Cara Mengasah Selera Humor Anak

Pada beberapa kesempatan, terkadang anak balita menunjukkan polah yang spontan namun lucu sehingga membuat kita tak sanggup menahan tawa. Atau, terkadang ia mengucapkan kata-kata yang lucu sehingga kita tergelak. Di usia SD, sebagian anak bahkan terampil melontarkan tebak-tebakan yang jawabannya ternyata di luar dugaan dan lucu. 

Ya, ketika kita mendengar atau melihat anak melucu, seringkali secara spontan kita tersenyum bahkan tertawa sampai terbahak. Hal-hal yang lucu atau humor ternyata memberi dampak positif yang demikian besar.

Ada beberapa teori yang menjelaskan peran dari humor terhadap diri kita. Salah satunya, Allan Reiss, MD., seorang professor psychiatry and behavioral sciences di Stanford University School of Medicine, yang mengatakan bahwa humor merupakan komponen penting dalam kesehatan secara medis maupun secara emosional, memeliharan hubungan, mengembangkan fungsi kognitif.

Jadi humor sebagai komponen emosi positif, bagi anak-anak selera humor yang kuat dapat membantu mereka untuk lebih tangguh (resilient).

BERDAMPAK POSITIF

Kalau kita bahas lebih lanjut, ada beragam dampak positif dari humor yang bisa dipetik oleh anak-anak. Di antaranya adalah humor dapat memberikan pengaruh positif dalam perkembangan emosi, sosial dan kesehatan.

Berkembangnya selera humor pada anak akan membantu mereka untuk melihat dari berbagai perspektif, berperilaku spontan, menerima perbedaan pemikiran dan mempunyai cara berfikir yang berbeda, mampu menjalani berbagai aspek kehidupan, serta tidak membawa diri mereka ke hal yang terlalu serius.

Anak-anak dengan selera humor yang berkembang dengan baik akan lebih bahagia dan optimis, mempunyai self-esteem yang tinggi dan mampu menerima perbedaan dengan baik.

Selain itu mereka yang menghargai dan mampu berbagi humor, akan lebih disenangi oleh teman-teman sebayanya dan akan mampu menghadapi tantangan, misalnya bila pindah ke kota lain atau ketika diganggu atau di bully oleh teman di tempat bermain.

Dalam beberapa penelitian, seseorang yang lebih banyak tertawa akan lebih sehat. Mereka lebih sedikit mengalami depresi dan bahkan lebih mampu bertahan dalam menghadapi suatu penyakit maupun masalah fisik. Tertawa juga membantu seseorang untuk meningkatkan fungsi imunitas tubuh.

ASAH SEJAK DINI

Nah, selera humor sebenarnya dapat diasah sejak usia dini. Humor pada anak-anak akan mengalami perbedaan dalam setiap tahapan usianya. Humor yang diberikan pada anak bayi belum tentu menyenangkan bagi anak balita. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pada usia bayi, pada awalnya mereka akan bereaksi terhadap humor yang berhubungan dengan permainan fisik, seperti digelitik (tickling). Selanjutnya, mereka akan mulai memberi respons terhadap perilaku “lucu” yang dilakukan orangtuanya. Misalnya, membuat raut wajah lucu dan sejenisnya.
  2. Pada usia batita, mereka masih menyenangi permainan fisik seperti digelitik atau permainan cilukba. Tetapi saat ini mereka sudah mengerti bahasa sehingga mulai menirukan suara-suara atau senandung dan kata-kata yang lucu. Terkadang melakukannya untuk membuat kita atau orang dewasa di sekitarnya tertawa.
  3. Pada anak usia sekolah, mereka mulai menanggapi humor dengan cara yang sama dengan orang dewasa. Mereka menyukai teka-teki/ tebak-tebakan kata, dan slapstick comedy. Mereka akan mengulang-ulangnya kepada kita dan mengharapkan kita untuk bereaksi yang sama pada saat pertama kali mereka melakukannya.

AKTIVITAS DAN PERMAINAN JENAKA

Nah, Permainan yang dapat orang tua lakukan bersama anak dalam mengasah selera humor anak cukup beragam dan dapat berbeda-beda disetiap tahap perkembangan atau usia anak.

Ada beberapa cara sederhana yang dapat kita lakukan bersama anak untuk menumbuhkan selera humornya. Di antaranya adalah: 

  1. Merayakan hari yang berhubungan dengan keriaan, seperti memanfaatkan tanggal 1 April sebagai hari untuk bercanda dengan anak dan seluruh anggota keluarga. Tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya di hari lain yang direncanakan sebelumnya sebagai hari bercanda. Kita juga dapat membuat ritual dengan memberikan/bertukar hadiah yang kita anggap lucu kepada anggota keluarga.
  2. Menyanyikan bersama lagu-lagu dengan mengubah  kata atau kalimat/liriknya atau menyuarakan dengan suara yang lucu sehingga memancing anak untuk tertawa.
  3. Menceritakan cerita yang lucu yang kita alami. Hal ini dapat dilakukan pada saat makan malam bersama atau pada saat berkumpul bersama. Ceritakan tentang kejadian lucu yang kita alami atau situasi yang kita rasa lucu yang terjadi pada hari itu. Bisa kejadian yang terjadi pada kita sendiri atau kejadian lucu yang kita lihat sewaktu di luar rumah saat menjemput anak dari sekolah, misalnya.
  4. Bersama memilih dan menonton film komedi. Kita sebagia orangtua dapat membantu anak untuk mengenali dan mengajarkan perkataan-perkataan lucu yang bisa/tidak diterima oleh masyarakat. Serta bentuk kata/tindakan kasar yang harus dihindari.
  5. Bersama membaca buku-buku yang lucu. Tertawa bersama ketika membaca bagian yang lucu. Hal ini akan membantu anak mengidentifikasi humor dan mengajak mereka untuk tertawa lepas.

(hil)

Foto: freepik.com