Membangun Karakter Anak Bertanggung Jawab

Moms, tidak ada manusia yang terlahir dengan karakter tanggung jawab. Karakter tanggung jawab harus ditanamkan, dipupuk, dievaluasi, dst, melalui proses yang berkesinambungan. Ketika individu ‘lulus’ untuk menjalankan tanggung jawab dalam skala kecil, ia kemudian akan dipercayakan tanggung jawab dalam skala yang semakin besar. Itulah fitrah perjalanan manusia.  Sebagai pengemban tanggung jawab hingga akhir hidupnya.

Tanggung jawab adalah bentuk kesadaran dan perilaku moral yang teramat penting. Orang yang bertangung jawab adalah orang yang memiliki kesadaran bahwa ia wajib menanggung segala sesuatu, yang telah dipercayakan kepadanya atau yang merupakan dampak dari pilihan dan keputusannya.

Di sepanjang kehidupan, setiap individu perlu memahami bahwa ketika ia mengambil sebuah keputusan, ada konsekuensi yang melekat pada keputusan tersebut. Tidak semua orang besar mampu bersikap matang dalam menerima konsekuensi dari keputusannya. Misalnya, memutuskan untuk mencicil mobil, namun tidak disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga cicilan tertunggak; atau memilih sebuah jurusan pendidikan, namun di tengah jalan merasa tidak betah karena merasa sulit, lalu meninggalkan begitu saja program pendidikannya.

Tanggung jawab juga melekat dengan kepercayaan.

Semakin seseorang dipercaya, maka semakin besar tanggung jawab yang akan diberikan kepadanya. Ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya, maka karakter pengenalian diri, ketekunan, komitmen, kepercayaan diri juga turut dilatih. Contoh, ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya sebagai pengendara dan pemilik sepeda motor melalui proses pendidikan yang benar, maka ia juga akan dilatih bagaimana mengendalikan emosinya ketika disalib pengendara motor lain, ketenangan dalam mengendarai motor, komitmen untuk selalu menjaga kebersihan motornya, dll.

Intinya karakter tanggung jawab sangat penting, oleh karena itu orang tua, sebagai pihak utama dan pertama yang ‘dititipkan’ anak,  berkewajiban untuk membangun karakter bertanggung jawab anak-anaknya.

Kapan waktu terbaik untuk mulai membangun karakter tanggung jawab?

Semakin dini sebuah perilaku moral dibangun, maka akan semakin tertanam. Melatih tanggung jawab dapat dimulai sejak anak sudah cukup bisa berkomunikasi dengan orang tuanya, biasanya ketika menginjak usia 3 tahun. Cara belajar yang khas pada anak-anak usia balita adalah dengan cara melihat dan melakukan.

Berbeda dengan anak yang lebih besar, anak balita tidak perlu diyakinkan terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Ia akan langsung mencontoh saja. Oleh karena itu cara terbaik untuk membentuk kebiasaan tanggung jawab anak adalah dengan cara mencontohkannya berulang-ulang, dan membimbing anak untuk bersama-sama melakukannya. Misalnya, ketika selesai bermain bersama, orang tua memasukkan barang-barang ke kotak mainan bersama-sama dengan anak.

Anak usia balita juga akan cepat belajar jika orang tua membentuk pola atau sistem yang konsisten. Oleh karena itu sangat penting untuk orang tua memilihkan ruang main yang tetap, jam main yang sama, kotak penyimpanan mainan yang sama. Ketika anak secara berulang-ulang memperhatikan  ada  satu pola yang konsisten, maka akan terbentuk pola tanggung jawab, yang akan diteruskannya hingga ke usia selanjutnya.

Ketika anak di usia balita hingga TK, biasanya anak dilatih bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan fisik pribadi, misalnya, menggosok gigi setiap habis makan, mengganti baju, menghabiskan makan yang dimintanya, mandi sendiri, tidur sendiri.

Orang tua dalam hal ini perlu ekstra sabar dan tidak perlu terlalu menuntut kualitas dari kegiatan tersebut. Misalnya, orang tua perlu bertoleransi jika ketika makan belum bisa terlalu bersih, dan tetap mengapresiasi kemauan anak untuk makan sendiri. Lambat laun, seiring anak meningkat ke usia SD, orang tua dapat melatih tanggung jawabnya terhadap hasil/kualitas dari kegiatan mandiri anak.

Ketika anak beranjak ke tingkat SD awal, orang tua dapat melebarkan tanggung jawab anak untuk memelihara barang-barang pribadinya. Misalnya, meletakkan tas sekolah dan sepatu dengan rapi, memasukkan baju-baju ke lemarinya sendiri dengan rapi. Anak usia SD sudah bisa dilatih tanggung jawabnya untuk lebih memperhatikan kualitas kegiatannya. Misalnya tidak hanya mengenakan baju seragam sekolah sendiri, namun juga mengenakannya dengan rapi.

Di tingkat SD awal, orang tua dapat mengedukasi anak bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung anak bila tidak melakukan kewajibannya. Misalnya, jika melupakan PR, lupa membawa bekal. Biasanya pihak sekolah juga tidak mengijinkan orang tua untuk menyusulkan barang-barang sekolah yang tertinggal. Oleh karena itu anak-anak usia SD sudah bisa diedukasi untuk lebih inisiatif dalam memeriksa ulang peralatannya kembali.

Ketika anak menginjak SD kelas 3, anak sudah bisa dilatih untuk bertanggung jawab dalam membuat perencanaan kegiatan jangka pendek. Misalnya dalam beberapa hari ke depan, untuk persiapan ulangan yang bersamaan dengan jam-jam kursus lainnya, latih anak untuk membuat chart sederhana yang berisi jadual kegiatan.

Semakin anak menginjak SD akhir, semakin anak mesti dilatih untuk menanggung konsekuensi dari tanggung jawab pribadinya. Biasanya anak SD di tingkat akhir sudah meminta fasilitas tertentu, seperti alat main game, atau hp. Didik anak bahwa ada kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan bersama dengan fasilitas tersebut.

Jika si anak tidak dapat menjaga kepercayaan tersebut, maka akses terhadap fasilitas tersebut seharusnya dikurangi atau dicabut. Konsekuensi yang harus dipikul anak ini harus dikomunikasikan sejak awal, sebelum fasilitas itu mulai dipergunakan oleh anak. Buat aturan main yang jelas juga mengenai jam, waktu, tempat penggunaannya. (hil)

Foto: freepik.com

Cara Mengembangkan Karakter Anak dengan Graphotherapy

Tulisan tangan seorang anak tentu tidak muncul dengan sendirinya. Akan tetapi, tulisan tangan itu dipengaruhi oleh postur tubuh dan aktivitas otak. Nah, hal inilah yang perlu dikenali dan dipahami orangtua. Setelah kita mengetahui permasalahan yang dihadapi anak, selanjutnya adalah kita harus mencari jalan atau solusinya. Namun, seperti apa dan bagaimana caranya?

Salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah melalui graphotherapy. Graphotherapy adalah terapi yang didasarkan pada hubungan antara pikiran bawah sadar dengan tulisan tangan, sebagai dua jalan yang saling berhubungan. Nah, hubungan tersebut menghasilkan tulisan tangan yang merefleksikan pikiran bawah sadar seseorang.

Adapun tujuan graphotherapy adalah untuk mendapatkan perubahan yang spesifik yang dapat memperbaiki atau mengurangi, mengembangkan atau memperkuat karakter atau sifat seseorang melalui perubahan tulisan tangannya. Kemudian, usaha yang dilakukannya melalui graphotherapy tersebut kemudian akan menjadi respons yang otomatis dalam dirinya.

Lalu, apa saja langkah yang dilakukan dalam proses grafoterapi ini? Berikut di antaranya:

1. Menentukan masalah/perilaku yang akan diubah
Apa yang akan diubah melalui tulisan tangan didasarkan pada hasil analisis tulisan tangan anak yang baru saja dilakukan. Tidak disarankan menggunakan sampel yang sudah lama dibuat). Cobalah untuk menganalisis dengan menggunakan sample yang cukup banyak karena orangtua akan mendapat informasi yang lebih banyak.

2. Sarankan alternatif solusi terlebih dahulu
Tidak semua orang memerlukan terapi! Sebagai orang tua, Anda harus pandai memilih kasus mana yang memang memerlukan terapi dan kasus yang dapat diatasi dengan terapi yang dilakukan dengan aktivitas nyata. Misal, untuk meningkatkan percaya diri bisa dilakukan grapho therapy tapi kasus misal untuk mencapai tujuan hidup sebaiknya dilakukan solusi lainnya juga.

3. Tentukan prosedur terapi yang akan digunakan
Grafoterapi hanya disarankan untuk mengubah satu trait dalam satu waktu. Meskipun ada beberapa trait yang perlu diubah dari klien, namun lakukan selangkah demi selangkah. Maksud trait itu adalah, misal mau meningkatkan rasa percaya diri, perbesar hurufnya. Satu  kali terapi harus 1 goal, tak boleh lebih sampai goal itu terwujud baru dilakukan terapi yang lain.

HAL PENTING LAINNYA

Grafoterapi sebaiknya tidak dilakukan untuk mengatur pembentukan kepribadian anak secara mutlak. Kenapa? Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dan mempredisksi seorang anak akan menjadi apa di masa depan. Oleh karena itu, terapi ini disarankan hanya untuk melakukan perubahan perilaku yang memang tidak baik bagi  anak tersebut (misalnya emosi yang terlalu berlebihan atau ketidaktelitian).

Graphotherapy bukan sekedar memperbaiki dari tulisan tangan, namun juga bisa dilakukan dalam bentuk latihan motorik halus. Ini bisa untuk semua umur tanpa terkecuali.


HANDWRITING

Perlu kita ketahui bahwa handwriting adalah brain writing.  Jadi, ketika menulis sebenarnya otak sedang berinteraksi dengan tubuhnya membentuk tulisan. Karena, itu jika stres berpengaruh terhadap postur tubuh secara keseluruhan. Kemudian, hal ini akan berpengaruh pada lengan dan pergerakan menulis. Jadi bukan hanya melihat apa isi tulisan, tapi juga bagaimana si otak menulis (brain writing)

Lalu, secara keseluruhan yang harus diperhatikan? Ini di antaranya:
1. Content

Konten ini adalah isi tulisan. Kita perlu mengetahui apa perbedaan konten baik sebelum dan setelah stimulasi.

2. Context

Konteks dalam hal ini membicarakan tentang postur tubuh, keluwesan menulis, kualitas tulisan, dan perhatikan detail seperti zona, base line, kemiringan tulisan, margin, tekanan dan lain-lain.

(Hil)

Foto: freepik.com


8 Cara Mengatasi Anak ‘Keras Kepala’

Kesal ya Mam, ketika kita dihadapkan pada anak yang ‘keras kepala.’ Kadang kita jadi mati gaya, tak tahu apa harus dilakukan.

Tentunya, kita harus memahami alasan kenapa anak berperilaku seperti itu. Nah, yuk Mam simak tips berikut:

1.Anak berkemauan keras adalah pembelajar melalui pengalaman. Sebagai contoh, untuk mempercayai bahwa kompor itu panas maka ia perlu mendekati kompor agar dapat merasakan sensasi panas di sekitar alat tersebut. Maka lebih efektif untuk membiarkan ia belajar melalui pengalaman, daripada kita mengontrolnya. Hal ini seringkali menguji batas kesabaran kita, namun pahamilah bahwa begitulah cara ia belajar.

2.Anak berkemauan keras ingin penguasaan lebih dari apapun. Biarkan dia mengambil alih kegiatannya sendiri sebanyak mungkin. Hindari terlalu banyak menyuruhnya, akan tetapi kita bisa mengingatkannya.

3.Berikan pilihan kepada anak. Jika Anda memberikan perintah, ia akan hampir pasti menolak. Sedangkan jika kita memberikan pilihan maka anak lebih senang bekerja sama. Ia merasa mampu mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas pilihannya.

4.Beri mereka otoritas kebebasan akan dirinya sendiri. Sebagai contoh, anak tidak mau memakai jaket. Kita bisa memberikannya kemungkinan-kemungkinan, misalnya mengatakan,”Kalau nanti hujan dan kamu tidak memakai jaket kira-kira apa yang akan terjadi? Kalau nanti kamu kehujanan, kira-kira akan sakit atau tidak?

5.Hindari memaksa anak jika ia tidak mau mengikuti arahan kita. Hal tersebut hanya akan membuat anak menentang orangtua. Orangtua memiliki peluang yang besar untuk memenangkan perdebatan, hanya saja hal tersebut akan merusak hubungan anak dan Anda. Tenangkan diri anda lalu tarik napas dalam-dalam selanjutnya berikan anak penjelasan dengan cara komunikasi yang baik.

6.Luangkanlah waktu Anda untuk mendengarkan apa yang anak inginkan. Kebutuhan anak sebenarnya tidak banyak. Ia menginginkan perhatian dan kasih sayang Anda sebagai orangtua. Kasih sayanglah yang bisa meminimalisasi kebutuhan anak pada sesuatu hal yang bersifat “materi”.

7.Memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak.

Pentingnya memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak, dimana ia tidak merasa terpaksa untuk mendengarkan pesan moral yang disampaikan orangtua. Disini orangtua harus pintar membaca situasi dan karakter anak, kira-kira pada saat kapan anak bisa diajak bicara dan menjadi pendengar yang baik.

8.Memberikan fasilitas sebagai media untuk menyalurkan hobi anak.

Setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Para orangtua harus bisa peka dalam melihat hal ini. Hindari memaksakan minat orangtua kepada anak. Namun orangtua perlu menyalurkan minat dan potensi anak.

Dengan menyalurkan apa yang menjadi hobinya, anak senantiasa akan terus bergerak dan sisa energinya akan tersalurkan kepada hal-hal yang positif. Ini akan membuat anak terhindar dari keadaan bosan, mudah marah, sedih, dsb.

Yang jelas, sikap keras kepala tidak akan menghilang dengan sendirinya namun perlu arahan dan didikan orangtua. Peran pola asuh sangat penting untuk membentuk karakter anak. Orangtua perlu memberikan contoh yang baik kepada sang buah hati untuk terbuka terhadap kritik dan masukan dari orang lain. Termasuk juga orangtua bisa menerima kritik dari anak. Alhasil, ia un dapat meniru sikap orangtua untuk terbuka terhadap arahan dan saran dari orang lain.

Bila dibiarkan dan dihadapi dengan baik, strongwilled child ini tentunya akan menjadi:

  1. Anak akan tumbuh menjadi seorang yang pembangkang dan sulit diatur. Ia akan melakukan hal-hal yang diinginkan tanpa pikir panjang sehingga dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
  2. Anak sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini membuatnya menjadi marah, sedih yang berlebihan dan menyalahkan keadaan.
  3. Anak akan berupaya mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara apapun. Keyakinan dan semangatnya yang besar untuk mendapatkan sesuatu membuat ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.
  4. Seringkali memicu keributan dan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi kurang harmonis. (hil)

Foto: freepik.com

Yuk, Mengenal Potensi Karakter Anak Melalui Tulisan Tangannya

Mam, seringkah memerhatikan hasil tulisan Si Kecil? Tentunya bukan sekadar melihat apakah tulisanya bagus atau jelek, ya! Akan tetapi, ada kemampuan anak dalam menulis akan berdampak pada kemampuannya membaca dengan cepat. Kok, bisa?

Begini penjelasannya, Mam. Saat anak menulis, ada bagian otak yang disebut RAS (Reticular Activating System) yang akan mendapatkan rangsangan positif. RAS ini merupakan filter untuk memproses segala hal yang masuk ke dalam otak baik secara conscious (alam sadar) maupun secara unconsious (alam bawah sadar).

Nah, jadi yang kita ‘nilai’  bukan hanya tulisannya bagus atau jelek. Akan tetapi ketika tulisan anak rapi atau tidak, hal itu akan berpengaruh terhadap karakternya di kemudian hari.

Terkait hal tersebut, sebuah studi tentang neuroscience (ilmu yang mempelajari tentang otak manusia) menunjukkan bahwa area otak yang terkait dengan pembelajaran akan semakin produktif ketika seorang anak menuliskan kata yang ingin mereka pelajari.

Sebut saja salah satunya, pada bagian otak besar anak. Celebral cortex mengendalikan kemampuan anak dalam mengingat, perhatian atau fokus, dan kemampuan bahasa.

Kemudian, basal ganglia, bagian otak besar ini berperan pada intelegensi (kecerdasan intelektual, spritual dan moral) pada anak. Basal ganglia juga mengendalikan memori anak.

Graphology, Gali Potensi Anak

Graphology merupakan keilmuan yang menggunakan tulisan tangan sebagai sampel untuk untuk menggali banyak hal tentang bakat, potensi seorang anak dan lain sebagainya.

Melalui tulisan tangan, Mama juga bisa membentuk karakter anak. Graphology dengan graphoterapy-nya membantu banyak hal termasuk tentang penanaman-penanaman karakter baik.

Apakah hal tersebut akan menjadikan anak sempurna? Perlu dipahami, menanamkan karakter baik pada anak bukan berarti menjadikan mereka sebagai robot. Tetapi, justru membantu mereka lebih mudah menemukan apa saja yang diinginkan. Mereka bisa menjadi diri sendiri dan memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan karakter-karakter baik yang ada di dalam dirinya.

Menariknya, graphology bukan hanya memahami tulisan tangan, tetapi juga bisa melakukan terapi terhadap tulisan ini.

Hal-hal yang harus Mama perhatikan adalah :

  1. Ketika nanti meminta anak menulis, tulislah di kertas tanpa garis. Kenapa? karena dia akan lebih bebas menuangkan pikirannya tanpa ada batasan (garis).
  2. Tulislah dengan balpoint (jangan yang gel).
  3. Minta ia menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Bukan menyalin tulisan, ya Mam.

Nah, setelah itu baru bisa kita lihat dan mencoba menjadi ‘paranormal’. Yuk, Mam kita mulai, ini hal-hal yang perlu kita perhatikan :

  1. Kertas itu putih bersih seperti seorang anak yang baru lahir. Ketika kita menggoreskan tinta, itu menandakan bahwa mulai diisi oleh berbagai pengaruh dari lingkungannya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika menulis bagaimana jarak antara sisi kertas kiri dengan tulisan,  atas dengan tulisan, kertas bawah dengan tulisan dan kanan dengan tulisan. Perlu diingat ya maknanya: kiri adalah masa lalu, kanan itu masa depan, atas optimis dan bawah pesimis itu kata kuncinya.
  2. Garis dasar tulisan itu ada datar, naik atau turun. Kalau datar, biasa emosinya biasa saja. Bila turun artinya kondisi tidak percaya diri atau pesimis. Bila naik berarti pede dan optimis. Namun garis dasar itu nanti bisa saja tidak semuanya turun. Bisa jadi, ketika pada tulisan kata tertentu saja yang turun. Nah Mam perhatikan, pada kata mana terlihat turun. Hal itulah yang menunjukkan kondisi tres atau masalah yang sedang dihadapinya.
  3. Banyaknya coretan atau tinta meluber itu menunjukkan kecemasan
  4. Tulisan memiliki 3 zona yaitu: zona atas, zona tengah, dan zona bawah. Zona atas adalah huruf yang ada tangkai ke atas seperti b,d,f,h,k,l,t. Zona tengah adalah a,c,e,i,m,n,o,r,s,u,v,w,x,z. Lalu, Zona bawah yaitu g.j,p,q,y

Zona atas berarti ingat kepala. Apa isinya? Intelektual dan imajinasi. Zona tengah itu dari leher ke pinggang menunjukkan  emosi. Lalu, zona bawah itu isi seputar dompet dan biologis, artinya seks dan materi. Di setiap zona ada lingkaran ya. Bila lingkaran tertutup, maka itu berarti adda hambatan.

  • Kemiringan tulisan. Jika tulisannya miring ke kiri, maka dia cenderung menarik diri, kurang ekspresif dan mungkin juga ada masa lalu yang belum terselesaikan. Sementara, bila tulisanya miring ke kanan itu berarti ekspresif, percaya diri. Namun jika semuanya ekstrem miring ke kanan berarti ada masalah.
  • Besar kecilnya tulisan juga bisa kita lihat.  Kalau tulisannya terlalu kecil, mungkin dia minder. Kalau tulisannya besar, anak pede. Tapi kalau tulisannya terlalu besar, anak  agak over pede.
  • Perhatikan tekanan ketika ia menulis. Kalau terlalu ditekan berarti energinya besar. Kalau tekanannya tipis berarti energinya kecil.
  • Sebaiknya anak diminta menulis sambung agar dinamikanya terlihat. Tulisan sambung itu sangat penting untuk fondasi awal menulis.

Tak kalah penting, perlu diingat bahwa postur tubuh membuat anak lelah menulis karena tak ada dukungan dari otot tubuhnya. Karena itu, pastikan dan jaga posisi duduk 90 derajat, ya.

Nah, kita perhatikan dari sisi zona, ya. Lihat dari zona di atas ketika dia bicara hobi zonanya bawah itu artinya dia tahu tujuan ke depannya untuk mendatangkan materi. Bila yang bawah itu langsung berubah jadi zona tengah berarti dia mulai galau.

Bila dilihat dari kemiringan: kanan-kiri, berarti anak sedang moody. Contoh, bila tulisan agak miring ke kiri dan hurufnya kecil lama-lama besar, berarti pada awalnya kurang pede. Tapi kalau sudah lama kenal dia lebih pede. Namun perhatikan ada masalah yang belum terselesaikan.

Bila tulisan miring ke kiri berarti anak pada dasarnya kurang ekspresif dan tertutup. Dia hanya percaya dengan orang yang nyaman dengan dirinya. Kalau dilihat adri ketebalan tulisan, berarti punya energi.

Pertanyaannya adalah apakah tulisan anak di usia ini ini dapat menggambarkan karakternya, sedangkan ia dalam masih tahap belajar menulis? Nah, justru itulah pentingnya tahap usia ini untuk memperbaiki postur tubuh dan posisi menulis. Penting sekali kita menstimulasi otak anak dan memperbaiki postur menulis karena akan berpengaruh pada karakter, emosi dan perilakunya di masa mendatang.

Lalu, apakah bila anak beranjak besar, tulisannya akan berubah dan berpengaruh pada perubahan kepribadiaannya kelak? Ya, tulisan berubah maka kepribadian berubah. Ada contoh kasus. Ada seseorang yang pendiam, berusia 45 tahun. Ia merasa bingung karena profesinya harus dirotasi dari akunting menjadi marketing. Nah, yang dilakukan adalah mengubah tulisan tangan dan tanda tangannya. Sekarang ia sudah berubah menjadi sosok yang ‘super bawel’. Jadi sekali lagi, memperbaiki postur dan cara menulis akan berdampak pada tulisan dan juga pola perilakunya kelak. (Hil)

Narasumber: Bunda Lucy

Foto: freepik.com

Mengenal Karakter Anak Berdasar Urutan Lahir (2)

ANAK SULUNG

Anak sulung umumnya memiliki karakter sebagai sosok yang dapat diandalkan, terstruktur, rapi, cenderung serius, penuh kendali, mencapai prestasi dan berjiwa pemimpin.

Sebagai anak sulung, ia merasakan beban ‘tanggung jawab’ yang besar. Di sii lain,  harapan orangtua pun begitu besar. Anak sulung biasanya lebih banyak mendapatkan perhatian dari orangtuanya dibandingkan saudara-saudaranya. Hal ini dikarenakan orangtua masih pertama kali menjalani peran sebagai ayah-ibu sehingga seluruh perhatian tercurahkan kepada anak sulung. Orangtua juga memiliki pengharapan yang lebih tinggi dan memberikan tanggung-jawab yang lebih banyak kepada anak sulung. Hal ini  mengakibatkan anak sulung biasanya dapat diandalkan dan berjiwa pemimpin.

Ya, anak sulung cenderung menerima tanggung jawab yang paling besar dibandingkan adik-adiknya. Pengharapan orangtua yang besar menjadikan anak sulung cenderung lebih sedikit mengambil risiko dan teguh terhadap aturan baku yang telah ditetapkan orangtua. Hal ini menjadikan anak sulung cenderung kehilangan spontanitas dan mudah cemas.

Nah, untuk menghadapi karakter anak sulung agar optimal dalam perannya, orangtua perlu memberi ia kesempatan untuk menentukan jalannya sendiri. Pengharapan yang tinggi dari orangtua terhadap si sulung mengarahkan ia terhadap pengejaran karir atau prestasi bergengsi. Orangtua juga sebaiknya menyeimbangkan keinginan dengan minat anak. Dorong ia untuk mengambil risiko dan berpikir kreatif. Dukung juga anak sulung yang memiliki minat dan bakat di bidang literatur atau seni. Jadi, biarkan ia menentukan jalannya sendiri.

ANAK TENGAH

Si anak tengah cenderung memiliki karakter mudah menyesuaikan diri, mementingkan persahabatan, pendamai, diplomatis, fleksibel, namun cenderung “memberontak” atau tampil beda.

Anak tengah ini umumnya sering dibandingkan dengan sang kakak. Selain itu, perhatian orangtua lebih sedikit. Orangtua cenderung luput terhadap perkembangan dan kebutuhan pribadi anak tengah. Orangtua biasanya lebih memerhatikan pencapaian anak sulung dan kebutuhan anak bungsu. Anak tengah juga sering dibandingkan dan menerima barang bekas kakaknya. Hal ini bila sering dilakukan dapat membuat anak tengah merasa tidak diperlakukan dengan adil dan merasa kurang berharga dibandingkan anak sulung. Namun, anak tengah biasanya juga lebih diplomatis dan fleksibel karena mereka berusaha untuk berbeda dari kakak dan adiknya.

Perkembangan anak sulung seringkali menjadi tolak ukur yang digunakan orangtua untuk anak tengah. Pernyataan seperti, “Kakakmu sudah lancar membaca ketika masuk SD,” atau “Kakakmu senang membantu Ibu loh,” sebaiknya dihindari. Perhatikan dan rayakan juga peristiwa pertama dan pencapaian anak tengah. Misalnya, hari pertama masuk sekolah, dipilih sebagai perwakilan kelas untuk lomba, dan sebagainya. Hal ini dapat mengembangkan kepercayaan diri anak tengah dan menyakinkan ia bahwa dirinya dicintai orangtuanya tanpa ‘bayang-bayang’ kakaknya.

Hal lain yang perlu dilakukan, dorong anak tengah untuk berbagi pendapat dan perasaannya. Sediakan waktu ekstra setiap hari, misalnya ketika makan atau dalam perjalanan, untuk menanyakan pemikiran dan aktivitasnya. Libatkan juga  kakaknya untuk turut mendengarkan. Hal ini dapat menjadi sarana anak tengah untuk berekspresi dan mengembangkan identitasnya yang unik. Jadi, tetaplah memerhatikan kebutuhan si anak tengah ini.

ANAK BUNGSU

Karakter anak bungsu biasanya menyenangkan, jenaka, ceria, mudah bergaul, sederhana dan spontan. Meski begitu, ia cenderung bergantung pada orang lain.

Ya, ketika memiliki anak bungsu, orangtua biasanya telah lebih percaya diri mengenai pengasuhan anak. Alhasil, orangtua tidak lagi terlalu memerhatikan detil perkembangan anak bungsu. Akibatnya, anak bungsu cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih spontan dan relaks. Anak bungsu juga lebih sering mengembangkan kemampuan mendapatkan perhatian dengan lelucon dan sikapnya yang jenaka. Selain itu, orangtua juga lebih sedikit memberikan tugas atau tanggung jawab kepada anak bungsu dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Hal lain yang umum terjadi, anak bungsu biasanya sering dimaafkan oleh orangtua. Ayah ibu cenderung melindungi si bungsu serta melimpahkan tugas kepada kakak-kakaknya. Akibatnya, anak bungsu lebih besar kemungkinan melanggar peraturan, sekaligus bergantung pada orang lain. Sikap spontan dan jenaka anak bungsu juga dapat menjadi bumerang apabila ia bercanda di saat yang kurang tepat, seperti ketika ada yang sedang berduka. Orangtua perlu mengingatkan anak bungsu untuk bercanda pada saat yang tepat.

Untuk menghadapi karakter anak bungsu ini, orangtua perlu membesarkan pengharapan padanya. Misalnnya, motivasi anak bungsu mengenai pencapaian akademis dan cita-citanya. Orangtua juga dapat mengembangkan tanggung jawab anak bungsu dengan memberinya tugas yang adil seperti kakaknya.

Selain itu, orangtua juga dapat memberikan anak bungsu kesempatan untuk mengajarkan sesuatu kepada  anak yang lebih kecil darinya. Misalnya, mengajarkan cara makan dengan sumpit kepada adik sepupu atau tetangga yang lebih kecil. Aktivitas ini selain dapat mengembangkan tanggung jawab juga memberikan keterampilan baru untuk anak bungsu.

Tak kalah penting, perlakukan anak bungsu sesuai usianya. Hindari terus memperlakukan anak bungsu sebagai ‘bayi’ dalam keluarga.(hil)

Foto: freepik.com

MENGENAL KARAKTER ANAK BERDASAR URUTAN LAHIR (1)

Setiap anak itu unik. Karena itu, pahami karakternya yang berbeda dengan saudara sedarahnya, agar ia berkembang optimal di kemudian hari.  

 Ya, urutan kelahiran anak memang memiliki efek terhadap kepribadian anak. Hal ini ditegaskan Alfred Adler, peneliti pertama mengenai efek kelahiran anak. Menurut Adler, urutan kelahiran anak memengaruhi cara ia diperlakukan oleh orangtuanya. Sebagai contoh, ketika Anda pertama kali memiliki anak, kecenderungan  merasa sangat bangga dan mengamati setiap perkembangan dan kebutuhan sang buah hati.

Kemudian seiring waktu, lahirlah anak kedua yang umumnya dibayang-bayangi sang kakak yang notabene lebih duluan lahir. Nah, ketika memiliki anak ketiga alias si bungsu, orangtua sudah lebih percaya diri mengenai pengasuhan anak. Orangtua menjadi lebih fleksibel dalam memberikan perhatian dan disiplin. Si anak bungsu ini pun sejak dini telah belajar untuk menghibur dan menyenangkan hati orangtua.

Dalam memahami keribadian anak berdasarkan urutan lahir, penting diperhatikan bahwa urutan lahir bukan hanya berdasarkan urutan kelahiran anak. Akan tetapi juga peran urutan lahir yang diberikan orangtua untuk anak. Misalnya, anak laki-laki pertama meskipun urutan lahirnya anak kedua. Bleh jadi ia mendapatkan peran urutan lahir anak sulung sehingga memiliki karakteristik anak sulung.

Selain itu, jarak usia antar anak juga perlu diperhatikan. Bila jarak usia telah mencapai lima tahun, kepribadian anak dihitung ulang lagi. Misalnya, apabila anak pertama telah berusia 8 tahun dan anak kedua berusia 2 tahun kemudian baru memiliki adik bayi lagi. Maka anak pertama biasanya memiliki karakteristik anak tunggal. Sedangkan anak kedua cenderung memiliki karakteristik anak pertama bukan anak tengah.

Berikut penjelasan selengkapnya tentang karakter, kendala serta bagaimana peran orangtua terhadap anak terkait dengan urutan kelahirannya.

ANAK TUNGGAL

Karakter umum dari si anak tunggal cenderung dewasa untuk usianya. Ia relatif perfeksionis dan umumnya serius. Selain itu, anak tunggal ini biasanya rajin dan berjiwa pemimpin.

Lantaran anak tunggal, biasanya harapan orangtua begitu besar. Perhatian orangtua hanya tercurah pada si semata wayang ini.  Karena itulah, jangan heran kalau anak tunggal ini mendapatkan fasilitas dan perhatian sepenuhnya dari kedua orangtua. Nilai positif yang bisa dipetik, anak tunggal biasanya memiliki kepercayaan diri yang baik karena mendapat perhatian dan kasih sayang orangtua seutuhnya. Akan tetapi, karena terbiasa diperhatikan dan menjadi pusat perhatian orangtua, anak tunggal cenderung mengatur dan senang mendominasi teman sebayanya. Kondisi ini menjadikan anak tunggal cenderung sulit menyesuaikan diri dengan kebutuhan teman sebayanya.

Tak hanya itu, anak tunggal sering mengalami kesulitan dalam bernegosasi atau kompromi karena tidak mempunyai adik atau kakak untuk membantunya mempelajari keterampilan tersebut sehari-hari. Kendala ini dapat diatasi dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan teman sebaya atau sepupunya. Di samping itu,  kelompok bermain, belajar, keagamaan seperti pengajian atau retret dapat memupuk kepekaan dan kemampuan negosiasinya dengan teman sebaya.

Orangtua juga perlu memberi kesempatan pada anak untuk peduli kepada orang lain. Pupuk kepedulian dan empati anak tunggal dengan banyak melibatkan ia dengan kegiatan sosial, seperti berkunjung ke panti asuhan, mengajari anak-anak yg lebih kecil di mesjid atau gereja, berbagi makanan dengan teman sekolahnya atau memberinya tanggung jawab dengan merawat hewan peliharaan.

Tak terkecuali, orangtua juga perlu kiranya untuk menurunkan pengharapannya pada si semata wayang ini. Memang wajar bila orangtua dari anak tunggal, biasanya memiliki pengharapan yang tinggi terhadap anaknya. Tak heran bila anak tunggal cenderung memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dan prestasi akademik yang lebih baik karena ia mendapatkan seluruh perhatian orangtuanya. Situasi ini dapat membentuk sikap perfeksionis pada anak tunggal. Hal ini menjadikan anak tunggal rentan terhadap perasaan frustrasi apabila tidak mencapai target yang telah ia tentukan. Orangtua dapat menyeimbangkan sikap anak tunggal dengan  menyeimbangkan ekspektasi terhadap anak tunggal. Hargai juga usaha dan keinginannya untuk menerima kegagalan dengan cara yang positif, seperti menambah pengalaman dan belajar dari kesalahan. (hil)

Foto: freepik.com