Enam Rekomendasi Hidup Beradaptasi dengan Covid-19

Berdasarkan data pemerintah, sudah lebih dari 23 ribu kasus pasien terinfeksi virus corona aau covid-19 di Indonesia. Vaksin belum akan tersedia setidaknya sampai dengan akhir 2021. Program imunisasi akan memerlukan waktu cukup lama lebih kurang dua tahun berikutnya untuk seluruh populasi. Sementara kehidupan harus terus berjalan. “Sampai vaksin ditemukan dan imunisasi massal dilakukan masyarakat harus beradaptasi dengan Covid-19 melalui mitigasi yang terkontrol dan terukur berbasis data,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Laksana Tri Handoko.

LIPI memberikan enam rekomendasi untuk hidup beradaptasi dengan Covid-19. Rekomendasi pertama adalah kontrol dan mitigasi yang terukur untuk pengaktifan aktivitas ekonomi masyarakat. “Fokusnya di screening massal di simpul mobilitas publik berbasis Rapid Diagnostic Test atau RDT dan uji Polymerase Chain Reaction atau PCR di lokasi kerumunan permanen seperti rumah sakit, sekolah dan kampus, dan perkantoran serta industri,” jelas Handoko.

Kedua, penanganan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dengan data akurat, masif dan terukur. “Pasien positif dan keluarganya dikenakan masa isolasi dan karantina. Untuk pasien positif dari masyarakat berpenghasilan rendah, keluarganya ditetapkan sebagai penerima bantuan sosial,” jelasnya. Selain itu juga dilakukan disinfeksi menyeluruh di lokasi dengan kasus positif.

Pengetatan pelaksanaan Protokol Utama Penanganan Covid-19 seperti kewajiban memakai masker di semua lokasi dan kondisi, jaga jarak di semua aktivitas, serta kebersihan dan strerilisasi menjadi rekomendasi LIPI berikutnya. “Bila perlu dilakukan dengan mekanisme pemberian denda bagi yang melanggar,” terang Handoko.

Rekomendasi kempat adalah pengerahan seluruh infrastruktur dan SDM untuk meningkatkan kapasitas uji berbasis RDT dan PCR. Meliputi pengadaan nasional untuk RDT dan test kit PCR dari sumber teruji serta rekrutmen SDM untuk operator swab, ekstraksi sampel, dan analisis hasil uji. “Alat PCR yang ada di seluruh instansi dan kampus dikelola secara terpadu sehingga distribusi sampel dapat diatur dengan baik dan hasil cepat keluar,” ujar Handoko.

Kelima, pembentukan Tim Pakar untuk setiap sektor untuk evaluasi dan pemberian rekomendasi teknis lebih lanjut secara berkala. Tim Pakar terdiri dari praktisi dan ilmuwan di sektor terkait dan ahli epidemiologi. “Sehingga rekomendasinya berbasis data dan perkembangan sains dengan didukung rekayasa teknologi untuk mendukung implementasi,” ungkapnya.

Rekomendasi keenam adalah penguatan ketahanan dengan mempercepat riset terkait dengan konten lokal. Rekomendasi ini meliputi pengembangan suplemen penguat imunitas tubuh dari bahan alam lokal, karateristik biologi virus SARS-CoV2, pembuatan bahan dan test kit uji PCR lokal, metode baru uji virus secara molekular sehingga lebih murah dan mudah dilakukan di berbagai fasilitas, pengembangan Rapid Diagnostic Test lokal, dan pengembangan alat sterilisasi barang berbasis disinfektan untuk area publik. “Juga penciptaan model bisnis baru untuk UMKM melalui teknologi tepat guna berbasis riset, sehingga bisa menjangkau pasar yang lebih luas dengan daya tahan lebih lama,” kata Handoko.

Foto : freepik.com

Efek Psikis New Normal saat Pandemi Covid-19

Memasuki bulan ketiga, Indonesia dilanda pandemi covid-19. Sejak Maret, kita mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan, selain juga adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai upaya menekan peningkatan angka kasus covid-19.

Adanya berbagai aturan dan anjuran untuk mencegah penyebaran penyakit ini, mau tak mau telah menyebabkan berbagai dampak psikis lantaran perubahan cara berkehidupan secara sosial karena pandemi ini. Tak sedikit orang yang mulai menjalani kehidupan dalam masa transisi yang mayoritas merasa gagap mengikuti perubahan yang cepat ini.

Aktivitas bekerja yang biasanya hadir di kantor, kini harus beradaptasi dengan menjalani work from home. Para pebisnis atau pedagang harus mengubah platform atau cara jualannya menjadi secara online. Kemudian, kalangan muda yang biasanya meluangkan waktu untuk nongkrong di resto atau kafe, kini harus banyak berdiam diri di rumah dan berinteraksi sosial secara virtual. Tak sedikit pula calon mempelai menunda pernikahan atau menikah dengan mekanisme tertentu, misalnya tanpa mengadakan pesta, untuk mengurangi risiko terjadinya penularan covid-19.  

Begitu dengan hal-hal lain yang tadinya bukan sebuah kebiasaan, kini harus menjadi perilaku sehari-hari yang rutin dilakukan. Misalnya, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, serta mengganti pakaian setelah dari luar rumah atau bepergian.

Nah, membiasakan diri dengan kehidupan new normal ini tentunya menjadi sebuah keharusan atau wajib. Hal ini mengingat vaksin untuk menangani covid-19 belum ditemukan dan masih jalan perjalanan prosesnya hingga bisa diproduksi secara massal. Di sisi lain, pandemi ini belum dapat diketahui secara pasti kapan akan berakhir.

Karena alasan-alasan tersebut, kita harus mengupayakan melakukan pencegahan penularan covid-19 ini dengan menjalani kehidupan baru yang aman baik ketika berinteraksi, bekerja serta aktivitas rutin sehari-hari lainnya. Bahkan seorang psikolog klinik yang juga penulis buku The Psychology of Pandemics Steven Taylor menyebutkan bahwa kita mungkin tidak akan benar-benar kembali ke keadaan normal seperti dulu.

Menurutnya, psikologis kita akan terbiasa menjaga diri dari risiko tertular dan merasa aman dengan cara hidup baru ini.  Mungkin sebagian dari kita masih sulit menerima dan beradaptasi dengan keadaan ini. Namun, sSebagian yang lain masih mencari cara untuk bisa beraktivitas secara maksimal dengan menerapan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Menurut psikiater dari Amerika Serikat, Elizabeth Kubler-Ross, kondisi ini menyebabkan efek psikologis di antaranya:

  1. Penolakan terhadap situasi. Tahap ini akan melibatkan penghindaran, kebingungan, goncangan, atau ketakutan.
  2. Marah dengan apa yang terjadi. Tahap ini akan melibatkan perasaan frustrasi, iritasi, dan kecemasan.
  3. Tawar-menawar atau berjuang untuk menemukan makna dari apa yang terjadi. Dalam tahap ini, terdapat keharusan membuat kesepakatan untuk menyelesaikan rasa penyesalan atau rasa bersalah.
  4. Depresi. Tahap ini dapat menimbulkan perasaan kewalahan, tidak berdaya, atau terisolasi.
  5. Penerimaan. Pada tahap ini, seseorang akan mencapai perasaan tenang dan menerima keadaan. Selain itu, penerimaan terhadap keadaan juga membuat pikiran mulai bekerja dan mencari tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk beradaptasi dengan keadaan.

seseorang mencapai tahap penerimaan pada kondisi baru akan lebih bersedia untuk menerima new normal dalam kehidupannya. Masa depan setelah pandemi ini memang belum bisa diprediksi. Namun, kita harus siap untuk menghadapi masa kini dan masa depan dengan sikap menerima dan menyesuaikan atau beradaptasi dengan situasi sekarang ini.

Foto : freepik.com

Riset Efek Lockdown Terhadap Mental Manusia

Pandemi virus corona atau covid-19 ini membawa dampak yang sangat luas. Salah satunya, efek terhadap mental seseorang. Sebuah riset yang dilakukan oleh tim peneliti di Swiss menunjukkan bahwa upaya lockdown atau pembatasan sosial ternyata  membawa dampak secara mental atau psikologis yaitu dapat mengurangi umur manusia.

Hasil penelitian dari para ilmuwan tersebut dipublikasikan pada jurnal medRxiv. Ini merupakan jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Adapun judul penelitian tersebut adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Penelitian ini melibatkan  4 orang ilmuwan yang dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss selain itu ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Tim peneliti ini mengatakan bahwa strategi mitigasi sosial yang diterapkan dalam masa pandemi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia tersebut.

Inilah yang disebut dengan ‘years of life lost’ (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Adapun riset ini dilakukan di Swiss.

Para peneliti mencatat persoalan mental akibat lockdown selama pandemi corona atau covid-19 ini yaitu bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Adapun riset tersebut dilakukan selama 3 bulan masa lockdown.

Hasil penelitian ini tentunya cukup mengejutkan. Rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown covid-19. Meski begitu ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL. Karena itu, selama masa pandemi dan berdiam di rumah sebaiknya tetap usahakan untuk selalu bahagia.

Foto : freepik.com

Sehat Jiwa Raga dengan Silaturahmi di Dunia Maya

Hari Raya Idul Fitri 2020 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, bertemu bersilaturahmi menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu saat Lebaran. Namun, untuk tahun ini, momentum bisa silaturahmi secara langsung umumnya tidak bisa dilaksanakan karena di tengah pandemi virus corona atau covid-19 ini.

Di saat wabah ini, kita dianjurkan untuk melakukan social/physical distancing dan berbagai protokol kesehatan lainnya demi mencegah penyebaran penyakit infeksi ini. Karena itu, silaturahmi di masa lebaran kali ini hanya bisa dilakukan secara virtual, online atau melalui dunia maya.

Meski begitu, silaturahmi secara virtual ini tidak mengurangi makna saling bermaafan antara keluarga, kerabat dan handai taulan lainnya. Walaupun dilakukan dengan sarana teknologi seperti Whatsapp video, zoom, google dan sebagainya, kita tetap bisa melepas kangen dengan keluarga nun jauh di sana.

Yang pasti, esensi dari saling memaafkan ini tetap dapat dilakukan meski tidak saling berpeluk dan mencium tangan orangtua secara langsung. Nah, mengucapkan maaf dan memaafkan ini dapat memberikan efek positif terhadap kesehatan. Tak sedikit riset yang membuktikan bahwa kata maaf memberi dampak yang luar biasa.

Dengan satu kata ‘maaf’ ini, akan memunculkan rasa damai, harapan, ketenganan dan suka  cita. Ya, mengucapkan maaf dan memaafkan bisa membuat kita lebih sehat, baik secara fisik, emosional bahkan spiritual.

Adalah penelitian yang dilakuan oleh tim riset dari University of Massachusetts, mereka membuktikan bahwa kata maaf dapat menurunkan tekanan darah bagi pasien yang mengalami hipertensi/tekanan darah tinggi. Riset tersebut menyebutkan, tekanan darah para responden ini turun hingga 20 persen lebih cepat ketika mendengar kata maaf.

Nah, berikut ini efek positif yang bisa didapat bila saling memaafkan, seperti dikutip dari Mayo Clinic:

– Interaksi atau hubungan yang lebih sehat
– Dapat meningkatkan kesehatan mental
– Terhindar dari depresi
– Imun atau sistem kekebalan tubuh jadi lebih kuat
– Kesehatan jantung meningkat
– Tekanan darah terkontrol
– Meningkatkan kepercayaan diri

Nah, yuk membiasakan saling memaafkan, tidak harus menunggu momen Idul Fitri.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19, Atasi Stres pada Anak

Wabah covid-19 telah memberikan dampak yang sangat luas.  Tidak hanya sektor kesehatan, tapi juga sektor lainnya seperti ekonomi, pendidikan, wisata, dan sebagainya. Pandemi global yang terjadi hampir serentak di seluruh dunia dan terjadi ‘tiba-tiba’ ini berefek pada psikologis setiap kalangan individu, tak terkecuali anak-anak.

Tentunya orangtua perlu membantu buah hati untuk mengatasi dampak kesehatan mental akibat pandemi ini. Kondisi merasa tertekan, cemas atau stres memang tak boleh dibiarkan begitu saja.  Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga mengalami krisis mental dengan berbagai gejala yang muncul.

Seperti dikatakan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), kalangan anak-anak dan remaja menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami stres karena pandemi covid-19 ini. “Rasa takut dan cemas mengenai suatu penyakit bisa menyebabkan emosi yang kuat pada orang dewasa dan juga anak-anak,” papar pihak CDC.

Pada masa pandemi ini, anak-anak mengalami perubahan aktivitas. Mereka merasa kehilangan keseharian, belajar dan bermain di rumah hanya dengan keluarga. Kegiatan mereka menjadi terbatas.  Karena itu, orangtua harus memerhatikan dan mendampingi anak. Entah itu ketika belajar ataupun bermain.

Tak kalah penting, kondisi mental orangtua sendiri perlu diperhatikan. jangan sampai orangtua juga merasa stres. Misalnya, karena situasi ekonomi rumah tangga yang menurun atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja. Jadi, orangtua perlu mengatasi masalah stress yang dialami karena bisa berdampak juga pada anak.

“Hal pertama yang perlu orangtua pahami adalah bagaimana stres mempengaruhi orangtua. Orangtua erlu mengatasi stres pada diri sendiri sebelum berinteraksi dengan anak,”kata seorang psikolog anak Abigail Gewirtz.

Sebagian anak mungkin tak mengungkapkan perasaan cemas, kesal, stress secara verbal. Akan tetapi, kondisi stres pada anak dapat dilihat dari adanya perubahan perilaku. Beberapa ciri anak mengalami stres di antaranya adanya penurunan selera makan, masalah tidur serta perubahan suasana hati.

Nah, berikut beberapa cara yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu anak atasi stres saat pandemi covid-19:

  1. Tanggapi perubahan anak secara suportif

Anak-anak bisa merespons stres dengan cara yang berbeda-beda, misalnya merasa cemas, marah, menarik diri, lebih manja, gelisah atau bahkan mengompol. Untuk menanggapi hal itu, orangtua perlu merepons perubahan perilaku anak dengan memberikan dukungan dan perhatian lebih. Tunjukkan hal-hal positif pada anak saat orangtua mendengarkan mereka mencurahkan kekhawatirannya. Tentunya tak perlu memaksa anak untuk menceritakan masalahnya jika mereka tidak mau. Beritahu bahwa orangtua selalu ada di sisinya untuk membantu.

2. Berikan perhatian lebih

Orangtua perlu menunjukkan kasih sayang dan perhatian ekstra.  Ya, pada saat pandemi ini, anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang dewasa terutama orangtuanya agar tidak stres. Tanyakan keadaan anak dalam suatu waktu sekali, misalnya saat bangun pagi, sebelum makan siang, dan sebelum tidur malam. 

3. Jaga komunikasi dengan anggota keluarga lain

Luangkan waktu khusus untuk berkegiatan santai bersama anak. Biasanya, mereka akan merasa senang jika Anda bisa menghabiskan waktu bersantai bersama mereka.

Ajak anak untuk berkomunikasi secara rutin dengan kerabat dan anggota keluarga lain, misalnya dnegan menelepon kakek dan nenek.

4. Jelaskan pandemi yang sedang terjadi

Perubahan kondisi dan kebiasaan yang tiba-tiba seperti pemberlakuan physical distancing tentu menimbulkan pertanyaan di benak anak. Jelaskan mengenai pandemi ini dengan cara sederhana dan mudah dipahami. Jangan lupa juga jelaskan bagaimana cara mengurangi risiko tertular  dan mengapa mereka tidak boleh keluar rumah. Beri tahu juga pada anak agar tidak perlu terlalu cemas dan stres akan kondisi pandemi saat ini.

Foto : freepik.com

Dampak Covid-19 bagi Kesehatan Mental Remaja

Pandemi covid-19 yang melanda dunia ini tidak hanya berefek pada kesehatan fisik. Akan tetapi, kesehatan mental juga dapat terdampak. Apa akibat negatif wabah ini bagi mental remaja?

Ya, penerapan physical distancing dan aktivitas belajar di rumah dalam jangka waktu yang relatif lama ini dapat memengaruhi kondisi psikis remaja. Awalnya, mungkin mereka merasa senang karena tidak perlu hadir di sekolah. Namun, seiring waktu berjalan, ada situasi dan kondisi yang rasanya ‘kurang bebas dan leluasa’, tidak seperti wabah ini terjadi.

Nah, menurut NYU Langone Health, mayoritas remaja menjadi tampak murung, sedih bahkan kecewa selama menjalani ‘karantina’ atau isolasi diri di rumah masing-masing. mereka bertanya-tanya kapan situasi ini akan selesai dan kembali seperti dulu.

Perubahan situasi yang cukup mendadak gegara pandemi ini memang berdampak secara psikologis. Para remaja belum bisa lagi bersosialisasi secara langsung dengan teman-temannya, bermain, beraktivitas, atau menonton acara bersama. Meski di satu sisi, mereka bisa berinteraksi dengan menggunakan teknologi seperti zoom meeting, google meeting dan sebagainya. Namun, atmosfernya tentu terasa berbeda.

Menurut dr. Aleta G. Angelosante, PhD, asisten profesor departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone Health, ada berbagai faktor yang perlu diketahui. Bahwa perasaan sedih, kecewa dan sebagainya itu hal yang wajar dan normal. Media sosial yang bisa dimanfaatkan tidak bisa sepenuhnya sebagai pengganti interaksi sosial di antara mereka.

Perlu diperhatikan orangtua bila si remaja kemudian menunjukkan gejala seperti berikut:

  • Merasa sakit perut, pusing, dan keluhan fisik lainnya.
  • Menjauh atau mengisolasi diri dari orangtua, teman, bahkan mengubah kelompok pertemanan.
  • Semangat belajar turun sehingga prestasi akademik pun melorot.
  • Sering mengritik diri sendiri

Lalu, bagaimana cara menangani efek negatif pademi covid-19 terhadap psikis remaja? Berikut ini, tips menjaga kesehatan berdasarkan panduan Badan Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) :

  • Pertahankan kegiatan rutin sehari-hari. Atau,susun berbagai aktivitas baru.
  • Ajak remaja untuk mengobrol santai tentang pandemi ini. Gunakan bahasa yang ringan dan mudah dipahami remaja.
  • Dukung terus semangat dan motivasi remaja dalam belajar. Ciptakan suasana belajar di rumah yang menyenangkan. Susun jadwal sehari-hari belajar, diselingi dengan kegiatan bermain yang mengasyikkan di rumah.
  • Libatkan remaja dalam kegiatan positif yang dapat mengungkapkan perasaannya misalnya, menulis, melukis, dan sebagainya.
  • Bantu si remaja untuk tetap aktif bersosialisasi dengan teman-teman atau kerabat dan saudaranya. Bisa dilakukan secara virtual menggunakan teknologi internet.
  • Pastikan si remaja tidak tergantung menghabiskan waktu hanya untuk bermain gadget atau games. Meskipun mengasyikkan, namun lama-lama akan terasa jenuh dan bosan. Selingi dengan kegiatan lain, mungkin misalnya olahraga ringan di dalam rumah, menyiram tanaman di halaman, memasak, menyanyi, dan kegiatan positif lainnya yang bisa dilakukan di rumah. Hal ini juga sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya.

Yang pasti, efek  pandemi covid-19 terhadap mental remaja perlu diwaspadai.  Peran orangtua sangat penting untuk selalu memerhatikan sang remaja. Boleh jadi, kelihatannya ia biasa-biasa saja tanpa masalah. Namun, tidak ada salahnya bila orangtua memerhatikan lebih seksama, lakukan pendepatan dan dialog yang terbuka sehingga bisa diketahui apakah ia baik-baik saja. Atau, justru kondisi mentalnya terdampak pandemi covid-19.

Foto : freepik.com

Cegah Bosan di Rumah saat Pandemi Covid-19

Kebosanan muncul pada sebagian keluarga di rumah saja karena sifat pasif. Mengapa sebagian keluarga merasakan kebosanan hidup satu atap bersama keluarga? Jawaban yang seringkali muncul adalah karena tidak memperoleh atau tidak mendapatkan, atau tidak “menemukan” hal yang menarik perhatian yang dirasa menyenangkan dalam kehidupan keluarga di rumah.

“Sehingga solusinya mudah jika tidak ingin merasa bosan, yaitu ubah menjadi bersifat aktif. Kunci agar anggota keluarga memiliki perilaku aktif tersebut berkaitan dengan “value atau nilai” tentang keluarga. Seberapa penting keluarga bagi seseorang? Seberapa penting terbangunnya ikatan keluarga antar anggotanya? Seberapa penting waktu kebersamaan antar keluarga? Seberapa penting membangun suasana yang sehat dan membahagiakan di keluarga,” ujar Prof Euis Sunarti, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga, IPB University sekaligus Ketua Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia.

Jadi, bagaimana anggota keluarga mencari, menggali, mengembangkan, menciptakan aktivitas yang menyenangkan dan atau yang menarik perhatian dalam rutinitas kehidupan keluarga.

Menurut Prof. Euis Sunarti, ada delapan tips mencegah kebosanan “dirumah_ aja” saat wabah COVID-19. Yakni ubah nilai dan cara pandang. Jadikan kesempatan “dirumah aja” sebagai momen berharga untuk keluarga menemukan jati dirinya, untuk tumbuh dan tumbuh dan berkembang. Kedua, bangun kesadaran berharganya keluarga dan waktu kebersamaan keluarga. Ketiga, perluas ruang dan irisan komunikasi antar anggota keluarga, sehingga banyak hal yang bisa diceritakan, diobrolkan dan didiskusikan dalam keluarga.

“Bangun suasana keterbukaan antara anggota keluarga dan lakukan hal-hal atau aktivitas yang meningkatkan kebersamaan. Kelima periksa dan tambal bolong-bolong tugas perkembangan keluarga dan tugas perkembangan setiap individu. Keenam, dorong minat dan hobi anggota keluarga dan atau menumbuhkan kepeminatan baru  seperti memfoto, memasak, menjahit, buat desain grafis, buat menulis, berkebun, dan lain-lain,” ujarnya.

Selain itu, ekspresikan semangat, kesenangan, kepuasan, dan kebahagiaan dalam mengerjakan rutinitas sehari-hari (menularkan energi positif agar sabar bertahan bersama, walau ada situasi yang tidak menarik dan menyenangkan). Berusaha mengembangkan humor, saling apresiasi dan penerimaan terhadap aktivitas yang dilakukan anggota keluarga. “Hindari hal-hal negatif seperti acuh-cuek, menyepelekan atau kritik berlebihan,” tandasnya.

Foto : freepik.com

Tips Manfaatkan Media Sosial Saat Wabah Covid-19


Untuk mengurangi kejenuhan saat Work From Home (WFH), biasanya kita lebih sering membuka media sosial. Namun tahukah Anda bahwa tidak semua informasi yang tersedia di media sosial adalah informasi yang benar atau faktual. Agar tidak termakan isu palsu atau hoax saat menggunakan media sosial, Willy Bachtiar, SIKom, MIKom, dosen dari Sekolah Vokasi IPB University bagikan tipsnya.

Pertama, follow akun resmi pemerintah dan media yang kredibel saja. Pada situasi saat ini, sebaiknya kita hanya mengakses berita atau informasi dari akun resmi pemerintah dan media yang terpercaya. Stay update penting, akan tetapi lebih penting memastikan sumber informasinya, setidaknya dapat meminimalisir berita hoax.

Temukan hal baru dengan menciptakan rasa ingin tahu yang besar. Contohnya mempelajari tanggapan orang lain terhadap suatu hal seperti buku, film, resep masakan selama bulan Ramadhan, olahraga yang aman, atau hal menarik lainnya. Karena hal tersebut merupakan cara yang baik untuk membangkitkan minat yang dapat mendukung keinginan untuk belajar hal baru, meningkatkan ikatan sosial dan menciptakan sikap yang lebih baik selama masa pandemi COVID-19.
 
“Jadikan media sosial sebagai sarana pengembangan diri. Kita dapat membagi ide, gagasan, atau hasil karya, juga pandangan terhadap suatu hal. Dengan media sosial juga kita bisa memperoleh banyak informasi dengan mengikuti forum diskusi online maupun mengikuti akun-akun yang memberi motivasi dan dampak positif bagi diri,” ujarnya.

Selain itu, kita juga bisa berbagi segala sesuatu yang telah dicapai. Menggunakan media sosial dengan cara yang positif juga bisa dilakukan dengan membagikan hal-hal yang kita lakukan dengan baik atau membagikan pencapaian yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Misalnya saja dengan memposting jumlah buku yang telah dibaca selama WFH, aktivitas olahraga, masakan buatan sendiri, atau kerajinan tangan buatan sendiri yang dilakukan di rumah.

Buatlah konten secara bijaksana. Di era digital saat ini, orang dengan sangat mudah menyebarkan konten positif maupun negatif. Padahal akibat dari konten yang dimuat di media sosial harus dipertimbangkan dahulu secara sungguh-sungguh. Apalagi di masa seperti ini semestinya kita membuat konten yang bijaksana, sebarkan kebaikan dan hal positif untuk mendukung sesama, serta kurangi konten yang cenderung menyudutkan dan provokatif.

“Kita juga harus membangun empati. Pada situasi saat ini, harus lebih teliti dan selekif dalam membaca sebuah informasi. Upayakan tidak berlebihan dalam ber-selfie karena bisa menghilangkan empati. Juga disarankan tidak banyak menggunakan emoticon atau emoji di media sosial saat terjadi musibah atau krisis seperti saat pandemi COVID-19,” imbuhnya.

Kurangi terlalu banyak informasi, karena pada situasi saat ini, kepanikan, rasa takut dan kecemasan dialami banyak orang. Kita harus paham dengan kondisi psikologis kita karena akan membantu imun kita tetap baik. Salah satu cara agar tidak mengalami masalah tersebut adalah dengan mengurangi banyak informasi yang diterima atau diakses. Kita harus bisa mengatur kapan harus mengakses informasi, informasi seperti apa yang harus dicari dan diterima, dan pastikan informasi yang valid dan krusial saja.

“Mari berlomba-lomba memberikan manfaat bagi khalayak. Pada masa pandemi COVID-19 ini, dengan penerapan Work From Home dan Learn From Home waktu yang kita miliki untuk mengakses media sosial tentu lebih banyak, namun pastikan menjadi lebih bermanfaat. Hal-hal yang bisa kita lakukan diantaranya adalah memberikan informasi tips dan trik atau cara menangkal virus COVID-19, mengedukasi masyarakat untuk mengetahui gejala COVID-19, prosedur dan langkah dalam penanganan COVID-19,” tandasnya.

Foto : freepik.com

Tips Kelola Perubahan di Masa Pandemi Covid-19

Tidak ada sesuatu yang permanen, kecuali perubahan, begitu ungkapan para filosof. Wabah COVID-19 telah mengubah seluruh sendi-sendi kehidupan. Diperlukan kemampuan kita agar siap dan mampu mengelola perubahan.

Pandemi COVID-19 membawa dampak perubahan pada masyarakat yang diharap hanya sementara, ibarat sekedipan mata. Lockdown, karantina, kacaunya rantai suplai logistik dan lainnya, merupakan sinyal dari sebuah komunitas yang mengalami pelambatan dari sebuah moda kecepatan tinggi.

Dr Siti Amanah, dosen dari Divisi Komunikasi dan Penyuluhan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University menyampaikan lima tips agar kita siap dan mampu mengelola perubahan.

Pertama, senantiasa terbuka akan perubahan, hindari praduga atau pikiran negatif. Hal ini memudahkan kita melalui berbagai situasi dan memberikan energi positif untuk melangkah ke depan.

Kedua, buat rencana aksi nyata untuk kurun waktu tertentu, setidaknya satu sampai dengan tiga tahun. Rencana hendaknya mempertimbangkan berbagai aspek termasuk sistem, struktur, sumber daya, tingkat dukungan serta kendala dalam realisasi rencana.

Ketiga, mengidentifikasi dan melibatkan pihak-pihak terkait dalam perubahan. Hal ini untuk memastikan perubahan berjalan lancar dan bermanfaat bagi individu, keluarga, kelompok, organisasi dan masyarakat luas. Keempat, memperjelas tahapan dan mekanisme perubahan.  Hal ini diperlukan  agar seluruh unsur dalam sistem atau organisasi mengerti “aturan main”, sehingga aksi terwujud sesuai harapan.

Kelima, memonitor dan mengevaluasi perubahan yang dicapai secara terus menerus. Hal ini dikarenakan setiap rencana perlu dilaksanakan, dimonitor, dievaluasi dan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Foto : freepik.com                                      

Cara Menguatkan Karakter di Masa Pandemi Covid-19

Pandemi COVID-19 menimbulkan banyak kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran, kemarahan dan kesedihan. Oleh karena itu diperlukan kekuatan karakter untuk menghadapinya dan mengatasinya dengan menguatkan karakter. Tentu dengan menguatkan karakter selama pandemi virus COVID-19 ini bukan berarti hanya berlaku selama pandemik saja.  

Pada kesempatan ini, Dr Dwi Hastuti, dosen IPB University yang juga Koordinator Mata Kuliah Pengembangan Karakter di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia, IPB University membagikan cara untuk menguatkan karakter selama masa pandemi COVID-19.

Menurutnya harus ada contoh model good character di rumah. Pembentukan kekuatan karakter secara sadar (conscious) dan tidak sadar (subsconsious) dimulai dari rumah. Oleh karena itu penting untuk memberikan teladan dan contoh perilaku baik di rumah. Contohkan perilaku baik di rumah bisa dimulai dengan menyapu rumah. Karena selama ini sibuk bekerja maka dapat dimulai sekarang dengan memberikan contoh kepada semua anggota keluarga.

“Tidak perlu banyak bicara, yang penting bukti dan hasil kerja yang baik. Be clear about your values, selama di rumah harus punya nilai paling penting. Sebagai contoh, di masa pandemi COVID-19, semua orang harus menjunjung nilai kebersihan, sanitasi dan hygiene agar tubuh sehat dan bersih,” ujarnya.  

Selain itu, menurut Dr Dwi, di saat bekerja di rumah dan banyak berada di rumah, kita juga harus menunjukkan rasa hormat kita kepada orang tua, pasangan, anak dan anggota keluarga yang lainnya. Berbicaralah dengan rasa hormat dan kasih sayang kepada mereka. Berikan contoh dalam berkata-kata yang baik, santun kepada seluruh anggota keluarga.

Make family activities, buat waktu bersama dengan anggota keluarga, makan bersama tanpa “gadget”, tanpa media sosial di tangan dan berikan perhatian kepada anggota keluarga akan membuat momen kebahagiaan. Plan many “enjoyable” moment, buatlah masa bekerja di rumah sebagai momen yang dapat dikenang oleh semua anggota keluarga. Don’t provide acces to drugs, alcohol or game on line, hindari apapun aktivitas yang membuat adiksi dan meracuni tubuh Anda dan anggota keluarga.

“Read and keep good literature in the home. Buatlah pojok baca di rumah Anda, agar gairah membaca buku dan kecintaan belajar (love of learning) terbentuk di rumah. Look at good television shows, videos and social media that could improve your possitive emotion. Saat berada di rumah, selektiflah atas tayangan televisi, video dan media sosial yang anda akses,” tambahnya.

Batasi juga penggunaan uang. Hal ini bisa dilakukan dengan bijak berbelanja selama Work From Home (WFH), ganti keasyikan berbelanja dengan masak bersama anggota keluarga. Diskusikan saat-saat menyenangkan dan saat liburan (di masa lalu atau masa depan). Karena pandemik tidak memungkinkan pergi jauh dan mudik, maka harus punya rencana atau membuat perencanaan untuk tahun depan.

“Kita juga dapat mulai membiasakan membagi tugas pekerjaan rumah tangga bersama anggota keluarga. Set clear expectations for yourself, harus menetapkan harapan untuk diri sendiri. Tetap sibuk dengan kegiatan yang positif. Dengan terus bekerja dirumah, maka emosi dapat terkontrol secara positif dan dengan tanggungjawab yang tinggi. Terima batasan Anda dan syukuri kekuatan yang kita punya. Kuatkan karakter banyak bersyukur atas apa yang sudah anda capai sejauh ini,” imbuhnya.

Masa pandemi ini adalah saat yang tepat untuk membantu orang lain. Ini merupakan bentuk syukur kita. Dengan membantu orang lain kita akan merasa diberkahi dan dirahmati Allah. Untuk itu kita harus punya karakter mau membantu orang lain.

“Manage your time and improve your time to reflect to God. Saat-saat seperti ini harus kita manfaatkan dengan semakin mendekatkan diri kepada sang pencipta dan waktu untuk refleksi untuk membangun kesabaran dan kontrol diri kepada keluarga,” tandasnya.

Foto : freepik.com