Enam Rekomendasi Hidup Beradaptasi dengan Covid-19

Berdasarkan data pemerintah, sudah lebih dari 23 ribu kasus pasien terinfeksi virus corona aau covid-19 di Indonesia. Vaksin belum akan tersedia setidaknya sampai dengan akhir 2021. Program imunisasi akan memerlukan waktu cukup lama lebih kurang dua tahun berikutnya untuk seluruh populasi. Sementara kehidupan harus terus berjalan. “Sampai vaksin ditemukan dan imunisasi massal dilakukan masyarakat harus beradaptasi dengan Covid-19 melalui mitigasi yang terkontrol dan terukur berbasis data,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Laksana Tri Handoko.

LIPI memberikan enam rekomendasi untuk hidup beradaptasi dengan Covid-19. Rekomendasi pertama adalah kontrol dan mitigasi yang terukur untuk pengaktifan aktivitas ekonomi masyarakat. “Fokusnya di screening massal di simpul mobilitas publik berbasis Rapid Diagnostic Test atau RDT dan uji Polymerase Chain Reaction atau PCR di lokasi kerumunan permanen seperti rumah sakit, sekolah dan kampus, dan perkantoran serta industri,” jelas Handoko.

Kedua, penanganan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dengan data akurat, masif dan terukur. “Pasien positif dan keluarganya dikenakan masa isolasi dan karantina. Untuk pasien positif dari masyarakat berpenghasilan rendah, keluarganya ditetapkan sebagai penerima bantuan sosial,” jelasnya. Selain itu juga dilakukan disinfeksi menyeluruh di lokasi dengan kasus positif.

Pengetatan pelaksanaan Protokol Utama Penanganan Covid-19 seperti kewajiban memakai masker di semua lokasi dan kondisi, jaga jarak di semua aktivitas, serta kebersihan dan strerilisasi menjadi rekomendasi LIPI berikutnya. “Bila perlu dilakukan dengan mekanisme pemberian denda bagi yang melanggar,” terang Handoko.

Rekomendasi kempat adalah pengerahan seluruh infrastruktur dan SDM untuk meningkatkan kapasitas uji berbasis RDT dan PCR. Meliputi pengadaan nasional untuk RDT dan test kit PCR dari sumber teruji serta rekrutmen SDM untuk operator swab, ekstraksi sampel, dan analisis hasil uji. “Alat PCR yang ada di seluruh instansi dan kampus dikelola secara terpadu sehingga distribusi sampel dapat diatur dengan baik dan hasil cepat keluar,” ujar Handoko.

Kelima, pembentukan Tim Pakar untuk setiap sektor untuk evaluasi dan pemberian rekomendasi teknis lebih lanjut secara berkala. Tim Pakar terdiri dari praktisi dan ilmuwan di sektor terkait dan ahli epidemiologi. “Sehingga rekomendasinya berbasis data dan perkembangan sains dengan didukung rekayasa teknologi untuk mendukung implementasi,” ungkapnya.

Rekomendasi keenam adalah penguatan ketahanan dengan mempercepat riset terkait dengan konten lokal. Rekomendasi ini meliputi pengembangan suplemen penguat imunitas tubuh dari bahan alam lokal, karateristik biologi virus SARS-CoV2, pembuatan bahan dan test kit uji PCR lokal, metode baru uji virus secara molekular sehingga lebih murah dan mudah dilakukan di berbagai fasilitas, pengembangan Rapid Diagnostic Test lokal, dan pengembangan alat sterilisasi barang berbasis disinfektan untuk area publik. “Juga penciptaan model bisnis baru untuk UMKM melalui teknologi tepat guna berbasis riset, sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas dengan daya tahan lebih lama,” kata Handoko.

Foto : freepik.com

Efek Psikis New Normal saat Pandemi Covid-19

Memasuki bulan ketiga, Indonesia dilanda pandemi covid-19. Sejak Maret, kita mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan, selain juga adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai upaya menekan peningkatan angka kasus covid-19.

Adanya berbagai aturan dan anjuran untuk mencegah penyebaran penyakit ini, mau tak mau telah menyebabkan berbagai dampak psikis lantaran perubahan cara berkehidupan secara sosial karena pandemi ini. Tak sedikit orang yang mulai menjalani kehidupan dalam masa transisi yang mayoritas merasa gagap mengikuti perubahan yang cepat ini.

Aktivitas bekerja yang biasanya hadir di kantor, kini harus beradaptasi dengan menjalani work from home. Para pebisnis atau pedagang harus mengubah platform atau cara jualannya menjadi secara online. Kemudian, kalangan muda yang biasanya meluangkan waktu untuk nongkrong di resto atau kafe, kini harus banyak berdiam diri di rumah dan berinteraksi sosial secara virtual. Tak sedikit pula calon mempelai menunda pernikahan atau menikah dengan mekanisme tertentu, misalnya tanpa mengadakan pesta, untuk mengurangi risiko terjadinya penularan covid-19.  

Begitu dengan hal-hal lain yang tadinya bukan sebuah kebiasaan, kini harus menjadi perilaku sehari-hari yang rutin dilakukan. Misalnya, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, serta mengganti pakaian setelah dari luar rumah atau bepergian.

Nah, membiasakan diri dengan kehidupan new normal ini tentunya menjadi sebuah keharusan atau wajib. Hal ini mengingat vaksin untuk menangani covid-19 belum ditemukan dan masih jalan perjalanan prosesnya hingga bisa diproduksi secara massal. Di sisi lain, pandemi ini belum dapat diketahui secara pasti kapan akan berakhir.

Karena alasan-alasan tersebut, kita harus mengupayakan melakukan pencegahan penularan covid-19 ini dengan menjalani kehidupan baru yang aman baik ketika berinteraksi, bekerja serta aktivitas rutin sehari-hari lainnya. Bahkan seorang psikolog klinik yang juga penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal seperti dulu.

Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini.  Mungkin sebagian dari kita masih sulit menerima dan beradaptasi dengan keadaan ini. Namun, sSebagian yang lain masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal dengan menerapan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Menurut psikiater dari Amerika Serikat, Elizabeth Kubler-Ross, kondisi ini menyebabkan efek psikologis di antaranya:

  1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.
  2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.
  3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi. Dalam tahap ini, terdapat keharusan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.
  4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.
  5. Penerimaan. Pada tahap ini, seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaan.

seseorang mencapai tahap penerimaan pada kondisi baru akan lebih bersedia untuk menerima new normal dalam kehidupannya. Masa depan setelah pandemi ini memang belum bisa diprediksi. Namun, kita harus siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan dengan sikap menerima dan menyesuaikan atau beradaptasi dengan situasi sekarang ini.

Foto : freepik.com

Riset Efek Lockdown Terhadap Mental Manusia

Pandemi virus corona atau covid-19 ini membawa dampak yang sangat luas. Salah satunya, efek terhadap mental seseorang. Sebuah riset yang dilakukan oleh tim peneliti di Swiss menunjukkan bahwa upaya lockdown atau pembatasan sosial ternyata  membawa dampak secara mental atau psikologis yaitu dapat mengurangi umur manusia.

Hasil penelitian dari para ilmuwan tersebut dipublikasikan pada jurnal medRxiv. Ini merupakan jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Adapun judul penelitian tersebut adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Penelitian ini melibatkan  4 orang ilmuwan yang dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss selain itu ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Tim peneliti ini mengatakan bahwa strategi mitigasi sosial yang diterapkan dalam masa pandemi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia tersebut.

Inilah yang disebut dengan ‘years of life lost’ (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Adapun riset ini dilakukan di Swiss.

Para peneliti mencatat persoalan mental akibat lockdown selama pandemi corona atau covid-19 ini yaitu bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Adapun riset tersebut dilakukan selama 3 bulan masa lockdown.

Hasil penelitian ini tentunya cukup mengejutkan. Rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown covid-19. Meski begitu ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL. Karena itu, selama masa pandemi dan berdiam di rumah sebaiknya tetap usahakan untuk selalu bahagia.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19, Atasi Stres pada Anak

Wabah covid-19 telah memberikan dampak yang sangat luas.  Tidak hanya sektor kesehatan, tapi juga sektor lainnya seperti ekonomi, pendidikan, wisata, dan sebagainya. Pandemi global yang terjadi hampir serentak di seluruh dunia dan terjadi ‘tiba-tiba’ ini berefek pada psikologis setiap kalangan individu, tak terkecuali anak-anak.

Tentunya orangtua perlu membantu buah hati untuk mengatasi dampak kesehatan mental akibat pandemi ini. Kondisi merasa tertekan, cemas atau stres memang tak boleh dibiarkan begitu saja.  Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga mengalami krisis mental dengan berbagai gejala yang muncul.

Seperti dikatakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), kalangan anak-anak dan remaja menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami stres karena pandemi covid-19 ini. “Rasa takut dan cemas mengenai suatu penyakit bisa menyebabkan emosi yang kuat pada orang dewasa dan juga anak-anak,” papar pihak CDC.

Pada masa pandemi ini, anak-anak mengalami perubahan aktivitas. Mereka merasa kehilangan keseharian, belajar dan bermain di rumah hanya dengan keluarga. Kegiatan mereka menjadi terbatas.  Karena itu, orangtua harus memerhatikan dan mendampingi anak. Entah itu ketika belajar ataupun bermain.

Tak kalah penting, kondisi mental orangtua sendiri perlu diperhatikan. jangan sampai orangtua juga merasa stres. Misalnya, karena situasi ekonomi rumah tangga yang menurun atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja. Jadi, orangtua perlu mengatasi masalah stress yang dialami karena bisa berdampak juga pada anak.

“Hal pertama yang perlu orangtua pahami adalah bagaimana stres mempengaruhi orangtua. Orangtua erlu mengatasi stres pada diri sendiri sebelum berinteraksi dengan anak,”kata seorang psikolog anak Abigail Gewirtz.

Sebagian anak mungkin tak mengungkapkan perasaan cemas, kesal, stress secara verbal. Akan tetapi, kondisi stres pada anak dapat dilihat dari adanya perubahan perilaku. Beberapa ciri anak mengalami stres di antaranya adanya penurunan selera makan, masalah tidur serta perubahan suasana hati.

Nah, berikut beberapa cara yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu anak atasi stres saat pandemi covid-19:

  1. Tanggapi perubahan anak secara suportif

Anak-anak bisa merespons stres dengan cara yang berbeda-beda, misalnya merasa cemas, marah, menarik diri, lebih manja, gelisah atau bahkan mengompol. Untuk menanggapi hal itu, orangtua perlu merepons perubahan perilaku anak dengan memberikan dukungan dan perhatian lebih. Tunjukkan hal-hal positif pada anak saat orangtua mendengarkan mereka mencurahkan kekhawatirannya. Tentunya tak perlu memaksa anak untuk menceritakan masalahnya jika mereka tidak mau. Beritahu bahwa orangtua selalu ada di sisinya untuk membantu.

2. Berikan perhatian lebih

Orangtua perlu menunjukkan kasih sayang dan perhatian ekstra.  Ya, pada saat pandemi ini, anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang dewasa terutama orangtuanya agar tidak stres. Tanyakan keadaan anak dalam suatu waktu sekali, misalnya saat bangun pagi, sebelum makan siang, dan sebelum tidur malam. 

3. Jaga komunikasi dengan anggota keluarga lain

Luangkan waktu khusus untuk berkegiatan santai bersama anak. Biasanya, mereka akan merasa senang jika Anda bisa menghabiskan waktu bersantai bersama mereka.

Ajak anak untuk berkomunikasi secara rutin dengan kerabat dan anggota keluarga lain, misalnya dnegan menelepon kakek dan nenek.

4. Jelaskan pandemi yang sedang terjadi

Perubahan kondisi dan kebiasaan yang tiba-tiba seperti pemberlakuan physical distancing tentu menimbulkan pertanyaan di benak anak. Jelaskan mengenai pandemi ini dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Jangan lupa juga jelaskan bagaimana cara mengurangi risiko tertular  dan mengapa mereka tidak boleh keluar rumah. Beri tahu juga pada anak agar tidak perlu terlalu cemas dan stres akan kondisi pandemi saat ini.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19 bagi Kesehatan Mental Remaja

Pandemi covid-19 yang melanda dunia ini tidak hanya berefek pada kesehatan fisik. Akan tetapi, kesehatan mental juga dapat terdampak. Apa akibat negatif wabah ini bagi mental remaja?

Ya, penerapan physical distancing dan aktivitas belajar di rumah dalam jangka waktu yang relatif lama ini dapat memengaruhi kondisi psikis remaja. Awalnya, mungkin mereka merasa senang karena tidak perlu hadir di sekolah. Namun, seiring waktu berjalan, ada situasi dan kondisi yang rasanya ‘kurang bebas dan leluasa’, tidak seperti wabah ini terjadi.

Nah, menurut NYU Langone Health, mayoritas remaja menjadi tampak murung, sedih bahkan kecewa selama menjalani ‘karantina’ atau isolasi diri di rumah masing-masing. mereka bertanya-tanya kapan situasi ini akan selesai dan kembali seperti dulu.

Perubahan situasi yang cukup mendadak gegara pandemi ini memang berdampak secara psikologis. Para remaja belum bisa lagi bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya, bermain, beraktivitas, atau menonton acara bersama. Meski di satu sisi, mereka bisa berinteraksi dengan menggunakan teknologi seperti zoom meeting, google meeting dan sebagainya. Namun, atmosfernya tentu terasa berbeda.

Menurut dr. Aleta G. Angelosante, PhD, asisten profesor departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, ada berbagai faktor yang perlu diketahui. Bahwa perasaan sedih, kecewa dan sebagainya itu hal yang wajar dan normal. Media sosial yang bisa dimanfaatkan tidak bisa sepenuhnya sebagai pengganti interaksi sosial di antara mereka.

Perlu diperhatikan orangtua bila si remaja kemudian menunjukkan gejala seperti berikut:

  • Merasa sakit perut, pusing, dan keluhan fisik lainnya.
  • Menjauh atau mengisolasi diri dari orangtua, teman, bahkan mengubah kelompok pertemanan.
  • Semangat belajar turun sehingga prestasi akademik pun melorot.
  • Sering mengritik diri sendiri

Lalu, bagaimana cara menangani efek negatif pademi covid-19 terhadap psikis remaja? Berikut ini, tips menjaga kesehatan berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) :

  • Pertahankan kegiatan rutin sehari-hari. Atau,susun berbagai aktivitas baru.
  • Ajak remaja untuk mengobrol santai tentang pandemi ini. Gunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami remaja.
  • Dukung terus semangat dan motivasi remaja dalam belajar. Ciptakan suasana belajar di rumah yang menyenangkan. Susun jadwal sehari-hari belajar, diselingi dengan kegiatan bermain yang mengasyikkan di rumah.
  • Libatkan remaja dalam kegiatan positif yang dapat mengungkapkan perasaannya misalnya, menulis, melukis, dan sebagainya.
  • Bantu si remaja untuk tetap aktif bersosialisasi dengan teman-teman atau kerabat dan saudaranya. Bisa dilakukan secara virtual menggunakan teknologi internet.
  • Pastikan si remaja tidak tergantung menghabiskan waktu hanya untuk bermain gadget atau games. Meskipun mengasyikkan, namun lama-lama akan terasa jenuh dan bosan. Selingi dengan kegiatan lain, mungkin misalnya olahraga ringan di dalam rumah, menyiram tanaman di halaman, memasak, menyanyi, dan kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Hal ini juga sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya.

Yang pasti, efek  pandemi covid-19 terhadap mental remaja perlu diwaspadai.  Peran orangtua sangat penting untuk selalu memerhatikan sang remaja. Boleh jadi, kelihatannya ia biasa-biasa saja tanpa masalah. Namun, tidak ada salahnya bila orangtua memerhatikan lebih seksama, lakukan pendepatan dan dialog yang terbuka sehingga bisa diketahui apakah ia baik-baik saja. Atau, justru kondisi mentalnya terdampak pandemi covid-19.

Foto : freepik.com

Cegah Bosan di Rumah saat Pandemi Covid-19

Kebosanan muncul pada sebagian keluarga di rumah saja karena sifat pasif. Mengapa sebagian keluarga merasakan kebosanan hidup satu atap bersama keluarga? Jawaban yang seringkali muncul adalah karena tidak memperoleh atau tidak mendapatkan, atau tidak “menemukan” hal yang menarik perhatian yang dirasa menyenangkan dalam kehidupan keluarga di rumah.

“Sehingga solusinya mudah jika tidak ingin merasa bosan, yaitu ubah menjadi bersifat aktif. Kunci agar anggota keluarga memiliki perilaku aktif tersebut berkaitan dengan “value atau nilai” tentang keluarga. Seberapa penting keluarga bagi seseorang? Seberapa penting terbangunnya ikatan keluarga antar anggotanya? Seberapa penting waktu kebersamaan antar keluarga? Seberapa penting membangun suasana yang sehat dan membahagiakan di keluarga,” ujar Prof Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, IPB University sekaligus Ketua Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia.

Jadi, bagaimana anggota keluarga mencari, menggali, mengembangkan, menciptakan aktivitas yang menyenangkan dan atau yang menarik perhatian dalam rutinitas kehidupan keluarga.

Menurut Prof. Euis Sunarti, ada delapan tips mencegah kebosanan “dirumah_ aja” saat wabah COVID-19. Yakni ubah nilai dan cara pandang. Jadikan kesempatan “dirumah aja” sebagai momen berharga untuk keluarga menemukan jati dirinya, untuk tumbuh dan tumbuh dan berkembang. Kedua, bangun kesadaran berharganya keluarga dan waktu kebersamaan keluarga. Ketiga, perluas ruang dan irisan komunikasi antar anggota keluarga, sehingga banyak hal yang bisa diceritakan, diobrolkan dan didiskusikan dalam keluarga.

“Bangun suasana keterbukaan antara anggota keluarga dan lakukan hal-hal atau aktivitas yang meningkatkan kebersamaan. Kelima periksa dan tambal bolong-bolong tugas perkembangan keluarga dan tugas perkembangan setiap individu. Keenam, dorong minat dan hobi anggota keluarga dan atau menumbuhkan kepeminatan baru  seperti memfoto, memasak, menjahit, buat desain grafis, buat menulis, berkebun, dan lain-lain,” ujarnya.

Selain itu, ekspresikan semangat, kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan dalam mengerjakan rutinitas sehari-hari (menularkan energi positif agar sabar bertahan bersama, walau ada situasi yang tidak menarik dan menyenangkan). Berusaha mengembangkan humor, saling apresiasi dan penerimaan terhadap aktivitas yang dilakukan anggota keluarga. “Hindari hal-hal negatif seperti acuh-cuek, menyepelekan atau kritik berlebihan,” tandasnya.

Foto : freepik.com

Tips Manfaatkan Media Sosial Saat Wabah Covid-19


Untuk mengurangi kejenuhan saat Work From Home (WFH), biasanya kita lebih sering membuka media sosial. Namun tahukah Anda bahwa tidak semua informasi yang tersedia di media sosial adalah informasi yang benar atau faktual. Agar tidak termakan isu palsu atau hoax saat menggunakan media sosial, Willy Bachtiar, SIKom, MIKom, dosen dari Sekolah Vokasi IPB University bagikan tipsnya.

Pertama, follow akun resmi pemerintah dan media yang kredibel saja. Pada situasi saat ini, sebaiknya kita hanya mengakses berita atau informasi dari akun resmi pemerintah dan media yang terpercaya. Stay update penting, akan tetapi lebih penting memastikan sumber informasinya, setidaknya dapat meminimalisir berita hoax.

Temukan hal baru dengan menciptakan rasa ingin tahu yang besar. Contohnya mempelajari tanggapan orang lain terhadap suatu hal seperti buku, film, resep masakan selama bulan Ramadhan, olahraga yang aman, atau hal menarik lainnya. Karena hal tersebut merupakan cara yang baik untuk membangkitkan minat yang dapat mendukung keinginan untuk belajar hal baru, meningkatkan ikatan sosial dan menciptakan sikap yang lebih baik selama masa pandemi COVID-19.
 
“Jadikan media sosial sebagai sarana pengembangan diri. Kita dapat membagi ide, gagasan, atau hasil karya, juga pandangan terhadap suatu hal. Dengan media sosial juga kita bisa memperoleh banyak informasi dengan mengikuti forum diskusi online maupun mengikuti akun-akun yang memberi motivasi dan dampak positif bagi diri,” ujarnya.

Selain itu, kita juga bisa berbagi segala sesuatu yang telah dicapai. Menggunakan media sosial dengan cara yang positif juga bisa dilakukan dengan membagikan hal-hal yang kita lakukan dengan baik atau membagikan pencapaian yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Misalnya saja dengan memposting jumlah buku yang telah dibaca selama WFH, aktivitas olahraga, masakan buatan sendiri, atau kerajinan tangan buatan sendiri yang dilakukan di rumah.

Buatlah konten secara bijaksana. Di era digital saat ini, orang dengan sangat mudah menyebarkan konten positif maupun negatif. Padahal akibat dari konten yang dimuat di media sosial harus dipertimbangkan dahulu secara sungguh-sungguh. Apalagi di masa seperti ini semestinya kita membuat konten yang bijaksana, sebarkan kebaikan dan hal positif untuk mendukung sesama, serta kurangi konten yang cenderung menyudutkan dan provokatif.

“Kita juga harus membangun empati. Pada situasi saat ini, harus lebih teliti dan selekif dalam membaca sebuah informasi. Upayakan tidak berlebihan dalam ber-selfie karena bisa menghilangkan empati. Juga disarankan tidak banyak menggunakan emoticon atau emoji di media sosial saat terjadi musibah atau krisis seperti saat pandemi COVID-19,” imbuhnya.

Kurangi terlalu banyak informasi, karena pada situasi saat ini, kepanikan, rasa takut dan kecemasan dialami banyak orang. Kita harus paham dengan kondisi psikologis kita karena akan membantu imun kita tetap baik. Salah satu cara agar tidak mengalami masalah tersebut adalah dengan mengurangi banyak informasi yang diterima atau diakses. Kita harus bisa mengatur kapan harus mengakses informasi, informasi seperti apa yang harus dicari dan diterima, dan pastikan informasi yang valid dan krusial saja.

“Mari berlomba-lomba memberikan manfaat bagi khalayak. Pada masa pandemi COVID-19 ini, dengan penerapan Work From Home dan Learn From Home waktu yang kita miliki untuk mengakses media sosial tentu lebih banyak, namun pastikan menjadi lebih bermanfaat. Hal-hal yang bisa kita lakukan diantaranya adalah memberikan informasi tips dan trik atau cara menangkal virus COVID-19, mengedukasi masyarakat untuk mengetahui gejala COVID-19, prosedur dan langkah dalam penanganan COVID-19,” tandasnya.

Foto : freepik.com

Tips Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Ortu dan Anak Saat WFH

Momen Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) pada sebagian besar kita telah memasuki bulan kedua dan entah akan sampai kapan kita harus tetap #dirumahaja sebagai ikhtiar bersama untuk melawan penyebaran COVID-19. Orang tua dan anak pun mulai butuh melakukan penyesuaian. Bagi anak sendiri, seminggu atau dua minggu di rumah mungkin masih belum terasa.

Tetapi, ketika semakin panjang periode SFH maka anak-anak yang secara alamiah terdorong untuk bergerak bebas, bermain bersama teman-teman, menghabiskan waktu untuk mencoba banyak hal bersama guru dan teman-teman di sekolah akan dilanda kebosanan bahkan mulai rewel. Orang tua pun mulai stress menghadapi anak di rumah karena adanya tuntutan menyelesaikan pekerjaan dari kantor dan tugas dari sekolah (mendampingi anak mengerjakan tugas-tugas). Orang tua juga seringkali harus mengalami kenaikan tensi emosi karena harus berhadapan dengan segala macam tingkah laku anak-anak 24 jam sehari, 7 hari seminggu full-time.

Menurut Alfiasari, SP, MSi, Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, WFH justru bisa menjadi titik balik untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas interaksi antara orang tua dan anak.

“Momen #dirumahaja, yang seharusnya bisa menjadi momen yang menjawab harapan orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak justru membuat kualitas interaksi orang tua dengan anak malah menurun. Salah satu kunci utama dalam menjaga interaksi yang sehat antara orang tua dengan anak adalah komunikasi. Semakin baik komunikasi yang terbangun antara orang tua dengan anak ternyata juga semakin mengembangkan kemampuan komunikasi anak dan meningkatkan kemampuan anak membangun komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Ini adalah modal yang penting bagi anak untuk masa depannya,” ujarnya.

Ada beberapa tips agar komunikasi orang tua dengan anak terjalin dengan baik, yakni pandanglah WFH sebagai anugerah yang patut disyukuri karena kita dapat melihat tumbuh kembang anak sepanjang waktu. Jadikanlah kesempatan #dirumahaja untuk sejenak merenung dan berdiskusi dengan pasangan apa tujuan jangka panjang yang ingin dicapai orang tua untuk anak-anaknya.

Di antara waktu WFH dan SFH, kita bisa melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Misalnya sholat berjama’ah, do’a bersama, olahraga bersama, makan bersama, menghabiskan waktu bersama untuk bermain musik, memasak, merapikan rumah, berkebun, merawat hewan peliharaan, dan kegiatan bersama lainnya.  “Carilah waktu untuk sekedar mengobrol ringan tentang apa yang dirasakan orang tua (rasa khawatir sekaligus rasa pasrah menghadapi masa-masa sulit ini) dan ajaklah anak berdiskusi apa yang dia rasakan. Hargailah apapun yang anak rasakan. Bangunlah sikap optimisme untuk selalu semangat meskipun hanya bisa #dirumahaja,” ujarnya.

Selain itu, optimalkan segala bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal selama #dirumahaja bersama anak-anak kita. Banjirilah anak sepanjang hari dengan pelukan, belaian lembut, senyuman, ucapan terima kasih atas hal-hal kecil yang dilakukannya, ucapan maaf jika orang tua melakukan kesalahan, dan juga ucapan tolong untuk meminta pertolongan anak. Selama ini kita sudah cukup puas berinteraksi dengan anak melalui beragam perangkat teknologi. Gunakan waktu #dirumahaja untuk mendekatkan secara fisik hubungan orang tua dengan anak.

“Optimalkan penggunaan ekspresi wajah, nada bicara, intonasi maupun volume suara sehingga proses komunikasi menjadi lebih menyenangkan. Jadikan kesempatan #dirumahaja untuk meningkatkan keterampilan orang tua dalam menyeimbangkan kontrol dan kehangatan. Banyak pakar perkembangan anak yang sepakat bahwa teknik terbaik dalam pengasuhan adalah ketika orang tua berhasil menyeimbangkan antara kontrol perilaku dengan kehangatan. Anak perlu belajar keteraturan hidup, belajar bahwa dunia ini akan bekerja jika semua orang mematuhi norma-norma kehidupan. Namun jangan dilupakan bahwa kebutuhan dasar anak yang seringkali dilupakan orang tua adalah anak-anak membutuhkan kehadiran, kehangatan, dan kasih sayang tanpa syarat dari orang tuanya.

Anak dicintai bukan karena kehebatan dan kepintarannya, tapi anak pantas dicintai dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Practice makes perfect. Kita tidak pernah diajarkan tentang bagaimana menjadi orang tua. Orang tua dapat memanfaatkan kesempatan #dirumahaja untuk mengembangkan wawasan dan keterampilan untuk terus berusaha menjadi orang tua yang terbaik bagi anak-anaknya,” imbuhnya.

Jadikan emosi negatif anak sebagai kesempatan kita untuk membangun kedekatan dengan anak. Yang terpenting adalah orang tua harus cukup terampil mendampingi anak untuk mengelola emosi-emosi negatif tersebut. Bantulah anak menyalurkan beragam emosi negatif yang muncul dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat yang disukainya.

Kesibukan kita dalam mengatur waktu untuk bekerja, membantu anak-anak mengerjakan tugas sekolah, melakukan kegiatan-kegiatan kerumahtanggaan, bahkan mungkin masih ada orang tua yang masih merelakan waktu yang dimilikinya untuk membantu orang lain, dapat membantu meningkatkan rasa penghargaan dan rasa bersyukur anak terhadap orang tuanya. Keteladanan ini merupakan cara yang sangat efektif untuk membantu menyosialisasikan dan meneruskan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak.

“Bantulah anak memahaminya dengan memberikan penjelasan atas setiap kegiatan yang dilakukan orang tua. Selipilah dengan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bekal bagi kehidupan anak di masa depan,” ujarnya.

Terakhir, jadikanlah kesempatan #dirumahaja untuk mengembangkan keterampilan memecahkan masalah baik untuk orang tua maupun untuk anak. Ini adalah kesempatan untuk melatih anak mengenali masalah yang dihadapi misalnya kebosanan, kesulitan mengatur waktu mengerjakan tugas sekolah. Kita bisa membantu anak agar anak secara bertahap dan mandiri mampu memikirkan beragam alternatif solusi dan kemudian menimbang baik dan buruk setiap solusi yang dimiliki. Selanjutnya kita bisa memberikan kepercayaan kepada anak untuk berani memilih solusi terbaik dan kemudian melatih anak bertanggung jawab atas konsekuensi dari solusi yang dipilih. Kesempatan ini juga akan membantu orang tua mengembangkan banyak keterampilan dalam berkomunikasi dengan anak.

“Harapannya, tips ini bisa dilakukan orang tua agar kesempatan #dirumahaja menjadi momen berharga dan menjadi kenangan indah bagi anak-anak dan juga orang tua,” tandanya.

Foto: freepik.com

Kiat Menjaga Keharmonisan Keluarga Saat Pandemi Covid-19

Saat pandemi yang mengharuskan masyarakat berdiam diri di rumah dalam jangka panjang, pada sebagian keluarga akan muncul ketidakharmonisan karena kejenuhan kerap kali datang. JiIka kondisi tersebut dibiarkan, tidak dapat dipungkiri konflik rumah tangga pun bisa terjadi. Lalu bagaimana menjaga agar keluarga tetap harmonis di saat pandemi?

Prof Dr Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga IPB University sekaligus Ketua Klaster Ketahanan Keluarga API (Asosiasi Profesor Indonesia), Ketua Penggiat Keluarga (GIGA) Indonesia bagikan tips agar keharmonisan keluarga tetap terjaga saat pandemi.

“Kita perlu menguatkan dan melembagakan nilai dan tujuan berkeluarga serta pentingnya membangun dan memelihara keharmonisan keluarga kepada seluruh anggota keluarga dengan cara yang tepat sesuai kematangan perkembangan setiap anggota keluarga,” ujarnya.

Ciptakan suasana keluarga yang nyaman terbangunnya koherensi, fleksibilitas dan bonding (kelekatan) yang membawa kepada kesabaran setiap anggota untuk bertahan lama (getting along with others) dalam melakukan proses pembelajaran dan aktivitas keluarga. Buat setiap individu anggota keluarga merasa “diterima dan dipahami” oleh anggota keluarga lainnya dengan mengembangkan komunikasi asertif dan interaksi yang hangat (warmth interaction).

Pastikan anggota keluarga secara umum merasa puas dengan kehidupan keluarga. Caranya yakni dengan membiasakan mengekspresikan rasa syukur dan merasa cukup terhadap situasi atau kondisi pemenuhan kebutuhan setiap anggota dan keluarga secara kesatuan.
Bangun lingkungan fisik rumah dan lingkungan yang “home sweet home” sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman dan betah tinggal di rumah. Temukan kearifan-kearifan dari setiap anggota keluarga. Misalnya dengan saling mengerti, memahami, memaafkan, juga mencontohkan menahan marah dan menahan berkata yang akan melukai dan disesali, demikian pula mendorong sifat altruistik dan kesediaan berkorban untuk keluarga.

“Cegah konflik kepentingan antara tujuan keluarga dengan tujuan individu, dan konflik antar anggota keluarga. Caranya adalah dengan mengalokasikan peran dan sumberdaya secara adil, serta menuntut akuntabilitas peran yang disepakati bersama,” imbuhnya.

Selain itu membangun, memelihara, menguatkan pemahaman dan penerimaan suami istri terhadap pembagian peran, fungsi, dan tugas juga penting, tujuannya untuk terbangunnya hubungan suami istri yang tenang, tentram, penuh kasih sayang (sakinah mawaddah wa rahmah).

Kembangkan pola komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak yang hangat, menerima dan mencintai anak apa adanya. Latih anak-anak mengelola emosi yang sehat. Orang tua perlu mengarahkan, mendisiplinkan dan menuntut kepatuhan dalam batas-batas yang proporsional.

“Dan ciptakan suasana kasih sayang, penerimaan dan kepedulian antar anak. Kita juga bisa mengembangkan kegiatan atau penugasan yang terbangun pola senioritas yang sehat serta bertanggung jawab,” tandasnya.

Ilustrasi : freepik.com

10 Tips Hemat Energi Saat #DiRumahAja

Pemerintah terus berupaya mengatasi pandemi COVID-19 dengan menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diharapkan bisa meminimalisir penyebaran COVID-19. Sejak kebijakan ini diberlakukan, masyarakat kini menjalani sebagian bahkan sepenuhnya aktivitasnya di rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah dan beribadah di rumah.

Namun sadarkah kita, dengan tidak pergi ke kantor, sekolah atau kegiatan luar lainnya, penggunaan listrik dirumah menjadi penting untuk diperhatikan. Ini supaya tagihan listrik bulanan tidak membengkak. Atau tak dibikin jengkel oleh suara meteran listik tanda habis pulsa yang pasti mengganggu telinga.

Dr Nurul Jannah, Dosen Program Studi Teknik dan Manajemen Lingkungan, Sekolah Vokasi IPB University punya tips agar tetap hemat energi, khususnya di tengah kondisi pandemi ini.
“Matikan piranti elektronik yang tak dipakai, pakai lampu LED, selalu bersihkan lampu dari debu, pilihlah laptop daripada desktop, tetapkan suhu AC di suhu ideal, bersihkan kondensor filter dan coil AC secara teratur, atur suhu ideal kulkas, kurangi buka tutup kulkas, buatlah jadwal mencuci dalam seminggu dan gunakan listrik prabayar,” ujarnya.

Menurutnya, jika tidak digunakan, piranti elektronik seperti lampu, air conditioner (AC), charger handphone, komputer, kulkas, laptop, mesin cuci, kipas angin, setrika, mixer, blender dan lain-lain sebaiknya dimatikan. Putus arus listrik dari semua piranti elektronik dengan mencabut kabel listrik dari stop kontak.


Ganti semua lampu pijar dengan lampu hemat energi. Dengan menggunakan lampu LED, penggunaan listrik bisa lima kali lebih efisien dari lampu pijar. Selain itu, lampu juga mesti diperhatikan kebersihannya. Seringkali debu dan kotoran hinggap menutupi permukaan lampu. Padahal debu bisa mengurangi sampai lima persen tingkat penerangan.

“Laptop tak hanya menang dari sisi kepraktisan, namun juga hemat energi pastinya. Laptop hanya butuh 10 persen energi listrik daripada desktop. Namun jika terpaksa menggunakan desktop, sebaiknya pilih layar dengan tekonologi Liquid Crystal Display (LCD),” terangnya.

Sementara itu, penggunaan AC mestinya diperuntukkan agar ruangan kita sejuk, bukan dingin. Suhu ideal AC berada pada sekitar 24°C sampai dengan 28°C. Semakin rendah suhu kita atur, maka tentu semakin besar juga energi listrik yang dikeluarkan. AC juga mesti dirawat. Bersihkan kondensor filter dan coil AC secara teratur, karena jika AC kotor sudah pasti akan boros energi.

Sama seperti AC, penggunaan kulkas juga harus diatur suhunya. Idealnya suhu kulkas berada antara 2°C sampai dengan 4°C dan suhu freezer di -17°C sampai -15°C. Jangan sering-sering membuka kulkas jika tidak perlu. Hal ini bisa membuat 75 persen energi terbuang bila kulkas dibuka terlalu lama/sering.

“Untuk urusan mencucui baju, agar tetap hemat, gunakan mesin cuci sesuai kapasitas. Perhatikan kemampuan mesin cuci agar tidak membebani kinerjanya yang berakibat energi listrik jadi banyak terkuras. Penggunaan mesin cuci di luar kapasitas kemampuannya juga tentu akan membuat mesin cuci menjadi cepat rusak. Terakhir, adalah gunakan listrik prabayar. Baik listrik prabayar maupun pascabayar masing-masing punya kelebihan. Namun dengan menggunakan listrik prabayar, kita bisa mengatur penggunaannya secara hemat sehingga tak hanya energi tapi juga kantong yang jadi tak banyak terkuras, “ jelasnya.

Dr Nurul berpesan, “Dengan kita hemat energi, kita bisa save money, save energy for future. Kita juga berperan positif dalam pengurangan emisi karbondioksida dan ikut mencegah pemanasan global.”

Foto: freepik.com