MENGENAL KARAKTER ANAK BERDASAR URUTAN LAHIR (1)

Setiap anak itu unik. Karena itu, pahami karakternya yang berbeda dengan saudara sedarahnya, agar ia berkembang optimal di kemudian hari.  

 Ya, urutan kelahiran anak memang memiliki efek terhadap kepribadian anak. Hal ini ditegaskan Alfred Adler, peneliti pertama mengenai efek kelahiran anak. Menurut Adler, urutan kelahiran anak memengaruhi cara ia diperlakukan oleh orangtuanya. Sebagai contoh, ketika Anda pertama kali memiliki anak, kecenderungan  merasa sangat bangga dan mengamati setiap perkembangan dan kebutuhan sang buah hati.

Kemudian seiring waktu, lahirlah anak kedua yang umumnya dibayang-bayangi sang kakak yang notabene lebih duluan lahir. Nah, ketika memiliki anak ketiga alias si bungsu, orangtua sudah lebih percaya diri mengenai pengasuhan anak. Orangtua menjadi lebih fleksibel dalam memberikan perhatian dan disiplin. Si anak bungsu ini pun sejak dini telah belajar untuk menghibur dan menyenangkan hati orangtua.

Dalam memahami keribadian anak berdasarkan urutan lahir, penting diperhatikan bahwa urutan lahir bukan hanya berdasarkan urutan kelahiran anak. Akan tetapi juga peran urutan lahir yang diberikan orangtua untuk anak. Misalnya, anak laki-laki pertama meskipun urutan lahirnya anak kedua. Bleh jadi ia mendapatkan peran urutan lahir anak sulung sehingga memiliki karakteristik anak sulung.

Selain itu, jarak usia antar anak juga perlu diperhatikan. Bila jarak usia telah mencapai lima tahun, kepribadian anak dihitung ulang lagi. Misalnya, apabila anak pertama telah berusia 8 tahun dan anak kedua berusia 2 tahun kemudian baru memiliki adik bayi lagi. Maka anak pertama biasanya memiliki karakteristik anak tunggal. Sedangkan anak kedua cenderung memiliki karakteristik anak pertama bukan anak tengah.

Berikut penjelasan selengkapnya tentang karakter, kendala serta bagaimana peran orangtua terhadap anak terkait dengan urutan kelahirannya.

ANAK TUNGGAL

Karakter umum dari si anak tunggal cenderung dewasa untuk usianya. Ia relatif perfeksionis dan umumnya serius. Selain itu, anak tunggal ini biasanya rajin dan berjiwa pemimpin.

Lantaran anak tunggal, biasanya harapan orangtua begitu besar. Perhatian orangtua hanya tercurah pada si semata wayang ini.  Karena itulah, jangan heran kalau anak tunggal ini mendapatkan fasilitas dan perhatian sepenuhnya dari kedua orangtua. Nilai positif yang bisa dipetik, anak tunggal biasanya memiliki kepercayaan diri yang baik karena mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua seutuhnya. Akan tetapi, karena terbiasa diperhatikan dan menjadi pusat perhatian orangtua, anak tunggal cenderung mengatur dan senang mendominasi teman sebayanya. Kondisi ini menjadikan anak tunggal cenderung sulit menyesuaikan diri dengan kebutuhan teman sebayanya.

Tak hanya itu, anak tunggal sering mengalami kesulitan dalam bernegosasi atau kompromi karena tidak mempunyai adik atau kakak untuk membantunya mempelajari keterampilan tersebut sehari-hari. Kendala ini dapat diatasi dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan teman sebaya atau sepupunya. Di samping itu,  kelompok bermain, belajar, keagamaan seperti pengajian atau retret dapat memupuk kepekaan dan kemampuan negosiasinya dengan teman sebaya.

Orangtua juga perlu memberi kesempatan pada anak untuk peduli kepada orang lain. Pupuk kepedulian dan empati anak tunggal dengan banyak melibatkan ia dengan kegiatan sosial, seperti berkunjung ke panti asuhan, mengajari anak-anak yg lebih kecil di mesjid atau gereja, berbagi makanan dengan teman sekolahnya atau memberinya tanggung jawab dengan merawat hewan peliharaan.

Tak terkecuali, orangtua juga perlu kiranya untuk menurunkan pengharapannya pada si semata wayang ini. Memang wajar bila orangtua dari anak tunggal, biasanya memiliki pengharapan yang tinggi terhadap anaknya. Tak heran bila anak tunggal cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dan prestasi akademik yang lebih baik karena ia mendapatkan seluruh perhatian orangtuanya. Situasi ini dapat membentuk sikap perfeksionis pada anak tunggal. Hal ini menjadikan anak tunggal rentan terhadap perasaan frustrasi apabila tidak mencapai target yang telah ia tentukan. Orangtua dapat menyeimbangkan sikap anak tunggal dengan  menyeimbangkan ekspektasi terhadap anak tunggal. Hargai juga usaha dan keinginannya untuk menerima kegagalan dengan cara yang positif, seperti menambah pengalaman dan belajar dari kesalahan. (hil)

Foto: freepik.com