Enam Rekomendasi Hidup Beradaptasi dengan Covid-19

Berdasarkan data pemerintah, sudah lebih dari 23 ribu kasus pasien terinfeksi virus corona aau covid-19 di Indonesia. Vaksin belum akan tersedia setidaknya sampai dengan akhir 2021. Program imunisasi akan memerlukan waktu cukup lama lebih kurang dua tahun berikutnya untuk seluruh populasi. Sementara kehidupan harus terus berjalan. “Sampai vaksin ditemukan dan imunisasi massal dilakukan masyarakat harus beradaptasi dengan Covid-19 melalui mitigasi yang terkontrol dan terukur berbasis data,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Laksana Tri Handoko.

LIPI memberikan enam rekomendasi untuk hidup beradaptasi dengan Covid-19. Rekomendasi pertama adalah kontrol dan mitigasi yang terukur untuk pengaktifan aktivitas ekonomi masyarakat. “Fokusnya di screening massal di simpul mobilitas publik berbasis Rapid Diagnostic Test atau RDT dan uji Polymerase Chain Reaction atau PCR di lokasi kerumunan permanen seperti rumah sakit, sekolah dan kampus, dan perkantoran serta industri,” jelas Handoko.

Kedua, penanganan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dengan data akurat, masif dan terukur. “Pasien positif dan keluarganya dikenakan masa isolasi dan karantina. Untuk pasien positif dari masyarakat berpenghasilan rendah, keluarganya ditetapkan sebagai penerima bantuan sosial,” jelasnya. Selain itu juga dilakukan disinfeksi menyeluruh di lokasi dengan kasus positif.

Pengetatan pelaksanaan Protokol Utama Penanganan Covid-19 seperti kewajiban memakai masker di semua lokasi dan kondisi, jaga jarak di semua aktivitas, serta kebersihan dan strerilisasi menjadi rekomendasi LIPI berikutnya. “Bila perlu dilakukan dengan mekanisme pemberian denda bagi yang melanggar,” terang Handoko.

Rekomendasi kempat adalah pengerahan seluruh infrastruktur dan SDM untuk meningkatkan kapasitas uji berbasis RDT dan PCR. Meliputi pengadaan nasional untuk RDT dan test kit PCR dari sumber teruji serta rekrutmen SDM untuk operator swab, ekstraksi sampel, dan analisis hasil uji. “Alat PCR yang ada di seluruh instansi dan kampus dikelola secara terpadu sehingga distribusi sampel dapat diatur dengan baik dan hasil cepat keluar,” ujar Handoko.

Kelima, pembentukan Tim Pakar untuk setiap sektor untuk evaluasi dan pemberian rekomendasi teknis lebih lanjut secara berkala. Tim Pakar terdiri dari praktisi dan ilmuwan di sektor terkait dan ahli epidemiologi. “Sehingga rekomendasinya berbasis data dan perkembangan sains dengan didukung rekayasa teknologi untuk mendukung implementasi,” ungkapnya.

Rekomendasi keenam adalah penguatan ketahanan dengan mempercepat riset terkait dengan konten lokal. Rekomendasi ini meliputi pengembangan suplemen penguat imunitas tubuh dari bahan alam lokal, karateristik biologi virus SARS-CoV2, pembuatan bahan dan test kit uji PCR lokal, metode baru uji virus secara molekular sehingga lebih murah dan mudah dilakukan di berbagai fasilitas, pengembangan Rapid Diagnostic Test lokal, dan pengembangan alat sterilisasi barang berbasis disinfektan untuk area publik. “Juga penciptaan model bisnis baru untuk UMKM melalui teknologi tepat guna berbasis riset, sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas dengan daya tahan lebih lama,” kata Handoko.

Foto : freepik.com

Riset Efek Lockdown Terhadap Mental Manusia

Pandemi virus corona atau covid-19 ini membawa dampak yang sangat luas. Salah satunya, efek terhadap mental seseorang. Sebuah riset yang dilakukan oleh tim peneliti di Swiss menunjukkan bahwa upaya lockdown atau pembatasan sosial ternyata  membawa dampak secara mental atau psikologis yaitu dapat mengurangi umur manusia.

Hasil penelitian dari para ilmuwan tersebut dipublikasikan pada jurnal medRxiv. Ini merupakan jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Adapun judul penelitian tersebut adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Penelitian ini melibatkan  4 orang ilmuwan yang dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss selain itu ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Tim peneliti ini mengatakan bahwa strategi mitigasi sosial yang diterapkan dalam masa pandemi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia tersebut.

Inilah yang disebut dengan ‘years of life lost’ (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Adapun riset ini dilakukan di Swiss.

Para peneliti mencatat persoalan mental akibat lockdown selama pandemi corona atau covid-19 ini yaitu bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Adapun riset tersebut dilakukan selama 3 bulan masa lockdown.

Hasil penelitian ini tentunya cukup mengejutkan. Rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown covid-19. Meski begitu ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL. Karena itu, selama masa pandemi dan berdiam di rumah sebaiknya tetap usahakan untuk selalu bahagia.

Foto : freepik.com

Sehat Jiwa Raga dengan Silaturahmi di Dunia Maya

Hari Raya Idul Fitri 2020 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, bertemu bersilaturahmi menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu saat Lebaran. Namun, untuk tahun ini, momentum bisa silaturahmi secara langsung umumnya tidak bisa dilaksanakan karena di tengah pandemi virus corona atau covid-19 ini.

Di saat wabah ini, kita dianjurkan untuk melakukan social/physical distancing dan berbagai protokol kesehatan lainnya demi mencegah penyebaran penyakit infeksi ini. Karena itu, silaturahmi di masa lebaran kali ini hanya bisa dilakukan secara virtual, online atau melalui dunia maya.

Meski begitu, silaturahmi secara virtual ini tidak mengurangi makna saling bermaafan antara keluarga, kerabat dan handai taulan lainnya. Walaupun dilakukan dengan sarana teknologi seperti Whatsapp video, zoom, google dan sebagainya, kita tetap bisa melepas kangen dengan keluarga nun jauh di sana.

Yang pasti, esensi dari saling memaafkan ini tetap dapat dilakukan meski tidak saling berpeluk dan mencium tangan orangtua secara langsung. Nah, mengucapkan maaf dan memaafkan ini dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan. Tak sedikit riset yang membuktikan bahwa kata maaf memberi dampak yang luar biasa.

Dengan satu kata ‘maaf’ ini, akan memunculkan rasa damai, harapan, ketenganan dan suka  cita. Ya, mengucapkan maaf dan memaafkan bisa membuat kita lebih sehat, baik secara fisik, emosional bahkan spiritual.

Adalah penelitian yang dilakuan oleh tim riset dari University of Massachusetts, mereka membuktikan bahwa kata maaf dapat menurunkan tekanan darah bagi pasien yang mengalami hipertensi/tekanan darah tinggi. Riset tersebut menyebutkan, tekanan darah para responden ini turun hingga 20 persen lebih cepat ketika mendengar kata maaf.

Nah, berikut ini efek positif yang bisa didapat bila saling memaafkan, seperti dikutip dari Mayo Clinic:

– Interaksi atau hubungan yang lebih sehat
– Dapat meningkatkan kesehatan mental
– Terhindar dari depresi
– Imun atau sistem kekebalan tubuh jadi lebih kuat
– Kesehatan jantung meningkat
– Tekanan darah terkontrol
– Meningkatkan kepercayaan diri

Nah, yuk membiasakan saling memaafkan, tidak harus menunggu momen Idul Fitri.

Foto : freepik.com

Yogurt Berkhasiat Mengatasi Depresi, Benarkah?

Apakah Anda sedang mengalami depresi? Merasa Tertekan, sedih, cemas, kosong, tidak memiliki harapan, tidak berharga, gelisah atau mungkin tidak bersemangat melakukan aktivitas apapun, hilang nafsu makan, konsentrasi terganggu, menjadi sering lupa, bahan mungkin lebih parah Anda memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup?

Mari kita cari cara mengatasi salah satu gangguan mood ini. Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang sering ditemui dan menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Setelah melakukan riset Kementerian Kesehatan Republic Indonesia tahun 2013 memperkirakan ada 6% penduduk Indonesia memiliki gejala depresi dan kecemasan.

Kenapa seseorang dapat terkena depresi?

Ada beberapa faktor terjadinya gangguan mental, yaitu faktor biologist, psikis, sosial. Coba kita bahas satu persatu faktonya.

Faktor biologis yaitu pengaruh genetik dimana orang yang memiliki riwayat keluarga depresi, akan memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami depresi. Ini semacam keturunan karena perilaku lingkungan keluarga yang tidak aman sehingga Anda ikut mengalami depresi.

Faktor psikis merupakan gangguan pada mekanisme adaptasi, kepribadian, dan kepercayaan. Susahnya beradaptasi, tidak percaya diri menjadi faktor depresi timbul pada Anda, sehingga Anda lebih memilih menyendiri.

Faktor sosial ini adalah perilaku yang terjadi disekeliling yang disebabkan oleh kejadian. Seperti kehilangan orang yang dicintai, mendapat perlakuan kasar dari orang terdekat. Faktor- faktor ini yang akhirnya dapat menimbulkan gangguan neurotransmitter, terganggunya pusat pengatur mood di otak.

Saat ini gangguan depresi dapat ditangani dengan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan. Kombinasi dua terapi ini yang memberikan hasil yang lebih baik dan bertahan lama. Selain itu ada beberapa makanan yang bisa menjadi sebagai mood-boosting atau mood-stabilizing seperti yogurt, omega-3, gandum, kacang-kacangan, cokelat, sayur-sayuran, buah-buahan, dan telur.

Mengapa yogurt dapat memperbaiki gangguan mood?

Siapa yang tidak menyukai yogurt? Semua orang dari berbagai kalangan pun suka memakan yogurt dari anak bayi hingga orang tua. Dan kenapa yang kita bahas hanya yogurt, karena ternyata yogurt memiliki peran penting untuk meningkat mood seseorang untuk kembali normal.

Seorang yang depresi atau menderita gangguan mood itu merupakan adanya perubahan bakteri baik di dalam usus diduga dapat menimbulkan kelainan metabolisme seseorang. Perubahan mikrobiota ini juga dikatakan dapat menimbulkan gangguan pada otak, salah satunya adalah munculnya gangguan mood.

Beberapa penelitian mengungkapkan gejala depresi muncul setelah jumlah Lactobacillus (salah satu bakteri baik di usus) berkurang. Sehingga perlu adanya perbaikan beberapa bakteri untuk menghilangkan gejala depresi dan mood kembali menjadi normal. Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dimasukkan dalam jumlah tertentu untuk memberikan efek menguntungkan. Sehari-hari, probiotik umumnya ditambahkan ke dalam makanan, salah satu contohnya adalah yogurt.

Yogurt memiliki peran penting dalam mengurangi peradangan di dalam usus. Selain itu yogurt dapat meningkatkan kadar asam amino triptofan yang penting dalam pembentukan neurotransmitter. Sehingga gejala mood depresi dapat cepat diperbaiki.

Penelitian lain pun mengungkapkan dengan mengonsumsi yogurt secara rutin dapat memperbaiki gejala gangguan mood. Beberapa kelompok yang mengonsumsi yogurt mampu untuk menghadapi rasa sedih untuk menjadi lebih baik dan pikiran depresi menjadi berkurang. Anjuran yang diberikan yaitu konsumsi yogurt secara rutin satu hari sekali juga dapat mencegah atau mengurangi gejala depresi ringan sampai sedang.

Banyak kemasan yogurt yang beredar di pasaran, itu berarti tidak semua yogurt dapat dikonsumsi untuk mengurangi gejala depresi hanya yogurt yang memiliki probiotik dan yang masih mengandung Lactobacillus aktif. Meskipun begitu, psikoterapi serta obat-obatan juga tetap perlu diberikan agar kita terlelas dari gejala depresi tersebut.

Riset : Menu Diet Tak Sehat Picu Gangguan Mental

You are what you eat. Peribahasa itu mungkin sering kita dengar. Ya, Anda adalah apa yang Anda makan. Apa yang Anda konsumsi akan menjadi energy atau bahan bakar sehingga metabolism tubuh, termasuk pikiran Anda, dapat bekerja dengan baik dan optimal.

Bicara soal makanan, bila Anda ingin terhindar dari problem mental, ubahlah pola makan Anda. Hm, apa kaitannya, ya? Nah, sebuah laporan mengungkapkan, hampir dua pertiga orang yang mengonsumsi makanan sehat setiap hari ternyata tak mengalami masalah kesehatan mental. Sebaliknya, seseorang yang konsumsi hariannya kurang mengandung zat gizi, justru berisiko dua kali lipat mengalami gangguan kesehatan mental.  Hal tersebut menandakan, apa yang kita makan dapat memengaruhi kondisi mental.

Riset tentang kaitan antara diet atau pola makan dengan kesehatan mental terus berkembang. Fakta terbaru menyebutkan,gizi yang baik sangat penting bagi kesehatan mental. Manfaat bagi kesehatan mental ini mencakup jangka pendek dan panjang. Ya, makanan berperan penting dalam perkembangan hingga pencegahan masalah kesehatan mental tertentu, misalnya depresi, gangguan hiperaktif, Alzheimer, skizofrenia dan sebagainya. Kondisi seperti itu menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh pola konsumsi sehari-hari terhadap kondisi kesehatan mental.

Sarapan

Nah, hal yang terkadang kita abaikan adalah pentingnya sarapan. Ternyata, melewatkan sarapan dapat berisiko buruk terhadap kesehatan mental. Perlu kita tahu, makan pagi akan menyuplai energi bagi tubuh dan otak. Tidak sarapan menyebabkan kita merasa lelah dan linglung. Karena itu, sarapan harus selalu diperhatikan dalam rutinitas sehari-hari.  Bila kesibukan sangat menyita waktu sehingga tak keburu sarapan, setidaknya sempatkan untuk mengonsumsi granola bar gandum, yogurt atau sepotong buah sebagai konsumsi awal yang baik dan menyehatkan.

Air Mineral

Tak kalah penting adalah hindari minuman manis dan jumlah kafein yang berlebihan. Minuman manis mengandung banyak kalori dan merusak enamel gigi. Sedangkan, minum banyak kafein bisa memicu serangan panik bagi orang yang memiliki gangguan cemas.

Pilihan terbaik adalah minum 8 gelas air mineral sehari (sekitar 2 liter) untuk mencegah dehidrasi. Dehidrasi ringan saja bisa menimbulkan rasa lelah, sulit konsentrasi dan perubahan suasanah hati. Selain itu, muncul efek fisik seperti haus, kulit kering, sakit keapla, pusing, sembelit dan urin berwarna lebih gelap.

Teh

Teh menjadi pilihan lebih baik daripada kopi/kafein. Teh mengandung kafein yang lebih rendah daripada kopi. Teh juga mengandung banyak antioksidan-bahan kimia untuk membantu melindungi jaringan tubuh dan mencegah kerusakan sel.

Asam Folat/Vitamin B9

Vitamin dapat menurunkan risiko depresi. Salah satunya asam folat atau vitamin B9 berfungsi memproduksi sel. Folat juga dikonsumsi ibu hamil karena kebutuhannya meningkat. Vitamin ini dapat mengurangi risiko anemia dan kondisi lainnya. Asam folat membantu menangani depresi. Asam folat bisa didapatkan pada sayuran berdaun hijau seperti bayam, kangkung, kacang-kacangan, biji-bjian, gandum utuh dan buah-buahan.

Vitamin D

Seseorang yang kekurangan vitamin D disinyalir berisiko mengalami depresi. Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium untuk gigi dan tulang yang kuat, mendukung kesehatan otot dan sistem kekebalan tubuh.  Kekurangan vitamin D juga memicu risiko penyakit jantung seperti serangan jantung.

Sumber vitamin D bisa dari makanan dan sinar matahari. Berjemur selama selama 5-30 menit dua kali seminggu dapat menghasilkan cukup vitamin D.  adapun sumber pangan yang mengandung vitamin D di antaranya susu, jus jeruk, sereal, lemak ikan seperti salmon dan tuna. Bisa juga mengonsumsi vitamin D asal sesuai dengan petunjuk dokter.

Nah, yuk jangan kondisi mental kita dengan asupan makanan bergizi seimbang!

foto : freepik.com

Cemas Wabah Corona, Ini 4 Tips Atasi Sulit Tidur

Pandemi virus corona Covid-19  tak ayal membuat warga dunia cemas. Penyebarannya yang begitu masif ke berbagai negara tentunya membuat sebagian orang khawatir dan was-was. Apalagi melihat  pemberitaan dimana kasus positif terinfeksi corona terus bertambah dan korban meninggal juga meningkat. Meski di sisi lain, pasien yang kemudian sembuh juga tak kalah banyak.

Nah, adakalanya kecemasan itu menimbulkan efek lain, salah satunya gangguan tidur. Padahal, tidur yang berkualita adalah hal yang penting untuk menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental.  Masalahnya, kita seolah dibombardir oleh pemberitaan ataupun sosial media yang melulu tentang kasus corona.

Lalu, bagaimana cara mengatasi gangguan tidur karena merasa cemas? Berikut di antaranya :

1. Tetap lakukan kegiatan rutin harian

Wajar saja bila kegiatan rutin sehari-hari terganggu karena pandemi corona ini.  Orang tidak dengan bebas keluar rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah. Adanya perubahan jadwal harian ini tentu membutuhkan adaptasi.  Walaupun di rumah, tapi tetap jadwal rutin dilakukan. Misalnya, mandi pagi, sarapan, bekerja dan seterusnya. Hanya saja aktivitas bekerja dilakukan di rumah. Dengan begitu, kualitas tidur terjaga karnea rutinitas tetap berlangsung seperti biasa.

2. Hindari tidur siang terlalu lama

Ketika menjalani social and physical distancing ini terkadang jam tidur siang jadi bertambah. Pasalnya, kita merasa nyaman di rumah, melakukan karantina diri selama sekian lama. Nah, tidur siang yang berlebihan bisa menyebabkan di malam hari sulit mengantuk. Hal ini juga bisa mengganggu jadwal tidur di malam hari. Padahal, menerapkan jam tidur yang normal bisa membuat hidup lebih teratur. Karena itu, coba ubah keinginan tidu siang dengan aktivitas sehat seperti bangun lebih awal untuk dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan lebih cepat.

3. Tetap berolahraga

Menjaga isolasi diri bukan berarti hanya berdiam, duduk atau tiduran sepanjang hari. Akan tetapi, lakukan kegiatan olahraga ringan. Hal ini juga bisa membuat kualitas tidur terjaga dengan baik.  Memang, olahraga yang dilakukan terbatas, namun ada beberapa pilihan alternatif yang bisa dilakukan, misalnya senam atau yoga. Cobalah lakukan olahraga di pagi atau siang hari. Hindari berolaharag di waktu sebelum jam tidur karena bisa menstimulasi tubuh dan menyebabkan susah tidur.

4. Hindari berita hoax

Banjirnya informasi menyebabkan kita kadang kesulitan memilih dan memilah mana berita yang benar dan mana yang berita bohong. Hoax bertebaran di media sosial. Hal ini bisa membuat perasaan lebih cemas dan khawatir.  Karena itu, kurangi informasi yang bisa membuat kita merasa takut dan cemas. Pasalnya, bisa mengganggu kualitas tidur.

Selamat mencoba, semoga Anda tidak lagi terlalu cemas dan dapat tidur dengan nyenyak!

Foto: freepik.com

Efek Corona, Cegah Panic Buying! Cukup Beli 4 Hal Ini

Pandemi global virus corona ini memang meresahkan warga dunia. Tak sedikit yang merasa was-was dan khawatir terkena infeksi Covid-19 karena proses penularannya yang kadang ‘tidak tampak’. Ya, sebagian kasus pasien awalnya tidak menunjukkan gejala signifikan. Bahkan, penularannya ‘gara-gara’ bersalaman tangan dengan kenalannya.

Kepanikan ini semakin menjadi ketika pemerintah menerapkan parsial lockdown. Hal ini membuat reaksi bagi beberapa orang untuk ‘panik buying’, membeli kebutuhan pangan untuk persediaan beberapa waktu ke depan. Hal yang wajar bila masih dalam batas-batas tertentu. Akan tetapi, sangat disayangkan bila kemudian yang terjadi adalah ‘menimbun’ kebutuhan pokok tersebut untuk kepentingan sendiri, sementara pihak lain terlantar karena tidak kebagian. Kondisi bagaimana pun kita tetap dalam kondisi ‘waras’ karena gangguan kesehatan mental bisa terjadi karena dipicu berbagai hal. Salah satunya, panic buying ini.

Yang pasti, kita tak perlu terlalu panic berlebihan dengan kondisi semi lockdown seperti saat ini. Pasalnya, pemerintah akan menjamin ketersediaan pokok masyarakat. Jadi, cukup membeli sebatas kebutuhan pokok atau barang-barang yang betul diperlukan. Itupun tidak dibeli dengan berlebihan.

Nah, berikut ini tips dari times of India, apa saja kebutuhan pokok sehari-hari yang perlu disiapkan selama kondisi darurat pandemi corona Covid-19 ini, di antaranya:

  1. Beras

Mayoritas masyarakat kita mengonsumsi nasi.  Ya, beras menjadi salah satu kebutuhan utama yang harus tersedia di rumah. Namun sekali lagi, perhatikan seberapa  banyak beras yang harus dibeli. Bukan berarti kita membeli beras sampai berkarung-karung. Pastinya kita sudah bisa mengukur, dalam sebulan berapa banyak kebutuhan beras untuk keluarga. Nah, tinggal dihitung saja, misalnya stok beras kira-kira perlu mencukupi dalam waktu sekitar 2 bulan ke depan. Jadi paling tidak cukup membeli dua kali lipat dari biasanya. Tidak perlu berlebihan. Tidak perlu terlalu panik, ya!

Bila terlalu banyak membeli di luar kebutuhan, konon kualitas beras dan nilai gizinya bisa berkurang juga. Lebih baik, dana atau anggaran yang tersedia dialokasikan untuk membeli kebutuhan pokok yang penting lainnya.    

2. Sereal, Roti, dan  Telur

Sereal, roti dan telur, adalah bahan pangan yang dapat dikonsumsi dengan berbagai cara dan beragam kreasi. Selain itu, lengkapi juga dengan kebutuhan lain, seperti mentega, minyak goreng, atau bumbu masak yang memang dibutuhkan untuk proses mengolah masakan.

Jadi, tak perlu panic buying juga ya!  Cukup beli kebutuhan ini dalam jumlah dua kali lipat saja, untuk menjaga kesehatan tubuh selama pandemi corona. Sebagian bahan makanan ini pun bisa disimpan untuk beberapa waktu lalu. 

Selain itu, pangan dalam kemasan, misalnya makanan kaleng juga bisa merupakan solusi praktis saat kondisi darurat. Sama seperti tadi, cukup beli dua kali lipat makanan kaleng baik itu berisi ikan, buah dan sayuran.

3. Sayuran

Nah, beberapa jenis sayuran misalnya wortel, bawang, kentang, dan lainnya bisa bertahan untuk beberapa waktu lamanya bila disimpan. Sebagian jenis sayuran lainnya kurang dapat tahan lama. Pastikan disimpan dengan tepat agar ketika hendak diolah masih dalam kondisi yang baik.

4. Perlengkapan bersih-bersih

Selama melakukan isolasi atau karantina diri di rumah, tentu bukan berarti seharian berleha-laha. Beres-beres rumah tetap perlu dilakukan. Termasuk juga aktivitas kebersihan diri sehari-hari, misalnya mandi, gosok gigi, keramas dan sebagainya. Untuk itu, persiapkan juga perlengkapan bersih-bersih dan kebersihan diri. Di antaranya adalah sabun cuci piring, sabun pel, sabun cuci pakaian, sabun mandi, pasta gigi dan perlengkapan lainnya. Pastikan tidak membeli dalam jumlah berlebihan ya.

Sekali lagi , hindari panic buying, agar kesehatan mental kita tetap terjaga!

Foto : freepik.com

Agar Sehat Mental, Ini 5 Kegiatan Saat Local Lockdown Corona

Pasien wabah corona Covid-19 di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Meski sebagian di antaranya dinyatakan sembuh. Akan tetapi, tak sedikit pula yang merasa khawatir, cemas dan takut. Tentu itu wajar, sejauh tidak berupa perasaan yang berlebihan.

Nah, mengingat penyebaran pandemi ini terus meluas, beberapa daerah di Indonesia menerapkan local lockdown, dalam arti ‘tidak boleh’ ada yang masuk dan keluar, ke dan dari wilayah bersangkutan tanpa ada alasan yang darurat.

Selain itu, himbauan untuk tetap tidak menjalin interaksi sosial dalam kerumunan atau keramaian, menjaga jarak hingga 1 meter dengan orang lain. Karena itu,  pemerintah menerapkan aturan social dan physical distanding untuk memutus mata rantai penyebaran wabah corona Covid-19 ini.

Bahkan, pemerintah menetapkan juga kondisi darurat hingga akhir Mei 2020 ke depan. Maka kita diharapkan untuk tetap di rumah dan melakukan mayoritas kegiatan di rumah. Tak heran  bila perubahan rutinitas bisa menyebabkan perubahan kondisi atau kesehatan mental. Jangan khawatir,  berikut ini beberapa kegiatan di rumah selama penerapan local lockdown agar Anda tetap sehat secara mental :

1. Kurangi Berselancar di Medsos

 Berdiam di rumah jutru bagi sebagian orang membuat kesempatan bermedia sosial lebih banyak. Padahal, tak sedikit juga informasi yang tersebar di dunia maya itu benar adanya dan berita yang negatif. Bahkan, ada kabar yang pro-kontra dan sebagainya. Hal itu bisa membuat kecemasan. Karena itu, kurangi aktivitas memakai gadget demi menjaga kesehatan mental Anda. Pasalnya, emosi dapat menyebar atau menular dari satu orang ke orang lain.  

2. Tetapkan jadwal aktivitas yang menyenangkan

Buatkan jadwal harian untuk menjaga rutinitas Anda. Namun, tetapkan sesuatu berdasarkan yang ‘ingin’ Anda lakukan, daripada yang ‘harus’ Anda lakukan. Dengan begitu, Anda akan merasa senang menjalani hari demi hari. Rutinitas yang teratur juga membuat pola hidup Anda tetap sehat. Jam tidur, makan, istirahat dan lainnya dapat terjaga baik. Kesehatan mental Anda pun tidak terganggu.

3. Olahraga di dalam rumah

Meski banyak berdiam di rumah, tak berarti Anda tak melakukan apapun. Olahraga tetap dapat dilakukan meski di dalam rumah. Misalnya, yoga. Menurut riset, yoga dapat menangani kecemasan dan depresi dalam jangka panjang. Selain itu, yoga juga membantu membentuk fleksibilitas, kekuatan, dan pengaturan napas, serta mengurangi rasa sakit fisik. Plus, secara mental Anda akan tetap sehat.

4. Bermain asah otak

Lakukan permainan yang mengasah otak misalnya pasel, teka-teki silang atau Sudoku. Permainan kognitif seperti ini mengasah kemampuan mengingat, perhatian, dan nalar. Menurut sebuah studi 2019 dari para peneliti University of Exeter permainan ini juga melibatkan pemikiran logis, yang mencegah pikiran Anda termenung atau mengkhawatirkan hal lain.

5. Menggambar atau melukis
tak perlu jagoan seperti seorang pelukis. Cukup ambil pensil, spidol atau pensil warna. Corat-coret di atas kertas membiarkan pikiran Anda mengembara. Sebuah laporan yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts pada 2016 mengatakan bahwa 15 menit menggambar memiliki manfaat kesehatan emosional. Cobalah gambar abstrak, membuat karya seni tampak memusingkan hasilnya. Yang penting, Anda merasa senang mengekspresikan diri.

Tentunya ada banyak kegiatan alternatif lain yang bisa Anda lakukan di rumah untuk menjaga kesehatan mental. Yang jelas, yuk mulai coba lakukan sekarang juga!

Foto : freepik.com

Hoax, Kabar Bohong Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Dunia sedang gonjang-ganjing karena adanya virus corona Covid-19 yang merebak. Informasi pun berseliweran tiada henti terkait wabah ini. Sayangnya, beberapa kabar tentang virus corona yang menyebar melalui sosial media ternyata tidak jelas faktanya. Bahkan, boleh dibilang kabar bohong atau biasa kita sebut hoax.

Pihak berwajib, dalam hal ini kepolisian, sudah menemukan beberapa pengedar kabar hoax ini. Semoga ada tindakan yang bisa memberikan efek jera bagi mereka. Namun, isu-isu hoax tersebut begitu menyeruak hingga ke berbagai lapisan masyarakat seakan sulit dibendung.

Hingga saat ini memang penyebaran hoax isu kesehatan terbilang banyak beredar di masyarakat. Bahkan, berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informasi, hoax  terkait isu kesehatan berada diposisi ketiga, setelah isu hoax tentang politik dan pemerintahan. Jumlahnya sampai ratusan hoax.

Permasalahannya, isu tentang kesehatan terbilang sensitif sehingga masyarakat mudah percaya dan meyakini padahal tidak diketahui kebenarannya.  Ini yang bisa berdampak fatal.

Tak hanya itu, meyakini informasi hoax bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Menurut seorang psikiater forensic, Vasilis K. Pozios, MD., hoax bisa memicu perasaan marah bahkan depresi.

Pasalnya,  hoax atau informasi palsu itu memanipulasi opinik publik dan memancing respons emosional dari orang yang membaca atau menontonnya. Alhasil, bisa memicu perasaan marah, cemas, curiga, depresi bahkan post traumatic stress syndrome (PTSD).

Masalahnya, hoax atau kabar bohong ini begitu mudah tersebar di aplikasi pesan, media sosial dan situs-situs internet.  Orang dewasa, anak dan remaja tak terkecuali jadi korban kabar bohong ini. Bila tidak disaring  dengan baik, bisa memengaruhi  kesehatan mental.

Sebuah studi yang dilakukan Universitas di Pensilvania, dengan responden sebanyak 143 remaja diteliti terkait penggunaan media sosial. Hasilnya, mereka yang jarang menggunakan media sosial memiliki kesehatan mental yang lebih baik daripada yang sering menggunakan media sosial.

Mereka yang sering menggunakan media sosial juga menunjukkan gejala takut kehilangan, kesepian, cemas, depresi, kurang konsentrasi, kurang kepercayaan diri. Karena itu, aak-anak dan remaja harus diajarkan bagaimana menanggapi hoaks dengan baik. Yaitu, dengan membaca sebuah informasi terlebih dahulu dengan cermat tanpa langsung menyebarkannya.  Termasuk hoax yang bertebaran tentang isu wabah corona sekarang ini.

Kemudian, perhatikan juga situs yang menyebarkan berita tersebut, apakah terpercaya atau tidak. Pikirkan juga apakah berita tersebut berguna bagi masyarakat atau tidak, atau hanya mengujarkan kebencian antar-kelompok. Anak dan remaja juga harus diajarkan memilah berita yang positif dan negatif.

Selain itu, anak-anak juga harus dibatasi dalam menggunakan media sosial, dan lebih banyak aktif di dunia nyata. Itu karena manfaat yang akan diperoleh cukup banyak. Misalnya, anak dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan baik bersama teman sebaya, saudara, juga dengan Anda sebagai orang tua. Selain itu, membatasi anak dan remaja bermedia sosial juga mencegah agar hoaks tidak berdampak negatif pada kehidupan mereka.

Oleh karena itu, selalu awasi dan perhatikan informasi apa yang dibaca dan diterima oleh anak-anak Anda. Selain itu, batasi pula penggunaan media sosial mereka dalam satu hari. Jangan sampai anak dan remaja mengalami depresi dan stres karena kebiasaan membaca hoaks.

Foto : freepik.com

Cegah Covid-19, Ini 7 Cara Kendalikan Stres



Wabah virus corona Covid-19 yang merebak serentak di berbagai belahan dunia menyebabkan kepanikan massal. Tak dipungkuri banyak yang merasa cemas, khawatir bahkan takut dengan pandemic ini. Salah satu gangguan mental yang bisa terjadi karena peristiwa ini adalah stres.

Apa itu stres? Stres adalah perasaan emosi yang tertekan. Hal ini akan dihadapi setiap individu dalam setiap siklus kehidupan manusia. Stres merupakan suatu proses yang meliputi stimulasi, respons atas kejadian dan peristiwa, interpretasi individu yang menyebabkan timbulnya ketegangan di luar kemampuan seseorang untuk mengatasinya (Rice 1992)

 Sumber stres sendiri dapat bersifat personal yang berasal dari diri sendiri atau dari lingkungan. Baik dari lingkungan terdekat maupun lingkungan masyarakat.  

Kepala Bagian Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University, Dr Dwi Hastuti mengatakan, stres adalah ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, adanya hambatan-hambatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang.

Dr Dwi menambahkan, saat ini setiap individu mengalami sumber stres berupa tekanan yang berasal dari lingkungan, berasal dari perasaan cemas, takut, ketidakberdayaan dan ketidakmampuan berbuat atas adanya pandemik global yaitu “Covid 19”.

Untuk itu, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mengendalikan stres tersebut, yaitu:

Pertama, harus tetap berpikir jernih, tidak panik atas informasi apapun yang terkait dengan adanya penyakit ini. Alasan utamanya adalah bahwa kepanikan akan menyebabkan seseorang sulit mencari dan menemukan solusi atau merencanakan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalah. Kepanikan kadang akan menularkan kepanikan juga ke sekitarnya.

“Jadi disarankan untuk berpikir lebih dulu, cari informasi dari sumber berita yang dapat dipercaya dan akurat,” ujarnya.  

Kedua positive reframing adalah salah satu dimensi coping yang bertujuan untuk mengelola emosi dan mengubah cara berpikir menjadi lebih positif. Kadangkala mengurangi akses pada berita negatif, berita hoaks atau berita yang menakutkan akan membantu dalam membuat framing positif.  

Ketiga, merancang dan melakukan kegiatan yang dapat menyibukkan Anda secara positif dan berpikir positif. “Mungkin membuat daftar kegiatan yang selama ini tidak dapat dilakukan atau tertunda dilakukan. Merancang atau melakukan antisipasi atas risiko yang mungkin terjadi juga mungkin dapat disusun. Misalnya, menyiapkan daftar dan stok belanja pangan dan non pangan untuk beberapa waktu ke depan, atau  mengerjakan bersih-bersih kamar dan lain-lain,” tambahnya.

Keempat, membentuk emosi positif. Cobalah untuk tarik napas, relaksasi tubuh, berjemur dan berolahraga ringan sebisa mungkin. Hindari emosi negatif seperti buruk sangka, curiga dan menyebar informasi buruk yang justru akan memperparah situasi sekitar.  

Kelima, mencari dukungan dari lingkungan terdekat. Keluarga adalah yang paling dapat memberikan hal ini. Baik berupa dukungan keuangan, dukungan keamanan, dukungan emosi, simpati, rasa nyaman dan terhindar dari rasa takut sendirian, kesepian dan sebagainya.  

Keenam, mencari “instrumental support”. Misalnya mencari bantuan nasihat, bantuan atau informasi baik dari para ahli atau narasumber yang dapat dipercaya yang dapat membantu dalam menyelesaikan tekanan emosi yang dialami. Upayakan untuk tidak meminta bantuan kepada orang yang tidak dapat dipercaya, karena kerapkali akan menimbulkan masalah baru.  

Ketujuh, menerima sumber stres. Mengakui bahwa peristiwa pandemik atau apapun yang terjadi adalah takdir yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Bersikap menerima (acceptance) juga membentuk rasa kepasrahan, yang akan menimbulkan rasa “kecil” kita sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.  

“Kedekatan kita kepada Allah Yang Maha Esa akan menjadi sumber kekuatan utama di saat perasaan tak berdaya sebagai manusia muncul. Latihlah diri kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mintalah pertolongan-Nya untuk memberikan rasa pasrah dan ikhlas atas cobaan ini,” tandasnya.

Ketujuh langkah di atas adalah ikhtiar dan upaya yang dapat dilakukan setiap individu di saat menghadapi tekanan emosi dan stressor apapun yang dihadapi dalam kehidupan ini. Terlepas dari semua itu, maka upaya untuk mengatasi masalah stres akan kembali kepada diri kita masing-masing. Kedekatan kepada Tuhan adalah langkah paripurna dalam upaya mengendalikan stressor apapun yang dihadapi. (man)

Foto ilustrasi: freepik.com