Perkembangan Otak Memengaruhi Emosi dan Perilaku Anak

Mungkin banyak orangtua yang tak habis pikir: Kenapa ya anak mudah emosi? Kok Si Kecil cengeng? Suka egois dan perilaku lain yang tak kita inginkan.

Pastinya Anda bertanya-tanya: Kok, anak bisa begitu? Apa penyebabnya? 

Nah, begini penjelasan. Ketika ibu hamil, organ janin yang pertama kali perkembang adalah jantung. Jantung menjadi “otak” pertama yang bertugas mengatur emosi. Terkait hal tersebut, penelitian dari Heart Brain menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara jantung, hati, dan otak emosi.

Maka jangan heran, ketika kita merasa emosi, detak jantung akan meningkat. Kenapa? Karena informasi dari jantung disampaikan pada sistem limbik di otak yang berperan mengatur emosi.

Perlu kita tahu, jantung dan hati bekerja sama satu sama lain sehingga mudah mengendalikan emosi.  Anda pernah dengar, kan, ketika seseorang dalam kondisi emosi memuncak, banyak yang menyarankan untuk bernapas secara teratur. Ya, itu tandanya kita sdang mengatur emosi dengan pola napas yang teratur. Akan tetapi, apa sebenarnya yang terjadi pada otak kita?

Batang otak berfungsi untuk menyimpan dan memahami informasi yang diterima. Selain itu, batang otak juga mengatur indra atau refleks yang terjadi secara otomatis seperti detak jantung atau aliran darah.

 Namun, ketika kita sulit menerima informasi, apa yang terjadi? Misalnya ketika ada seseorang memukul, lalu akan dibalas lagi dengan pukulan. Atau, ketika kita sedang stres, “pelampiasan”nya adalah makan dengan banyak. Itulah yang terjadi, perilaku yang reaktif atau sulit dikontrol bila kita sulit menerima informasi dengan baik.

Otak adalah gudang untuk menyimpan informasi. Bila seseorang sedang dalam kondisi stres maka dia akan merasa tidak aman dan nyaman. Yang dilakukan adalah survival mode dengan tiga reaksi yaitu: flight, fight, dan freeze

Ketika ibu hamil kemudian mendengar suara petir, janin akan melakukan refleks moro dalam perut, dia kaget, takut dan reaksi emosi lainnya. Alhasil, ia akan “tendang” perut ibunya. Sedangkan, sang ibu akan mengelus-elus tanpa memberi penjelasan bahwa kejadian yang mengagetkan tadi adalah suara petir. 

Nah, ketika anak lahir, dia akan menunjukkan kaget seperti itu. Itulah penyebab kenapa tanpa sebab anak menjadi penakut, pendiam atau mudah panik.

Tubuh dirancang untuk segera bereaksi ketika lingkungan mengancam dirinya. Adapun reaksi ketika stres adalah tegang, marah, takut bahkan frustasi.

Ketika ada ancaman bahaya, tubuh akan mempersiapkan diri merespons dengan cara meningkatkan kecepatan denyut jantung. Sedangkan, darah dan energi dialihkan menuju tangan dan kaki yang notabene menjauhi otak. Karena itulah, terjadi hambatan untuk bisa berpikir jernih. Maka bila orang stres, tampak gugup, takut, marah, badan tegang, pundak kaku, terasa pusing, sakit leher, pingganga punggung dan keluar keringat dingin.

Maka ketika bayi lahir, otaknya perlu distimulasi dari berbagai indra agar terbentuk cabang dan menumbuhkan lapisan myelin. Salah satu stimulasi sederhana adalah sentuhan. Contoh,

ada seorang ayah ketika menjemur bayinya, tiba-tiba ia berhenti bernapas. Sang ayah hanya berusaha memeluk, lalu Si Kecil pun bernapas kembali.

Nah, berbagai aktivitas fisik penting untuk membantu bayi berkembang sempurna. Anaka ‘zaman now’ cenderung banyak tak bergerak karena asyik bermain gadget sehingga otaknya terhambat untuk berkembang. Padahal, kegiatan bergerak membuat otak terintegrasi sempurna.

Karena itu, stimulasi otak bayi dengan melakukan gerakan-gerakan selama satu tahun pertama usianya, sangatlah penting untuk perkembangan lebih lanjut dan pematangan otaknya.

Pertanyaanya, apakah sudah terlambat untuk melakukan stimulasi sedangkan anak terlanjur memiliki emosi yang buruk, suka mengganggu orang lain, sulit fokus dan refleks lainnya? Sebenarnya aktivitas bergeak itu akan mengubah refleks menjadi respons.

Apa itu refleks? Refleks adalah gerakan secara langsung tanpa dipikirkan terlebih dulu, seperti seorang bayi yang baru lahir, ia menendang, menggenggam. Perilaku itu semua masih berupa refleks.

Ketika anak sudah mendapat stimulasi oleh lingkungan pastinya, dia mulai banyak mendapatkan informasi dari orang lain. Emosi dan perilaku negatif timbul disebabkan stres karena anak tak merasa aman di lingkungannya.

Jadi jika seorang bayi kurang mendapat stimulasi, tonus otot akan menjadi lemah. Akibatnya, bayi sulit mengangkat kepala, ia sulit bergerak, ada masalah pada keseimbangan tubuh, indera peraba, pergerakan sendi tubuh dan fisiknya.

Mungkin saat ia bayi, Anda belum menyadari bahwa ternyata gerakan anak kurang terintegrasi. Alhasil, anak saat ini malas nulis, tonus otot leher lemah sehingga suka dalam posisi tidur-tiduran kalau menulis. Kaki lemah sehingga ketika berjalan, ia mudah tersandung atau jinjit. Persendian lemah sehingga sering menjatuhkan benda dan lain sebagainya.

Jadi, jangan menganggap remeh setiap perilaku dan emosi anak sekecil apapun. Akan tetapi, tak ada kata terlambat untuk memperbaikinya selama menggunakan teknik yang powerful.

Narasumber: Bunda Lucy

Foto: freepik.com