Jurus Hadapi Ulah Si Balita (1)

Balita Anda suka berpolah?  Suka memukul, cengeng, sulit diatur serta beragam ulah lain yang kadang membuat kita ‘naik darah’. Hmm…perilaku seperti itu terjadi seiring dengan tahap kemampuannya yang terus berkembang. Untuk itu, kita perlu mengetahui tahap perkembangan di usia ini dan mencari solusi atas ulahnya yang selalu ‘nyeleneh’.

Perkembangan Kognitif

Pada usia ini, menurut Piaget, kemampuan berpikir anak pada tahap praoperasional sehingga ia belajar melalui modeling/ meniru perilaku yang ada di lingkungannya. Tapi anak belum mampu memahami makna perilaku tersebut benar atau salah, baik atau buruk dan belum mampu memprediksi konsekuensi yang akan dialami karena perilaku tersebut. Cara berpikirnya masih egosentris, yaitu belum mampu memahami sudut pandang orang lain sehingga ia terkesan selalu ingin dimengerti dan dituruti. Perilaku ini membuat orangtua menilai anak keras kepala dan sulit diatur.

Perkembangan Emosi

Pada usia 2-3 tahun anak berada pada tahap perkembangan emosi yaitu periode tantrum. Sebaiknya anak diajarkan mengenali jenis emosi yang dirasakannya, baik emosi positif (gembira, senang, bersemangat) maupun emosi negatif (sedih, kecewa, marah). Bantu pula anak agar perlahan dapat mengelola emosi dan mengekspresikan emosi secara tepat. Pada usia 4 tahun, sebaiknya perilaku tantrum sudah berkurang intensitas dan frekuensinya seiring dengan berkembangnya keterampilan berbahasa untuk menyampaikan keinginan serta berkembangnya kemampuan kognitif untuk memahami sudut pandang orang lain.

Perkembangan Motorik

Anak mulai belajar keterampilan motorik halus yang lebih sulit, seperti menggunting, menempel, melipat dan menjahit. Pada usia ini, anak juga dilatih untuk dapat menggunakan pakaiaN sendiri, termasuk mengancingkan baju atau retsliting. Keterampilan motorik halus mengembangkan kemandirian dan kematangan emosi. Keterampilan motorik kasar juga sudah meningkat seperti menangkap dan melempar bola yang berukuran kecil seperti bola tenis, berdiri dan melompat dengan satu kaki.

Penguasaan anak pada keterampilan motorik kasar dan halus ini akan meningkatkan harga diri. Karena itu, orangtua sebaiknya hadir untuk memfasilitasinya agar mampu menguasai keterampilan-keterampilan itu bukan membantu anak untuk melakukan pekerjaan tersebut. 

Perkembangan Sosial

Erikson berpendapat, umur 3 tahun adalah periode pembentukan kontrol diri dan harga diri yang dilalui dengan proses interaksi anak dengan lingkungannya. Maka memberikan kesempatan buah hati untuk mengeksplorasi kemampuannya bersama teman sebaya akan meningkatkan harga diri dan kontrol dirinya.

Proses sosialisasi dengan lingkungan terdekat seperti bermain dengan anak tetangga sebaiknya dimulai menjelang usia 2 tahun dengan pendampingan orangtua atau pengasuh. Bagi ibu yang bekerja di rumah, sebaiknya juga membiasakan untuk berpisah/ meninggalkan anak dalam pengawasan kerabat dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian diharapkan pada usia 3 tahun, anak mulai terbiasa berani bermain dengan teman sebaya tanpa didampingi orangtua meskipun tetap dalam pengawasan.

Nah, keterampilan sosialisasi anak usia 3 tahun terdiri dari kemampuan memperkenalkan diri (nama, usia, nama orangtua), menyatakan pendapat pada teman sebaya, bertoleransi, berempati, mematuhi aturan dan bekerja sama. Kemampuan sosialisasi anak usia 4 tahun merupakan pematangan keterampilan sosialisasi usia sebelumnya sehingga anak dapat lebih mandiri dalam melakukannya. Misal, ia memiliki kesadaran untuk bergantian dengan teman saat menggunakan alat permainan tanpa diminta orangtua.

Pada usia 4 tahun, anak juga mulai bermain pura-pura, misalnya pura-pura menjalankan aktivitas berjualan atau berbelanja di toko, pura-pura menjadi dokter, atau pura-pura menjadi pilot. Saat bermain, beri kebebasan untuk berkreasi menciptakan properti yang akan digunakan sebagai sarana bermain. Kegiatan ini akan mengembangkan inisiatif dan keberanian anak untuk menciptakan ide sekaligus mengimplementasikan ide tersebut. Anak yang banyak mendapat pembatasan dari lingkungan, cenderung dicemooh atau diejek akan menyebabkan anak tumbuh menjadi pasif karena takut berbuat salah. Jadi disimpulkan, usia 3-4 tahun adalah masa yang sangat penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berinisiatif, mandiri, dan mampu bekerja sama. (hil)

Foto: freepik.com