Pilah-Pilih Tontonan Sehat (1)

Menonton teve ada plus-minusnya bagi si buah hati. Apa saja yang perlu diperhatikan orangtua? 

Dalam kehidupan sehari-hari, sepertinya kita tak bisa terlepas dari tontonan di teve. Termasuk anak-anak, mereka juga tak luput dari paparan tayangan teve. Si kotak ajaib ini menyajikan beragam acara yang menarik, lucu, menyenangkan, sampai menyeramkan.

Dahulu, ketika zaman tayangan ’Keluarga Cemara’ atau ‘Sesame Street’, orangtua lebih membebaskan anak-anak untuk menonton teve hingga berjam-jam lamanya. Akan tetapi, pada masa kini, ketika akses ratusan saluran teve dari TV kabel semakin dekat dengan keluarga, makin banyak pula orangtua yang mengkhawatirkan dampaknya. Pasalnya, banyak tayangan yang mengandung konten kekerasan dan seksual belakangan menjadi sulit dipisahkan.  Hal ini tentu tidak sehat jika ditonton anak.

Namun di sisi lain, lantaran kesibukan orangtua akhirnya anak lebih banyak menonton teve dibandingkan berinteraksi dengan ibu-bapaknya. Padahal, banyak program di teve memiliki pengaruh negatif. Salah satu riset menunjukkan, anak kecil yang menonton tayangan berbau kekerasan, akhirnya cenderung lebih menerima kekerasan sebagai cara untuk mengatasi masalah atau kesulitan dalam hidupnya bahkan mengimitasi kekerasan yang mereka lihat. Contoh, anak melihat tayangan di teve bahwa seseorang mencuri karena membutuhkan uang. Anak akan melihat dan menerima perilaku mencuri tersebut sebagai cara untuk menyelesaikan masalah ketika ia membutuhkan uang.

Banyak riset lain yang menunjukkan dampak negatif tayangan teve. Misal, anak jadi cenderung lebih berani melakukan tindakan berbahaya karena melihat karakter superhero di teve, seperti berkelahi, melihat senjata dan sebagainya. Anak juga melihat tayangan merokok dan minum alkohol.

Nah, bila anak sering menonton tayangan yang tak sehat, otomatis ia akan lebih mudah menyerap nilai-nilai yang juga tidak seha. Anak juga akan dan menerima hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Contoh, ketika anak melihat tayangan seseorang memukul orang lain karena tidak suka.  Anak menjadi lebih mudah menganggap bahwa sangat wajar untuk memukul orang yang tak ia sukai. Anak tidak belajar cara-cara lain yang lebih positif dalam menyampaikan ketidaksukaannya ke orang lain.

Selain itu, riset juga menemukan bahwa anak yang menonton teve lebih dari empat jam sehari memiliki kecenderungan untuk mengalami obesitas. Ketika ia duduk terus-terusan di depan teve, anak menjadi jarang bergerak, lebih banyak makan camilan yang belum tentu sehat. Riset lain menemukan bahwa anak yang menonton teve lebih dari dua jam sehari cenderung kesulitan membangun interaksi sosial dan lebih sulit terlibat dalam kegiatan di sekolah. Pasalnya, waktu berharga anak untuk bermain di luar menjadi berkurang.

JENDELA DUNIA

Memang tidak selalu tayangan teve membawa dampak negatif. Tontonan juga dapat memiliki dampak positif bagi anak. Tayangan edukatif yang penuh informasi dapat memperluas wawasan dan pengetahuan si buah hati. Riset menunjukkan, anak usia prasekolah yang menonton tayangan edukatif seperti ‘Sesame Street’ menunjukkan nilai yang lebih baik saat masuk ke sekolah dasar. Dengan syarat, anak sebaiknya sudah berusia lebih dari tiga tahun saat ia mulai menonton teve. Lalu, orangtua sangat disarankan mendampingi atau mengawasi anak saat menonton.

Ibarat jendela dunia, teve dapat menayangkan berbagai hal yang tidak dapat kita alami dengan mata kepala sendiri. Tontonan dapat mengandung informasi-informasi yang menambah wawasan, memberikan hiburan, atau mengajarkan keterampilan tertentu yang mungkin jarang didapatkan anak di kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi sekali lagi, tontonan yang baik dan sehat bagi anak tentu tidak terlepas dari pendampingan orangtua. Saat mendampingi, ibu-bapak sebaiknya turut mengajak anak berinteraksi sehingga kegiatan menonton tidak selalu pasif. Orangtua dapat mendiskusikan isi tontonan, bertanya kepada anak berbagai informasi yang sedang dipaparkan di teve, atau bertanya bagaimana aplikasi dari tontontan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu tentu dilakukan bila anak sudah besar.

Foto: freepik.com