Seluk Beluk Gadget dan perkembangan anak

-Interview koran jakarta- (dokumen)

  • Melihat banyaknya anak-anak yang memakai gadget, sebenarnya pada usia berapakah lazimnya anak-anak dikenalkan dengan gadget atau mempunyai gadget sendiri seperti handphone , laptop atau ipad misalnya?

Menurut para pakar pendidikan, sebaiknya anak dikenalkan pada fungsi dan cara menggunakan gadget saat berusia 6 tahun. Karena di usia tersebut perkembangan otak anak meningkat hingga 95% dari otak orang dewasa. Sebab, jika mengenalkan gadget di bawah usia 6 tahun,  anak lebih banyak untuk bermain karena anak tertarik dengan visual (gambar) dan suara yang beragam yang terdapat di gadget. Jadi penggunaan gadget harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Namun menurut sebuah studi pada 2004 yang dipublikasikan jurnal Pediatrics anak-anak yang menonton televisi saat usia mereka 1 sampai 3 tahun mengalami penurunan perhatian saat usia mereka 7 tahun.

Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tidak belajar sesuatu yang substansial, seperti bahasa, dari layar seperti televisi, tablet, atau personal komputer sampai usia mereka 30 bulan. The American Academy of Pediatrics menyarankan orangtua harus menunda pemberian gadget seperti tablet dan komputar sampai usia mereka 2 tahun.

Saya memiliki pendapat yang sama, karena mata anak baru berkembang dan belum terlalu stabil untuk memperhatikan layar gadget yang bergerak dengan cepat. Namun di zaman generasi digital ini, memang penting untuk mengenalkan gadget pada anak di usia dini. Karena anak menjadi lebih terstimulasi terhadap visualisasi dan pendengaran yang lebih beragam. Namun para ahli  jika ingin memperkenalkan gagdet pada bayi atau anak, sebaiknya mengenalkan fungsi dan operasi gadget pada anaknya saat berusia 6 tahun. Karena perkembangan anatomi otak anak sudah meningkat sebesar 95 % otak dewasa.

  • Apa dampak buruk dari hal ini baik secara kesehatan maupun psikologis terhadap si anak?

Sekarang kita hidup di era cyber atau era digital yang unik, aneh, dan penuh tantangan. Berbagai peralatan super canggih, khususnya handphone, komputer, game (gadget) secara tidak langsung telah merubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Akibat dari penggunaan gadget-gadget tersebut tidaklah melulu positif, tergantung siapa dan bagaimana menggunakannya. Karena itulah, dibutuhkan upaya prefentif agar “generasi Z” yang sedang tumbuh dapat terkontrol dalam menggunaan gadget.


Generasi Z merupakan generasi terkini yang lahir sesudah tahun 1994 dan sebelum tahun 2004. Apabila kita amati, anak-anak generasi Z ini menunjukkan ciri-ciri di antaranya memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi sehingga mereka mendapatkan kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Secara umum, generasi Z ini merupakan generasi yang banyak mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi, bermain, dan bersosialisasi.


Generasi Z, yang sekarang sudah berusia pra-remaja, dalam banyak hal berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni generasi Baby Boomers (lahir 1946-1964), generasi X (lahir 1965-1980) dan Y (lahir 1981-1995). Salah satu perbedaan yang mencolok adalah ketertarikan mereka kepada perangkat gadget di saat usia mereka masih sangat muda.

Memang ada dampak negatifnya, namun  dampak negatifnya juga perlu diwaspadai karena cukup mengancam anak-anak di generasi digital ini, apalagi jika mereka sudah ketergantungan berlebihan terhadap peralatan canggih, yaitu :

Secara akademik :

  1. cenderung menginginkan hasil yang serba cepat, serba-instan, dan serba-mudah,
  2. tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.
  3. Kecerdasan Intelektual (IQ) mereka mungkin akan berkembang baik, tetapi kecerdasan emosional intelligence mereka jadi tumpul.
  4. Penelitian dari American Academic of Child Psychology juga memaparkan kemungkinan buruknya smartphone, yakni hilangnya kreativitas di usia muda karena dalam pengerjaan tugas-tugas yang sifatnya akademis, anak-anak cenderung mengandalkan mesin pencari dalam internet yang memungkinkan mereka melakukan copy-paste.
  5. Anak menjadi malas, karena semua informasi tersedia di dalam sebuah genggaman tangan, jadi kecenderungan dan kesempatan anak untuk berusaha mencari dari toko buku, majalah dan lain-lain menjadi hilang
  6. Dengan memiliki gadget baik itu sarana telekomunikasi seperti HP maupun sarana hiburan seperti tablet, maka tak dapat dipungkiri jika nak dapat mengalami penurunan konsentrasi saat belajar. Konsentrasinya menjadi lebih pendek dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Anak lebih senang berimajinasi seperti dalam tokoh game yang sering ia mainkan menggunakan gadget-nya.
  7. Fakta menunjukkan bahwa ketika belajar, anak tidak mau mencari data dan tidak tertantang untuk melakukan analisis terhadap permasalahan atau pelajaran yang dihadapi. Anak menginginkan sesuatu yang serba cepat dan langsung terlihat hasilnya. Ada pun proses untuk mencapai hasil akhir itu menjadi kurang atau bahkan tidak dipedulikan.
  8. Gagdet juga dapat menjadikan anak enggan menulis dan membaca. karena gadget dapat memudahkan untuk menulis dan membaca, ini dapat sangat memengaruhi keterampilan menulis anak. Bukan hanya itu, perangkat gadget pun tampak lebih menarik dan menggoda karena memiliki tampilan visual yang fantastis, karena dapat memperlihatkan sesuai dengan kenyataan. Akibatnya anak-anak menjadi malas membaca buku. Padahal, membaca buku tanpa visualisasi dapat membantu perkembangan imajinasi anak.

Secara sosial :

  1. anak cenderung berkurang dalam komunikasi secara verbal,
  2. cenderung bersikap egosentris dan individualis,
  3. anak tampak begitu lekat dengan smartphone-nya. Ia baru merasa aman dan eksis bila selalu terhubung dengan orang lain. Kalau tidak, ia khawatir dirinya dikucilkan, sehingga anak selalu membawa kemanapun smartphone-nya. Ia lebih mementingkan berkomunikasi dengan orang-orang “nun jauh” di sana ketimbang dengan orang-orang di sekelilingnya.
  4. Anak menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar serta tidak memahami etika bersosialisasi. Anak tidak tahu, bila ada banyak orang menginginkan sesuatu yang sama, maka wajib antre agar tertib. Ini terjadi karena anak tidak memahami adanya sebuah proses. Apa yang diinginkan harus segera ada dan terwujud, karena terbiasa mendapat pemahaman melalui games atau tontonan.
  5. anak menjadi kurang sensitif terhadap orang lain karena setiap hari anak-anak tersebut hanya berhubungan dengan benda mati.
  6. Anak-anak pun kurang bisa mengekspresikan dirinya karena dia jarang melakukan interaksi sosial dengan anak-anak lainnya.

Gadget dan perkembangan otak anak :

  1. Menurut referensi penelitian, memberi anak BlackBerry pada usia di bawah 20 tahun akan merusak bagian otak PFC (preFrontalCortecs) karena saat ini, smartphone seperti BlackBerry memang sudah menjadi “mainan” anak-anak SD. Otak depan pada anak sebetulnya belum berkembang baik. Bagian otak depan ini akan matang pada usia 25 tahun. Otak depan merupakan pusat yang memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu. Sementara reseptornya yang mendukung otak depan adalah otak belakang, yang menghasilkan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan nyaman atau rileks pada seseorang.
  2. Sistem saraf pusat masih tumbuh, harus mendapat rangsangan yang sesuai dengan tahapan perkembangan dirinya dari kehidupan sehari-hari, namun jika sejak masih sangat muda, ketika bersentuhan dengan teknologi modern, otomatis sistem rangsangan di sistem saraf pusat mendapatkan stimulus yang berbeda dari kehidupan nyata, mereka baru belajar mengenali mana yang nyata dan mana imajinasi. Karena terbiasa mendapatkan stimulasi melalui layar tablet atau telepon pintar, ketika “keluar” dari gadget tersebut, hidup nyatanya terasa sangat lamban dan membosankan, tidak seperti dunia maya. Semua terasa seperti slow motion dan tidak sensasional buat anak.
  3. Teknologi yang memudahkan dan mendekatkan itu membuat anak menjadi tidak tangguh ketika harus berhadapan dengan realita. Memori otot (muscle memory) jadi enggak lentur, tidak secanggih orang yang biasa hidup di alam. Itu akan mempengaruh banyak keterampilan lain. Memori otot adalah jenis lain ingatan manusia yang ada di jaringan otot, dibentuk oleh myelin. Semakin intens seseorang terlibat dalam tindakan dan latihan, kandungan myelin semakin tebal, dan semakin baik dia melakukan tindakan tersebut.

Terhadap kesehatan anak :

  1. anak menjadi lupa makan dan minum
  2. gadget dan alat elektronik memiliki cara kerja yaitu memancarkan sinar biru dalam jangka panjang pada retina mata. Mata anak yang masih sangat sensitive bias jadi terluka yang dapat menyebabkan gangguan mata yaitu cepat menurunnya daya penglihatan anak. Menurut penelitian, akibat perkembangan teknologi, diperkirakan anak-anak yang memakai kacamata akan mengalami kenaikan 20 persen setiap tahunnya. Mata anak-anak yang masih berkembang sampai sekitar usia 15-16 tahun, bila terus menerus dipakai (berkontraksi) tanpa mengenal lelah atau beristirahat (seperti menonton televisi atau ’memelototi’ gadget), dapat memberi pengaruh sebagai berikut:
  3. Otot-otot mata menjadi cepat lelah, dan membuat penglihatan menjadi buram. 
  4. Otot mata anak yang dipakai untuk bermain dikondisikan dalam kondisi konstraksi secara terus menerus dan bola mata menjadi lebih lentur/memanjang yang menyebabkan anak rentan menderita rabun jauh (miopia). 
  5. Frekuensi berkedip akan berkurang, sehingga mereka akan sering mengeluh matanya perih/nyeri, atau mengalami mata kering.

Kondisi di atas ternyata masih akan memberi dampak jangka panjang pada anak. Misalnya, karena mata lelah dan penglihatan menjadi buram, anak akan sering mengeluh pusing saat harus melihat jauh. Pada akhirnya, ia akan kesulitan berkonsentrasi, sehingga prestasi belajarnya menurun atau bahkan malas sekolah.

  • Satu hal yang tak kalah penting adalah, sinar biru yang dipancarkan oleh layar elektronik (gadget dan televisi) akan memengaruhi retina pada jangka panjang. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang cahaya 400-500 nm yang dapat berpotensi memicu terbentuknya radikal bebas dan menimbulkan luka fotokimia pada retina anak. Padahal, retina anak-anak masih sangat sensitif terhadap sinar biru. Bila dibiarkan, kerusakan retina ini akan memengaruhi penglihatan sentral dan ketajaman mata pun jadi berkurang lebih cepat. Lensa anak masih peka dan belum dapat menyaring bahaya sinar biru. Karena itulah risiko terbesar kerusakan akibat sinar biru pada usia dini.

Terhadap perkembangan dan kejiwaan :

  1. 1.      Fasilitas-fasilitas ini, di satu sisi menyimpan potensi menyebarkan aneka informasi yang belum layak diakses oleh anak. Misalnya saja, anak mencari situs-situs dewasa lewat Google atau Yahoo!. Bila sejak dini anak sudah terpapar oleh pornografi, rekamannya akan sulit dihapus dari ingatan dan pikiran untuk jangka waktu yang lama.
  2. Atau setiap hari sibuk berjejaring sosial yang membuatnya lupa keluarga dan lupa belajar. Belum lagi di jejaring sosial ini sudah banyak terdengar anak-anak menjadi korban pelecehan orang dewasa, baik secara emosional maupun fisik (anak dibawa kabur oleh kenalannya di dunia maya).
  3. Menghambat ketrampilan motorik dan halus anak (untuk anak 0-12 tahun)
  4. Isi dari games di gadget ataupun TV yang sering menayangkan adegan yang penuh kekerasan. Tanpa disadari tayangan adegan kekerasan di TV dan game dapat memberikan dampak negatif bagi perkembangan jiwa anak. Anak-anak yang selalu melihat tontonan adegan kekerasan dan melakukan permainan dengan adegan kekerasan akan terpicu untuk melakukan perilaku yang agresif. Yang lebih berbahaya lagi, anak-anak bisa meniru berbagai adegan kekerasan yang ada di televisi dan game, dan segala persoalan dapat diselesaikan dengan cara kekerasan.
  5. Anak yang kecanduan gadget akan menjadi murung atau uring-uringan ketika fasilitaas tersebut dijauhkan darinya. Fungsi pikirnya terganggu, begitupun dengan fungsi emosi dan sosialnya.
  6. Secara psikologis, ada beberapa gangguan yang terkait dengan penggunaan gadget, yang termasuk dalam gangguan perilaku. Beberapa gangguan itu misalnya dependensi dan obsesi kompulsif, ketergantungan yang berlebihan dengan gadget-nya; perasaan panik yang luar biasa ketika tidak membawa gadget atau hilang; voyeurism atau kecenderungan “mengintip” orang melalui aktivitasnya di media sosial; paranoia atau ketakutan yang berlebihan karena merasa dikuntit orang, walaupun di dunia maya; juga gangguan narsistik yang berlebihan.

3.  Apa manfaatnya ?

Adapun manfaatnya adalah :

  1. melatih konsentrasi anak
  2. menambah pengetahuan anak melalui tayangan pendidikan dan aplikasi pengetahuan lainnya
  3. sebagai alat untuk refreshing dan rekreasi (asal penggunaan tepat waktu dan terbatas, tidak menyebabkan ketergantungan)
  4. meningkatkan kemampuan belajar anak-anak. Iya jika sesuai dengan usia (tidak pada balita). Namun aplikasi itu hanya terbatas sebagai alat mengajar karena aplikasi tersebut biasanya hanya fokus pada satu jenis pembelajaran. Aplikasi itu tidak mengajarkan keterampilan dan latihan. Mereka hanya mengajarkan anak-anak untuk benar mengidentifikasi huruf, benda, warna dan lain sebagainya.
  5. Anak menjadi lebih terstimulasi terhadap visualisasi dan pendengaran yang lebih beragam.
  6. Dunia bagai dalam genggaman tangan. Selain bertelepon, anak-anak bisa mencari apa pun dengan bantuan situs pencari seperti Google atau Yahoo!. Anak juga dimungkinkan selalu terhubung dengan jejaring sosial seperti Facebook, Friendster, Twitter, Kaskus, dan sebagainya.
  7. memberikan pengetahuan baru.

4. Apa alasan orang tua biasanya yang mengenalkan gadget terlalu dini kepada anak mereka?

Mengenalkan gadget sejak dini pada anak sebenarnya tidak ada yang salah, tetapi banyak dari orangtua yang tidak memahami benar penggunaan gadget yang baik untuk anak. Sehingga gadget tidak hanya untuk membuat anak asyik bermain dan menjadi tenang. Karena sebenarnya banyak manfaat yang mengandung unsur pendidikan yang bisa diperoleh dari bermain smartphone, laptop dan komputer tablet untuk anak, misalnya memberikan pengetahuan baru. Karena itu sebelum kamu membelikan gadget, cari tahu tujuan yang ingin dicapai. Jangan menjadikan kecanggihan teknologi untuk membatasi aktvitas anak. Karena meski gadget bisa menjadi mainan yang menarik, anak harus tetap bergerak aktif.

Terkadang orang tua membelikan gadget pada anak bayi atau anak kecil, adalah supaya mereka tenang dan tidak terganggu namun mereka tidak menyadari si bayi itu asik dengan gadgetnya (dunianya sendirI) sehingga mereka tidak berespon ketika dipanggil. Coba Anda bayangkan jika sejak bayi sudah difasilitasi dengan gadget,  sementara si anak sedang mengembangkan kemampuan visualnya yang masih sangat terbatas, tetapi dengan games yang ada di gadget walaupun games edukasi itu membuat anak terganggu secara penglihatan, belum lagi efek radiasi yang dipancarkan gadget.  Sementara banyak juga orang tua yang membiarkan gadgetnya ada di kamar sampai si anak kecapekan main gadget dan tertidur, otak anak juga semakin dirusak dengan adanya gelombang radiasi yang dipancarkan oleh gadget-gadget itu.

Penggunaan gadget harus disesuaikan dengan kebutuhan anak sehingga kontrol orang tua sangat mutlak diperlukan untuk mengawasi penggunaannya agar tidak melampaui batas. Handphone misalnya, diberikan untuk memberikan kontrol kepada anak supaya dapat terus berkomunikasi, lalu tekankan kepada si anak untuk tetap berkomunikasi secara normal ketika orang tua ada di rumah, dan ‘no gadget’ ketika semua anggota keluarga ada di rumah. Ini untuk melatih anak bahwa hubungan sosial sangatlah penting dan tetap harus terjaga. Sementara dengan adanya tugas di sekolah, maka anak juga dibekali dengan laptop, namun tetap diawasi penggunaannya, sebaiknya tetap ajarkan anak untuk mencarinya secara manual terlebih dahulu, misalnya cari di took buku, majalah dan sumber lainnya. Jika sulit, baru beralih ke laptop dan internet jadi anak terbiasa untuk melatih diri berjuang mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Hal yang perlu dilakukan sebelum pemberian gadget adalah :


•  Pikirkan faktor keamanan. Gadget yang canggih dengan harga mahal yang dibawa anak  hanya akan menjadikan orang yang memiliki niat jahat tergerak untuk melakukan kejahatan, hingga akhirnya anak anda menjadi korban kejahatan pencurian gadget yang dimilikinya. Karena itu, sebaiknya pilihkan gadget yang tidak terlalu mahal untuk anak. Cukup belikan yang sudah memadai fungsi dan manfaat untuk anak seusianya.

Pikirkan faktor kemanfaatan

Anak biasanya selalu menginginkan apa yang dimiliki temannya, tanpa memikirkan apakah dia membutuhkannya atau tidak. Karena itu, saat anak anda meminta sebuah gadget, tanyakan tujuan dan manfaat apa yang diinginkannya agar anda bisa memilihkan gadget mana yang bisa sesuai dengan manfaat yang diharapkannya.


Untuk Pikirkan faktor kepantasan

hal ini, sebaiknya Anda lihat lingkungan sekitar anda. Apakah type gadget dengan fitur canggih yang harganya mahal cocok untuk digunakan di lingkungan anda. Karena tidak pantas rasanya kalau di tempat kumuh dan padat penduduk, anak anda bermain main gadget yang harganya sangat mahal. Anak yang menjalani aktifitas sekolah, sebaiknya berikan gadget dengan fasilitas secukupnya, daripada berlebihan.

Perhatikan pengaruhnya terhadap mental anak

Saat membelikan gadget, pikirkan juga efeknya terhadap mental anak anda. Jangan sampai anak anda terlalu bergantung kepada gadgetnya dan melupakan potensi yang ada dalam dirinya. Misalkan anda membelikan kamus elektronik, jangan biarkan anak anda terlalu bergantung padanya, sehingga lupa untuk menggunakan kemampuan bahasa Inggrisnya sendiri. Hal ini hanya akan membuatnya semakin terlena serta potensi dirinya semakin ketergantungan. Jadikan gadget tersebut hanya sebagai media pembantu dari segala masalah dan kesulitan yang dihadapinya.


Perhatikan efek perkembangan

Penggunaan gadget yang baik adalah bisa membagi waktunya dengan aktifitas lain selain bermain gadget. Jangan sampai dengan adanya gadget, anak anda lupa untuk berinteraksi dengan teman temannya, bermain layaknya anak kecil. Atur waktu penggunaannya, kapan anak bisa bermain gadget dan kapan anak harus berinteraksi dengan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri. Agar perkembangan dirinya seiring dengan perkembangan sosialnya.

5. Apa yang harus dilakukan orang tua jika memberi anaknya gadget, pengawasan seperti apa yang harusnya dilakukan?

  1. karena jaman sekarang jaman digital, maka dekati anak secara digital, orang tua tidak boleh ‘gaptek’ (gagap teknologi), orang tua perlu belajar tentang semua situs, semua gadget, bahkan bagaimana menjadi hacker (bila memungkinkan) jika sudah ada tanda gawat darurat, perlu belajar games yang diminati anak. Dengan cara ini, orangtuapun menjadi setara dengan si anak dan nyambung dengan kemampuan si anak. Tidak semua permainan atau games baik dan aman untuk anak. Ada banyak unsur negatif seperti kekerasan, perilaku atau kata-kata kasar, dan lainya. Untuk itu, alangkah baik bila orangtua mencoba dan melakukan pengamatan terlebih dahulu sebelum memberikan izin kepada anak untuk bermain.
  2. Orang tua dapat menggunakan metode hypnotherapy saat anak bermain gadget, misalnya saat bermain gadget, orang tua memberikan sugesti kepada anak, atau melakukan copy paste pada modal semangat dan konsentrasi saat mereka main gadget ke semangat belajarnya
  3. memberikan keseimbangan kepada anak. Menurut para ahli aneka gadget hanya akan membuat salah satu sisi otak manusia yang terstimulasi. Padahal seharusnya kedua belahan otak, baik belahan otak kanan maupun kiri distimulasi secara seimbang. Cara menyeimbangkannya antara lain dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan seni, seperti melukis, menari, musik dan lain sebagainya. Ketika si anak menyalurkan bakat dan minatnya, kecenderungan mereka akan menghabiskan seluruh waktunya untuk mengembangkan bakatnya dan ini akan membuat anak mengurangi waktu kebersamaan dengan gadget mereka
  4. Menumbuhkan kebersamaan si anak dalam keluarga. Kita tidak boleh membiarkan anak berlarut-larut dalam kesendirian dan terlalu akrab dengan gadget-nya. Oleh karena itu orang tua harus menciptakan suasana yang hangat dalam keluarga sehingga anak menjadi pribadi yang peduli, dan senang bersosialisasi dengan orang lain. Jika tangki cinta di rumah kosong, maka anak akan lari pada gadget yang pastinya dengan gadget akan memberikan semua yang diinginkan anak dan memberikan kepuasan pada anak. Sebisa mungkin, dampingi anak ketika ber-gadget, sehingga orangtua dapat mengawasi dan memberikan penjelasan bila ada hal-hal yang tidak dipahami oleh anak.
  5. Batasi waktu anak Anda bermain laptop atau gadget setiap harinya. Para ahli menyarankan untuk meluangkan tidak lebih dari dua jam bermain anak meliputi waktu menonton tv, bermain komputer, bermain video game¸ mendengarkan mp3, maupun gadget lainnya. Ini harus disepakati SEBELUM pemberian gadget, kalau perlu beli gadget dengan uang sendiri sehingga anak akan belajar untuk berusaha mendapatkan apa yang diinginkan. Namun dengan kesepakatan tentang jam pemakaian, cara, waktu, berapa lama waktu main dalam sehari, hukuman jika melanggar, dan lain sebagainya, karena jika setelah anak memakai gadget dan baru dibuat kesepakatan, itu sudah terlambat. Jangan mengambil paksa laptop atau komputer tabletnya saat anak asyik bermain. Ini akan membuat anak marah. Lebih baik, ajak anak bicara dan jelaskan tentang dampak negatif jika anak terlalu lama main gadget.
  6. Ajari etika anak bermain gadget. Misal, dia terlibat dalam akun social media seperti facebook, twitter, dan lain-lain, jadilah teman mereka. Etika lainnya seperti : silent jika sedang kumpul dengan keluarga, jika sedang bermain lalu diajak bicara, hormati orang di depan kita yang sedang berbicara. Sampaikan bahwa gadget bermanfaat untuk mempermudah kerja dan lebih praktis. Saat sedang bepergian, misalnya, kita bisa membaca berita lewat tablet. Untuk itu, pemanfaatnya pun harus bijaksana. Jangan akhirnya, waktu kita banyak tersita oleh gadget daripada interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar.
  7. Tempatkan gadget di luar kamar tidur. Sebaiknya tempatkan perangkat elektronik di ruang keluarga. Sehingga orangtua atau orang dewasa dapat mengawasi permainan yang dipilih prasekolah serta durasi waktu bermainnya. Gadget yang ada di kamar tidur, apalagi anak bermain sampai ketiduran dan sampai keesokan harinya masih menyala, akan menimbulkan efek radiasi yang membuat otak anak terganggu
  8. Jadilah teladan terdepan dalam memanfaatkan gadget secara bijak. Jangan sampai orangtua melarang anak berlama-lama bermain game, tapi orangtua sendiri asyik menggunakan ponsel pintar. Kalau bisa, matikan smartphone saat berada di rumah, jalin interaksi dengan anak dan keluarga di rumah.

6. Apakah orang tua perlu berkonsultasi dengan ahli, psikolog sebelum memberikan gadget pada anak-anak mereka ?

Jika orang tua sudah memahami dengan jelas aturan mainnya, dapat dilakukan sendiri namun jika hubungan dan komunikasi anak dan orang tua sudah rusak, maka perlu bantuan pihak ketiga untuk membicarakan dan membuat kesepakatan dengan si anak.

Kebanyakan yang datang ke saya bukan untuk tindakan preventif, seperti membicarakan sebelum gadget diberikan, ada sih seperti itu tapi sangat jarang, yang paling umum jika anak sudah mengalami gangguan kepribadian dan perilaku akibat ketergantungan pada gadget yang berlebihan dan kecanduan bermain games sehingga lupa semuanya.

Malas Belajar

Apa si penyebab anak malas belajar?

Dalam beberapa minggu ini anak-anak akan menghadapi ujian semester atau sering disebut kegiatan evaluasi hasil belajar. Saat seperti ini, banyak orang tua yang juga ikut stress karena anaknya tidak mau belajar. Lalu, apa si yang sebenarnya menyebabkan anak menjadi malas belajar?

1. Ketidaksesuaian cara mengajar dan gaya belajar anak
Setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang dapat langsung mengingat seluruh hal dengan satu kali mendengar, ada yang harus membaca berulang-ulang, ada yang harus membuat ‘lagu’ dari setiap materi pelajaran baru dapat mengerti dengan mudah, ada yang harus diperagakan, dan masih banyak gaya belajar lainnya. Namun, seringkali di sekolah cara mengajar yang diterapkan adalah sama. Padahal setiap gaya belajar memiliki cara mengajar yang berbeda pula. Di sini, penting bagi orang tua untuk mengenal gaya belajar anak sehingga orang tua tahu cara mengajar yang tepat untuk anak.

2. Kesalahan persepsi mengenai nilai yang tinggi
Sebenarnya esensi dari belajar adalah merubah dari yang tidak bisa menjadi bisa. Ketika anak masih berusia 1 tahun, pelajaran yang mereka pelajari adalah berjalan. Dalam proses belajar tersebut anak mengalami berbagai proses hingga akhirnya bisa berjalan sendiri tanpa dibantu oleh orang lain. Tidak pernah ada yang menilai berapa skor anak tersebut?
Namun ketika anak memasuki usia sekolah, hal yang ‘ditekankan’ oleh mayoritas orang tua adalah NILAI. Persepsi bahwa anak dengan nilai yang tinggi adalah anak yang pintar membuat banyak orang tua yang ‘memaksa’ anaknya untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Padahal, esensi dari belajar adalah membuat seseorang yang awalnya belum bisa menjadi bisa.

3. LABEL
Pemberian cap atau label seperti: “Kamu memang pemalas”, “Tukang Main Game”, dan label lainnya pada anak akan membuat anak semakin malas dan bahkan yang ekstreme dapat membenci orang tua mereka sendiri. Hal ini disebabkan karena label membuat anak semakin merasa ‘ditolak’ dan anak berpikir bahwa mereka memang benar seperti apa yang dilabel oleh orang tua. Untuk mengatasi kemalasan belajar, sebaiknya orang tua mencari tahu penyebab kemalasan belajar yang anak alami. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orang tua dapat mengatasi kemalasan belajar tersebut dengan cara yang tepat.

Ketiga hal di atas merupakan penyebab utama anak menjadi malas belajar. Selain itu, postur tulang belakang yang kurang sempurna juga dapat menyebabkan anak malas belajar.

Semoga bermanfaat!

Source gambar : pexel

Cemas Wabah Corona, Ini 4 Tips Atasi Sulit Tidur

Pandemi virus corona Covid-19  tak ayal membuat warga dunia cemas. Penyebarannya yang begitu masif ke berbagai negara tentunya membuat sebagian orang khawatir dan was-was. Apalagi melihat  pemberitaan dimana kasus positif terinfeksi corona terus bertambah dan korban meninggal juga meningkat. Meski di sisi lain, pasien yang kemudian sembuh juga tak kalah banyak.

Nah, adakalanya kecemasan itu menimbulkan efek lain, salah satunya gangguan tidur. Padahal, tidur yang berkualita adalah hal yang penting untuk menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental.  Masalahnya, kita seolah dibombardir oleh pemberitaan ataupun sosial media yang melulu tentang kasus corona.

Lalu, bagaimana cara mengatasi gangguan tidur karena merasa cemas? Berikut di antaranya :

1. Tetap lakukan kegiatan rutin harian

Wajar saja bila kegiatan rutin sehari-hari terganggu karena pandemi corona ini.  Orang tidak dengan bebas keluar rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah. Adanya perubahan jadwal harian ini tentu membutuhkan adaptasi.  Walaupun di rumah, tapi tetap jadwal rutin dilakukan. Misalnya, mandi pagi, sarapan, bekerja dan seterusnya. Hanya saja aktivitas bekerja dilakukan di rumah. Dengan begitu, kualitas tidur terjaga karnea rutinitas tetap berlangsung seperti biasa.

2. Hindari tidur siang terlalu lama

Ketika menjalani social and physical distancing ini terkadang jam tidur siang jadi bertambah. Pasalnya, kita merasa nyaman di rumah, melakukan karantina diri selama sekian lama. Nah, tidur siang yang berlebihan bisa menyebabkan di malam hari sulit mengantuk. Hal ini juga bisa mengganggu jadwal tidur di malam hari. Padahal, menerapkan jam tidur yang normal bisa membuat hidup lebih teratur. Karena itu, coba ubah keinginan tidu siang dengan aktivitas sehat seperti bangun lebih awal untuk dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan lebih cepat.

3. Tetap berolahraga

Menjaga isolasi diri bukan berarti hanya berdiam, duduk atau tiduran sepanjang hari. Akan tetapi, lakukan kegiatan olahraga ringan. Hal ini juga bisa membuat kualitas tidur terjaga dengan baik.  Memang, olahraga yang dilakukan terbatas, namun ada beberapa pilihan alternatif yang bisa dilakukan, misalnya senam atau yoga. Cobalah lakukan olahraga di pagi atau siang hari. Hindari berolaharag di waktu sebelum jam tidur karena bisa menstimulasi tubuh dan menyebabkan susah tidur.

4. Hindari berita hoax

Banjirnya informasi menyebabkan kita kadang kesulitan memilih dan memilah mana berita yang benar dan mana yang berita bohong. Hoax bertebaran di media sosial. Hal ini bisa membuat perasaan lebih cemas dan khawatir.  Karena itu, kurangi informasi yang bisa membuat kita merasa takut dan cemas. Pasalnya, bisa mengganggu kualitas tidur.

Selamat mencoba, semoga Anda tidak lagi terlalu cemas dan dapat tidur dengan nyenyak!

Foto: freepik.com

Efek Corona, Cegah Panic Buying! Cukup Beli 4 Hal Ini

Pandemi global virus corona ini memang meresahkan warga dunia. Tak sedikit yang merasa was-was dan khawatir terkena infeksi Covid-19 karena proses penularannya yang kadang ‘tidak tampak’. Ya, sebagian kasus pasien awalnya tidak menunjukkan gejala signifikan. Bahkan, penularannya ‘gara-gara’ bersalaman tangan dengan kenalannya.

Kepanikan ini semakin menjadi ketika pemerintah menerapkan parsial lockdown. Hal ini membuat reaksi bagi beberapa orang untuk ‘panik buying’, membeli kebutuhan pangan untuk persediaan beberapa waktu ke depan. Hal yang wajar bila masih dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi, sangat disayangkan bila kemudian yang terjadi adalah ‘menimbun’ kebutuhan pokok tersebut untuk kepentingan sendiri, sementara pihak lain terlantar karena tidak kebagian. Kondisi bagaimana pun kita tetap dalam kondisi ‘waras’ karena gangguan kesehatan mental bisa terjadi karena dipicu berbagai hal. Salah satunya, panic buying ini.

Yang pasti, kita tak perlu terlalu panic berlebihan dengan kondisi semi lockdown seperti saat ini. Pasalnya, pemerintah akan menjamin ketersediaan pokok masyarakat. Jadi, cukup membeli sebatas kebutuhan pokok atau barang-barang yang betul diperlukan. Itupun tidak dibeli dengan berlebihan.

Nah, berikut ini tips dari times of India, apa saja kebutuhan pokok sehari-hari yang perlu disiapkan selama kondisi darurat pandemi corona Covid-19 ini, di antaranya:

  1. Beras

Mayoritas masyarakat kita mengonsumsi nasi.  Ya, beras menjadi salah satu kebutuhan utama yang harus tersedia di rumah. Namun sekali lagi, perhatikan seberapa  banyak beras yang harus dibeli. Bukan berarti kita membeli beras sampai berkarung-karung. Pastinya kita sudah bisa mengukur, dalam sebulan berapa banyak kebutuhan beras untuk keluarga. Nah, tinggal dihitung saja, misalnya stok beras kira-kira perlu mencukupi dalam waktu sekitar 2 bulan ke depan. Jadi paling tidak cukup membeli dua kali lipat dari biasanya. Tidak perlu berlebihan. Tidak perlu terlalu panik, ya!

Bila terlalu banyak membeli di luar kebutuhan, konon kualitas beras dan nilai gizinya bisa berkurang juga. Lebih baik, dana atau anggaran yang tersedia dialokasikan untuk membeli kebutuhan pokok yang penting lainnya.    

2. Sereal, Roti, dan  Telur

Sereal, roti dan telur, adalah bahan pangan yang dapat dikonsumsi dengan berbagai cara dan beragam kreasi. Selain itu, lengkapi juga dengan kebutuhan lain, seperti mentega, minyak goreng, atau bumbu masak yang memang dibutuhkan untuk proses mengolah masakan.

Jadi, tak perlu panic buying juga ya!  Cukup beli kebutuhan ini dalam jumlah dua kali lipat saja, untuk menjaga kesehatan tubuh selama pandemi corona. Sebagian bahan makanan ini pun bisa disimpan untuk beberapa waktu lalu. 

Selain itu, pangan dalam kemasan, misalnya makanan kaleng juga bisa merupakan solusi praktis saat kondisi darurat. Sama seperti tadi, cukup beli dua kali lipat makanan kaleng baik itu berisi ikan, buah dan sayuran.

3. Sayuran

Nah, beberapa jenis sayuran misalnya wortel, bawang, kentang, dan lainnya bisa bertahan untuk beberapa waktu lamanya bila disimpan. Sebagian jenis sayuran lainnya kurang dapat tahan lama. Pastikan disimpan dengan tepat agar ketika hendak diolah masih dalam kondisi yang baik.

4. Perlengkapan bersih-bersih

Selama melakukan isolasi atau karantina diri di rumah, tentu bukan berarti seharian berleha-laha. Beres-beres rumah tetap perlu dilakukan. Termasuk juga aktivitas kebersihan diri sehari-hari, misalnya mandi, gosok gigi, keramas dan sebagainya. Untuk itu, persiapkan juga perlengkapan bersih-bersih dan kebersihan diri. Di antaranya adalah sabun cuci piring, sabun pel, sabun cuci pakaian, sabun mandi, pasta gigi dan perlengkapan lainnya. Pastikan tidak membeli dalam jumlah berlebihan ya.

Sekali lagi , hindari panic buying, agar kesehatan mental kita tetap terjaga!

Foto : freepik.com

Agar Sehat Mental, Ini 5 Kegiatan Saat Local Lockdown Corona

Pasien wabah corona Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Meski sebagian di antaranya dinyatakan sembuh. Akan tetapi, tak sedikit pula yang merasa khawatir, cemas dan takut. Tentu itu wajar, sejauh tidak berupa perasaan yang berlebihan.

Nah, mengingat penyebaran pandemi ini terus meluas, beberapa daerah di Indonesia menerapkan local lockdown, dalam arti ‘tidak boleh’ ada yang masuk dan keluar, ke dan dari wilayah bersangkutan tanpa ada alasan yang darurat.

Selain itu, himbauan untuk tetap tidak menjalin interaksi sosial dalam kerumunan atau keramaian, menjaga jarak hingga 1 meter dengan orang lain. Karena itu,  pemerintah menerapkan aturan social dan physical distanding untuk memutus mata rantai penyebaran wabah corona Covid-19 ini.

Bahkan, pemerintah menetapkan juga kondisi darurat hingga akhir Mei 2020 ke depan. Maka kita diharapkan untuk tetap di rumah dan melakukan mayoritas kegiatan di rumah. Tak heran  bila perubahan rutinitas bisa menyebabkan perubahan kondisi atau kesehatan mental. Jangan khawatir,  berikut ini beberapa kegiatan di rumah selama penerapan local lockdown agar Anda tetap sehat secara mental :

1. Kurangi Berselancar di Medsos

 Berdiam di rumah jutru bagi sebagian orang membuat kesempatan bermedia sosial lebih banyak. Padahal, tak sedikit juga informasi yang tersebar di dunia maya itu benar adanya dan berita yang negatif. Bahkan, ada kabar yang pro-kontra dan sebagainya. Hal itu bisa membuat kecemasan. Karena itu, kurangi aktivitas memakai gadget demi menjaga kesehatan mental Anda. Pasalnya, emosi dapat menyebar atau menular dari satu orang ke orang lain.  

2. Tetapkan jadwal aktivitas yang menyenangkan

Buatkan jadwal harian untuk menjaga rutinitas Anda. Namun, tetapkan sesuatu berdasarkan yang ‘ingin’ Anda lakukan, daripada yang ‘harus’ Anda lakukan. Dengan begitu, Anda akan merasa senang menjalani hari demi hari. Rutinitas yang teratur juga membuat pola hidup Anda tetap sehat. Jam tidur, makan, istirahat dan lainnya dapat terjaga baik. Kesehatan mental Anda pun tidak terganggu.

3. Olahraga di dalam rumah

Meski banyak berdiam di rumah, tak berarti Anda tak melakukan apapun. Olahraga tetap dapat dilakukan meski di dalam rumah. Misalnya, yoga. Menurut riset, yoga dapat menangani kecemasan dan depresi dalam jangka panjang. Selain itu, yoga juga membantu membentuk fleksibilitas, kekuatan, dan pengaturan napas, serta mengurangi rasa sakit fisik. Plus, secara mental Anda akan tetap sehat.

4. Bermain asah otak

Lakukan permainan yang mengasah otak misalnya pasel, teka-teki silang atau Sudoku. Permainan kognitif seperti ini mengasah kemampuan mengingat, perhatian, dan nalar. Menurut sebuah studi 2019 dari para peneliti University of Exeter permainan ini juga melibatkan pemikiran logis, yang mencegah pikiran Anda termenung atau mengkhawatirkan hal lain.

5. Menggambar atau melukis
tak perlu jagoan seperti seorang pelukis. Cukup ambil pensil, spidol atau pensil warna. Corat-coret di atas kertas membiarkan pikiran Anda mengembara. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts pada 2016 mengatakan bahwa 15 menit menggambar memiliki manfaat kesehatan emosional. Cobalah gambar abstrak, membuat karya seni tampak memusingkan hasilnya. Yang penting, Anda merasa senang mengekspresikan diri.

Tentunya ada banyak kegiatan alternatif lain yang bisa Anda lakukan di rumah untuk menjaga kesehatan mental. Yang jelas, yuk mulai coba lakukan sekarang juga!

Foto : freepik.com

Hoax, Kabar Bohong Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Dunia sedang gonjang-ganjing karena adanya virus corona Covid-19 yang merebak. Informasi pun berseliweran tiada henti terkait wabah ini. Sayangnya, beberapa kabar tentang virus corona yang menyebar melalui sosial media ternyata tidak jelas faktanya. Bahkan, boleh dibilang kabar bohong atau biasa kita sebut hoax.

Pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, sudah menemukan beberapa pengedar kabar hoax ini. Semoga ada tindakan yang bisa memberikan efek jera bagi mereka. Namun, isu-isu hoax tersebut begitu menyeruak hingga ke berbagai lapisan masyarakat seakan sulit dibendung.

Hingga saat ini memang penyebaran hoax isu kesehatan terbilang banyak beredar di masyarakat. Bahkan, berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informasi, hoax  terkait isu kesehatan berada diposisi ketiga, setelah isu hoax tentang politik dan pemerintahan. Jumlahnya sampai ratusan hoax.

Permasalahannya, isu tentang kesehatan terbilang sensitif sehingga masyarakat mudah percaya dan meyakini padahal tidak diketahui kebenarannya.  Ini yang bisa berdampak fatal.

Tak hanya itu, meyakini informasi hoax bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Menurut seorang psikiater forensic, Vasilis K. Pozios, MD., hoax bisa memicu perasaan marah bahkan depresi.

Pasalnya,  hoax atau informasi palsu itu memanipulasi opinik publik dan memancing respons emosional dari orang yang membaca atau menontonnya. Alhasil, bisa memicu perasaan marah, cemas, curiga, depresi bahkan post traumatic stress syndrome (PTSD).

Masalahnya, hoax atau kabar bohong ini begitu mudah tersebar di aplikasi pesan, media sosial dan situs-situs internet.  Orang dewasa, anak dan remaja tak terkecuali jadi korban kabar bohong ini. Bila tidak disaring  dengan baik, bisa memengaruhi  kesehatan mental.

Sebuah studi yang dilakukan Universitas di Pensilvania, dengan responden sebanyak 143 remaja diteliti terkait penggunaan media sosial. Hasilnya, mereka yang jarang menggunakan media sosial memiliki kesehatan mental yang lebih baik daripada yang sering menggunakan media sosial.

Mereka yang sering menggunakan media sosial juga menunjukkan gejala takut kehilangan, kesepian, cemas, depresi, kurang konsentrasi, kurang kepercayaan diri. Karena itu, aak-anak dan remaja harus diajarkan bagaimana menanggapi hoaks dengan baik. Yaitu, dengan membaca sebuah informasi terlebih dahulu dengan cermat tanpa langsung menyebarkannya.  Termasuk hoax yang bertebaran tentang isu wabah corona sekarang ini.

Kemudian, perhatikan juga situs yang menyebarkan berita tersebut, apakah terpercaya atau tidak. Pikirkan juga apakah berita tersebut berguna bagi masyarakat atau tidak, atau hanya mengujarkan kebencian antar-kelompok. Anak dan remaja juga harus diajarkan memilah berita yang positif dan negatif.

Selain itu, anak-anak juga harus dibatasi dalam menggunakan media sosial, dan lebih banyak aktif di dunia nyata. Itu karena manfaat yang akan diperoleh cukup banyak. Misalnya, anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik bersama teman sebaya, saudara, juga dengan Anda sebagai orang tua. Selain itu, membatasi anak dan remaja bermedia sosial juga mencegah agar hoaks tidak berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Oleh karena itu, selalu awasi dan perhatikan informasi apa yang dibaca dan diterima oleh anak-anak Anda. Selain itu, batasi pula penggunaan media sosial mereka dalam satu hari. Jangan sampai anak dan remaja mengalami depresi dan stres karena kebiasaan membaca hoaks.

Foto : freepik.com

Cegah Anak dan Remaja Alami Stres Kala Wabah Corona

Wabah penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) mungkin membuat stres bagi sebagian orang. Ketakutan dan kecemasan tentang suatu penyakit dapat luar biasa dan menyebabkan emosi yang kuat pada orang dewasa dan anak-anak.

Setiap orang bereaksi berbeda terhadap situasi yang membuat stres. Bagaimana merespons wabah dapat bergantung pada latar belakang Anda. Adapun individu yang mungkin merespons lebih kuat terhadap tekanan krisis, di antaranya adalah:

• Orang tua dan orang dengan penyakit kronis yang berisiko lebih tinggi untuk COVID-19

• Anak-anak dan remaja

• Orang yang membantu menangani COVID-19, seperti dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya, atau pasien.

• Orang yang memiliki kondisi kesehatan mental, termasuk masalah dengan penggunaan narkoba

Stres selama wabah penyakit menular dapat mencakup beberapa hal, yaitu:

• Takut dan khawatir tentang kesehatan sendiri dan kesehatan orang yang Anda cintai

• Perubahan pola tidur atau makan

• Sulit tidur atau berkonsentrasi

• Memburuknya masalah kesehatan kronis

• Meningkatnya penggunaan alkohol, tembakau, atau obat-obatan lainnya.

Nah, menjaga kesehatan mental diri sendiri dan keluarga dapat membantu Anda mengatasi stres.  Berikut ini yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan psikis diri :

• Beristirahatlah dari menonton, membaca, atau mendengarkan berita, termasuk media sosial. Mendengar tentang pandemi itu berulang kali bisa membuat kesal.

• Jaga tubuh Anda. Ambil napas dalam-dalam, regangkan, atau bayangkan sesuatu yang menyenangkan. Cobalah untuk makan makanan yang sehat dan seimbang, berolahraga secara teratur, istirahat cukup dan hindari obat-obatan.

• Luangkan waktu untuk bersantai. Coba lakukan beberapa aktivitas lain yang Anda sukai.

• Berkomunikasi dengan orang lain. Berbicaralah dengan orang yang Anda percayai tentang kekhawatiran Anda dan bagaimana perasaan Anda.

Hubungi penyedia layanan kesehatan Anda jika stres menghalangi kegiatan sehari-hari Anda selama beberapa hari berturut-turut.

Bagaimana dengan anak-anak?

Sebagian anak-anak dan remaja bereaksi  pada apa yang mereka lihat dari orang dewasa di sekitar. Ketika orang tua menanggapi COVID-19 dengan tenang dan percaya diri, mereka juga akan merasakan hal yang sama.

Tidak semua anak dan remaja merespons stres dengan cara yang sama. Beberapa perubahan umum yang harus diperhatikan di antaranya:

• Menangis berlebihan atau iritasi pada anak kecil

• Kembali ke perilaku yang telah mereka lalui (misalnya, mengompol)

 • Kekhawatiran atau kesedihan yang berlebihan

• kebiasaan makan atau tidur yang tidak sehat

• Perilaku lekas marah

• Sulit konsentrasi pada pelajaran sekolah

• Kesulitan fokus dan perhatian

• Menghindari kegiatan yang menyenangkan

• Sakit kepala yang tidak dapat dijelaskan atau nyeri tubuh

Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak mengatasi stres, yaitu :

• Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak atau remaja Anda tentang wabah COVID-19. Jawab pertanyaan dan bagikan fakta tentang COVID-19 dengan cara yang bisa dipahami anak atau remaja .

• Yakinkan anak atau remaja Anda bahwa mereka aman. Biarkan mereka tahu bahwa itu baik-baik saja jika mereka merasa kesal. Ceritakan kepada mereka bagaimana Anda mengatasi stres sendiri sehingga mereka dapat belajar cara mengatasinya.

• Batasi paparan keluarga Anda pada liputan berita acara, termasuk media sosial. Anak-anak mungkin salah mengartikan apa yang mereka dengar dan dapat ketakutan tentang sesuatu yang tidak mereka pahami.

• Cobalah untuk mengikuti rutinitas rutin. Jika sekolah ditutup, buat jadwal untuk kegiatan belajar dan kegiatan santai atau menyenangkan.

• Jadilah panutan. Beristirahat, banyak tidur, berolahraga, dan makan dengan baik. Terhubung dengan teman dan anggota keluarga Anda. (man)

Referensi: cdc.gov

Foto ilustrasi : freepik.com

Waspadai 7 Ciri Gaslighter, Pelaku Pelecehan Psikis

Terakhir ini ramai di media sosial, mengenai seorang perempuan muda yang mengalami perlakuan buruk dan tidak menyenangkan. Ia dipaksa untuk menggugurkan kandungan hingga beberapa kali. Namun, ia tak kuasa untuk melawan dan berontak. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk mengungkap apa yang dialaminya. Ia tak mau lagi dibungkam.

Apa yang dialami sang pasangannya, kemungkinan adalah gaslighting. Apa itu? Gaslighting adalah suatu bentuk manipulasi dan pencucian otak yang terus-menerus dilakukan yang menyebabkan korban meragukan dirinya sendiri, Pada akhirnya, sang korban kehilangan perasaan persepsi, identitas, dan harga dirinya.

Istilah gaslighting ini berasal dari film Gaslight pada tahun 1944. Film ini menceritakan tentang seorang suami yang mencoba meyakinkan istrinya bahwa dirinya gila dengan membuatnya mempertanyakan dirinya sendiri dan kenyataan dirinya.

Dalam bentuk yang lebih ringan, gaslighting ini menciptakan dinamika kekuatan yang halus, tetapi tidak tampak jelas dalam suatu hubungan sehingga tak masuk akal. Dalam kategori yang lebih buruk, gaslighting ini  merupakan bentuk kontrol pikiran dan pelecehan psikologis yang parah.

Gasligting dapat terjadi dalam hubungan pribadi, di tempat kerja, atau di masyarakat. Berbagai penelitian telah menunjukkan fenomena ini dan efek destruktifnya.

Berikut adalah tujuh tahap yang dilakukan oleh seorang gaslighter keika mendominasi seorang korban, dikutip dari buku How to Success Handle Gaslighters & Stop Psychological Bullying.

  1. Berbohong dan Membesar-besarkan.

Gaslighter menciptakan narasi negatif tentang korbannya.  Ia melakukan tuduhan tak berdasar, tidak objektif,  tidak berdasarkan fakta sehingga menempatkan korban pada posisi defensif.

  • Menyerang Berulang-ulang

Seperti perang psikologis, pelaku mengulangi terus-menerus untuk tetap menyerang, mengendalikan pembicaraan, dan mendominasi hubungan dengan korbannya.

  • Selalu Menyangkal dan Membantah.

Ketika diungkap mengenai kebohongannya, pelaku justru makin balik menyerang. Ia menyangkal, membantah dengan mengklaim palsu. Ini yang membuat korban menjadi ragu dan kebingungan.

  • Memperdaya Korban.

Dengan tetap bersikap ofensif, pelaku membuat lemah dan memperdaya korban. Alhasil, korban jadi putus asa, pesimistis, takut, lemah, dan meragukan diri sendiri. Korban mulai mempertanyakan persepsi, identitas, dan realitasnya sendiri.

  • Menciptakan Kodependensi

Istilah kodependensi adalah ketergantungan emosional atau psikologis yang berlebihan pada pasangan.Dalam hubungan ini, gaslighter memunculkan rasa tidak aman dan kecemasan konstan pada pasangannya. Gaslighter memiliki kekuatan agar korban mau menerima apa yang dimaunya, menyetujui dengan keselamatan dan keamanan dirinya. Gaslighter juga memiliki kekuatan untuk mengancam. Hubungan yang terjalin saling tergantung dibentuk berdasarkan rasa takut, kerentanan, dan marginalisasi.

  • Memberikan Harapan Palsu.

Sebagai taktik manipulatif, gaslighter kadang-kadang memperlakukan korban dengan lembut, baik bahkan menyesali perbuatannya. memberikan harapan palsu kepada pasangannya. Ini adalah bentuk harapan palsu. Korban mungkin berpikir: “Mungkin dia benar-benar tidak seburuk yang dibayangkan,”

“Mungkin segalanya akan menjadi lebih baik,” atau “Saya beri kesempatan.”

Tapi waspadalah! Sikap lembut itu seringkali merupakan manuver untuk menanamkan rasa puas diri dan membuat korban terlena sebelum kemudian pelaku bersikap buruk kembali. Dengan taktik ini, gaslighter juga semakin memperkuat hubungan yang saling tergantung.

  • Dominasi dan Kontrol.

Pada ekstremnya, tujuan akhir dari seorang gaslighter adalah untuk mengendalikan, mendominasi, dan mengambil keuntungan dari individu lain atau pasangannya atau kelompok, atau bahkan seluruh masyarakat.

Dengan mempertahankan dan mengintensifkan kebohongan dan paksaan yang tak henti-hentinya, ia membuat orang lain dalam keadaan tidak aman, ragu, dan takut. Gaslighter kemudian dapat mengeksploitasi korban sesuka hati, untuk mengeruk semata-mata keuntungan pribadi.

Maka waspadalah terhadap orang seperti ini, mungkin ada di sekitar kita!  (man)

Sumber : psychologytoday.com

Foto ilustrasi : freepik.com

Anak dan Pornografi

Dari Januari hingga April 2014 setidaknya 679 kasus yang melibatkan anak  terjadi karena adanya perilaku menyimpang  yang dilakukan anak-anak. Perilaku menyimpang itu terjadi akibat adanya pengaruh internet dan ponografi.

Anak-anak hidup di era digital dimana banyak isi media elektronik dan cetak yang bisa diakses, namun sebenarnya mengandung unsur pornografi. Pornografi bisa mendatangi anak-anak kita melalui games, internet, ponsel, TV, DVD, komik, maupun majalah. Berkembang pesatnya teknologi informasi melalui berbagai media tentu membawa banyak sekali hal positif, namun dibalik itu juga banyak sekali hal negatif yang terdapat didalamnya, salah satunya pornografi. Kalau dulu sebelum informasi dapat diakses semudah saat ini, pornografi hanya bisa didapatkan oleh segelintir orang dewasa, tapi saat ini anak kecil pun sudah bisa mendapatkan hal tersebut.

Berdasakan penelitian, games pada abad ke-21 menampilkan gambar yang lebih realistis, pemain bisa memilih karakter apa saja yang tidak ada di dunia nyata. Games juga menuntut keterampilan lebih kompleks dan kecekatan tinggi. Ini semua memberikan tingkat kepuasan dan kecanduan yang lebih besar bagi anak-anak. Dan super hati-hati dengan games anak-anak. Faktanya:

1.   Ada games action yang berisi permainan tembak-tembakan, namun ternyata jika anak berhasil mencapai level akhir, bonus akhir levelnya adalah ML dengan PSK.

2.  Ada games berjenis role playing yang inti permainannya adalah tentang bagaimana “memperkosa paling asyik” dimana anak bisa memilih perempuan model apa yang diinginkan –catatan: si perempuan tidak berbusana- lalu tinggal pilih bagian tubuh mana yang mau dipegang pertama kali. Kursor berbentuk tangan yang digerakkan oleh anak-anak kita.

Untuk menghindarinya, pikir baik-baik jika anda ingin membelikan games untuk anak, begitupun ketika anak membeli sendiri atau meminjam games temannya atau ketika anak main games online. Hati-hati jika di depan sekolah anak-anak atau di sekitar lingkungannya ada warnet. Jenis games yang ada sangat murah dan gampang diperoleh. Dan jenisnya sudah diluar perkiraan kita.

Pornografi dapat diakses anak melalui:


1. Situs Internet (21%)

Ada yang pasang wi-fi di rumah? Sebagai orangtua, apa yang sudah dilakukan? Pernah membolehkan anak buka Youtube? Didampingikah? Tahukah bahwa sekitar 78% anak melihat pornografi tanpa sengaja? Hp model bagaimana yang kita kasih ke anak-anak kita? Bisa akses internet-kah?
Situs porno bertebaran di dunia maya. Jangan salah, pembuatnya anak-anak juga. Bahkan untuk mendapatkan uang, mereka rela menjual video seks mereka sendiri! Apalagi remaja sekarang sudah pandai, ML gak harus di tempat tidur, di tanggapun bisa (saat seminar pembicara menampilkan gambar ABG berseragam SMP sedang ML di tangga dengan berpakaian lengkap). Mereka juga tidak takut hamil karena bisa aborsi.

 
Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua ?

  • Perhatikan letak komputer
  • Lakukan filterisasi situs porno (pasang alat pemblokir situs porno)
  • Kuasai cara berinternet
  • Cek riwayat koneksinya
  • “berteman” dengan anak
  • Ikut perkembangannya
  • Buat kesepakatan tentang waktu bermain internet
  • Arahkan dan kontrol
  • Dampingi (jika dibutuhkan) khususnya untuk anak di bawah usia 17 tahun


2. Games (14%)
Gadget apa yang telah diberikan ke anak? Hp, tablet PC, i-Pad? Atau lainnya? Diisi dengan games-kah? Games yang seperti apa? Dan apakah Anda mempelajari satu persatu games dan pengaruhnya terhadap perkembangan otak dan jiwa anak ?


Yang harus kita lakukan sebagai orangtua:

  • Perhatikan letak komputer/media video games di rumah
  • Buat kesepakatan dengan anak tentang: berapa kali dalam seminggu boleh bermain games, kapan waktu yang tepat untuk main
  • Belajar kenal dengan games
  • Games apa yang boleh dimainkan, sanksi apa yang diberlakukan jika melanggar
  • Dampingi anak dalam membeli games
  • Periksa RATING/PERINGKATNYA
  • Dari mana dia mendapatkan
  • Dampak dari games yang dimainkan
  • Diskusikan

Ini rating video games yang dikeluarkan oleh The Entertainment Software Rating Board (ESRB): 
– EC (Early Childhood) untuk anak 3-10 tahun
– E (Everyone) untuk semua umur 
– E10+ (10 tahun ke atas) 
– T (teen= 13 tahun ke atas) 
– M (mature=17 tahun ke atas) 
– AO (adults only=dewasa) 
– RP (rating pending) 


Faktanya, banyak video game ber-rating AO atau M yang dibajak dan diubah ratingnya menjadi T.
Banyak video games memiliki rating AO (Adult Only) atau M (mature) yang dibajak oleh ESRB (Entertainment Software Rating Board — lembaga pemberi rating untuk games hiburan) lalu diubah rating-nya menjadi Teen, seperti GTA San Andreas, Mass Effect, Gta IV dan banyak lagi. Maraknya games kekerasan yang menampilkan adegan seksual di tengah-tengah permainan seperti ‘GTA: San Andreas’ dan ‘Mass Effect’ mendapat kecaman keras dari banyak kalangan seperti Jack Thompson dan Hillary Clinton. Hal ini memaksa produsennya mengganti rating ESRB-nya menjadi AO (awalnya M ) dan mengakibatkan profit perusahaannya turun hingga $28.8 juta. Salah satu peristiwa tragis yang dipicu oleh games kekerasan terjadi pada 20 Oktober 2003. Aaron Hamel dan Kimberly Bede menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh dua remaja, William dan Josh Buckner, karena keduanya terinspirasi setelah memainkan GTA:III. Akibat kejadian itu, Aaron meninggal dunia, sedangkan Kimberley mengalami luka parah.


3. VCD, DVD, Film Bioskop (14%)
Kalau anak sudah ABG dan mau nonton bareng sama teman-temannya ini nih yang wajib kita ketahui:

  • Perlukah ke bioskop ? Dengan siapa ?
  • Mau menonton film apa ?
  • Menyadari isi dari cerita secara keseluruhan (dari awal hingga akhir)
  • Bicarakan dengan anak dampaknya melihat adegan yang tidak wajar dalam keadaan gelap dengan teman

4. Komik (13%)

Waktu tahun 2002, saya pergi ke suatu daerah dan situ adalah daerah terpencil, masih di Indonesia, dan saya menemukan banyak penjual koran pinggir jalan maupun di pasar menyediakan komik porno. Komik itu bergambar sangat cantik kemasannya, berupa anak-anak kartun jepang namun saat saya menilik ke dalamnya ternyata di luar dugaan karena komik itu berisi pornografi, tentang hubungan seorang gadis dan om-om, lalu berlanjut ke hubungan seksual dan waktu itu belum ada sensor. Kemudian belakangan ini saya menemukan komik dengan topik dan gambar yang sama namun sudah disensor (hanya diberi warna hitam) di bagian kemaluannya. Komik memang bergambar kartun. Tapi soal cerita, ada komik-komik tertentu yang tidak kalah ‘seram’ dari novel porno. Bahkan lebih mengerikan karena didukung dengan gambar. Gambar sampul depan bisa jadi tidak menyiratkan kepornoan apa pun. Tapi di dalamnya, ujung ceritanya ternyata tentang seks bebas.

Apa yang harus dilakukan ?

  • Jangan beli komik sembarangan – lihat isinya
  • Cek bacaan anak
  • Periksa tas, rak buku, bawah tempat tidur dan di antara pakaian dalam lemari
  • Ajarkan anak berbagai jenis bacaan : science, aksi, petualangan, dongeng, persahabatan, dan lainnya
  • Orang tua wajib membaca bacaan positif agar anak dapat meniru

5. Iklan (8%)

Pernah memperhatikan iklan-iklan di TV? Atau di media luar ruang yang “mengundang?” Apakah anak kita ikut menontonnya? Atau iklan di bioskop sebelum film dimulai?


6. Sinetron & TV (5%)

Program TV yang masih pantas ditonton bisa dihitung dengan satu tangan. Lainnya adalah program pembodohan, hantu, kekerasan dan pornografi. Jangan salah, iklan pun bisa menyesatkan. Selain itu, jangan anggap enteng sinteron/film Korea/Jepang! Lama-lama anak bisa ‘tercuci otak’ dan terbiasa dengan kekerasan atau seks bebas!

Apa yang harus dilakukan ?

  • Mengatur jam TV hidup
  • Tidak boleh menonton  TV untuk anak di bawah umur 2 tahun
  • Anak usia 5-7 tahun paling lama menonton TV 2 jam/hari
  • Pilih program yang berguna bagi anak
  • Bahas sebelum dan sesudahnya : apa yang anak suka dan tidak suka, mengapa ?
  • Ada tidak program lain  yang dinilai lebih baik
  • Pantau
  • Beri program pengganti yang lebih bermanfaat

7. Ponsel

Video-video seks tersebar dengan mudah melalui ponsel. Kapasitas ponsel yang besar memungkinkan si pemilik menyimpan file-file berukuran besar seperti video dan gambar porno. Anak anda bersih? Bisa jadi dia medapat kiriman gambar/video dari temannya! 

 

Menurut Mark B Kastleman, pendiri CANDEO dan penulis buku The Drug of the New Millenium, yang diinginkan oleh para predator sex dari anak-anak kita adalah agar:


1. Anak dan remaja kita memiliki perpustakaan porno (= mental model porno, yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja)


Maksud perpustakaan di sini bukan saja secara riil. Yang mereka inginkan adalah perpustakaan di otak. Ingat bagaimana kita atau anak kita belajar perkalian dan pembagian? Yak, dengan menghafal. Dan sampai tua pun kita masih ingat soal perkalian itu karena sudah hafal dan lama-lama terbiasa.
Seperti itulah yang mereka inginkan. Bahwa otak anak akan terus merekamnya, mengingatnya. Kapan pun, di mana pun. 

Apa yang mereka inginkan dari anak-anak kita? Mereka menginginkan anak-anak kita memiliki mental model porno dimana akan-anak akan mengalami kerusakan otak permanen yang hasil akhirnya yang diincar adalah incest (bersetubuh dengan saudara kandung). Sasaran tembak utamanya adalah anak-anak yang belum baligh. Jika anak-anak ini sudah mengalami 33-36 ejakulasi, mereka akan menjadi pecandu pornografi. Merekalah pasar masa depan bagi industri pornografi: perfilman, majalah, musik, jaringan TV kabel, pembuat dan pemasar video games.



2. Kerusakan otak permanen

Proses kecanduan dan akibatnya ini yang harus diwaspadai. Kecanduan pornografi membuat rusak bagian otak yang bernama Pre Frontal Cortex. Bagian inilah yang mempunyai peran sebagai direktur di otak. ). PFC adalah tempat dibuatnya moral, nilai-nilai, rasa bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi, kontrol diri, konsekuensi dan pengambilan keputusan.Dari foto kelihatan bahwa fungsi PFC adalah tempat moral dan etika. Yang bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, organisasi, pengaturan emosi tunda kepuasan, pengontrolan diri, dan menuntun kita untuk mengambil keputusan.

Sekali anak mencoba kenikmatan semu, maka ia akan kebanjiran hormon dopamin (hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus). Akibatnya ia akan merasa senang, tapi kemudian dalam hatinya timbul perasaan bersalah. Saat anak merasa senang (kebanjiran dopamin), ia akan terganggu dalam: membuat analisa, penilaian, pemahaman, pengambilan keputusan, makna hubungan, dan hati nurani. Akibatnya, spiritualitas atau imannya akan terkikis. Anak pun ‘tumbang, memilliki mental model porno yang bisa saja berujung pada incest! Narkoba ‘hanya’ akan merusak tiga bagian otak , tetapi pornografi/seks akan merusak lima bagian otak!


Rangsangan pornografi di otak seperti ini: 


Anak awalnya akan shock –> mengeluarkan hormon dopamin di otaknya (membuat merasakan kenikmatan) –> senang –> BLAST –> keinginan buat melihat lagi –> merasa lebih baik 



3. Menjadi Pelanggan Seumur Hidup


Target utama mereka adalah:


1. Anak laki-laki
2. Belum baligh
3. BLAST (boring, lonely, angry/afraid, stress, tired)


Kenapa anak laki-laki? Karena hormon testosteron anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan anak perempuan sehingga mereka gampang terangsang. 

Ciri anak yang kecanduan pornografi adalah :

  • Mudah haus dan tenggorokan kering
  • Sering minum
  • Sering buang air kecil
  • Sering berkhayal
  • Sulit berkonsentrasi
  • Jika bicara, menghindari kontak mata
  • Sering bermain PS dan internet dalam waktu yang lama
  • Prestasi akademik menurun
  • Main dengan teman/kelompok yang “itu-itu” saja
  • Berperilaku aneh, seperti : kancing baju sampai ke atas,rambut gondrong, dll



Jika anak sudah memiliki masalah kecanduan pornografi, yang harus Anda lakukan adalah :

  1. Tenang
  2. Hindari marah dan panic
  3. Terima: maafkan, minta ampunkan, dan bermusyawarah
  4. Perbaiki pola pengasuhan
    – rumuskan ulang tujuan pengasuhan
    – orangtua mengenali kelebihan dan kekurangan diri masing2
    – sepakat dual parenting (waktu, cara, konsekuensi)
  5. Cari tahu penyebab anak mulai kecanduan (games atau pornografi)
  6. Selesaikan hal-hal yang menyangkut emosi dan harga diri (karena kecanduan, biasanya harga diri mereka menurun)

7.  Jelaskan target penyedia pornografi
8.  Tanyakan bagaimana pendapatnya
9.  Susun langkah yang akan dilakukan

10. Cari bantuan profesional jika Anda tidak dapat mengatasinya


8 Hal yang Membantu Anak:
1. Jangan fokus pada aspek akademis semata
2. Aktif menggunakan teknologi media
3. Komunikasi dan Disiplin
4. Perkuat Allah dalam diri anak. Bicarakan tentang memelihara kesucian sampai menikah.
5. Kemampuan berpikir kritis
6. Konsep dan harga diri yang baik
7. Mandiri dan bertanggung jawab
8. Perkuat landasan agama


Selama ini telah terjadi kesalahan budaya karena ada pemahaman bahwa yang mengasuh anak hanya ibu. Ayah mencari nafkah saja. Bila memang perlu, baru lapor ayah. Ini salah besar. Keluarga Indonesia memerlukan revolusi pengasuhan! Orang tua kurang menghabiskan waktu dengan anak dan hanya menjadi weekend parent. Anak diikutkan les sana sini. Pertanyaan orang tua ke anak hanya ‘Bagaimana les-nya tadi? Nilaimu berapa, Nak? Kamu nggak bolos, kan?Kamu bisa ngerjain ujian hari ini?’ Akibatnya, anak-anak menjadi STRES. Orang tua merasa cukup menyekolahkan anak-anak di sekolah berbasis agama. Penerapannya? Nol besar! Orang tua terkadang hanyut dalam tren. Melihat teman-teman anak di sekolah punya iPod, anak buru-buru dibelikan iPod juga. Orang tua malu karena anaknya hanya punya ponsel jadul yang cuma bisa SMS dan telepon? Anak pun dibelikan BB paling mutakhir. Orang tua bisanya memfasilitasi anak dengan gadget terkini, tapi gagap teknologi alias gaptek. Buktinya, baca SMS alay saja nggak bisa! Bagaimana mau mengawasi anak? Karena itu, jadi orang tua harus gaul dan pintar. Orang tua membelikan anak gadget/perangkat teknologi tanpa tahu akibat negatifnya, tanpa penjelasan dan tanpa persyaratan untuk anak. Orang tua sekarang adalah generasi orang tua yang abai, generasi orang tua yang pingsan! Yang penting anak sekolah,les, diam di rumah depan komputer, games, ponsel dan TV. Yakin, anak Anda aman? Orang tua jarang bisa berkomunikasi secara baik dan benar dengan anak, tidak memahami perasaan anak dan remaja.

Yuk kita jadikan anak tangguh di era digital. Caranya adalah hadirkan Tuhan di dalam diri anak. Ajarkan untuk selalu ingat Tuhan dan taat kepadaNya sejak kecil. Hindari ucapan, ‘Jangan sampai kamu hamil ya! Bikin malu keluarga! Bapak Ibu malu!’ Ini salah besar. Ajarkan bahwa di manapun dia berada, Tuhan tahu apa yang dia perbuat. Perbaiki pola pengasuhan. Libatkan kedua-belah pihak. Jangan jadi orang tua yang abai dan pingsan. Anak perlu mendapat validasi, yaitu ‘penerimaan, pengakuan dan pujian’. Bimbing anak agar bisa mandiri dan bertanggung jawab pada Tuhan, diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Memberikan fasilitas pada anak harus dengan landasan dan persyaratan agama yang jelas.

Cegah Covid-19, Ini 7 Cara Kendalikan Stres



Wabah virus corona Covid-19 yang merebak serentak di berbagai belahan dunia menyebabkan kepanikan massal. Tak dipungkuri banyak yang merasa cemas, khawatir bahkan takut dengan pandemic ini. Salah satu gangguan mental yang bisa terjadi karena peristiwa ini adalah stres.

Apa itu stres? Stres adalah perasaan emosi yang tertekan. Hal ini akan dihadapi setiap individu dalam setiap siklus kehidupan manusia. Stres merupakan suatu proses yang meliputi stimulasi, respons atas kejadian dan peristiwa, interpretasi individu yang menyebabkan timbulnya ketegangan di luar kemampuan seseorang untuk mengatasinya (Rice 1992)

 Sumber stres sendiri dapat bersifat personal yang berasal dari diri sendiri atau dari lingkungan. Baik dari lingkungan terdekat maupun lingkungan masyarakat.  

Kepala Bagian Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Dr Dwi Hastuti mengatakan, stres adalah ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, adanya hambatan-hambatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang.

Dr Dwi menambahkan, saat ini setiap individu mengalami sumber stres berupa tekanan yang berasal dari lingkungan, berasal dari perasaan cemas, takut, ketidakberdayaan dan ketidakmampuan berbuat atas adanya pandemik global yaitu “Covid 19”.

Untuk itu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mengendalikan stres tersebut, yaitu:

Pertama, harus tetap berpikir jernih, tidak panik atas informasi apapun yang terkait dengan adanya penyakit ini. Alasan utamanya adalah bahwa kepanikan akan menyebabkan seseorang sulit mencari dan menemukan solusi atau merencanakan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalah. Kepanikan kadang akan menularkan kepanikan juga ke sekitarnya.

“Jadi disarankan untuk berpikir lebih dulu, cari informasi dari sumber berita yang dapat dipercaya dan akurat,” ujarnya.  

Kedua positive reframing adalah salah satu dimensi coping yang bertujuan untuk mengelola emosi dan mengubah cara berpikir menjadi lebih positif. Kadangkala mengurangi akses pada berita negatif, berita hoaks atau berita yang menakutkan akan membantu dalam membuat framing positif.  

Ketiga, merancang dan melakukan kegiatan yang dapat menyibukkan Anda secara positif dan berpikir positif. “Mungkin membuat daftar kegiatan yang selama ini tidak dapat dilakukan atau tertunda dilakukan. Merancang atau melakukan antisipasi atas risiko yang mungkin terjadi juga mungkin dapat disusun. Misalnya, menyiapkan daftar dan stok belanja pangan dan non pangan untuk beberapa waktu ke depan, atau  mengerjakan bersih-bersih kamar dan lain-lain,” tambahnya.

Keempat, membentuk emosi positif. Cobalah untuk tarik napas, relaksasi tubuh, berjemur dan berolahraga ringan sebisa mungkin. Hindari emosi negatif seperti buruk sangka, curiga dan menyebar informasi buruk yang justru akan memperparah situasi sekitar.  

Kelima, mencari dukungan dari lingkungan terdekat. Keluarga adalah yang paling dapat memberikan hal ini. Baik berupa dukungan keuangan, dukungan keamanan, dukungan emosi, simpati, rasa nyaman dan terhindar dari rasa takut sendirian, kesepian dan sebagainya.  

Keenam, mencari “instrumental support”. Misalnya mencari bantuan nasihat, bantuan atau informasi baik dari para ahli atau narasumber yang dapat dipercaya yang dapat membantu dalam menyelesaikan tekanan emosi yang dialami. Upayakan untuk tidak meminta bantuan kepada orang yang tidak dapat dipercaya, karena kerapkali akan menimbulkan masalah baru.  

Ketujuh, menerima sumber stres. Mengakui bahwa peristiwa pandemik atau apapun yang terjadi adalah takdir yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Bersikap menerima (acceptance) juga membentuk rasa kepasrahan, yang akan menimbulkan rasa “kecil” kita sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.  

“Kedekatan kita kepada Allah Yang Maha Esa akan menjadi sumber kekuatan utama di saat perasaan tak berdaya sebagai manusia muncul. Latihlah diri kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mintalah pertolongan-Nya untuk memberikan rasa pasrah dan ikhlas atas cobaan ini,” tandasnya.

Ketujuh langkah di atas adalah ikhtiar dan upaya yang dapat dilakukan setiap individu di saat menghadapi tekanan emosi dan stressor apapun yang dihadapi dalam kehidupan ini. Terlepas dari semua itu, maka upaya untuk mengatasi masalah stres akan kembali kepada diri kita masing-masing. Kedekatan kepada Tuhan adalah langkah paripurna dalam upaya mengendalikan stressor apapun yang dihadapi. (man)

Foto ilustrasi: freepik.com