Efek Psikis New Normal saat Pandemi Covid-19

Memasuki bulan ketiga, Indonesia dilanda pandemi covid-19. Sejak Maret, kita mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan, selain juga adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai upaya menekan peningkatan angka kasus covid-19.

Adanya berbagai aturan dan anjuran untuk mencegah penyebaran penyakit ini, mau tak mau telah menyebabkan berbagai dampak psikis lantaran perubahan cara berkehidupan secara sosial karena pandemi ini. Tak sedikit orang yang mulai menjalani kehidupan dalam masa transisi yang mayoritas merasa gagap mengikuti perubahan yang cepat ini.

Aktivitas bekerja yang biasanya hadir di kantor, kini harus beradaptasi dengan menjalani work from home. Para pebisnis atau pedagang harus mengubah platform atau cara jualannya menjadi secara online. Kemudian, kalangan muda yang biasanya meluangkan waktu untuk nongkrong di resto atau kafe, kini harus banyak berdiam diri di rumah dan berinteraksi sosial secara virtual. Tak sedikit pula calon mempelai menunda pernikahan atau menikah dengan mekanisme tertentu, misalnya tanpa mengadakan pesta, untuk mengurangi risiko terjadinya penularan covid-19.  

Begitu dengan hal-hal lain yang tadinya bukan sebuah kebiasaan, kini harus menjadi perilaku sehari-hari yang rutin dilakukan. Misalnya, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, serta mengganti pakaian setelah dari luar rumah atau bepergian.

Nah, membiasakan diri dengan kehidupan new normal ini tentunya menjadi sebuah keharusan atau wajib. Hal ini mengingat vaksin untuk menangani covid-19 belum ditemukan dan masih jalan perjalanan prosesnya hingga bisa diproduksi secara massal. Di sisi lain, pandemi ini belum dapat diketahui secara pasti kapan akan berakhir.

Karena alasan-alasan tersebut, kita harus mengupayakan melakukan pencegahan penularan covid-19 ini dengan menjalani kehidupan baru yang aman baik ketika berinteraksi, bekerja serta aktivitas rutin sehari-hari lainnya. Bahkan seorang psikolog klinik yang juga penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal seperti dulu.

Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini.  Mungkin sebagian dari kita masih sulit menerima dan beradaptasi dengan keadaan ini. Namun, sSebagian yang lain masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal dengan menerapan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Menurut psikiater dari Amerika Serikat, Elizabeth Kubler-Ross, kondisi ini menyebabkan efek psikologis di antaranya:

  1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.
  2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.
  3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi. Dalam tahap ini, terdapat keharusan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.
  4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.
  5. Penerimaan. Pada tahap ini, seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaan.

seseorang mencapai tahap penerimaan pada kondisi baru akan lebih bersedia untuk menerima new normal dalam kehidupannya. Masa depan setelah pandemi ini memang belum bisa diprediksi. Namun, kita harus siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan dengan sikap menerima dan menyesuaikan atau beradaptasi dengan situasi sekarang ini.

Foto : freepik.com