Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (4)

Pasangan tentunya perlu menentukan sikap yang berbeda manakala memiliki anak spesial dan tidak. Misalnya, satu anak mengalami autis sehingga harus menghindari makanan-makanan tertentu. Sebaliknya, saudara kandungnya tidak perlu aturan seperti itu. Orangtua perlu menjelaskan pada saudara kandung ABK ini (baik kakak atau adiknya) bahwa saudaranya berbeda.

Salah satu contoh, orangtua dapat mulai menerapkan suatu jadwal dan aturan yang jelas antara saudara kandungnya yang normal dengan sang ABK. Jadwal dapat dituliskan secara jelas sehingga anak yang normal dapat memahami perbedaan jadwal yang ia miliki dengan saudaranya. Begitu pula dengan aturan seperti makanan yang dipisahkan dalam tempat yang berbeda, waktu khusus seperti bermain dengan anak normal dan saudaranya yang berkebutuhan khusus.

Dengan aturan yang jelas, anak yang normal dapat memahami ekspektasi orangtua terhadap dirinya, kebutuhan diri dan saudaranya juga dapat dipenuhi secara seimbang. Namun semua ini harus dilakukan dengan konsistensi dan suatu ketegasan.

Selain itu, sediakan informasi untuk berbicara secara terbuka mengenai kondisi saudaranya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Pada anak balita, penjelasan yang diberikan tidak bisa terlalu banyak. Yang dapat dijelaskan bahwa adik mereka memerlukan kebutuhan tertentu yang berbeda daripada anak lainnya. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, orangtua perlu menyediakan waktu secara berkala untuk membicarakan perasaan mereka ketika memiliki saudara dengan kebutuhan khusus. Karena seringkali dalam diri mereka muncul ambivalensi. Satu sisi ia tahu bahwa harus mengasihi saudaranya yang ABK. Namun di sisi lain dapat muncul rasa malu, iri hati bahkan kebencian terhadap saudaranya itu.

Orangtua dapat juga memberikan penjelasan lebih detil mengenai kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh ABK. Bahkan melibatkan saudaranya untuk tanggung jawab yang sesuai dengan usia dan kesiapannya.

HINDARI BUANG ENERGI

Selain konflik dengan diri dan pasangan, terkadang muncul juga kendala dengan lingkungan luar, misalnya mendapat perlakuan kurang adil dari keluarga  entah itu keluarga istri/suami atau bahkan mendapat bully dari lingkungan/orang lain. Mengubah pendapat dan penilaian orang lain di sekeliling kita akan sangat tidak mudah dan hanya membuang energi.

Jadi yang dapat orangtua lakukan dalam menghadapi orang di sekeliling yang kurang suportif adalah memaafkan mereka yang mempermalukan itu. sediakan waktu lebih banyak untuk berelasi dengan orang-orang yang mendukung dan memiliki pengalaman serupa. Dengan menyediakan waktu lebih banyak dengan komunitas yang suportif,  orangtua akan memiliki kesempatan untuk me-recharge baterai kehidupan mereka. Orangtua juga perlu memfilter pendapat orang yang perlu diterima dan adapula pendapat yang hanya perlu didengarkan namun tidak perlu dilakukan.

Yang jelas, setiap anak adalah anugerah dari Tuhan. Ketika pasangan dikaruniai ABK maka Tuhan pasti melihat bahwa mereka berdua  dapat diberikan kepercayaan yang spesial ini. Bila kepercayaan dan anugerah dari Tuhan ini diterima sepenuh hati dan dijalani dengan sebaik-baiknya, pasti kebaikan menyertai kehidupan keluarga.

            Tak kalah penting, ABK akan mengajarkan bagaimana cinta dan penerimaan yang sesungguhnya. Pasangan suami-istri akan sangat belajar untuk mencintai dan menerima anak apa adanya tanpa mengharapkan timbal balik dalam bentuk apapun. Banyak juga orangtua yang dibentuk dari keberadaan ABK dalam kehidupannya. Mereka menemukan diri lebih dewasa, lebih sabar, sifat-sifat buruk mereka lambat laun mulai berkurang serta lebih mudah berempati terhadap kebutuhan orang lain.

Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (3)

Lalu, bagaimana upaya atau solusi atas masalah/konflik yang dihadapi dengan pasangan.  Bagaimana caranya supaya suami-istri bisa satu paham, satu pemikiran dan berupaya bersama demi kebaikan anak spesial ini?

Hal pertama yang perlu dipahami oleh suami istri adalah pernikahan mereka sangat berharga untuk tetap dijaga.  Tidak peduli seberapa besar kebutuhan anak mereka. Banyak orangtua ABK menghabiskan energi, waktu dan pemikiran mereka ke anak dan tidak lagi memikirkan kebutuhan pasangan. Hal ini tidaklah benar karena dari hubungan pernikahan yang kuat dan harmonis, anak akan bertumbuh lebih optimal.

Sediakan waktu setidaknya 20 menit setiap hari untuk berkomunikasi dengan pasangan. Selama waktu itu tidak diperkenankan membicarakan tentang anak. Hal ini untuk membangun lagi hubungan seperti pada masa awal ketika pasangan suami istri jatuh cinta.

Suami istri perlu bekerja sebagai suatu tim dan tidak berjalan sendiri. Dalam memutuskan berbagai hal untuk anak selalu libatkan pasangan. Terima berbagai hal yang berbeda mengenai apa yang terbaik untuk anak karena masing-masing memiliki pengharapan yang berbeda. Hargai setiap pendapat pasangan dan tidak hanya memaksakan pendapat sendiri. Hal inilah yang dapat menguatkan hubungan suami istri.

Suami-istrimasing-masing perlu untuk bisa berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan dengan pasangan, menata hati dan pikiran untuk bersama-sama menerima kondisi anak apa adanya. Keduanya menerima karunia Tuhan ini dengan segala keterbatasan dan keunggulan yang ada pada ABK. Alhasil, suami-istri dapat berkolaborasi mengupayakan membesarkan buah hati yang spesial ini seoptimal mungkin.

Pasangan perlu menyadari dengan sepenuhnya bahwa mereka sedang masuk dalam suatu masa perubahan. Setiap perubahan dapat menimbulkan reaksi emosi negatif yang kuat. Kesadaran akan hal ini dapat membuat masing masing pihak dapat menerima serta berempati kepada kebutuhan pasangan. Pernikahan yang kuat juga tidak bisa bertumbuh dengan sendirinya. Pernikahan harus mendapatkan ‘nutrisi’ yang cukup. Sediakan waktu untuk membangun hubungan antara suami dan istri. Perhatikan kebutuhan pasangan dan tidak hanya kebutuhan anak saja.

Ingatlah bahwa pernikahan dimulai dari dua orang yang jatuh cinta dan memutuskan untuk berkomitmen.  Jadi jatuh cintalah kembali dan terus membina setiap komitmen. Dari pernikahan yang kuat pasti ada anak-anak yang dapat berkembang secara optimal.

Maka suami istri perlu melihat diri mereka adalah suatu tim dan bukan pribadi yang berdiri sendiri. Jadi untuk setiap keputusan yang diambil harus merupakan hasil dari suatu diskusi antara suami istri. Keduanya bersepakat serta memiliki komitmen yang sama untuk suatu tujuan yang sama.

Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (2)

Dalam kehidupan pernikahan pasti ada masalah atau tantangan tersendiri. Nah, hal utama yang perlu dimiliki pasangan dalam menghadapi masalah rumah tangga adalah suatu komitmen. Bahwa ketika mereka memutuskan menikah, masing-masing tidak bisa berjalan sendiri. Mereka adalah satu tim dalam menghadapi berbagai keindahan dan tantangan dalam pernikahan.

Begitupun ketika pasangan ini dikaruniai ABK. Reaksi awal pastinya  pasangan suami-istri akan berfokus kepada kebutuhan sang buah hati. Hal ini wajar karena mereka sedang menghadapi suatu permasalahan dan perubahan perjalanan kehidupan yang baru. Namun sangat perlu diingat bahwa suami-istri tidak bisa selamanya hanya berfokus kepada ABK. Mereka perlu mulai secara bertahap membagi perhatian kepada pasangan satu sama lain. Termasuk membagi perhatian terhadap kakak atau adik dari ABK tersebut.

Begitu pula bila ternyata pasangan saling menyalahkan. Berusaha mencari siapa yang salah atau siapa yang bertanggung jawab merupakan reaksi umum yang muncul ketika pasangan menghadapi suatu persoalan. Biasanya ini akan menjadi salah satu kendala dalam berkomunikasi. Nah, yang perlu dipahami bersama bahwa dalam menghadapi dan memecahkan masalah bukan “Siapa yang salah dalam hal ini?”. Akan tetapi berfokus kepada “Bagaimana kami memecahkan masalah ini?”. Formula ini perlu diterapkan dalam berbagai persoalan rumah tangga.

Bagaimana bila salah satu pihak malah bersikap cuek, baik terhadap anak maupun pasangan? Sikap seperti ini dapat muncul karena dilandasi penyangkalan terhadap situasi yang terjadi. Respons yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang memicu stres adalah flight or fight response. Ketika seseorang bersikap cuek kepada anak atau pasangan berarti sedang memilih sikap flight  atau lari dari permasalahan. Ia tidak fight atau menghadapi masalah yang ada.

Yang paling fatal atau ekstrem adalah bila hal ini justru memicu atau berujung pada perceraian. Perceraian dalam kehidupan orangtua ABK dapat terjadi karena reaksi-reaksi emosi negatif yang timbul tidak dapat diatasi dengan baik oleh kedua belah pihak. Suami istri saling menyalahkan, sulit memaafkan kesalahan salah satu pihak dan menjadikannya sebagai penyebab dari gangguan yang dialami anak.  Perceraian dapat saja terjadi bila salah satu pasangan terlalu berfokus kepada kebutuhan anak, namun  mengabaikan kebutuhan pasangan.

Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus (1)

Pasangan suami-istri adalah satu tim dalam mengarungi tantangan rumah tangga. Dalam mendidik ABK pun perlu bersama-sama.

Anak adalah karunia, anugerah, amanah, dan titipan Tuhan yang harus dijaga, dididik, dan mendapat kasih sayang yang paripurna dari orangtuanya.

Seperti kita tahu, sebagian dari pasangan suami-istri dikaruniai anak berkebutuhan khusus (ABK). Ada pasangan yang ikhlas menerima ketentuan Tuhan ini. Satu sama lain mensupport sang buah hati sehingga ia dapat bertumbuh dan berkembang seoptimal mungkin, sejauh yang bisa dicapai olehnya.

Akan tetapi, ada juga pasangan yang ‘pesimis’. Salah satu pihak, belum atau tidak sanggup menerima kenyataan. Hal tersebut memicu konflik-konflik dalam diri sendiri bahkan konflik dengan pasangan.

Ada beragam kemungkinan kendala psikologis yang muncul dalam diri sendiri, di antaranya merasa bersalah, malu, merasa sebagai ‘aib’, merasa tak berdaya dengan kondisi ini. Marah terhadap situasi, pihak profesional (dokter) bahkan marah kepada Tuhan.

Selain itu, bisa juga muncul ketakutan akan masa depan anak, bingung karena akan menghadapi berbagai hal yang baru mulai dari diagnosa, terapi, penanganan terhadap anak dan berbagai hal lain yang akan sangat berbeda dalam mengasuh ABK dibandingkan anak lain pada umumnya.

Penolakan terhadap diagnosa pihak profesional (dokter) dapat menyebabkan anak tidak mendapatkan penanganan yang tepat untuk menjawab kebutuhannya. Dalam kondisi yang lebih ekstrim dapat saja terjadi penolakan terhadap anak (bahkan penolakan sejak hamil bila masalah sudah terdeteksi sejak janin) dan berharap agar anak tersebut meninggal.

Kendala-kendala tersebut sebagian besar adalah wajar, meski ada yang ekstrim dan bisa dikatakan tidak wajar. Semua kendala tersebut tentu perlu ditangani. Bila dibiarkan akan mengganggu fungsi sebagai orangtua maupun perkembangan ABK itu sendiri.

Selain muncul masalah dengan diri sendiri, muncul pula konflik-konflik dengan pasangan. Misalnya, saling menyalahkan sehingga salah satu pihak merasa disalahkan, salah satu pihak tidak/kurang mendukung atau cuek dengan anak dan pasangannya. Ada juga masalah dalam finansial karena kebutuhan ABK yang tidak sedikit memengaruhi pengelolaan uang dalam rumah tangga. Selain itu, masalah dalam seksualitas dimana pasangan terlalu berfokus untuk menjawab kebutuhan ABK dan melupakan kebutuhan pasangan. Yang paling ekstrem adalah konflik yang berujung pada perceraian.

Foto: freepik.com