Kiat Menjaga Keharmonisan Keluarga Saat Pandemi Covid-19

Saat pandemi yang mengharuskan masyarakat berdiam diri di rumah dalam jangka panjang, pada sebagian keluarga akan muncul ketidakharmonisan karena kejenuhan kerap kali datang. JiIka kondisi tersebut dibiarkan, tidak dapat dipungkiri konflik rumah tangga pun bisa terjadi. Lalu bagaimana menjaga agar keluarga tetap harmonis di saat pandemi?

Prof Dr Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University sekaligus Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Ketua Penggiat Keluarga (GIGA) Indonesia bagikan tips agar keharmonisan keluarga tetap terjaga saat pandemi.

“Kita perlu menguatkan dan melembagakan nilai dan tujuan berkeluarga serta pentingnya membangun dan memelihara keharmonisan keluarga kepada seluruh anggota keluarga dengan cara yang tepat sesuai kematangan perkembangan setiap anggota keluarga,” ujarnya.

Ciptakan suasana keluarga yang nyaman terbangunnya koherensi, fleksibilitas dan bonding (kelekatan) yang membawa kepada kesabaran setiap anggota untuk bertahan lama (getting along with others) dalam melakukan proses pembelajaran dan aktivitas keluarga. Buat setiap individu anggota keluarga merasa “diterima dan dipahami” oleh anggota keluarga lainnya dengan mengembangkan komunikasi asertif dan interaksi yang hangat (warmth interaction).

Pastikan anggota keluarga secara umum merasa puas dengan kehidupan keluarga. Caranya yakni dengan membiasakan mengekspresikan rasa syukur dan merasa cukup terhadap situasi atau kondisi pemenuhan kebutuhan setiap anggota dan keluarga secara kesatuan.
Bangun lingkungan fisik rumah dan lingkungan yang “home sweet home” sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman dan betah tinggal di rumah. Temukan kearifan-kearifan dari setiap anggota keluarga. Misalnya dengan saling mengerti, memahami, memaafkan, juga mencontohkan menahan marah dan menahan berkata yang akan melukai dan disesali, demikian pula mendorong sifat altruistik dan kesediaan berkorban untuk keluarga.

“Cegah konflik kepentingan antara tujuan keluarga dengan tujuan individu, dan konflik antar anggota keluarga. Caranya adalah dengan mengalokasikan peran dan sumberdaya secara adil, serta menuntut akuntabilitas peran yang disepakati bersama,” imbuhnya.

Selain itu membangun, memelihara, menguatkan pemahaman dan penerimaan suami istri terhadap pembagian peran, fungsi, dan tugas juga penting, tujuannya untuk terbangunnya hubungan suami istri yang tenang, tentram, penuh kasih sayang (sakinah mawaddah wa rahmah).

Kembangkan pola komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak yang hangat, menerima dan mencintai anak apa adanya. Latih anak-anak mengelola emosi yang sehat. Orang tua perlu mengarahkan, mendisiplinkan dan menuntut kepatuhan dalam batas-batas yang proporsional.

“Dan ciptakan suasana kasih sayang, penerimaan dan kepedulian antar anak. Kita juga bisa mengembangkan kegiatan atau penugasan yang terbangun pola senioritas yang sehat serta bertanggung jawab,” tandasnya.

Ilustrasi : freepik.com

Tips Cegah Potensi Krisis Keluarga Saat Pandemik COVID-19

Wabah virus corona atau COVID-19 masih belum berakhir. Setiap hari, pasien terinfeksi bertambah. Ada yang kemudian sembuh,  namun ada juga yang meninggal pada akhirnya. Ya, pandemi ini membuat sebagian orang merasa cemas, khawatir bahkan takut.  Itu hal yang wajar asal jangan terlalu berlebihan.

Nah, Guru Besar IPB University bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, yang juga Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Prof Euis Sunarti membagikan tips mencegah potensi krisis keluarga saat pandemik COVID-19.

 Ada delapan cara yang menurutnya bisa mencegah potensi krisis, di antaranya adalah:
Pertama, menguatkan spiritualitas dan religiusitas, keimanan terhadap takdir, pemaknaan positif terhadap ikhtiar, ujian dan cobaan dalam hidup dan meningkatkan ibadah anggota keluarga.

Kedua adalah menilai ulang kapasitas ekonomi keluarga untuk dapat bertahan di tengah situasi yang tidak diinginkan. Mencegah tekanan ekonomi keluarga dengan mengatur ulang prioritas kebutuhan dan pengeluaran keluarga, termasuk penggunaan kembali sumberdaya yang ada.

Ketiga, kita perlu memperluas ruang yang komunikasi dan mendorong komunikasi yang mendalam (deeper communication) antar anggota keluarga. Menjadikan keluarga sebagai tempat terpercaya bagi seluruh anggotanya untuk mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan tempat paling terpercaya untuk berbagi rahasia.

Keempat, periksa keterbatasan dan kelemahan dalam organisasi dan sistem keluarga. Perbaiki serta kuatkan struktur dan fungsi organisasi keluarga agar mampu menghadapi situasi yang tidak diinginkan.

Kelimat, kelola dan alokasikan sumberdaya secara adil dan cerdas untuk menjamin keberlanjutan sistem keluarga. Tingkatkan kapasitas penyesuaian, adaptasi, fleksibilitas, pengelolaan dan penerimaan terhadap perubahan-perubahan dan ketegangan keluarga agar kehidupan keluarga tetap seimbang dan stabil serta terhindar dari situasi yang menekan (depresi). Khususnya bagi keluarga yang tergolong “fragile” (gampang retak dan pecah) dan “vulnerable-rentan”.

Keenam, bagi keluarga yang tergolong tidak berpola (unpattern) dan situasional, penting untuk memaknai secara positif rutinitas dan kebersamaan, lebih menerima dan memberikan apresiasi antar anggota keluarga, mempererat ikatan dan kelekatan antar anggota keluarga sehingga terbangun spirit “satu kesatuan”.

Ketujuh, lindungi anggota keluarga yang paling rentan, baik fisik maupun psikososialnya dan siapkan dukungan dari dalam sistem maupun luar sistem keluarga. Periksa dan kuatkan aset sosial yang dapat menjadi penolong ketika secara darurat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang rentan,” imbuhnya.

Kedelapan, komunikasikan adanya potensi krisis (akibat wabah), pastikan keluarga merespon secara memadai terhadap perubahan-perubahan yang diperlukan. Selain itu keluarga mendiskusikan alasan dan tujuan, menyiapkan diri dan menyepakati contingency plan (rencana darurat) yang perlu diambil keluarga, baik sebagai satu kesatuan keluarga maupun oleh satu atau sebagian anggiota keluarga.

Foto : freepik.com