Cegah Anak Kecanduan Gadget (2)

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa gadget menimbulkan risiko negatif, seperti yang diungkapkan sebelumnya, misalnya anak dapat terpapar radiasi sehingga dapat membahayakan kesehatan. Selain itu, cahaya pada monitor juga kurang baik bagi mata anak. Selain itu, ditinjau dari sisi psikologis bila bermain gadget dalam durasi panjang dan dilakukan setiap hari secara kontinyu bisa membuat anak berkembang cenderung menjadi antisosial. Hal ini dapat terjadi karena anak tidak diperkenalkan untuk bersosialisasi dengan orang lain.

Efek negatif lainnya anak menjadi kecanduan. Anak yang kecanduan bermain gadget biasanya akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain gadget. Anak juga dapat mengabaikan atau mengesampingkan kebutuhan lain, sepeti makan, mandi bahkan tidur, hanya demi untuk bermain gadget. Selain itu, mengabaikan teguran, anjuran atau nasehat dari orangtua juga menjadi salah satu ciri dari anak kecanduan gadget.

Kenapa anak menjadi kecanduan bermain gadget? Penyebabnya dapat bermacam-macam, misalnya arena permainan yang sangat menantang dan menyenangkan sehingga anak lupa dan malas melakukan aktivitas sehari-harinya. Faktor pemicu lainya adalah kurangnya aktivitas seru lainnya ketika anak berada di rumah atau saat waktu luang. Anak juga meniru aktivitas orang dewasa di sekitarnya yang asyik berjam-jam dengan gadget. Kenapa bisa meniru? Karena anak cenderung melakukan imitasi terhadap perilaku orang-orang yang cukup signifikan dalam kehidupannya. Penyebab terakhir yang menjadi faktor pemicu anak kecanduan gadget,  boleh jadi sebagai pelarian terhadap masalah emosi yang biasanya banyak terjadi pada anak remaja.

Jadi, bila kita melihat gelagat anak seolah tak bisa lepas dari gadgetnya, menomorsatukan alat canggih ini ketimbang aktivitas atau permainan lainnya, bahkan malas bermain bersama teman, perlu diwaspadai kemungkinan anak mulai kecanduan gadget.

ATURAN TEGAS DAN KONSISTEN

Tentunya kita tak perlu berkecil hati, bila anak sudah terlanjur kecanduan gadget. Kecanduan gadget ini dapat diatasi namun harus sesegera mungkin. Sebagai langkah awal, terapkan aturan yang tegas dan konsisten terhadap penggunaan gadget pada anak, yaitu kapan dan dimana boleh bermain gadget, termasuk batasan waktu yang sudah diutarakan sebelumnya. Lalu, control penggunaan gadget oleh sang anak.

Selain itu, berikan aktivitas yang bervariasi dan menarik ketika anak memiliki waktu luang di rumah. Anak bisa juga diikutkan pada kegiatan kursus atau les yang sesuai minatnya sehingga tak ada waktu luang untuk memainkan gadget. Tak kalah penting, perbanyaklah waktu berkualitas antara orangtua dengan anak dan jadilah teladan atau contoh yang baik di rumah.

Oh ya, orangtua juga dapat berkonsultasi pada psikolog untuk penanganan lebih lanjut bila anak kecanduan gadget, serta menggali faktor penyebab anak menjadi kecanduan sehingga masalah ini tidak terulang kembali.

BIJAK MENGGUNAKAN GADGET

Di sisi lain, Gadget memang tidak melulu memberikan dampak negatif. Akan tetapi ada juga dampak positif yang bisa dipetik. Misalnya, dengan menggunakan gadget berarti anak memiliki kemampuan adaptif yang baik. Anak mampu beradaptasi secara optimal di lingkungan yang kaya akan teknologi. Perilaku adaptif ini tentunya juga disesuaikan dengan budaya sekitar. Bila anak tinggal di sebuah daerah terpencil dimana gadget merupakan barang langka, sangat wajar bila anak tidak atau kurang mengenal gadget.

Dampak positif lainnya adalah anak juga memiliki pengetahuan yang lebih luas. Gadget dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran, anak mengenal teknologi fitur-fitur yang canggih, pun anak bisa mencari bahan-bahan yang tak dapat dibuku yang dibutuhkan untuk menunjang materi pelajaran sekolah. 

Maka dari itu, yuk kita sama-sama menjadi orangtua yang bijak seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin melesat ini.

Foto: freepik.com

Cegah Anak Kecanduan Gadget (1)

Kita memang tak bisa menghindari gempuran teknologi, tapi perlu mengantisipasi efek negatif yang bisa ditimbulkannya.
 

Seiring perkembangan zaman, teknologi pun semakin canggih. Tak heran, bila berbagai macam gadget bermunculan. Di masa kini, gadget bukan lagi berupahandphone atau telpon genggam yang umumnya berfungsi sebagai sarana menelpon atau mengirim/menerima pesan singkat semata. Akan tetapi, gadget sudah berevolusi menjadi suatu piranti atau instrumen yang dikenal dengan sebutan smartphone atau tablet yang notabene memiliki fungsi praktis dan spesifik yang makin digandrungi masyarakat.   

Ya, gadget tak sekadar populere di kalangan orang dewasa. Pun, anak-anak

ikut menikmati gadget-gadget tercanggih. Pasalnya, piranti yang userfriendly atau mudah dioperasikan/digunakan ini menawarkan fitur-fitur menarik bagi anak-anak yang memang cenderung memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar.

Maka tak perlu heran, dimanapun kita berada, seperti di pusat berbelanjaan, tempat makan, atau tempat umum lainnya, anak-anak tampak sibuk memainkan gadget. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Nielsen yang menyebutkan, sekitar 40% anak usia 0-8 tahun sudah mengenal gadget dan Indonesia termasuk sebagai pengguna perangkat mobile tertinggi, yaitu sekitar 48%. Di luar negeri, misalnya di Amerika Serikat, sebuah survey yang melibatkan lebih dari 200 orangtua, menunjukkan bahwa 53 perse anak sudah memiliki telpon selular (ponsel) di usia 7 tahun.

KAPAN PERLU GADGET?

Banyak sekali pertanyaan yang muncul, baik di kalangan orangtua maupun kalangan awam lainnya terkait dengan sang teknologi yang modern ini. Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah kapan sih usia yang tepat anak diperkenalkan gadget. Menurut The American Association Of  Pediatric (AAP), anak usia 0-2 tahun tidak perlu diperkenalkan dengn gadget ataupun televisi. Alasannya, karena pancaran cahaya pada monitor sangat berpengaruh pada kesehatan mata anak. bahkan, paparan sinyal radiasi gadget dapat berpengaruh terhadap perkembangan neuron anak.

Nah, pada rentang usia tersebut, anak juga berada pada tahapan sensorimotor.Maka alangkah baiknya bila buah hati lebih diberikan kebebasan untuk bergerak, belajar merasakan kasar-halus, berlari, melompat, ataupun belajar berinteraksi dengan orang sekitar.

Selanjutnya, ketika anak sudah lebih besar sekitar usia 2-6 tahun, ia boleh diperkenalkan gadget. Akan tetapi, sebaiknya gadget hanya digunakan sebagai sarana edukasi bagi anak. Tentunya dilakukan bersama orangtua, misalnya mengenai pengenalan warna, bentuk, atau suara.

Ya, pendampingan orangtua diperlukan dalam memberikan berbagai stimulasi, termasuk memerhatikan batasan waktunya. Menurut The American Association Of Pediatric (AAP), batasan waktu yang ideal untuk anak bermain adalah tidak lebih dari 1-2 jam sehari. Bila orangtua hendak membuat batasan waktu, ada baiknya dibagi menjadi per 30 menit. Misalnya saja, mendampingi menonton teve 30 menit, bermain dengan gadget 30 menit dan stimulasi melalui komputer 30 menit. Namun setiap selesai dengan satu aktivitas, misalnya selesai bermain gadget 30 menit, setop kegiatannya dulu  sebelum mulai dengan aktivitas selanjutnya.

Selain itu, yang penting diperhatikan, akan lebih baik apabila orangtua membatasi kegiatan tersebut hanya waktu weekend. Jadi anak diperbolehkan bermain dengan gadget atau komputer bahkan nonton televisi di akhir pekan. Reward dan punishment dapat diterapkan dalam hal ini. Seiring bertambahnya usia anak, misalnya di atas 10 tahun, waktu bermain anak dapat ditambah. Nah, apabila orangtua mampu melakukan ini secara konsisten diharapan buah hati dapat terhindar efek negatif dari penggunaan gadget.

Foto: freepik.com