Riset Efek Lockdown Terhadap Mental Manusia

Pandemi virus corona atau covid-19 ini membawa dampak yang sangat luas. Salah satunya, efek terhadap mental seseorang. Sebuah riset yang dilakukan oleh tim peneliti di Swiss menunjukkan bahwa upaya lockdown atau pembatasan sosial ternyata  membawa dampak secara mental atau psikologis yaitu dapat mengurangi umur manusia.

Hasil penelitian dari para ilmuwan tersebut dipublikasikan pada jurnal medRxiv. Ini merupakan jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Adapun judul penelitian tersebut adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Penelitian ini melibatkan  4 orang ilmuwan yang dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss selain itu ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Tim peneliti ini mengatakan bahwa strategi mitigasi sosial yang diterapkan dalam masa pandemi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia tersebut.

Inilah yang disebut dengan ‘years of life lost’ (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Adapun riset ini dilakukan di Swiss.

Para peneliti mencatat persoalan mental akibat lockdown selama pandemi corona atau covid-19 ini yaitu bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Adapun riset tersebut dilakukan selama 3 bulan masa lockdown.

Hasil penelitian ini tentunya cukup mengejutkan. Rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown covid-19. Meski begitu ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL. Karena itu, selama masa pandemi dan berdiam di rumah sebaiknya tetap usahakan untuk selalu bahagia.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19 bagi Kesehatan Mental Remaja

Pandemi covid-19 yang melanda dunia ini tidak hanya berefek pada kesehatan fisik. Akan tetapi, kesehatan mental juga dapat terdampak. Apa akibat negatif wabah ini bagi mental remaja?

Ya, penerapan physical distancing dan aktivitas belajar di rumah dalam jangka waktu yang relatif lama ini dapat memengaruhi kondisi psikis remaja. Awalnya, mungkin mereka merasa senang karena tidak perlu hadir di sekolah. Namun, seiring waktu berjalan, ada situasi dan kondisi yang rasanya ‘kurang bebas dan leluasa’, tidak seperti wabah ini terjadi.

Nah, menurut NYU Langone Health, mayoritas remaja menjadi tampak murung, sedih bahkan kecewa selama menjalani ‘karantina’ atau isolasi diri di rumah masing-masing. mereka bertanya-tanya kapan situasi ini akan selesai dan kembali seperti dulu.

Perubahan situasi yang cukup mendadak gegara pandemi ini memang berdampak secara psikologis. Para remaja belum bisa lagi bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya, bermain, beraktivitas, atau menonton acara bersama. Meski di satu sisi, mereka bisa berinteraksi dengan menggunakan teknologi seperti zoom meeting, google meeting dan sebagainya. Namun, atmosfernya tentu terasa berbeda.

Menurut dr. Aleta G. Angelosante, PhD, asisten profesor departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, ada berbagai faktor yang perlu diketahui. Bahwa perasaan sedih, kecewa dan sebagainya itu hal yang wajar dan normal. Media sosial yang bisa dimanfaatkan tidak bisa sepenuhnya sebagai pengganti interaksi sosial di antara mereka.

Perlu diperhatikan orangtua bila si remaja kemudian menunjukkan gejala seperti berikut:

  • Merasa sakit perut, pusing, dan keluhan fisik lainnya.
  • Menjauh atau mengisolasi diri dari orangtua, teman, bahkan mengubah kelompok pertemanan.
  • Semangat belajar turun sehingga prestasi akademik pun melorot.
  • Sering mengritik diri sendiri

Lalu, bagaimana cara menangani efek negatif pademi covid-19 terhadap psikis remaja? Berikut ini, tips menjaga kesehatan berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) :

  • Pertahankan kegiatan rutin sehari-hari. Atau,susun berbagai aktivitas baru.
  • Ajak remaja untuk mengobrol santai tentang pandemi ini. Gunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami remaja.
  • Dukung terus semangat dan motivasi remaja dalam belajar. Ciptakan suasana belajar di rumah yang menyenangkan. Susun jadwal sehari-hari belajar, diselingi dengan kegiatan bermain yang mengasyikkan di rumah.
  • Libatkan remaja dalam kegiatan positif yang dapat mengungkapkan perasaannya misalnya, menulis, melukis, dan sebagainya.
  • Bantu si remaja untuk tetap aktif bersosialisasi dengan teman-teman atau kerabat dan saudaranya. Bisa dilakukan secara virtual menggunakan teknologi internet.
  • Pastikan si remaja tidak tergantung menghabiskan waktu hanya untuk bermain gadget atau games. Meskipun mengasyikkan, namun lama-lama akan terasa jenuh dan bosan. Selingi dengan kegiatan lain, mungkin misalnya olahraga ringan di dalam rumah, menyiram tanaman di halaman, memasak, menyanyi, dan kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Hal ini juga sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya.

Yang pasti, efek  pandemi covid-19 terhadap mental remaja perlu diwaspadai.  Peran orangtua sangat penting untuk selalu memerhatikan sang remaja. Boleh jadi, kelihatannya ia biasa-biasa saja tanpa masalah. Namun, tidak ada salahnya bila orangtua memerhatikan lebih seksama, lakukan pendepatan dan dialog yang terbuka sehingga bisa diketahui apakah ia baik-baik saja. Atau, justru kondisi mentalnya terdampak pandemi covid-19.

Foto : freepik.com

Cara Mengatasi Depresi pada Anak Remaja

Tak sediki yang menganggap bahwa depresi melulu terjadi pada kalangan dewasa. Padahal, tidaklah demikian. Bahkan, anak usia remaja bisa mengalami depresi. Akan tetapi, orang tua tidak menyadari dan tak mengenali tanda-tanda depresi pada anaknya.

Lalu apa saja tanda atau gejala depresi pada anak? Sebenarnya ada berbagai kiat untuk mengetahui perbedaan kondisi emosi yang nomal dengan  masalah atau gangguan emosi. Menurut Dr. Navina Evans, konsultan psikiatris di London’s Capio Nightingale Hospital dan the East London and City Mental Health Trust, adapun gejala yang keliatan adalah berupa mood yang rendah dan rasa tak bahagia.  Selain itu, tanda lainnya adalah mudah menangis atau tersinggung meski tidak terkait dengan suatu hal yang spesifik.

Lalu, perhatikan dengan seksama reaksi anak remaja ketika mengalami kejadian yang menyedihkan. Misal, bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia atau peristiwa lainnya yang membuat duka, tentu wajar bila merasa sedih karena hal itu. Akan tetapi, jika reaksi yang muncul terlalu berlebihan atau ekstrem dan berlangsung lama, boleh jadi ia mengalami depresi.

Dr. David Kingsley, konsultan psikiatris remaja di Cheadle Royal Hospital’s Young Persons’ Service menjelaskan, bila mood anak remaja mempengaruhi fungsi sehari-hari maka ini pertanda ia mengalami gangguan atau masalah mental yang harus diketahui penyebabnya dan bagaimana penanganan yang baik.

Menurut Dr. David,  bila seorang anak remaja kehilangan keteratarikan pada hal-hal yang dulu ia senangi, atau ada persoalan di sekolah, ini sebagai pertanda harus segera diketahui akar masalahnya. Menutup diri dari lingkungan sosial juga merupakan tanda-tanda depresi pada remaja.

Lalu, bagaimana  cara mengatasi anak remaja yang mengalami depresi?  Jika Anda merasa anak remaja mengalami depresi, sebenarnya susah untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Menurut Dr. Evans, hal pertama yang harus dilakukan adalah coba untuk membicarakannya dengan anak.

Kemudian, kita coba cari tahu apa yang menjadi masalahnya. Apapun penyebabnya, jangan menyepelekannya. Mungkin hal tersebut terkesan sepele bagi orangtua, akan tetapi mungkin merupakan suatu masalah besar bagi anak remaja. Jika orang tua masih merasa khawatir setelah berbicara dengan anak, kunjungi ahli.

Menurut Dr. Kingley, jika diperlukan penanganan lebih jauh, ada berbagai pilihan, seperti konseling untuk remaja, terapi keluarga atau cognitive behavioral therapy, yaitu jenis terapi berbicara. Ahli juga mungkin akan mempertimbangkan pengobatan antidepresan, namun hanya pada kasus yang serius.

Sementara itu, jika orangtua merasa khawatir anak mengalami depresi, cobalah untuk memberikan dukungan. Menurut Dr. Kingsley, semua anak-anak dan remaja butuh untuk merasa dihargai dan dicintai. Mereka perlu memiliki hubungan dengan orangtua di mana mereka dapat merasa dihargai secara positif. Hal ini secara jangka panjang dapat melindungi anak dari depresi.

Foto : freepik.com

Waspadai, Orangtua Depresi Bisa Mengganggu Mental Anak

Siapapun pasti tak mau mengalami depresi .  Namun, kondisi ini bisa terjadi pada siapapun. Mungkin kita pernah mengalami depresi, sebagai orang tua yang memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kita mendapatkan tekanan sehingga menjadi depresi.

Banyak orang menganggap remeh dan mengabaikan tanda-tanda depresi. Padahal harus segera ditangani agar tidak berdampak negatif ada orang-orang terdekat. Apalagi kita sebagai orang tua yang sudah memiliki anak untuk jangan pernah memandang dengan sebelah mata soa depresi. Pasalnya, ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak Anda.

Berikut adalah dampak terhadap anak bila orang tua mengalami depresi:

  1. Bayi yang depresi akan mengalami beberapa gangguan tidur, susah makan dan minum ASI, sering menangis dan gangguan pertumbuhan di antaranya kurang berat badan. Anak balita memiliki gangguan perilaku, emosi yang meledak-ledak, gangguan mood, hiperaktivitas (ADHD), dan gangguan defisit atensi. Selain itu, untuk anak remaja sangat berisiko mengalami gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan mood, dan kecanduan (rokok, alkohol, dan obat-obatan).  

Pada tahun 2011 penelitian yang diterbitkan dalam jurnal internasional Pediatrics menunjukkan bahwa kemungkinan anak mengalami gangguan perilaku dan emosi naik dua kali lipat jika sosok ayah menderita depresi. Sementara, kalau ibunya yang menderita depresi, risiko anak mengalami gangguan perilaku dan emosi mencapai tiga kali lipat. Kalau kedua orangtuanya depresi, kemungkinan tersebut meroket hingga empat kali lipat.

  • Prestasi anak di sekolah menurun. Pada 2016, studi yang dipublikasikan oleh Journal of the American Medical Association Psychiatry membuktikan bahwa depresi orangtua berakibat buruk pada prestasi anak di sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal yaitu :
  1. gangguan sistem saraf pusat (neurodevelopmental problem) sehingga kemampuan berbahasa anak menjadi terbatas mengakibatkan anak kesulitan mengikuti pelajaran. Sering kali anak menjadi tidak naik kelas.
  2. Anak sulit konsentrasi dan tidak punya waktu belajar karena disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga atau mengurus adiknya yang masih kecil. Orang tua yang depresi membuat mereka terlantarkan dan tidak terurus.
  • Anak menjadi kurang percaya diri dan memandang rendah dirinya sendiri. Ini sebagai dampak dari anak yang sering menjadi sasaran depresi orang tua. Orangtua bersikap negatif dan selalu mengkritik anak, sehingga anak memiliki pola pikir yang negatif. Tak jarang hal ini yang menjadikan anak menyalahkan dirinya sendiri bahwa orang tua depresi karena dirinya. Kondisi seperti ini menyebabkan anak menjadi sulit berteman dan mencapai cita-citanya untuk mendapatkan pekerjaan atau pasangan. Mereka memilih untuk menyendiri dan memiliki dunia mereka sendiri.
  • Depresi menurun secara genetik ke anak. Lingkungan keluarga yang tidak sehat. Orang tua yang depresi dan sering bertengkar bisa menjadi pemicu anak ikut depresi secara tidak langsung. Alhasil, anak lahir dengan kondisi sudah terganggu mentalnya. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan anak nantinya.

Meski demikian, bisa kita usahakan untuk ditanggulangi sebelum terlambat dengan cara menangani depresi orang tua terlebih dahulu dengan berkonsultasi pada ahlinya. Setelah itu, barulah kita menangani anak dengan berkonsultasi pada guru konseling di sekolah dan psikolog anak. Mengapa demikian?  Karena anak akan mengalami perubahan dengan cepat dissaat orang tua sudah lebih baik dalam mengontrol emosi dan depresinya. etiap apa yang terjadi pada orang tua akan menjadi contoh pada anak-anaknya.

Ilustrasi : freepik.com

Kenali 6 Tanda Gangguan Mental pada Anak

Bagaimana cara mengidentifikasikan penyakit mental anak? Hal ini merupakan pertanyaan yang sering kita tanya bila menemukan sesuatu yang kurang normal pada anak, karena gejalanya berbeda dengan orang dewasa. Akan tetapi, sulit membedakan dari perilaku normal anak lainnya. Kita sebagai orang tua harus mengerti permasalahan anak, untuk menemukan cara yang tepat untuk merawat anak kita. Perlu beberapa hal untuk memastikan perkembangan dan pertumbuhan anak agar berjalan lancar.

Ini merupakan 6 tanda peringatan penyakit mental yang tidak boleh diabaikan :

1. Perubahan perilaku

Cara mudah menemukan perubahan besar pada perilaku dan kepribadian anak yaitu  melalui aktivitas mereka yang kita pun dapat menyadarinya. Anak-anak cenderung menjadi agak kasar, sering bertengkar, dan menggunakan senjata saat bermain, atau bahkan sering menggunakan kata-kata kasar untuk menyakiti orang lain. Serta  mereka menjadi sering marah dan frustasi pada orang lain.

2.Perubahan mood

Anak-anak memiliki mood yang bisa berubah-ubah di setiap waktu dan secara tiba – tiba. Akan tetapi perubahan mood sedih yang berlangsung selama 2 minggu dan berakibat pada hubungan keluarga ataupun pertemanan ini adalah gejala umun dari depresi atau kelainan bipolar.

3.Kesulitan berkonsentrasi

Anak yang memiliki penyakit mental sulit untuk duduk diam untuk belajar maupun membaca. Mereka sulit fokus atau memperhatikan dalam waktu yang lama. Ini menjadi penyebab prestasi sekolah menurun dan perkembangan otak yang ikut menurun. Mereka suka mengerakan salah satu anggota tubuh untuk mengurangi rasa cemas yang mereka miliki.

4.Penurunan berat badan

Penyebab menurunnya berat badan menjadi efek negatif yang serius pada kesehatan anak-anak. Mereka akan merasa kehilangan nafsu makan, muntah, dan gangguan makan. Sehingga mereka akan terlihat lebih kurus dan lesu.

5.Perubahan pada gejala fisik

Anak yang menderita penyakit mental akan sering merasakan sakit kepala atau sakit perut. Selain itu mereka juga akan mengalami flu, demam, atau penyakit lainnya dan jangka waktu lebih sering dibandingkan anak-anak yang normal. Yang lebih diperhatikan, mereka tidak segan-segan melukai diri sendiri, seperti memotong atau mencelakakan diri sendiri. Mungkin kasus yang lebih serius mereka memiliki pikiran untuk mencoba bunuh diri atau melukai orang lain.

6.Perasaan yang intens

Rasa takut yang berlebihan tanpa alasan sering dihadapi anak yang memiliki penyakit mental. Tanda ini dapat dilihat seringnya menangis, berteriak, atau mual disertai dengan perasaan yang intens yang dapat menyebabkan beberapa efek fisik, kesulitan bernapas, jantung yang berdebar atau bernafpas dengan cepat, ini dapat mengganggu aktivitas anak sehari-hari

Apa yang harus kita lakukan jika menduga gangguan kesehatan mental pada anak?

Saran pertama bila anak kita mengalami gangguan kesehatan mental adalah berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak mengenai gejala dan tanda-tanda pada anak kita ceritakan sejujurnya agar dokter dapat merekomendasikan perawatan atau pengobatan anak yang dibutuhkan.

Kedua adalah sebagai orang tua kita harus tetap positive thinking memberikan perhatian dan menjaga dengan baik anak kita. Berikan kasih sayang dan perhatian yang sangat diperlukan anak. Bukan hanya kita sebagai orang tua, teman-teman serta guru turut andil dalam memperbaiki kondisi mereka. Informasikan kepada orang-orang terdekat khususnya guru, teman-teman serta keluarga lainnya untuk  memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi Pada anak.

Ilustrasi : freepikcom

Yogurt Berkhasiat Mengatasi Depresi, Benarkah?

Apakah Anda sedang mengalami depresi? Merasa Tertekan, sedih, cemas, kosong, tidak memiliki harapan, tidak berharga, gelisah atau mungkin tidak bersemangat melakukan aktivitas apapun, hilang nafsu makan, konsentrasi terganggu, menjadi sering lupa, bahan mungkin lebih parah Anda memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup?

Mari kita cari cara mengatasi salah satu gangguan mood ini. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang sering ditemui dan menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Setelah melakukan riset Kementerian Kesehatan Republic Indonesia tahun 2013 memperkirakan ada 6% penduduk Indonesia memiliki gejala depresi dan kecemasan.

Kenapa seseorang dapat terkena depresi?

Ada beberapa faktor terjadinya gangguan mental, yaitu faktor biologist, psikis, sosial. Coba kita bahas satu persatu faktonya.

Faktor biologis yaitu pengaruh genetik dimana orang yang memiliki riwayat keluarga depresi, akan memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami depresi. Ini semacam keturunan karena perilaku lingkungan keluarga yang tidak aman sehingga Anda ikut mengalami depresi.

Faktor psikis merupakan gangguan pada mekanisme adaptasi, kepribadian, dan kepercayaan. Susahnya beradaptasi, tidak percaya diri menjadi faktor depresi timbul pada Anda, sehingga Anda lebih memilih menyendiri.

Faktor sosial ini adalah perilaku yang terjadi disekeliling yang disebabkan oleh kejadian. Seperti kehilangan orang yang dicintai, mendapat perlakuan kasar dari orang terdekat. Faktor- faktor ini yang akhirnya dapat menimbulkan gangguan neurotransmitter, terganggunya pusat pengatur mood di otak.

Saat ini gangguan depresi dapat ditangani dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan. Kombinasi dua terapi ini yang memberikan hasil yang lebih baik dan bertahan lama. Selain itu ada beberapa makanan yang bisa menjadi sebagai mood-boosting atau mood-stabilizing seperti yogurt, omega-3, gandum, kacang-kacangan, cokelat, sayur-sayuran, buah-buahan, dan telur.

Mengapa yogurt dapat memperbaiki gangguan mood?

Siapa yang tidak menyukai yogurt? Semua orang dari berbagai kalangan pun suka memakan yogurt dari anak bayi hingga orang tua. Dan kenapa yang kita bahas hanya yogurt, karena ternyata yogurt memiliki peran penting untuk meningkat mood seseorang untuk kembali normal.

Seorang yang depresi atau menderita gangguan mood itu merupakan adanya perubahan bakteri baik di dalam usus diduga dapat menimbulkan kelainan metabolisme seseorang. Perubahan mikrobiota ini juga dikatakan dapat menimbulkan gangguan pada otak, salah satunya adalah munculnya gangguan mood.

Beberapa penelitian mengungkapkan gejala depresi muncul setelah jumlah Lactobacillus (salah satu bakteri baik di usus) berkurang. Sehingga perlu adanya perbaikan beberapa bakteri untuk menghilangkan gejala depresi dan mood kembali menjadi normal. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dimasukkan dalam jumlah tertentu untuk memberikan efek menguntungkan. Sehari-hari, probiotik umumnya ditambahkan ke dalam makanan, salah satu contohnya adalah yogurt.

Yogurt memiliki peran penting dalam mengurangi peradangan di dalam usus. Selain itu yogurt dapat meningkatkan kadar asam amino triptofan yang penting dalam pembentukan neurotransmitter. Sehingga gejala mood depresi dapat cepat diperbaiki.

Penelitian lain pun mengungkapkan dengan mengonsumsi yogurt secara rutin dapat memperbaiki gejala gangguan mood. Beberapa kelompok yang mengonsumsi yogurt mampu untuk menghadapi rasa sedih untuk menjadi lebih baik dan pikiran depresi menjadi berkurang. Anjuran yang diberikan yaitu konsumsi yogurt secara rutin satu hari sekali juga dapat mencegah atau mengurangi gejala depresi ringan sampai sedang.

Banyak kemasan yogurt yang beredar di pasaran, itu berarti tidak semua yogurt dapat dikonsumsi untuk mengurangi gejala depresi hanya yogurt yang memiliki probiotik dan yang masih mengandung Lactobacillus aktif. Meskipun begitu, psikoterapi serta obat-obatan juga tetap perlu diberikan agar kita terlelas dari gejala depresi tersebut.

Jaga Kesehatan Mental Anak, Ini 7 Hal Penting Dilakukan

Pertumbuhan anak menjadi hal yang membanggakan bagi setiap orang tua tidak hanya fisik, kesehatan, namun segi perkembangan mental juga harus terus dipantau hingga mereka dewasa nanti. Yang menjadi masalah orang tua adalah kesehatan mental anak yang kadang cenderung sulit untuk dipahami.

Mengapa menjaga kesehatan mental anak penting untuk dilakukan?

Kesehatan mental anak menjadi hal penting untuk di bahas oleh beberapa orang tua karena kondisi tersebut bisa sangat berbahaya bagi anak tersebut. Hal tersebut mencakupi kemampuan anak dalam berpikir secara jernih, mengendalikan emosi, dan bersosialisasi dengan anak seusianya. Sehingga anak yang memiliki kesehatan mental yang baik akan memiliki karakter positif misalnya mereka akan beradaptasi dengan keadaan secara cepat, dapat menghadapi stres, menjaga hubungan dengan sesamanya, dan cepat bangkit dari keadaan yang sulit.

Akan tetapi, bagi anak yang memiliki kesehatan mental yang kurang baik pada masa kecil bisa memiliki gangguan perilaku yang serius mengakibatkan tidak seimbangnya mental dan emosi, sehingga kehidupan sosial anak menjadi kurang baik.

Berikut yang dapat dilakukan orangtua dalam menjaga kesehatan mental anak:

1. Membangun kepercayaan diri anak

Ini merupakan hal pertama yang harus dilakukan untuk mendorong anak mempelajari dan mencoba berbagai hal baru, seperti :

  • Memuji anak saat melakukan hal baru.
  • Membantu untuk menentukan tujuan mereka sesuai kemampuan tanpa paksaan.
  • Menjaga ucapan, sikap, dan perilaku kita saat anak gagal.
  • Ajari anak untuk bekerjasama dalam kelompoknya
  • Bersikap jujur dan sportif dalam menerima kekalahan

2. Membiarkan anak bermain

Bermain adalah hal yang di nanti bagi setiap anak karena bermain adalah waktu untuk bersenang-senang. Disini mereka akan mempelajari hal baru agar lebih kreatif, memecahkan masalah dan mengendalikan diri. Anakpun menjadi sehat secara fisik maupun mental.

3. Mendorong anak untuk bersosialisasi

Setiap anak juga memerlukan interaksi dengan anak seusianya. Disini anak dapat mengenali kelemahan dan kelebihan pada dirinya dan bantu anak untuk menemukan teman bermain bisa dilakukan di lingkungan sekitar, tempat rekreasi, atau daftarkan ke sekolah.

4. Ajari anak untuk menikmati proses

Proses pembentukan anak untuk memahani kemenangan atau mencapai tujuan bukanlah segalanya ini perlu diajarkan pertama kali oleh kita sebagai orang tua. Dengan menerima kekalahan saat bermain ataupun bertanding tanpa membanding-bandingkan dengan anak lain, karena orang tua yang selalu menuntut dapat memicu ketakutan dan kekhawatiran akan kekalahan dan saat mencoba hal baru.

5. Ajari disiplin dengan adil dan konsisten

Perilaku disiplin harus ditanamkan sejak mereka masih kecil dengan kebaikan, nilai agama, maupun norma sosial.

6. Kritiklah perilakunya, bukan orangnya

Hal yang sering orang tua lakukan adalah menghukum atau mengkritik kesalahan anak ini sebenarnya diperbolehkan, akan tetapi kritiklah perbuatan anaknya tanpa memberi label kepada anak dengan sebutan “ anak nakal. “

7. Menciptakan lingkungan rumah yang aman

Memiliki keluarga harmonis dan lingkungan rumah yang aman dapat membuat perkembangan mental anak menjadi baik. Namun sebaliknya, suasana rumah yang tidak aman dapat menimbulkan rasa cemas dan ketakutan pada anak, sehingga anak dapat mengalami kesulitan dan tidak percaya diri.

Perubahan perilaku anak yang harus diwaspadai orangtua

Dampak buruk untuk kondisi mental anak berpengaruh pada perilaku anak. Berikut beberapa perubahan perilaku yang dapat terjadi pada anak:

  • Terlihat tidak semangat dan mudah marah dengan meledak-ledak
  • Menunjukan sikap agresif dan tidak menuruti kata orangtua
  • Hiperaktif atau tidak bisa diam tanpa sebab yang jelas
  • Tidak ingin berinteraksi dengan siapapun
  • Sering terlihat cemas dan takut
  • Penurunan prestasi akademik di sekolah

Perubahan perilaku anak cenderung sulit dapat kita lihat, namun bila kita merasa ada beberapa ciri diatas segera ajak anak berbicara pada masalah yang sedang di hadapinya.

Kenali Gejala Gangguan Mental pada Anak

Kesehatan seseorang tidak hanya berhubungan erat dengan kesehatan fisik, tetapi kesehatan mental juga adalah yang harus selalu diperhatikan. Hal ini disebabkan oleh tidak sedikitnya orang yang mengalami hal buruk karena terganggunya mental mereka, bahkan hingga ada yang bunuh diri. Jelas, hal tersebut membutuhkan perhatian lebih banyak sehingga tidak terjadi lagi hal-hal yang buruk karenanya.

Gangguan kesehatan mental tidak hanya dialami oleh orang-orang dewasa. Akan tetapi, pada usia anak-anak pun kemungkinan bisa mengalami hal tersebut. Gangguan tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah kurangnya perhatian yang diberikan oleh para orang tuanya.

Gangguan kesehatan mental ini dapat mengubah banyak hal dari seorang anak, di antaranya adalah caranya berkomunikasi dengan orang lain, caranya menentukan pilihan, dan yang lebih buruk adalah adanya perasaan ingin menyakiti dirinya sendiri. Gangguan mental itu juga dapat berupa depresi, gangguan bipolar, gangguan stress pasca trauma (GSPT), dan gangguan psikosis. Oleh karena itu, kita, khususnya para orang tua harus bisa mengenali gejala apa saja yang mungkin muncul ketika seorang anak mengalami gangguan kesehatan mental. Di antara gejala gangguan kesehatan mental tersebut adalah:

  1. Mengalami halusinasi, delusi, atau paranoia

Delusi adalah sebuah pikiran atau pandangan yang tidak berdasar (tidak rasional) sehingga membuat seorang anak tersebut berpikir aneh-aneh yang bersifat khayalan. Seseorang yang mengalami hal tersebut berpotensi terjangkit psikosis. Bahayanya, seorang anak yang telah mengalami psikosis ini akan melukai dirinya sendiri atau bahkan menyakiti orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk megetahui gejala jenis ini.

  • Kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi

Ketika seorang anak tidak mampu berkonsentrasi dalam jangka yang cukup lama, maka perang orang tua sangat dibutuhkan dalam keadaan ini. Berkurangnya kemampuan dalam berkonsentrasi ini biasanya ditandai dengan seorang anak yang kurang merespon saat dipanggil atau diajak mengobrol.

  • Menarik diri dari orang-orang atau kegiatan sehari-hari

Ketika seorang anak tidak lagi bersikap seperti sebelumnya, contohnya ketika ia lebih suka berdiam diri di kamar tanpa melakukan interaksi dengan teman-teman bermainnya, maka orang tua harus peka terhadap keadaan ini. Apalagi jika keadaan tersebut berulang dalam waktu yang lama. Peran orang tua juga sangat diperlukan untuk memberi solusi kepada anak tersebut.

  • Sering marah berlebihan

Gejala yang muncul saat seorang anak mengalami gangguan kesehatan mental adalah ketika ia sering arah berlebihan bahkan untuk hal-hal yang sepele. Hal ini bisa jadi karena ia memiliki tekanan mental, tetapi tidak memiliki tempat untuk bercerita.

  • Memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih

Selain keempat ciri di atas, seorang anak yang kesehatan mentalnya terganggu juga biasanya memiliki ketakutan yang berlebih. Hal ini juga berhubungan erat dengan gejala yang pertama yaitu delusi atau halusinasi. Dalam hal ini pula orang tua diharapkan mampu melakukan hal yang tepat agar tidak terjadi hal buruk yang tidak diharapkan.

Di atas adalah beberapa gejala yang dialami oleh seorang anak yang kesehatan mentalnya terganggu. Selain kelima gejala tersebut masih ada gejala yang lainnya yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, salah satunya adalah ketika seorang anak tidak memahami situasi atau orang-orang. Oleh karena itu, sebelum seorang anak tersebut ditindak lebih lanjut, hal yang pertama dibutuhkannya adalah peran orang tua. Orang tua harus bisa mengenali dan memahami kejadian yang terjadi pada anaknya agar gangguan kesehatan mental tersebut tidak semakin memburuk.

Foto  : freepik.com

Cara Hindari Gangguan Mental Pada Usia Remaja

Melihat perkembangan zaman saat ini akan ada banyak peristiwa hidup yang berdampak kurang baik pada kesehatan mental anak-anak. Usia remaja menjadi momen terbaik untuk mendapatkan berbagai kegiatan untuk menjaga kesehatan mental. Tetapi, sampai detik ini usia remaja masih memperoleh kondisi hidup yang beresiko terhadap perkembangan mentalnya.

Adanya gangguan mental disebabkan banyak hal. Sehingga perlu adanya cara-cara menghindari gangguan mental pada usia remaja. Meskipun terdengar sepele, tetapi ada beberapa dampak buruk ketika seorang remaja mengalami gangguan mental. Kondisi mental tidak stabil bisa dicegah, namun para orang tua dan tenaga pengajar hingga masyarakat pun harus mengetahui seperti apa cara menghindari gangguan mental terutama pada usia remaja.

Cara Hindari Gangguan Mental Usia Remaja

Pada usia remaja terkadang menjadi momen yang riskan mendapat gangguan dari pergaulan ataupun beberapa sikap merugikan diri sendiri. Berawal dari kejadian di sekitar kita biasanya mental seorang anak remaja bisa mengalami guncangan. Untuk itu ada beberapa metode tepat untuk menghindari gangguan mental anak sejak dini seperti berikut ini.

Mengontrol Emosi Lebih Baik

Guncangan mental pada usia remaja bisa disebabkan karena beberapa hal. Dari sinilah anak remaja bisa melakukan kontrol emosi lebih sempurna. Sehingga ada beberapa kontrol emosi yang juga mendatangkan manfaat lebih tepat. Sampai akhirnya kontrol emosi juga terus dikembangkan dengan beberapa cara sederhana dan berguna. Kontrol emosi bisa diajarkan kepada setiap remaja dengan beberapa kegiatan.

Adanya kontrol emosi lebih baik tersebut, potensi dari gangguan mental bisa dihindari. Sehingga tidak ada gangguan mental terlalu besar yang beresiko membuat perubahan mental secara cepat. Kontrol emosi adalah kunci utama kepada para remaja untuk bisa menghindari gangguan mental yang berdampak besar pada akses sosialnya.

Melakukan Kegiatan Olahraga Sesuai Hobi

Olahraga ringan seperti jogging, ataupun melakukan sesuai hobi akan membuahkan manfaat terbaik. Dari sinilah ada opsi tepat untuk mengurangi resiko gangguan mental karena dampaknya cukup riskan terhadap beberapa kondisi hidup seorang anak remaja. Untuk itulah kegiatan olahraga sesuai hobi selalu dilakukan sebagai uapaya mendasar dalam mengubah dan mencegah penurunan mental pada usia remaja.

Kondisi mental stabil hingga memperoleh banyak keuntungan dari olahraga kini terus dikembangkan. Sehingga banyak pakar kesehatan mental berusaha keras dalam memaksimalkan kegiatan olahraga untuk tujuan menjaga kesehatan mental pada anak-anak ataupun usia remaja.

Memperkuat Kegiatan Keagamaan

Lingkungan yang baik dan sehat menjadi sebuah faktor penting untuk mencegah gangguan mental. Dari sinilah standar untuk memperkuat mental bisa bermula dari kegiatan keagamaan yang kuat. Kegiatan bertema agama sudah banyak dilakukan, dan ada banyak jenisnya bisa dihadirkan untuk tujuan baik terhadap mental remaja.

Tidak hanya di lingkungan rumah saja, akan tetapi kegiatan keagamaan juga bisa ditambah dalam ruang lingkup sekolah. Jadi ada banyak manfaat utama ketika remaja masih terus mengikuti semua kegiatan keagamaan dengan tujuan menambah kuat iman dan mengurangi resiko terjadinya gangguan mental.

Keinginan untuk menjaga mental tetap stabil di usia remaja sangatlah perlu. Sebab ada banyak kesempatan untuk menjaga kondisi mental usia remaja yang semuanya berawal dari skala rumah hingga lingkungan dan sekolah. Ada banyak faktor kenapa seorang remaja masih menginginkan standar hidup dan bisa mengembangkan mental lebih sempurna. Sehingga ada beberapa hal penting yang terus disajikan sebagai upaya memperkuat mental remaja terhadap semua kondisi lingkungan. Jadi saat ini kondisi mental remaja masih sangat rentan berubah, sehingga butuh beberapa hal baru agar suasana terus berkembang ke arah positif.

Foto: freepik.com

Cemas Wabah Corona, Ini 4 Tips Atasi Sulit Tidur

Pandemi virus corona Covid-19  tak ayal membuat warga dunia cemas. Penyebarannya yang begitu masif ke berbagai negara tentunya membuat sebagian orang khawatir dan was-was. Apalagi melihat  pemberitaan dimana kasus positif terinfeksi corona terus bertambah dan korban meninggal juga meningkat. Meski di sisi lain, pasien yang kemudian sembuh juga tak kalah banyak.

Nah, adakalanya kecemasan itu menimbulkan efek lain, salah satunya gangguan tidur. Padahal, tidur yang berkualita adalah hal yang penting untuk menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental.  Masalahnya, kita seolah dibombardir oleh pemberitaan ataupun sosial media yang melulu tentang kasus corona.

Lalu, bagaimana cara mengatasi gangguan tidur karena merasa cemas? Berikut di antaranya :

1. Tetap lakukan kegiatan rutin harian

Wajar saja bila kegiatan rutin sehari-hari terganggu karena pandemi corona ini.  Orang tidak dengan bebas keluar rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah. Adanya perubahan jadwal harian ini tentu membutuhkan adaptasi.  Walaupun di rumah, tapi tetap jadwal rutin dilakukan. Misalnya, mandi pagi, sarapan, bekerja dan seterusnya. Hanya saja aktivitas bekerja dilakukan di rumah. Dengan begitu, kualitas tidur terjaga karnea rutinitas tetap berlangsung seperti biasa.

2. Hindari tidur siang terlalu lama

Ketika menjalani social and physical distancing ini terkadang jam tidur siang jadi bertambah. Pasalnya, kita merasa nyaman di rumah, melakukan karantina diri selama sekian lama. Nah, tidur siang yang berlebihan bisa menyebabkan di malam hari sulit mengantuk. Hal ini juga bisa mengganggu jadwal tidur di malam hari. Padahal, menerapkan jam tidur yang normal bisa membuat hidup lebih teratur. Karena itu, coba ubah keinginan tidu siang dengan aktivitas sehat seperti bangun lebih awal untuk dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan lebih cepat.

3. Tetap berolahraga

Menjaga isolasi diri bukan berarti hanya berdiam, duduk atau tiduran sepanjang hari. Akan tetapi, lakukan kegiatan olahraga ringan. Hal ini juga bisa membuat kualitas tidur terjaga dengan baik.  Memang, olahraga yang dilakukan terbatas, namun ada beberapa pilihan alternatif yang bisa dilakukan, misalnya senam atau yoga. Cobalah lakukan olahraga di pagi atau siang hari. Hindari berolaharag di waktu sebelum jam tidur karena bisa menstimulasi tubuh dan menyebabkan susah tidur.

4. Hindari berita hoax

Banjirnya informasi menyebabkan kita kadang kesulitan memilih dan memilah mana berita yang benar dan mana yang berita bohong. Hoax bertebaran di media sosial. Hal ini bisa membuat perasaan lebih cemas dan khawatir.  Karena itu, kurangi informasi yang bisa membuat kita merasa takut dan cemas. Pasalnya, bisa mengganggu kualitas tidur.

Selamat mencoba, semoga Anda tidak lagi terlalu cemas dan dapat tidur dengan nyenyak!

Foto: freepik.com