Dampak Perceraian Terhadap Psikis Anak

Perbincangan tentang anak yang belum cukup umur lalu harus terbiasa mendengar percekcokan di dalam keluarga memang sedang memanas. Mereka yang hidup ditengah keluarga keras memang harus menyesuaikan diri bahwa orang tua mereka memiliki sifat atau watak yang keras. Tak hanya itu, terkadang mereka harus menahan diri di dalam kamar ketika mendengarkan orang tua mereka saling adu mulut satu sama lain.

Ketika seorang ayah atau ibu salah satu di antara mereka harus mengucapkan kata perceraian dan seorang anak mendengarnya, psikisnya pun bermasalah. Bagaimana tidak, anak yang tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis harus dipaksa untuk berfikir tentang hidup mereka kedepan. Hidup yang akan terus dihantui oleh pilihan. Seorang anak harus memilih mana yang terbaik untuk masa depannya, yang seharusnya belum waktunya untuk dipikirkan.

Mereka yang memiliki perasaan bimbang karena siapa yang harus dipilihnya untuk menjadi tempat berteduh ketika ayah dan ibunya tidak lagi bersama. Seorang anak memilih ibunya karena berpikir bahwa ibu yang melahirkannya dan ibu juga yang bisa mengasuhnya dengan sabar sepanjang hari. Namun, mereka yang memilih untuk melanjutkan hidup bersama ayahnya bukan berarti mereka tidak sayang kepada ibunya. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan sang anak tidak bisa melanjutkan hidupnya dan mengejar masa depannya bersama ibunya.

Masih sering terjadi kasus tentang ibu yang menganiaya anak kandungnya atau bahkan ibu yang tega membunuh anak kandungnya. Bisa jadi ini adalah salah satu alasan mengapa mereka anak – anak korban perceraian memilih hidup bersama ayah daripada ibunya. Ada juga mereka yang harus hidup dengan nenek atau kakeknya. Orang tua sudah tidak mau lagi mengurusnya sehingga sang anak korban perceraian orang tua ini harus tetap melanjutkan hidupnya untuk mengejar masa depannya bersama nenek dan kakeknya.

Beberapa orang tua memilih untuk tetap berkomunikasi dengan baik setelah adanya perceraian. Mereka yang masih memilih jalan ini dengan alasan supaya psikologi anak mereka tidak akan terganggu. Namun bagi mereka orang tua yang sudah bercerai, akan sangat sulit melakukan hal ini. Mereka masih terbendung rasa sakit hati pun rasa kecewa setelah apa yang mereka lakukan pada saat berumah tangga.

Tak hanya itu, orang tua yang terpaksa bercerai dan menelantarkan anak mereka juga masih sering terjadi di Indonesia ini. Setelah perceraian itu terjadi, mereka tidak memikirkan lagi tentang anak bahkan mereka merasa sudah tidak ada lagi beban anak dalam hidup mereka. Mirisnya, perilaku mereka harus mengorbankan psikologi buah hati mereka. Beberapa orang tua yang lain memilih untuk memperebutkan hak asuh anak yang artinya mereka masih menginginkan untuk hidup harmonis dalam keluarga meskipun harus kehilangan salah satu anggota keluarganya. Entah ayah ataupun ibunya.

 

Dalam hal ini, anak yang menjadi korban perceraian atas orang tuanya terkadang memiliki beberapa opsi untuk hidup kedepan. Mereka yang memilih untuk terus bangkit dan semangat tanpa memikirkan apa yang sedang terjadi terhadap keluarganya, akan terasa baik – baik saja. Namun untuk mereka yang menjadi korban perceraian orang tuanya dan tidak bisa mengendalikan dirinya untuk terus menjadi baik, wajar saja mereka akan menjadi anak yang kurang perhatian dari orang tuanya dan lalu mengambil tindakan yang sangat tidak diinginkan. Hal ini masih sering terjadi di Indonesia atau bahkan di sekitar kita.

Foto : Freepik.com

Bila Adik Cemburu pada Kakak

Biasanya kita sering mendengar bahwa seorang kakak cemburu terhadap adiknya. Terutama bila sang adik ini baru lahir dan jarak usia kakak hanya terpaut 2-3 tahun dengan si adik. Akan tetapi, apakah mungkin

Kecemburuan ini terjadi berbalik, dimana seorang adik yang notabene berusia batita justru cemburu terhadap kakaknya yang sudah sekolah?

Hhm…hal itu memang bisa saja terjadi. Seperti pada ilustrasi di atas, ‘konflik’ antara si batita Keisha dengan kakak Reza kadang cukup alot.  Latar belakang atau penyebab utama seorang adik cemburu terhadap kakaknya umumnya diawali karena seorang adik sudah semakin besar dan memiliki skill atau keterampilan tertentu.

Di sisi lain, si kakak merasa terancam dengan skill yang dimiliki adiknya tersebut. Akhirnya, sang kakak merasa perlu menonjolkan skill-nya di depan adiknya dengan cara yang mungkin sedikit agresif. Apalagi jika Mama-Papa memberikan perhatian lebih kepada kakak, lalu si adik merasa cemburu. Sang adik merasa dan menilai kakaknya mendapatkan perhatian yang lebih banyak atau sering ketimbang terhadap dirinya.

Misalnya, si kakak dibelikan sepeda baru karena ia sudah mampu untuk bermain sepeda sendiri. Lalu, papa lebih banyak menemani si kakak bermain sepeda. Atau contoh lain, bila si kakak punya skill menggambar yang cukup baik, sehingga membuat orangtua memfasilitasi kakak dengan berbagai les atau lomba tertentu. Hal ini membuat si adik merasa tidak perhatikan sehingga ia merasa cemburu.

MERASA TERANCAM

Nah sebenarnya apa sih arti dari rasa cemburu bila dipandang dari sudut psikologis? Kecemburuan didefinisikan sebagai kehilangan atau ancaman akan kehilangan sesuatu yang berharga karena orang lain atau rival. Kecemburuan ini hanya dapat muncul dalam sebuah hubungan yang dekat dan dianggap berharga. Biasanya obyek kecemburuan dalam kasus ini adalah kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya

Lantaran itu, seorang anak batita bisa merasakan perasaan cemburu karena pada tahapan usia ini ia sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Ia juga merasa dirinya paling penting dan menganggap dirinya sebagai pusat perhatian. Alhasil, bila anak ini tidak menjadi pusat perhatian, maka muncul rasa cemburu dengan orang sekitarnya. Bahkan ia menunjukkan perilaku agresif sebagai perwujudan rasa amarah atau kesal karena cemburunya itu

Di sisi lain, perlu juga diketahui, ternyata jenis kelamin anak juga ternyata memengaruhi rasa cemburu ini. Berdasarkan hasil penelitian, perasaan cemburu seorang anak akan cenderung lebih tinggi pada anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini terjadi karena mungkin dipengaruhi oleh kepribadian dan temparemen si anak perempuan yang cenderung lebih sensitif dan lebih ekspresif dibandingkan anak laki-laki.

CEMBURU YANG WAJAR

Mama-Papa tentu tak perlu khawatir atau terlalu cemas bila terjadi kecemburuan adik terhadap kakak. Kecemburuan seorang anak terhadap saudara kandungnya ini masih tergolong wajar, asal tidak dibiarkan berlarut-larut. Pasalnya, kecemburuan seperti ini merupakan suatu fase seorang anak batita untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Dengan kejadian seperti ini, anak menjadi belajar bagaimana menyelesaikan masalah ketika terjadi konflik dengan saudara kandungnya.

Lalu bagaimana sikap Mama-Papa ketika si adik tampak menunjukkan rasa cemburunya pada sang kakak? Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:

– Orangtua coba amati dulu. Ketika konflik antara adik-kakak terjadi, tidak perlu terburu-buru untuk membantu menyelesaikannya.

-Biarkan kedua anak tersebut mencoba menyelesaikan konfliknya sendiri.

-Bila kondisi makin memanas, orangtua dapat memisahkan anak terlebih dahulu.

-Biarkan keduanya tenang beberapa saat. Waktunya pun bervariasi tergantung karakter masing-masing anak.

– Setelah tenang, ajak anak untuk berdiskusi dan ketahui apa yang menjadi sumber masalah kecemburuan itu.

– Jelaskan pada anak dengan bahasa yang mudah dimengerti bahwa dua-duanya memberikan kontribusi dalam konflik yang terjadi.

-Bila kondisi sudah lebih tenang, orangtua dapat memberikan nasihat kepada si kakak dengan cara baik-baik dan tidak di depan si adik. Misalnya, “kakak tidak perlu pamer ke adik kalau punya sepeda baru, mending kakak ajak adik bermain bersama dengan sepeda baru kakak. Nanti kakak yang dorongin sepedanya, ya”.

-Begitu juga pada sang adik. Jelaskan kenapa kakak diberi hadiah sepeda. Kenapa dirinya belum mendapat sepeda seperti kakak. Lalu, ajak ia u(intuk bermain dengan sang kakak.

MEMINIMALKAN RASA CEMBURU

Dalam mengatasi konflik antara adik-kaka, peran orangtua sangatlah penting. Berikut poin-poin lain yang perlu diperhatikan Mama-Papa yaitu: 

-Perlu dingat bahwa setiap anak unik adanya sehingga akan lebih baik untuk tidak membanding-bandingkan apalagi dilakukan di depan anak.

-Orangtua juga akan lebih baik untuk seimbang dalam memberikan perhatian kepada anak-anak.

-Tak hanya memberi perhatian, tetapi juga mendengarkan serta menghargai pendapat dari setiap anak tanpa menghakimi. Alhasil, anak merasa dihargai oleh orangtua dan rasa cemburu kepada saudaranya pun akan lebih berkurang bahkan tidak ada sama sekali. (hil)

Foto: freepik.com

Pahami Peran Utama Ayah (2)

*Ayah Teman Ngobrol yang Asyik 

Ayah perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak. interaksi verbal ini sebaiknya dua arah. Ayah pun menjadi pendengar yang baik untuk mengetahui apa yang dipikirkan, dirasakan dan diinginkan/dibutuhkan anak.

Hal yang perlu dilakukan:

-Luangkan waktu untuk berbincang dengan anak. Berceritalah tentang apa saja, kegiatan, rencana, hal-hal lucu dan sebagainya. 

-Ketahui apa yang menjadi kesukaannya, sesuatu yang tak disukainya, siapa teman-temannya, apa kegiatan yang ingin dilakukannya,.

-Saat berbincang sampaikan nilai-nilai kebaikan, kata-kata penyemangat serta keteladangan sang ayah. 

Manfaat yang dipetik:

-Membangun ikatan emosional

-Mengembangkan percaya diri

-Menanamkan nilai-nilai hidup dan sosial. 

*Ayah Pembimbing yang penuh Kasih 

Ayah bukanlah sosok “penghukum”. Menegakkan disiplin bukan dengan cara menghukum. Hukum bukan cara yang tepat agar anak berperilaku sesuai seharusnya. Akan tetapi, ingatlah dan beritahu ia bila berlaku tidak benar. Memberi hukuman membuat anak malu, merusak kepercayaan serta hubungan dengan ayah. Selain itu dapat merusak rasa otonomi dan inisiatif.

Hal yang perlu dilakukan:

Sebagai pembimbing yang bijaksana dan penuh kasih, ayah sebaiknya:

-Mengajarkan perilaku yang baik tentang norma dan nilai di lingkungan sosial. 

-Membantu anak membedakan benar-salah.

-Membantu anak memahami konsekuensi atas perilakunya.

-Mengoreksi perilaku yang tak baik dan memberi pujian atau semangat ketika anak berperilaku baik.

Manfaat yang dipetik:

-Anak mengetahui mana yang benar dan salah.

-Berusaha berperilaku sesuai norma dan nilai yang baik.

-Anak berperilaku disiplin

-Pujian, dorongan dan semangat atas perilaku yang baik membuat anak percaya diri dan bertanggung jawab. 

*Ayah Perencana Masa Depan yang Bijaksana

Ayah berperan dalam mempersiapkan buah hati untuk menghadapi tantangan hidup di dunia luar, termasuk melindunginya saat dibutuhkan. Jangan sampai terlambat atau menunggu ia menjadi dewasa untuk mengajari pelajaran kehidupan yang penting.

Hal yang perlu dilakukan:

-Utarakan tentang nilai-nilai dalam keluarga, tentang moral, tujuan pendidikan,  serta nasihat-nasihat untuk berperilaku.

-Jelaskan tentang pentingnya kejujuran, pelajaran praktis melalui aktivitas sehari-hari.

-Persiapkan anak untuk memasuki dunia nyata dengan mentransfer pengetahuan tentang kehidupan. 

Manfaat yang dipetik:

-Anak belajar mandiri, berperilaku baik, optimis, memiliki visi ke depan.

-Membangun kemitraan dengan ayah sebagai penyemangat dan pendorong menuju keberhasilan di masa depan.

-Anak belajar untuk melindungi dirinya sendiri kelak karena orangtua tak selamanya akan bersama dia.

Foto: freepik.com

Pahami Peran Utama Ayah (1)

Dalam kurun waktu 50 tahun, terjadi perubahan yang besar tentang sosok ayah dalam keluarga. Dulu ada istilah “Ayah tahu yang terbaik”. Seiring waktu, berubah menjadi “Ayah tidak tahu apa-apa”. Lalu, berganti lagi menjadi  “Siapa yang butuh ayah?”. Fenomena ini tentu memprihatinkan.

Akan tetapi, kini di Amerika Serikat (dan negara-negara lain) peran ayah telah berubah. Ayah di masa sekarang  lebih bertanggung jawab dalam membesarkan buah hati. Ayah menjadi sosok yang banya berperan dalam mendidik dan mengasuh anak. Tak sedikit ayah yang terlibat penuh dalam setiap aspek kehidupan anaknya.

Istilah “ada untuk anak” bukan berarti sosok ayah hadir secara fisik semata. Akan tetapi, ayah berperan memenuhi kebutuhan psikologis, emosional dan sosial anak. Ya, peran ayah tak sekadar sebagai penyedia keuangan. Hasil studi tentang perilaku pengasuhan menyebutkan, ayah juga berfokus pada tanggung jawab pengasuhan dasar. Tentu bukan berarti pengasuhan dasar itu tak bisa dilakukan ibu. Ayah dan ibu bersinergi, saling mengisi peran sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang optimal.

Nah, berikut beberapa peran sang ayah dalam pengasuhan anak:

*Ayah Penyelesai Masalah yang Hebat

Ayah berperan membantu si buah hati mencari solusi atas kendala yang dihadapi sehari-hari. Misal, anak kesulitan mengerjakan PR, bagaimana memperbaiki sepeda, membuat ayunan di pohon dan sebagainya.

Hal yang dilakukan ayah:

-Mendampingi, mencari tahu kesulitan anak, dan mengajak menemukan solusinya.

-Memberi contoh bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi.

-Mengajarkan cara mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensi atas tindakan yang diambil.

Manfaat yang dipetik anak:

-Mandiri. Tak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah di kehidupannya.

-Belajar terbiasa mengambil keputusan dengan tepat dan bertanggung jawab.

-Tak agresif dan lebih populer di kalangan teman sebaya dan guru di sekolah karena memiki kemampuan yang diajarkan ayahnya tersebut.

*Ayah Teman Bermain yang Seru 

Penelitian menunjukkan, ayah cenderung mengajak bermain anak dengan beragam kegiatan fisik yang menguras energi.

Hal yang dilakukan ayah:

-Luangkan waktu untuk hanya fokus mengajak anak bermain. Misalnya, mengajak bermain bola, outbond atau permainan lain yang menantang dan seru yang membuat anak senang. 

-Selalu cari aktivitas fisik yang bervariatif agar anak tak merasa jenuh dan bosan.

-Rencanakan kegiatan bermain apa yang ingin dilakukan bersama.

Manfaat yang dipetik anak:

-Mengasah kemampuan motorik, otot dan koordinasi tubuh.

-Belajar tentang aturan berperilaku, misalnya bergantian

-Belajar kemandirian dan otonomi sebagai tonggak utama pertumbuhan sosial dan emosial anak.

-Membuka “jendela dunia” sehingga diketahui apa pikiran, perasaan, harapan dan impian anak.

-Membangun mental anak, seperti rajin atau tak malas. 

-Membangun interaksi yang baik dengan ayah. 

Foto: freepik.com