Yuk, Kenali Minat dan Bakat Anak (2)

WASPADA OVERSTIMULASI

Memang, dengan mengetahui bakat si kecil, orangtua akan bisa lebih memahami bagaimana cara mengembangkan potensinya tersebut. Akan tetapi, hati-hati bahwa orangtua jangan sampai hanya terfokus pada pengembangan potensi anak pada satu bidang.

Anak itu ibaratkan kertas putih yang kosong, tergantung pada orangtua mau menuliskan apa pada kertas tersebut. Bila anak memang bagus di bidang matematika atau bermian piano, boleh diikutkan les di bidang itu. Akan tetapi, jangan lupa bidang-bidang lainnya yang perlu dicoba, misalnya berenang, basket dan lainnya. 

Waspadai pula risiko bila anak terlalu difokuskan pada satu bidang. Ia mendapat stimulasi yang terus-menerus sehingga cenderung overstimulasi. Bisa saja anak mengalami kelelahan. Selain bakatnya tak optimal karena terkesan dipaksa, bakat-bakat yang lainnya justru takkan muncul atau berkembang. Padahal, setiap anak bisa memiliki berbagai kecerdasan atau yang dikenal dengan multiple intelligence. Misalnya, kecerdasan bahasa, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan sebagainya. Jadi, kecerdasan tidak semata-mata terkait kognitif. 

Nah, bila anak mengalami overstimulasi yang hanya difokuskan pada bidang tertentu,  boleh jadi berdampak pada kejiwaannya atau mengalami stres. Anak justru merasa terbebani. Alhasil, bakatnya takkan berkembang optimal.

Karena itu, orangtua perlu memahami apakah ini keinginan atau obsesi orangtua atau memang keinginan anak sendiri. Mungkin orangtua memiliki target tertentu pada anak, misalnya berharap meraih juara olimpiade sains. Maka sebaiknya hindari menuntut anak untuk meraih sesuatu atau menjadi seseorang yang sebenarnya obsesi orangtua yang tak terwujud.  Sebaiknya introspeksi diri dan membayangkan bagaimana bila posisinya saat ini menjadi anak yang dituntut keras mencapai/meraih sesuatu dengan cara berlebihan.

Mungkin anak tak melakukan protes secara langsung ketika ia merasa tertekan lantaran overstimulasi. Mungkin ia akan memendam rasa tak suka dengan kegiatannya, atau terlihat malas pergi les, enggan mengulang pelajaran, atau mengeluh sakit perut dan sebagainya. Pada anak yang cenderung introvert, boleh jadi yang muncul adalah gangguan perilaku seperti jadi sering murung, mengalami gangguan tidur dan sebagainya.

Maka, dalam mengenalkan suatu kegiatan untuk mengasah potensi anak, orangtua harus memerhatikan rasa nyaman. Apakah ia nyaman atau tidak dengan kegiatan atau les yang dijalaninya? Jadi, prinsip dasar dalam memberikan stimulasi adalah pastikan ana dalam suasana nyaman dan menyenangkan.

Mungkin sesekali anak merasa bosan. Misal, baru mengikuti beberapa kali latihan, lalu ia mengeluh bosan. Coba berikan dorongan, semangat dan kesempatan. Boleh jadi, ia masih mengalami proses adaptasi dengan lingkungan. Bila perlu, kita antar dan tunggui ia latihan. Seiring waktu mungkin ia mulai menyenangi kegiatannya.

Akan tetapi, bila terus-menerus ia merasa bosan atau tak senang, kita tak perlu memaksakan. Ingat kembali bahwa apakah ini obsesi orangtua atau keinginan anak. Bila anak sudah lebih besar, coba tanyakan. “Kegiatan apa yang kamu sukai? Kenapa suka? Kenapa kegiatan yang itu tak suka?” Minta ia menceritakan kegiatan apa yang menurutnya menyenangkan, yang membuat ia merasa nyaman dan apa pilihannya yang ingin serius digeluti atau ditekuni.

BAKAT ITU KETURUNAN?

Memang ada yang mengatakan bakat itu ada faktor keturunan atau genetik. Akan tetapi, tak diketahui secara pasti, seberapa banyak persentase faktor genetik memengaruhi bakat seseorang? Justru faktor yang memengaruhi berkembangnya bakat adalah lingkungan dan kesempatan yang diperoleh. Boleh jadi, misalnya anak terlahir dari keluarga atau orangtua pelukis. Akan tetapi, bila ia tak mendapat kesempatan yang luas untuk latiha melukis, mungkin kelak ia tak menjadi pelukis seperti keluarganya. Atau, bisa saja anak terlahir dari orangtua yang tak berbakat bermain piano. Namun, anak ini bisa menjadi pianis karena dukungan lingkungan atau keluarga. Sejak kecil ia menyukai bidang tersebut dan didukung orangtuanya dengan perasaan nyaman dan tanpa paksaan sehingga bakatnya berkembang maksimal.

PERLUKAH TES BAKAT?

Anak boleh-boleh saja diikutkan tes bakat. Namun, sebaiknya tidak terlalu dini. Kenapa? Karena dikhawatirkan orangtua jadi terfokus menstimulasi pada bidang tertentu yang menjadi hasil tes bakat itu.  Jadi, seperti menggunakan ‘kacamata kuda’ orangtua tidak mencoba memberikan kesempatan dan stimulasi bidang lain. Alhasil, kemampuan atau potensi anak tidak berkembang.

Kecuali, tes bakat dapat dilakukan pada anak misalnya saat usia SMP atau SMA. Pada saat itu, kita ingin melihat potensi atau jurusan studi mana yang tepat untuk si buah hati.

Yuk, Kenali Minat dan Bakat Anak (1)

Setiap orangtua tentu ingin buah hatinya mencapai kesuksesan di kemudian hari. Nah, salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan seseorang adalah bakatnya yang berkembang optimal. 

Ya, setiap anak masing-masing memiliki bakat atau talenta berbeda-beda. Nah, bakat terpendam yang dimiliki anak ini perlu kita gali, diasah dan ditingkatkan sehingga dapat berkembang maksimal serta memengaruhi keberhasilan hidupnya kelak.

Apa itu bakat? Seorang anak dikatakan berbakat pada suatu bidang ketika kemampuannya di bidang tersebut tampak bagus sekali atau menonjol.

Nah, perlu kita tahu, bakat berbeda dengan minat. Minat adalah keinginan untuk melakukan atau menekuni sesuatu aktivitas. Akan tetapi, suatu minat belum tentu berarti suatu bakat. Jadi, ketika anak memiliki minat terhdap suatu bidang, belum tentu ia berbakat dalam bidang tersebut.

BISA BERUBAH-UBAH

Pastinya setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda, misalnya ada yang berpotensi di bidang seni seperti menyanyi, bermain musik, melukis dan sebagainya. Lalu, ada juga anak yang berbakat di bidang akademis dan sebagainya.

Namun perlu kita tahu, seperti halnya minat, bakat anak juga bisa berubah-ubah. Boleh jadi pada suatu waktu, bakat anak yang sebenarnya adalah bidang yang sebelumnya belum ditekuni. Masalahnya, terkadang orangtua merasa tak sabar ingin segera mengetahui bakat anak sejak usia dini. Alhasil, jangan heran bila pada usia balita, tak sedikit anak yang diikutkan tes bakat.

Sebenarnya boleh-boleh saja bila orangtua ingin mengetahui bakat anak sejak dini. Namun, seperti sudah disinggung tadi bahwa bakat juga masih bisa berubah bahkan bertambah. Misal, kita sudah mengetahui bahwa si kecil memiliki talenta bermain piano di usia 5 tahun. Ia jelas-jelas memperlihatkan kemampuannya di bidang itu. Akan tetapi, ternyata pada usia remaja baru ditemukan bakatnya yang sebenarnya atau muncul talenta lainnya. Kenapa baru muncul di usia remaja? Mungkin selama ini orangtua kurang atau tidak mengenalkan dan membei kesempatan pada anak untuk mencoba hal-hal lain. Ketika di usia remaja ia ikut suatu kegiatan sekolah ternyata baru terlihat talentanya yang lain. Bakatnya selama ini kurang tergali karena kurang mendapat kesempatan utnuk mengembangkan atau memperlihatkan potensi unggulan lainnya.

Nah, problem lainnya, ketika orangtua sudah mengetahui bakat anaknya, misalnya ia punya talenta menyanyi, kegiatan hanya terfokus pada bidang tersebut.

Padahal, sekali lagi, orangtua sebaiknya memperkenalkan sebanyak mungkin kesempatan, pengetahuan, dan keterampilan lainnya pada anak. Perlu kita ingat bahwa anak sesungguhnya multitalenta. Anak tidak hanya memiliki satu bakat, akan tetapi ada potensi-potensi lain yang perlu juga dikembangkan. Nah, agar potensi talenta lain muncul, orangtua perlu mengenalkan beragam aktivitas dan kesempatan, serta kegiatan/keterampilan baru pada si kecil.

Misalnya, ketika kita mendeteksi bahwa anak kemungkinan berbakat di bidang menyanyi, lalu ia diikutkan les vokal. Orangtua memang perlu memberikan stimulasi pada anak sesuai potensinya. Akan tetapi, jangan lupa bahwa ada bermacam keterampilan lain yang meski dikenalkan pada sang buah hati. Sebagai contoh, bidang olah raga. Mungkin anak memiliki bakat olah raga sepak bola, basket, bulu tangkis dan sebagainya.

Kiat Mengasah Kreativitas Si Kecil (3)

Usia 3-6 tahun

Pada usia ini, anak memiliki kemampuan bahasa lebih baik. Anak banyak bertanya dan berbicara. Mereka juga senang bermain dengan anak lain dan tidak senang menerima kekalahan. Anak sudah dapat bermain permainan yang membutuhkan aturan khusus seperti bermain bergiliran. Anak juga mulai menyukai permainan di alam karena mereka memiliki kemampuan motor kasar yang lebih baik.

Stimulasi:

Berbagai mainan tersedia untuk anak usia ini, seperti puzzle, kubus, lego, dan permainan lain yang meningkatkan keterampilan membuat bentuk khusus. Selain itu, board games seperti permainan ular tangga, halma, atau kartu dapat menjadi sarana anak bermain dengan aturan khusus dan giliran. Penggunaan warna dengan krayon atau pensil warna juga dapat melatih kemampuan motor halusnya. Di samping itu, permainan outdoor dengan menggunakan alat atau mainan yang lebih bervariasi juga diminati seperti sepeda, bola, dan lainnya.

Permainan pura seperti set konstruksi, set transportasi atau boneka akan merangsang imajinasinya. Proses kreatif anak pun akan terbantu. Dalam proses bermain, anak membangun proses imajinasi kreatifnya. Misal, pada saat anak melakukan role playing, dia akan belajar tentang sebuah peran. Bagaimana harus bersikap dan bagaimana menghadapi konflik dalam tingkat yang sederhana.

Ada kalanya anak melakukan proses itu sendiri atau dengan teman fantasi maupun boneka. Bisa juga dengan mengadopsi tokoh-tokoh yang dia lihat di sekelilingnya. Mainan merupakan alat bantu belajar, selain juga alat bantu untuk membangun imajinasi dan fantasi kreatif anak.
Usia sekolah

Permainan yang cocok untuk anak usia sekolah adalah permainan yang merangsang kemampuan peran, ketangkasan, dan kreativitas pada anak.

Stimulasi:

Permainan board games dapat yang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi seperti monopoli, scrabble, catur dan lainnya. Selain itu berbagai jenis mainan outdoor juga cocok untuk mereka seperti sepeda, skateboard, dan lainnya.

Berbagai permainan tradisional juga bermanfaat bagi anak. Permainan tradisional seperti engklek, layangan, ular naga dan lompat tali, serta permainan indoor tradisional seperti congklak, bola bekel dan lainnya dapat menjadi pilihan bagi orangtua.

Mari optimalkan kemampuan kreativitas anak dengan kegiatan yang menstimulasi perkembangan otaknya juga nutrisi yang terpenuhi dengan baik,

Perhatikan Hal Penting

Dalam mengasah kreativitas anak, ada berbagai hal yang perlu diperhatikan orangtua, yaitu:

  • Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu mendengarkan dan menghargai pendapat anak, serta mendorongnya berani mengungkapkannya. Misal, Anda perlu merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian di sekeliling, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Biarkan si kecil bermain dengan cara dan gayanya sendiri dan hindari membatasinya untuk bereksplorasi. Berikan kebebasan dan dukung si kecil untuk mencoba berbagai cara dan ide dalam melakukan kegiatannya. Aktivitasnyalah yang menjadi perhatian utama, bukan hasil akhirnya.
  • Berinvestasi dalam mainan-mainan kreatif anak. Mainan-mainan anak seperti balok kayu susun, lego dan sejenisnya efektif membentuk kreativitas si kecil di rumah. Mainan ini juga bisa digunakan bertahun-tahun dan bisa diwariskan turun-temurun.
  • Biarkan anak melihat orang tuanya kreatif. Anak belajar lebih banyak dari apa yang orangtua lakukan dan katakan. Jika Ibu memberi contoh bagaimana cara untuk mengeksplorasi kreativitas diri sendiri, maka anak-anak akan menerapkan contoh itu. Biarkan anak melihat Ibu mencoba sesuatu yang baru dan bereksperimen sampai berhasil. Biarkan ia melihat Ibu membuat kesalahan dan belajar menikmati proses kreatif orangtuanya.
  • Berikan umpan balik yang menggembirakan. Kreasi anak tentu tidak selalu bagus, tapi jika ia telah berusaha membuat sesuatu, lalu bangga akan hal itu, maka usahanya harus dihargai. Pujilah kreativitas anak. Selalu temukan sesuatu yang positif untuk dikatakan. Dukungan adalah guru yang jauh lebih baik daripada kritik.

Membina lingkungan kreatif di rumah adalah salah satu cara untuk menanamkan pada anak keterampilan dan pola pikir kreatif di masa depan. Selamat mencoba, Bu!

foto : freepik.com

Kiat Mengasah Kreativitas Si Kecil (2)

Dunia anak adalah dunia bermain. Menurut sebuah riset, anak-anak dalam usia bermain yang diberi waktu lebih lama untuk bermain di luar rumah dan ruang untuk berekspresi, ternyata jauh lebih pandai dan lebih kreatif dibanding anak yang hanya belajar formal di sekolah atau di tempat kursus.

Ya, bermain merupakan salah satu cara mengasah kreativitas anak. Kreativitas anak dapat dilakukan melalui berbagai permainan di rumah, selain juga orangtua harus mendampingi bahkan mencontohkan langsung kepada anak.

Guna membangun proses kreatif anak, orang tua dapat membantu dengan mengajak anak melakukan berbagai kegiatan bermain yang menarik dan kreatif menggunakan sarana yang sesuai. Ada beragam manfaat yang dipetik bila kita mengajak si kecil bermain:

-Berbagai aktivitas bermain kreatif membantu si kecil mengeksplorasi imajinasi dan pancaindra.

-Bermain kreatif bisa menjadi cara si kecil mengekspresikan perasaanya yang mungkin masih sulit iekspresiskan secara verbal

-Yanga pasti, permainan atau bermain penting mengasah kreativitas anak. Mari dukung buah hati untuk mengekspolorasi perkembangan daya kreatifnya.

Adapun stimulasi mengasah kreativitas ini sebaiknya disesuaikan dengan tahapan atau perkembangan usia si kecil. Berikut beberapa cara mengasah kreativitas dengan aktivitas bermain yang menyenangkan:

Usia 1-2 tahun

Pada usia 1 tahun biasanya anak sudah dapat berdiri dan mulai berjalan. Pada usia ini anak juga mulai belajar naik tangga dan mulai mengucapkan kata-kata yang bermakna, serta bermain dengan anak lain.

Stimulasi:

Permainan yang cocok untuk usia ini antara lain buku cerita bergambar, musik dan lagu, alat gambar yang aman seperi crayon, kertas besar, dan pensil warna. Permainan pura-pura juga menarik untuk usia ini seperti telepon, boneka dan strollerdress-up accessories, binatang dari plastik dan juga puzzle atau peg boards.

Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan si kecil. Misalnya, ketika mengajak berjalan-jalan, di dalam kendaraan, atau kapan dan di manapun Anda dapat berinteraksi dengan anak Anda.

Usia 2-3 tahun

Pada usia 2 tahun, anak sudah berkembang kemampuan bahasanya. Ia sudah dapat merangkai 2 kata, menyampaikan keinginannya secara verbal sederhana. Secara fisik anak juga mulai menyukai kegiatan fisik yang lebih beragam seperti melompat, memanjat, dan bergelantungan. Kemampuan motor halus juga mulai lebih baik.

Stimulasi:

Berbagai permainan dapat diberikan diberikan pada si kecil, misalnya puzzle, lego, yang memiliki berbagai bentuk dan warna. Set konstruksi, alat transport, furniture, boneka dan asesoris serta permainan pasir atau air juga menarik bagi anak.

Menggambar dengan jari, gambar berwarna, menyobek atau melipat kertas adalah aktivitas yang menyenangkan untuk si Kecil. Aktivitas ini membantu mereka:
• Terbiasa dengan tekstur baru.
• Belajar menggunakan warna dan kertas
• Melatih berbagai kemampuan motoriknya
• Mengekspresikan pikiran, ide, dan pengalaman si Kecil lewat karyanya.

Dengan memberikan berbagai alat yang diperlukan seperti pensil, kertas, dan cat, serta ikut berpartisipasi dalam proses pembuatan karyanya bisa membantu si Kecil dalam bereskplorasi.

Musik

  • Lagu dan musik adalah bentuk ekspresi diri yang baik. Bernyanyi bisa melatih si Kecil dalam menggunakan kata-kata, dan membantunya mengingat kata-kata baru.
    • Si Kecil juga bisa menambahkan gerakan-gerakan menarik saat Ibu bernyanyi bersamanya dan menambahkan kata-kata yang mereka ingat.
    • Berikan variasi lagu untuk membantu si Kecil berekspresi, dan ajak si Kecil ikut serta dalam menyebutkan beberapa kata dalam lagu tersebut.

Menari

Dengan musik, si Kecil akan mulai menggerakkan tubuhnya dan menari tanpa perlu Ibu minta. Si Kecil bisa mengeksplorasi imajinasi, pikiran dan respons mereka terhadap musik dan lingkungan sekitar.

Tidak hanya itu, si Kecil bisa melatih kemampuan motoriknya, termasuk koordinasi mata dan tangannya. Ibu bisa membantu si Kecil dengan mengajak dia untuk berjalan, meloncat, dan bergoyang untuk merespon musik atau kata-kata tertentu. (hil)

Foto: freepik.com

Kiat Mengasah Kreativitas Si Kecil (1)

Setiap orangtua tentu perlu mempersiapkan buah hatinya untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Nah, salah satu soft skill yang sangat berguna sebagai bekal untuk kehidupan di masa mendatang adalah kreativitas. Kemampuan kreataif inilah yang kelak akan memengaruhi keberhasilan atau kesuksesan anak Anda di kemudian hari.

Kenapa kreativitas itu penting?  Kreativitas tidak hanya membantu anak dalam mengasah kemampuan psikomotorik, akan tetapi juga menstimulasi kemampuan memecahkan masalah. Seseorang yang kreatif akan memiliki banyak cara untuk menyelesaikan problem yang dihadapinya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah gagal dan tak mudah menyerah. Ia juga terbiasa untuk mencari tahu jalan mana yang efektif, efisien, dan cocok ketika dihadapkan pada masalah. Ya, reativitas yang dimilikinya memunculkan banyak ide segar sebagai alternatif solusi bagi persoalan yang dihadapi. Ia takkan kehabisan akal. Bila mengalami kegagalan, ia akan mencoba cara lainnya.

Nah, bila kreativitas ini terasah dalam diri anak sejak kecil, justru akan menjadikannya sebagai pribadi yang optimis, selalu positif melihat kegagalan dan ia selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah dengan cara original yang tak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya.

Saat dewasa nanti, anak Anda akan menjadi sosok yang lebih berani dan siap menjawab berbagai tantangan. Soalnya, ia terbiasa melihat setiap masalah yang dihadapinya sebagai tantangan dan selalu tergerak mencari banyak alternatif cara ketika setiap kali menghadapi masalah.

Pentingnya Stimulasi Sejak Dini

Menurut beberapa pakar Psikologi, kemampuan kreativitas merupakan ciri kepribadian yang menetap pada lima tahun pertama dari kehidupan. Sigmund Freud ( 1856-1939) adalah tokoh utama yang menganut pandangan ini.

Pada dasarnya, semua manusia terlahir dengan bakat untuk kreatif. Masalahnya, apakah bakat tersebut diasah atau tidak. Nah, proses kreatif ini tentunya perlu diasah sejak dini. Seperti kita tahu, masa usia 1-5 tahun adalah masa eksplorasi dimana orangtua harus mendukung tahap penting ini, salah satunya mengajarkan kreativitas.

Masa anak-anak merupakan usia untuk belajar, menjelajah, bertanya, bermain, berkreasi, dan belajar keterampilan sosial dan sebagainya.  Tugas orangtua adalah senantiasa memberikan stimulasi bagi sang anak sejak dini guna membantu mengasah kreativitasnya.

Perlu kita tahu, sel-sel otak dibentuk sejak janin berusia 3-4 bulan. Lalu, mulai usia kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antarsel sehingga membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Setelah lahir sampai umur 3 tahun, jumlah sel bertambah dengan cepat mencapai miliaran tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut.

Nah, kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel otak tersebut ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh orangtua. Semakin bervariasi rangsangan yang diterima maka semakin kompleks hubungan antar sel otak. Semakin sering dan teratur stimulasi yang diterima, maka semakin kuat hubungan antar sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari.

Oleh karena itu, jika kita menginginkan anak yang kreatif maka harus dilakukan stimulasi setiap hari pada semua sistem indera (pendengaran, penglihatan, perabaan, penciuman, pengecapan), gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, dan lainya. Tentunya dengan cara stimulasi yang menyenangkan, dengan suasana bermain dan kasih sayang. (hil)

Freepik.com

Yuk, Kenali Minat dan Bakat Anak (2)

Memang, dengan mengetahui bakat si kecil, orangtua akan bisa lebih memahami bagaimana cara mengembangkan potensinya tersebut. Akan tetapi, hati-hati bahwa orangtua jangan sampai hanya terfokus pada pengembangan potensi anak pada satu bidang.

Anak itu ibaratkan kertas putih yang kosong, tergantung pada orangtua mau menuliskan apa pada kertas tersebut. Bila anak memang bagus di bidang matematika atau bermian piano, boleh diikutkan les di bidang itu. Akan tetapi, jangan lupa bidang-bidang lainnya yang perlu dicoba, misalnya berenang, basket dan lainnya.

Waspadai pula risiko bila anak terlalu difokuskan pada satu bidang. Ia mendapat stimulasi yang terus-menerus sehingga cenderung overstimulasi. Bisa saja anak mengalami kelelahan. Selain bakatnya tak optimal karena terkesan dipaksa, bakat-bakat yang lainnya justru takkan muncul atau berkembang. Padahal, setiap anak bisa memiliki berbagai kecerdasan atau yang dikenal dengan multiple intelligence. Misalnya, kecerdasan bahasa, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan sebagainya. Jadi, kecerdasan tidak semata-mata terkait kognitif.

Nah, bila anak mengalami overstimulasi yang hanya difokuskan pada bidang tertentu,  boleh jadi berdampak pada kejiwaannya atau mengalami stres. Anak justru merasa terbebani. Alhasil, bakatnya takkan berkembang optimal.

Karena itu, orangtua perlu memahami apakah ini keinginan atau obsesi orangtua atau memang keinginan anak sendiri. Mungkin orangtua memiliki target tertentu pada anak, misalnya berharap meraih juara olimpiade sains. Maka sebaiknya hindari menuntut anak untuk meraih sesuatu atau menjadi seseorang yang sebenarnya obsesi orangtua yang tak terwujud.  Sebaiknya introspeksi diri dan membayangkan bagaimana bila posisinya saat ini menjadi anak yang dituntut keras mencapai/meraih sesuatu dengan cara berlebihan.

Mungkin anak tak melakukan protes secara langsung ketika ia merasa tertekan lantaran overstimulasi. Mungkin ia akan memendam rasa tak suka dengan kegiatannya, atau terlihat malas pergi les, enggan mengulang pelajaran, atau mengeluh sakit perut dan sebagainya. Pada anak yang cenderung introvert, boleh jadi yang muncul adalah gangguan perilaku seperti jadi sering murung, mengalami gangguan tidur dan sebagainya.

Maka, dalam mengenalkan suatu kegiatan untuk mengasah potensi anak, orangtua harus memerhatikan rasa nyaman. Apakah ia nyaman atau tidak dengan kegiatan atau les yang dijalaninya? Jadi, prinsip dasar dalam memberikan stimulasi adalah pastikan ana dalam suasana nyaman dan menyenangkan.

Mungkin sesekali anak merasa bosan. Misal, baru mengikuti beberapa kali latihan, lalu ia mengeluh bosan. Coba berikan dorongan, semangat dan kesempatan. Boleh jadi, ia masih mengalami proses adaptasi dengan lingkungan. Bila perlu, kita antar dan tunggui ia latihan. Seiring waktu mungkin ia mulai menyenangi kegiatannya.

Akan tetapi, bila terus-menerus ia merasa bosan atau tak senang, kita tak perlu memaksakan. Ingat kembali bahwa apakah ini obsesi orangtua atau keinginan anak. Bila anak sudah lebih besar, coba tanyakan. “Kegiatan apa yang kamu sukai? Kenapa suka? Kenapa kegiatan yang itu tak suka?” Minta ia menceritakan kegiatan apa yang menurutnya menyenangkan, yang membuat ia merasa nyaman dan apa pilihannya yang ingin serius digeluti atau ditekuni.

BAKAT ITU KETURUNAN?

Memang ada yang mengatakan bakat itu ada faktor keturunan atau genetik. Akan tetapi, tak diketahui secara pasti, seberapa banyak persentase faktor genetik memengaruhi bakat seseorang? Justru faktor yang memengaruhi berkembangnya bakat adalah lingkungan dan kesempatan yang diperoleh. Boleh jadi, misalnya anak terlahir dari keluarga atau orangtua pelukis. Akan tetapi, bila ia tak mendapat kesempatan yang luas untuk latiha melukis, mungkin kelak ia tak menjadi pelukis seperti keluarganya. Atau, bisa saja anak terlahir dari orangtua yang tak berbakat bermain piano. Namun, anak ini bisa menjadi pianis karena dukungan lingkungan atau keluarga. Sejak kecil ia menyukai bidang tersebut dan didukung orangtuanya dengan perasaan nyaman dan tanpa paksaan sehingga bakatnya berkembang maksimal.

PERLUKAH TES BAKAT?

Anak boleh-boleh saja diikutkan tes bakat. Namun, sebaiknya tidak terlalu dini. Kenapa? Karena dikhawatirkan orangtua jadi terfokus menstimulasi pada bidang tertentu yang menjadi hasil tes bakat itu.  Jadi, seperti menggunakan ‘kacamata kuda’ orangtua tidak mencoba memberikan kesempatan dan stimulasi bidang lain. Alhasil, kemampuan atau potensi anak tidak berkembang.

Kecuali, tes bakat dapat dilakukan pada anak misalnya saat usia SMP atau SMA. Pada saat itu, kita ingin melihat potensi atau jurusan studi mana yang tepat untuk si buah hati.

(hil)

Foto: freepik.com

Yuk, Kenali Minat dan Bakat Anak (1)

Setiap orangtua tentu ingin buah hatinya mencapai kesuksesan di kemudian hari. Nah, salah satu faktor yang turut menentukan keberhasilan seseorang adalah bakatnya yang berkembang optimal.

Ya, setiap anak masing-masing memiliki bakat atau talenta berbeda-beda. Nah, bakat terpendam yang dimiliki anak ini perlu kita gali, diasah dan ditingkatkan sehingga dapat berkembang maksimal serta memengaruhi keberhasilan hidupnya kelak.

Apa itu bakat? Seorang anak dikatakan berbakat pada suatu bidang ketika kemampuannya di bidang tersebut tampak bagus sekali atau menonjol.

Nah, perlu kita tahu, bakat berbeda dengan minat. Minat adalah keinginan untuk melakukan atau menekuni sesuatu aktivitas. Akan tetapi, suatu minat belum tentu berarti suatu bakat. Jadi, ketika anak memiliki minat terhdap suatu bidang, belum tentu ia berbakat dalam bidang tersebut.

BISA BERUBAH-UBAH

Pastinya setiap anak memiliki bakat yang berbeda-beda, misalnya ada yang berpotensi di bidang seni seperti menyanyi, bermain musik, melukis dan sebagainya. Lalu, ada juga anak yang berbakat di bidang akademis dan sebagainya.

Namun perlu kita tahu, seperti halnya minat, bakat anak juga bisa berubah-ubah. Boleh jadi pada suatu waktu, bakat anak yang sebenarnya adalah bidang yang sebelumnya belum ditekuni. Masalahnya, terkadang orangtua merasa tak sabar ingin segera mengetahui bakat anak sejak usia dini. Alhasil, jangan heran bila pada usia balita, tak sedikit anak yang diikutkan tes bakat.

Sebenarnya boleh-boleh saja bila orangtua ingin mengetahui bakat anak sejak dini. Namun, seperti sudah disinggung tadi bahwa bakat juga masih bisa berubah bahkan bertambah. Misal, kita sudah mengetahui bahwa si kecil memiliki talenta bermain piano di usia 5 tahun. Ia jelas-jelas memperlihatkan kemampuannya di bidang itu. Akan tetapi, ternyata pada usia remaja baru ditemukan bakatnya yang sebenarnya atau muncul talenta lainnya. Kenapa baru muncul di usia remaja? Mungkin selama ini orangtua kurang atau tidak mengenalkan dan membei kesempatan pada anak untuk mencoba hal-hal lain. Ketika di usia remaja ia ikut suatu kegiatan sekolah ternyata baru terlihat talentanya yang lain. Bakatnya selama ini kurang tergali karena kurang mendapat kesempatan utnuk mengembangkan atau memperlihatkan potensi unggulan lainnya.

Nah, problem lainnya, ketika orangtua sudah mengetahui bakat anaknya, misalnya ia punya talenta menyanyi, kegiatan hanya terfokus pada bidang tersebut.

Padahal, sekali lagi, orangtua sebaiknya memperkenalkan sebanyak mungkin kesempatan, pengetahuan, dan keterampilan lainnya pada anak. Perlu kita ingat bahwa anak sesungguhnya multitalenta. Anak tidak hanya memiliki satu bakat, akan tetapi ada potensi-potensi lain yang perlu juga dikembangkan. Nah, agar potensi talenta lain muncul, orangtua perlu mengenalkan beragam aktivitas dan kesempatan, serta kegiatan/keterampilan baru pada si kecil.

Misalnya, ketika kita mendeteksi bahwa anak kemungkinan berbakat di bidang menyanyi, lalu ia diikutkan les vokal. Orangtua memang perlu memberikan stimulasi pada anak sesuai potensinya. Akan tetapi, jangan lupa bahwa ada bermacam keterampilan lain yang meski dikenalkan pada sang buah hati. Sebagai contoh, bidang olah raga. Mungkin anak memiliki bakat olah raga sepak bola, basket, bulu tangkis dan sebagainya.