Latih Anak Mandiri Tanpa Si ‘Mbak’ (1)

Dewasa ini, anak-anak cenderung tergantung pada asisten rumah tangga di rumah. Apa-apa minta dilayani, ini-itu ingin dipenuhi. Nah, ketika sang asisten ini harus pulang ke kampung, entah karena mudik Lebaran atau ada alasan lain misalnya orangtuanya sakit, situasi di rumah jadi kalang-kabut. Apalagi kemudian si ‘mbak’ tak kunjung kembali lagi. karena itulah, orangtua penting untuk melatih anak mandiri dan tak melulu bergantung pada asisten rumah tangga. 

Menggunakan jasa asisten rumah tangga sepertinya sudah menjadi kebutuhan bagi keluarga saat ini. Menariknya, pada masa sekarang, jasa asisten rumah tangga sudah tidak hanya sebatas pada kepentingan rumah tangga, misalnya membersihkan rumah dan perabotannya, tetapi juga termasuk mengasuh anak.

Seiring waktu pula, asisten rumah tangga ini membantu anak hampir di setiap aktivitasnya. Misalnya, menyediakan makanan, mandi, ataupun membereskan keperluan anak. Orangtua terkadang merasa tidak sabar jika harus menunggu anak menyantap makanannya secara mandiri ataupun untuk mandi sendiri. Ayah-ibu justru merasa merasa terbantu saat anak dibantu untuk dimandikan ataupun disuapkan makanan oleh sang asisten rumah tangga. Akhirnya, anak menjadi terbiasa dibantu dalam melakukan segala aktivitas, termasuk untuk kegiatan bina dirinya seperti berpakaian, mandi, dan lainnya.

HAMBAT KEPERCAYAAN DIRI

Nah, secara teori, perilaku anak dapat terbentuk dari kebiasaan yang dijalankannya sehari-hari. Lantaran itu, jika dalam melakukan segala sesuatu, termasuk kegiatan bina diri seperti makan, mandi, berpakaian dan lain-lain selalu dibantu asisten rumah tangga, anak akan merasa terbiasa untuk dibantu.

Berawal dari “terbiasa” selanjutnya akan berkembang menjadi “perlu”. Maksudnya, bila anak selalu dibantu, ia akan merasa menjadi tidak bisa atau tidak mampu untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. “Misalnya saat hendak mandi selalu dibantu mulai dari menyiapkan handuk, peralatan mandi seperti sikat gigi yang udah diolesi pasta gigi, disabuni, dikeramasi sampai badannya dikeringkan oleh handuk. Bahkan, sang asisten rumah tangga menyiapkan dan memilihkan pakaian yang akan dipakai. Sampai kemudian anak pun dipakaikan baju, dibantu mengancingkan baju, hingga menyisirkan rambut sang anak. pokoknya komplet dari A-Z, mulai dari persiapan mandi hingga mandi selesai dan kembali berpakaian, ibaratnya anak tinggal “duduk manis”.

Alhasil, suatu ketika si “mbak” pulang kampung, anak tak mampu untuk mandi sendiri.  Ia pun menolak saat diminta untuk mandi sendiri karena tak terbiasa. Demikian juga untuk hal lainnya. Misalnya, anak merasa tak mampu memakai sepatu sendiri karena selama ini ia dibantu disiapkan kaus kaki dan sepatunya, dibantu mengenakan dan memasang talinya.

Ujung-ujungnya, anak akan merasa enggan untuk mencoba melakukan hal-hal secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Artinya, anak yang terbiasa dibantu oleh asisten rumah tangga dalam aktivitas sehari-harinya, dapat menghambat kemandirian dan rasa percaya diri untuk melakukan segala sesuatunya sendiri.

Selain itu, tanpa disadari beberapa aktivitas sehari-hari sebenarnya dapat membantu mengembangkan kemampuan motorik halus sang anak. Misalnya, mengancing baju ataupun menyimpul tali ikat sepatu. Dengan demikian, jika anak terbiasa dibantu melakukan hal-hal kecil seperti itu, kemampuan motorik halusnya menjadi kurang terasah.