Tips Menyapih Bayi dengan Mudah

 

 

Ada banyak sekali tantangan ketika menjadi orang tua terutama ibu salah satunya adalah ketika waktu untuk menyapih anak sudah datang. Misalnya mereka sudah memasuki usia 1 tahun lebih atau bahkan menjelang 2 tahun.

 

Si kecil, harus berpindah antara ASI ke susu formula. Ada banyak sekali kendala terutama ibu muda yang bingung bagaimana cara melakukan menyapih anak. Karena seringkali merasa tidak tega adalah mereka. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa dilakukan di antaranya yaitu:

 

  • Lihat Tanda Kesiapan Anak

Cara pertama yang bisa dilakukan untuk membantu menyapih anak yaitu kenali tanda kesiapan anak, yang sering kali muncul dan juga berbeda memasuki usia 8 bulan. Umumnya mereka telah menjalani kebiasaan yang berbedam dan juga mengkonsumsi tambahan nutrisi seperti MPASI ataupun makanan lainnya.

 

Tanda-tanda ini sebenarnya bisa dicarikan sebagai cara untuk mempersiapkan anak agar lebih mudah untuk menyapih mereka. Sehingga ibu bisa mengurangi seperti ini tas mereka mengkonsumsi ASI langsung dan bisa mengalihkannya dengan botol susu ataupun gelas minuman. Selain itu respon anak akan ada makanan di dekatnya, akan menjadi indikator. Si Kecil akan menghindari adanya pemberian ASI secara langsung, dan terbiasa untuk mengkonsumsi makanan dengan mudah.

 

  • Jangan Menentukan Target

Cara yang bisa dilakukan untuk bisa menyapih anak yaitu jangan menentukan target kepada si kecil. Hal ini seringkali menjadi salah satu indikator dan kesalahpahaman banyak ibu muda dimana mereka melihat ibu lain, berhasil menyapih anaknya sebelum usia 2 tahun.

 

Padahal jika memaksakan hal tersebut yang ada. Kamu justru tidak bisa menghargai ataupun menikmati proses dengan si kecil setiap anak, pasti memiliki kesiapan yang berbeda ada yang mungkin sudah terbiasa dari kecil. Ada juga yang belum siap dan masih membutuhkan nutrisi yang cukup banyak. Sehingga biasakan saja, kamu sebagai ibu untuk  mempersiapkan diri, untuk menyapih anak tanpa harus memaksakan.

 

  • Afirmasi Si Kecil

Kegiatan menyapih anak bukan hanya dilakukan oleh ibu, tetapi juga masih kecil apabila ada perubahan pada kegiatan yang mereka lakukan. Cobalah untuk afirmasi atau menegaskan kepada si kecil secara berulang. Beritahu mereka bahwa usianya sudah semakin besar sehingga akan ada kebiasaan yang berubah.

 

Salah satunya yaitu tidak lagi meminum ASI langsung dari si ibu. Dengan demikian anak mulai paham apabila ada perubahan, dan tentu saja hal tersebut akan dilakukan secara berulang-ulang. Memasuki fase tidur ataupun sebelum tidur kamu juga bisa melakukan penegasan tersebut. Sehingga hal ini akan terbawa oleh si kecil tanpa sadar.

 

  • Kurangi Frekuensi Menyusui

Selanjutnya mengurangi frekuensi untuk menyusui menjadi salah satu tips yang tidak disadari, oleh banyak ibu. Padahal sangat ampuh mengurangi frekuensi menyusui juga bukan berarti langsung bisa dilakukan sama sekali ataupun menghilangkan kebiasaan menyusui sama sekali. Tetapi misalnya saja ketika mereka terbiasa untuk meminum asi pada waktu pagi, siang, sore, malam.

 

Kamu bisa mengurangi salah satunya misalnya pada siang hari dan menggantinya dengan camilan ataupun makanan. Hal ini dilakukan secara perlahan dan mungkin akan menghabiskan waktu yang lebih lama. Biasanya 1 atau 2 bulan, tergantung dari masing-masing anak akan ada yang menghabiskan waktu hingga 6 bulan lamanya. Tetapi jika berhasil kamu tidak akan menyesal.

 

  • Konsisten

Terakhir cara yang paling penting ketika memutuskan untuk menyapih anak yaitu konsisten. Seringkali anak tidak percaya akan perubahan, karena memang menyapih merupakan hal yang tidak mudah. Lakukan secara konsisten dan berulang. Jangan sampai ibu terlihat seperti yang ragu.

Foto : freepik.com

 

Merawat Bayi yang Lahir Prematur Agar Sehat dan Kuat

 

Melahirkan bayi secara prematur mungkin akan menjadi kendala yang sulit bagi sang ibu. Selain usia si kecil belum mencukupi untuk bisa dilahirkan, belum lagi anak dengan kondisi prematur seringkali cukup rentan terkena penyakit dan juga memiliki banyak kendala. Salah satunya bagi para ibu yang mungkin kebingungan. Bagaimana cara merawat bayi prematur agar tetap tumbuh sehat dan juga kuat.

 

  • Menjaga Jadwal Makan

Pertama kali yang bisa dilakukan apabila ternyata si kecil lahir dengan kondisi prematur. Hal yang paling penting adalah konsisten dalam menjaga jadwal makan si kecil. Karena nutrisi yang bisa didapatkan hanya dari sang ibu. Sehingga jangan sembarangan untuk mengatur jadwal makannya dan konsultasikan kepada dokter kandungan serta dokter anak, untuk mencatat pertumbuhan bayi.

 

Bahkan beberapa ibu yang melahirkan dengan kondisi prematur mencatat dalam buku. Sehingga tidak akan terlewatkan bayi prematur, umumnya membutuhkan 8 hingga 10 kali makan sehari. Dengan waktu kurang lebih saat menyusui 2 jam memang sangat lama, dan juga menghabiskan waktu lebih besar. Tetapi karena hanya dengan nutrisi ASI. Mereka bisa tumbuh dan berkembang maka maksimalkan hal tersebut.

 

  • Periksakan ke Dokter Mata dan Telinga

Selanjutnya cara kedua yang bisa dilakukan yaitu dengan memeriksakan mata dan juga telinga secara rutin. Hal ini dilakukan karena bayi memiliki waktu tidur yang lebih lama dibandingkan dengan bayi yang sudah cukup bulan untuk dilahirkan. Sehingga semua bayi harus tidur dalam posisi terlentang bukan tengkurap termasuk bayi prematur.

 

Selain itu gunakan kasur yang kokoh dan jangan menggunakan bantal. Hal ini nyatanya dapat berpengaruh pada kondisi mata dan juga telinga yang mereka miliki. Kamu harus melakukan pemeriksaan secara rutin agar tidak ada kendala dokter. Umumnya menyarankan untuk membawa ke dokter mata. Agar bisa membantu mencegah adanya kehilangan penglihatan, dan juga kehilangan kepekaan telinga pada bayi prematur.

 

  • Mama Kanguru

Cara lain yang bisa dilakukan untuk membantu peningkatan kesehatan yang cepat tumbuh kembang si kecil yang lahir karena prematur yaitu dengan menjadi mama kanguru. Hal ini mungkin sering dilihat apabila seorang bayi yang baru lahir digendong, tanpa menggunakan kan pakaian baik dari ibu maupun si kecil.

 

sehingga tujuannya ibu dan kecil akan bersentuhan dari kulit ke kulit tujuannya sangat banyak mulai dari menjaga keamanan tubuh. Baik keteraturan detak jantung, serta membantu mengenalkan si kecil akan suara dan juga napas dari sang ibu. Ditambah lagi hal tersebut juga mengurangi stres dan membangun rasa percaya diri.

 

  • Posisi Tidur

Cara lain yang bisa dilakukan yaitu memperhatikan posisi tidur umumnya bayi yang dilahirkan secara prematur. Harus bisa dipastikan untuk tidur tidak terlentang tidak miring dan juga tidak tengkurap. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko, dan juga lebih umum pada bayi prematur, untuk memastikan bayi tersebut, untuk mendapatkan tempat yang nyaman dan tidak terlalu pegal turunkan bayi di kasur yang tidak terlalu lembek, dan jangan menggunakan bantal. Hal ini dilakukan secara rutin dan juga bergantian dengan cara digendong.

 

  • Jauhi Dari Orang/Penyakit

Terakhir seperti yang kita ketahui bahwa bayi prematur seringkali mudah terkena penyakit. Sehingga hal yang harus diketahui adalah menjauhi kecil, dari orang-orang yang rentan menularkan penyakit terutama udara ataupun area luar.

 

Apabila tidak ada kebutuhan ataupun keharusan untuk pergi keluar dan juga bertemu dengan orang banyak. Ada baiknya jika kecil untuk tidak bertemu dengan siapapun hingga tumbuh kembangnya normal dan juga sudah cukup bulan. Apabila si kecil sakit dan ternyata ia masih dalam usia perkembangan setelah melahirkan prematur. Maka akan sangat sulit untuk mengobatinya.

Foto : freepik.com

Merawat Bayi yang Lahir Prematur Agar Sehat dan Kuat

Melahirkan bayi secara prematur mungkin akan menjadi kendala yang sulit bagi sang ibu. Selain usia si kecil belum mencukupi untuk bisa dilahirkan, belum lagi anak dengan kondisi prematur seringkali cukup rentan terkena penyakit dan juga memiliki banyak kendala. Salah satunya bagi para ibu yang mungkin kebingungan. Bagaimana cara merawat bayi prematur agar tetap tumbuh sehat dan juga kuat.

 

  • Menjaga Jadwal Makan

Pertama kali yang bisa dilakukan apabila ternyata si kecil lahir dengan kondisi prematur. Hal yang paling penting adalah konsisten dalam menjaga jadwal makan si kecil. Karena nutrisi yang bisa didapatkan hanya dari sang ibu. Sehingga jangan sembarangan untuk mengatur jadwal makannya dan konsultasikan kepada dokter kandungan serta dokter anak, untuk mencatat pertumbuhan bayi.

 

Bahkan beberapa ibu yang melahirkan dengan kondisi prematur mencatat dalam buku. Sehingga tidak akan terlewatkan bayi prematur, umumnya membutuhkan 8 hingga 10 kali makan sehari. Dengan waktu kurang lebih saat menyusui 2 jam memang sangat lama, dan juga menghabiskan waktu lebih besar. Tetapi karena hanya dengan nutrisi ASI. Mereka bisa tumbuh dan berkembang maka maksimalkan hal tersebut.

 

  • Periksakan ke Dokter Mata dan Telinga

Selanjutnya cara kedua yang bisa dilakukan yaitu dengan memeriksakan mata dan juga telinga secara rutin. Hal ini dilakukan karena bayi memiliki waktu tidur yang lebih lama dibandingkan dengan bayi yang sudah cukup bulan untuk dilahirkan. Sehingga semua bayi harus tidur dalam posisi terlentang bukan tengkurap termasuk bayi prematur.

 

Selain itu gunakan kasur yang kokoh dan jangan menggunakan bantal. Hal ini nyatanya dapat berpengaruh pada kondisi mata dan juga telinga yang mereka miliki. Kamu harus melakukan pemeriksaan secara rutin agar tidak ada kendala dokter. Umumnya menyarankan untuk membawa ke dokter mata. Agar bisa membantu mencegah adanya kehilangan penglihatan, dan juga kehilangan kepekaan telinga pada bayi prematur.

 

  • Mama Kanguru

Cara lain yang bisa dilakukan untuk membantu peningkatan kesehatan yang cepat tumbuh kembang si kecil yang lahir karena prematur yaitu dengan menjadi mama kanguru. Hal ini mungkin sering dilihat apabila seorang bayi yang baru lahir digendong, tanpa menggunakan kan pakaian baik dari ibu maupun si kecil.

 

sehingga tujuannya ibu dan kecil akan bersentuhan dari kulit ke kulit tujuannya sangat banyak mulai dari menjaga keamanan tubuh. Baik keteraturan detak jantung, serta membantu mengenalkan si kecil akan suara dan juga napas dari sang ibu. Ditambah lagi hal tersebut juga mengurangi stres dan membangun rasa percaya diri.

 

  • Posisi Tidur

Cara lain yang bisa dilakukan yaitu memperhatikan posisi tidur umumnya bayi yang dilahirkan secara prematur. Harus bisa dipastikan untuk tidur tidak terlentang tidak miring dan juga tidak tengkurap. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko, dan juga lebih umum pada bayi prematur, untuk memastikan bayi tersebut, untuk mendapatkan tempat yang nyaman dan tidak terlalu pegal turunkan bayi di kasur yang tidak terlalu lembek, dan jangan menggunakan bantal. Hal ini dilakukan secara rutin dan juga bergantian dengan cara digendong.

 

  • Jauhi Dari Orang/Penyakit

Terakhir seperti yang kita ketahui bahwa bayi prematur seringkali mudah terkena penyakit. Sehingga hal yang harus diketahui adalah menjauhi kecil, dari orang-orang yang rentan menularkan penyakit terutama udara ataupun area luar.

 

Apabila tidak ada kebutuhan ataupun keharusan untuk pergi keluar dan juga bertemu dengan orang banyak. Ada baiknya jika kecil untuk tidak bertemu dengan siapapun hingga tumbuh kembangnya normal dan juga sudah cukup bulan. Apabila si kecil sakit dan ternyata ia masih dalam usia perkembangan setelah melahirkan prematur. Maka akan sangat sulit untuk mengobatinya.

Foto : freepik.com

 

BAYI BILINGUAL LEBIH PINTAR?

Boleh-boleh saja membiasakan dua bahasa dalam aktivitas sehari-hari, namun tak perlu memaksakan.

Bayi yang terbiasa mendengar dua bahasa atau lebih konon akan memiliki perkembangan kemampuan yang lebih baik ketimbang bayi yang lingkungan terdekat/keluarganya berkomunikasi dalam satu bahasa. Setidaknya begitulah yang dikatakan para ahli di Singapura, seperti dilansir oleh Daily Mail.

Disebutkan, sejumlah ibu dan anak di Singapura terlibat dalam penelitian tersebut. Mereka dibagi dua kelompok, bayi dengan keluarga yang berbahasa bilingual, serta bayi dengan keluarga yang berkomunikasi monolingual. Selanjutnya, para bayi itu diperlihatkan dua jenis gambar beruang dan serigala secara terus-menerus. Hasilnya, bayi bilingual rupanya lebih tanggap terhadap suatu gambar dibandingkan bayi dari keluarga monolingual. Tak hanya itu, bayi dari keluarga bilingual ternyata cepat bosan dan jenuh terhadap satu gambar yang diperlihatkan berulang-ulang.

Nah, menurut para peneliti, ternyata sikap cepat bosan pada bayi, merupakan indikasi tingkat kecerdasan bayi yang di atas rata-rata dan perkembangan kognitif yang sangat baik. Hasil uji yang baik pada bayi bilingual melingkupi kemampuan nonverbal, ekspresi, komunikasi, dan tingkat IQ. 

Karena itulah, disimpulkan pula bahwa bayi yang familiar dengan ragam bahasa diyakini memiliki otak yang lebih efisien dalam menanggapi dan memahami tantangan. Diyakini kelak saat ia dewasa cenderung memiliki kecepatan atau sangat tanggap dalam mencari jawaban dan memecahkan persoalan. Hal tersebut diutarakan Leher Singh, Associate Professor, Department of Psychology at The National University of Singapore’s Faculty of Arts  and Social Sciences. Riset ini dipublikasikan secara online di edisi terkini Child Development Journal.

RISIKO PENYESUAIAN SOSIAL

Memang, bahasa merupakan sarana penunjang yang sangat penting bagi kehidupan anak. Tidak hanya yang berkaitan dengan kecerdasan kognisi saja, namun juga aspek lain dalam kehidupan anak. Berbekal kemampuan bahasa, anak bisa menjalani mengembangkan aspek-aspek penting lain dalam kehidupannya, misalnya perkembangan sosial ke tingkat yang lebih tinggi, perkembangan emosi dan pembentukan konsep diri dan lain sebagainya.

Nah, tentu mama papa sudah tahu, penguasaan bahasa merupakan proses yang sangat panjang, tidak hanya di satu tahun pertamanya. Akan tetapi juga terus berlanjut di usia-usia berikutnya. Khususnya, pada usia 12-18 bulan, si kecil mulai siap secara mental untuk berbicara karena terkait dengan kematangan otak, khususnya asosiasi otak. Yang perlu menjadi perhatian utama, apa yang akan terjadi setelah satu tahun pertama dilewati, bila sejak dini diperkenalkan dengan dua bahasa.

Terlepas dari riset pada ilustrasi di atas, Elizabeth Hurlock, seorang penulis ternama sekaligus pakar psikologi perkembangan mengatakan, ketika anak memasuki usia prasekolah akan mulai tampak risiko terhadap penyesuaian sosial anak yang berkaitan dengan bilingual. Berikut adalah sebagian risiko yang dimaksudkan:

  • Anak yang berbahasa dua secara ilmu bahasa tidak siap bersekolah, karena mereka merasa tidak aman dan terhambat dalam karir sekolah mereka sejak dini.
  • Mempelajari dua bahasa secara serentak dalam tahun awal (masa bayi) mungkin memperlambat perkembangan dalam kedua bahasa tersebut dan menimbulkan kesalahan yang lebih banyak dibandingankan anak-anak lain yang mempelajari satu bahasa.
  • Anak dengan dua bahasa sering bingung dalam pemikirannya dan hal ini membuat mereka sangat berhati-hati berbicara.
  • Jika logat berbicara anak berbeda dengan teman-temannya yang lain, hal ini bisa menjadi hambatan bagi penyesuaian sosialnya.

Jadi, bila kita ingin memperkenalkan dua bahasa di usia yang sangat dini, maka kita harus benar-benar memahami konsekuensinya di kemudian hari dan dapat menyikapinya dengan bijak. Bahwa ada kemungkinan anak akan mengalami kebingungan bahasa setelah satu tahun pertama, merupakan kondisi yang umum terjadi dan harus siap kita hadapi. (hil)

Foto: freepik.com

Memahami Perkembangan Otak Bayi (2)

Riset menunjukkan, berat otak hanya 2-3 persen bila dibanding seluruh berat badan.  Umumnya, saat lahir tak bayi hanya 350 gram. Lalu, di usia 1 tahun bertambah menjadi 1.200 gram. Percepatan pertambahan berat otak tiap anak berbeda-beda, tergantung faktor genetik dan lingkungan.

Penelitian juga menyebutkan, otak bayi baru lahir besarnya sudah mencapai 25 persen dari otak orang dewasa. Lalu, pada usia satu tahun perkembangannya mencapai 70 persen dari otak dewasa. Pada umur satu tahun juga otak bayi mengandung 100 miliar sel neuron.

Dari angka tersebut, sekitar 70-80 persen sel neuron terbentuk lengkap. Memang, sejak bayi lahir sampai usia 1 tahun terjadi pertumbuhan otak yang pesat sehingga masa ini disebut periode lompatan pertumbuhan otak. Dalam rentang waktu itu, sel neuron dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Maka disarankan orangtua memerikan stimulasi dengan optimal di masa ini.

Secara sederhana, otak dibagi dalam 2 bagian, yaitu otak besar dan otak kecil. Otak besar berperan penting dalam kemampuan berpikir dan tingkat kecerdasan. Sedangkan otak kecil bertanggung jawab sebagai pengontrol koordinasi dan keseimbangan.

Selanjutnya, struktur otak terbagi menjadi 2 bagian, yaitu otak kiri dan kanan. Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Otak kiri berkaitan dengan fungsi akademis seperti belajar berhitung (matematika), logika, membaca, menulis, menganalisa, dan mengembangkan kemampuan daya ingat. Sementara, otak kanan berkaitan dengan kreativitas, seperti seni atau olahraga.

FAKTOR GENETIK DAN LINGKUNGAN

Tumbuh-kembang otak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Jika kedua faktor ini tak mendukung, dengan sendirinya tumbuh-kembang otak jauh dari optimal. Faktor genetik dan lingkungan tak bisa berdiri sendiri, keduanya saling berkaitan dan bergandengan agar otak berkembang dengan baik.

Faktor genetik dipengaruhi juga oleh kondisi kesehatan ataupun gizi saat si kecil masih berupa janin. Jadi, kalau ibu kekurangan gizi, otomatis perkembangan sel-sel saraf dan pertumbuhan jaringan saraf janin pun tidak sebanyak yang harusnya bisa dicapai jika gizi ibu baik. Alhasil, otak bayi cenderung kecil dan kemungkinan kemampuan memorinya menjadi sedikit. Proses kerja otaknya juga lebih lamban ketimbang otak yang ukurannya lebih besar.

Kelak, perkembangan motorik si kecil akan terlambat dan sehari-hari pun ia terlihat kurang cerdas. Tak heran, jika ibu hamil sangat dianjurkan untuk selalu mengonsumsi makanan yang bergizi.

Faktor lingkungan, dalam hal ini orangtua, juga punya peran yang penting terutama untuk menstimulasi si kecil. Rangsangan yang lebih optimal tentu harus diberikan setelah bayi lahir. Suara atau belaian orangtua merupakan stimulasi bagi bayi yang dapat mempercepat perkembangan otaknya.

Tanpa stimulasi, otak bayi menjadi tidak terolah. Akibatnya, jaringan saraf (sinaps) yang jarang atau tidak terpakai akan musnah. Di sinilah pentingnya pemberian stimulasi secara rutin. Setiap kali anak berpikir atau mengfungsikan otaknya, akan terbentuk sinaps baru untuk merespons stimulasi tersebut. Berarti, stimulasi yang terus-menerus akan memperkuat sinaps yang lama sehingga otomatis membuat fungsi otak akan makin baik.

Foto: freepik.com

Memahami Perkembangan Otak Bayi (1)

Pada tahun pertama kehidupan, otak berkembang pesat. Maka stimulasi yang interaktif dan kecukupan gizi perlu diberikan di masa-masa ini.

Otak bertumbuh kembang sejak janin. Diawali pada usia kehamilan sekitar hari ke-16 dimulai pembentukkan lempeng saraf (neural plate). Lalu, pada pada ke-22 kehamilan, lempeng saraf ini menggulung membentuk tabung saraf (neural tube). Saat ini dimulai produksi sel-sel saraf.

Selanjutnya, pada usia kehamilan hari k-35 atau sekitar minggu kelima, tampak cikal-bakal otak besar di ujung tabung saraf. Disusul terbentuknya batang otak, otak kecil dan bagian-bagian lainnya.

Nah, mulai usia delapan minggu kehamilan, terjadilah produksi sel-sel saraf yang luar biasa cepatnya, yaitu mencapai 250 ribu per detik. Disinilah terjadi pembentukkan susunan saraf pusat. Kemudian, otak bertumbuh-kembang dengan cepat sekali, terutama di trimester ketiga kehamilan.

Otak terus berkembang dari waktu ke waktu. Berbagai bagian otak berkembang secara aktif dengan waktu yang berbeda-beda. Sebelum lahir, otak janin sudah memiliki kemampuan merekam bahasa/kata-kata yang diucapkan ibu. Bukti ilmiah menunjukkan, bayi baru lahir bisa mengingat suara-suara yang didengarnya saat berada dalam kandungan.

Pada tahun pertama kehidupan adalah masa yang paling penting dalam perkembangan otak yang berperan dalam kemampuan empati dan attachment/menjalin kedekatan. Jaringan, koneksi dan jalur-jalur pada otak tercipta sedemikian rupa sehingga si kecil dapat merasakan kedekatan, rasa aman, dan kelak mampu memahami orang lain.

Pada bayi usia satu bulan, terjadi aktivitas yang intens di area otak yang berhubungan dengan kemampuan sensorik dan motorik bayi. Inilah masa yang tepat untuk memberikan stimulasi visual dan suara.

Kemudian, pada usia dua bulan, bayi dapat mengalami berbagai emosi yang kompleks seperti bahagia, sedih, malu, dan sebagainya. Bagian otak yang berkembang adaalah yang aktif mengontrol perkembangan penglihatan dan pendengaran.

Pada usia tiga bulan, bayi mampu membedakan ratusan suara yang didengarnya. Suara-suara yang didengarnya boleh jadi dari bahasa yang berbeda-beda. Nah, anak yang sering terpapar/mendengar bahasa akan mampu belajar lebih cepat. Syaraf-syaraf otak terus berkembang dan membentuk jaringan yang luar biasa pesat.

Selanjutnya, pada usia keempat, korteks makin membuat koneksi-koneksi yang dibutuhkan agar kelak anak memiliki kemampuan persepsi yang mendalam serta penglihatan binokular. Pada sekitar delapan bulan usia bayi, bagian depan korteks yang bertanggung jawab atas kemampuan untuk mengekspresikan emosi, kontrol diri serta untuk berpikir dan merencanakan, terus berkembang.

Bayi pada usianya yang satu tahun/dua belas bulan, telah berkembang menjadi anak yang mulai bisa berbicara, berjalan, dan membangun interaksi dengan orang lain. Bagian dari otak yang bertanggung jawab untuk kemampuan berbicara sedang berkembang pesat.

Demikian seterusnya hingga anak berusia dua tahun, ia makin bercakap, bercerita, melontarkan banyak pertanyaan. Kata yang diucapkan akan lebih kompleks dan mulai terstruktur.

Proses yang Kompleks

Begitu kompleks proses tumbuh kembang otak. Tahapannya mulai dari penambahan sel-sel saraf (poliferasi), perpindahan sel saraf (migrasi), perubahan sel saraf (diferensiasi), pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps), dan pembentukan selubung saraf (mielinasi).

 1. Poliferasi

Awalnya, bentuk sel saraf (neuron) masih sederhana. Lalu, membelah jadi banyak. Ini yang disebut proses penambahan (poliferasi) sel saraf. Proses ini berlangsung pada usia kehamilan 4-24 minggu dan berhenti saat bayi lahir.

2. Migrasi

Setelah proses poliferasi, sel saraf akan mengalami migrasi (berpindah ke tempat masing-masing). Ada yang menempati area depan, belakang, samping, dan bagian atas otak. Waktu perpindahannya berbeda-beda sesuai program yang dibentuk secara genetik dan alamiah.

Usai tiba di “rumah” masing-masing, sel-sel saraf berkembang. Tiap “rumah” memiliki kurva pertumbuhan sendiri-sendiri. Percepatan pertumbuhannya pun berlainan. Maka kemampuan otak tiap anak juga berbeda. Proses migrasi sebenarnya sejak kehamilan 16 minggu hingga akhir bulan ke-6. Proses migrasi terjadi bergelombang. Artinya, sel saraf yang bermigrasi lebih awal akan menempati lapisan dalam. Yang bermigrasi berikutnya menempati lapisan luar (korteks serebri).

 3. Diferensiasi

Pada akhir bulan ke-6 kehamilan, lempeng korteks memiliki komponen sel saraf yang lengkap. Tampak juga diferensiasi yaitu perubahan bentuk, komposisi dan fungsi sel saraf menjadi enam lapis seperti pada orang dewasa. Sel saraf lalu berubah menjadi sel neuron yang bercabang-cabang dan berubah menjadi sel penunjang (sel glia). Sel penunjang ini tumbuh banyak usai sel saraf matang dan besar. Fungsi sel glia juga mengatur kehidupan individu sehari-hari.

 4. Sinaps

Selanjutnya terjadi pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps). Setelah menjalani mielinisasi (proses pematangan selubung saraf), sinaps makin bertambah banyak.

 5. Mielinisasi

Proses pematangan selubung saraf (myelin) yang disebut mielinisasi terus berkembang. Pematangan selubung saraf mencapai puncaknya saat bayi berumur satu tahun. Setelah bayi lahir tumbuh serabut saraf. Lalu, terjadi peningkatan jumlah sel glia yang luar biasa serta proses mielinisasi.

Semua proses tersebut, selain berlangsung alamiah, juga dipengaruhi stimulasi dan nutrisi. Maka bila ingin si kecil mempunyai otak yang berkualitas, Anda perlu paham tahap perkembangan otak. Persiapannya sejak sebelum hamil, selama hamil, dan setelah bayi lahir hingga proses perkembangan otak selesai.

Foto : freepik.com