Latih Anak Mandiri Tanpa Si ‘Mbak’ (1)

Dewasa ini, anak-anak cenderung tergantung pada asisten rumah tangga di rumah. Apa-apa minta dilayani, ini-itu ingin dipenuhi. Nah, ketika sang asisten ini harus pulang ke kampung, entah karena mudik Lebaran atau ada alasan lain misalnya orangtuanya sakit, situasi di rumah jadi kalang-kabut. Apalagi kemudian si ‘mbak’ tak kunjung kembali lagi. karena itulah, orangtua penting untuk melatih anak mandiri dan tak melulu bergantung pada asisten rumah tangga. 

Menggunakan jasa asisten rumah tangga sepertinya sudah menjadi kebutuhan bagi keluarga saat ini. Menariknya, pada masa sekarang, jasa asisten rumah tangga sudah tidak hanya sebatas pada kepentingan rumah tangga, misalnya membersihkan rumah dan perabotannya, tetapi juga termasuk mengasuh anak.

Seiring waktu pula, asisten rumah tangga ini membantu anak hampir di setiap aktivitasnya. Misalnya, menyediakan makanan, mandi, ataupun membereskan keperluan anak. Orangtua terkadang merasa tidak sabar jika harus menunggu anak menyantap makanannya secara mandiri ataupun untuk mandi sendiri. Ayah-ibu justru merasa merasa terbantu saat anak dibantu untuk dimandikan ataupun disuapkan makanan oleh sang asisten rumah tangga. Akhirnya, anak menjadi terbiasa dibantu dalam melakukan segala aktivitas, termasuk untuk kegiatan bina dirinya seperti berpakaian, mandi, dan lainnya.

HAMBAT KEPERCAYAAN DIRI

Nah, secara teori, perilaku anak dapat terbentuk dari kebiasaan yang dijalankannya sehari-hari. Lantaran itu, jika dalam melakukan segala sesuatu, termasuk kegiatan bina diri seperti makan, mandi, berpakaian dan lain-lain selalu dibantu asisten rumah tangga, anak akan merasa terbiasa untuk dibantu.

Berawal dari “terbiasa” selanjutnya akan berkembang menjadi “perlu”. Maksudnya, bila anak selalu dibantu, ia akan merasa menjadi tidak bisa atau tidak mampu untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. “Misalnya saat hendak mandi selalu dibantu mulai dari menyiapkan handuk, peralatan mandi seperti sikat gigi yang udah diolesi pasta gigi, disabuni, dikeramasi sampai badannya dikeringkan oleh handuk. Bahkan, sang asisten rumah tangga menyiapkan dan memilihkan pakaian yang akan dipakai. Sampai kemudian anak pun dipakaikan baju, dibantu mengancingkan baju, hingga menyisirkan rambut sang anak. pokoknya komplet dari A-Z, mulai dari persiapan mandi hingga mandi selesai dan kembali berpakaian, ibaratnya anak tinggal “duduk manis”.

Alhasil, suatu ketika si “mbak” pulang kampung, anak tak mampu untuk mandi sendiri.  Ia pun menolak saat diminta untuk mandi sendiri karena tak terbiasa. Demikian juga untuk hal lainnya. Misalnya, anak merasa tak mampu memakai sepatu sendiri karena selama ini ia dibantu disiapkan kaus kaki dan sepatunya, dibantu mengenakan dan memasang talinya.

Ujung-ujungnya, anak akan merasa enggan untuk mencoba melakukan hal-hal secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Artinya, anak yang terbiasa dibantu oleh asisten rumah tangga dalam aktivitas sehari-harinya, dapat menghambat kemandirian dan rasa percaya diri untuk melakukan segala sesuatunya sendiri.

Selain itu, tanpa disadari beberapa aktivitas sehari-hari sebenarnya dapat membantu mengembangkan kemampuan motorik halus sang anak. Misalnya, mengancing baju ataupun menyimpul tali ikat sepatu. Dengan demikian, jika anak terbiasa dibantu melakukan hal-hal kecil seperti itu, kemampuan motorik halusnya menjadi kurang terasah.

Hypnosis sehari-hari

Hypnosis Sehari-Hari: Orang Tua Dengan Anak

Pengertian Hypnosis seringkali menjadi konotasi yang negatif bagi orang yang belum memahami proses kerjanya. Padahal hypnosis seringkali dilakukan oleh orang tua dalam hubungannya dengan anak-anak namun orangtua tidak menyadari bahwa hal itu adalah hypnosis.

Seorang anak kecil berumur 6 tahun terkejut luar biasa ketika ia menjatuhkan Kristal kesayangan mamanya. Mamanya yang baru saja pulang kerja sampai larut malam melihat hal itu, langsung membentak si anak yang tidak sengaja memecahkan Kristal itu tanpa bertanya apa penyebabnya. Si anakpun tersentak, terdiam di sudut ruangan dengan ketakutan. Anda tahu apa yang ada di pikiran anak itu ?. Ya, anak itu berkata dalam hati “Ternyata mama lebih saying dengan kristalnya daripada aku, buktinya saat mama pulang kerja, mama lebih memperhatikan kristalnya daripada aku.” Itulah yang terjadi saat seorang anak dibentak karena suatu peristiwa. Anak merasa orangtua tidak mencari tahu sebab si anak melakukan itu. Ada makna di balik setiap peristiwa dan perilaku yang dilakukan anak. Mungkin saja, itu adalah bentuk mencari perhatian anak, atau bisa jadi anak sedang melakukan protes.

Ini adalah contoh kecil dari proses hypnosis. Kenapa dikatakan hypnosis ?
Proses hypnosis adalah suatu proses sehari-hari yang selalu kita alami.  Tergantung pada kita sendiri untuk mau tersugesti atau tidak dengan proses hypnosis itu.  Tergantung juga pada nilai dasar dan hasrat atau keinginan kita. Apabila kita tersugesti oleh pengaruh hypnosis tersebut, berarti kita terhypnosis. Dan, apabila pengaruh hypnosis tersebut sesuai dengan nilai dasar maupun keingginan kita atau apabila pengaruh hypnosis  tersebut merupakan ide baru dan kita menghayatinya atau tersugesti, jangan heran bila pengaruh dan sugesti tersebut dapat bertahan lama.  Bahkan, dapat menjadi permanen bila kita tidak mengalami masalah atau “menikmati” pengaruh tersebut. Tetapi sebaliknya, kalau pada dasarnya kita tidak mau tersugesti atau sugesti tersebut berbeda dengan nilai dasar dan keinginan kita, mungkin hal itu tidak akan berefek pada kita dan kalaupun berefek, tidak terlalu lama.

Hypnosis adalah suatu seni, metoda atau teknik komunikasi (verbal dan non-verbal) yang persuasif dan sugestif. Bila orang yang dihypnosis tadi tersugesti, sadar atau tidak, maka dia dikatakan dalam keadaan “terhypnosis”. Peristiwa sehari-hari, sengaja atau tidak, bila kita tersugesti oleh hal tersebut maka dapat dikatakan juga bahwa kita terhypnosis oleh peristiwa tersebut.

Oleh sebab itu, bisa dipahami bahwa seringkali kita menghypnosis orang lain dengan kata-kata, dan jika anak atau orang yang kita ajak komunikasi mempercayai kata-kata yang kita ucapkan, disitulah proses hypnosis terjadi. Jadi hypnosis itu sangat mudah dipelajari karena kita sudah mengalaminya setiap hari.


Apa yang terjadi kalau peristiwa itu kita alami berulang-ulang, seperti pada tulisan sebelumnya, seperti halnya iklan yang sama yang kita lihat, kita dengarkan, atau kita rasakan berulang-ulang? Cepat atau lambat kita akan terpengaruh dan meyakini bahwa hal itu benar atau ‘hal itulah yang sebenarnya’.


Manusia itu unik dan dinamis, tidak setiap peristiwa dimaknai sama. Sebagai contoh, ada anak nilai ulangan dapat 4, lalu gurunya mengatakan ”ah, bodoh amat kamu, masa soal gini aja ga bisa ngerjain sih”, si anak menjadi sedih dan merasa dirinya bodoh. Namun anak lain ketika dikatakan seperti itu, mekanisme pikiran bawah sadarnya adalah semangat, lalu anak itu membuktikan bahwa ia bukanlah anak  seperti yang dikatakan gurunya.


Bagaimana jika anak tersugesti sehingga menjadi takut luar biasa dengan bentakan orang tua yang dilakukan berulang-ulang? Mungkin bagi anak tersebut, orang tuanya menjadi orang yang menakutkan, sehingga lain kali jika dia berbuat suatu hal yang “dia anggap salah” atau menemukan hal “yang dia anggap sulit”, dia tidak akan membicarakannya dengan orang tuanya.

Contoh lainnya adalah orang tua yang selalu melarang anaknya bergerak sejak kecil. Si anak 2 tahun sedang belajar naik tangga, lalu orang tuanya berteriak ”Awas, jatuuuhhh!!” dan anak itupun kaget . Anak itu terus mencoba dan orangtuanya mengulangi teriakannya dan mengambil anak yang sedang belajar naik tangga. Si anak akan belajar bahwa naik tangga itu berbahaya. Jika dilakukan berulang kali maka dapat dipastikan si anak akan takut mencoba untuk naik tangga karena takut jatuh atau takut akan teriakan orangtuanya. Ini juga proses hypnosis. Keadaan di mana sang anak tersugesti dengan peristiwa tersebut dapat dikategorikan sebagai peristiwa hypnosis orang tua kepada anak.


Dapat dibayangkan, sebagai orang tua tentunya setiap hari kita selalu berhubungan dengan anak kita baik melalui verbal dan non verbal. (Catatan: Verbal melalui berbicara, Non-verbal melalui perilaku atau aktivitas yang dilihat). Percaya atau tidak, setiap hari kita sebagai orang tua selalu menghypnosis anak kita sendiri. Karena seringnya, hal itu dapat menjadi suatu nilai dasar baru bagi sang anak. Seperti halnya contoh yang sering kita temui, dimana anak menjadi konsumtif karena tersugesti oleh iklan produk yang sama yang dimunculkan berkali-kali di layar televisi. Dari berbagai sumber manapun selalu dikatakan bahwa sebagai orang tua, kita harus berhati-hati dengan perilaku kita terhadap anak kita. Perilaku kita menjadi contoh bagi anak kita.  Anak kita terinduksi oleh perilaku, tindak tanduk dan bagaimana cara komunikasi kita dengan mereka.


Anak kecil, pada dasarnya jiwanya bersih dan bagaikan kertas putih. Lingkungan di sekitarnyalah yang membentuknya menjadi individu tertentu. Bagi kita sendiri, nilai dasar kita saat ini adalah hasil bentukan dan pengaruh dari lingkungan di sekitar kita, dimana lingkungan terdekat kita adalah keluarga kita sendiri.

Erik Erikson (bukan Milton H. Erickson), yang mengklasifikasikan beberapa tahap perilaku dan karakter anak, mengatakan bahwa pada umur-umur di bawah sepuluh tahun atau sebelum remaja, adalah perioda anak bereksplorasi dan mereka masih belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah (jika tidak diberikan pemahaman), mereka lebih mengerti suatu pola logika “karena” dibandingkan “kalau”. Misalkan pada peristiwa di atas, mungkin sang anak dapat menyimpulkan, “Saya tidak hati-hati karena saya bodoh” atau “Saya bodoh karena saya tidak hati-hati”, bukannya “Saya bodoh kalau tidak hati-hati” atau “Kalau saya hati-hati, saya tidak bodoh”. Sangat tipis sekali perbedaannya. Yang tertangkap pada sang anak pada saat itu adalah “saya bodoh”. Dan jangan heran pada setiap kesempatan berikutnya sang anak akan selalu merasa bodoh, sehingga jika diberikan suatu tantangan, anak tersebut tidak berani bertindak karena merasa bodoh dan merasa tidak mungkin melakukan suatu pekerjaan.


Seorang anak kecil, karena pikirannya masih murni, sangat sugestif terhadap suatu ide baru. “Saya bodoh”, “Saya tidak hati-hati”, merupakan suatu ide baru bagi sang anak untuk menerapkannya. Sangat disayangkan, bila kita sebagai orang tua tidak menyadari hal ini. Dari beberapa kasus yang ada, masalah percaya diri biasanya diakibatkan dari masa kecil. 


Lalu apa yang salah? Maksud orang tua memang benar, tetapi biasanya, cara penyampaiannya yang kurang tepat, sehingga anak salah menangkap apa yang dimaksud orang tuanya. Memang sebagai orang tua, biasanya, karena kita sedang lelah, lalu mengambil jalan pintas saja, agar sang anak tidak bertindak hal yang berbahaya tanpa memberi pengertian atau pemahaman yang benar.


Kita selalu berasumsi bahwa setiap orang selalu mengerti maksud kita. Padahal, apa yang anda katakan tadi mungkin tidak tepat dengan keinginan orang tadi. Hal ini adalah kejadian sehari-hari. Banyak sekali kesalah pahaman yang berbuntut pertikaian yang disebabkan oleh masalah komunikasi sederhana seperti ini. Seperti halnya dalam suatu proses hypnosis, komunikasi sangat penting. Sebaliknya, apabila kita dapat berkomunikasi dengan baik maka kesalah pahaman tidak akan terjadi.


Jadi apa yang kita sampaikan belum tentu dapat ditangkap dengan mudah oleh orang lain, apalagi oleh seorang anak kecil. Suatu kata “tidak”, dapat menghasilkan puluhan arti tergantung pada cara penyampaian, intonasi, situasi dan juga kondisi dan keadaan si penerima pesan.

Dengan begitu kita harus bertindak atas dasar perasaan seorang anak, bukan atas dasar perasaan kita sebagai orangtua. Karena apa yang kita anggap baik belum tentu seperti yang diinginkan oleh anak kita secara pasti. Dengan kata lain, kita bertindak atas dasar persepsi kita sendiri, bukan dari persepsi seorang anak.


Sekali lagi, proses hypnosis adalah suatu seni,  metoda, dan teknik berkomunikasi yang sangat persuasif dan sugestif, yang tujuannya adalah apa yang menjadi maksud kita dapat dipahami dengan mudah oleh lawan bicara kita. Masalah dia akan melaksanakan apa yang kita maksudkan atau tidak, tergantung pada nilai dasar, keinginan dan motivasinya.

Jika ditinjau dari istilah Hypnoparenting, Hypnoparenting berasal dari kata hypnosis dan parenting. Hypnosis berarti upaya mengoptimalkan pemberdayaan energi jiwa bawah sadar (dalam hal ini untuk berkomunikasi) dengan mengistirahatkan energi jiwa sadar pada anak (komunikasi mental) maupun pada pembinanya (komunikasi Parenting adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan mendidik dan mendukung mendukung fisik, emosi, sosial, spiritual dan perkembangan intelektual anak dari bayi sampai dewasa.

astral). Parenting berarti segala sesuatu yang berurusan dengan tugas-tugas orangtua dalam mendidik, membina, dan membesarkan anak. Pembinaan anak ini terdiri dari tiga bidang, yakni fisik, mental, dan spiritual sejak merencakan kehamilan sampai masa remaja oleh orang-orang di sekitarnya (orang tua, wali, guru, dsb).

Dengan demikian, hypnoparenting dapat diartikan sebagai pembinaan anak dengan memperhatikan pengaruh hypnosis untuk selalu menanamkan rekaman/sugesti positif pada jiwa bawah sadar anak. Pikiran anak-anak yang cenderung belum mampu berpikir secara logis, cenderung memberikan respon terhadap stimulus yang diterima, tanpa pertimbangan yang terlalu jauh. Kata-kata, tindakan dan sikap orang tua 95% dan masuk dengan mudahnya ke pikiran bawah sadar anak-anak seolah-olah tanpa disaring.Sedangkan parenting adalah segala sesuatu yang berurusan dengan tugas-tugas orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak. Tugas kita sebagai orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak sebenarnya sangat berat dan penuh liku-liku tantangan. Sayangnya kita hanya berbekal pengalaman sebagai seorang anak yang dulunya dididik dan dibesarkan oleh orangtua kita. Sebagian besar pola asuh dan pola didik orangtua kepada kita akhirnya mewarnai tugas kita sebagai orangtua. Kita memperlakukan anak kita sebagaimana orangtua memperlakukan kita dulunya. Seharusnya kita harus memperlakukan anak sebagaimana kita dulu ingin diperlakukan oleh orangtua kita.

Oleh karena itu dengan HypnoParenting kita berusaha mempetakan dan membuat sistemasi atas segala hal yang berhubungan dengan tugas kita sebagai orangtua ditinjau dari sudut pandang cara kerja pikiran dan pengaruhnya terhadap masa depan seorang anak. Mengapa kita meninjaunya dari sudut pandang cara kerja pikiran? Karena segala sesuatu berakar dari pikiran. Manusia, anak-anak sampai dewasa, melakukan segala sesuatu karena punya pikiran. Segala hal tentang teori pertumbuhan dan perkembangan anak tak akan berhasil jika kita gagal memahami cara kerja pikiran.

Sekarang kembali kepada diri kita, cobalah mulai diperhatikan dan dirasakan, bagaimana selama ini cara kita menyampaikan pesan atau berkomunikasi dengan anak kita?  Sadarilah, proses komunikasi yang kita lakukan sehari-hari dengan anak kita adalah juga merupakan suatu proses hypnosis, karena kita menanamkan sugesti atau ide baru yang selama ini tidak ada dalam kamus mereka sebelumnya. Jika anak “terhypnosis” dengan pesan yang negatif, jangan heran bahwa anak tadi bisa memiliki ide dan mendalami pesan negatif tadi dan menjadi nilai dasar yang akan terbawa terus sampai dewasa. Maka berhati-hatilah, mari bersama-sama melakukan yang terbaik, bahkan untuk hal yang dianggap kecilpun (celetukan negatif) akan berpengaruh pada jiwa anak yang sugestif. Berusahalah untuk selalu memberikan sugesti positif, agar mereka menjadi anak yang bermental kuat, berpikiran positif, bersemangat dan tidak takut tantangan.

Seluk Beluk Gadget dan perkembangan anak

-Interview koran jakarta- (dokumen)

  • Melihat banyaknya anak-anak yang memakai gadget, sebenarnya pada usia berapakah lazimnya anak-anak dikenalkan dengan gadget atau mempunyai gadget sendiri seperti handphone , laptop atau ipad misalnya?

Menurut para pakar pendidikan, sebaiknya anak dikenalkan pada fungsi dan cara menggunakan gadget saat berusia 6 tahun. Karena di usia tersebut perkembangan otak anak meningkat hingga 95% dari otak orang dewasa. Sebab, jika mengenalkan gadget di bawah usia 6 tahun,  anak lebih banyak untuk bermain karena anak tertarik dengan visual (gambar) dan suara yang beragam yang terdapat di gadget. Jadi penggunaan gadget harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Namun menurut sebuah studi pada 2004 yang dipublikasikan jurnal Pediatrics anak-anak yang menonton televisi saat usia mereka 1 sampai 3 tahun mengalami penurunan perhatian saat usia mereka 7 tahun.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tidak belajar sesuatu yang substansial, seperti bahasa, dari layar seperti televisi, tablet, atau personal komputer sampai usia mereka 30 bulan. The American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua harus menunda pemberian gadget seperti tablet dan komputar sampai usia mereka 2 tahun.

Saya memiliki pendapat yang sama, karena mata anak baru berkembang dan belum terlalu stabil untuk memperhatikan layar gadget yang bergerak dengan cepat. Namun di zaman generasi digital ini, memang penting untuk mengenalkan gadget pada anak di usia dini. Karena anak menjadi lebih terstimulasi terhadap visualisasi dan pendengaran yang lebih beragam. Namun para ahli  jika ingin memperkenalkan gagdet pada bayi atau anak, sebaiknya mengenalkan fungsi dan operasi gadget pada anaknya saat berusia 6 tahun. Karena perkembangan anatomi otak anak sudah meningkat sebesar 95 % otak dewasa.

  • Apa dampak buruk dari hal ini baik secara kesehatan maupun psikologis terhadap si anak?

Sekarang kita hidup di era cyber atau era digital yang unik, aneh, dan penuh tantangan. Berbagai peralatan super canggih, khususnya handphone, komputer, game (gadget) secara tidak langsung telah merubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Akibat dari penggunaan gadget-gadget tersebut tidaklah melulu positif, tergantung siapa dan bagaimana menggunakannya. Karena itulah, dibutuhkan upaya prefentif agar “generasi Z” yang sedang tumbuh dapat terkontrol dalam menggunaan gadget.


Generasi Z merupakan generasi terkini yang lahir sesudah tahun 1994 dan sebelum tahun 2004. Apabila kita amati, anak-anak generasi Z ini menunjukkan ciri-ciri di antaranya memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi sehingga mereka mendapatkan kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Secara umum, generasi Z ini merupakan generasi yang banyak mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi, bermain, dan bersosialisasi.


Generasi Z, yang sekarang sudah berusia pra-remaja, dalam banyak hal berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni generasi Baby Boomers (lahir 1946-1964), generasi X (lahir 1965-1980) dan Y (lahir 1981-1995). Salah satu perbedaan yang mencolok adalah ketertarikan mereka kepada perangkat gadget di saat usia mereka masih sangat muda.

Memang ada dampak negatifnya, namun  dampak negatifnya juga perlu diwaspadai karena cukup mengancam anak-anak di generasi digital ini, apalagi jika mereka sudah ketergantungan berlebihan terhadap peralatan canggih, yaitu :

Secara akademik :

  1. cenderung menginginkan hasil yang serba cepat, serba-instan, dan serba-mudah,
  2. tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.
  3. Kecerdasan Intelektual (IQ) mereka mungkin akan berkembang baik, tetapi kecerdasan emosional intelligence mereka jadi tumpul.
  4. Penelitian dari American Academic of Child Psychology juga memaparkan kemungkinan buruknya smartphone, yakni hilangnya kreativitas di usia muda karena dalam pengerjaan tugas-tugas yang sifatnya akademis, anak-anak cenderung mengandalkan mesin pencari dalam internet yang memungkinkan mereka melakukan copy-paste.
  5. Anak menjadi malas, karena semua informasi tersedia di dalam sebuah genggaman tangan, jadi kecenderungan dan kesempatan anak untuk berusaha mencari dari toko buku, majalah dan lain-lain menjadi hilang
  6. Dengan memiliki gadget baik itu sarana telekomunikasi seperti HP maupun sarana hiburan seperti tablet, maka tak dapat dipungkiri jika nak dapat mengalami penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan gadget-nya.
  7. Fakta menunjukkan bahwa ketika belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk melakukan analisis terhadap permasalahan atau pelajaran yang dihadapi. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir itu menjadi kurang atau bahkan tidak dipedulikan.
  8. Gagdet juga dapat menjadikan anak enggan menulis dan membaca. karena gadget dapat memudahkan untuk menulis dan membaca, ini dapat sangat memengaruhi keterampilan menulis anak. Bukan hanya itu, perangkat gadget pun tampak lebih menarik dan menggoda karena memiliki tampilan visual yang fantastis, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan. Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca buku. Padahal, membaca buku tanpa visualisasi dapat membantu perkembangan imajinasi anak.

Secara sosial :

  1. anak cenderung berkurang dalam komunikasi secara verbal,
  2. cenderung bersikap egosentris dan individualis,
  3. anak tampak begitu lekat dengan smartphone-nya. Ia baru merasa aman dan eksis bila selalu terhubung dengan orang lain. Kalau tidak, ia khawatir dirinya dikucilkan, sehingga anak selalu membawa kemanapun smartphone-nya. Ia lebih mementingkan berkomunikasi dengan orang-orang “nun jauh” di sana ketimbang dengan orang-orang di sekelilingnya.
  4. Anak menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat pemahaman melalui games atau tontonan.
  5. anak menjadi kurang sensitif terhadap orang lain karena setiap hari anak-anak tersebut hanya berhubungan dengan benda mati.
  6. Anak-anak pun kurang bisa mengekspresikan dirinya karena dia jarang melakukan interaksi sosial dengan anak-anak lainnya.

Gadget dan perkembangan otak anak :

  1. Menurut referensi penelitian, memberi anak BlackBerry pada usia di bawah 20 tahun akan merusak bagian otak PFC (preFrontalCortecs) karena saat ini, smartphone seperti BlackBerry memang sudah menjadi “mainan” anak-anak SD. Otak depan pada anak sebetulnya belum berkembang baik. Bagian otak depan ini akan matang pada usia 25 tahun. Otak depan merupakan pusat yang memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu. Sementara reseptornya yang mendukung otak depan adalah otak belakang, yang menghasilkan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan nyaman atau rileks pada seseorang.
  2. Sistem saraf pusat masih tumbuh, harus mendapat rangsangan yang sesuai dengan tahapan perkembangan dirinya dari kehidupan sehari-hari, namun jika sejak masih sangat muda, ketika bersentuhan dengan teknologi modern, otomatis sistem rangsangan di sistem saraf pusat mendapatkan stimulus yang berbeda dari kehidupan nyata, mereka baru belajar mengenali mana yang nyata dan mana imajinasi. Karena terbiasa mendapatkan stimulasi melalui layar tablet atau telepon pintar, ketika “keluar” dari gadget tersebut, hidup nyatanya terasa sangat lamban dan membosankan, tidak seperti dunia maya. Semua terasa seperti slow motion dan tidak sensasional buat anak.
  3. Teknologi yang memudahkan dan mendekatkan itu membuat anak menjadi tidak tangguh ketika harus berhadapan dengan realita. Memori otot (muscle memory) jadi enggak lentur, tidak secanggih orang yang biasa hidup di alam. Itu akan mempengaruh banyak keterampilan lain. Memori otot adalah jenis lain ingatan manusia yang ada di jaringan otot, dibentuk oleh myelin. Semakin intens seseorang terlibat dalam tindakan dan latihan, kandungan myelin semakin tebal, dan semakin baik dia melakukan tindakan tersebut.

Terhadap kesehatan anak :

  1. anak menjadi lupa makan dan minum
  2. gadget dan alat elektronik memiliki cara kerja yaitu memancarkan sinar biru dalam jangka panjang pada retina mata. Mata anak yang masih sangat sensitive bias jadi terluka yang dapat menyebabkan gangguan mata yaitu cepat menurunnya daya penglihatan anak. Menurut penelitian, akibat perkembangan teknologi, diperkirakan anak-anak yang memakai kacamata akan mengalami kenaikan 20 persen setiap tahunnya. Mata anak-anak yang masih berkembang sampai sekitar usia 15-16 tahun, bila terus menerus dipakai (berkontraksi) tanpa mengenal lelah atau beristirahat (seperti menonton televisi atau ’memelototi’ gadget), dapat memberi pengaruh sebagai berikut:
  3. Otot-otot mata menjadi cepat lelah, dan membuat penglihatan menjadi buram. 
  4. Otot mata anak yang dipakai untuk bermain dikondisikan dalam kondisi konstraksi secara terus menerus dan bola mata menjadi lebih lentur/memanjang yang menyebabkan anak rentan menderita rabun jauh (miopia). 
  5. Frekuensi berkedip akan berkurang, sehingga mereka akan sering mengeluh matanya perih/nyeri, atau mengalami mata kering.

Kondisi di atas ternyata masih akan memberi dampak jangka panjang pada anak. Misalnya, karena mata lelah dan penglihatan menjadi buram, anak akan sering mengeluh pusing saat harus melihat jauh. Pada akhirnya, ia akan kesulitan berkonsentrasi, sehingga prestasi belajarnya menurun atau bahkan malas sekolah.

  • Satu hal yang tak kalah penting adalah, sinar biru yang dipancarkan oleh layar elektronik (gadget dan televisi) akan memengaruhi retina pada jangka panjang. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang cahaya 400-500 nm yang dapat berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan menimbulkan luka fotokimia pada retina anak. Padahal, retina anak-anak masih sangat sensitif terhadap sinar biru. Bila dibiarkan, kerusakan retina ini akan memengaruhi penglihatan sentral dan ketajaman mata pun jadi berkurang lebih cepat. Lensa anak masih peka dan belum dapat menyaring bahaya sinar biru. Karena itulah risiko terbesar kerusakan akibat sinar biru pada usia dini.

Terhadap perkembangan dan kejiwaan :

  1. 1.      Fasilitas-fasilitas ini, di satu sisi menyimpan potensi menyebarkan aneka informasi yang belum layak diakses oleh anak. Misalnya saja, anak mencari situs-situs dewasa lewat Google atau Yahoo!. Bila sejak dini anak sudah terpapar oleh pornografi, rekamannya akan sulit dihapus dari ingatan dan pikiran untuk jangka waktu yang lama.
  2. Atau setiap hari sibuk berjejaring sosial yang membuatnya lupa keluarga dan lupa belajar. Belum lagi di jejaring sosial ini sudah banyak terdengar anak-anak menjadi korban pelecehan orang dewasa, baik secara emosional maupun fisik (anak dibawa kabur oleh kenalannya di dunia maya).
  3. Menghambat ketrampilan motorik dan halus anak (untuk anak 0-12 tahun)
  4. Isi dari games di gadget ataupun TV yang sering menayangkan adegan yang penuh kekerasan. Tanpa disadari tayangan adegan kekerasan di TV dan game dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan jiwa anak. Anak-anak yang selalu melihat tontonan adegan kekerasan dan melakukan permainan dengan adegan kekerasan akan terpicu untuk melakukan perilaku yang agresif. Yang lebih berbahaya lagi, anak-anak bisa meniru berbagai adegan kekerasan yang ada di televisi dan game, dan segala persoalan dapat diselesaikan dengan cara kekerasan.
  5. Anak yang kecanduan gadget akan menjadi murung atau uring-uringan ketika fasilitaas tersebut dijauhkan darinya. Fungsi pikirnya terganggu, begitupun dengan fungsi emosi dan sosialnya.
  6. Secara psikologis, ada beberapa gangguan yang terkait dengan penggunaan gadget, yang termasuk dalam gangguan perilaku. Beberapa gangguan itu misalnya dependensi dan obsesi kompulsif, ketergantungan yang berlebihan dengan gadget-nya; perasaan panik yang luar biasa ketika tidak membawa gadget atau hilang; voyeurism atau kecenderungan “mengintip” orang melalui aktivitasnya di media sosial; paranoia atau ketakutan yang berlebihan karena merasa dikuntit orang, walaupun di dunia maya; juga gangguan narsistik yang berlebihan.

3.  Apa manfaatnya ?

Adapun manfaatnya adalah :

  1. melatih konsentrasi anak
  2. menambah pengetahuan anak melalui tayangan pendidikan dan aplikasi pengetahuan lainnya
  3. sebagai alat untuk refreshing dan rekreasi (asal penggunaan tepat waktu dan terbatas, tidak menyebabkan ketergantungan)
  4. meningkatkan kemampuan belajar anak-anak. Iya jika sesuai dengan usia (tidak pada balita). Namun aplikasi itu hanya terbatas sebagai alat mengajar karena aplikasi tersebut biasanya hanya fokus pada satu jenis pembelajaran. Aplikasi itu tidak mengajarkan keterampilan dan latihan. Mereka hanya mengajarkan anak-anak untuk benar mengidentifikasi huruf, benda, warna dan lain sebagainya.
  5. Anak menjadi lebih terstimulasi terhadap visualisasi dan pendengaran yang lebih beragam.
  6. Dunia bagai dalam genggaman tangan. Selain bertelepon, anak-anak bisa mencari apa pun dengan bantuan situs pencari seperti Google atau Yahoo!. Anak juga dimungkinkan selalu terhubung dengan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, Kaskus, dan sebagainya.
  7. memberikan pengetahuan baru.

4. Apa alasan orang tua biasanya yang mengenalkan gadget terlalu dini kepada anak mereka?

Mengenalkan gadget sejak dini pada anak sebenarnya tidak ada yang salah, tetapi banyak dari orangtua yang tidak memahami benar penggunaan gadget yang baik untuk anak. Sehingga gadget tidak hanya untuk membuat anak asyik bermain dan menjadi tenang. Karena sebenarnya banyak manfaat yang mengandung unsur pendidikan yang bisa diperoleh dari bermain smartphone, laptop dan komputer tablet untuk anak, misalnya memberikan pengetahuan baru. Karena itu sebelum kamu membelikan gadget, cari tahu tujuan yang ingin dicapai. Jangan menjadikan kecanggihan teknologi untuk membatasi aktvitas anak. Karena meski gadget bisa menjadi mainan yang menarik, anak harus tetap bergerak aktif.

Terkadang orang tua membelikan gadget pada anak bayi atau anak kecil, adalah supaya mereka tenang dan tidak terganggu namun mereka tidak menyadari si bayi itu asik dengan gadgetnya (dunianya sendirI) sehingga mereka tidak berespon ketika dipanggil. Coba Anda bayangkan jika sejak bayi sudah difasilitasi dengan gadget,  sementara si anak sedang mengembangkan kemampuan visualnya yang masih sangat terbatas, tetapi dengan games yang ada di gadget walaupun games edukasi itu membuat anak terganggu secara penglihatan, belum lagi efek radiasi yang dipancarkan gadget.  Sementara banyak juga orang tua yang membiarkan gadgetnya ada di kamar sampai si anak kecapekan main gadget dan tertidur, otak anak juga semakin dirusak dengan adanya gelombang radiasi yang dipancarkan oleh gadget-gadget itu.

Penggunaan gadget harus disesuaikan dengan kebutuhan anak sehingga kontrol orang tua sangat mutlak diperlukan untuk mengawasi penggunaannya agar tidak melampaui batas. Handphone misalnya, diberikan untuk memberikan kontrol kepada anak supaya dapat terus berkomunikasi, lalu tekankan kepada si anak untuk tetap berkomunikasi secara normal ketika orang tua ada di rumah, dan ‘no gadget’ ketika semua anggota keluarga ada di rumah. Ini untuk melatih anak bahwa hubungan sosial sangatlah penting dan tetap harus terjaga. Sementara dengan adanya tugas di sekolah, maka anak juga dibekali dengan laptop, namun tetap diawasi penggunaannya, sebaiknya tetap ajarkan anak untuk mencarinya secara manual terlebih dahulu, misalnya cari di took buku, majalah dan sumber lainnya. Jika sulit, baru beralih ke laptop dan internet jadi anak terbiasa untuk melatih diri berjuang mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Hal yang perlu dilakukan sebelum pemberian gadget adalah :


•  Pikirkan faktor keamanan. Gadget yang canggih dengan harga mahal yang dibawa anak  hanya akan menjadikan orang yang memiliki niat jahat tergerak untuk melakukan kejahatan, hingga akhirnya anak anda menjadi korban kejahatan pencurian gadget yang dimilikinya. Karena itu, sebaiknya pilihkan gadget yang tidak terlalu mahal untuk anak. Cukup belikan yang sudah memadai fungsi dan manfaat untuk anak seusianya.

Pikirkan faktor kemanfaatan

Anak biasanya selalu menginginkan apa yang dimiliki temannya, tanpa memikirkan apakah dia membutuhkannya atau tidak. Karena itu, saat anak anda meminta sebuah gadget, tanyakan tujuan dan manfaat apa yang diinginkannya agar anda bisa memilihkan gadget mana yang bisa sesuai dengan manfaat yang diharapkannya.


Untuk Pikirkan faktor kepantasan

hal ini, sebaiknya Anda lihat lingkungan sekitar anda. Apakah type gadget dengan fitur canggih yang harganya mahal cocok untuk digunakan di lingkungan anda. Karena tidak pantas rasanya kalau di tempat kumuh dan padat penduduk, anak anda bermain main gadget yang harganya sangat mahal. Anak yang menjalani aktifitas sekolah, sebaiknya berikan gadget dengan fasilitas secukupnya, daripada berlebihan.

Perhatikan pengaruhnya terhadap mental anak

Saat membelikan gadget, pikirkan juga efeknya terhadap mental anak anda. Jangan sampai anak anda terlalu bergantung kepada gadgetnya dan melupakan potensi yang ada dalam dirinya. Misalkan anda membelikan kamus elektronik, jangan biarkan anak anda terlalu bergantung padanya, sehingga lupa untuk menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya sendiri. Hal ini hanya akan membuatnya semakin terlena serta potensi dirinya semakin ketergantungan. Jadikan gadget tersebut hanya sebagai media pembantu dari segala masalah dan kesulitan yang dihadapinya.


Perhatikan efek perkembangan

Penggunaan gadget yang baik adalah bisa membagi waktunya dengan aktifitas lain selain bermain gadget. Jangan sampai dengan adanya gadget, anak anda lupa untuk berinteraksi dengan teman temannya, bermain layaknya anak kecil. Atur waktu penggunaannya, kapan anak bisa bermain gadget dan kapan anak harus berinteraksi dengan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri. Agar perkembangan dirinya seiring dengan perkembangan sosialnya.

5. Apa yang harus dilakukan orang tua jika memberi anaknya gadget, pengawasan seperti apa yang harusnya dilakukan?

  1. karena jaman sekarang jaman digital, maka dekati anak secara digital, orang tua tidak boleh ‘gaptek’ (gagap teknologi), orang tua perlu belajar tentang semua situs, semua gadget, bahkan bagaimana menjadi hacker (bila memungkinkan) jika sudah ada tanda gawat darurat, perlu belajar games yang diminati anak. Dengan cara ini, orangtuapun menjadi setara dengan si anak dan nyambung dengan kemampuan si anak. Tidak semua permainan atau games baik dan aman untuk anak. Ada banyak unsur negatif seperti kekerasan, perilaku atau kata-kata kasar, dan lainya. Untuk itu, alangkah baik bila orangtua mencoba dan melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memberikan izin kepada anak untuk bermain.
  2. Orang tua dapat menggunakan metode hypnotherapy saat anak bermain gadget, misalnya saat bermain gadget, orang tua memberikan sugesti kepada anak, atau melakukan copy paste pada modal semangat dan konsentrasi saat mereka main gadget ke semangat belajarnya
  3. memberikan keseimbangan kepada anak. Menurut para ahli aneka gadget hanya akan membuat salah satu sisi otak manusia yang terstimulasi. Padahal seharusnya kedua belahan otak, baik belahan otak kanan maupun kiri distimulasi secara seimbang. Cara menyeimbangkannya antara lain dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan seni, seperti melukis, menari, musik dan lain sebagainya. Ketika si anak menyalurkan bakat dan minatnya, kecenderungan mereka akan menghabiskan seluruh waktunya untuk mengembangkan bakatnya dan ini akan membuat anak mengurangi waktu kebersamaan dengan gadget mereka
  4. Menumbuhkan kebersamaan si anak dalam keluarga. Kita tidak boleh membiarkan anak berlarut-larut dalam kesendirian dan terlalu akrab dengan gadget-nya. Oleh karena itu orang tua harus menciptakan suasana yang hangat dalam keluarga sehingga anak menjadi pribadi yang peduli, dan senang bersosialisasi dengan orang lain. Jika tangki cinta di rumah kosong, maka anak akan lari pada gadget yang pastinya dengan gadget akan memberikan semua yang diinginkan anak dan memberikan kepuasan pada anak. Sebisa mungkin, dampingi anak ketika ber-gadget, sehingga orangtua dapat mengawasi dan memberikan penjelasan bila ada hal-hal yang tidak dipahami oleh anak.
  5. Batasi waktu anak Anda bermain laptop atau gadget setiap harinya. Para ahli menyarankan untuk meluangkan tidak lebih dari dua jam bermain anak meliputi waktu menonton tv, bermain komputer, bermain video game¸ mendengarkan mp3, maupun gadget lainnya. Ini harus disepakati SEBELUM pemberian gadget, kalau perlu beli gadget dengan uang sendiri sehingga anak akan belajar untuk berusaha mendapatkan apa yang diinginkan. Namun dengan kesepakatan tentang jam pemakaian, cara, waktu, berapa lama waktu main dalam sehari, hukuman jika melanggar, dan lain sebagainya, karena jika setelah anak memakai gadget dan baru dibuat kesepakatan, itu sudah terlambat. Jangan mengambil paksa laptop atau komputer tabletnya saat anak asyik bermain. Ini akan membuat anak marah. Lebih baik, ajak anak bicara dan jelaskan tentang dampak negatif jika anak terlalu lama main gadget.
  6. Ajari etika anak bermain gadget. Misal, dia terlibat dalam akun social media seperti facebook, twitter, dan lain-lain, jadilah teman mereka. Etika lainnya seperti : silent jika sedang kumpul dengan keluarga, jika sedang bermain lalu diajak bicara, hormati orang di depan kita yang sedang berbicara. Sampaikan bahwa gadget bermanfaat untuk mempermudah kerja dan lebih praktis. Saat sedang bepergian, misalnya, kita bisa membaca berita lewat tablet. Untuk itu, pemanfaatnya pun harus bijaksana. Jangan akhirnya, waktu kita banyak tersita oleh gadget daripada interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar.
  7. Tempatkan gadget di luar kamar tidur. Sebaiknya tempatkan perangkat elektronik di ruang keluarga. Sehingga orangtua atau orang dewasa dapat mengawasi permainan yang dipilih prasekolah serta durasi waktu bermainnya. Gadget yang ada di kamar tidur, apalagi anak bermain sampai ketiduran dan sampai keesokan harinya masih menyala, akan menimbulkan efek radiasi yang membuat otak anak terganggu
  8. Jadilah teladan terdepan dalam memanfaatkan gadget secara bijak. Jangan sampai orangtua melarang anak berlama-lama bermain game, tapi orangtua sendiri asyik menggunakan ponsel pintar. Kalau bisa, matikan smartphone saat berada di rumah, jalin interaksi dengan anak dan keluarga di rumah.

6. Apakah orang tua perlu berkonsultasi dengan ahli, psikolog sebelum memberikan gadget pada anak-anak mereka ?

Jika orang tua sudah memahami dengan jelas aturan mainnya, dapat dilakukan sendiri namun jika hubungan dan komunikasi anak dan orang tua sudah rusak, maka perlu bantuan pihak ketiga untuk membicarakan dan membuat kesepakatan dengan si anak.

Kebanyakan yang datang ke saya bukan untuk tindakan preventif, seperti membicarakan sebelum gadget diberikan, ada sih seperti itu tapi sangat jarang, yang paling umum jika anak sudah mengalami gangguan kepribadian dan perilaku akibat ketergantungan pada gadget yang berlebihan dan kecanduan bermain games sehingga lupa semuanya.