Pilah-Pilih Tontonan Sehat (2)

Bagaimana dengan anak yang masih kecil? Bayi, misalnya, sebaiknya tidak diberikan porsi untuk menonton teve. Walaupun bayi mungkin tertarik pada warna atau suara yang muncul dari teve, tapi otaknya sebenarnya belum siap untuk menerima dan mengolah informasi-informasi dari teve. Ketika lahir, otak bayi sudah memiliki berjuta-juta sel neuron. Namun koneksi antarsel neuron masih dalam proses pembentukan. Apalagi pada proses berpikir tingkat tinggi seperti memori atau pemikiran abstrak. Sehingga, ketika diberikan tayangan teve pun, bayi belum memiliki kemampuan untuk mengingat atau memindahkan potongan gambar yang ia lihat menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Pada usia 0-1 tahun, bayi jauh lebih membutuhkan kehangatan dan kelekatan dengan orangtua. Hal itu dapat diperoleh melalui sentuhan fisik, respons ibu yang tanggap dan sensitif, serta interaksi dengan orangtuanya.

Selanjutnya pada usia 1-3 tahun (batita), kemampuan kognitif anak mulai berkembang sehingga ia mungkin sudah mampu mengenali orang-orang atau objek di teve. Namun, tetap saja batita belum mampu menangkap hubungan antara objek-objek yang ada di teve. Alhasil, ia belum mengerti cerita atau inti dari tontonan. Lantaran itu, anak usia di bawah tiga tahun sebaiknya tidak mendapatkan porsi teve yang banyak karena memang belum ada manfaatnya. Banyak peneliti setuju bahwa pembelajaran atau edukasi melalui televisi sebaiknya tidak diberikan pada usia batita.  Sebaliknya, bayi atau batita yang diberikan tayangan teve justru berdampak lebih negatif, seperti berisiko mengalami keterlambatan bicara, ketidaksiapan saat memasuki TK, gangguan atensi, kesulitan membangun hubungan sosial dan masalah dalam akademis.

Pada tahapan berikutnya, di usia prasekolah (4-6 tahun), anak sudah lebih mampu menghubungkan objek-objek yang ada di dalam tayangan teve. Ia mulai bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, teve dapat membantu anak usia TK untuk belajar mengenal huruf, angka, warna, lagu, dan berbagai hal.

Selanjutnya, anak usia Sekolah Dasar dan remaja juga dapat mempelajari kehidupan di alam liar melalui acara petualangan atau mempelajari keterampilan-keterampilan tertentu seperti membuat prakarya atau memasak. Remaja juga dapat mengikuti perkembangan peristiwa melalui tayangan berita. Jadi tidak diragukan lagi, teve dapat menjadi sarana belajar dan juga hiburan untuk berbagai usia, apabila diberikan secara tak berlebihan.

Jadi, ada berbagai nilai positif yang bisa didapatkan dari tayangan edukatif. Informasi-informasi yang berguna dapat menambah wawasan dan keterampilan anak. Tayangan edukatif juga dapat mengajarkan nilai-nilai agama atau nilai lain yang dapat membentuk pribadi anak.

PERHATIKAN RAMBU-RAMBU

Sebenarnya tidak ada syarat atau ketentuan khusus mengenai tontonan yang baik bagi anak. Namun, rambu-rambu berikut ini setidaknya bisa menjadi panduan orangtua:

*Sebaiknya anak-anak tidak menonton tayangan yang mengandung konten seksual ataupun kekerasan.

*Pastikan anak didampingi orangtua ketika menonton.

*Akan sangat baik apabila orangtua dapat membatasi tontonan anak.

*Bagaimana dengan durasinya? American Academy of Pediatrics menyarankan bahwa anak dibawah usia dua tahun sebaiknya tidak menonton teve sama sekali. Anak yang lebih besar, disarankan untuk menonton tidak lebih dari satu sampai dua jam per hari.

*Porsi menonton teve sebaiknya tetap seimbang dengan kegiatan bermain, waktu berinteraksi dengan orangtua dan orang lain/teman, waktu sekolah/kegiatan akademis. Bagaimanapun juga, pengalaman interaksi positif merupakan cara yang paling efektif dan paling baik bagi anak untuk belajar hal-hal yang baru.

BILA KEDUA ORANGTUA BEKERJA

Orangtua yang keduanya bekerja dapat menjelaskan dampak negatif dari tontonan yang tidak sehat dan efek terlalu lama menonton pada pengasuh anak di rumah. Dengan demikian, pengasuh anak mendapatkan pemahaman mengenai dampak tayangan teve. Orangtua yang bekerja juga dapat membatasi saluran teve yang dapat dibuka dan tidak oleh sang anak. jadi ada saluran-saluran teve tertentu yang diblokir.

Akan sangat baik juga apabila orangtua sudah menyiapkan kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan anak saat orangtua sedang bekerja. Misalnya, selain bermain dengan teman, juga menyiapkan mainan stimulasi sensoris seperti plastisin atau lilin untuk anak yang lebih kecil, mengikutsertakan anak dalam kegiatan yang menyenangkan dan edukatif sesuai dengan bakatnya, dan lainnya.

Terakhir yang paling penting, orangtua juga harus menyiapkan waktu berkualitas dengan anak setelah bekerja. Pada waktu berkualitas tersebut, akan sangat baik apabila teve tidak dinyalakan. Apabila teve menyala ketika berinteraksi dengan anak, orangtua cenderung lebih jarang berbicara, kurang terlibat, dan lebih tidak memperhatikan kondisi anak seperti isi pembicaraan, intonasi suara anak, dan ekspresi wajahnya.Yang pasti, diet ketat pada teve dapat meningkatkan perkembangan otak anak. Orangtua yang aktif, responsif dan hangat, sangat membantu mendukung perkembangan otak anak.

Foto: freepik.com