8 Cara Mengatasi Anak ‘Keras Kepala’

Kesal ya Mam, ketika kita dihadapkan pada anak yang ‘keras kepala.’ Kadang kita jadi mati gaya, tak tahu apa harus dilakukan.

Tentunya, kita harus memahami alasan kenapa anak berperilaku seperti itu. Nah, yuk Mam simak tips berikut:

1.Anak berkemauan keras adalah pembelajar melalui pengalaman. Sebagai contoh, untuk mempercayai bahwa kompor itu panas maka ia perlu mendekati kompor agar dapat merasakan sensasi panas di sekitar alat tersebut. Maka lebih efektif untuk membiarkan ia belajar melalui pengalaman, daripada kita mengontrolnya. Hal ini seringkali menguji batas kesabaran kita, namun pahamilah bahwa begitulah cara ia belajar.

2.Anak berkemauan keras ingin penguasaan lebih dari apapun. Biarkan dia mengambil alih kegiatannya sendiri sebanyak mungkin. Hindari terlalu banyak menyuruhnya, akan tetapi kita bisa mengingatkannya.

3.Berikan pilihan kepada anak. Jika Anda memberikan perintah, ia akan hampir pasti menolak. Sedangkan jika kita memberikan pilihan maka anak lebih senang bekerja sama. Ia merasa mampu mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas pilihannya.

4.Beri mereka otoritas kebebasan akan dirinya sendiri. Sebagai contoh, anak tidak mau memakai jaket. Kita bisa memberikannya kemungkinan-kemungkinan, misalnya mengatakan,”Kalau nanti hujan dan kamu tidak memakai jaket kira-kira apa yang akan terjadi? Kalau nanti kamu kehujanan, kira-kira akan sakit atau tidak?

5.Hindari memaksa anak jika ia tidak mau mengikuti arahan kita. Hal tersebut hanya akan membuat anak menentang orangtua. Orangtua memiliki peluang yang besar untuk memenangkan perdebatan, hanya saja hal tersebut akan merusak hubungan anak dan Anda. Tenangkan diri anda lalu tarik napas dalam-dalam selanjutnya berikan anak penjelasan dengan cara komunikasi yang baik.

6.Luangkanlah waktu Anda untuk mendengarkan apa yang anak inginkan. Kebutuhan anak sebenarnya tidak banyak. Ia menginginkan perhatian dan kasih sayang Anda sebagai orangtua. Kasih sayanglah yang bisa meminimalisasi kebutuhan anak pada sesuatu hal yang bersifat “materi”.

7.Memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak.

Pentingnya memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak, dimana ia tidak merasa terpaksa untuk mendengarkan pesan moral yang disampaikan orangtua. Disini orangtua harus pintar membaca situasi dan karakter anak, kira-kira pada saat kapan anak bisa diajak bicara dan menjadi pendengar yang baik.

8.Memberikan fasilitas sebagai media untuk menyalurkan hobi anak.

Setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Para orangtua harus bisa peka dalam melihat hal ini. Hindari memaksakan minat orangtua kepada anak. Namun orangtua perlu menyalurkan minat dan potensi anak.

Dengan menyalurkan apa yang menjadi hobinya, anak senantiasa akan terus bergerak dan sisa energinya akan tersalurkan kepada hal-hal yang positif. Ini akan membuat anak terhindar dari keadaan bosan, mudah marah, sedih, dsb.

Yang jelas, sikap keras kepala tidak akan menghilang dengan sendirinya namun perlu arahan dan didikan orangtua. Peran pola asuh sangat penting untuk membentuk karakter anak. Orangtua perlu memberikan contoh yang baik kepada sang buah hati untuk terbuka terhadap kritik dan masukan dari orang lain. Termasuk juga orangtua bisa menerima kritik dari anak. Alhasil, ia un dapat meniru sikap orangtua untuk terbuka terhadap arahan dan saran dari orang lain.

Bila dibiarkan dan dihadapi dengan baik, strongwilled child ini tentunya akan menjadi:

  1. Anak akan tumbuh menjadi seorang yang pembangkang dan sulit diatur. Ia akan melakukan hal-hal yang diinginkan tanpa pikir panjang sehingga dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
  2. Anak sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini membuatnya menjadi marah, sedih yang berlebihan dan menyalahkan keadaan.
  3. Anak akan berupaya mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara apapun. Keyakinan dan semangatnya yang besar untuk mendapatkan sesuatu membuat ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.
  4. Seringkali memicu keributan dan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi kurang harmonis. (hil)

Foto: freepik.com