurang adekuat menyebabkan kebutuhan sosial anak tidak terpenuhi. Alhasil, mereka mengalami frustasi dan akhirnya cenderung melakukan perilaku yang menyimpang seperti mencuri, nakal kepada teman serta melanggar aturan sekolah. Anak yang nakal kepada temannya akan mengarah pada perbuatan bullying, dimana ia melakukan manipulasi dan penekanan terhadap teman sebaya yang lebih lemah. Hal ini menggambarkan bahwa anak yang melakukan bullying sebenarnya mempunyai masalah yang sama dengan anak yang mengalami bullying.

   Kemudian, anak praremaja yang mengalami masalah pertemanan biasanya menunjukan ciri menonjol seperti sikap menantang dan keras kepala. Keadaan ini disebabkan ketidakpuasan anak dengan otoritas lingkungan sehingga menimbulkan gejolak emosi yang meledak-ledak berupa marah, menentang, atau memberontak. Adapun jenis gangguan perkembangan sosial dan emosional anak praremaja ini dapat dikelompokkan menjadi, tunalaras (agresivitas, mencuri, berbohong), kecemasan (fobia), menarik diri (withdrawal), temper tantrum, hipersensitivitas, dan bahkan bunuh diri.

Permasalahan dengan teman sebaya bila tidak ditangani dengan baik akan berdampak pada perkembangan sosial anak di kemudian hari. Anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, terlebih yang mengalami penolakan dari teman sebaya akan merasa kesepian, tidak bahagia dan tidak aman. Anak akan mengembangkan konsep diri yang tidak menyenangkan, yang dapat menimbulkan penyimpangan kepribadian. Anak yang tidak dapat memelihara hubungan baik dengan teman sebaya juga cenderung mengalami masalah dalam tahap perkembangan selanjutnya seperti prestasi belajar yang rendah, putus sekolah, dan masalah-masalah sekolah lainnya.  

PERLU INTERVENSI

Untuk menangani masalah gangguan perkembangan sosial dan emosional anak praremaja ini perlu kemampuan orangtua dalam mengintervesi sesuai kebutuhan anak. Tak kalah penting, kerja sama yang baik dengan guru dan lingkungan. Berikan kasih sayang dan hindari cara-cara melindungi anak yang berlebihan.

Intervensi yang bisa dilakukan adalah mengajarkan anak untuk lebih mengembangkan kecerdasan emosinya. Caranya, dengan melatih anak untuk mampu mengenali dan mengelola emosi, berempati, mengembangkan hubungan yang baik dengan teman, motivasi diri serta melakukan relaksasi. Kemudian, hal yang perlu diperhatikan adalah mengembangkan sikap penerimaan dan penghargaan terhadap anak pada setiap ekspresi yang dihasilkan. Entah itu perasaan, ide, pernyataan atau ungkapan-ungkapan verbal sang anak. Hal ini akan mendorong timbulnya rasa percaya diri dan perasaan aman pada anak.

Selain itu, beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menghadapi anak praremaja :

  1. Selain menjadi orangtua, kita juga harus bisa menjadi teman dan sahabat sejati buat anak. alhasil, ia mampu menceritakan hal-hal baru yang didapatkan dari lingkungan luar.
  2. Lebih bijaksana dalam memberi penilaian terhadap teman yang dikenalkan anak. Misal, ketika ia mengajak temannya bermain di rumah. Bila kita kurang berkenan dengan teman sang anak, berikan pandangan dan masukan yang dapat diterima anak tanpa ada paksaan.
  3. Beri kepercayaan kepada anak untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Beri bantuan seperlunya dengan memberi saran untuk menyelesaikan masalah dengan baik.
  4. Luangkan waktu untuk kebersamaan dalam keluarga, sehingga anak dapat merasakan kehangatan dan kenyamanan ketika berada di rumah. Tanamkan kepada anak, meski saat ini ia akan lebih banyak melakukan aktivitas dengan teman sebaya, tetapi kebersamaan dalam keluarga merupakan segalanya baginya. (hil)

Foto:freepik.com