Tips Cegah Potensi Krisis Keluarga Saat Pandemik COVID-19

Wabah virus corona atau COVID-19 masih belum berakhir. Setiap hari, pasien terinfeksi bertambah. Ada yang kemudian sembuh,  namun ada juga yang meninggal pada akhirnya. Ya, pandemi ini membuat sebagian orang merasa cemas, khawatir bahkan takut.  Itu hal yang wajar asal jangan terlalu berlebihan.

Nah, Guru Besar IPB University bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, yang juga Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Prof Euis Sunarti membagikan tips mencegah potensi krisis keluarga saat pandemik COVID-19.

 Ada delapan cara yang menurutnya bisa mencegah potensi krisis, di antaranya adalah:
Pertama, menguatkan spiritualitas dan religiusitas, keimanan terhadap takdir, pemaknaan positif terhadap ikhtiar, ujian dan cobaan dalam hidup dan meningkatkan ibadah anggota keluarga.

Kedua adalah menilai ulang kapasitas ekonomi keluarga untuk dapat bertahan di tengah situasi yang tidak diinginkan. Mencegah tekanan ekonomi keluarga dengan mengatur ulang prioritas kebutuhan dan pengeluaran keluarga, termasuk penggunaan kembali sumberdaya yang ada.

Ketiga, kita perlu memperluas ruang yang komunikasi dan mendorong komunikasi yang mendalam (deeper communication) antar anggota keluarga. Menjadikan keluarga sebagai tempat terpercaya bagi seluruh anggotanya untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan tempat paling terpercaya untuk berbagi rahasia.

Keempat, periksa keterbatasan dan kelemahan dalam organisasi dan sistem keluarga. Perbaiki serta kuatkan struktur dan fungsi organisasi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

Kelimat, kelola dan alokasikan sumberdaya secara adil dan cerdas untuk menjamin keberlanjutan sistem keluarga. Tingkatkan kapasitas penyesuaian, adaptasi, fleksibilitas, pengelolaan dan penerimaan terhadap perubahan-perubahan dan ketegangan keluarga agar kehidupan keluarga tetap seimbang dan stabil serta terhindar dari situasi yang menekan (depresi). Khususnya bagi keluarga yang tergolong “fragile” (gampang retak dan pecah) dan “vulnerable-rentan”.

Keenam, bagi keluarga yang tergolong tidak berpola (unpattern) dan situasional, penting untuk memaknai secara positif rutinitas dan kebersamaan, lebih menerima dan memberikan apresiasi antar anggota keluarga, mempererat ikatan dan kelekatan antar anggota keluarga sehingga terbangun spirit “satu kesatuan”.

Ketujuh, lindungi anggota keluarga yang paling rentan, baik fisik maupun psikososialnya dan siapkan dukungan dari dalam sistem maupun luar sistem keluarga. Periksa dan kuatkan aset sosial yang dapat menjadi penolong ketika secara darurat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang rentan,” imbuhnya.

Kedelapan, komunikasikan adanya potensi krisis (akibat wabah), pastikan keluarga merespon secara memadai terhadap perubahan-perubahan yang diperlukan. Selain itu keluarga mendiskusikan alasan dan tujuan, menyiapkan diri dan menyepakati contingency plan (rencana darurat) yang perlu diambil keluarga, baik sebagai satu kesatuan keluarga maupun oleh satu atau sebagian anggiota keluarga.

Foto : freepik.com