Gangguan Psikologis Yang Rawan Terjadi Pada Remaja

 

Masalah psikologis yang terjadi pada remaja akan mempengaruhi perasaan, perilaku, suasana hati dan bahkan pikiran.

 

Gangguan psikologis ini umumnya muncul di waktu-waktu tertentu kecuali apabila remaja tersebut mengalami gangguan psikologis yang kronis.

 

Dengan adanya gangguan psikologis ini akan dapat mempengaruhi hubungan  dengan orang lain. Berikut ini beberapa Apa jenis gangguan psikologis yang rawan terjadi pada remaja.

 

Gangguan Saraf

Gangguan saraf merupakan gangguan yang telah didiagnosis selama usia bayi ataupun anak-anak. Gangguan psikologi saraf ini meliputi cacat intelektual, keterlambatan dalam perkembangan global, terganggunya komunikasi, dan autisme.

 

Pada cacat intelektual ini sering dikatakan sebagai keterbelakangan mental. Yang melatarbelakangi gangguan psikologis yang terjadi adalah bermula pada usia dibawah 18 tahun yang mempunyai perilaku adaptif.

 

Perilaku adaptif merupakan salah satu perilaku yang didalamnya mengikutsertakan terkait keterampilan praktis dalam kehidupan sehari-hari, contohnya interaksi sosial, keterampilan hidup, dan lain-lain.

 

Keterbelakangan mental atau gangguan intelektual ini seringkali dites menggunakan tes IQ yang mana dipatok dengan skor di bawah 70.

 

Bipolar

Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan yang terkait dengan perubahan suasana hati dan juga perubahan tingkat energi.

 

Gangguan bipolar ini seringkali melibatkan antara suasana hati yang kritis dan masa-masa depresi. Suasana hati yang dialami oleh pengidap gangguan bipolar ini akan meningkat seiring dengan ucapan yang disebut sebagai hypomania.

 

Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan ini diartikan sebagai salah satu gangguan  psikologis yang didalamnya terdapat rasa khawatir, rasa cemas, dan rasa takut yang berlebihan dan dialami secara terus-menerus.

 

Rasa takut yang timbul dalam diri seseorang ini akan melibatkan sebuah respon secara emosional terkait sebuah ancaman yang didapat, baik ancaman yang berasal dari khayalan ataupun ancaman dari dunia nyata.

 

Gangguan kecemasan ini akan melibatkan suatu antisipasi terkait ancaman yang mungkin akan muncul di masa yang akan datan. Jenis gangguan kecemasan ini dibagi menjadi beberapa macam yaitu gangguan kecemasan umum, kecemasan sosial, spesifik fobia, Agrograpobia, dan lainnya.

 

Stres

Salah satu gangguan psikologis yang rawan terjadi pada remaja yaitu stres. Stress ini diakibatkan karena sebuah trauma yang terkait dengan peristiwa stres.

 

Gangguan stress ini dibagi menjadi beberapa jenis yaitu gangguan stres akut, penyesuaian gangguan, gangguan stres pasca trauma, dan gangguan keterikatan reaktif.

 

Gangguan stres akut ini melibatkan korban yang memiliki tingkat gangguan stres yang parah dan dalam jangka waktu 1 bulan setelah kejadian yang membuatnya menjadi trauma.

 

Contohnya perang, bencana alam, kecelakaan, melihat kematian, dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan pada gangguan stres akut ini yaitu akan mengalami gejala disosiatif atau dapat dikatakan sebagai realitas yang berubah dan tidak mampu untuk mengingat aspek penting yang terjadi pada sebuah peristiwa.

 

Gangguan Somatik

Gangguan somatik sebelumnya disebut sebagai gangguan somatoform. Gangguan somatik ini merupakan gangguan fisik yang tidak dapat diprediksi terkait penyebab dari gejala tersebut.

 

Berdasarkan penjelasan medis, gangguan fisik ini dikatakan sebagai gangguan yang lebih mengarah kepada perasaan, pikiran, dan perilaku yang cenderung tidak normal yang terjadi sebagai tanggapan atas gejala yang timbul.

 

Gangguan somatik ini juga melibatkan keasyikan yang terjadi dalam gejala fisik yang umumnya dapat berfungsi dengan normal.

 

Sehingga pada gangguan ini akan mengakibatkan tekanan emosi yang tidak dapat dikontrol dan dan akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal demikianlah yang menyebabkan salah satu gangguan psikologis.

Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Psikologis Pada Anak

 

 

Pemahaman terkait perubahan psikologi pada anak ini sangat perlu dipelajari oleh para orang tua, sehingga dapat lebih mengerti dan memahami mengenai proses pertumbuhan dan perkembangan anak dengan baik dan maksimal.

 

Sehingga nantinya para orangtua akan memberikan perlakuan yang baik kepada para anak-anaknya. Faktor yang mempengaruhi perubahan psikologi pada anak ini meliputi :

 

Pola Asuh

Pola asuh yang berasal dari keluarga ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis pada anak.

 

Dikatakan sebagai faktor penting sebab sebuah karakter dan psikologi yang dimiliki anak akan dapat terbentuk dari cara pola pengasuhan yang diperoleh dari keluarga ataupun orang yang mengasuhnya.

 

Misalnya pada anak yang dibesarkan oleh orangtua yang memiliki sifat disiplin maka akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang memiliki jiwa disiplin dan teratur.

 

Namun selain hal itu, kasih sayang juga dikatakan sebagai faktor utama dalam pembentukan kepribadian dan perubahan psikologis pada anak.

 

Sebab dengan adanya kasih sayang dari orang tua dan keluarga maka dapat membentuk anak dan menuntut anak menjadi seorang yang memiliki sifat lemah lembut, penyayang, dan juga mempunyai empati terhadap sekitarnya.

 

Lingkungan

Berinteraksi dengan lingkungan ini akan mempengaruhi perubahan psikologi pada anak yang cukup besar.

 

Apabila anak terbiasa hidup dan berinteraksi di lingkungan yang cenderung baik maka nantinya anak juga akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang memiliki jiwa kebaikan.

 

Namun apabila anak semasa kecil yaitu tumbuh dalam lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan yang kurang baik maka anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang memiliki karakter kurang baik.

 

Maka dari itu orang tua dan keluarga harus mengawasi setiap kegiatan anak yang bertujuan agar anak tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang memiliki nilai buruk.

 

Sebab lingkungan ini sangat mempengaruhi anak dalam perkembangan psikologisnya dan membuat anak akan cenderung berperilaku membangkang dan pemarah.

 

Orang Tua

Orang tua juga memiliki andil yang besar dalam kehidupan anak yaitu dalam menentukan perkembangan psikologis yang terjadi pada anak.

 

Keikutsertaan atau keterlibatan orang tua ini dapat diperlihatkan dengan melakukan kegiatan bersama anak seperti halnya berolahraga, bermain dengan anak, bernyanyi, ataupun menemani anak dalam belajar dan menggali pengetahuan.

 

Maka dengan adanya peran orang tua yang baik nantinya anak akan mudah mengutarakan apa yang diinginkannya dan mudah berkomunikasi dengan orangtua yang menyebabkan si anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, jujur, dan juga pribadi yang terbuka.

 

Trauma

Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis pada anak adalah trauma. Trauma ini akan menghambat psikologi pertumbuhan pada anak sebab sesuatu hal yang buruk yang dahulu pernah terjadi. Contohnya anak yang trauma dengan kekerasan fisik.

 

Meskipun terdengar sederhana dan sepele akan tetapi trauma tersebut yang cenderung buruk dan tidak menyenangkan akan mempengaruhi perkembangan psikologis pada anak.

 

Untuk mengatasi hal itu sebaiknya orangtua harus berhati-hati dalam memberi perlakuan yang ditunjukkan kepada anak dan harus menghindari kekerasan fisik atau pemberontakan yang dirasa dapat melukai dan membekas pada batin anak.

 

Pada umumnya membangun karakter anak ini memang tidak mudah akan tetapi dengan memberikan perhatian dan ketelatenan lebih kepada anak maka hal tersebut akan sangat mudah untuk diwujudkan.

Demikianlah faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis pada anak.

Foto : freepik.com

Dampak Perceraian Terhadap Psikis Anak

Perbincangan tentang anak yang belum cukup umur lalu harus terbiasa mendengar percekcokan di dalam keluarga memang sedang memanas. Mereka yang hidup ditengah keluarga keras memang harus menyesuaikan diri bahwa orang tua mereka memiliki sifat atau watak yang keras. Tak hanya itu, terkadang mereka harus menahan diri di dalam kamar ketika mendengarkan orang tua mereka saling adu mulut satu sama lain.

Ketika seorang ayah atau ibu salah satu di antara mereka harus mengucapkan kata perceraian dan seorang anak mendengarnya, psikisnya pun bermasalah. Bagaimana tidak, anak yang tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis harus dipaksa untuk berfikir tentang hidup mereka kedepan. Hidup yang akan terus dihantui oleh pilihan. Seorang anak harus memilih mana yang terbaik untuk masa depannya, yang seharusnya belum waktunya untuk dipikirkan.

Mereka yang memiliki perasaan bimbang karena siapa yang harus dipilihnya untuk menjadi tempat berteduh ketika ayah dan ibunya tidak lagi bersama. Seorang anak memilih ibunya karena berpikir bahwa ibu yang melahirkannya dan ibu juga yang bisa mengasuhnya dengan sabar sepanjang hari. Namun, mereka yang memilih untuk melanjutkan hidup bersama ayahnya bukan berarti mereka tidak sayang kepada ibunya. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan sang anak tidak bisa melanjutkan hidupnya dan mengejar masa depannya bersama ibunya.

Masih sering terjadi kasus tentang ibu yang menganiaya anak kandungnya atau bahkan ibu yang tega membunuh anak kandungnya. Bisa jadi ini adalah salah satu alasan mengapa mereka anak – anak korban perceraian memilih hidup bersama ayah daripada ibunya. Ada juga mereka yang harus hidup dengan nenek atau kakeknya. Orang tua sudah tidak mau lagi mengurusnya sehingga sang anak korban perceraian orang tua ini harus tetap melanjutkan hidupnya untuk mengejar masa depannya bersama nenek dan kakeknya.

Beberapa orang tua memilih untuk tetap berkomunikasi dengan baik setelah adanya perceraian. Mereka yang masih memilih jalan ini dengan alasan supaya psikologi anak mereka tidak akan terganggu. Namun bagi mereka orang tua yang sudah bercerai, akan sangat sulit melakukan hal ini. Mereka masih terbendung rasa sakit hati pun rasa kecewa setelah apa yang mereka lakukan pada saat berumah tangga.

Tak hanya itu, orang tua yang terpaksa bercerai dan menelantarkan anak mereka juga masih sering terjadi di Indonesia ini. Setelah perceraian itu terjadi, mereka tidak memikirkan lagi tentang anak bahkan mereka merasa sudah tidak ada lagi beban anak dalam hidup mereka. Mirisnya, perilaku mereka harus mengorbankan psikologi buah hati mereka. Beberapa orang tua yang lain memilih untuk memperebutkan hak asuh anak yang artinya mereka masih menginginkan untuk hidup harmonis dalam keluarga meskipun harus kehilangan salah satu anggota keluarganya. Entah ayah ataupun ibunya.

 

Dalam hal ini, anak yang menjadi korban perceraian atas orang tuanya terkadang memiliki beberapa opsi untuk hidup kedepan. Mereka yang memilih untuk terus bangkit dan semangat tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi terhadap keluarganya, akan terasa baik – baik saja. Namun untuk mereka yang menjadi korban perceraian orang tuanya dan tidak bisa mengendalikan dirinya untuk terus menjadi baik, wajar saja mereka akan menjadi anak yang kurang perhatian dari orang tuanya dan lalu mengambil tindakan yang sangat tidak diinginkan. Hal ini masih sering terjadi di Indonesia atau bahkan di sekitar kita.

Foto : Freepik.com

Tips Cegah Potensi Krisis Keluarga Saat Pandemik COVID-19

Wabah virus corona atau COVID-19 masih belum berakhir. Setiap hari, pasien terinfeksi bertambah. Ada yang kemudian sembuh,  namun ada juga yang meninggal pada akhirnya. Ya, pandemi ini membuat sebagian orang merasa cemas, khawatir bahkan takut.  Itu hal yang wajar asal jangan terlalu berlebihan.

Nah, Guru Besar IPB University bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, yang juga Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Prof Euis Sunarti membagikan tips mencegah potensi krisis keluarga saat pandemik COVID-19.

 Ada delapan cara yang menurutnya bisa mencegah potensi krisis, di antaranya adalah:
Pertama, menguatkan spiritualitas dan religiusitas, keimanan terhadap takdir, pemaknaan positif terhadap ikhtiar, ujian dan cobaan dalam hidup dan meningkatkan ibadah anggota keluarga.

Kedua adalah menilai ulang kapasitas ekonomi keluarga untuk dapat bertahan di tengah situasi yang tidak diinginkan. Mencegah tekanan ekonomi keluarga dengan mengatur ulang prioritas kebutuhan dan pengeluaran keluarga, termasuk penggunaan kembali sumberdaya yang ada.

Ketiga, kita perlu memperluas ruang yang komunikasi dan mendorong komunikasi yang mendalam (deeper communication) antar anggota keluarga. Menjadikan keluarga sebagai tempat terpercaya bagi seluruh anggotanya untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan tempat paling terpercaya untuk berbagi rahasia.

Keempat, periksa keterbatasan dan kelemahan dalam organisasi dan sistem keluarga. Perbaiki serta kuatkan struktur dan fungsi organisasi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

Kelimat, kelola dan alokasikan sumberdaya secara adil dan cerdas untuk menjamin keberlanjutan sistem keluarga. Tingkatkan kapasitas penyesuaian, adaptasi, fleksibilitas, pengelolaan dan penerimaan terhadap perubahan-perubahan dan ketegangan keluarga agar kehidupan keluarga tetap seimbang dan stabil serta terhindar dari situasi yang menekan (depresi). Khususnya bagi keluarga yang tergolong “fragile” (gampang retak dan pecah) dan “vulnerable-rentan”.

Keenam, bagi keluarga yang tergolong tidak berpola (unpattern) dan situasional, penting untuk memaknai secara positif rutinitas dan kebersamaan, lebih menerima dan memberikan apresiasi antar anggota keluarga, mempererat ikatan dan kelekatan antar anggota keluarga sehingga terbangun spirit “satu kesatuan”.

Ketujuh, lindungi anggota keluarga yang paling rentan, baik fisik maupun psikososialnya dan siapkan dukungan dari dalam sistem maupun luar sistem keluarga. Periksa dan kuatkan aset sosial yang dapat menjadi penolong ketika secara darurat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang rentan,” imbuhnya.

Kedelapan, komunikasikan adanya potensi krisis (akibat wabah), pastikan keluarga merespon secara memadai terhadap perubahan-perubahan yang diperlukan. Selain itu keluarga mendiskusikan alasan dan tujuan, menyiapkan diri dan menyepakati contingency plan (rencana darurat) yang perlu diambil keluarga, baik sebagai satu kesatuan keluarga maupun oleh satu atau sebagian anggiota keluarga.

Foto : freepik.com

Persiapkan Remaja Hadapi Perubahan Diri

Di masa remaja terjadi perubahan periode tumbuh kembang yang demikian pesat. Ya, remaja banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Karena itulah, tak salah bila ada yang menyebut fase remaja merupakan masa yang krusial dan penting juga diperhatikan.

Sebenarnya, sejak anak berusia dua tahun sudah terjadi berbagai perubahan fisik, sehingga pada bagian otak pun sudah mulai melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi masa-masa berikutnya.
 
Dua bagian dari otak, kelenjar hipotalamus dan hipofisis, mulai memproduksi sejumlah hormon, termasuk hormon pemicu hormon seks LH (luteinising hormone) dan FSH (follicle stimulating hormone).
Nah, remaja perempuan dan laki-laki memiliki kedua hormon ini, akan tetapi perubahannya saja yang berbeda.

Berat Badan Bertambah

Di masa pubertas ini, remaja perempuan mulai mengalami pertumbuhan payudara, rambut di sekitar kemaluan, tumbuhnya rambut di sekitar ketiak dan munculnya menstruasi pertama (menarche).
 

Selain itu, pada remaja perempuan terjadi pembesaran ukuran rahim yang tidak terlihat kasatmata. Berbeda dengan pertambahan ukuran panggul dan payudara.

Sementara pada anak lelaki, pubertas ditandai dengan perubahan suara yang membesar, tumbuhnya bulu-bulu pada tubuh, serta pembesaran organ genitalia (penis dan testis).

Nah, pembesaran berbagai organ tubuh tersebut tentunya dapat memengaruhi berat badan si remaja. Berat badan remaja perempuan bisa bertambah 19–22 kg selama masa pubertas. Sementara, remaja pria akan mengalami pertambahan bobot hingga 21–23 kg.
 
”Berat badan sebelum pubertas normalnya bertambah antara 5–6 kg per tahun untuk remaja perempuan dan 2,5–3 kg per tahun untuk remaja pria. Jadi jangan heran jika memasuki usia pubertas, anak jadi terlihat lebih berisi.”

Masalahnya, menjadi gemuk karena membesarkan organ-organ tubuh ini merupakan salah satu perubahan yang tidak disukai bahkan cukup ditakuti para remaja.

Di sisi lain, ada perubahan lain yang dialami remaja karena dipengaruhi hormon yaitu meningkatnya nafsu makan. Hal itu menyebabkan remaja suka makan camilan karena merasakan cepat lapar. Maka jadi suatu dilema. Ketika remaja tak menyukai perubahan tubuhnya yang gemuk tapi selera makan terus meningkat.


Tak hanya itu, bentuk tubuh yang mulai berubah tersebut bahkan bisa memengaruhi psikis. Ya, remaja mengalami perubahan emosi termasukmood yang kerap naik-turun.

Penuhi Kecukupan Gizi


Agar anak tidak kaget akan perubahan dalam tubuhnya saat memasuki masa remaja, sebaiknya orangtua mulai sejak dini memberikan penjelasan mengenai perubahan-perubahan di masa pubertas atau remaja.

Selain itu, peran orangtua pun dibutuhkan dalam mendampingi di saat memasuki masa remaja, terutama dalam menghadapi berbagai perubahan yang akan terjadi. Salah satunya adalah faktor gizi.

Seperti kita tahu, zat-zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Bahkan pemenuhan kebutuhan itu sudah harus dipenuhi sejak janin di kandungan dan terus berlanjut hingga mereka dewasa. 

Nah, orangtua perlu memerhatikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai tahapan usia. Jadi, tidak bisa menyamaratakan makanan pada semua usia. Pasalnya, kebutuhan nutrisi anak di usia pertumbuhan tentu berbeda dengan anak usia sekolah, pra remaja dan remaja karena secara kejiwaan dan hormonal juga berbeda.

Karena itu, makanan yang diberikan hendaknya dibedakan, sesuai dengan kebutuhan proses tumbuh kembangnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa makanan bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi juga memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di masa pra remaja dan remaja, mulai ada perkembangangan fungsi organ reproduksinya yang menghasilkan berbagai hormon untuk mempersiapkan kematangan fungsi reproduksinya. Pengaruh hormonal ini menyebabkan terjadinya tumbuh kembang yang cepat seperti halnya saat masa janin dan bayi. “Boleh dibilang masa prapubertas dan pubertas merupakan masa krusial di mana kecukupan gizinya harus diperhatikan dengan baik.”

Dalam mencukupi kebutuhan gizi, orangtua juga harus mengetahui kebutuhan antara remaja putri dan putra yang ternyata berbeda.

Remaja putri cenderung membutuhkan asupan yang rendah lemak, tinggi zat besi, dan antioksidan (vitamin C dan E). Kekurangan zat besi menyebabkan anemia yang bisa menimbulkan konsekuensi serius di masa datang. Remaja perempuan juga membutuhkan asupan vitamin B kompleks.

Sementara remaja putra membutuhkan asupan tinggi B kompleks dan L-Cartine untuk mendukung pertumbuhan fisiologis. Memang, remaja pria membutuhkan lebih banyak energi untuk beraktivitas dan pembentukan massa otot.

Secara umum, untuk dapat memenuhi asupan zat gizi dari makanan yang dapat mendukung tumbuh kembang optimal masa remaja perlu pola makan yang seimbang dalam jenis bahan makanan bergizi.

”Seimbang dalam jumlah porsi bahan makanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan semua zat gizinya.”

Selain itu, jumlah porsi yang seimbang juga disajikan dalam jadwal makan yang seimbang, yaitu terbagi secara proporsional dalam hidangan makan pagi atau sarapan, makan siang, dan makan malam, serta makanan selingannya.

Jika remaja memiliki pola makan dengan gizi seimbang tersebut,otomatis kebutuhan akan kalori dan zat gizi untuk proses tumbuh kembang yang optimal akan terpenuhi. Karena berbagai jenis bahan makanan yang digunakan dalam jumlah terbagi secara proporsional setiap harinya akan saling melengkapi jenis dan jumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Kelengkapan kebutuhan makanan bisa didapat dengan mengisi piring dengan makanan pokok (sumber kalori), lauk-pauk hewani dan nabati (sumber protein dan lemak), sayur dan buah (sumber vitamin dan mineral serta serat). Sementara susu menjadi pelengkap hidangan agar asupan zat gizi dari makanan dapat disempurnakan untuk mendukung proses tumbuh kembang remaja yang optimal.

Foto: freepik.com

Adakah Dampak Covid-19 pada Kesehatan Mental Anak?

Pandemi wabah virus corona Covid-19 telah menjangkiti puluhan ribu orang di berbagai penjuru dunia dan termasuk juga di negara kita, Indonesia. Tentunya, sudah berbagai upaya dilakukan untuk mencegah dan mengatisipasi penyebaran atau penularan virus ini. Bagi yang sudah berusia dewasa dan para orang tua, tentu akan bisa mendukasi atau mencari informasi sendiri melalui berbagai platform seperti media internet dan televesi.

Lantas bagaimana dengan mereka yang masih anak-anak? Perlukah bagi kita untuk memberikan penjelasan terkait virus corona ini dengan berbagai cara sesuai kemampuan? Hal ini tentu terlihat seperti mudah untuk dilakukan, namun justru perlu pemikiran yang matang dan saat yang tepat supaya justru tidak menimbulkan rasa takut dan kecemasan berlebihan yang juga berimbas pada kesehatan mental anak-anak.

Perhatian kesehatan mental pada saat merebaknya wabah Covid-19 tidak hanya akan sangat penting bagi mereka yang berusia dewasa, namun juga pada anak-anak. Seperti juga pada imbauan karantina mandiri atau physial distancing sebagai salah satu cara untuk meredukasi penyebaran virus corona.

Namun, physical distancing dan juga karantina mandiri bisa memiliki dampak negatif terkait keadaan mental seseorang. Hal ini seperti juga yang dilansir dari American Psychological Association yang menjelaskan jika upaya physical distancing atau karantina mandiri bisa menyebabkan rasa takut, stres, cemas, mudah bosan, mudah marah, frustasi serta stigma di masyarakat.

Bagi anak-anak yang semula bisa bebas bersekolah, bermain dan bekumpul dengan teman-temannya, tentu akan bisa mempegaruhi tingkat emosianalnya pada saat memasuki masa perkembangan. Hal ini tak lepas dengan hubungan sosialnya atau aktivitas yang menjadi berkurang dan terbatas. Imbasnya, anak-anak mudah merajuk, suka mencari perhatian dengan berbagai cara.

Tips Menjaga Kesehatan Metal Anak Pada Saat Pandemi Virus Corona

Dan berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa Anda terapkan sebagai orang tua untuk menjaga kesehatan mental anak pada saat pandemi virus Corona Covid-19 seperti yang sudah dilansir dari laman National Geographic:

1. Orang Tua Tenang, Anak Tenang

Seperti diketahui, perilaku anak pada masa perkembangan akan banyak belajar dengan meniru orang terdekatnya, terutama orang tuanya. Jika para orang tua terlihat tenang, anak-anak juga akan tenang. Namun jika sebaliknya, justru anak-anak juga akan peka dan memiliki rasa cemas dan panik berlebihan.

2. Berikan Jadwal Kegiatan Rutin Yang Fleksibel

Dengan memberi atau menjadwalkan kegiatan yang fleksibel dan mudah dimengerti bagi anak-anak. Hal ini tentu akan bisa membantu memberikan rasa tenang terutama dimasa-masa tidak menentu ini. Semisal bisa dengan sering berolahraga bersama, mengontrol kegiatan belajar atau kegiatan belajar yang diberikan sekolah secara online.

3. Jujur Tapi Jangan Beri Informasi Yang berlebihan

Anak-anak tentu akan bertanya mengapa pada saat ini mereka tidak diperbolehkan masuk sekolah, dilarang bermain diluar rumah secara bebas dan juga di batasi waktu bertemu dengan teman-temannya.

Untuk itu bicarakanlah dengan anak tentang virus Corona dan juga efekknya dengan sewajarnya dan tidak berlebihan. Dan di saat bersamaan, yakinkan pada mereka akan selalku dalam kondisi aman dan terlindungi.

4. Batasi Penggunaan Media Internet Dan Hiburan Elektronik

Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyalahkan efek negatif media sosial, televisi dan juga media internet. Karena saat ini merupakan salah satu media teknologi dan alat komunikasi jarak jauh.

Namun yang perlu di diketahui, jika layar elektronik bisa memiliki efek negatif terhadap kesehatan mental dan fisik anak-anak sehingga bisa menimbulkan rasa cemas dan juga tidak nyaman. Sehingga sebaiknya batasi penggunaan layar elektronik bagi anak-anak dan jangan berikan lebih dari dua jam setiap harinya.

5. Jangan Reaktif Terlalu Berlebihan

Memang tidak bisa dipungkiri jika pandemi virus corona ini bisa menimbulkan rasa takut dan kecemasan berlebihan. Untuk itu sebagai orang tua sebaiknya bisa mengontrol dan memanajemen emosi dengan baik supaya tida menular pada anak-anak.

Karena rasa takut yang berlebihan ini bisa menjadikan imunitas atau daya tahan kekebalan tubuh akan serangan berbagai virus penyakit menjadi lemah sehingga anak bisa menjadi rentan terkena serangan penyakit.

Nah demikian tadi terkait ulasan dampak virus corona Covid-19. Jaga keluarga kita dengan menerapkan pola hidup sehat seperti yang sudah dianjurkan pemerintah dan dinas kesehatan seperti sering-sering cuci tangan dengan sabun, memakai masker dan tidak membatasi aktivitas diluar rumah sebagai langkah untuk mencegah penularan virus Corona Covid-19 agar tidak semakin meluas dan cepat berakhir.

Foto: freepik.com

Virus Covid-19, Bisa Berefek Psikis Pada Remaja?

Dampak dari pandemi virus corona Covid-19 memang memiliki pengaruh yang besar pada kehidupan manusia dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Situasi ini membuat semua orang diminta untuk tidak banyak melakukan aktivitas diluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Langkah ini dianjurkan sebagai salah satu upaya untuk menekan dan mecegah penyebaran virus corona Covid-19 supaya tidak semakin meluas.

Dengan hanya menghabiskan waktu didalam rumah dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Tentu akan bisa mempengaruhi kesehatan mental terutama bagi mereka yang yang masih berusia remaja.

Terlebih banyak juga dari mereka yang memiliki tingkat kecemasan dan rasa takut begitu tinggi akan bahaya virus ini yang sudah menjakiti puluhan ribu orang di berbagai penjuru dunia. Situasi ini bisa membuat seseorang bisa mengalami rasa jenuh dan kemudian menjadi stres akibat pandemi global ini.

Bagi anak yang berusia remaja dan mungkin termasuk juga Anda. Dari yang semula bisa melakukan aktivitas secara normal dan kemudian lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Mungkin Anda anda akan mengalami perubahan fisiologis seperti pada kebiasan rutinitas tidur dan nafsu makan.

Mungkin ada beberapa anak yang sebenarnya merasa lebih nyaman ketika menarik diri dari aktivitas lingkungan sosial atau sudah terbiasi dalam posisi terisolasi dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah saja. Namun, denga meningkatnya rasa kekhawatiran dan juga rasa takut akan pandemi virus corona Covid-19 ini, bisa jadi membuat mereka kemudian akan merasa khawatir bukan hanya saja terkait tentang kesehatan, tapi juga masa depan yang akan terjadi diwaktu yang akan mendatang.

Meski memang efek ini masih termasuk tahap reaksi normal, namun peran para prang tua sangat penting dalam mengamati perilaku dan perubahan sikap anaknya. Jadi, orang tua juga harus bisa untuk membantu menjaga kesehatan mental anak-anaknya. Hal ini penting, untuk mencegah reaksi yang lebih jauh dan tidak diinginkan yang bisa memberikan reaksi efek yang lebih buruk.

Kenapa hal ini perlu ditekankan dengan baik lebih mendesak? Karena rasa khawatir atau cemas yang berlebihan bisa memberikan efek atau reaksi yang dapat merugikan diri sendiri, serangan panik, agresif fisik atau verbal yang bisa saja mengancam keselamatan diri sendiri atau juga orang lain. Dan yang paling ditakutkan tentu dampak seperti pemikiran kematian atau upaya bunuh diri.

Anak remaja dalam kondisi sehat memang memiliki imunitas yang lebih baik dibanding anak-anak atau para orang tua yang berusia lanjut. Akan tetapi menurut hasil analisa para ahli yang sudah dilakukan sejak lama. Mereka menganalisa jika kesepian atau efek dari terisoliasi bisa menyebabkan kecemasan, depresi dan juga demensia pada anak remaja atau orang dewasa.

Dampaknya jelas, bisa membuat respons sistem kekebalan tubuh kemudian menjadi lemah dan juga tingkat obesitas yang semakin tinggi. Selain itu juga akan bisa membuat tekanan darah menjadi tinggi sehingga bisa menimbulkan penyakit jantung serta harapan hidup yang menjadi lebih pendek juga dapat menjadi faktor yang akan memiliki pengaruh.

Oleh karena itu, hubungan sosial memang sangat dibutuhkan dan diperlukan bukan saja untuk memerangi pandemi virus corana Covid-19 ini, akan tetapi juga untuk membangun kembali dan memulihkan diri. Namun karena saat ini memang dianjurkan tidak banyak keluar rumah dan hanya melakukan aktivitas dirumah saja, tidak ada salahnya jika kita selalu untuk mematuhi aturan pemerintah dan dinas kesehatan dalam menerapkan langkah pola hidup sehat sebagai bagian untuk mencegah penularan virus corona Covid-19 agar pandemi global ini segera berakhir.

Foto : freepik.com

4 Kiat Atasi Badmood pada Remaja Pria

“Ih cowok, kok, baperan!” cetus seorang remaja perempuan melihat temannya yang tampak kesal dan bete. Suasana hati sang remaja laki-laki itu sedang tak karuan, layaknya perempuan yang sedang mengalami PMS (Pre Menstrual Syndrome).  Ya, cowok pun sebenarnya bisa bad mood, lo.

Baik remaja perempuan maupun laki-laki, suasana hati mereka mudah bergejolak dan cenderung gampang berubah atau moody. “Bahkan, bisa tiba-tiba bad mood selama beberapa lama.” 

Suasana hati adalah suatu bentuk keadaan emosional. Munculnya berbeda dari emosi karena cenderung tidak spesifik, tidak intens, dan tidak selalu muncul oleh stimulus atau kejadian tertentu.

Nah, pada remaja perempuan, kondisi seperti itu salah satunya dipengaruhi oleh hormonal, yaitu pada masa premenstuasi atau PMS. Alhasil, terkadang muncul celetukan “Lagi PMS ya!” ketika seorang remaja perempuan suasana hatinya ngambekan, bete, atau tampak bad mood.

Jadi yang pasti bahwa baik remaja pria maupun remaja perempuan, mengalami perubahan hormon yang disertai dengan perubahan secara fisik yang memengaruhi kepribadiannya dan cara pandangnya terhadap dirinya.

Oleh karena itu,  jangan heran bila remaja jadi lebih mudah mood swing. Remaja juga berada pada masa untuk menemukan identitas diri sehingga remaja berperilaku coba-coba atau identifikasi. “Bila gagal, remaja akan mengalami krisis identitas, sehingga remaja dapat menunjukkan kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Hal ini dapat membuat remaja bereaksi lebih emosional.”

KENALI 3 PENYEBABNYA

Badmood yang terjadi memang seringkali tidak diketahui penyebab yang pasti. Namun, ada faktor-faktor yang memengaruhi remaja mengalami badmood yaitu:

  1. faktor fisik seperti adanya perubahan hormon dan peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa, yang ditandai dengan terjadinya pubertas (tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologisnya).

Seiring hal tersebut, proses perkembangan psikis juga dimulai dan mereka mulai melepaskan diri dari ikatan dengan orangtuanya. Dengan begitu, ada perubahan-perubahan yang terlihat dalam kepribadian yang terwujud dalam bentuk cara hidup untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat. Perubahan-perubahan seperti ini, terkadang membuat remaja awal mengalami perubahan suasana hati.

2. Faktor keturunan atau genetik (faktor dalam diri), seperti bila salah satu orangtua cenderung “moody” maka anak juga memiliki kecenderungan “moody” ketika dihadapkan oleh stimulus tertentu yang kurang sesuai dengan keinginannya.

3. Faktor lainnya yaitu lingkungan juga dapat memegaruhi, seperti adanya tuntutan dari orangtua untuk berprestasi, masalah dalam menjalin relasi atau pertemanan di lingkungan sosial dapat memengaruhi suasana hati remaja.

WASPADAI EFEKNYA

Lalu, apa dampak atau efek yang bisa terjadi bila remaja pria mengalami “PMS? Respons-respons yang terjadi bila remaja pria badmood bervariasi tergantung bagaimana karakteristik kepribadian (faktor dari dalam diri individu tersebut) dan faktor lingkungan yang juga turut serta memegaruhi.

Misalnya saja, ada remaja yang suka menyendiri dan menghabiskan waktu di dalam rumah, sehingga sosialisasi terhambat. Ada pula yang menjadi sulit tidur, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

Di sisi lain, ada remaja yang memiliki kecenderungan berperilaku agresif, misalnya terjadi kenakalan remaja (bolos sekolah, berbohong, menyontek, bergaul dengan teman-teman yang memberikan pengaruh buruk (penggunaan obat terlarang), sehingga ekstremnya individu menjadi berperilaku amoral dan asosial).

Nah, dampak ekstrem ini biasanya disertai dengan berbagai penyebab baik dari dalam diri maupun lingkungan, sehingga perlu penanganan lebih lanjut oleh para profesional yang ahli di bidangnya.

EMPAT SOLUSI

Ternyata bisa fatal juga ya bila remaja pria yang sedang moody ini tak ditangani dengan baik. Berikut ini beberapa upaya untuk mengatasi remaja badmood adalah:

  1. Menyalurkan hobi, seperti mengikuti aktivitas olahraga yang disuka atau mengikuti kursus musik dapat menjadi salah satu alternatif dalam membantu remaja menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih positif.
  2. Mendengarkan musik yang disukai juga dapat membantu remaja lebih tenang.
  3. Berbagi cerita dengan teman dekat juga bisa dilakukan untuk membantu remaja menyalurkan emosinya dan remaja belajar melihat sudut pandang dari orang lain terhadap apa yang dirasakan serta dipikirannya.
  4. Tak kalah penting, peran orangtua dalam menjalin komunikasi yang terbuka dengan anak remaja (berperan sebagai teman bercerita) juga dapat membantu mengurangi badmood. Namun, bila badmood terasa sangat mengganggu dan memegaruhi aktivitas sehari-hari, maka tindakan berkunjung ke profesional sangat diperlukan.

Foto : freepik.com

Cara Hindari Gangguan Mental Pada Usia Remaja

Melihat perkembangan zaman saat ini akan ada banyak peristiwa hidup yang berdampak kurang baik pada kesehatan mental anak-anak. Usia remaja menjadi momen terbaik untuk mendapatkan berbagai kegiatan untuk menjaga kesehatan mental. Tetapi, sampai detik ini usia remaja masih memperoleh kondisi hidup yang beresiko terhadap perkembangan mentalnya.

Adanya gangguan mental disebabkan banyak hal. Sehingga perlu adanya cara-cara menghindari gangguan mental pada usia remaja. Meskipun terdengar sepele, tetapi ada beberapa dampak buruk ketika seorang remaja mengalami gangguan mental. Kondisi mental tidak stabil bisa dicegah, namun para orang tua dan tenaga pengajar hingga masyarakat pun harus mengetahui seperti apa cara menghindari gangguan mental terutama pada usia remaja.

Cara Hindari Gangguan Mental Usia Remaja

Pada usia remaja terkadang menjadi momen yang riskan mendapat gangguan dari pergaulan ataupun beberapa sikap merugikan diri sendiri. Berawal dari kejadian di sekitar kita biasanya mental seorang anak remaja bisa mengalami guncangan. Untuk itu ada beberapa metode tepat untuk menghindari gangguan mental anak sejak dini seperti berikut ini.

Mengontrol Emosi Lebih Baik

Guncangan mental pada usia remaja bisa disebabkan karena beberapa hal. Dari sinilah anak remaja bisa melakukan kontrol emosi lebih sempurna. Sehingga ada beberapa kontrol emosi yang juga mendatangkan manfaat lebih tepat. Sampai akhirnya kontrol emosi juga terus dikembangkan dengan beberapa cara sederhana dan berguna. Kontrol emosi bisa diajarkan kepada setiap remaja dengan beberapa kegiatan.

Adanya kontrol emosi lebih baik tersebut, potensi dari gangguan mental bisa dihindari. Sehingga tidak ada gangguan mental terlalu besar yang beresiko membuat perubahan mental secara cepat. Kontrol emosi adalah kunci utama kepada para remaja untuk bisa menghindari gangguan mental yang berdampak besar pada akses sosialnya.

Melakukan Kegiatan Olahraga Sesuai Hobi

Olahraga ringan seperti jogging, ataupun melakukan sesuai hobi akan membuahkan manfaat terbaik. Dari sinilah ada opsi tepat untuk mengurangi resiko gangguan mental karena dampaknya cukup riskan terhadap beberapa kondisi hidup seorang anak remaja. Untuk itulah kegiatan olahraga sesuai hobi selalu dilakukan sebagai uapaya mendasar dalam mengubah dan mencegah penurunan mental pada usia remaja.

Kondisi mental stabil hingga memperoleh banyak keuntungan dari olahraga kini terus dikembangkan. Sehingga banyak pakar kesehatan mental berusaha keras dalam memaksimalkan kegiatan olahraga untuk tujuan menjaga kesehatan mental pada anak-anak ataupun usia remaja.

Memperkuat Kegiatan Keagamaan

Lingkungan yang baik dan sehat menjadi sebuah faktor penting untuk mencegah gangguan mental. Dari sinilah standar untuk memperkuat mental bisa bermula dari kegiatan keagamaan yang kuat. Kegiatan bertema agama sudah banyak dilakukan, dan ada banyak jenisnya bisa dihadirkan untuk tujuan baik terhadap mental remaja.

Tidak hanya di lingkungan rumah saja, akan tetapi kegiatan keagamaan juga bisa ditambah dalam ruang lingkup sekolah. Jadi ada banyak manfaat utama ketika remaja masih terus mengikuti semua kegiatan keagamaan dengan tujuan menambah kuat iman dan mengurangi resiko terjadinya gangguan mental.

Keinginan untuk menjaga mental tetap stabil di usia remaja sangatlah perlu. Sebab ada banyak kesempatan untuk menjaga kondisi mental usia remaja yang semuanya berawal dari skala rumah hingga lingkungan dan sekolah. Ada banyak faktor kenapa seorang remaja masih menginginkan standar hidup dan bisa mengembangkan mental lebih sempurna. Sehingga ada beberapa hal penting yang terus disajikan sebagai upaya memperkuat mental remaja terhadap semua kondisi lingkungan. Jadi saat ini kondisi mental remaja masih sangat rentan berubah, sehingga butuh beberapa hal baru agar suasana terus berkembang ke arah positif.

Foto: freepik.com