Hoax, Kabar Bohong Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Dunia sedang gonjang-ganjing karena adanya virus corona Covid-19 yang merebak. Informasi pun berseliweran tiada henti terkait wabah ini. Sayangnya, beberapa kabar tentang virus corona yang menyebar melalui sosial media ternyata tidak jelas faktanya. Bahkan, boleh dibilang kabar bohong atau biasa kita sebut hoax.

Pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, sudah menemukan beberapa pengedar kabar hoax ini. Semoga ada tindakan yang bisa memberikan efek jera bagi mereka. Namun, isu-isu hoax tersebut begitu menyeruak hingga ke berbagai lapisan masyarakat seakan sulit dibendung.

Hingga saat ini memang penyebaran hoax isu kesehatan terbilang banyak beredar di masyarakat. Bahkan, berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informasi, hoax  terkait isu kesehatan berada diposisi ketiga, setelah isu hoax tentang politik dan pemerintahan. Jumlahnya sampai ratusan hoax.

Permasalahannya, isu tentang kesehatan terbilang sensitif sehingga masyarakat mudah percaya dan meyakini padahal tidak diketahui kebenarannya.  Ini yang bisa berdampak fatal.

Tak hanya itu, meyakini informasi hoax bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Menurut seorang psikiater forensic, Vasilis K. Pozios, MD., hoax bisa memicu perasaan marah bahkan depresi.

Pasalnya,  hoax atau informasi palsu itu memanipulasi opinik publik dan memancing respons emosional dari orang yang membaca atau menontonnya. Alhasil, bisa memicu perasaan marah, cemas, curiga, depresi bahkan post traumatic stress syndrome (PTSD).

Masalahnya, hoax atau kabar bohong ini begitu mudah tersebar di aplikasi pesan, media sosial dan situs-situs internet.  Orang dewasa, anak dan remaja tak terkecuali jadi korban kabar bohong ini. Bila tidak disaring  dengan baik, bisa memengaruhi  kesehatan mental.

Sebuah studi yang dilakukan Universitas di Pensilvania, dengan responden sebanyak 143 remaja diteliti terkait penggunaan media sosial. Hasilnya, mereka yang jarang menggunakan media sosial memiliki kesehatan mental yang lebih baik daripada yang sering menggunakan media sosial.

Mereka yang sering menggunakan media sosial juga menunjukkan gejala takut kehilangan, kesepian, cemas, depresi, kurang konsentrasi, kurang kepercayaan diri. Karena itu, aak-anak dan remaja harus diajarkan bagaimana menanggapi hoaks dengan baik. Yaitu, dengan membaca sebuah informasi terlebih dahulu dengan cermat tanpa langsung menyebarkannya.  Termasuk hoax yang bertebaran tentang isu wabah corona sekarang ini.

Kemudian, perhatikan juga situs yang menyebarkan berita tersebut, apakah terpercaya atau tidak. Pikirkan juga apakah berita tersebut berguna bagi masyarakat atau tidak, atau hanya mengujarkan kebencian antar-kelompok. Anak dan remaja juga harus diajarkan memilah berita yang positif dan negatif.

Selain itu, anak-anak juga harus dibatasi dalam menggunakan media sosial, dan lebih banyak aktif di dunia nyata. Itu karena manfaat yang akan diperoleh cukup banyak. Misalnya, anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik bersama teman sebaya, saudara, juga dengan Anda sebagai orang tua. Selain itu, membatasi anak dan remaja bermedia sosial juga mencegah agar hoaks tidak berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Oleh karena itu, selalu awasi dan perhatikan informasi apa yang dibaca dan diterima oleh anak-anak Anda. Selain itu, batasi pula penggunaan media sosial mereka dalam satu hari. Jangan sampai anak dan remaja mengalami depresi dan stres karena kebiasaan membaca hoaks.

Foto : freepik.com

Cegah Anak dan Remaja Alami Stres Kala Wabah Corona

Wabah penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) mungkin membuat stres bagi sebagian orang. Ketakutan dan kecemasan tentang suatu penyakit dapat luar biasa dan menyebabkan emosi yang kuat pada orang dewasa dan anak-anak.

Setiap orang bereaksi berbeda terhadap situasi yang membuat stres. Bagaimana merespons wabah dapat bergantung pada latar belakang Anda. Adapun individu yang mungkin merespons lebih kuat terhadap tekanan krisis, di antaranya adalah:

• Orang tua dan orang dengan penyakit kronis yang berisiko lebih tinggi untuk COVID-19

• Anak-anak dan remaja

• Orang yang membantu menangani COVID-19, seperti dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya, atau pasien.

• Orang yang memiliki kondisi kesehatan mental, termasuk masalah dengan penggunaan narkoba

Stres selama wabah penyakit menular dapat mencakup beberapa hal, yaitu:

• Takut dan khawatir tentang kesehatan sendiri dan kesehatan orang yang Anda cintai

• Perubahan pola tidur atau makan

• Sulit tidur atau berkonsentrasi

• Memburuknya masalah kesehatan kronis

• Meningkatnya penggunaan alkohol, tembakau, atau obat-obatan lainnya.

Nah, menjaga kesehatan mental diri sendiri dan keluarga dapat membantu Anda mengatasi stres.  Berikut ini yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan psikis diri :

• Beristirahatlah dari menonton, membaca, atau mendengarkan berita, termasuk media sosial. Mendengar tentang pandemi itu berulang kali bisa membuat kesal.

• Jaga tubuh Anda. Ambil napas dalam-dalam, regangkan, atau bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Cobalah untuk makan makanan yang sehat dan seimbang, berolahraga secara teratur, istirahat cukup dan hindari obat-obatan.

• Luangkan waktu untuk bersantai. Coba lakukan beberapa aktivitas lain yang Anda sukai.

• Berkomunikasi dengan orang lain. Berbicaralah dengan orang yang Anda percayai tentang kekhawatiran Anda dan bagaimana perasaan Anda.

Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda jika stres menghalangi kegiatan sehari-hari Anda selama beberapa hari berturut-turut.

Bagaimana dengan anak-anak?

Sebagian anak-anak dan remaja bereaksi  pada apa yang mereka lihat dari orang dewasa di sekitar. Ketika orang tua menanggapi COVID-19 dengan tenang dan percaya diri, mereka juga akan merasakan hal yang sama.

Tidak semua anak dan remaja merespons stres dengan cara yang sama. Beberapa perubahan umum yang harus diperhatikan di antaranya:

• Menangis berlebihan atau iritasi pada anak kecil

• Kembali ke perilaku yang telah mereka lalui (misalnya, mengompol)

 • Kekhawatiran atau kesedihan yang berlebihan

• kebiasaan makan atau tidur yang tidak sehat

• Perilaku lekas marah

• Sulit konsentrasi pada pelajaran sekolah

• Kesulitan fokus dan perhatian

• Menghindari kegiatan yang menyenangkan

• Sakit kepala yang tidak dapat dijelaskan atau nyeri tubuh

Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak mengatasi stres, yaitu :

• Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak atau remaja Anda tentang wabah COVID-19. Jawab pertanyaan dan bagikan fakta tentang COVID-19 dengan cara yang bisa dipahami anak atau remaja .

• Yakinkan anak atau remaja Anda bahwa mereka aman. Biarkan mereka tahu bahwa itu baik-baik saja jika mereka merasa kesal. Ceritakan kepada mereka bagaimana Anda mengatasi stres sendiri sehingga mereka dapat belajar cara mengatasinya.

• Batasi paparan keluarga Anda pada liputan berita acara, termasuk media sosial. Anak-anak mungkin salah mengartikan apa yang mereka dengar dan dapat ketakutan tentang sesuatu yang tidak mereka pahami.

• Cobalah untuk mengikuti rutinitas rutin. Jika sekolah ditutup, buat jadwal untuk kegiatan belajar dan kegiatan santai atau menyenangkan.

• Jadilah panutan. Beristirahat, banyak tidur, berolahraga, dan makan dengan baik. Terhubung dengan teman dan anggota keluarga Anda. (man)

Referensi: cdc.gov

Foto ilustrasi : freepik.com