Latih Anak Mandiri Tanpa Si ‘Mbak’ (2)

Nah, jika sebelumnya anak memang sudah dibiasakan untuk dibantu dalam melakukan aktivitas sehari-harinya, saat asisten tidak ada, bukan berarti selanjutnya orangtua menggantikan peran asisten. Lalu, ayah/ibu membantu anak dalam melakukan segala sesuatunya.

Sebaliknya, orangtua juga tidak bisa berharap anak tiba-tiba dapat melakukan segala sesuatunya sendiri secara mandiri saat si asisten tidak ada. Artinya, orangtua tidak bisa begitu saja melepas anak untuk melakukan kegiatan bina dirinya sendiri.

Kemandirian anak dapat diasah. Pada awalnya, orangtua dapat terlebih dahulu memberikan pendampingan kepada anak dalam melakukan kegiatan bina dirinya tersebut. Lalu secara bertahap memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Misalnya, jika sebelumnya anak terbiasa untuk dibantu saat mandi, awalnya orangtua dapat menemani anak sambil memberikan arahan. Sebagai contoh, dapat berbentuk pertanyaan saat anak mandi .“Nah setelah pakai sampo, selanjutnya Adik harus apa?”.

Selanjutnya, orangtua masih perlu menemani beberapa kali dengan mengurangi memberikan arahan. Nah, setelah anak tampak mampu mandi secara mandiri, ayah/ibu dapat mempercayakan anak untuk mencoba mandi sendiri. Pujian dan apresiasi terhadap usaha anak untuk mandi sendiri juga dapat diberikan. Hal ini juga demi mengembangkan rasa mampu dan kepercayaan diri anak.

ASAH SEJAK DINI

Kemandirian anak hendaknya diasah sedini mungkin. Tujuannya  agar sikap mandiri ini menjadi bagian dari rutinitas mereka untuk masa selanjutnya. Lalu, di usia berapa anak bisa dilatih untuk mandiri? Secara umum, anak dapat mulai diajarkan kemandirian pada usia sekitar dua tahun. Pasalnya, di usia ini anak sudah mantap untuk berjalan sendiri dan menjangkau tempat tertentu. Pada usia ini juga anak sudah mampu dilatih untuk terlibat dalam aktivitas bermakna demi pengembangan dirinya, seperti belajar untuk makan sendiri, berpakaian, ataupun menggunakan toilet saat mau buang air.

Kemandirian umumnya dapat dilatih di rumah melalui kegiatan bina diri. Berikut contoh-contoh kegiatannya: 

  • Untuk anak usia 2-4 tahun, kemandirian yang dapat dilatihkan misalnya dengan mengenakan pakaiannya sendiri. Awalnya dengan sedikit bantuan dari orangtua. Contoh lain, mencoba menyuapkan makanannya sendiri. Hal lainnya yaitu melatih anak untuk merapikan mainan, atau membuang sampah kering seperti tisu atau kertas ke tempat sampah.
  • Untuk anak usia TK atau 4-5 tahun, orangtua dapat melatih anak untuk berpakaian sekolah sendiri, termasuk juga untuk mengancingkan seragam sekolahnya. Ia juga dapat dilatih untuk mengenakan kaos kaki dan sepatu sendiri.
  • Untuk anak usia SD (6-9 tahun), kemandirian yang dapat dilatih adalah dengan membiasakan untuk menyiapkan buku-buku sekolah secara mandiri. Ia juga dapat diajar untuk merapikan tempat tidurnya saat bangun pagi. Aktivitas ini juga dapat mengasah kemampuan anak agar lebih terorganisasi atau teratur. Pada usia ini, anak juga dapat dilatih melakukan kegiatan rumah tangga yang bersifat sederhana, misalnya membersihkan debu di meja dan area-area yang mudah dijangkau oleh sang anak. Sebagai catatan, seperti yang dijelaskan sebelumnya, orangtua dapat memberikan pendampingan awal terlebih dahulu dalam menjalankan aktivitas-aktivitas tersebut.
  • Untuk anak usia SD (9-12 tahun), kemandirian yang dapat dilatih misalnya menjaga adik yang lebih kecil, termasuk menjaga saat adik tidur, atau mengawasi adik saat bermain. Kegiatan rumah tangga juga sudah dapat diajarkan dan dibiasakan pada usia ini. Contohnya membantu saat mencuci piring, menyiram tanaman, ataupun menyapu halaman rumah. 

SEGUDANG MANFAAT

Tentunya ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melatih kemandirian anak. Selain anak menjadi mampu melakukan rutinitas dan kegiatan tertentu secara mandiri, kepercayaan diri anak juga ikut terbentuk.

Kemudian, aktivitas-aktivitas yang dilakukan pun turut mengasah kemampuan motorik anak. Misalnya, kegiatan bersih-bersih rumah seperti merapikan tempat tidur, menyapu, ataupun membersihkan debu melatih gerak fisik pada anak. Selain tentu aja kondisi rumah menjadi bersih dan rapi.

Sementara, aktivitas seperti mengancingkan pakaian ataupun mengikat tali sepatu dapat mengasah kemampuan motorik halus. 

Lewat aktivitas menyiapkan buku-buku sekolah, anak dilatih untuk mencoba mengingat buku-buku apa saja yang perlu dipersiapkan supaya tidak ada yang tertinggal. Hal ini akan mengasah kemampuannya berkonsentrasi, di samping kemampuan anak agar lebih teratur dan disiplin.

          Tak kalah penting, bila berbagai aktivitas tersebut dilakukan dalam suasana kebersamaan, misalnya melakukan kegiatan bersih-bersih rumah pada akhir pekan bersama keluarga, tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Kegiatan bersih-bersih juga tidak akan dirasa sebagai suatu yang membebankan. Bahkan, dengan adanya kebersamaan, hubungan antarsesama anggota keluarga pun akan menjadi lebih harmonis.(hil)

Foto: freepik.com

Latih Anak Mandiri Tanpa Si ‘Mbak’ (1)

Dewasa ini, anak-anak cenderung tergantung pada asisten rumah tangga di rumah. Apa-apa minta dilayani, ini-itu ingin dipenuhi. Nah, ketika sang asisten ini harus pulang ke kampung, entah karena mudik Lebaran atau ada alasan lain misalnya orangtuanya sakit, situasi di rumah jadi kalang-kabut. Apalagi kemudian si ‘mbak’ tak kunjung kembali lagi. karena itulah, orangtua penting untuk melatih anak mandiri dan tak melulu bergantung pada asisten rumah tangga. 

Menggunakan jasa asisten rumah tangga sepertinya sudah menjadi kebutuhan bagi keluarga saat ini. Menariknya, pada masa sekarang, jasa asisten rumah tangga sudah tidak hanya sebatas pada kepentingan rumah tangga, misalnya membersihkan rumah dan perabotannya, tetapi juga termasuk mengasuh anak.

Seiring waktu pula, asisten rumah tangga ini membantu anak hampir di setiap aktivitasnya. Misalnya, menyediakan makanan, mandi, ataupun membereskan keperluan anak. Orangtua terkadang merasa tidak sabar jika harus menunggu anak menyantap makanannya secara mandiri ataupun untuk mandi sendiri. Ayah-ibu justru merasa merasa terbantu saat anak dibantu untuk dimandikan ataupun disuapkan makanan oleh sang asisten rumah tangga. Akhirnya, anak menjadi terbiasa dibantu dalam melakukan segala aktivitas, termasuk untuk kegiatan bina dirinya seperti berpakaian, mandi, dan lainnya.

HAMBAT KEPERCAYAAN DIRI

Nah, secara teori, perilaku anak dapat terbentuk dari kebiasaan yang dijalankannya sehari-hari. Lantaran itu, jika dalam melakukan segala sesuatu, termasuk kegiatan bina diri seperti makan, mandi, berpakaian dan lain-lain selalu dibantu asisten rumah tangga, anak akan merasa terbiasa untuk dibantu.

Berawal dari “terbiasa” selanjutnya akan berkembang menjadi “perlu”. Maksudnya, bila anak selalu dibantu, ia akan merasa menjadi tidak bisa atau tidak mampu untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. “Misalnya saat hendak mandi selalu dibantu mulai dari menyiapkan handuk, peralatan mandi seperti sikat gigi yang udah diolesi pasta gigi, disabuni, dikeramasi sampai badannya dikeringkan oleh handuk. Bahkan, sang asisten rumah tangga menyiapkan dan memilihkan pakaian yang akan dipakai. Sampai kemudian anak pun dipakaikan baju, dibantu mengancingkan baju, hingga menyisirkan rambut sang anak. pokoknya komplet dari A-Z, mulai dari persiapan mandi hingga mandi selesai dan kembali berpakaian, ibaratnya anak tinggal “duduk manis”.

Alhasil, suatu ketika si “mbak” pulang kampung, anak tak mampu untuk mandi sendiri.  Ia pun menolak saat diminta untuk mandi sendiri karena tak terbiasa. Demikian juga untuk hal lainnya. Misalnya, anak merasa tak mampu memakai sepatu sendiri karena selama ini ia dibantu disiapkan kaus kaki dan sepatunya, dibantu mengenakan dan memasang talinya.

Ujung-ujungnya, anak akan merasa enggan untuk mencoba melakukan hal-hal secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Artinya, anak yang terbiasa dibantu oleh asisten rumah tangga dalam aktivitas sehari-harinya, dapat menghambat kemandirian dan rasa percaya diri untuk melakukan segala sesuatunya sendiri.

Selain itu, tanpa disadari beberapa aktivitas sehari-hari sebenarnya dapat membantu mengembangkan kemampuan motorik halus sang anak. Misalnya, mengancing baju ataupun menyimpul tali ikat sepatu. Dengan demikian, jika anak terbiasa dibantu melakukan hal-hal kecil seperti itu, kemampuan motorik halusnya menjadi kurang terasah.