Cara Mengatasi Depresi pada Anak Remaja

Tak sediki yang menganggap bahwa depresi melulu terjadi pada kalangan dewasa. Padahal, tidaklah demikian. Bahkan, anak usia remaja bisa mengalami depresi. Akan tetapi, orang tua tidak menyadari dan tak mengenali tanda-tanda depresi pada anaknya.

Lalu apa saja tanda atau gejala depresi pada anak? Sebenarnya ada berbagai kiat untuk mengetahui perbedaan kondisi emosi yang nomal dengan  masalah atau gangguan emosi. Menurut Dr. Navina Evans, konsultan psikiatris di London’s Capio Nightingale Hospital dan the East London and City Mental Health Trust, adapun gejala yang keliatan adalah berupa mood yang rendah dan rasa tak bahagia.  Selain itu, tanda lainnya adalah mudah menangis atau tersinggung meski tidak terkait dengan suatu hal yang spesifik.

Lalu, perhatikan dengan seksama reaksi anak remaja ketika mengalami kejadian yang menyedihkan. Misal, bila ada anggota keluarga yang meninggal dunia atau peristiwa lainnya yang membuat duka, tentu wajar bila merasa sedih karena hal itu. Akan tetapi, jika reaksi yang muncul terlalu berlebihan atau ekstrem dan berlangsung lama, boleh jadi ia mengalami depresi.

Dr. David Kingsley, konsultan psikiatris remaja di Cheadle Royal Hospital’s Young Persons’ Service menjelaskan, bila mood anak remaja mempengaruhi fungsi sehari-hari maka ini pertanda ia mengalami gangguan atau masalah mental yang harus diketahui penyebabnya dan bagaimana penanganan yang baik.

Menurut Dr. David,  bila seorang anak remaja kehilangan keteratarikan pada hal-hal yang dulu ia senangi, atau ada persoalan di sekolah, ini sebagai pertanda harus segera diketahui akar masalahnya. Menutup diri dari lingkungan sosial juga merupakan tanda-tanda depresi pada remaja.

Lalu, bagaimana  cara mengatasi anak remaja yang mengalami depresi?  Jika Anda merasa anak remaja mengalami depresi, sebenarnya susah untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Menurut Dr. Evans, hal pertama yang harus dilakukan adalah coba untuk membicarakannya dengan anak.

Kemudian, kita coba cari tahu apa yang menjadi masalahnya. Apapun penyebabnya, jangan menyepelekannya. Mungkin hal tersebut terkesan sepele bagi orangtua, akan tetapi mungkin merupakan suatu masalah besar bagi anak remaja. Jika orang tua masih merasa khawatir setelah berbicara dengan anak, kunjungi ahli.

Menurut Dr. Kingley, jika diperlukan penanganan lebih jauh, ada berbagai pilihan, seperti konseling untuk remaja, terapi keluarga atau cognitive behavioral therapy, yaitu jenis terapi berbicara. Ahli juga mungkin akan mempertimbangkan pengobatan antidepresan, namun hanya pada kasus yang serius.

Sementara itu, jika orangtua merasa khawatir anak mengalami depresi, cobalah untuk memberikan dukungan. Menurut Dr. Kingsley, semua anak-anak dan remaja butuh untuk merasa dihargai dan dicintai. Mereka perlu memiliki hubungan dengan orangtua di mana mereka dapat merasa dihargai secara positif. Hal ini secara jangka panjang dapat melindungi anak dari depresi.

Foto : freepik.com

Waspadai, Orangtua Depresi Bisa Mengganggu Mental Anak

Siapapun pasti tak mau mengalami depresi .  Namun, kondisi ini bisa terjadi pada siapapun. Mungkin kita pernah mengalami depresi, sebagai orang tua yang memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kita mendapatkan tekanan sehingga menjadi depresi.

Banyak orang menganggap remeh dan mengabaikan tanda-tanda depresi. Padahal harus segera ditangani agar tidak berdampak negatif ada orang-orang terdekat. Apalagi kita sebagai orang tua yang sudah memiliki anak untuk jangan pernah memandang dengan sebelah mata soa depresi. Pasalnya, ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak Anda.

Berikut adalah dampak terhadap anak bila orang tua mengalami depresi:

  1. Bayi yang depresi akan mengalami beberapa gangguan tidur, susah makan dan minum ASI, sering menangis dan gangguan pertumbuhan di antaranya kurang berat badan. Anak balita memiliki gangguan perilaku, emosi yang meledak-ledak, gangguan mood, hiperaktivitas (ADHD), dan gangguan defisit atensi. Selain itu, untuk anak remaja sangat berisiko mengalami gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan mood, dan kecanduan (rokok, alkohol, dan obat-obatan).  

Pada tahun 2011 penelitian yang diterbitkan dalam jurnal internasional Pediatrics menunjukkan bahwa kemungkinan anak mengalami gangguan perilaku dan emosi naik dua kali lipat jika sosok ayah menderita depresi. Sementara, kalau ibunya yang menderita depresi, risiko anak mengalami gangguan perilaku dan emosi mencapai tiga kali lipat. Kalau kedua orangtuanya depresi, kemungkinan tersebut meroket hingga empat kali lipat.

  • Prestasi anak di sekolah menurun. Pada 2016, studi yang dipublikasikan oleh Journal of the American Medical Association Psychiatry membuktikan bahwa depresi orangtua berakibat buruk pada prestasi anak di sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal yaitu :
  1. gangguan sistem saraf pusat (neurodevelopmental problem) sehingga kemampuan berbahasa anak menjadi terbatas mengakibatkan anak kesulitan mengikuti pelajaran. Sering kali anak menjadi tidak naik kelas.
  2. Anak sulit konsentrasi dan tidak punya waktu belajar karena disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga atau mengurus adiknya yang masih kecil. Orang tua yang depresi membuat mereka terlantarkan dan tidak terurus.
  • Anak menjadi kurang percaya diri dan memandang rendah dirinya sendiri. Ini sebagai dampak dari anak yang sering menjadi sasaran depresi orang tua. Orangtua bersikap negatif dan selalu mengkritik anak, sehingga anak memiliki pola pikir yang negatif. Tak jarang hal ini yang menjadikan anak menyalahkan dirinya sendiri bahwa orang tua depresi karena dirinya. Kondisi seperti ini menyebabkan anak menjadi sulit berteman dan mencapai cita-citanya untuk mendapatkan pekerjaan atau pasangan. Mereka memilih untuk menyendiri dan memiliki dunia mereka sendiri.
  • Depresi menurun secara genetik ke anak. Lingkungan keluarga yang tidak sehat. Orang tua yang depresi dan sering bertengkar bisa menjadi pemicu anak ikut depresi secara tidak langsung. Alhasil, anak lahir dengan kondisi sudah terganggu mentalnya. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan anak nantinya.

Meski demikian, bisa kita usahakan untuk ditanggulangi sebelum terlambat dengan cara menangani depresi orang tua terlebih dahulu dengan berkonsultasi pada ahlinya. Setelah itu, barulah kita menangani anak dengan berkonsultasi pada guru konseling di sekolah dan psikolog anak. Mengapa demikian?  Karena anak akan mengalami perubahan dengan cepat dissaat orang tua sudah lebih baik dalam mengontrol emosi dan depresinya. etiap apa yang terjadi pada orang tua akan menjadi contoh pada anak-anaknya.

Ilustrasi : freepik.com

Kenali 6 Tanda Gangguan Mental pada Anak

Bagaimana cara mengidentifikasikan penyakit mental anak? Hal ini merupakan pertanyaan yang sering kita tanya bila menemukan sesuatu yang kurang normal pada anak, karena gejalanya berbeda dengan orang dewasa. Akan tetapi, sulit membedakan dari perilaku normal anak lainnya. Kita sebagai orang tua harus mengerti permasalahan anak, untuk menemukan cara yang tepat untuk merawat anak kita. Perlu beberapa hal untuk memastikan perkembangan dan pertumbuhan anak agar berjalan lancar.

Ini merupakan 6 tanda peringatan penyakit mental yang tidak boleh diabaikan :

1. Perubahan perilaku

Cara mudah menemukan perubahan besar pada perilaku dan kepribadian anak yaitu  melalui aktivitas mereka yang kita pun dapat menyadarinya. Anak-anak cenderung menjadi agak kasar, sering bertengkar, dan menggunakan senjata saat bermain, atau bahkan sering menggunakan kata-kata kasar untuk menyakiti orang lain. Serta  mereka menjadi sering marah dan frustasi pada orang lain.

2.Perubahan mood

Anak-anak memiliki mood yang bisa berubah-ubah di setiap waktu dan secara tiba – tiba. Akan tetapi perubahan mood sedih yang berlangsung selama 2 minggu dan berakibat pada hubungan keluarga ataupun pertemanan ini adalah gejala umun dari depresi atau kelainan bipolar.

3.Kesulitan berkonsentrasi

Anak yang memiliki penyakit mental sulit untuk duduk diam untuk belajar maupun membaca. Mereka sulit fokus atau memperhatikan dalam waktu yang lama. Ini menjadi penyebab prestasi sekolah menurun dan perkembangan otak yang ikut menurun. Mereka suka mengerakan salah satu anggota tubuh untuk mengurangi rasa cemas yang mereka miliki.

4.Penurunan berat badan

Penyebab menurunnya berat badan menjadi efek negatif yang serius pada kesehatan anak-anak. Mereka akan merasa kehilangan nafsu makan, muntah, dan gangguan makan. Sehingga mereka akan terlihat lebih kurus dan lesu.

5.Perubahan pada gejala fisik

Anak yang menderita penyakit mental akan sering merasakan sakit kepala atau sakit perut. Selain itu mereka juga akan mengalami flu, demam, atau penyakit lainnya dan jangka waktu lebih sering dibandingkan anak-anak yang normal. Yang lebih diperhatikan, mereka tidak segan-segan melukai diri sendiri, seperti memotong atau mencelakakan diri sendiri. Mungkin kasus yang lebih serius mereka memiliki pikiran untuk mencoba bunuh diri atau melukai orang lain.

6.Perasaan yang intens

Rasa takut yang berlebihan tanpa alasan sering dihadapi anak yang memiliki penyakit mental. Tanda ini dapat dilihat seringnya menangis, berteriak, atau mual disertai dengan perasaan yang intens yang dapat menyebabkan beberapa efek fisik, kesulitan bernapas, jantung yang berdebar atau bernafpas dengan cepat, ini dapat mengganggu aktivitas anak sehari-hari

Apa yang harus kita lakukan jika menduga gangguan kesehatan mental pada anak?

Saran pertama bila anak kita mengalami gangguan kesehatan mental adalah berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak mengenai gejala dan tanda-tanda pada anak kita ceritakan sejujurnya agar dokter dapat merekomendasikan perawatan atau pengobatan anak yang dibutuhkan.

Kedua adalah sebagai orang tua kita harus tetap positive thinking memberikan perhatian dan menjaga dengan baik anak kita. Berikan kasih sayang dan perhatian yang sangat diperlukan anak. Bukan hanya kita sebagai orang tua, teman-teman serta guru turut andil dalam memperbaiki kondisi mereka. Informasikan kepada orang-orang terdekat khususnya guru, teman-teman serta keluarga lainnya untuk  memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi Pada anak.

Ilustrasi : freepikcom

Penyebab Terjadinya Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Masa kanak-kanak bisa dibilang merupakan masa yang paling menyenangkan dalam hidup manusia.  Pada fase ini, sorang anak dapat memiliki banyak kesempatan dalam mengeksplorasi bakat dan minat nya tanpa harus mennanggung beban apapun. Dan tanpa disadari, hal itulah yang ternyata mempengaruhi masa depan pada si anak tersebut.

Namun, tampaknya tak sedikit anak-anak di seluruh dunia yang tidak mendapat kebahagiaan dalam hidupnya karena terjadi gangguan kesehatan mental. Hal tersebut biasanya disebabkan karena ketidak sadaran orang tua mereka bahwa anaknya tengah mengalami gangguan kesehatan mental.

Gangguan kesehatan mental pada anak sendiri bisa diindikasikan dengan beberapa gejala sebagai berikut :

  • Suasana hati pada anak yang berubah, biasanya anak akan bersedih dan kehilangan semangat dalam waktu yang cukup lama
  • Muncul ketakutan yang luar biasa pada diri anak
  • Perilaku yang berubah-ubah secara tak tentu dan tanpa alasan yang jelas. Bahkan, bisa saja anak itu jadi suka bertengkar dan ingin menyakiti orang lain
  • Penurunan kualitas fisik seperti sering pusing atau sakit perut, kehilangan konsentrasi dan nilai sekolah menurun, hngga sering merasa cemas dan khawatir
  • Suka menyakiti diri sendiri dan bahkan dalam beberapa kasus ada yang ingin mencoba bunuh diri.

Penyebab gangguan mental pada anak juga bisa berawal dari pengalaman yang tidak menyenangkan dari si anak. Bisa saja berupa bullying yang dilakukan teman-temannya di sekolah, mendapati perkataan yang menyakiti hati si anak, atau bahkan karena menjadi korban kekerasan/pelecehan oleh seseorang.

Perhatian orang tua yang sangat kurang pada anak-anaknya menjadi faktor utama dalam hal tersebut, sehingga anak mereka mengalami gangguan kesehatan mental.

Dilansir dari Mayo Clinic, anak-anak dapat mengalami berbagai kondisi kesehatan mental, termasuk:

  1. Gangguan kecemasan.

Anak-anak yang memiliki gangguan kecemasan seperti gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stres pasca-trauma, fobia sosial dan gangguan kecemasan umum hingga mengalami kecemasan sebagai masalah terus-menerus yang mengganggu kegiatan sehari-hari mereka.

  • Gangguan Makan.

Gangguan makan seperti anoreksia nervosa, bulimia nervosa dan gangguan makan berlebihan adalah kondisi yang serius, bahkan mengancam jiwa. Anak-anak dapat menjadi begitu sibuk dengan makanan dan berat badan sehingga mereka fokus pada hal lain.

  • Gangguan mood.

Gangguan mood seperti depresi dan gangguan bipolar dapat menyebabkan seorang anak merasakan perasaan sedih yang terus-menerus atau perubahan suasana hati yang ekstrem jauh lebih parah daripada perubahan suasana hati yang umum pada banyak orang.

  • Bipolar

Bipolar merupakan gangguan mental berupa perubahan yang terjadi secara drastik tanpa alasan yang jelas dan tak menentu. Contohnya jika sekarang si anak merasa sangat senang, maka nantinya ia bisa jadi sangat depresi secara tiba-tiba.

Sama seperti gangguan yang lain, bipolar juga disebabkan faktor genetik. Beberapa faktor lain yang menyebabkan bipolar adalah stress yang hebat, trauma akan sesuatu, dan kecanduan alkohol atau narkotika.

  • Skizofrenia

Pernah menonton film Joker? Maka film tersebut menggambarkan secara jelas pada orang yang mengalami gangguan ini. Skizofrenia merupakan gangguan mental kronis di mana si anak tidak menyadari bahwa kehidupan yang ia jalani merupakan kenyataan atau bukan. Beberapa faktor yang menyebabkan gangguan skizofrenia pada anak adalah faktor genetik, faktor lingkungan, pengaruh narkoba, dan kelainan otak.

Foto : freepik.com

Efek Corona, Cegah Panic Buying! Cukup Beli 4 Hal Ini

Pandemi global virus corona ini memang meresahkan warga dunia. Tak sedikit yang merasa was-was dan khawatir terkena infeksi Covid-19 karena proses penularannya yang kadang ‘tidak tampak’. Ya, sebagian kasus pasien awalnya tidak menunjukkan gejala signifikan. Bahkan, penularannya ‘gara-gara’ bersalaman tangan dengan kenalannya.

Kepanikan ini semakin menjadi ketika pemerintah menerapkan parsial lockdown. Hal ini membuat reaksi bagi beberapa orang untuk ‘panik buying’, membeli kebutuhan pangan untuk persediaan beberapa waktu ke depan. Hal yang wajar bila masih dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi, sangat disayangkan bila kemudian yang terjadi adalah ‘menimbun’ kebutuhan pokok tersebut untuk kepentingan sendiri, sementara pihak lain terlantar karena tidak kebagian. Kondisi bagaimana pun kita tetap dalam kondisi ‘waras’ karena gangguan kesehatan mental bisa terjadi karena dipicu berbagai hal. Salah satunya, panic buying ini.

Yang pasti, kita tak perlu terlalu panic berlebihan dengan kondisi semi lockdown seperti saat ini. Pasalnya, pemerintah akan menjamin ketersediaan pokok masyarakat. Jadi, cukup membeli sebatas kebutuhan pokok atau barang-barang yang betul diperlukan. Itupun tidak dibeli dengan berlebihan.

Nah, berikut ini tips dari times of India, apa saja kebutuhan pokok sehari-hari yang perlu disiapkan selama kondisi darurat pandemi corona Covid-19 ini, di antaranya:

  1. Beras

Mayoritas masyarakat kita mengonsumsi nasi.  Ya, beras menjadi salah satu kebutuhan utama yang harus tersedia di rumah. Namun sekali lagi, perhatikan seberapa  banyak beras yang harus dibeli. Bukan berarti kita membeli beras sampai berkarung-karung. Pastinya kita sudah bisa mengukur, dalam sebulan berapa banyak kebutuhan beras untuk keluarga. Nah, tinggal dihitung saja, misalnya stok beras kira-kira perlu mencukupi dalam waktu sekitar 2 bulan ke depan. Jadi paling tidak cukup membeli dua kali lipat dari biasanya. Tidak perlu berlebihan. Tidak perlu terlalu panik, ya!

Bila terlalu banyak membeli di luar kebutuhan, konon kualitas beras dan nilai gizinya bisa berkurang juga. Lebih baik, dana atau anggaran yang tersedia dialokasikan untuk membeli kebutuhan pokok yang penting lainnya.    

2. Sereal, Roti, dan  Telur

Sereal, roti dan telur, adalah bahan pangan yang dapat dikonsumsi dengan berbagai cara dan beragam kreasi. Selain itu, lengkapi juga dengan kebutuhan lain, seperti mentega, minyak goreng, atau bumbu masak yang memang dibutuhkan untuk proses mengolah masakan.

Jadi, tak perlu panic buying juga ya!  Cukup beli kebutuhan ini dalam jumlah dua kali lipat saja, untuk menjaga kesehatan tubuh selama pandemi corona. Sebagian bahan makanan ini pun bisa disimpan untuk beberapa waktu lalu. 

Selain itu, pangan dalam kemasan, misalnya makanan kaleng juga bisa merupakan solusi praktis saat kondisi darurat. Sama seperti tadi, cukup beli dua kali lipat makanan kaleng baik itu berisi ikan, buah dan sayuran.

3. Sayuran

Nah, beberapa jenis sayuran misalnya wortel, bawang, kentang, dan lainnya bisa bertahan untuk beberapa waktu lamanya bila disimpan. Sebagian jenis sayuran lainnya kurang dapat tahan lama. Pastikan disimpan dengan tepat agar ketika hendak diolah masih dalam kondisi yang baik.

4. Perlengkapan bersih-bersih

Selama melakukan isolasi atau karantina diri di rumah, tentu bukan berarti seharian berleha-laha. Beres-beres rumah tetap perlu dilakukan. Termasuk juga aktivitas kebersihan diri sehari-hari, misalnya mandi, gosok gigi, keramas dan sebagainya. Untuk itu, persiapkan juga perlengkapan bersih-bersih dan kebersihan diri. Di antaranya adalah sabun cuci piring, sabun pel, sabun cuci pakaian, sabun mandi, pasta gigi dan perlengkapan lainnya. Pastikan tidak membeli dalam jumlah berlebihan ya.

Sekali lagi , hindari panic buying, agar kesehatan mental kita tetap terjaga!

Foto : freepik.com