Yuk, Ajak Anak Bermain Di Dapur (2)

Nah, berikut ini beragam kegiatan bermain yang bisa dilakukan bersama anak di dapur:

  1. Menyiapkan bahana pangan untuk dimasak

Tentunya aktivitas untuk anak TK lebih sederhana dibandingkan anak SD. Untuk anak TK, kegiatannya adalah:

  • Menyiapkan bahan-bahan pangan yang akan dimasak. Ajak anak untuk mengambilnya di kulkas atau keranjang belanjaan lalu membawanya ke dapur. Orangtua dapat melatih ketajaman dan kepekaan pancaindra anak. Pilih bahan masakan dengan berbagai tekstur, bentuk, rasa dan aroma. Jelaskan kulit sebagai indera peraba, biarkan anak merasakan perbedaan antara beras dan kacang-kacangan. Dengan membedakan rasa garam dan gula, kita mengajarkan lidah sebagai indra perasa. Begitu juga ketika kita membiarkan anak untuk membaui perbedaan berbagai rempah-rempah dengan wanginya serbuk vanilla. Hal ini juga mengajarkan konsep tentang keras, lunak, cair, padat dan lain-lain.
  • Menjelaskan bahan pangan apa saja yang dipakai untuk memasak. Bahan pangan mana yang masih bagus dan kurang bagus, alat-alat apa saja yang akan dipakai untuk memasak. Hal ini akan memperkaya kosa kata sekaligus menjalin komunikasi yang  baik.
  • Mengajarkan mencuci bahan-bahan makanan yaitu dari air kran yang mengalir.  

Untuk anak SD, ragam aktivitas yang bisa dilakukan adalah:

  • Menyiapkan resep makanan.  Kegiatan ini mengajarkan anak untuk mengikuti suatu petunjuk atau rule yang harus diikuti. Anak juga sekaligusbelajar menulis dan membaca.
  • Menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Anak dilatih ketajaman pancaindra dan belajar matematika sederhana. Anak belajar berhitung dengan belajar jumlah takaran, menghitung jumlah bahan yang akan digunakan dan lain-lain. Melalui cara ini, anak dapat mengembangkan kemampuan mengurutkan sesuatu dengan benar. Selain itu, dapat juga mengembangkan atau mengajarkan konsep konsep yang berkaitan dengan berat, isi, ukuran dan bentuk dengan berbagai contoh konkret.
  • Mengupas, memotong dan membersihkan bahan makanan. Dengan kegiatan ini, anak belajar diberi tanggung jawab dan menyelesaikan sesuatu aktivitas.

B. Memulai Memasak

Untuk anak TK, aktivitas yang bisa dilakukan :

  • Membantu memasukkan bahan-bahan yang akan dimasak ke dalam perlengkapan masak.
  • Saat mama masak, ajak anak melihat tekstur makanan dan mengecek makanan apakah sudah matang dan mengecek rasanya.
  • Setelah masakan matang, ajari memasukkan ke wadah makanan dan menatanya sesuai kreasi anak.

Untuk anak SD, aktivitas yang bisa dilakukan:

  • Menyalakan kompor, tentunya dengan pengawasan dan bimbingan orangtua.
  • Memasukkan bahan makanan ke dalam alat memasak.
  • Mengecek resep makanan untuk tahapan-tahapan memasak.
  • Mengecek apakah sudah matang
  • Mengecek rasa dan tekstur makanan
  • Mengaduk dan mengangkat makanan jika sudah matang
  • Memasukkan ke wadah atau tempat makanan sekaligus menatanya sesuai dengan kreativitas anak

C.Membuat kue

Untuk anak TK, aktivitas yang bisa dilakukan :

  • Membantu mama membuat daftar bahan-bahan apa saja yang digunakan untuk membuat kue/resep makanan
  • Membuat adonan, mengaduk adonan
  • Membentuk atau mencetak kue sesuai dengan kreasi mereka masing-masing
  • Membantu mama memasukkan ke dalam oven
  • Menata kue dan menghiasnya
  • Menyimpan di toples

Untuk anak SD, aktivitas yang bisa dilakukan :

  • Membaca resep makanan
  • Menyiapkan bahan-bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat kue
  • Menyiapkan berapa takaran air, jumlah bahan-bahan makanan yang dibutuhkan untuk membuat kue
  • Membuat adonan, mengaduk adonan
  • Mengecek apakah adonan tersebut membutuhkan tambahan bahan misal air, tepung, dan lain-lain.
  • Membentuk atau mencetak kue sesuai dengan kreativitas mereka
  • Memasukkan ke dalam oven
  • Menata kue ke dalam toples atau menyajikannya di tempat tertentu

D. Menyiapkan meja makan

 Aktivitas anak TK dan SD hampir sama, hanya saja untuk TK :

  • Diberikan kesempatan menata piring dan sendok sesuai tempatnya
  • Membantu menghidangkan menu

Untuk anak SD, aktivitas yang dilakukan :

  • Dimulai dengan mengambil piring, gelas dan kemudian menatanya
  • Menata piring, sendok, garpu dan lain-lain sesuai tempatnya. Dilakukan dengan rapi.
  • Meletakkan makanan sesuai tempat. Misal, makanan kering di piring, yang berkuah diletakkan di mangkok.
  • Mengambil makanan dari dapur kemudian menatanya di meja makan
  • Mengatur posisi atau letak masing-masing makanan di meja makanan

E. Membereskan meja makan dan mencuci alat makan

Aktivitas yang bisa dilakukan untuk anak TK :

  • Membersihkan meja dari sisa-sisa makanan
  • Membantu membawa alat makan ke dapur

Aktivitas yang bisa dilakukan untuk anak SD :

  • Membersihkan meja dari sisa-sisa makanan
  • Membawanya ke dapur
  • Mencuci alat makan seperti piring dan lain-lain.
  • Mengelap dan menatanya di rak piring

Saat beraktivitas di dapur, ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan;

  • Hati-hati dengan benda tajam
  • Perlu memperhatikan api dari kompor listrik
  • Hati-hati dengan alat-alat masak misalnya oven
  • Hati-hati dengan gelas, piring atau barang pecah belah

(hil)

Foto: freepik.com

Latih Anak Mandiri Tanpa Si ‘Mbak’ (2)

Nah, jika sebelumnya anak memang sudah dibiasakan untuk dibantu dalam melakukan aktivitas sehari-harinya, saat asisten tidak ada, bukan berarti selanjutnya orangtua menggantikan peran asisten. Lalu, ayah/ibu membantu anak dalam melakukan segala sesuatunya.

Sebaliknya, orangtua juga tidak bisa berharap anak tiba-tiba dapat melakukan segala sesuatunya sendiri secara mandiri saat si asisten tidak ada. Artinya, orangtua tidak bisa begitu saja melepas anak untuk melakukan kegiatan bina dirinya sendiri.

Kemandirian anak dapat diasah. Pada awalnya, orangtua dapat terlebih dahulu memberikan pendampingan kepada anak dalam melakukan kegiatan bina dirinya tersebut. Lalu secara bertahap memberikan kepercayaan kepada anak untuk melakukan sesuatu secara mandiri. Misalnya, jika sebelumnya anak terbiasa untuk dibantu saat mandi, awalnya orangtua dapat menemani anak sambil memberikan arahan. Sebagai contoh, dapat berbentuk pertanyaan saat anak mandi .“Nah setelah pakai sampo, selanjutnya Adik harus apa?”.

Selanjutnya, orangtua masih perlu menemani beberapa kali dengan mengurangi memberikan arahan. Nah, setelah anak tampak mampu mandi secara mandiri, ayah/ibu dapat mempercayakan anak untuk mencoba mandi sendiri. Pujian dan apresiasi terhadap usaha anak untuk mandi sendiri juga dapat diberikan. Hal ini juga demi mengembangkan rasa mampu dan kepercayaan diri anak.

ASAH SEJAK DINI

Kemandirian anak hendaknya diasah sedini mungkin. Tujuannya  agar sikap mandiri ini menjadi bagian dari rutinitas mereka untuk masa selanjutnya. Lalu, di usia berapa anak bisa dilatih untuk mandiri? Secara umum, anak dapat mulai diajarkan kemandirian pada usia sekitar dua tahun. Pasalnya, di usia ini anak sudah mantap untuk berjalan sendiri dan menjangkau tempat tertentu. Pada usia ini juga anak sudah mampu dilatih untuk terlibat dalam aktivitas bermakna demi pengembangan dirinya, seperti belajar untuk makan sendiri, berpakaian, ataupun menggunakan toilet saat mau buang air.

Kemandirian umumnya dapat dilatih di rumah melalui kegiatan bina diri. Berikut contoh-contoh kegiatannya: 

  • Untuk anak usia 2-4 tahun, kemandirian yang dapat dilatihkan misalnya dengan mengenakan pakaiannya sendiri. Awalnya dengan sedikit bantuan dari orangtua. Contoh lain, mencoba menyuapkan makanannya sendiri. Hal lainnya yaitu melatih anak untuk merapikan mainan, atau membuang sampah kering seperti tisu atau kertas ke tempat sampah.
  • Untuk anak usia TK atau 4-5 tahun, orangtua dapat melatih anak untuk berpakaian sekolah sendiri, termasuk juga untuk mengancingkan seragam sekolahnya. Ia juga dapat dilatih untuk mengenakan kaos kaki dan sepatu sendiri.
  • Untuk anak usia SD (6-9 tahun), kemandirian yang dapat dilatih adalah dengan membiasakan untuk menyiapkan buku-buku sekolah secara mandiri. Ia juga dapat diajar untuk merapikan tempat tidurnya saat bangun pagi. Aktivitas ini juga dapat mengasah kemampuan anak agar lebih terorganisasi atau teratur. Pada usia ini, anak juga dapat dilatih melakukan kegiatan rumah tangga yang bersifat sederhana, misalnya membersihkan debu di meja dan area-area yang mudah dijangkau oleh sang anak. Sebagai catatan, seperti yang dijelaskan sebelumnya, orangtua dapat memberikan pendampingan awal terlebih dahulu dalam menjalankan aktivitas-aktivitas tersebut.
  • Untuk anak usia SD (9-12 tahun), kemandirian yang dapat dilatih misalnya menjaga adik yang lebih kecil, termasuk menjaga saat adik tidur, atau mengawasi adik saat bermain. Kegiatan rumah tangga juga sudah dapat diajarkan dan dibiasakan pada usia ini. Contohnya membantu saat mencuci piring, menyiram tanaman, ataupun menyapu halaman rumah. 

SEGUDANG MANFAAT

Tentunya ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melatih kemandirian anak. Selain anak menjadi mampu melakukan rutinitas dan kegiatan tertentu secara mandiri, kepercayaan diri anak juga ikut terbentuk.

Kemudian, aktivitas-aktivitas yang dilakukan pun turut mengasah kemampuan motorik anak. Misalnya, kegiatan bersih-bersih rumah seperti merapikan tempat tidur, menyapu, ataupun membersihkan debu melatih gerak fisik pada anak. Selain tentu aja kondisi rumah menjadi bersih dan rapi.

Sementara, aktivitas seperti mengancingkan pakaian ataupun mengikat tali sepatu dapat mengasah kemampuan motorik halus. 

Lewat aktivitas menyiapkan buku-buku sekolah, anak dilatih untuk mencoba mengingat buku-buku apa saja yang perlu dipersiapkan supaya tidak ada yang tertinggal. Hal ini akan mengasah kemampuannya berkonsentrasi, di samping kemampuan anak agar lebih teratur dan disiplin.

          Tak kalah penting, bila berbagai aktivitas tersebut dilakukan dalam suasana kebersamaan, misalnya melakukan kegiatan bersih-bersih rumah pada akhir pekan bersama keluarga, tentu menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi anak. Kegiatan bersih-bersih juga tidak akan dirasa sebagai suatu yang membebankan. Bahkan, dengan adanya kebersamaan, hubungan antarsesama anggota keluarga pun akan menjadi lebih harmonis.(hil)

Foto: freepik.com