Enam Rekomendasi Hidup Beradaptasi dengan Covid-19

Berdasarkan data pemerintah, sudah lebih dari 23 ribu kasus pasien terinfeksi virus corona aau covid-19 di Indonesia. Vaksin belum akan tersedia setidaknya sampai dengan akhir 2021. Program imunisasi akan memerlukan waktu cukup lama lebih kurang dua tahun berikutnya untuk seluruh populasi. Sementara kehidupan harus terus berjalan. “Sampai vaksin ditemukan dan imunisasi massal dilakukan masyarakat harus beradaptasi dengan Covid-19 melalui mitigasi yang terkontrol dan terukur berbasis data,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Laksana Tri Handoko.

LIPI memberikan enam rekomendasi untuk hidup beradaptasi dengan Covid-19. Rekomendasi pertama adalah kontrol dan mitigasi yang terukur untuk pengaktifan aktivitas ekonomi masyarakat. “Fokusnya di screening massal di simpul mobilitas publik berbasis Rapid Diagnostic Test atau RDT dan uji Polymerase Chain Reaction atau PCR di lokasi kerumunan permanen seperti rumah sakit, sekolah dan kampus, dan perkantoran serta industri,” jelas Handoko.

Kedua, penanganan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dengan data akurat, masif dan terukur. “Pasien positif dan keluarganya dikenakan masa isolasi dan karantina. Untuk pasien positif dari masyarakat berpenghasilan rendah, keluarganya ditetapkan sebagai penerima bantuan sosial,” jelasnya. Selain itu juga dilakukan disinfeksi menyeluruh di lokasi dengan kasus positif.

Pengetatan pelaksanaan Protokol Utama Penanganan Covid-19 seperti kewajiban memakai masker di semua lokasi dan kondisi, jaga jarak di semua aktivitas, serta kebersihan dan strerilisasi menjadi rekomendasi LIPI berikutnya. “Bila perlu dilakukan dengan mekanisme pemberian denda bagi yang melanggar,” terang Handoko.

Rekomendasi kempat adalah pengerahan seluruh infrastruktur dan SDM untuk meningkatkan kapasitas uji berbasis RDT dan PCR. Meliputi pengadaan nasional untuk RDT dan test kit PCR dari sumber teruji serta rekrutmen SDM untuk operator swab, ekstraksi sampel, dan analisis hasil uji. “Alat PCR yang ada di seluruh instansi dan kampus dikelola secara terpadu sehingga distribusi sampel dapat diatur dengan baik dan hasil cepat keluar,” ujar Handoko.

Kelima, pembentukan Tim Pakar untuk setiap sektor untuk evaluasi dan pemberian rekomendasi teknis lebih lanjut secara berkala. Tim Pakar terdiri dari praktisi dan ilmuwan di sektor terkait dan ahli epidemiologi. “Sehingga rekomendasinya berbasis data dan perkembangan sains dengan didukung rekayasa teknologi untuk mendukung implementasi,” ungkapnya.

Rekomendasi keenam adalah penguatan ketahanan dengan mempercepat riset terkait dengan konten lokal. Rekomendasi ini meliputi pengembangan suplemen penguat imunitas tubuh dari bahan alam lokal, karateristik biologi virus SARS-CoV2, pembuatan bahan dan test kit uji PCR lokal, metode baru uji virus secara molekular sehingga lebih murah dan mudah dilakukan di berbagai fasilitas, pengembangan Rapid Diagnostic Test lokal, dan pengembangan alat sterilisasi barang berbasis disinfektan untuk area publik. “Juga penciptaan model bisnis baru untuk UMKM melalui teknologi tepat guna berbasis riset, sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas dengan daya tahan lebih lama,” kata Handoko.

Foto : freepik.com

Efek Psikis New Normal saat Pandemi Covid-19

Memasuki bulan ketiga, Indonesia dilanda pandemi covid-19. Sejak Maret, kita mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan, selain juga adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai upaya menekan peningkatan angka kasus covid-19.

Adanya berbagai aturan dan anjuran untuk mencegah penyebaran penyakit ini, mau tak mau telah menyebabkan berbagai dampak psikis lantaran perubahan cara berkehidupan secara sosial karena pandemi ini. Tak sedikit orang yang mulai menjalani kehidupan dalam masa transisi yang mayoritas merasa gagap mengikuti perubahan yang cepat ini.

Aktivitas bekerja yang biasanya hadir di kantor, kini harus beradaptasi dengan menjalani work from home. Para pebisnis atau pedagang harus mengubah platform atau cara jualannya menjadi secara online. Kemudian, kalangan muda yang biasanya meluangkan waktu untuk nongkrong di resto atau kafe, kini harus banyak berdiam diri di rumah dan berinteraksi sosial secara virtual. Tak sedikit pula calon mempelai menunda pernikahan atau menikah dengan mekanisme tertentu, misalnya tanpa mengadakan pesta, untuk mengurangi risiko terjadinya penularan covid-19.  

Begitu dengan hal-hal lain yang tadinya bukan sebuah kebiasaan, kini harus menjadi perilaku sehari-hari yang rutin dilakukan. Misalnya, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, serta mengganti pakaian setelah dari luar rumah atau bepergian.

Nah, membiasakan diri dengan kehidupan new normal ini tentunya menjadi sebuah keharusan atau wajib. Hal ini mengingat vaksin untuk menangani covid-19 belum ditemukan dan masih jalan perjalanan prosesnya hingga bisa diproduksi secara massal. Di sisi lain, pandemi ini belum dapat diketahui secara pasti kapan akan berakhir.

Karena alasan-alasan tersebut, kita harus mengupayakan melakukan pencegahan penularan covid-19 ini dengan menjalani kehidupan baru yang aman baik ketika berinteraksi, bekerja serta aktivitas rutin sehari-hari lainnya. Bahkan seorang psikolog klinik yang juga penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal seperti dulu.

Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini.  Mungkin sebagian dari kita masih sulit menerima dan beradaptasi dengan keadaan ini. Namun, sSebagian yang lain masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal dengan menerapan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Menurut psikiater dari Amerika Serikat, Elizabeth Kubler-Ross, kondisi ini menyebabkan efek psikologis di antaranya:

  1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.
  2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.
  3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi. Dalam tahap ini, terdapat keharusan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.
  4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.
  5. Penerimaan. Pada tahap ini, seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaan.

seseorang mencapai tahap penerimaan pada kondisi baru akan lebih bersedia untuk menerima new normal dalam kehidupannya. Masa depan setelah pandemi ini memang belum bisa diprediksi. Namun, kita harus siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan dengan sikap menerima dan menyesuaikan atau beradaptasi dengan situasi sekarang ini.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19, Atasi Stres pada Anak

Wabah covid-19 telah memberikan dampak yang sangat luas.  Tidak hanya sektor kesehatan, tapi juga sektor lainnya seperti ekonomi, pendidikan, wisata, dan sebagainya. Pandemi global yang terjadi hampir serentak di seluruh dunia dan terjadi ‘tiba-tiba’ ini berefek pada psikologis setiap kalangan individu, tak terkecuali anak-anak.

Tentunya orangtua perlu membantu buah hati untuk mengatasi dampak kesehatan mental akibat pandemi ini. Kondisi merasa tertekan, cemas atau stres memang tak boleh dibiarkan begitu saja.  Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga mengalami krisis mental dengan berbagai gejala yang muncul.

Seperti dikatakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), kalangan anak-anak dan remaja menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami stres karena pandemi covid-19 ini. “Rasa takut dan cemas mengenai suatu penyakit bisa menyebabkan emosi yang kuat pada orang dewasa dan juga anak-anak,” papar pihak CDC.

Pada masa pandemi ini, anak-anak mengalami perubahan aktivitas. Mereka merasa kehilangan keseharian, belajar dan bermain di rumah hanya dengan keluarga. Kegiatan mereka menjadi terbatas.  Karena itu, orangtua harus memerhatikan dan mendampingi anak. Entah itu ketika belajar ataupun bermain.

Tak kalah penting, kondisi mental orangtua sendiri perlu diperhatikan. jangan sampai orangtua juga merasa stres. Misalnya, karena situasi ekonomi rumah tangga yang menurun atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja. Jadi, orangtua perlu mengatasi masalah stress yang dialami karena bisa berdampak juga pada anak.

“Hal pertama yang perlu orangtua pahami adalah bagaimana stres mempengaruhi orangtua. Orangtua erlu mengatasi stres pada diri sendiri sebelum berinteraksi dengan anak,”kata seorang psikolog anak Abigail Gewirtz.

Sebagian anak mungkin tak mengungkapkan perasaan cemas, kesal, stress secara verbal. Akan tetapi, kondisi stres pada anak dapat dilihat dari adanya perubahan perilaku. Beberapa ciri anak mengalami stres di antaranya adanya penurunan selera makan, masalah tidur serta perubahan suasana hati.

Nah, berikut beberapa cara yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu anak atasi stres saat pandemi covid-19:

  1. Tanggapi perubahan anak secara suportif

Anak-anak bisa merespons stres dengan cara yang berbeda-beda, misalnya merasa cemas, marah, menarik diri, lebih manja, gelisah atau bahkan mengompol. Untuk menanggapi hal itu, orangtua perlu merepons perubahan perilaku anak dengan memberikan dukungan dan perhatian lebih. Tunjukkan hal-hal positif pada anak saat orangtua mendengarkan mereka mencurahkan kekhawatirannya. Tentunya tak perlu memaksa anak untuk menceritakan masalahnya jika mereka tidak mau. Beritahu bahwa orangtua selalu ada di sisinya untuk membantu.

2. Berikan perhatian lebih

Orangtua perlu menunjukkan kasih sayang dan perhatian ekstra.  Ya, pada saat pandemi ini, anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang dewasa terutama orangtuanya agar tidak stres. Tanyakan keadaan anak dalam suatu waktu sekali, misalnya saat bangun pagi, sebelum makan siang, dan sebelum tidur malam. 

3. Jaga komunikasi dengan anggota keluarga lain

Luangkan waktu khusus untuk berkegiatan santai bersama anak. Biasanya, mereka akan merasa senang jika Anda bisa menghabiskan waktu bersantai bersama mereka.

Ajak anak untuk berkomunikasi secara rutin dengan kerabat dan anggota keluarga lain, misalnya dnegan menelepon kakek dan nenek.

4. Jelaskan pandemi yang sedang terjadi

Perubahan kondisi dan kebiasaan yang tiba-tiba seperti pemberlakuan physical distancing tentu menimbulkan pertanyaan di benak anak. Jelaskan mengenai pandemi ini dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Jangan lupa juga jelaskan bagaimana cara mengurangi risiko tertular  dan mengapa mereka tidak boleh keluar rumah. Beri tahu juga pada anak agar tidak perlu terlalu cemas dan stres akan kondisi pandemi saat ini.

Foto : freepik.com

Tips Kelola Perubahan di Masa Pandemi Covid-19

Tidak ada sesuatu yang permanen, kecuali perubahan, begitu ungkapan para filosof. Wabah COVID-19 telah mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan. Diperlukan kemampuan kita agar siap dan mampu mengelola perubahan.

Pandemi COVID-19 membawa dampak perubahan pada masyarakat yang diharap hanya sementara, ibarat sekedipan mata. Lockdown, karantina, kacaunya rantai suplai logistik dan lainnya, merupakan sinyal dari sebuah komunitas yang mengalami pelambatan dari sebuah moda kecepatan tinggi.

Dr Siti Amanah, dosen dari Divisi Komunikasi dan Penyuluhan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University menyampaikan lima tips agar kita siap dan mampu mengelola perubahan.

Pertama, senantiasa terbuka akan perubahan, hindari praduga atau pikiran negatif. Hal ini memudahkan kita melalui berbagai situasi dan memberikan energi positif untuk melangkah ke depan.

Kedua, buat rencana aksi nyata untuk kurun waktu tertentu, setidaknya satu sampai dengan tiga tahun. Rencana hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek termasuk sistem, struktur, sumber daya, tingkat dukungan serta kendala dalam realisasi rencana.

Ketiga, mengidentifikasi dan melibatkan pihak-pihak terkait dalam perubahan. Hal ini untuk memastikan perubahan berjalan lancar dan bermanfaat bagi individu, keluarga, kelompok, organisasi dan masyarakat luas. Keempat, memperjelas tahapan dan mekanisme perubahan.  Hal ini diperlukan  agar seluruh unsur dalam sistem atau organisasi mengerti “aturan main”, sehingga aksi terwujud sesuai harapan.

Kelima, memonitor dan mengevaluasi perubahan yang dicapai secara terus menerus. Hal ini dikarenakan setiap rencana perlu dilaksanakan, dimonitor, dievaluasi dan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Foto : freepik.com                                      

Efek Corona, Cegah Panic Buying! Cukup Beli 4 Hal Ini

Pandemi global virus corona ini memang meresahkan warga dunia. Tak sedikit yang merasa was-was dan khawatir terkena infeksi Covid-19 karena proses penularannya yang kadang ‘tidak tampak’. Ya, sebagian kasus pasien awalnya tidak menunjukkan gejala signifikan. Bahkan, penularannya ‘gara-gara’ bersalaman tangan dengan kenalannya.

Kepanikan ini semakin menjadi ketika pemerintah menerapkan parsial lockdown. Hal ini membuat reaksi bagi beberapa orang untuk ‘panik buying’, membeli kebutuhan pangan untuk persediaan beberapa waktu ke depan. Hal yang wajar bila masih dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi, sangat disayangkan bila kemudian yang terjadi adalah ‘menimbun’ kebutuhan pokok tersebut untuk kepentingan sendiri, sementara pihak lain terlantar karena tidak kebagian. Kondisi bagaimana pun kita tetap dalam kondisi ‘waras’ karena gangguan kesehatan mental bisa terjadi karena dipicu berbagai hal. Salah satunya, panic buying ini.

Yang pasti, kita tak perlu terlalu panic berlebihan dengan kondisi semi lockdown seperti saat ini. Pasalnya, pemerintah akan menjamin ketersediaan pokok masyarakat. Jadi, cukup membeli sebatas kebutuhan pokok atau barang-barang yang betul diperlukan. Itupun tidak dibeli dengan berlebihan.

Nah, berikut ini tips dari times of India, apa saja kebutuhan pokok sehari-hari yang perlu disiapkan selama kondisi darurat pandemi corona Covid-19 ini, di antaranya:

  1. Beras

Mayoritas masyarakat kita mengonsumsi nasi.  Ya, beras menjadi salah satu kebutuhan utama yang harus tersedia di rumah. Namun sekali lagi, perhatikan seberapa  banyak beras yang harus dibeli. Bukan berarti kita membeli beras sampai berkarung-karung. Pastinya kita sudah bisa mengukur, dalam sebulan berapa banyak kebutuhan beras untuk keluarga. Nah, tinggal dihitung saja, misalnya stok beras kira-kira perlu mencukupi dalam waktu sekitar 2 bulan ke depan. Jadi paling tidak cukup membeli dua kali lipat dari biasanya. Tidak perlu berlebihan. Tidak perlu terlalu panik, ya!

Bila terlalu banyak membeli di luar kebutuhan, konon kualitas beras dan nilai gizinya bisa berkurang juga. Lebih baik, dana atau anggaran yang tersedia dialokasikan untuk membeli kebutuhan pokok yang penting lainnya.    

2. Sereal, Roti, dan  Telur

Sereal, roti dan telur, adalah bahan pangan yang dapat dikonsumsi dengan berbagai cara dan beragam kreasi. Selain itu, lengkapi juga dengan kebutuhan lain, seperti mentega, minyak goreng, atau bumbu masak yang memang dibutuhkan untuk proses mengolah masakan.

Jadi, tak perlu panic buying juga ya!  Cukup beli kebutuhan ini dalam jumlah dua kali lipat saja, untuk menjaga kesehatan tubuh selama pandemi corona. Sebagian bahan makanan ini pun bisa disimpan untuk beberapa waktu lalu. 

Selain itu, pangan dalam kemasan, misalnya makanan kaleng juga bisa merupakan solusi praktis saat kondisi darurat. Sama seperti tadi, cukup beli dua kali lipat makanan kaleng baik itu berisi ikan, buah dan sayuran.

3. Sayuran

Nah, beberapa jenis sayuran misalnya wortel, bawang, kentang, dan lainnya bisa bertahan untuk beberapa waktu lamanya bila disimpan. Sebagian jenis sayuran lainnya kurang dapat tahan lama. Pastikan disimpan dengan tepat agar ketika hendak diolah masih dalam kondisi yang baik.

4. Perlengkapan bersih-bersih

Selama melakukan isolasi atau karantina diri di rumah, tentu bukan berarti seharian berleha-laha. Beres-beres rumah tetap perlu dilakukan. Termasuk juga aktivitas kebersihan diri sehari-hari, misalnya mandi, gosok gigi, keramas dan sebagainya. Untuk itu, persiapkan juga perlengkapan bersih-bersih dan kebersihan diri. Di antaranya adalah sabun cuci piring, sabun pel, sabun cuci pakaian, sabun mandi, pasta gigi dan perlengkapan lainnya. Pastikan tidak membeli dalam jumlah berlebihan ya.

Sekali lagi , hindari panic buying, agar kesehatan mental kita tetap terjaga!

Foto : freepik.com

Agar Sehat Mental, Ini 5 Kegiatan Saat Local Lockdown Corona

Pasien wabah corona Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Meski sebagian di antaranya dinyatakan sembuh. Akan tetapi, tak sedikit pula yang merasa khawatir, cemas dan takut. Tentu itu wajar, sejauh tidak berupa perasaan yang berlebihan.

Nah, mengingat penyebaran pandemi ini terus meluas, beberapa daerah di Indonesia menerapkan local lockdown, dalam arti ‘tidak boleh’ ada yang masuk dan keluar, ke dan dari wilayah bersangkutan tanpa ada alasan yang darurat.

Selain itu, himbauan untuk tetap tidak menjalin interaksi sosial dalam kerumunan atau keramaian, menjaga jarak hingga 1 meter dengan orang lain. Karena itu,  pemerintah menerapkan aturan social dan physical distanding untuk memutus mata rantai penyebaran wabah corona Covid-19 ini.

Bahkan, pemerintah menetapkan juga kondisi darurat hingga akhir Mei 2020 ke depan. Maka kita diharapkan untuk tetap di rumah dan melakukan mayoritas kegiatan di rumah. Tak heran  bila perubahan rutinitas bisa menyebabkan perubahan kondisi atau kesehatan mental. Jangan khawatir,  berikut ini beberapa kegiatan di rumah selama penerapan local lockdown agar Anda tetap sehat secara mental :

1. Kurangi Berselancar di Medsos

 Berdiam di rumah jutru bagi sebagian orang membuat kesempatan bermedia sosial lebih banyak. Padahal, tak sedikit juga informasi yang tersebar di dunia maya itu benar adanya dan berita yang negatif. Bahkan, ada kabar yang pro-kontra dan sebagainya. Hal itu bisa membuat kecemasan. Karena itu, kurangi aktivitas memakai gadget demi menjaga kesehatan mental Anda. Pasalnya, emosi dapat menyebar atau menular dari satu orang ke orang lain.  

2. Tetapkan jadwal aktivitas yang menyenangkan

Buatkan jadwal harian untuk menjaga rutinitas Anda. Namun, tetapkan sesuatu berdasarkan yang ‘ingin’ Anda lakukan, daripada yang ‘harus’ Anda lakukan. Dengan begitu, Anda akan merasa senang menjalani hari demi hari. Rutinitas yang teratur juga membuat pola hidup Anda tetap sehat. Jam tidur, makan, istirahat dan lainnya dapat terjaga baik. Kesehatan mental Anda pun tidak terganggu.

3. Olahraga di dalam rumah

Meski banyak berdiam di rumah, tak berarti Anda tak melakukan apapun. Olahraga tetap dapat dilakukan meski di dalam rumah. Misalnya, yoga. Menurut riset, yoga dapat menangani kecemasan dan depresi dalam jangka panjang. Selain itu, yoga juga membantu membentuk fleksibilitas, kekuatan, dan pengaturan napas, serta mengurangi rasa sakit fisik. Plus, secara mental Anda akan tetap sehat.

4. Bermain asah otak

Lakukan permainan yang mengasah otak misalnya pasel, teka-teki silang atau Sudoku. Permainan kognitif seperti ini mengasah kemampuan mengingat, perhatian, dan nalar. Menurut sebuah studi 2019 dari para peneliti University of Exeter permainan ini juga melibatkan pemikiran logis, yang mencegah pikiran Anda termenung atau mengkhawatirkan hal lain.

5. Menggambar atau melukis
tak perlu jagoan seperti seorang pelukis. Cukup ambil pensil, spidol atau pensil warna. Corat-coret di atas kertas membiarkan pikiran Anda mengembara. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts pada 2016 mengatakan bahwa 15 menit menggambar memiliki manfaat kesehatan emosional. Cobalah gambar abstrak, membuat karya seni tampak memusingkan hasilnya. Yang penting, Anda merasa senang mengekspresikan diri.

Tentunya ada banyak kegiatan alternatif lain yang bisa Anda lakukan di rumah untuk menjaga kesehatan mental. Yang jelas, yuk mulai coba lakukan sekarang juga!

Foto : freepik.com