10 Tips Hemat Energi Saat #DiRumahAja

Pemerintah terus berupaya mengatasi pandemi COVID-19 dengan menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diharapkan bisa meminimalisir penyebaran COVID-19. Sejak kebijakan ini diberlakukan, masyarakat kini menjalani sebagian bahkan sepenuhnya aktivitasnya di rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah.

Namun sadarkah kita, dengan tidak pergi ke kantor, sekolah atau kegiatan luar lainnya, penggunaan listrik dirumah menjadi penting untuk diperhatikan. Ini supaya tagihan listrik bulanan tidak membengkak. Atau tak dibikin jengkel oleh suara meteran listik tanda habis pulsa yang pasti mengganggu telinga.

Dr Nurul Jannah, Dosen Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan, Sekolah Vokasi IPB University punya tips agar tetap hemat energi, khususnya di tengah kondisi pandemi ini.
“Matikan piranti elektronik yang tak dipakai, pakai lampu LED, selalu bersihkan lampu dari debu, pilihlah laptop daripada desktop, tetapkan suhu AC di suhu ideal, bersihkan kondensor filter dan coil AC secara teratur, atur suhu ideal kulkas, kurangi buka tutup kulkas, buatlah jadwal mencuci dalam seminggu dan gunakan listrik prabayar,” ujarnya.

Menurutnya, jika tidak digunakan, piranti elektronik seperti lampu, air conditioner (AC), charger handphone, komputer, kulkas, laptop, mesin cuci, kipas angin, setrika, mixer, blender dan lain-lain sebaiknya dimatikan. Putus arus listrik dari semua piranti elektronik dengan mencabut kabel listrik dari stop kontak.


Ganti semua lampu pijar dengan lampu hemat energi. Dengan menggunakan lampu LED, penggunaan listrik bisa lima kali lebih efisien dari lampu pijar. Selain itu, lampu juga mesti diperhatikan kebersihannya. Seringkali debu dan kotoran hinggap menutupi permukaan lampu. Padahal debu bisa mengurangi sampai lima persen tingkat penerangan.

“Laptop tak hanya menang dari sisi kepraktisan, namun juga hemat energi pastinya. Laptop hanya butuh 10 persen energi listrik daripada desktop. Namun jika terpaksa menggunakan desktop, sebaiknya pilih layar dengan tekonologi Liquid Crystal Display (LCD),” terangnya.

Sementara itu, penggunaan AC mestinya diperuntukkan agar ruangan kita sejuk, bukan dingin. Suhu ideal AC berada pada sekitar 24°C sampai dengan 28°C. Semakin rendah suhu kita atur, maka tentu semakin besar juga energi listrik yang dikeluarkan. AC juga mesti dirawat. Bersihkan kondensor filter dan coil AC secara teratur, karena jika AC kotor sudah pasti akan boros energi.

Sama seperti AC, penggunaan kulkas juga harus diatur suhunya. Idealnya suhu kulkas berada antara 2°C sampai dengan 4°C dan suhu freezer di -17°C sampai -15°C. Jangan sering-sering membuka kulkas jika tidak perlu. Hal ini bisa membuat 75 persen energi terbuang bila kulkas dibuka terlalu lama/sering.

“Untuk urusan mencucui baju, agar tetap hemat, gunakan mesin cuci sesuai kapasitas. Perhatikan kemampuan mesin cuci agar tidak membebani kinerjanya yang berakibat energi listrik jadi banyak terkuras. Penggunaan mesin cuci di luar kapasitas kemampuannya juga tentu akan membuat mesin cuci menjadi cepat rusak. Terakhir, adalah gunakan listrik prabayar. Baik listrik prabayar maupun pascabayar masing-masing punya kelebihan. Namun dengan menggunakan listrik prabayar, kita bisa mengatur penggunaannya secara hemat sehingga tak hanya energi tapi juga kantong yang jadi tak banyak terkuras, “ jelasnya.

Dr Nurul berpesan, “Dengan kita hemat energi, kita bisa save money, save energy for future. Kita juga berperan positif dalam pengurangan emisi karbondioksida dan ikut mencegah pemanasan global.”

Foto: freepik.com