Persiapkan Remaja Hadapi Perubahan Diri

Di masa remaja terjadi perubahan periode tumbuh kembang yang demikian pesat. Ya, remaja banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Karena itulah, tak salah bila ada yang menyebut fase remaja merupakan masa yang krusial dan penting juga diperhatikan.

Sebenarnya, sejak anak berusia dua tahun sudah terjadi berbagai perubahan fisik, sehingga pada bagian otak pun sudah mulai melakukan berbagai persiapan untuk menghadapi masa-masa berikutnya.
 
Dua bagian dari otak, kelenjar hipotalamus dan hipofisis, mulai memproduksi sejumlah hormon, termasuk hormon pemicu hormon seks LH (luteinising hormone) dan FSH (follicle stimulating hormone).
Nah, remaja perempuan dan laki-laki memiliki kedua hormon ini, akan tetapi perubahannya saja yang berbeda.

Berat Badan Bertambah

Di masa pubertas ini, remaja perempuan mulai mengalami pertumbuhan payudara, rambut di sekitar kemaluan, tumbuhnya rambut di sekitar ketiak dan munculnya menstruasi pertama (menarche).
 

Selain itu, pada remaja perempuan terjadi pembesaran ukuran rahim yang tidak terlihat kasatmata. Berbeda dengan pertambahan ukuran panggul dan payudara.

Sementara pada anak lelaki, pubertas ditandai dengan perubahan suara yang membesar, tumbuhnya bulu-bulu pada tubuh, serta pembesaran organ genitalia (penis dan testis).

Nah, pembesaran berbagai organ tubuh tersebut tentunya dapat memengaruhi berat badan si remaja. Berat badan remaja perempuan bisa bertambah 19–22 kg selama masa pubertas. Sementara, remaja pria akan mengalami pertambahan bobot hingga 21–23 kg.
 
”Berat badan sebelum pubertas normalnya bertambah antara 5–6 kg per tahun untuk remaja perempuan dan 2,5–3 kg per tahun untuk remaja pria. Jadi jangan heran jika memasuki usia pubertas, anak jadi terlihat lebih berisi.”

Masalahnya, menjadi gemuk karena membesarkan organ-organ tubuh ini merupakan salah satu perubahan yang tidak disukai bahkan cukup ditakuti para remaja.

Di sisi lain, ada perubahan lain yang dialami remaja karena dipengaruhi hormon yaitu meningkatnya nafsu makan. Hal itu menyebabkan remaja suka makan camilan karena merasakan cepat lapar. Maka jadi suatu dilema. Ketika remaja tak menyukai perubahan tubuhnya yang gemuk tapi selera makan terus meningkat.


Tak hanya itu, bentuk tubuh yang mulai berubah tersebut bahkan bisa memengaruhi psikis. Ya, remaja mengalami perubahan emosi termasukmood yang kerap naik-turun.

Penuhi Kecukupan Gizi


Agar anak tidak kaget akan perubahan dalam tubuhnya saat memasuki masa remaja, sebaiknya orangtua mulai sejak dini memberikan penjelasan mengenai perubahan-perubahan di masa pubertas atau remaja.

Selain itu, peran orangtua pun dibutuhkan dalam mendampingi di saat memasuki masa remaja, terutama dalam menghadapi berbagai perubahan yang akan terjadi. Salah satunya adalah faktor gizi.

Seperti kita tahu, zat-zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Bahkan pemenuhan kebutuhan itu sudah harus dipenuhi sejak janin di kandungan dan terus berlanjut hingga mereka dewasa. 

Nah, orangtua perlu memerhatikan nutrisi yang dibutuhkan sesuai tahapan usia. Jadi, tidak bisa menyamaratakan makanan pada semua usia. Pasalnya, kebutuhan nutrisi anak di usia pertumbuhan tentu berbeda dengan anak usia sekolah, pra remaja dan remaja karena secara kejiwaan dan hormonal juga berbeda.

Karena itu, makanan yang diberikan hendaknya dibedakan, sesuai dengan kebutuhan proses tumbuh kembangnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa makanan bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi juga memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Di masa pra remaja dan remaja, mulai ada perkembangangan fungsi organ reproduksinya yang menghasilkan berbagai hormon untuk mempersiapkan kematangan fungsi reproduksinya. Pengaruh hormonal ini menyebabkan terjadinya tumbuh kembang yang cepat seperti halnya saat masa janin dan bayi. “Boleh dibilang masa prapubertas dan pubertas merupakan masa krusial di mana kecukupan gizinya harus diperhatikan dengan baik.”

Dalam mencukupi kebutuhan gizi, orangtua juga harus mengetahui kebutuhan antara remaja putri dan putra yang ternyata berbeda.

Remaja putri cenderung membutuhkan asupan yang rendah lemak, tinggi zat besi, dan antioksidan (vitamin C dan E). Kekurangan zat besi menyebabkan anemia yang bisa menimbulkan konsekuensi serius di masa datang. Remaja perempuan juga membutuhkan asupan vitamin B kompleks.

Sementara remaja putra membutuhkan asupan tinggi B kompleks dan L-Cartine untuk mendukung pertumbuhan fisiologis. Memang, remaja pria membutuhkan lebih banyak energi untuk beraktivitas dan pembentukan massa otot.

Secara umum, untuk dapat memenuhi asupan zat gizi dari makanan yang dapat mendukung tumbuh kembang optimal masa remaja perlu pola makan yang seimbang dalam jenis bahan makanan bergizi.

”Seimbang dalam jumlah porsi bahan makanan sehingga dapat memenuhi kebutuhan semua zat gizinya.”

Selain itu, jumlah porsi yang seimbang juga disajikan dalam jadwal makan yang seimbang, yaitu terbagi secara proporsional dalam hidangan makan pagi atau sarapan, makan siang, dan makan malam, serta makanan selingannya.

Jika remaja memiliki pola makan dengan gizi seimbang tersebut,otomatis kebutuhan akan kalori dan zat gizi untuk proses tumbuh kembang yang optimal akan terpenuhi. Karena berbagai jenis bahan makanan yang digunakan dalam jumlah terbagi secara proporsional setiap harinya akan saling melengkapi jenis dan jumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

Kelengkapan kebutuhan makanan bisa didapat dengan mengisi piring dengan makanan pokok (sumber kalori), lauk-pauk hewani dan nabati (sumber protein dan lemak), sayur dan buah (sumber vitamin dan mineral serta serat). Sementara susu menjadi pelengkap hidangan agar asupan zat gizi dari makanan dapat disempurnakan untuk mendukung proses tumbuh kembang remaja yang optimal.

Foto: freepik.com