Yuk, Ajak Anak Bermain Di Dapur (1)

Mengajak anak bermain bisa dimana saja. Tidak melulu harus di arena permainan. Taman/lapangan kompleks, teras rumah, ruang keluarga, atau kamar sekalipun bisa menjadi area untuk bermain bersama buah hati. Tak terkecuali, dapur.

Ya, dapur. Area untuk memasak dan menyimpan perkakas ini juga bisa menjadi tempat “bermain” (dan belajar) bagi anak. Kita bisa mengajak sang buah hati yang berusia TK (5-6 tahun) dan SD (6-12 tahun) untuk mengeksplorasi tempat ‘kotor’ di dalam rumah ini.

Usia TK adalah masa belajar tapi bukan dalam dunia dua dimensi (pensil dan kertas). Ia belajar pada dunia nyata, yaitu dunia tiga dimensi. Masa prasekolah ini merupakan time for play. “Pada tahun-tahun pertama kehidupan, anak butuh waktu bermain(playtime) sebagai sarana untuk tumbuh dalam lingkungan budaya dan kesiapannya dalam belajar formal.”

Bermain adalah kegiatan spontan yang melibatkan motivasi dan prestasi anak. Dalam duanianya, seorang anak adalah decision maker dan play master.  Dengan bermain, si prasekolah ini bebas beraksi dan juga mengkhayalkan dunia lain sehingga ada elemen petualangan. “Nah, bermain di dapur merupakan salah satu aktivitas yang seru untuk dilakukan.”

Sementara, pada usia SD, sebagian besar waktu digunakan untuk sekolah. Pada rentang usia ini, anak mengalami perkembangan cara berpikir logis sebagai hasil dari sekolah formal yang dijalani. Aktivitas yang dilakukan anak adalah mengerjakan tugas akademik seperti membaca, menulis, berhitung, mengerjakan tugas fisik, dan mengerjakan tugas-tugas sosial seperti berteman, mengikuti aturan, bertukar pendapat, dan lain-lain. “Bermain di dapur salah satu aktivitas yang baik dilakukan untuk melatih kemampuan-kemampuan mereka. Aktivitas belajar seperti membaca dan menghitung tidak harus dilakukan dengan media kertas dan pensil/pulpen, melainkan bisa dilakukan lewat bermain. Dengan bermain, si anak akan lebih cepat mengingat atau mencerna suatu pelajaran.”

KETERLIBATAN ANAK LAKI-LAKI

 Kegiatan atau aktivitas di dapur ini tidak terikat pada gender anak. Bukan berarti anak lelaki tidak diperbolehkan untuk melakukan berbagai aktivitas di dapur. Adapun kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan anak laki-laki adalah :

  • Membaca resep, menentukan daftar-daftar apa saja yang harus dilakukan
  • Menentukan jumlah takaran air, menghitung jumlah bahan-bahan makanan, dan lain-lain.
  • Menentukan bahan-bahan apa saja yang digunakan untuk memasak
  • Mengenalkan bahan-bahan yang digunakan
  • Mengenalkan dan menjelaskan fungsi alat-alat untuk memasak
  • Mulai mengaduk bahan-bahan, mengaduk adonan
  • Memasak dengan memasukkan bahan-bahan makanan

Begitu selanjutnya sampai dengan menyiapkan makanan dan membersihkannya jika sudah selesai.

KETERLIBATAN PAPA

Keterlibatan papa dalam aktivitas di dapur tidak kalah penting dengan mama. Dengan keterlibatan papa di dapur, ada beberapa manfaat yang dapat dipetik, diantaranya :

  • Menjalin komunikasi dengan anak
  • Menjalin kerjasama yang baik
  • Meningkatkan kedekatan, kehangatan antara papa dan anak
  • Membiasakan anak untuk melakukan kegiatan yang positif

‘Kotor’ di Dapur Membuat Anak Cerdas

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan bermain di dapur ini, diantaranya adalah :

  1. Aktivitas bermain didapur dapat mengajarkan matematika sederhana buat anak. Kegiatan memasak seperti menghitung, mengukur, mengisi cairan dalam mangkok, sendok dan mengaduknya juga merupakan proses yang menarik diikuti anak untuk memahami jumlah yang tepat pada penggunaan resep.
  2. Memperkaya kosakata anak. Dengan aktivitas di dapur maka dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak dengan memperkenalkan berbagai bahan makanan dan alat memasak atau apapun yang ada di dapur.
  3. Dapat mengembangkan konsep anak. Anak dapat diajarkan terkait konsep-konsep yang berkaitan dengan berat, isi, ukuran dan bentuk dengan berbagai contoh konkret.
  4. Mengajarkan tentang kerja sama. Kegiatan di dapur dapat meningkatkan kemampuan anak untuk dapat bekerja sama dengan teman atau orangtua. Hal ini juga termasuk melatih anak untuk bersabar menunggu gilirannya dan bersenang-senang dengan aktivitasnya.
  5. Melatih daya imajinasi dan kreativitas anak. Memasak adalah cara lain untuk menyalurkan kreativitas, tak hanya untuk orang dewasa, tetapi juga untuk anak-anak. Memasak memberikan kesempatan anak untuk bereksperimen dengan kombinasi rasa, warna serta tekstur.
  6. Melatih motorik, belajar dan menciptakan memori.
  7. Membangun kemampuan tertentu. Dapur adalah tempat yang baik untuk membantu anak melatih kemampuan atau keahlian tertentu. Mengizinkan anak untuk menggunakan alat-alat tertentu membantu anak melatih motorik anak.
  8. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab. Mengizinkan anak membantu di dapur sama dengan membantu melatih tanggung jawab. Anak-anak suka merasa dilibatkan dan umumnya mereka akan sangat bersedia membantu untuk menyiapkan makanan atau camilan.
  9. Meningkatkan kedekatan, kehangatan dan rasa cinta antara orangtua dan anak. Kegiatan belajar-mengajar merupakan salah satu bentuk interaksi. Begitu pula dengan kegiatan memasak bersama yang secara tidak langsung mama mengajarkan masak pada sang buah hati anak merupakan salah satu bentuk interaksi yang positif. Semakin sering interaksi dilakukan pada anak, akan semakin meningkat pula kehangatan dan rasa cinta antara orangtua dan anak. (hil)

foto: freepik.com