Yuk, Kenali Minat dan Bakat Anak (2)

Memang, dengan mengetahui bakat si kecil, orangtua akan bisa lebih memahami bagaimana cara mengembangkan potensinya tersebut. Akan tetapi, hati-hati bahwa orangtua jangan sampai hanya terfokus pada pengembangan potensi anak pada satu bidang.

Anak itu ibaratkan kertas putih yang kosong, tergantung pada orangtua mau menuliskan apa pada kertas tersebut. Bila anak memang bagus di bidang matematika atau bermian piano, boleh diikutkan les di bidang itu. Akan tetapi, jangan lupa bidang-bidang lainnya yang perlu dicoba, misalnya berenang, basket dan lainnya.

Waspadai pula risiko bila anak terlalu difokuskan pada satu bidang. Ia mendapat stimulasi yang terus-menerus sehingga cenderung overstimulasi. Bisa saja anak mengalami kelelahan. Selain bakatnya tak optimal karena terkesan dipaksa, bakat-bakat yang lainnya justru takkan muncul atau berkembang. Padahal, setiap anak bisa memiliki berbagai kecerdasan atau yang dikenal dengan multiple intelligence. Misalnya, kecerdasan bahasa, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan sebagainya. Jadi, kecerdasan tidak semata-mata terkait kognitif.

Nah, bila anak mengalami overstimulasi yang hanya difokuskan pada bidang tertentu,  boleh jadi berdampak pada kejiwaannya atau mengalami stres. Anak justru merasa terbebani. Alhasil, bakatnya takkan berkembang optimal.

Karena itu, orangtua perlu memahami apakah ini keinginan atau obsesi orangtua atau memang keinginan anak sendiri. Mungkin orangtua memiliki target tertentu pada anak, misalnya berharap meraih juara olimpiade sains. Maka sebaiknya hindari menuntut anak untuk meraih sesuatu atau menjadi seseorang yang sebenarnya obsesi orangtua yang tak terwujud.  Sebaiknya introspeksi diri dan membayangkan bagaimana bila posisinya saat ini menjadi anak yang dituntut keras mencapai/meraih sesuatu dengan cara berlebihan.

Mungkin anak tak melakukan protes secara langsung ketika ia merasa tertekan lantaran overstimulasi. Mungkin ia akan memendam rasa tak suka dengan kegiatannya, atau terlihat malas pergi les, enggan mengulang pelajaran, atau mengeluh sakit perut dan sebagainya. Pada anak yang cenderung introvert, boleh jadi yang muncul adalah gangguan perilaku seperti jadi sering murung, mengalami gangguan tidur dan sebagainya.

Maka, dalam mengenalkan suatu kegiatan untuk mengasah potensi anak, orangtua harus memerhatikan rasa nyaman. Apakah ia nyaman atau tidak dengan kegiatan atau les yang dijalaninya? Jadi, prinsip dasar dalam memberikan stimulasi adalah pastikan ana dalam suasana nyaman dan menyenangkan.

Mungkin sesekali anak merasa bosan. Misal, baru mengikuti beberapa kali latihan, lalu ia mengeluh bosan. Coba berikan dorongan, semangat dan kesempatan. Boleh jadi, ia masih mengalami proses adaptasi dengan lingkungan. Bila perlu, kita antar dan tunggui ia latihan. Seiring waktu mungkin ia mulai menyenangi kegiatannya.

Akan tetapi, bila terus-menerus ia merasa bosan atau tak senang, kita tak perlu memaksakan. Ingat kembali bahwa apakah ini obsesi orangtua atau keinginan anak. Bila anak sudah lebih besar, coba tanyakan. “Kegiatan apa yang kamu sukai? Kenapa suka? Kenapa kegiatan yang itu tak suka?” Minta ia menceritakan kegiatan apa yang menurutnya menyenangkan, yang membuat ia merasa nyaman dan apa pilihannya yang ingin serius digeluti atau ditekuni.

BAKAT ITU KETURUNAN?

Memang ada yang mengatakan bakat itu ada faktor keturunan atau genetik. Akan tetapi, tak diketahui secara pasti, seberapa banyak persentase faktor genetik memengaruhi bakat seseorang? Justru faktor yang memengaruhi berkembangnya bakat adalah lingkungan dan kesempatan yang diperoleh. Boleh jadi, misalnya anak terlahir dari keluarga atau orangtua pelukis. Akan tetapi, bila ia tak mendapat kesempatan yang luas untuk latiha melukis, mungkin kelak ia tak menjadi pelukis seperti keluarganya. Atau, bisa saja anak terlahir dari orangtua yang tak berbakat bermain piano. Namun, anak ini bisa menjadi pianis karena dukungan lingkungan atau keluarga. Sejak kecil ia menyukai bidang tersebut dan didukung orangtuanya dengan perasaan nyaman dan tanpa paksaan sehingga bakatnya berkembang maksimal.

PERLUKAH TES BAKAT?

Anak boleh-boleh saja diikutkan tes bakat. Namun, sebaiknya tidak terlalu dini. Kenapa? Karena dikhawatirkan orangtua jadi terfokus menstimulasi pada bidang tertentu yang menjadi hasil tes bakat itu.  Jadi, seperti menggunakan ‘kacamata kuda’ orangtua tidak mencoba memberikan kesempatan dan stimulasi bidang lain. Alhasil, kemampuan atau potensi anak tidak berkembang.

Kecuali, tes bakat dapat dilakukan pada anak misalnya saat usia SMP atau SMA. Pada saat itu, kita ingin melihat potensi atau jurusan studi mana yang tepat untuk si buah hati.

(hil)

Foto: freepik.com