Hypnosis sehari-hari

Hypnosis Sehari-Hari: Orang Tua Dengan Anak

Pengertian Hypnosis seringkali menjadi konotasi yang negatif bagi orang yang belum memahami proses kerjanya. Padahal hypnosis seringkali dilakukan oleh orang tua dalam hubungannya dengan anak-anak namun orangtua tidak menyadari bahwa hal itu adalah hypnosis.

Seorang anak kecil berumur 6 tahun terkejut luar biasa ketika ia menjatuhkan Kristal kesayangan mamanya. Mamanya yang baru saja pulang kerja sampai larut malam melihat hal itu, langsung membentak si anak yang tidak sengaja memecahkan Kristal itu tanpa bertanya apa penyebabnya. Si anakpun tersentak, terdiam di sudut ruangan dengan ketakutan. Anda tahu apa yang ada di pikiran anak itu ?. Ya, anak itu berkata dalam hati “Ternyata mama lebih saying dengan kristalnya daripada aku, buktinya saat mama pulang kerja, mama lebih memperhatikan kristalnya daripada aku.” Itulah yang terjadi saat seorang anak dibentak karena suatu peristiwa. Anak merasa orangtua tidak mencari tahu sebab si anak melakukan itu. Ada makna di balik setiap peristiwa dan perilaku yang dilakukan anak. Mungkin saja, itu adalah bentuk mencari perhatian anak, atau bisa jadi anak sedang melakukan protes.

Ini adalah contoh kecil dari proses hypnosis. Kenapa dikatakan hypnosis ?
Proses hypnosis adalah suatu proses sehari-hari yang selalu kita alami.  Tergantung pada kita sendiri untuk mau tersugesti atau tidak dengan proses hypnosis itu.  Tergantung juga pada nilai dasar dan hasrat atau keinginan kita. Apabila kita tersugesti oleh pengaruh hypnosis tersebut, berarti kita terhypnosis. Dan, apabila pengaruh hypnosis tersebut sesuai dengan nilai dasar maupun keingginan kita atau apabila pengaruh hypnosis  tersebut merupakan ide baru dan kita menghayatinya atau tersugesti, jangan heran bila pengaruh dan sugesti tersebut dapat bertahan lama.  Bahkan, dapat menjadi permanen bila kita tidak mengalami masalah atau “menikmati” pengaruh tersebut. Tetapi sebaliknya, kalau pada dasarnya kita tidak mau tersugesti atau sugesti tersebut berbeda dengan nilai dasar dan keinginan kita, mungkin hal itu tidak akan berefek pada kita dan kalaupun berefek, tidak terlalu lama.

Hypnosis adalah suatu seni, metoda atau teknik komunikasi (verbal dan non-verbal) yang persuasif dan sugestif. Bila orang yang dihypnosis tadi tersugesti, sadar atau tidak, maka dia dikatakan dalam keadaan “terhypnosis”. Peristiwa sehari-hari, sengaja atau tidak, bila kita tersugesti oleh hal tersebut maka dapat dikatakan juga bahwa kita terhypnosis oleh peristiwa tersebut.

Oleh sebab itu, bisa dipahami bahwa seringkali kita menghypnosis orang lain dengan kata-kata, dan jika anak atau orang yang kita ajak komunikasi mempercayai kata-kata yang kita ucapkan, disitulah proses hypnosis terjadi. Jadi hypnosis itu sangat mudah dipelajari karena kita sudah mengalaminya setiap hari.


Apa yang terjadi kalau peristiwa itu kita alami berulang-ulang, seperti pada tulisan sebelumnya, seperti halnya iklan yang sama yang kita lihat, kita dengarkan, atau kita rasakan berulang-ulang? Cepat atau lambat kita akan terpengaruh dan meyakini bahwa hal itu benar atau ‘hal itulah yang sebenarnya’.


Manusia itu unik dan dinamis, tidak setiap peristiwa dimaknai sama. Sebagai contoh, ada anak nilai ulangan dapat 4, lalu gurunya mengatakan ”ah, bodoh amat kamu, masa soal gini aja ga bisa ngerjain sih”, si anak menjadi sedih dan merasa dirinya bodoh. Namun anak lain ketika dikatakan seperti itu, mekanisme pikiran bawah sadarnya adalah semangat, lalu anak itu membuktikan bahwa ia bukanlah anak  seperti yang dikatakan gurunya.


Bagaimana jika anak tersugesti sehingga menjadi takut luar biasa dengan bentakan orang tua yang dilakukan berulang-ulang? Mungkin bagi anak tersebut, orang tuanya menjadi orang yang menakutkan, sehingga lain kali jika dia berbuat suatu hal yang “dia anggap salah” atau menemukan hal “yang dia anggap sulit”, dia tidak akan membicarakannya dengan orang tuanya.

Contoh lainnya adalah orang tua yang selalu melarang anaknya bergerak sejak kecil. Si anak 2 tahun sedang belajar naik tangga, lalu orang tuanya berteriak ”Awas, jatuuuhhh!!” dan anak itupun kaget . Anak itu terus mencoba dan orangtuanya mengulangi teriakannya dan mengambil anak yang sedang belajar naik tangga. Si anak akan belajar bahwa naik tangga itu berbahaya. Jika dilakukan berulang kali maka dapat dipastikan si anak akan takut mencoba untuk naik tangga karena takut jatuh atau takut akan teriakan orangtuanya. Ini juga proses hypnosis. Keadaan di mana sang anak tersugesti dengan peristiwa tersebut dapat dikategorikan sebagai peristiwa hypnosis orang tua kepada anak.


Dapat dibayangkan, sebagai orang tua tentunya setiap hari kita selalu berhubungan dengan anak kita baik melalui verbal dan non verbal. (Catatan: Verbal melalui berbicara, Non-verbal melalui perilaku atau aktivitas yang dilihat). Percaya atau tidak, setiap hari kita sebagai orang tua selalu menghypnosis anak kita sendiri. Karena seringnya, hal itu dapat menjadi suatu nilai dasar baru bagi sang anak. Seperti halnya contoh yang sering kita temui, dimana anak menjadi konsumtif karena tersugesti oleh iklan produk yang sama yang dimunculkan berkali-kali di layar televisi. Dari berbagai sumber manapun selalu dikatakan bahwa sebagai orang tua, kita harus berhati-hati dengan perilaku kita terhadap anak kita. Perilaku kita menjadi contoh bagi anak kita.  Anak kita terinduksi oleh perilaku, tindak tanduk dan bagaimana cara komunikasi kita dengan mereka.


Anak kecil, pada dasarnya jiwanya bersih dan bagaikan kertas putih. Lingkungan di sekitarnyalah yang membentuknya menjadi individu tertentu. Bagi kita sendiri, nilai dasar kita saat ini adalah hasil bentukan dan pengaruh dari lingkungan di sekitar kita, dimana lingkungan terdekat kita adalah keluarga kita sendiri.

Erik Erikson (bukan Milton H. Erickson), yang mengklasifikasikan beberapa tahap perilaku dan karakter anak, mengatakan bahwa pada umur-umur di bawah sepuluh tahun atau sebelum remaja, adalah perioda anak bereksplorasi dan mereka masih belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah (jika tidak diberikan pemahaman), mereka lebih mengerti suatu pola logika “karena” dibandingkan “kalau”. Misalkan pada peristiwa di atas, mungkin sang anak dapat menyimpulkan, “Saya tidak hati-hati karena saya bodoh” atau “Saya bodoh karena saya tidak hati-hati”, bukannya “Saya bodoh kalau tidak hati-hati” atau “Kalau saya hati-hati, saya tidak bodoh”. Sangat tipis sekali perbedaannya. Yang tertangkap pada sang anak pada saat itu adalah “saya bodoh”. Dan jangan heran pada setiap kesempatan berikutnya sang anak akan selalu merasa bodoh, sehingga jika diberikan suatu tantangan, anak tersebut tidak berani bertindak karena merasa bodoh dan merasa tidak mungkin melakukan suatu pekerjaan.


Seorang anak kecil, karena pikirannya masih murni, sangat sugestif terhadap suatu ide baru. “Saya bodoh”, “Saya tidak hati-hati”, merupakan suatu ide baru bagi sang anak untuk menerapkannya. Sangat disayangkan, bila kita sebagai orang tua tidak menyadari hal ini. Dari beberapa kasus yang ada, masalah percaya diri biasanya diakibatkan dari masa kecil. 


Lalu apa yang salah? Maksud orang tua memang benar, tetapi biasanya, cara penyampaiannya yang kurang tepat, sehingga anak salah menangkap apa yang dimaksud orang tuanya. Memang sebagai orang tua, biasanya, karena kita sedang lelah, lalu mengambil jalan pintas saja, agar sang anak tidak bertindak hal yang berbahaya tanpa memberi pengertian atau pemahaman yang benar.


Kita selalu berasumsi bahwa setiap orang selalu mengerti maksud kita. Padahal, apa yang anda katakan tadi mungkin tidak tepat dengan keinginan orang tadi. Hal ini adalah kejadian sehari-hari. Banyak sekali kesalah pahaman yang berbuntut pertikaian yang disebabkan oleh masalah komunikasi sederhana seperti ini. Seperti halnya dalam suatu proses hypnosis, komunikasi sangat penting. Sebaliknya, apabila kita dapat berkomunikasi dengan baik maka kesalah pahaman tidak akan terjadi.


Jadi apa yang kita sampaikan belum tentu dapat ditangkap dengan mudah oleh orang lain, apalagi oleh seorang anak kecil. Suatu kata “tidak”, dapat menghasilkan puluhan arti tergantung pada cara penyampaian, intonasi, situasi dan juga kondisi dan keadaan si penerima pesan.

Dengan begitu kita harus bertindak atas dasar perasaan seorang anak, bukan atas dasar perasaan kita sebagai orangtua. Karena apa yang kita anggap baik belum tentu seperti yang diinginkan oleh anak kita secara pasti. Dengan kata lain, kita bertindak atas dasar persepsi kita sendiri, bukan dari persepsi seorang anak.


Sekali lagi, proses hypnosis adalah suatu seni,  metoda, dan teknik berkomunikasi yang sangat persuasif dan sugestif, yang tujuannya adalah apa yang menjadi maksud kita dapat dipahami dengan mudah oleh lawan bicara kita. Masalah dia akan melaksanakan apa yang kita maksudkan atau tidak, tergantung pada nilai dasar, keinginan dan motivasinya.

Jika ditinjau dari istilah Hypnoparenting, Hypnoparenting berasal dari kata hypnosis dan parenting. Hypnosis berarti upaya mengoptimalkan pemberdayaan energi jiwa bawah sadar (dalam hal ini untuk berkomunikasi) dengan mengistirahatkan energi jiwa sadar pada anak (komunikasi mental) maupun pada pembinanya (komunikasi Parenting adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan mendidik dan mendukung mendukung fisik, emosi, sosial, spiritual dan perkembangan intelektual anak dari bayi sampai dewasa.

astral). Parenting berarti segala sesuatu yang berurusan dengan tugas-tugas orangtua dalam mendidik, membina, dan membesarkan anak. Pembinaan anak ini terdiri dari tiga bidang, yakni fisik, mental, dan spiritual sejak merencakan kehamilan sampai masa remaja oleh orang-orang di sekitarnya (orang tua, wali, guru, dsb).

Dengan demikian, hypnoparenting dapat diartikan sebagai pembinaan anak dengan memperhatikan pengaruh hypnosis untuk selalu menanamkan rekaman/sugesti positif pada jiwa bawah sadar anak. Pikiran anak-anak yang cenderung belum mampu berpikir secara logis, cenderung memberikan respon terhadap stimulus yang diterima, tanpa pertimbangan yang terlalu jauh. Kata-kata, tindakan dan sikap orang tua 95% dan masuk dengan mudahnya ke pikiran bawah sadar anak-anak seolah-olah tanpa disaring.Sedangkan parenting adalah segala sesuatu yang berurusan dengan tugas-tugas orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak. Tugas kita sebagai orangtua dalam mendidik dan membesarkan anak sebenarnya sangat berat dan penuh liku-liku tantangan. Sayangnya kita hanya berbekal pengalaman sebagai seorang anak yang dulunya dididik dan dibesarkan oleh orangtua kita. Sebagian besar pola asuh dan pola didik orangtua kepada kita akhirnya mewarnai tugas kita sebagai orangtua. Kita memperlakukan anak kita sebagaimana orangtua memperlakukan kita dulunya. Seharusnya kita harus memperlakukan anak sebagaimana kita dulu ingin diperlakukan oleh orangtua kita.

Oleh karena itu dengan HypnoParenting kita berusaha mempetakan dan membuat sistemasi atas segala hal yang berhubungan dengan tugas kita sebagai orangtua ditinjau dari sudut pandang cara kerja pikiran dan pengaruhnya terhadap masa depan seorang anak. Mengapa kita meninjaunya dari sudut pandang cara kerja pikiran? Karena segala sesuatu berakar dari pikiran. Manusia, anak-anak sampai dewasa, melakukan segala sesuatu karena punya pikiran. Segala hal tentang teori pertumbuhan dan perkembangan anak tak akan berhasil jika kita gagal memahami cara kerja pikiran.

Sekarang kembali kepada diri kita, cobalah mulai diperhatikan dan dirasakan, bagaimana selama ini cara kita menyampaikan pesan atau berkomunikasi dengan anak kita?  Sadarilah, proses komunikasi yang kita lakukan sehari-hari dengan anak kita adalah juga merupakan suatu proses hypnosis, karena kita menanamkan sugesti atau ide baru yang selama ini tidak ada dalam kamus mereka sebelumnya. Jika anak “terhypnosis” dengan pesan yang negatif, jangan heran bahwa anak tadi bisa memiliki ide dan mendalami pesan negatif tadi dan menjadi nilai dasar yang akan terbawa terus sampai dewasa. Maka berhati-hatilah, mari bersama-sama melakukan yang terbaik, bahkan untuk hal yang dianggap kecilpun (celetukan negatif) akan berpengaruh pada jiwa anak yang sugestif. Berusahalah untuk selalu memberikan sugesti positif, agar mereka menjadi anak yang bermental kuat, berpikiran positif, bersemangat dan tidak takut tantangan.