Asah kecerdasan Si Kecil (3)

Stimulasi dengan Kasih Sayang

Penting bagi orangtua untuk menciptakan anak yang mudah berempati dengan lingkungannya, sayang dengan sesama, baik teman atau saudara, dan sebagainya. Karena itu, perlu kita  ciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang pada si kecil. Pola asuh dan lingkungan yang penuh kasih sayang akan menjadi bekal terbaik bagi perkembangan emosional anak. Misalnya, orangtua tidak encela, memberi cap, menyamaratakan, dan menganggap si kecil sebagai objek.

Berikan kesempatan kepada anak untuk bersosialisasi seluas-luasnya, karena akan mengasah otak serta memperkaya pengalaman emosionalnya. Jika ia masih sungkan untuk berbaur, lakukanlah latihan bersama anak ketimbang memaksanya. Misalnya, dengan cara berpura-pura melakukan permainan dan menjadi teman barunya.

Selain itu, di rumah juga perlu menerapkan disiplin dan mengajarkan sikap tanggung jawab pada hal-hal kecil.  Misal, membereskan mainannya, kalau menumpahkan sesuatu juga mengambil lap. Membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Hal-hal kecil seperti ini jadi modal untuk hal lebih besar ke depannya.

Nah, berikut tips bagi orangtua untuk mengembangkan kecerdasan anak sejak dini:

  1. Pastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi
  2. Jeli pada potensi dan bakat anak dengan memberinya berbagai rangsangan melalui kegiatan yang bervariasi dan menyuguhkan sarana atau prasarana yang mendukung.
  3. Disiplin melatih potensi kecerdasan anak
  4. Memberi model perilaku yang tepat dan menunjukkan minat pada kegiatan anak
  5. Menciptakan hubungan yang penuh kasih sayang dengan tidak membandingkan

Potensi kecerdasan hanya akan terpendam bila tidak dijadikan kemampuan melalui serangkaian stimulasi dan tak akan menjadi prestasi tanpa latihan dan disiplin. Kembangkan pola asah asih dan asuh, agar buah hati Anda tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Seseorang yang mencapai kesuksesan atau keberhasilan tidak hanya cukup dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga perlu kecerdasan lainnya.

Boks:

APA ITU IQ?

Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang. IQ merupakan kecerdasan otak untuk menerima, menyimpan, dan mengolah informasi menjadi fakta.

Tes IQ adalah sebuah tolok ukur. Secara umum tes IQ hanya terbatas sebagai alat untuk mengukur kemampuan verbal, logik matematika, dan spatial, yaitu sejumlah kemampuan yang dikembangkan di dalam lingkup akademis. Hasil tes digambarkan dalam bentuk skor atau kategori skor.

Sebagai alat untuk mengukur potensi kecerdasan akademis, IQ tepat digunakan untuk meramalkan kesuksesan seorang anak di bidang akademis kelak.  Misal, anak apat diukur sejumlah potensi akademisnya sehingga dapat ditentukan apakah ia siap atau tidak untuk masuk sekolah.

Mengasah kecerdasan Si Kecil (2)

Pahami tumbuh kembang anak

Mewujudkan pribadi generasi yang unggul dan cerdas di masa depan memang tidak bisa instan. Salah satu yang perlu orangtua pahami adalah mengenai tumbuh kembang anak.

Ya, untuk mengetahui kecerdasan  si kecil, rangtua perlu memahami perkembangan yang normal sehingga dapat dijadikan patokan atau ukuran dalam menentukan apakah seorang anak sudah mampu mencapai tahap perkembangan seperti anak seusianya atau belum.

Tentunya kecerdasan setiap tahapan usia berbeda. Misal, pada bayi ranah kecerdasan masih di seputar perkembangan kemampuan motor dan bahasa. Sementara pada usia balita, kemampuan ini berkembang menjadi kemampuan motorik kasar, motorik halus, bahasa, hingga kemampuan personal, dan sosial.

Pemahaman akan setiap tahapan tumbuh kembang anak akan menuntun orangtua mengetahui nutrisi terbaik dan stimulasi yang harus diberikan sesuai perkembangan usia si kecil.

Perhatikan Gizi Anak

Sirkuit jaringan otak terbentuk sejak di dalam kandungan dan berkembang pesat pada tahun-tahun pertama setelah ia dilahirkan.

Oleh sebab itu sejak kehamilan, seorang wanita penting memenuhi kebutuhan zat gizi untuk calon bayi yang dikandungnya dan terus berlanjut sampai anak dilahirkan.

Nah, ketika anak berusia 2 tahun, sirkuit otak sudah terbentuk sekitar 80 persen dan mencapai 90-95 persen ketika ia berusia 6 tahun. Dengan demikian, 6 tahun awal merupakan periode yang sangat penting bagi pembentukan sirkuit otak si kecil.

Selama masa tersebut, nutrisi dan stimulasi otak menjadi hal yang amat penting untuk diberikan kepada si buah hati karena ini merupakan masa terbaik untuk segala pembentukan kecerdasan si kecil.

Dengan pola makan bergizi seimbang, bayi akan tumbuh dan berkembang optimal, termasuk kecerdasannya. Jika orangtua tidak memperhatikan periode kritis ini, kegagalan tumbuh kembang akan terjadi dan berlangsung permanen, yang akan terbawa terus hingga dewasa.

Nah, kita dapat mengoptimalkannya dengan mengoptimalkan faktor kesehatan anak, melalui pemberian nutrisi tepat sejak janin di dalam kandungan hingga 5 tahun pertama kehidupannya (golden age), karena nutrisi berperan 30-40% dalam menentukan kecerdasan anak

Jangan lupa, nutrisi yang seimbang dan bergizi agar tumbuh kembangnya semakin optimal. Salah satu zat yang dibutuhkan untuk perkembangan anak adalah makanan yang mengandung zat besi, seperti daging, telur, dan ikan.

Makanan yang dikonsumsi ibu saat hamil memengaruhi perkembangan otak dan kecerdasan anak. Ada 2 cara memenuhi kebutuhan gizi ibu, yaitu :

• Mengonsumsi suplemen gizi

Konsumsi Omega-3 (DHA) sangat dibutuhkan oleh janin untuk perkembangan otak. Konsumsi suplemen yang mengandung asam folat (Vitamin B9), yang sangat diperlukan pada tahap awal pembentukan otak dan sumsum tulang belakang anak.

• Memperbaiki pola dan kebiasaan makan (food based), seperti memperbanyak sayuran dan buah berwarna, yang efektif menjaga suasana hati dan mengatur bahan kimia alami seperti serotonin

Setelah anak lahir, kebutuhan Omega-3 untuk perkembangan otak anak dapat dipenuhi dari ASI. Selanjutnya, setelah usa 6 bulan anak mendapatkan MPASI, dan cukupi kebutuhan gizinya dengan menu makanan seimbang.

Mengasah Kecerdasan si kecil (1)

Setiap orangtua tentu ingin buah hatinya tak hanya sehat tapi juga cerdas. Orangtua boleh jadi bangga bila buah hatinya meraih ranking terbaik di kelas. Atau, ketika mengetahui hasil tes IQ mencapai skor yang tinggi. Hasil kecerdasan kognitif dan akademis anak tak dipugkuri membuat kita merasa senang.

Akan tetapi, yang juga perlu kita pahami adalah bahwa masih banyak aspek kecerdasan lain yang penting dimiliki anak. Ya, Kecerdasan bukan sekedar kemampuan akademis/kognitif), tapi ada berbagai juga kecerdasan lainnya pada diri anak yang penting kita ketahui dan stimulasi dengan optimal.

Singkat kata, keberhasilan seorang anak di masa depan, tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau kecerdasan kognitif. Namun, ada berbagai potensi kecerdasan lain yang perlu diasah.

Karena itu, orangtua perlu mengenali potensi kecerdasan majemuk di dalam diri anak. Potensi-potensi kecerdasan diungkapkan dalam teori Multiple Intelligences yang dikemukakan Dr. Howard Gardner, seorang peneliti dari Harvard University.

Gardner melihat bahwa setiap anak adalah unik dan berbeda. Maka upaya pendidikan ataupun pelatihan yang akan diberikan pada anak pun sebaiknya berbeda-beda. Ia juga berpendapat bahwa setiap anak adalah cerdas pada bidangnya masing-masing. Gardner menegaskan bahwa tidak ada anak yang cerdas pada semua bidang.

Teori Multiple Intelligences tersebut mencoba memperbaiki atau mengubah pandangan umum bahwa semua anak adalah sama, sehingga semua anak harus dididik dengan cara yang sama dengan mata pelajaran yang sama, kegiatan atau aktivitas yang sama. 

Genetik dan Lingkungan

Ada beberapa faktor yang dinilai memengaruhi kecerdasan seseorang, di antaranya adalah:

-Faktor genetik

Menurut berbagai penelitian, diperkirakan inteligensi pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik. Akan tetapi, seberapa besar pengaruh genetik terhadap kecerdasan anak masih dalam perdebatan. Di luar faktor genetik ini, sebenarnya ada hal lain yang sangat memengaruhi kecerdasan. 

-Faktor lingkungan

Nah, yang sering kali luput dari perhatian kita adalah bahwa faktor lingkungan juga turut memengaruhi inteligensi seseorang. Dalam hal ini, orang terdekat seorang anak, yaitu orangtua yang memegang peran penting dalam mengasah atau menstimulasi kecerdasan anak.

Orangtua atau keluarga adalah pihak pertama yang selayaknya peka pada kemampuan anak, paling tahu karakter dan kepribadian anak sehingga paham bagaimana cara menstimulasinya. Orangtualah yang bertanggung jawab memberikan suasana lingkungan yang kaya fasilitas penunjang kecerdasan, stimulasi pendidikan dan pelatihan yang memadai bagi buah hatinya.

Boleh jadi anak yang cerdas secara kognitif, katakalah dengan IQ mencapai skor 150, akan tetapi kurang memiliki kemampuan adaptasi atau sosialisasi. Ia kurang pandai bagaimana cara menempatkan diri, bagaimana berperilaku dan cara berbicara dengan orang lain. Nah, kecerdasan sosial juga perlu diasah sehingga ia mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan keadaan dan situasi yang dihadapinya.

PENTINGNYA PERAN ORANGTUA

Sekali lagi, peran orangtua sangat penting dalam perkembangan kecerdasan anak. Terutama di masa golden age yang notebene momen yang sangat menentukan kecerdasan anak. Peran ayah dan ibu sama- sama penting dalam mengoptimalkan kecerdasan si kecil.