Cara Mengajarkan Anak Remaja Perempuan Hadapi Menstruasi

 

Tantangan memiliki anak remaja perempuan yaitu ketika mereka memutuskan untuk memasuki usia pubertas, dan juga mengalami menstruasi. Mungkin bagi para ibu terutama yang baru pertama kali memiliki anak remaja perempuan, akan bingung.

 

Tidak tahu harus bagaimana apakah yang harus dilakukan oleh sang ibu karena umumnya anak seringkali merasa bingung dengan respon ataupun kondisi menstruasi tersebut. Berikut ini data untuk orang tua yang ingin anak remaja yang mengalami menstruasi unuk pertama kali.

 

  1. Jangan Terlalu Panik

Pertama hal yang harus dipahami oleh orang tua. Jangan terlalu panik hal ini dikarenakan banyak orang tua ataupun khususnya para ibu, yang mungkin panik ketika mendapati anak remajanya mengalami menstruasi. Padahal jika orang tua saja dan terjadi hal yang salah pada kondisi tersebut. Justru sebaliknya harusnya menangkan  anak remaja yang pertama kali menstruasi. umumnya mereka akan merasa takut.

 

  1. Lakukan Pengecekan

Tips kedua yang bisa dilakukan ataupun dipahami oleh para ibu yaitu memastikan bahwa mereka memang mendapatkan menstruasi dan bukan karena terjadi hal lainnya. Hal ini bisa dibedakan dengan kondisi darah yang pertama kali keluar, umumnya berwarna coklat atau bahkan kehitaman sebagai tanda bahwa remaja tersebut. Pertama kali meluruhkan dinding rahim dan dan mendapati siklus menstruasi pertama kalinya.

 

Hal ini sebenarnya dilakukan untuk memastikan, bahwa anak remaja tersebut telah memasuki masa pubertas dan bukan terjadi pendarahan atau hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagai ibu dan juga orang berpengalaman kamu pasti bisa membedakan dan juga mengetahui hal tersebut bukan.

 

  1. Jelaskan bahwa Menstruasi hal Wajar

Selanjutnya adalah memastikan untuk menghindari rasa malu yang sering kali muncul pada anak remaja perempuan. Hal ini dikarenakan mereka seringkali berbicara dengan teman ataupun ngobrol mengenai kehidupan mereka, termasuk kapan mereka berhasil untuk memasuki masa pubertas dan juga menstruasi.

 

Di indonesia sendiri anak perempuan yang mengalami menstruasi di usia 10 hingga 11 tahun umumnya seringkali disebut sebagai anak yang centil. Akibat masa menstruasi yang datang di usia muda padahal kondisi tersebut. Tidak terpengaruh justru sebaliknya sang ibu ataupun orangtua, harus bisa menjelaskan bahwa anak perempuan yang berhasil mendapatkan menstruasi sesuai dengan usianya. Maka mereka memiliki tubuh yang sehat.

 

  1. Ajarkan Tata Cara yang Benar

Selanjutnya adalah jelaskan bagaimana untuk menghadapi agar menstruasi dimulai dari cara menggunakan pembalut atau tampon atau bahan lainnya, yang mungkin lebih nyaman untuk digunakan. Ajarkan juga bagaimana tahapannya untuk bisa membersihkan serta menghadapi suasana hati yang seringkali memburuk, ketika dalam fase menstruasi tentu jelaskan juga bagaimana mereka bisa memahami siklus dari menstruasinya.

 

  1. Tanda Memasuki Usia Remaja

Terakhir, hal yang bisa dilakukan oleh para ibu. Membantu menjelaskan bahwa siklus menstruasi merupakan hal yang yang bisa menjadi tanda bahwa seorang anak remaja perempuan sudah masuk dalam masa pubertas. Sehingga mereka bukan hanya bisa menjaga diri dan juga memastikan bahwa mereka menjaga kebersihan. Namun tanda pubertas ini juga menjadikan salah satu cara ibu untuk mengajarkan kepada mereka. Bahwa anak remajanya bukanlah anak kecil lagi. Sehingga mereka lebih bertanggung jawab dan juga lebih mengutamakan prioritas serta berbagai hal nya.

Foto : freepik.com

6 Manfaat Asam Amino Essensial(AAE) untuk Si Kecil

 

Ada banyak sekali makanan bergizi yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak. Tujuannya tentu untuk mendukung tumbuh kembang mereka, agar lebih baik. Salah satunya adalah asam amino esensial atau biasa disebut sebagai 9AAE, yang sering terkandung pada berbagai nutrisi ataupun susu dalam produk bayi dan juga anak-anak. Namun sebagai orang tua, apakah kamu tahu apa sih manfaat asam amino sebenarnya.

 

  • Meningkatkan Otot

Manfaat pertama yang bisa didapatkan ketika mengkonsumsi asam amino bagi sekecil, yaitu dapat membantu mendukung perkembangan otot bayi. Protein yang satu ini berguna untuk membangun otot. Sehingga jika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup.

 

Maka dapat membantu perkembangan otot menjadi lebih sehat dan baik lebih cepat untuk berkembang secara fisik. Bagi mereka yang belum bisa berjalan ataupun belum memiliki kekuatan otot kaki yang cukup baik. Kamu bisa memberikan asupan asam amino dan juga vitamin D, sehingga kebutuhan nutrisi kecil tercukupi.

 

  • Meningkatkan Imun Tubuh

Manfaat kedua dari AAE atau asam amino esensial ini, yaitu dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh. Seperti yang kita ketahui bahwa anak kecil rentan terkena penyakit. Karena mereka masih membentuk imunitas tubuhnya secara perlahan.

 

Dengan menggunakan nutrisi ataupun makanan yang masuk asam amino terbukti berperan besar dalam aktivasi serta pembentukan sel darah putih. Sehingga dapat berguna untuk melawan benda asing ataupun kuman yang masuk ke dalam tubuh.

 

  • Mengurangi Alergi

Gejala alergi seringkali timbul pada tubuh si kecil, bisa jadi karena susu sapi ataupun alergi lain. Misalnya saja makanan yang baru dikonsumsinya. Namun bagi si kecil yang mendapatkan asam amino dengan nutrisi yang cukup.

 

Maka mereka akan memiliki toleran yang sangat tinggi. Sehingga tidak mudah mengalami alergi dan aman untuk mengkonsumsi berbagai makanan, termasuk makanan yang memungkinkan alergi untuk terpicu seperti ikan dan juga susu.

 

  • Mengontrol Metabolisme Tubuh

Apabila orang tua khususnya ibu ingin membantu melancarkan pencernaan sekecil dan juga mengontrol metabolisme yang ada di dalam tubuhnya. Maka asam amino ini merupakan nutrisi yang paling tepat. Karena dengan mengkonsumsi asam amino metabolisme atau pembakaran yang ada di dalam tubuh si kecil, menjadi terarah dan juga terkontrol.

 

Mereka bisa mendapatkan nutrisi dan juga menyerap nutrisi secara maksimal, dari makanan yang masuk ke dalam tubuh. Di sisi lain protein yang ada pada asam amino dapat meningkatkan perkembangan sel di dalam tubuh. Sehingga mereka menjadi lebih sehat dan memiliki tumbuh kembang yang normal.

 

  • Menjaga Keseimbangan Cairan

Kita tahu bukan bahwa anak-anak masih belum bisa mengkonsumsi makanan terlalu rumit ataupun kompleks. Umumnya mereka hanya bisa mengkonsumsi susu ataupun makanan dengan tekstur yang lembut. Selain itu varian makanannya juga masih berputar antara buah sayur dan juga ikan atau ayam.

 

Dengan begitu apabila si kecil mengkonsumsi asam amino mereka bisa mendapatkan nutrisi dan juga menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh. Berbeda dengan orang dewasa yang mungkin mengandalkan minuman bernutrisi ataupun air putih si kecil, bisa menggunakan asam amino ini.

 

  • Mengoptimalkan Hormon Serotonin

Terakhir manfaat yang bisa didapatkan dari asam amino yaitu membantu mengoptimalkan produksi hormon serotonin yang ada pada si kecil. Hormon serotonin ini berfungsi sebagai neurotransmitter, yang nantinya menghantarkan sinyal antara jaringan saraf tubuh.

 

Selain mempengaruhi suasana hati hormon ini juga dapat membantu untuk meningkatkan atau memaksimalkan fungsi hati. Sehingga dapat melakukan pembekuan darah, pembentukan tulang, dan juga melancarkan sistem pencernaan lebih baik lagi.

Foto : freepik.com

Penanganan Pada Anak yang Mengalami Autisme

 

Autisme merupakan sebuah gangguan yang mempengaruhi perkembangan anak yang terjadi secara signifikan sehingga mempengaruhi komunikasi interaksi, dan perilakunya.

 

Gangguan yang dialami ini meliputi gangguan ringan dan gangguan parah. Gangguan ringan akan menyebabkan masalah dalam interaksi sosial anak secara lingkungan hingga parah yang dapat mengganggu kemampuan bahasa pada anak dan komunikasinya.

 

Selain itu juga akan menyebabkan pola pikiran dan perilakunya berbeda dengan teman sebayanya. Masa depan anak pengidap autis ini sangat beragam yang dilihat dari tiap individu.

 

Contohnya anak yang dapat hidup mandiri dan juga memerlukan bantuan orang lain sepanjang hidupnya.

 

Apabila anak mempunyai gejala seperti tidak merespon ketika dipanggil, sulit dalam berkomunikasi dan berinteraksi, kesulitan pada saat bermain, tidak memiliki ketertarikan pada anak lain, dan gejala lainnya.

 

Maka orangtua harus sigap dan tanggap dengan anak yang memiliki gejala tersebut. Melakukan perawatan dan penanganan bagi anak pengidap autis ini dilakukan dengan pendekatan tim.

 

Namun juga bergantung pada masalah yang dialami oleh anak maka dibutuhkan dokter ahli saraf, ahli intervensi biomedis dan perawatan autisme ahli terapi fisik, dan dokter-dokter yang diperlukan dalam penanganan masalah autisme.

 

Berikut ini ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan pada anak yang mengidap gangguan autisme antara lain

 

Obat-obatan

Penanganan anak yang memiliki gangguan autisme dengan obat-obatan ini bukan bertujuan untuk mengobati gangguan autis nya, akan tetapi membantu dalam mengatasi gejala-gejala autis yang timbul.

Contoh gejala autis yang muncul ialah agresif atau dikatakan hiperaktif pada anak.

 

Terapi Secara Psikologis

Pada terapi secara psikologis, yang dilakukan oleh anak autis ini memiliki beberapa jenis terapi yang bermacam-macam misalnya terapi pendidikan, terapi perilaku, terapi pelatihan, dan terapi keterampilan sosial.

 

Terapi Kegiatan Keseharian

Seorang yang bertugas untuk menerapi ini akan membantu anak yang mengidap autisme dalam memperoleh keterampilannya pada kehidupan sehari-hari.

Hal ini dimaksudkan untuk menolong dan membantu anak tersebut dapat hidup dengan mandiri.

 

Terapi Bahasa dan Wicara

Jenis terapi wicara dan bahasa ini dapat menolong anak dalam peningkatan keterampilan yang berhubungan dengan berbicara.

Selain itu terapi wicara dan bahasa ini juga akan mengembangkan komunikasi secara verbal pada anak.

 

Terapi Alternatif

Pada terapi alternatif Ini kebanyakan orang tua masih mempunyai pertimbangan dalam melakukan perawatan dan penanganan yang lain.

 

Pada Terapi alternatif ini ada beberapa kasus yang mempunyai beberapa resiko sehingga harus didiskusikan dan dibicarakan dengan dokter sebelum melakukan perapi alternatif pada anak mengidap autisme.

 

Terapi alternatif ini dapat dikatakan sebagai terapi pijat, dan terapi pijat dilakukan senagai sarana dalam mengimbangi penanganan medis yang didapatkan oleh anak pengidap autisme.

 

Beberapa dokter mengatakan bahwa dengan adanya terapi pijat pada anak yang memiliki gangguan autisme ini akan mampu dalam melancarkan peredaran darah, melancarkan nutrisi dan mengangkat toxic atau racun, dan juga dapat mendistribusikan oksigen dalam tubuh anak.

 

Terapi alternatif atau dikatakan pemijatan ini fokus kepada titik yang ada di bagian kepala.

Contohnya tengkuk di leher, puncak kepala, pangkal tulang kepala, serta area puncak samping kepala dan telinga.

 

Pijatan ini juga bertujuan dalam peningkatan konsentrasi pada anak, menenangkan, melancarkan sirkulasi darah, dan menangani ke hiperaktifan pada anak pengidap autisme.

 

Namun pijatan yang dilakukan oleh para orang tua ini harus melihat terlebih dahulu seberapa parah autis yang diderita oleh anak sehingga tidak salah langkah dalam menangani gangguan autisme.

Foto : Freepik.com

Masalah Mental pada Anak dan Solusinya

 

Masalah mental dialami oleh sebagian orang terutama pada anak-anak dan remaja. Akan tetapi dalam hal ini orangtua sering tidak sadar dan tidak mengetahui bahwa anaknya mempunyai masalah dengan kesehatan mentalnya.

 

Sebab gejala gangguan mental yang terjadi pada anak-anak maupun remaja ini muncul secara tiba-tiba dan diam-diam. Jadi akan sulit untuk membedakan terkait perilaku keseharian anak dengan perilaku ketika anak mengidap gangguan pada mental.

 

Namun harus diketahui jika masalah yang dialami tersebut  tidak segera diatasi dengan baik, maka gangguan mental yang terjadi ini pun akan semakin bertambah parah.

 

Ada beberapa jenis masalah mental pada anak yang dibagi menjadi 5 kategori.

Masalah Perilaku

ADHD yang merupakan gangguan terkait dengan pemusatan perhatian pada anak dan juga anak yang mempunyai perilaku ADHD cenderung lebih hiperaktif dan impulsif.

 

Gangguan ADHD ini merupakan salah satu ciri anak yang memiliki kesulitan dalam hal berkonsentrasi dan dapat menyebabkan depresi.

 

Pada masalah ini anak akan sering terlihat tidak dapat memperhatikan sesuatu secara fokus dan cenderung bersifat kasar.

 

Selain ADHD ini juga ada istilah Conduct Disorder. Conduct disoder ini merupakan salah satu gangguan perilaku yang terkait dengan timbulnya emosi yang serius pada anak dan juga pada remaja.

 

Anak yang memiliki masalah dengan gangguan emosi akan menunjukkan prilakunya yang dapat mengganggu, terlibat unsur kekerasan, dan akan bermasalah dalam mengikuti sebuah aturan.

 

Masalah perilaku yang dialami juga disebut dengan istilah ODD. ODD adalah gangguan perilaku pada anak yang cenderung membangkang dan melawan.

 

Masalah perilaku ini diawali dengan suasana hati yang mudah tersinggung, mudah marah, pendendam, dan sering membantah.

 

Anak dengan gangguan mental ini sebagian besar akan melakukan penyalahgunaan NAPZA.

 

Dalam penyalahgunaan NAPZA ini akan sangat berpengaruh pada mental anak yang belum cukup usia. Contoh nafza yang digunakan pada anak-anak dibawah usia yaitu rokok atau Vape.

 

Masalah Relasi

Relasi yang terjalin antara anak dan orang tua ini akan ikut serta dalam pembentukan karakter anak terkait dengan tantangan dan masalah yang dihadapi oleh anak.

 

Masalah Sosial Dan Emosional

Gangguan emosional dan sosial yang terjadi pada anak ini meliputi gangguan mood, gangguan kecemasan, stres, dan tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

 

Masalah Perkembangan Dalam Belajar

Dalam masalah perkembangan belajar ini anak akan mengalami ASD yang terkait dengan masalah perkembangan saraf dan otak anak.

 

Contoh masalah ini seperti autisme  dan sindrom asperger.  Selain itu anak juga akan mengalami Skizofrenia. Skizofernia dapat menimbulkan anak menjadi halusinasi, perasaan datar, serta gangguan dalam berbicara.

 

Masalah lain yang timbul ini disebut dengan istilah dsabilitas intelektual. Disabilitas intelektual yaitu gangguan pada anak yang mengakibatkan anak akan lambat dalam memahami dan mempelajari sesuatu.

 

Hal ini disebabkan intelegensi anak  jauh di bawah rata-rata teman sebayanya. Masalah yang dialami pada anak terkait gangguan belajar ini terkadang bersumber dari faktor sarafnya.

 

Masalah Kesehatan Dan Perilaku

Pada masalah ini terkadang anak ditandai dengan keadaan yang tiba-tiba menolak untuk makan dan dalam hal ini akan dapat mengakibatkan stunting pada anak.

 

Masalah mental yang terjadi pada anak ini haruslah cepat disadari sehingga anak-anak dapat hidup lebih cerdas dan lebih sehat tanpa adanya gangguan mental.

Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Psikologis Pada Anak

 

 

Pemahaman terkait perubahan psikologi pada anak ini sangat perlu dipelajari oleh para orang tua, sehingga dapat lebih mengerti dan memahami mengenai proses pertumbuhan dan perkembangan anak dengan baik dan maksimal.

 

Sehingga nantinya para orangtua akan memberikan perlakuan yang baik kepada para anak-anaknya. Faktor yang mempengaruhi perubahan psikologi pada anak ini meliputi :

 

Pola Asuh

Pola asuh yang berasal dari keluarga ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis pada anak.

 

Dikatakan sebagai faktor penting sebab sebuah karakter dan psikologi yang dimiliki anak akan dapat terbentuk dari cara pola pengasuhan yang diperoleh dari keluarga ataupun orang yang mengasuhnya.

 

Misalnya pada anak yang dibesarkan oleh orangtua yang memiliki sifat disiplin maka akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang memiliki jiwa disiplin dan teratur.

 

Namun selain hal itu, kasih sayang juga dikatakan sebagai faktor utama dalam pembentukan kepribadian dan perubahan psikologis pada anak.

 

Sebab dengan adanya kasih sayang dari orang tua dan keluarga maka dapat membentuk anak dan menuntut anak menjadi seorang yang memiliki sifat lemah lembut, penyayang, dan juga mempunyai empati terhadap sekitarnya.

 

Lingkungan

Berinteraksi dengan lingkungan ini akan mempengaruhi perubahan psikologi pada anak yang cukup besar.

 

Apabila anak terbiasa hidup dan berinteraksi di lingkungan yang cenderung baik maka nantinya anak juga akan tumbuh dan berkembang menjadi seseorang yang memiliki jiwa kebaikan.

 

Namun apabila anak semasa kecil yaitu tumbuh dalam lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan yang kurang baik maka anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang memiliki karakter kurang baik.

 

Maka dari itu orang tua dan keluarga harus mengawasi setiap kegiatan anak yang bertujuan agar anak tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang memiliki nilai buruk.

 

Sebab lingkungan ini sangat mempengaruhi anak dalam perkembangan psikologisnya dan membuat anak akan cenderung berperilaku membangkang dan pemarah.

 

Orang Tua

Orang tua juga memiliki andil yang besar dalam kehidupan anak yaitu dalam menentukan perkembangan psikologis yang terjadi pada anak.

 

Keikutsertaan atau keterlibatan orang tua ini dapat diperlihatkan dengan melakukan kegiatan bersama anak seperti halnya berolahraga, bermain dengan anak, bernyanyi, ataupun menemani anak dalam belajar dan menggali pengetahuan.

 

Maka dengan adanya peran orang tua yang baik nantinya anak akan mudah mengutarakan apa yang diinginkannya dan mudah berkomunikasi dengan orangtua yang menyebabkan si anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, jujur, dan juga pribadi yang terbuka.

 

Trauma

Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis pada anak adalah trauma. Trauma ini akan menghambat psikologi pertumbuhan pada anak sebab sesuatu hal yang buruk yang dahulu pernah terjadi. Contohnya anak yang trauma dengan kekerasan fisik.

 

Meskipun terdengar sederhana dan sepele akan tetapi trauma tersebut yang cenderung buruk dan tidak menyenangkan akan mempengaruhi perkembangan psikologis pada anak.

 

Untuk mengatasi hal itu sebaiknya orangtua harus berhati-hati dalam memberi perlakuan yang ditunjukkan kepada anak dan harus menghindari kekerasan fisik atau pemberontakan yang dirasa dapat melukai dan membekas pada batin anak.

 

Pada umumnya membangun karakter anak ini memang tidak mudah akan tetapi dengan memberikan perhatian dan ketelatenan lebih kepada anak maka hal tersebut akan sangat mudah untuk diwujudkan.

Demikianlah faktor yang mempengaruhi perubahan psikologis pada anak.

Foto : freepik.com

Dampak Perceraian Terhadap Psikis Anak

Perbincangan tentang anak yang belum cukup umur lalu harus terbiasa mendengar percekcokan di dalam keluarga memang sedang memanas. Mereka yang hidup ditengah keluarga keras memang harus menyesuaikan diri bahwa orang tua mereka memiliki sifat atau watak yang keras. Tak hanya itu, terkadang mereka harus menahan diri di dalam kamar ketika mendengarkan orang tua mereka saling adu mulut satu sama lain.

Ketika seorang ayah atau ibu salah satu di antara mereka harus mengucapkan kata perceraian dan seorang anak mendengarnya, psikisnya pun bermasalah. Bagaimana tidak, anak yang tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis harus dipaksa untuk berfikir tentang hidup mereka kedepan. Hidup yang akan terus dihantui oleh pilihan. Seorang anak harus memilih mana yang terbaik untuk masa depannya, yang seharusnya belum waktunya untuk dipikirkan.

Mereka yang memiliki perasaan bimbang karena siapa yang harus dipilihnya untuk menjadi tempat berteduh ketika ayah dan ibunya tidak lagi bersama. Seorang anak memilih ibunya karena berpikir bahwa ibu yang melahirkannya dan ibu juga yang bisa mengasuhnya dengan sabar sepanjang hari. Namun, mereka yang memilih untuk melanjutkan hidup bersama ayahnya bukan berarti mereka tidak sayang kepada ibunya. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan sang anak tidak bisa melanjutkan hidupnya dan mengejar masa depannya bersama ibunya.

Masih sering terjadi kasus tentang ibu yang menganiaya anak kandungnya atau bahkan ibu yang tega membunuh anak kandungnya. Bisa jadi ini adalah salah satu alasan mengapa mereka anak – anak korban perceraian memilih hidup bersama ayah daripada ibunya. Ada juga mereka yang harus hidup dengan nenek atau kakeknya. Orang tua sudah tidak mau lagi mengurusnya sehingga sang anak korban perceraian orang tua ini harus tetap melanjutkan hidupnya untuk mengejar masa depannya bersama nenek dan kakeknya.

Beberapa orang tua memilih untuk tetap berkomunikasi dengan baik setelah adanya perceraian. Mereka yang masih memilih jalan ini dengan alasan supaya psikologi anak mereka tidak akan terganggu. Namun bagi mereka orang tua yang sudah bercerai, akan sangat sulit melakukan hal ini. Mereka masih terbendung rasa sakit hati pun rasa kecewa setelah apa yang mereka lakukan pada saat berumah tangga.

Tak hanya itu, orang tua yang terpaksa bercerai dan menelantarkan anak mereka juga masih sering terjadi di Indonesia ini. Setelah perceraian itu terjadi, mereka tidak memikirkan lagi tentang anak bahkan mereka merasa sudah tidak ada lagi beban anak dalam hidup mereka. Mirisnya, perilaku mereka harus mengorbankan psikologi buah hati mereka. Beberapa orang tua yang lain memilih untuk memperebutkan hak asuh anak yang artinya mereka masih menginginkan untuk hidup harmonis dalam keluarga meskipun harus kehilangan salah satu anggota keluarganya. Entah ayah ataupun ibunya.

 

Dalam hal ini, anak yang menjadi korban perceraian atas orang tuanya terkadang memiliki beberapa opsi untuk hidup kedepan. Mereka yang memilih untuk terus bangkit dan semangat tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi terhadap keluarganya, akan terasa baik – baik saja. Namun untuk mereka yang menjadi korban perceraian orang tuanya dan tidak bisa mengendalikan dirinya untuk terus menjadi baik, wajar saja mereka akan menjadi anak yang kurang perhatian dari orang tuanya dan lalu mengambil tindakan yang sangat tidak diinginkan. Hal ini masih sering terjadi di Indonesia atau bahkan di sekitar kita.

Foto : Freepik.com

Meditasi Membantu Anak Mengembangkan Latihan Kesadaran

Meditasi bermanfaat untuk mengurangi stres, meningkatkan kekebalan, meningkatkan kemampuan untuk fokus, dan meningkatkan kasih sayang pada orang-orang dari berbagai usia. Meditasi sebenarnya mengubah otak sehingga meditator memiliki kesadaran diri yang lebih sehat dan lebih banyak kemampuan untuk mengatur. Tak kalah penting, meditasi menenangkan kecemasan.

Jadi tampaknya jelas bahwa setiap anak akan mendapat manfaat dengan belajar bermeditasi. Selama masa cemas ketika anak-anak stres karena menjalani pembelajaran jarak jauh, kehilangan teman, kehilangan aktivitas favorit mereka, dan orang tua yang stres, membantu anak-anak mempelajari keterampilan untuk menenangkan diri bahkan lebih penting. Bahkan anak-anak yang sangat kecil pun bisa belajar betapa senangnya Ketika mengalami ketenangan batin. Read More

Tujuh Manfaat Melakukan Rutinitas dengan Anak

Tujuh Manfaat Melakukan Rutinitas dengan Anak

Melakukan aktivitas rutin Bersama anak tentu ada manfaatnya. Yuk simak 7 manfaat melakukan rutinitas dengan Si Kecil berikut ini:

  1. Rutinitas memastikan anak melakukan sesuatu tanpa disuruh

Rutinitas yang dilakukan anak membuatnya melakukan sesuatu tanpa disuruh orangtua. Misalnya, kegiatan seperti menyikat gigi, tidur siang, mematikan televisi dan sebagainya. Orang tua tidak perlu lagi mengingatkan atau memerintah anak berulang kali. Pasalnya, anak sudah memiliki kesadaran sendiri untuk melakukan hal tersebut.

  1. Rutinitas membantu anak-anak bekerja sama

Rutinitas membantu anak-anak bisa bekerja sama dengan Anda. Misalnya, bekerja sama membereskan rumah. Anak tanpa disuruh mau membereskan mainannya dengan rapi. Atau, kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan orangtua dan anak.

  1. Rutinitas membantu anak-anak belajar mengendalikan aktivitasnya

Seiring waktu, anak-anak belajar menyikat gigi, mengemasi tas dan lain-lain tanpa perlu diingatkan lagi. Anak-anak belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Perasaan ini meningkatkan rasa penguasaan dan kompetensi mereka. Anak-anak yang merasa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri.

  1. Anak-anak belajar tentang menunda keinginan atas yang mereka sukai

Misalnya, anak ingin bermain ke taman sekarang ini. Namun, dia bisa belajar bahwa pergi ke taman bermain biasanya pada sore hari. Jadi, dia bisa menantikannya nanti sore.

  1. Rutinitas yang teratur membantu anak-anak memenuhi jadwal

Rutinitas yang teratur membantu anak-anak menentukan jadwal, sehingga mereka lebih mudah tidur pada malam hari.

  1. Rutinitas membantu orang tua membangun momen hubungan yang berharga

Kita semua tahu bahwa perlu terhubung dengan anak-anak setiap hari. Jika kita membangun ritual koneksi kecil ke dalam rutinitas kita, itu akan menjadi kebiasaan. Cobalah berpelukan dengan setiap anak saat Anda pertama kali melihatnya di pagi hari, misalnya.

Ritual seperti ini akan menghubungkan Anda pada tingkat yang mendalam dengan anak. Jika Anda melakukannya sebagai “bagian dari rutinitas” anak  membangun keamanan serta koneksi dan kerja sama.

  1. Jadwal rutin membantu orang tua menjaga konsistensi dalam ekspektasi.

Jika semuanya bertengkar, orang tua akhirnya menyelesaikan: lebih banyak TV, tidak menyikat gigi untuk malam ini, dll.

Dengan rutinitas, semua anggota keluarga akan lebih akan menjaga konsistensi kegiatan sehari-harinya sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Dengan demikian, segalanya akan berjalan lebih lancar.

Foto : Freepik

 

Mengapa Anak Perlu Rutinitas?

Mengapa anak-anak membutuhkan rutinitas? Rutinitas memberikan mereka rasa aman dan membantu mereka mengembangkan disiplin diri.

Anak mengalami semacam “ketakutan” akan hal yang tidak diketahui mencakup perubahan-perubahan besar dalam hidupnya bahan mulai dari makanan baru yang didapatkannya, seperti sayuran. Yang pasti, anak akan dihadapkan anak-anak dihadapkan pada perubahan setiap hari, entah itu hal yang baik atau tidak, yang merupakan peluang bagi stimulasi pertumbuhan. Meskipun mungkin juga bisa membuat stres.

Tentunya anak akan tumbuh dan berkembang dengan menghadapi perubahan yang terus-menerus. Awalnya bayi menyusu, seiring waktu mereka akan menggunakan gelas untuk minum. Empeng dan botol sudah tak digunakan lagi.

Seiring bertambah umur anak, ia akan belajar berbagai ketampilan baru dengan kecepatan yang menakjubkan. Anak akan belajar membaca, dan menyeberang jalan hingga bermain sepak bola bahkan mengendarai sepeda. Sebagian anak aka tinggal di rumah yang sama selama masa kecilnya. Namun, sebagian anak lainnya akan berpindah-pindah rumah beberapa kali, ke kota lainnya pertama dikunjungi, menemukan lingkungan dan sekolah yang baru lagi.

Nah, dalam perubahan yang dialami setiap saat ini, anak-anak diharapkan dapat menjalani runitasnya dengan baik.  Dengan demikian, anak akan merasa aman dan mampu menguasai atau menjalani kehidupannya. Saat rasa penguasaan ini diperkuat, anak dapat menangani perubahan yang lebih luas lagi, misalnya berjalan ke sekolah sendirian, membayar pembelian di toko, mengikuti kegiatan perkemahan dan sebagainya.

Adanya perubahan yang tak terduga bisa mengikis rasa aman dan membuat anak cemas bahkan kurang mampu mengatasi perubahan yang dialami. Misalnya, sahabat karibnya harus pindah rumah, dan sebagainya.

Tentu saja banyak perubahan yang tidak bisa dihindari. Tetapi itulah mengapa anak membutuhkan rutinitas yang dapat diprediksi sebagai landasan dalam hidup mereka – sehingga mereka dapat mengambil kesempatan untuk menangani perubahan besar saat membutuhkannya.

Rutinitas membantu anak-anak merasa aman dan siap untuk menghadapi tantangan baru. Hal itu juga memiliki peran perkembangan penting lainnya. Rutinitas mengajari anak-anak cara mengelola diri dan lingkungannya secara konstruktif.

Anak-anak yang datang dari rumah yang “semrawut” di mana barang-barangnya tidak dibereskan tidak akan pernah belajar bahwa hidup dapat berjalan lebih lancar jika segala sesuatunya diatur sedikit. Di rumah di mana tidak ada waktu atau ruang yang ditentukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, anak-anak tidak pernah belajar bagaimana duduk sendiri untuk menyelesaikan tugas yang baginya tidak menyenangkan.

Selain itu, anak-anak yang tidak mengembangkan rutinitas perawatan diri dasar, mulai dari merawat diri hingga makan, mungkin merasa sulit untuk merawat diri mereka sendiri Ketika mulai beranjak remaja bahkan saat dewasa. Struktur memungkinkan kita untuk menginternalisasi kebiasaan yang membangun rutinitas yang baik.

Apakah ini berarti bayi harus menjalani rutinitas sedini mungkin? Tentu tidak demikian. Bayi memberi tahu kita apa yang mereka butuhkan. Kita memberi mereka makan saat lapar, mengganti popoknya saat basah.

Seiring waktu, mereka mempelajari berbagai rutinitas. Saat kita tidur di malam hari, hal ini “memaksa” bayi untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas kita. Namun, hal itu tidak responsif terhadap kebutuhan bayi. Dia belum mampu beradaptasi dengan kita. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi, dia akan merasa seolah-olah dunia adalah tempat di mana kebutuhannya tidak terpenuhi.

Saat bayi memasuki masa kanak-kanak, ia akan menetapkan rutinitasnya sendiri, menyesuaikan dengan semacam jadwal. Kebanyakan bayi menyesuaikan diri dengan pola yang dapat diprediksi. Kita dapat membantu mereka dalam hal ini dengan Menyusun jadwal berdasarkan kebutuhan mereka. Jadi, misalnya, kita memastikan atau menyiapkan kondisinya saat tidur siang. Secara bertahap, seiring waktu, kita dapat merespons jadwal makan dan tidurnya yang alami dengan mengembangkan rutinitas yang sesuai untuk dirinya dan seluruh anggota keluarga.

Foto : freepik.com

Cara Mengasah Kreativitas Anak (3)

Setiap orang tua pasti menginginkan anak tumbuh dan berkembang dengan optimal, salah satunya menjadi sosok yang kreatif. Nah, berikut ini beberapa tips cara mengasah kreativitas anak:

  1. Bantu anak untuk fokus dengan aktivitasnya

Konon, orang kreatif mungkin membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar bagaimana tetap terpusat dengan aktivitasnya. Anda dapat membantu anak untuk hal ini. Pastikan ia untuk dapat mengatur jadwal kegiatannya, agar tidak sepanjang hari berkutat dengan kegiatannya. Walaupun ia senang dengan kegiatannya, namun perlu ada pembagian waktu untuk aktivitas lain. Misalnya, untuk makan, istirahat dan lainnya.

Dengan kata lain, meski kita dorong anak untuk bisa fokus dengan kegiatan yang disenanginya, namun jangan sampai melupakan hal penting lainnya. Anda dan anak bisa membicarakan mengenai jadwal kegiatan dalam sehari sehingga ia tetap bisa konsisten dan fokus melakukan kegiatan yang disukainya. Namun, di sisi lain, kebutuhan lainnya pun tetap terpenuhi.

  1. Jangan takut merasa bosan

Orang tua seringkali menanggapi kebosanan anak dengan memberikan aktivitas lain yang mungkin kurang disenanginya. atau, memberikan gadget agar anak beralih dari kegiatan sebelumnya. Sebaiknya ajak anak untuk melakukan kegiatan yang mengasah imajinasi dan menciptakan serta berkreasi.

Sebenarnya, hindari anak merasa bosan dalam melakukan kegiatan yang mengasah kreativitasnya. Soalnya, anak membutuhkan latihan dengan waktu tidak terstruktur. Yang lebih penting, anak membutuhkan waktu kosong untuk menjelajahi dunia kreativitas.

Jadi bagaimana menanggapi ketika anak mengeluh bahwa dirinya meras bosan? Yang pasti, bantu ia untuk bertukar pikiran tentang kemungkinan kegiatan. Akan tetapi perjelas bahwa itu tugas ia untuk mencari cara menikmati waktunya sendiri. Untuk lebih lanjut tentang menangani kebosanan.

Tip penting: Ini sangat membantu untuk mencegah anak bergantung pada layar televisi atau gadaget.  Anak-anak yang secara teratur menonton televisi atau komputer lebih cenderung merasa bosan daripada anak-anak lain. Bahkan setelah menghilangkan kebiasaan itu, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menemukan aktivitas lain yang disukainya. Tapi jangan putus asa. Mulailah mengurangi menonton televisi. Anak mungkin akan merasa keberatan, tetapi Anda akan melihat keterlibatan baru dengan kreativitasnya sendiri mulai berkembang.

  1. Dorong anak untuk berkreasi bersama

Meskipun kita biasanya menganggap kreativitas sebagai upaya individu, terkadang pengalaman kreatif yang paling berharga datang saat saling bekerja sama. Sebuah organisasi paling kreatif dan inovatif dikenal karena mendorong kerja tim.  Pasalnya, ide terbaik sering kali merupakan produk kolaborasi. Jadi, apakah anak-anak sedang berkutat membangun sesuatu dengan balok atau menulis cerita, ada baiknya Anda dukung  ia untuk mengatasi tantangan dalam berkreasi dengan orang lain, karena pengalaman dapat menjadi transformatif.

Foto : freepik.com