Mengenal Karakter Anak Berdasar Urutan Lahir (2)

ANAK SULUNG

Anak sulung umumnya memiliki karakter sebagai sosok yang dapat diandalkan, terstruktur, rapi, cenderung serius, penuh kendali, mencapai prestasi dan berjiwa pemimpin.

Sebagai anak sulung, ia merasakan beban ‘tanggung jawab’ yang besar. Di sii lain,  harapan orangtua pun begitu besar. Anak sulung biasanya lebih banyak mendapatkan perhatian dari orangtuanya dibandingkan saudara-saudaranya. Hal ini dikarenakan orangtua masih pertama kali menjalani peran sebagai ayah-ibu sehingga seluruh perhatian tercurahkan kepada anak sulung. Orangtua juga memiliki pengharapan yang lebih tinggi dan memberikan tanggung-jawab yang lebih banyak kepada anak sulung. Hal ini  mengakibatkan anak sulung biasanya dapat diandalkan dan berjiwa pemimpin.

Ya, anak sulung cenderung menerima tanggung jawab yang paling besar dibandingkan adik-adiknya. Pengharapan orangtua yang besar menjadikan anak sulung cenderung lebih sedikit mengambil risiko dan teguh terhadap aturan baku yang telah ditetapkan orangtua. Hal ini menjadikan anak sulung cenderung kehilangan spontanitas dan mudah cemas.

Nah, untuk menghadapi karakter anak sulung agar optimal dalam perannya, orangtua perlu memberi ia kesempatan untuk menentukan jalannya sendiri. Pengharapan yang tinggi dari orangtua terhadap si sulung mengarahkan ia terhadap pengejaran karir atau prestasi bergengsi. Orangtua juga sebaiknya menyeimbangkan keinginan dengan minat anak. Dorong ia untuk mengambil risiko dan berpikir kreatif. Dukung juga anak sulung yang memiliki minat dan bakat di bidang literatur atau seni. Jadi, biarkan ia menentukan jalannya sendiri.

ANAK TENGAH

Si anak tengah cenderung memiliki karakter mudah menyesuaikan diri, mementingkan persahabatan, pendamai, diplomatis, fleksibel, namun cenderung “memberontak” atau tampil beda.

Anak tengah ini umumnya sering dibandingkan dengan sang kakak. Selain itu, perhatian orangtua lebih sedikit. Orangtua cenderung luput terhadap perkembangan dan kebutuhan pribadi anak tengah. Orangtua biasanya lebih memerhatikan pencapaian anak sulung dan kebutuhan anak bungsu. Anak tengah juga sering dibandingkan dan menerima barang bekas kakaknya. Hal ini bila sering dilakukan dapat membuat anak tengah merasa tidak diperlakukan dengan adil dan merasa kurang berharga dibandingkan anak sulung. Namun, anak tengah biasanya juga lebih diplomatis dan fleksibel karena mereka berusaha untuk berbeda dari kakak dan adiknya.

Perkembangan anak sulung seringkali menjadi tolak ukur yang digunakan orangtua untuk anak tengah. Pernyataan seperti, “Kakakmu sudah lancar membaca ketika masuk SD,” atau “Kakakmu senang membantu Ibu loh,” sebaiknya dihindari. Perhatikan dan rayakan juga peristiwa pertama dan pencapaian anak tengah. Misalnya, hari pertama masuk sekolah, dipilih sebagai perwakilan kelas untuk lomba, dan sebagainya. Hal ini dapat mengembangkan kepercayaan diri anak tengah dan menyakinkan ia bahwa dirinya dicintai orangtuanya tanpa ‘bayang-bayang’ kakaknya.

Hal lain yang perlu dilakukan, dorong anak tengah untuk berbagi pendapat dan perasaannya. Sediakan waktu ekstra setiap hari, misalnya ketika makan atau dalam perjalanan, untuk menanyakan pemikiran dan aktivitasnya. Libatkan juga  kakaknya untuk turut mendengarkan. Hal ini dapat menjadi sarana anak tengah untuk berekspresi dan mengembangkan identitasnya yang unik. Jadi, tetaplah memerhatikan kebutuhan si anak tengah ini.

ANAK BUNGSU

Karakter anak bungsu biasanya menyenangkan, jenaka, ceria, mudah bergaul, sederhana dan spontan. Meski begitu, ia cenderung bergantung pada orang lain.

Ya, ketika memiliki anak bungsu, orangtua biasanya telah lebih percaya diri mengenai pengasuhan anak. Alhasil, orangtua tidak lagi terlalu memerhatikan detil perkembangan anak bungsu. Akibatnya, anak bungsu cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih spontan dan relaks. Anak bungsu juga lebih sering mengembangkan kemampuan mendapatkan perhatian dengan lelucon dan sikapnya yang jenaka. Selain itu, orangtua juga lebih sedikit memberikan tugas atau tanggung jawab kepada anak bungsu dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Hal lain yang umum terjadi, anak bungsu biasanya sering dimaafkan oleh orangtua. Ayah ibu cenderung melindungi si bungsu serta melimpahkan tugas kepada kakak-kakaknya. Akibatnya, anak bungsu lebih besar kemungkinan melanggar peraturan, sekaligus bergantung pada orang lain. Sikap spontan dan jenaka anak bungsu juga dapat menjadi bumerang apabila ia bercanda di saat yang kurang tepat, seperti ketika ada yang sedang berduka. Orangtua perlu mengingatkan anak bungsu untuk bercanda pada saat yang tepat.

Untuk menghadapi karakter anak bungsu ini, orangtua perlu membesarkan pengharapan padanya. Misalnnya, motivasi anak bungsu mengenai pencapaian akademis dan cita-citanya. Orangtua juga dapat mengembangkan tanggung jawab anak bungsu dengan memberinya tugas yang adil seperti kakaknya.

Selain itu, orangtua juga dapat memberikan anak bungsu kesempatan untuk mengajarkan sesuatu kepada  anak yang lebih kecil darinya. Misalnya, mengajarkan cara makan dengan sumpit kepada adik sepupu atau tetangga yang lebih kecil. Aktivitas ini selain dapat mengembangkan tanggung jawab juga memberikan keterampilan baru untuk anak bungsu.

Tak kalah penting, perlakukan anak bungsu sesuai usianya. Hindari terus memperlakukan anak bungsu sebagai ‘bayi’ dalam keluarga.(hil)

Foto: freepik.com