Cegah Anak Kecanduan Gadget (1)

Kita memang tak bisa menghindari gempuran teknologi, tapi perlu mengantisipasi efek negatif yang bisa ditimbulkannya.
 

Seiring perkembangan zaman, teknologi pun semakin canggih. Tak heran, bila berbagai macam gadget bermunculan. Di masa kini, gadget bukan lagi berupahandphone atau telpon genggam yang umumnya berfungsi sebagai sarana menelpon atau mengirim/menerima pesan singkat semata. Akan tetapi, gadget sudah berevolusi menjadi suatu piranti atau instrumen yang dikenal dengan sebutan smartphone atau tablet yang notabene memiliki fungsi praktis dan spesifik yang makin digandrungi masyarakat.   

Ya, gadget tak sekadar populere di kalangan orang dewasa. Pun, anak-anak

ikut menikmati gadget-gadget tercanggih. Pasalnya, piranti yang userfriendly atau mudah dioperasikan/digunakan ini menawarkan fitur-fitur menarik bagi anak-anak yang memang cenderung memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar.

Maka tak perlu heran, dimanapun kita berada, seperti di pusat berbelanjaan, tempat makan, atau tempat umum lainnya, anak-anak tampak sibuk memainkan gadget. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Nielsen yang menyebutkan, sekitar 40% anak usia 0-8 tahun sudah mengenal gadget dan Indonesia termasuk sebagai pengguna perangkat mobile tertinggi, yaitu sekitar 48%. Di luar negeri, misalnya di Amerika Serikat, sebuah survey yang melibatkan lebih dari 200 orangtua, menunjukkan bahwa 53 perse anak sudah memiliki telpon selular (ponsel) di usia 7 tahun.

KAPAN PERLU GADGET?

Banyak sekali pertanyaan yang muncul, baik di kalangan orangtua maupun kalangan awam lainnya terkait dengan sang teknologi yang modern ini. Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah kapan sih usia yang tepat anak diperkenalkan gadget. Menurut The American Association Of  Pediatric (AAP), anak usia 0-2 tahun tidak perlu diperkenalkan dengn gadget ataupun televisi. Alasannya, karena pancaran cahaya pada monitor sangat berpengaruh pada kesehatan mata anak. bahkan, paparan sinyal radiasi gadget dapat berpengaruh terhadap perkembangan neuron anak.

Nah, pada rentang usia tersebut, anak juga berada pada tahapan sensorimotor.Maka alangkah baiknya bila buah hati lebih diberikan kebebasan untuk bergerak, belajar merasakan kasar-halus, berlari, melompat, ataupun belajar berinteraksi dengan orang sekitar.

Selanjutnya, ketika anak sudah lebih besar sekitar usia 2-6 tahun, ia boleh diperkenalkan gadget. Akan tetapi, sebaiknya gadget hanya digunakan sebagai sarana edukasi bagi anak. Tentunya dilakukan bersama orangtua, misalnya mengenai pengenalan warna, bentuk, atau suara.

Ya, pendampingan orangtua diperlukan dalam memberikan berbagai stimulasi, termasuk memerhatikan batasan waktunya. Menurut The American Association Of Pediatric (AAP), batasan waktu yang ideal untuk anak bermain adalah tidak lebih dari 1-2 jam sehari. Bila orangtua hendak membuat batasan waktu, ada baiknya dibagi menjadi per 30 menit. Misalnya saja, mendampingi menonton teve 30 menit, bermain dengan gadget 30 menit dan stimulasi melalui komputer 30 menit. Namun setiap selesai dengan satu aktivitas, misalnya selesai bermain gadget 30 menit, setop kegiatannya dulu  sebelum mulai dengan aktivitas selanjutnya.

Selain itu, yang penting diperhatikan, akan lebih baik apabila orangtua membatasi kegiatan tersebut hanya waktu weekend. Jadi anak diperbolehkan bermain dengan gadget atau komputer bahkan nonton televisi di akhir pekan. Reward dan punishment dapat diterapkan dalam hal ini. Seiring bertambahnya usia anak, misalnya di atas 10 tahun, waktu bermain anak dapat ditambah. Nah, apabila orangtua mampu melakukan ini secara konsisten diharapan buah hati dapat terhindar efek negatif dari penggunaan gadget.

Foto: freepik.com