Masalah Mental pada Anak dan Solusinya

 

Masalah mental dialami oleh sebagian orang terutama pada anak-anak dan remaja. Akan tetapi dalam hal ini orangtua sering tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa anaknya mempunyai masalah dengan kesehatan mentalnya.

 

Sebab gejala gangguan mental yang terjadi pada anak-anak maupun remaja ini muncul secara tiba-tiba dan diam-diam. Jadi akan sulit untuk membedakan terkait perilaku keseharian anak dengan perilaku ketika anak mengidap gangguan pada mental.

 

Namun harus diketahui jika masalah yang dialami tersebut  tidak segera diatasi dengan baik, maka gangguan mental yang terjadi ini pun akan semakin bertambah parah.

 

Ada beberapa jenis masalah mental pada anak yang dibagi menjadi 5 kategori.

Masalah Perilaku

ADHD yang merupakan gangguan terkait dengan pemusatan perhatian pada anak dan juga anak yang mempunyai perilaku ADHD cenderung lebih hiperaktif dan impulsif.

 

Gangguan ADHD ini merupakan salah satu ciri anak yang memiliki kesulitan dalam hal berkonsentrasi dan dapat menyebabkan depresi.

 

Pada masalah ini anak akan sering terlihat tidak dapat memperhatikan sesuatu secara fokus dan cenderung bersifat kasar.

 

Selain ADHD ini juga ada istilah Conduct Disorder. Conduct disoder ini merupakan salah satu gangguan perilaku yang terkait dengan timbulnya emosi yang serius pada anak dan juga pada remaja.

 

Anak yang memiliki masalah dengan gangguan emosi akan menunjukkan prilakunya yang dapat mengganggu, terlibat unsur kekerasan, dan akan bermasalah dalam mengikuti sebuah aturan.

 

Masalah perilaku yang dialami juga disebut dengan istilah ODD. ODD adalah gangguan perilaku pada anak yang cenderung membangkang dan melawan.

 

Masalah perilaku ini diawali dengan suasana hati yang mudah tersinggung, mudah marah, pendendam, dan sering membantah.

 

Anak dengan gangguan mental ini sebagian besar akan melakukan penyalahgunaan NAPZA.

 

Dalam penyalahgunaan NAPZA ini akan sangat berpengaruh pada mental anak yang belum cukup usia. Contoh nafza yang digunakan pada anak-anak dibawah usia yaitu rokok atau Vape.

 

Masalah Relasi

Relasi yang terjalin antara anak dan orang tua ini akan ikut serta dalam pembentukan karakter anak terkait dengan tantangan dan masalah yang dihadapi oleh anak.

 

Masalah Sosial Dan Emosional

Gangguan emosional dan sosial yang terjadi pada anak ini meliputi gangguan mood, gangguan kecemasan, stres, dan tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

 

Masalah Perkembangan Dalam Belajar

Dalam masalah perkembangan belajar ini anak akan mengalami ASD yang terkait dengan masalah perkembangan saraf dan otak anak.

 

Contoh masalah ini seperti autisme  dan sindrom asperger.  Selain itu anak juga akan mengalami Skizofrenia. Skizofernia dapat menimbulkan anak menjadi halusinasi, perasaan datar, serta gangguan dalam berbicara.

 

Masalah lain yang timbul ini disebut dengan istilah dsabilitas intelektual. Disabilitas intelektual yaitu gangguan pada anak yang mengakibatkan anak akan lambat dalam memahami dan mempelajari sesuatu.

 

Hal ini disebabkan intelegensi anak  jauh di bawah rata-rata teman sebayanya. Masalah yang dialami pada anak terkait gangguan belajar ini terkadang bersumber dari faktor sarafnya.

 

Masalah Kesehatan Dan Perilaku

Pada masalah ini terkadang anak ditandai dengan keadaan yang tiba-tiba menolak untuk makan dan dalam hal ini akan dapat mengakibatkan stunting pada anak.

 

Masalah mental yang terjadi pada anak ini haruslah cepat disadari sehingga anak-anak dapat hidup lebih cerdas dan lebih sehat tanpa adanya gangguan mental.

Riset Efek Lockdown Terhadap Mental Manusia

Pandemi virus corona atau covid-19 ini membawa dampak yang sangat luas. Salah satunya, efek terhadap mental seseorang. Sebuah riset yang dilakukan oleh tim peneliti di Swiss menunjukkan bahwa upaya lockdown atau pembatasan sosial ternyata  membawa dampak secara mental atau psikologis yaitu dapat mengurangi umur manusia.

Hasil penelitian dari para ilmuwan tersebut dipublikasikan pada jurnal medRxiv. Ini merupakan jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Adapun judul penelitian tersebut adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Penelitian ini melibatkan  4 orang ilmuwan yang dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss selain itu ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Tim peneliti ini mengatakan bahwa strategi mitigasi sosial yang diterapkan dalam masa pandemi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia tersebut.

Inilah yang disebut dengan ‘years of life lost’ (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Adapun riset ini dilakukan di Swiss.

Para peneliti mencatat persoalan mental akibat lockdown selama pandemi corona atau covid-19 ini yaitu bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Adapun riset tersebut dilakukan selama 3 bulan masa lockdown.

Hasil penelitian ini tentunya cukup mengejutkan. Rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown covid-19. Meski begitu ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL. Karena itu, selama masa pandemi dan berdiam di rumah sebaiknya tetap usahakan untuk selalu bahagia.

Foto : freepik.com

Sehat Jiwa Raga dengan Silaturahmi di Dunia Maya

Hari Raya Idul Fitri 2020 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, bertemu bersilaturahmi menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu saat Lebaran. Namun, untuk tahun ini, momentum bisa silaturahmi secara langsung umumnya tidak bisa dilaksanakan karena di tengah pandemi virus corona atau covid-19 ini.

Di saat wabah ini, kita dianjurkan untuk melakukan social/physical distancing dan berbagai protokol kesehatan lainnya demi mencegah penyebaran penyakit infeksi ini. Karena itu, silaturahmi di masa lebaran kali ini hanya bisa dilakukan secara virtual, online atau melalui dunia maya.

Meski begitu, silaturahmi secara virtual ini tidak mengurangi makna saling bermaafan antara keluarga, kerabat dan handai taulan lainnya. Walaupun dilakukan dengan sarana teknologi seperti Whatsapp video, zoom, google dan sebagainya, kita tetap bisa melepas kangen dengan keluarga nun jauh di sana.

Yang pasti, esensi dari saling memaafkan ini tetap dapat dilakukan meski tidak saling berpeluk dan mencium tangan orangtua secara langsung. Nah, mengucapkan maaf dan memaafkan ini dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan. Tak sedikit riset yang membuktikan bahwa kata maaf memberi dampak yang luar biasa.

Dengan satu kata ‘maaf’ ini, akan memunculkan rasa damai, harapan, ketenganan dan suka  cita. Ya, mengucapkan maaf dan memaafkan bisa membuat kita lebih sehat, baik secara fisik, emosional bahkan spiritual.

Adalah penelitian yang dilakuan oleh tim riset dari University of Massachusetts, mereka membuktikan bahwa kata maaf dapat menurunkan tekanan darah bagi pasien yang mengalami hipertensi/tekanan darah tinggi. Riset tersebut menyebutkan, tekanan darah para responden ini turun hingga 20 persen lebih cepat ketika mendengar kata maaf.

Nah, berikut ini efek positif yang bisa didapat bila saling memaafkan, seperti dikutip dari Mayo Clinic:

– Interaksi atau hubungan yang lebih sehat
– Dapat meningkatkan kesehatan mental
– Terhindar dari depresi
– Imun atau sistem kekebalan tubuh jadi lebih kuat
– Kesehatan jantung meningkat
– Tekanan darah terkontrol
– Meningkatkan kepercayaan diri

Nah, yuk membiasakan saling memaafkan, tidak harus menunggu momen Idul Fitri.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19 bagi Kesehatan Mental Remaja

Pandemi covid-19 yang melanda dunia ini tidak hanya berefek pada kesehatan fisik. Akan tetapi, kesehatan mental juga dapat terdampak. Apa akibat negatif wabah ini bagi mental remaja?

Ya, penerapan physical distancing dan aktivitas belajar di rumah dalam jangka waktu yang relatif lama ini dapat memengaruhi kondisi psikis remaja. Awalnya, mungkin mereka merasa senang karena tidak perlu hadir di sekolah. Namun, seiring waktu berjalan, ada situasi dan kondisi yang rasanya ‘kurang bebas dan leluasa’, tidak seperti wabah ini terjadi.

Nah, menurut NYU Langone Health, mayoritas remaja menjadi tampak murung, sedih bahkan kecewa selama menjalani ‘karantina’ atau isolasi diri di rumah masing-masing. mereka bertanya-tanya kapan situasi ini akan selesai dan kembali seperti dulu.

Perubahan situasi yang cukup mendadak gegara pandemi ini memang berdampak secara psikologis. Para remaja belum bisa lagi bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya, bermain, beraktivitas, atau menonton acara bersama. Meski di satu sisi, mereka bisa berinteraksi dengan menggunakan teknologi seperti zoom meeting, google meeting dan sebagainya. Namun, atmosfernya tentu terasa berbeda.

Menurut dr. Aleta G. Angelosante, PhD, asisten profesor departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, ada berbagai faktor yang perlu diketahui. Bahwa perasaan sedih, kecewa dan sebagainya itu hal yang wajar dan normal. Media sosial yang bisa dimanfaatkan tidak bisa sepenuhnya sebagai pengganti interaksi sosial di antara mereka.

Perlu diperhatikan orangtua bila si remaja kemudian menunjukkan gejala seperti berikut:

  • Merasa sakit perut, pusing, dan keluhan fisik lainnya.
  • Menjauh atau mengisolasi diri dari orangtua, teman, bahkan mengubah kelompok pertemanan.
  • Semangat belajar turun sehingga prestasi akademik pun melorot.
  • Sering mengritik diri sendiri

Lalu, bagaimana cara menangani efek negatif pademi covid-19 terhadap psikis remaja? Berikut ini, tips menjaga kesehatan berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) :

  • Pertahankan kegiatan rutin sehari-hari. Atau,susun berbagai aktivitas baru.
  • Ajak remaja untuk mengobrol santai tentang pandemi ini. Gunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami remaja.
  • Dukung terus semangat dan motivasi remaja dalam belajar. Ciptakan suasana belajar di rumah yang menyenangkan. Susun jadwal sehari-hari belajar, diselingi dengan kegiatan bermain yang mengasyikkan di rumah.
  • Libatkan remaja dalam kegiatan positif yang dapat mengungkapkan perasaannya misalnya, menulis, melukis, dan sebagainya.
  • Bantu si remaja untuk tetap aktif bersosialisasi dengan teman-teman atau kerabat dan saudaranya. Bisa dilakukan secara virtual menggunakan teknologi internet.
  • Pastikan si remaja tidak tergantung menghabiskan waktu hanya untuk bermain gadget atau games. Meskipun mengasyikkan, namun lama-lama akan terasa jenuh dan bosan. Selingi dengan kegiatan lain, mungkin misalnya olahraga ringan di dalam rumah, menyiram tanaman di halaman, memasak, menyanyi, dan kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Hal ini juga sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya.

Yang pasti, efek  pandemi covid-19 terhadap mental remaja perlu diwaspadai.  Peran orangtua sangat penting untuk selalu memerhatikan sang remaja. Boleh jadi, kelihatannya ia biasa-biasa saja tanpa masalah. Namun, tidak ada salahnya bila orangtua memerhatikan lebih seksama, lakukan pendepatan dan dialog yang terbuka sehingga bisa diketahui apakah ia baik-baik saja. Atau, justru kondisi mentalnya terdampak pandemi covid-19.

Foto : freepik.com

Cara Mengatasi Depresi pada Anak Remaja

Tak sediki yang menganggap bahwa depresi melulu terjadi pada kalangan dewasa. Padahal, tidaklah demikian. Bahkan, anak usia remaja bisa mengalami depresi. Akan tetapi, orang tua tidak menyadari dan tak mengenali tanda-tanda depresi pada anaknya.

Lalu apa saja tanda atau gejala depresi pada anak? Sebenarnya ada berbagai kiat untuk mengetahui perbedaan kondisi emosi yang nomal dengan  masalah atau gangguan emosi. Menurut Dr. Navina Evans, konsultan psikiatris di London’s Capio Nightingale Hospital dan the East London and City Mental Health Trust, adapun gejala yang keliatan adalah berupa mood yang rendah dan rasa tak bahagia.  Selain itu, tanda lainnya adalah mudah menangis atau tersinggung meski tidak terkait dengan suatu hal yang spesifik.

Lalu, perhatikan dengan seksama reaksi anak remaja ketika mengalami kejadian yang menyedihkan. Misal, bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia atau peristiwa lainnya yang membuat duka, tentu wajar bila merasa sedih karena hal itu. Akan tetapi, jika reaksi yang muncul terlalu berlebihan atau ekstrem dan berlangsung lama, boleh jadi ia mengalami depresi.

Dr. David Kingsley, konsultan psikiatris remaja di Cheadle Royal Hospital’s Young Persons’ Service menjelaskan, bila mood anak remaja mempengaruhi fungsi sehari-hari maka ini pertanda ia mengalami gangguan atau masalah mental yang harus diketahui penyebabnya dan bagaimana penanganan yang baik.

Menurut Dr. David,  bila seorang anak remaja kehilangan keteratarikan pada hal-hal yang dulu ia senangi, atau ada persoalan di sekolah, ini sebagai pertanda harus segera diketahui akar masalahnya. Menutup diri dari lingkungan sosial juga merupakan tanda-tanda depresi pada remaja.

Lalu, bagaimana  cara mengatasi anak remaja yang mengalami depresi?  Jika Anda merasa anak remaja mengalami depresi, sebenarnya susah untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Menurut Dr. Evans, hal pertama yang harus dilakukan adalah coba untuk membicarakannya dengan anak.

Kemudian, kita coba cari tahu apa yang menjadi masalahnya. Apapun penyebabnya, jangan menyepelekannya. Mungkin hal tersebut terkesan sepele bagi orangtua, akan tetapi mungkin merupakan suatu masalah besar bagi anak remaja. Jika orang tua masih merasa khawatir setelah berbicara dengan anak, kunjungi ahli.

Menurut Dr. Kingley, jika diperlukan penanganan lebih jauh, ada berbagai pilihan, seperti konseling untuk remaja, terapi keluarga atau cognitive behavioral therapy, yaitu jenis terapi berbicara. Ahli juga mungkin akan mempertimbangkan pengobatan antidepresan, namun hanya pada kasus yang serius.

Sementara itu, jika orangtua merasa khawatir anak mengalami depresi, cobalah untuk memberikan dukungan. Menurut Dr. Kingsley, semua anak-anak dan remaja butuh untuk merasa dihargai dan dicintai. Mereka perlu memiliki hubungan dengan orangtua di mana mereka dapat merasa dihargai secara positif. Hal ini secara jangka panjang dapat melindungi anak dari depresi.

Foto : freepik.com

10 Tips Hemat Energi Saat #DiRumahAja

Pemerintah terus berupaya mengatasi pandemi COVID-19 dengan menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diharapkan bisa meminimalisir penyebaran COVID-19. Sejak kebijakan ini diberlakukan, masyarakat kini menjalani sebagian bahkan sepenuhnya aktivitasnya di rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah.

Namun sadarkah kita, dengan tidak pergi ke kantor, sekolah atau kegiatan luar lainnya, penggunaan listrik dirumah menjadi penting untuk diperhatikan. Ini supaya tagihan listrik bulanan tidak membengkak. Atau tak dibikin jengkel oleh suara meteran listik tanda habis pulsa yang pasti mengganggu telinga.

Dr Nurul Jannah, Dosen Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan, Sekolah Vokasi IPB University punya tips agar tetap hemat energi, khususnya di tengah kondisi pandemi ini.
“Matikan piranti elektronik yang tak dipakai, pakai lampu LED, selalu bersihkan lampu dari debu, pilihlah laptop daripada desktop, tetapkan suhu AC di suhu ideal, bersihkan kondensor filter dan coil AC secara teratur, atur suhu ideal kulkas, kurangi buka tutup kulkas, buatlah jadwal mencuci dalam seminggu dan gunakan listrik prabayar,” ujarnya.

Menurutnya, jika tidak digunakan, piranti elektronik seperti lampu, air conditioner (AC), charger handphone, komputer, kulkas, laptop, mesin cuci, kipas angin, setrika, mixer, blender dan lain-lain sebaiknya dimatikan. Putus arus listrik dari semua piranti elektronik dengan mencabut kabel listrik dari stop kontak.


Ganti semua lampu pijar dengan lampu hemat energi. Dengan menggunakan lampu LED, penggunaan listrik bisa lima kali lebih efisien dari lampu pijar. Selain itu, lampu juga mesti diperhatikan kebersihannya. Seringkali debu dan kotoran hinggap menutupi permukaan lampu. Padahal debu bisa mengurangi sampai lima persen tingkat penerangan.

“Laptop tak hanya menang dari sisi kepraktisan, namun juga hemat energi pastinya. Laptop hanya butuh 10 persen energi listrik daripada desktop. Namun jika terpaksa menggunakan desktop, sebaiknya pilih layar dengan tekonologi Liquid Crystal Display (LCD),” terangnya.

Sementara itu, penggunaan AC mestinya diperuntukkan agar ruangan kita sejuk, bukan dingin. Suhu ideal AC berada pada sekitar 24°C sampai dengan 28°C. Semakin rendah suhu kita atur, maka tentu semakin besar juga energi listrik yang dikeluarkan. AC juga mesti dirawat. Bersihkan kondensor filter dan coil AC secara teratur, karena jika AC kotor sudah pasti akan boros energi.

Sama seperti AC, penggunaan kulkas juga harus diatur suhunya. Idealnya suhu kulkas berada antara 2°C sampai dengan 4°C dan suhu freezer di -17°C sampai -15°C. Jangan sering-sering membuka kulkas jika tidak perlu. Hal ini bisa membuat 75 persen energi terbuang bila kulkas dibuka terlalu lama/sering.

“Untuk urusan mencucui baju, agar tetap hemat, gunakan mesin cuci sesuai kapasitas. Perhatikan kemampuan mesin cuci agar tidak membebani kinerjanya yang berakibat energi listrik jadi banyak terkuras. Penggunaan mesin cuci di luar kapasitas kemampuannya juga tentu akan membuat mesin cuci menjadi cepat rusak. Terakhir, adalah gunakan listrik prabayar. Baik listrik prabayar maupun pascabayar masing-masing punya kelebihan. Namun dengan menggunakan listrik prabayar, kita bisa mengatur penggunaannya secara hemat sehingga tak hanya energi tapi juga kantong yang jadi tak banyak terkuras, “ jelasnya.

Dr Nurul berpesan, “Dengan kita hemat energi, kita bisa save money, save energy for future. Kita juga berperan positif dalam pengurangan emisi karbondioksida dan ikut mencegah pemanasan global.”

Foto: freepik.com

Tips Terhindar dari Cabin Fever Saat Pandemi COVID-19


Work From Home (WFH) dan physical distancing masih menjadi cara terbaik untuk menghindari paparan COVID-19. Namun kedua cara ini memiliki sisi negatif. Yakni bisa membahayakan mental dan terperangkap dalam emosi labil yang dinamakan “cabin fever”.  Masyarakat harus lebih waspada dengan cabin fever sebab banyak dari kita yang harus tinggal di rumah sampai waktu yang belum ditentukan.
 
Ir Wien Kuntari MSi, dosen Program Studi Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi (SV) IPB University menyampaikan bahwa cabin fever adalah perasaan sedih yang muncul akibat terlalu lama “terisolasi” dan merasa terputus dari “dunia luar”.

“Gejala cabin fever tidak hanya sekadar merasa bosan saja, tetapi jauh lebih serius dari itu. Sebab, tanpa penanganan yang tepat, gejala cabin fever akan sulit dikontrol. Beberapa gejala lainnya yaitu pola tidur tidak teratur, kegelisahan, sulit berkonsentrasi, turunnya motivasi, mudah tersinggung, sulit bangun dari tidur, lemah lesu, tidak sabaran, merasa sedih dan depresi untuk waktu yang lama,” katanya.

Lalu bagaimana agar kita terhindar dari cabin fever, berikut tips yang bisa dilakukan : Pertama,  merutinkan olahraga ringan. Ini adalah salah satu cara paling ampuh dalam mencegah cabin fever.  Olahraga dilakukan bersama keluarga inti.

Kedua menjaga komunikasi. Kita masih bisa bertatap muka dan ngobrol selama yang  diinginkan dengan kerabat ataupun  sahabat melalui media online, sehingga bisa membuat kita tidak merasa sendirian. Ketiga, ekspresikan segala sisi kreatif yang kita miliki misalnya melakukan hobi kita seperti melukis, mencoba resep baru, craft, menjahit, berkebun dan sebagainya.  

“Hal yang harus tetap dijaga adalah agar otak kita tetap sibuk dan bisa melawan rasa bosan yang mungkin kita rasakan selama WFH,” ujarnya.

Keempat yaitu membawa “dunia luar” ke dalam rumah. Contohnya membuat bioskop mini untuk menonton film bersama keluarga atau memesan makanan dan kita menata ruangan di rumah seperti tempat lain. Kita juga bisa mencoba hal baru seperti membuka jendela untuk menghirup udara luar, memindahkan tanaman yang cocok ditanam di dalam rumah.

“Jalani gaya hidup sehat, istirahat yang teratur, cuci tangan dan tetaplah aktif walau di dalam rumah. Tidak heran, berolahraga memang bisa membantu tubuh melepas hormon endorfin yang bisa meningkatkan suasana hati. Hal-hal sepele inilah yang akan menolong dari virus corona dan gangguan mental yang disebabkannya. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, jangan remehkan berbagai kegiatan di atas. Sebab, mereka bisa mengobati perasaan rindu kita terhadap dunia luar,” tandasnya.

Foto: freepik.com

Riset : Menu Diet Tak Sehat Picu Gangguan Mental

You are what you eat. Peribahasa itu mungkin sering kita dengar. Ya, Anda adalah apa yang Anda makan. Apa yang Anda konsumsi akan menjadi energy atau bahan bakar sehingga metabolism tubuh, termasuk pikiran Anda, dapat bekerja dengan baik dan optimal.

Bicara soal makanan, bila Anda ingin terhindar dari problem mental, ubahlah pola makan Anda. Hm, apa kaitannya, ya? Nah, sebuah laporan mengungkapkan, hampir dua pertiga orang yang mengonsumsi makanan sehat setiap hari ternyata tak mengalami masalah kesehatan mental. Sebaliknya, seseorang yang konsumsi hariannya kurang mengandung zat gizi, justru berisiko dua kali lipat mengalami gangguan kesehatan mental.  Hal tersebut menandakan, apa yang kita makan dapat memengaruhi kondisi mental.

Riset tentang kaitan antara diet atau pola makan dengan kesehatan mental terus berkembang. Fakta terbaru menyebutkan,gizi yang baik sangat penting bagi kesehatan mental. Manfaat bagi kesehatan mental ini mencakup jangka pendek dan panjang. Ya, makanan berperan penting dalam perkembangan hingga pencegahan masalah kesehatan mental tertentu, misalnya depresi, gangguan hiperaktif, Alzheimer, skizofrenia dan sebagainya. Kondisi seperti itu menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh pola konsumsi sehari-hari terhadap kondisi kesehatan mental.

Sarapan

Nah, hal yang terkadang kita abaikan adalah pentingnya sarapan. Ternyata, melewatkan sarapan dapat berisiko buruk terhadap kesehatan mental. Perlu kita tahu, makan pagi akan menyuplai energi bagi tubuh dan otak. Tidak sarapan menyebabkan kita merasa lelah dan linglung. Karena itu, sarapan harus selalu diperhatikan dalam rutinitas sehari-hari.  Bila kesibukan sangat menyita waktu sehingga tak keburu sarapan, setidaknya sempatkan untuk mengonsumsi granola bar gandum, yogurt atau sepotong buah sebagai konsumsi awal yang baik dan menyehatkan.

Air Mineral

Tak kalah penting adalah hindari minuman manis dan jumlah kafein yang berlebihan. Minuman manis mengandung banyak kalori dan merusak enamel gigi. Sedangkan, minum banyak kafein bisa memicu serangan panik bagi orang yang memiliki gangguan cemas.

Pilihan terbaik adalah minum 8 gelas air mineral sehari (sekitar 2 liter) untuk mencegah dehidrasi. Dehidrasi ringan saja bisa menimbulkan rasa lelah, sulit konsentrasi dan perubahan suasanah hati. Selain itu, muncul efek fisik seperti haus, kulit kering, sakit keapla, pusing, sembelit dan urin berwarna lebih gelap.

Teh

Teh menjadi pilihan lebih baik daripada kopi/kafein. Teh mengandung kafein yang lebih rendah daripada kopi. Teh juga mengandung banyak antioksidan-bahan kimia untuk membantu melindungi jaringan tubuh dan mencegah kerusakan sel.

Asam Folat/Vitamin B9

Vitamin dapat menurunkan risiko depresi. Salah satunya asam folat atau vitamin B9 berfungsi memproduksi sel. Folat juga dikonsumsi ibu hamil karena kebutuhannya meningkat. Vitamin ini dapat mengurangi risiko anemia dan kondisi lainnya. Asam folat membantu menangani depresi. Asam folat bisa didapatkan pada sayuran berdaun hijau seperti bayam, kangkung, kacang-kacangan, biji-bjian, gandum utuh dan buah-buahan.

Vitamin D

Seseorang yang kekurangan vitamin D disinyalir berisiko mengalami depresi. Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium untuk gigi dan tulang yang kuat, mendukung kesehatan otot dan sistem kekebalan tubuh.  Kekurangan vitamin D juga memicu risiko penyakit jantung seperti serangan jantung.

Sumber vitamin D bisa dari makanan dan sinar matahari. Berjemur selama selama 5-30 menit dua kali seminggu dapat menghasilkan cukup vitamin D.  adapun sumber pangan yang mengandung vitamin D di antaranya susu, jus jeruk, sereal, lemak ikan seperti salmon dan tuna. Bisa juga mengonsumsi vitamin D asal sesuai dengan petunjuk dokter.

Nah, yuk jangan kondisi mental kita dengan asupan makanan bergizi seimbang!

foto : freepik.com

Tips Cegah Potensi Krisis Keluarga Saat Pandemik COVID-19

Wabah virus corona atau COVID-19 masih belum berakhir. Setiap hari, pasien terinfeksi bertambah. Ada yang kemudian sembuh,  namun ada juga yang meninggal pada akhirnya. Ya, pandemi ini membuat sebagian orang merasa cemas, khawatir bahkan takut.  Itu hal yang wajar asal jangan terlalu berlebihan.

Nah, Guru Besar IPB University bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, yang juga Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Prof Euis Sunarti membagikan tips mencegah potensi krisis keluarga saat pandemik COVID-19.

 Ada delapan cara yang menurutnya bisa mencegah potensi krisis, di antaranya adalah:
Pertama, menguatkan spiritualitas dan religiusitas, keimanan terhadap takdir, pemaknaan positif terhadap ikhtiar, ujian dan cobaan dalam hidup dan meningkatkan ibadah anggota keluarga.

Kedua adalah menilai ulang kapasitas ekonomi keluarga untuk dapat bertahan di tengah situasi yang tidak diinginkan. Mencegah tekanan ekonomi keluarga dengan mengatur ulang prioritas kebutuhan dan pengeluaran keluarga, termasuk penggunaan kembali sumberdaya yang ada.

Ketiga, kita perlu memperluas ruang yang komunikasi dan mendorong komunikasi yang mendalam (deeper communication) antar anggota keluarga. Menjadikan keluarga sebagai tempat terpercaya bagi seluruh anggotanya untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan tempat paling terpercaya untuk berbagi rahasia.

Keempat, periksa keterbatasan dan kelemahan dalam organisasi dan sistem keluarga. Perbaiki serta kuatkan struktur dan fungsi organisasi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

Kelimat, kelola dan alokasikan sumberdaya secara adil dan cerdas untuk menjamin keberlanjutan sistem keluarga. Tingkatkan kapasitas penyesuaian, adaptasi, fleksibilitas, pengelolaan dan penerimaan terhadap perubahan-perubahan dan ketegangan keluarga agar kehidupan keluarga tetap seimbang dan stabil serta terhindar dari situasi yang menekan (depresi). Khususnya bagi keluarga yang tergolong “fragile” (gampang retak dan pecah) dan “vulnerable-rentan”.

Keenam, bagi keluarga yang tergolong tidak berpola (unpattern) dan situasional, penting untuk memaknai secara positif rutinitas dan kebersamaan, lebih menerima dan memberikan apresiasi antar anggota keluarga, mempererat ikatan dan kelekatan antar anggota keluarga sehingga terbangun spirit “satu kesatuan”.

Ketujuh, lindungi anggota keluarga yang paling rentan, baik fisik maupun psikososialnya dan siapkan dukungan dari dalam sistem maupun luar sistem keluarga. Periksa dan kuatkan aset sosial yang dapat menjadi penolong ketika secara darurat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang rentan,” imbuhnya.

Kedelapan, komunikasikan adanya potensi krisis (akibat wabah), pastikan keluarga merespon secara memadai terhadap perubahan-perubahan yang diperlukan. Selain itu keluarga mendiskusikan alasan dan tujuan, menyiapkan diri dan menyepakati contingency plan (rencana darurat) yang perlu diambil keluarga, baik sebagai satu kesatuan keluarga maupun oleh satu atau sebagian anggiota keluarga.

Foto : freepik.com

Persiapkan Remaja Hadapi Perubahan Diri

Di masa remaja terjadi perubahan periode tumbuh kembang yang demikian pesat. Ya, remaja banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Karena itulah, tak salah bila ada yang menyebut fase remaja merupakan masa yang krusial dan penting juga diperhatikan.

Sebenarnya, sejak anak berusia dua tahun sudah terjadi berbagai perubahan fisik, sehingga pada bagian otak pun sudah mulai melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi masa-masa berikutnya.
 
Dua bagian dari otak, kelenjar hipotalamus dan hipofisis, mulai memproduksi sejumlah hormon, termasuk hormon pemicu hormon seks LH (luteinising hormone) dan FSH (follicle stimulating hormone).
Nah, remaja perempuan dan laki-laki memiliki kedua hormon ini, akan tetapi perubahannya saja yang berbeda.

Berat Badan Bertambah

Di masa pubertas ini, remaja perempuan mulai mengalami pertumbuhan payudara, rambut di sekitar kemaluan, tumbuhnya rambut di sekitar ketiak dan munculnya menstruasi pertama (menarche).
 

Selain itu, pada remaja perempuan terjadi pembesaran ukuran rahim yang tidak terlihat kasatmata. Berbeda dengan pertambahan ukuran panggul dan payudara.

Sementara pada anak lelaki, pubertas ditandai dengan perubahan suara yang membesar, tumbuhnya bulu-bulu pada tubuh, serta pembesaran organ genitalia (penis dan testis).

Nah, pembesaran berbagai organ tubuh tersebut tentunya dapat memengaruhi berat badan si remaja. Berat badan remaja perempuan bisa bertambah 19–22 kg selama masa pubertas. Sementara, remaja pria akan mengalami pertambahan bobot hingga 21–23 kg.
 
”Berat badan sebelum pubertas normalnya bertambah antara 5–6 kg per tahun untuk remaja perempuan dan 2,5–3 kg per tahun untuk remaja pria. Jadi jangan heran jika memasuki usia pubertas, anak jadi terlihat lebih berisi.”

Masalahnya, menjadi gemuk karena membesarkan organ-organ tubuh ini merupakan salah satu perubahan yang tidak disukai bahkan cukup ditakuti para remaja.

Di sisi lain, ada perubahan lain yang dialami remaja karena dipengaruhi hormon yaitu meningkatnya nafsu makan. Hal itu menyebabkan remaja suka makan camilan karena merasakan cepat lapar. Maka jadi suatu dilema. Ketika remaja tak menyukai perubahan tubuhnya yang gemuk tapi selera makan terus meningkat.


Tak hanya itu, bentuk tubuh yang mulai berubah tersebut bahkan bisa memengaruhi psikis. Ya, remaja mengalami perubahan emosi termasukmood yang kerap naik-turun.

Penuhi Kecukupan Gizi


Agar anak tidak kaget akan perubahan dalam tubuhnya saat memasuki masa remaja, sebaiknya orangtua mulai sejak dini memberikan penjelasan mengenai perubahan-perubahan di masa pubertas atau remaja.

Selain itu, peran orangtua pun dibutuhkan dalam mendampingi di saat memasuki masa remaja, terutama dalam menghadapi berbagai perubahan yang akan terjadi. Salah satunya adalah faktor gizi.

Seperti kita tahu, zat-zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Bahkan pemenuhan kebutuhan itu sudah harus dipenuhi sejak janin di kandungan dan terus berlanjut hingga mereka dewasa. 

Nah, orangtua perlu memerhatikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai tahapan usia. Jadi, tidak bisa menyamaratakan makanan pada semua usia. Pasalnya, kebutuhan nutrisi anak di usia pertumbuhan tentu berbeda dengan anak usia sekolah, pra remaja dan remaja karena secara kejiwaan dan hormonal juga berbeda.

Karena itu, makanan yang diberikan hendaknya dibedakan, sesuai dengan kebutuhan proses tumbuh kembangnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa makanan bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi juga memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di masa pra remaja dan remaja, mulai ada perkembangangan fungsi organ reproduksinya yang menghasilkan berbagai hormon untuk mempersiapkan kematangan fungsi reproduksinya. Pengaruh hormonal ini menyebabkan terjadinya tumbuh kembang yang cepat seperti halnya saat masa janin dan bayi. “Boleh dibilang masa prapubertas dan pubertas merupakan masa krusial di mana kecukupan gizinya harus diperhatikan dengan baik.”

Dalam mencukupi kebutuhan gizi, orangtua juga harus mengetahui kebutuhan antara remaja putri dan putra yang ternyata berbeda.

Remaja putri cenderung membutuhkan asupan yang rendah lemak, tinggi zat besi, dan antioksidan (vitamin C dan E). Kekurangan zat besi menyebabkan anemia yang bisa menimbulkan konsekuensi serius di masa datang. Remaja perempuan juga membutuhkan asupan vitamin B kompleks.

Sementara remaja putra membutuhkan asupan tinggi B kompleks dan L-Cartine untuk mendukung pertumbuhan fisiologis. Memang, remaja pria membutuhkan lebih banyak energi untuk beraktivitas dan pembentukan massa otot.

Secara umum, untuk dapat memenuhi asupan zat gizi dari makanan yang dapat mendukung tumbuh kembang optimal masa remaja perlu pola makan yang seimbang dalam jenis bahan makanan bergizi.

”Seimbang dalam jumlah porsi bahan makanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan semua zat gizinya.”

Selain itu, jumlah porsi yang seimbang juga disajikan dalam jadwal makan yang seimbang, yaitu terbagi secara proporsional dalam hidangan makan pagi atau sarapan, makan siang, dan makan malam, serta makanan selingannya.

Jika remaja memiliki pola makan dengan gizi seimbang tersebut,otomatis kebutuhan akan kalori dan zat gizi untuk proses tumbuh kembang yang optimal akan terpenuhi. Karena berbagai jenis bahan makanan yang digunakan dalam jumlah terbagi secara proporsional setiap harinya akan saling melengkapi jenis dan jumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Kelengkapan kebutuhan makanan bisa didapat dengan mengisi piring dengan makanan pokok (sumber kalori), lauk-pauk hewani dan nabati (sumber protein dan lemak), sayur dan buah (sumber vitamin dan mineral serta serat). Sementara susu menjadi pelengkap hidangan agar asupan zat gizi dari makanan dapat disempurnakan untuk mendukung proses tumbuh kembang remaja yang optimal.

Foto: freepik.com