Waspada Bullying di Kalangan Remaja

 

 

Permasalahan yang masih sering terjadi di kalangan remaja selain narkoba adalah kenakalan remaja berbentuk bully. Hal ini sudah sangat sering terjadi di negara kita Indonesia dan rata – rata pelakunya adalah remaja atau bahkan anak – anak yang masih di bawah umur. Lalu target yang akan mereka bully adalah orang yang ada di sekitar mereka yang terlihat kuper atau kurang pergaulan. Dengan kondisi seseorang yang berpenampilan kurang menarik dan atau bahkan kurang enak di pandang, mereka melakukan pembully-an.

 

Banyak sekali cara yang mereka gunakan untuk membully ini, contohnya adalah pemalakan. Mereka tak segan meminta uang secara berkala kepada target bully ini dan jika target tidak memberikannya akan ada konsekuensi berupa pukulan atau bahkan penindasan kepada target tersebut. Yang sangat disayangkan sekali ketika berita bully ini harus kita dengarkan dari kalangan anak dibawah umur. Mereka yang masih mempunyai kewajiban belajar ternyata mereka harus menjadi pelaku pembully-an.

 

Beberapa studi kasus menyatakan bahwa rata – rata mereka yang menjadi pelaku pembully-an ini bukan di dasari dari kurangnya perhatian dari orang tua mereka namun ini bisa terjadi karena mereka ingin terlihat seperti pemberani di kalangan sekitarnya. Ada juga beberapa dari mereka menjadi pelaku bully ini untuk menguji seberapa berani mereka menghadapi orang – orang yang ada disekitar mereka. Dan yang paling sangat disayangkan adalah ketika mereka harus menciptakan sebuah geng atau komplotan di dalam lingkungan sekolah. Hal ini mereka akui untuk meningkatkan solidaritas antar anggota geng atau komplotan ini harus ada yang berani melakukan pembully-an.

 

Kondisi psikologis mereka yang menjadi korban bully ini sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, mereka harus tetap berani ke sekolah untuk belajar namun di belakang itu masih terus di hantui perasaan takut di bully oleh teman – temannya. Rata – rata mereka yang menjadi korban bully ini pada akhirnya menjadi kuat dan berhasil. Mereka menjadi brontak atas perlakuan yang mereka dapatkan di sekolah. Ada juga beberapa dari mereka yang menjadi korban bully ini secara tidak tahu – menahu mengapa bisa menjadi korban bully.

 

Kurangnya rasa empati dan rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh para pelaku pembully-an ini yang menjadikan mereka mempunyai rencana untuk membentuk suatu kelompok negatif yang tugasnya untuk membully mereka yang terlihat kurang perhatian atau tidak nyaman di pandang menurut mereka. Di lain sisi, kondisi mereka yang menjadi korban bully juga sangat hancur. Mereka masih terus di hantui oleh rasa takut untuk mengejar mimpi mereka karena pembully-an tersebut. Ada juga beberapa di antara mereka menjadi brontak dengan cara membalas semua perbuatan para pembully ini yang sudah dilakukan kepadanya. Ini menjadikan para korban bully yang memilih brontak akan merasa lebih hancur lagi karena kurangnya rasa sabar yang dimiliki mereka.

 

Pada akhirnya, orang tua korban pembully-an ini hanya bisa menyerahkan kasus ini kepada pihak berwajib yang sebelumnya sudah melakukan laporan kepada pihak sekolah. Kurangnya kepedulian antar sesama dikalangan remaja membuat aksi pembully-an ini kerap terjadi. Mereka menjadi terlihat lebih tangguh dan gagah berani ketika sudah melakukan aksi pembully-an ini namun tidak pernah berpikir bahwa apa yang mereka lakukan ini akan menimbulkan banyak sekali dampak negatif terutama bagi para korban. Mereka pun juga terdampak menjadi dikucilkan oleh orang yang ada di sekitar.

Foto : freepik.com