Aspek Psikologis anak Usia Dini Yang Wajib Diperhatikan

 

Psikologi perkembangan anak merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi yang sangat banyak diminati dan dipelajari.  Hal ini memfokuskan pada cara berpikir dan berperilaku anak ketika masih dalam kandungan sampai dewasa. Setelah dipahami lebih dalam psikologi anak usia dini tidak hanya seputar tentang pertumbuhan fisik anak, namun juga pertumbuhan mental, sosial dan emosionalnya.

 

Oleh sebab itu, sangat wajib diperhatikan dan dipahami oleh para orangtua terkait dengan psikologi yang terjadi pada anak usia dini.

 

Perkembangan Dan Pertumbuhan Anak

 

Di dalam dunia psikologi, pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak usia dini meliputi dari tiga aspek yaitu itu perkembangan kognitifnya, perkembangan fisik, serta pengembangan emosional.

 

Perkembangan fisik ini ini menitikberatkan pada sebuah perubahan fisik yang dialami oleh anak. Perubahan yang terjadi pada tubuh si anak  ini dapat dikatakan dapat terprediksi dan cenderung lebih stabil.

 

Sehingga pada pertumbuhan dan perkembangan fisik ini dapat dikatakan sebagai kemampuan motorik halus dan kasar. Sedangkan perkembangan kognitif pada anak usia dini ini diartikan sebagai proses dalam pemerolehan ilmu pengetahuan yang meliputi tentang penalaran, imajinasi, pola pikir, dan juga bahasa.

 

Lalu perkembangan emosional yang terjadi pada anak usia dini ini cenderung mengarah kepada aktivitas yang dilakukan secara berkelompok. Contohnya anak yang sedang bermain bersama teman-temannya. Jadi kegiatan ini menjadi salah satu dari perkembangan sosial anak.

 

Sementara emosional anak ini didasari oleh perasaan yang dimiliki dan bagaimana cara anak tersebut dalam mengungkapkan perasaannya. Seperti halnya rasa percaya diri, bangga, takut, dan lain-lain.

 

Pencapaian

Pencapaian ini merupakan salah satu aspek yang dinilai sangat penting dalam perkembangan anak usia dini.

 

Pada pencapaian perkembangan anak ini mencakup empat kategori yang diantaranya pencapaian mental, fisik, sosial dan juga bahasa.

 

Pencapaian fisik ini lebih mengutamakan segi pencapaian dalam kemampuan di bidang motorik halus dan juga motorik kasar.

 

Sedangkan pencapaian mental pada anak usia dini ini menitikberatkan kepada kemampuan anak dalam hal belajar, memecahkan masalah, dan juga kemampuan untuk berpikir.

 

Kemudian pencapaian bahasa ini memfokuskan anak agar dapat mencapai kemampuan dalam berkomunikasi baik secara non verbal maupun secara verbal.

 

Sosialisasi Yang Terjalin

 

Sosialisasi ini tidak jarang memprediksi anak dalam menjalankan kegiatan yang bernilai positif yang dilakukan bersama teman, keluarga, guru, dan orang lain.

 

Proses sosialisasi yang dilakukan pada anak usia dini akan terus berlanjut sehingga akan menjadi salah satu periode terpenting dalam perkembangan anak.

 

Dalam bersosialisasi ini yang terpenting adalah pemberian pengalaman yang cukup baik kepada anak usia dini yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan sosial di masa yang akan datang.

 

Perilaku

Perilaku yang dibahas dalam psikologi anak usia dini ini seperti adanya konflik yang terjadi antara orang tua dengan si anak yang disebabkan oleh tingkah nakal atau perilaku impulsif yang ditunjukkan oleh anak.

 

Namun tanpa disadari perilaku yang dimiliki oleh anak tersebut ternyata merupakan hal wajar dan juga salah satu bagian dari proses perkembangan dan pendewasaan pada anak didik.

 

Akan tetapi ada pula perilaku yang terkadang sulit untuk dikendalikan, maka untuk mengatasi hal ini orang tua juga disarankan agar meminta bantuan kepada seorang psikolog.

 

Emosi Yang Timbul

Emosi yang terjadi pada proses perkembangan pada anak ini memiliki tujuan agar dapat memahami perasaan dan emosional anak secara mandiri.

 

Dengan memahami sebab timbulnya emosi pada anak ini akan dapat membantu anak dalam proses pendewasaan.

 

Proses emosi ini dapat dikatakan rumit ketika masih fase remaja dan juga akan berlanjut sampai masa dewasa sehingga terbentuk Psikologis anak usia dini.

Foto : freepik.com

Tujuh Manfaat Melakukan Rutinitas dengan Anak

Tujuh Manfaat Melakukan Rutinitas dengan Anak

Melakukan aktivitas rutin Bersama anak tentu ada manfaatnya. Yuk simak 7 manfaat melakukan rutinitas dengan Si Kecil berikut ini:

  1. Rutinitas memastikan anak melakukan sesuatu tanpa disuruh

Rutinitas yang dilakukan anak membuatnya melakukan sesuatu tanpa disuruh orangtua. Misalnya, kegiatan seperti menyikat gigi, tidur siang, mematikan televisi dan sebagainya. Orang tua tidak perlu lagi mengingatkan atau memerintah anak berulang kali. Pasalnya, anak sudah memiliki kesadaran sendiri untuk melakukan hal tersebut.

  1. Rutinitas membantu anak-anak bekerja sama

Rutinitas membantu anak-anak bisa bekerja sama dengan Anda. Misalnya, bekerja sama membereskan rumah. Anak tanpa disuruh mau membereskan mainannya dengan rapi. Atau, kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan orangtua dan anak.

  1. Rutinitas membantu anak-anak belajar mengendalikan aktivitasnya

Seiring waktu, anak-anak belajar menyikat gigi, mengemasi tas dan lain-lain tanpa perlu diingatkan lagi. Anak-anak belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Perasaan ini meningkatkan rasa penguasaan dan kompetensi mereka. Anak-anak yang merasa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri.

  1. Anak-anak belajar tentang menunda keinginan atas yang mereka sukai

Misalnya, anak ingin bermain ke taman sekarang ini. Namun, dia bisa belajar bahwa pergi ke taman bermain biasanya pada sore hari. Jadi, dia bisa menantikannya nanti sore.

  1. Rutinitas yang teratur membantu anak-anak memenuhi jadwal

Rutinitas yang teratur membantu anak-anak menentukan jadwal, sehingga mereka lebih mudah tidur pada malam hari.

  1. Rutinitas membantu orang tua membangun momen hubungan yang berharga

Kita semua tahu bahwa perlu terhubung dengan anak-anak setiap hari. Jika kita membangun ritual koneksi kecil ke dalam rutinitas kita, itu akan menjadi kebiasaan. Cobalah berpelukan dengan setiap anak saat Anda pertama kali melihatnya di pagi hari, misalnya.

Ritual seperti ini akan menghubungkan Anda pada tingkat yang mendalam dengan anak. Jika Anda melakukannya sebagai “bagian dari rutinitas” anak  membangun keamanan serta koneksi dan kerja sama.

  1. Jadwal rutin membantu orang tua menjaga konsistensi dalam ekspektasi.

Jika semuanya bertengkar, orang tua akhirnya menyelesaikan: lebih banyak TV, tidak menyikat gigi untuk malam ini, dll.

Dengan rutinitas, semua anggota keluarga akan lebih akan menjaga konsistensi kegiatan sehari-harinya sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Dengan demikian, segalanya akan berjalan lebih lancar.

Foto : Freepik

 

Mengapa Anak Perlu Rutinitas?

Mengapa anak-anak membutuhkan rutinitas? Rutinitas memberikan mereka rasa aman dan membantu mereka mengembangkan disiplin diri.

Anak mengalami semacam “ketakutan” akan hal yang tidak diketahui mencakup perubahan-perubahan besar dalam hidupnya bahan mulai dari makanan baru yang didapatkannya, seperti sayuran. Yang pasti, anak akan dihadapkan anak-anak dihadapkan pada perubahan setiap hari, entah itu hal yang baik atau tidak, yang merupakan peluang bagi stimulasi pertumbuhan. Meskipun mungkin juga bisa membuat stres.

Tentunya anak akan tumbuh dan berkembang dengan menghadapi perubahan yang terus-menerus. Awalnya bayi menyusu, seiring waktu mereka akan menggunakan gelas untuk minum. Empeng dan botol sudah tak digunakan lagi.

Seiring bertambah umur anak, ia akan belajar berbagai ketampilan baru dengan kecepatan yang menakjubkan. Anak akan belajar membaca, dan menyeberang jalan hingga bermain sepak bola bahkan mengendarai sepeda. Sebagian anak aka tinggal di rumah yang sama selama masa kecilnya. Namun, sebagian anak lainnya akan berpindah-pindah rumah beberapa kali, ke kota lainnya pertama dikunjungi, menemukan lingkungan dan sekolah yang baru lagi.

Nah, dalam perubahan yang dialami setiap saat ini, anak-anak diharapkan dapat menjalani runitasnya dengan baik.  Dengan demikian, anak akan merasa aman dan mampu menguasai atau menjalani kehidupannya. Saat rasa penguasaan ini diperkuat, anak dapat menangani perubahan yang lebih luas lagi, misalnya berjalan ke sekolah sendirian, membayar pembelian di toko, mengikuti kegiatan perkemahan dan sebagainya.

Adanya perubahan yang tak terduga bisa mengikis rasa aman dan membuat anak cemas bahkan kurang mampu mengatasi perubahan yang dialami. Misalnya, sahabat karibnya harus pindah rumah, dan sebagainya.

Tentu saja banyak perubahan yang tidak bisa dihindari. Tetapi itulah mengapa anak membutuhkan rutinitas yang dapat diprediksi sebagai landasan dalam hidup mereka – sehingga mereka dapat mengambil kesempatan untuk menangani perubahan besar saat membutuhkannya.

Rutinitas membantu anak-anak merasa aman dan siap untuk menghadapi tantangan baru. Hal itu juga memiliki peran perkembangan penting lainnya. Rutinitas mengajari anak-anak cara mengelola diri dan lingkungannya secara konstruktif.

Anak-anak yang datang dari rumah yang “semrawut” di mana barang-barangnya tidak dibereskan tidak akan pernah belajar bahwa hidup dapat berjalan lebih lancar jika segala sesuatunya diatur sedikit. Di rumah di mana tidak ada waktu atau ruang yang ditentukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, anak-anak tidak pernah belajar bagaimana duduk sendiri untuk menyelesaikan tugas yang baginya tidak menyenangkan.

Selain itu, anak-anak yang tidak mengembangkan rutinitas perawatan diri dasar, mulai dari merawat diri hingga makan, mungkin merasa sulit untuk merawat diri mereka sendiri Ketika mulai beranjak remaja bahkan saat dewasa. Struktur memungkinkan kita untuk menginternalisasi kebiasaan yang membangun rutinitas yang baik.

Apakah ini berarti bayi harus menjalani rutinitas sedini mungkin? Tentu tidak demikian. Bayi memberi tahu kita apa yang mereka butuhkan. Kita memberi mereka makan saat lapar, mengganti popoknya saat basah.

Seiring waktu, mereka mempelajari berbagai rutinitas. Saat kita tidur di malam hari, hal ini “memaksa” bayi untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas kita. Namun, hal itu tidak responsif terhadap kebutuhan bayi. Dia belum mampu beradaptasi dengan kita. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi, dia akan merasa seolah-olah dunia adalah tempat di mana kebutuhannya tidak terpenuhi.

Saat bayi memasuki masa kanak-kanak, ia akan menetapkan rutinitasnya sendiri, menyesuaikan dengan semacam jadwal. Kebanyakan bayi menyesuaikan diri dengan pola yang dapat diprediksi. Kita dapat membantu mereka dalam hal ini dengan Menyusun jadwal berdasarkan kebutuhan mereka. Jadi, misalnya, kita memastikan atau menyiapkan kondisinya saat tidur siang. Secara bertahap, seiring waktu, kita dapat merespons jadwal makan dan tidurnya yang alami dengan mengembangkan rutinitas yang sesuai untuk dirinya dan seluruh anggota keluarga.

Foto : freepik.com

Bagaimana Mengasah Kreativitas Anak? (1)

Kreativitas dapat didefinisikan sebagai melakukan berbagai hal dengan cara baru, atau melihat dunia  atau kondisi tertentu dengan cara yang berbeda.

Kita tahu bahwa sebagian orang terlahir dengan bakat tertentu, baik itu talenta di bidang seni rupa, seni suara atau seni musik dan sebagainya. Setiap orang sebetulnya memiliki kapasitas untuk menjadi kreatif.

Kita semua tentunya membutuhkan kemampuan untuk kreatif dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Kita semua perlu mengekspresikan kreativitas untuk melibatkan seluruh daya diri kita.

Seseorang tidak dapat memberikan bakat kepada orang lain. Namun, kita dapat melatih mata, telinga, dan pikiran anak sehingga mampu memiliki cara pandang yang kreatif. Kita juga dapat membantu anak untuk dapat berkonsentrasi, kompetensi, tekun, dan memiliki optimisme yang diperlukan untuk berhasil di kemudian hari.

Nah, studi terbaru yang meneliti tentang kreativitas telah mengejutkan para peneliti. Para peneliti memiliki asumsi bahwa anak-anak yang direkomendasikan oleh guru seni sebagai yang paling kreatif adalah mereka yang tidak teratur dan t yang berprestasi lebih buruk di kelas.  Ternyata, mereka keliru.

Guru seni  menyebut anak paling kreatif sama unggul dalam menyelesaikan tugas mereka di kelas lain. Anak-anak ini menunjukkan konsentrasi selama peragaan teknik, mampu berkompetensi untuk merencanakan proyek, memiliki optimisme untuk mengambil risiko menangani ide yang lebih sulit atau orisinal, dan ketekunan untuk memberikan waktu ekstra yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang menyeluruh dalam menyelesaikan proyek.

Meskipun ini tidak berbicara tentang bakat, hal ini menyoroti poin penting bahwa kreativitas membutuhkan kualitas kompetensi yang sama. Ini juga menyiratkan bahwa pola asuh yang sama yang membantu anak-anak menjadi sehat secara emosional mendorong kreativitas.

Jadi, Bagaimana Anda Membantu Anak mengembangkan Kreativitasnya?

  1. Kerapian dinilai terlalu tinggi.

Entah itu karena mereka takut tangan mereka kotor atau karena mereka hidup dengan terlalu banyak peraturan dan tidak berpikir out of the box. Anak yang tinggal di rumah engan fokus pada kerapian dinilai kurang kreatif. Seperti yang dikatakan Ms. Frizzle dari Magic Schoolbus, “Ambil Kesempatan! Menjadilah berantakan! ”

  1. Anak yang sering mengalami keterbatasan karena berpikir “di dalam kotak”.

Anak yang masih berusia bayii tentu harus dijaga keamanan lingkungan sekitarnya, misalnya jauhi dari kompor. Tapi sebaliknya, mengapa tidak membiarkan bayi Anda mengosongkan rak buku, misalnya. Mengapa balita Anda tidak boleh “mengecat” teras dengan kuas cat dan seember air?

  1. Fokus pada permainan dan proses, bukan produktivitas.

Ketika anak melakukan kegiatan seni untuk mendapatkan komentar positif dari orang dewasa, terkadang ia tidak sabar untuk menyelesaikan gambar lain demi untuk mendapatkan pujian “Karya yang bagus!” Namun yang jelas, yang terpenting bukanlah berapa banyak gambar yang ia hasilkan, melainkan seberapa terlibat dirinya dalam prosesnya. Perhatikan bagaimana perjuangannya mengerjakan gambar itu. Anak tak perlu terburu-buru untuk melanjutkan membuat gambar lainnya hanya demi unntuk mengejar komentar positif.

Foto : freepik.com

Anak Tantrum di Depan Umum? Ini Cara Mengatasinya

Mungkin tak sedikit Moms yang merasa kewalahan menghadapi Si Kecil yang mengalami tantrum. Terlebih, bila tantrum itu dilakukan di depan keramaian atau area umum.

Anak yang tantrum di depan umum sering membuat Moms panik dan takut mengganggu orang lain. Mungkin tak sedikit Moms yang kemudian mnjadi emosi. Lalu, bagaimana cara mengatasi anak tantrum saat  di depan umum?

Untuk langkah penting mengatasi anak tantrum dan mengamuk di depan umum, cobalah Moms untuk memeluk Si Kecil. Pelukan merupakan Langkah utama dan pertama yang bisa Moms lakukan untuk mengatasi tantrum anak di depan umum.

Kenapa pelukan bisa meredakan tantrum anak? Pasalnya, pelukan dapat membuat anak merasakan aman. Ia jadi tahu bahwa ibunya peduli dan sayang. Meskipun pada saat itu Moms tidak menyetujui perilakunya.

Pastikan Moms memberikan pelukan atau dekapan yang erat serta tegas. Namun, berbeda dengan pelukan sayang, seperti yang Moms lakukan saat hendak menidurkan Si Kecil.

Kemudian, Moms hindari mengucapkan kata-kata atau kalimat apapun saat memeluk atau mendekap anak.

Sebenarnya, tantrum akan menjadi problem yang besar ketika Moms merasa menyerah terlalu cepat atau terlalu sering. Soalnya, menyerah membuat anak mendapatkan apa yang ia inginkan. Alhasil, anak jadi sering berperilaku tantrum.

Foto : freepik

Jenis Permainan untuk Anak Batita

Apa yang harus diperhatikan orangtua dalam aktivitas bermain anak? Berikut di antaranya:

Dalam aktivitas bermain, orangtua mendampingi dan mendukung kegiatan bermain si batita. Orangtua bahkan sebaiknya ikut terlibat bermain. Yang perlu diingat, anak sebagai pemilik permainan itu, hindari mama papa mendominasi permainan karena anak bisa kehilangan kunci bermain yaitu kesenangan. Misalnya saja, saat anak bermain pasel dan sering salah meletakan potongan yang sesuai, adakalanya orangtua langsung mengambil alih permainan dan meletakkan potongan yang sesuai.

– Berikan anak kebebasan untuk bermain, berekspresi dan berkreasi.

– Bermain harus dilakukan dengan rasa senang sehingga semua kegiatan bermain akan menghasilkan proses belajar. Saat bermain, semua indera anak bekerja aktif. Semua informasi yang ditangkap indera si batita, disampaikan ke otak sebagai rangsangan, sehingga sel-sel otak aktif berkembang.

RAGAM PERMAINAN

Lalu, apa saja macam mainan serta permainan pada anak usia ini?. Hillary Hettinger Steiner  memaparkan tahapan bermain usia batita, yaitu:

ALAT PERMAINANUSIAKETERANGAN 
Bola     
12 BulanAjak anak mendorong bola ke depan-ke belakang.
18 BulanMampu melempar dengan dua tangan
2 TahunBisa menendang dan “menggiring” bola dengan kedua kakinya.
3 TahunDapat menangkap bola besar
Balok Kayu            
12 BulanMembuat bunyi dengan membenturkan dua balok bersamaan
18 BulanBisa menumpukkan dua atau tiga balok dengan seimbang.
2 TahunBisa menyusun empat sampai tujuh balok. memisahkan bentuk berdasarkan warna dan mengkhayalkan balok sebagai benda lain, seperti mobil atau kapal.
3 Tahunbanyak bentuk yang bisa disusun. Dapat membangun struktur yang menyerupai benda-benda nyata, seperti benteng, jembatan, dan terowongan.
Krayon          
12 Bulan Bisa memegang krayon besar dalam genggamannya dan menggambar acak.
18 BulanKetika melihat orang dewasa menggambar, dia akan mengikutinya.
2 TahunMenikmati duduk bersama satu set krayon dan kertas lalu mulai menggambar.
3 TahunDapat membuat bentuk lingkaran, silang, bujur sangkar, dan menggambar “orang” dengan satu atau lebih anggota badan. Mengenal tiga atau empat warna, dan mungkin sudah bisa membuat huruf-huruf kapital.
Boneka Binatang       
12 BulanMembawa boneka kesayangan kemanapun dia pergi. Sebagian anak sangat akrab dengan boneka dan tidak bisa tidur tanpa boeka itu.
18 BulanAnak melenguh, menguik, mengeong, dan membuat variasi suara binatang sesuai bentuk boneka.
2 TahunMulai mempraktikkan permainan pura-pura, seperti mengajak Doggy jalan-jalan atau menyuapi Teddy Bear.
3 TahunMulai menciptakan dunia yang unik dan imajinatif. Teddy Bear menjelma menjadi dinosaurus, misalnya.
Pasel sederhana 
12 BulanSuka membalikkan papan pasel hingga jatuh berserakan di lantai. Bisa menjepit dengan jari untuk mencopot kepingan pasel
18 BulanDengan bantuan orang dewasa, anak dapat menempatkan kepingan pasel ukuran besar dengan benar.
2 TahunDapat melengkapi pasel sederhana meletakkan gambar sayuran atau binatang ke tempatnya. Bisa menyelesaikan pasel tiga keping sederhana.
3 TahunKemampuan memecahkan masalah sudah meningkat sehingga dia lebih tertarik dengan pasel dan sudah bisa merangkai pasel sederhana yang terdiri lebih dari delapan keping.
Instrument Musik
12 Bulan Menganggukkan kepala setiap kali mendengar bunyi perkusi drum, xylophone, atau panci dan wajan.
18 Bulan Suka bertepuk tangan mengikuti musik, Mulai tertarik memukul-mukul tongkat atau menggoyangkan tamborin.
2 TahunTekan tuts piano, petik gitar, atau tabuh drum, menirukan orang dewasa memainkan berbagai jenis alat musik.
3 TahunJika menyukai musik, dia akan menikmati meniup alat musik tiup, seperti seruling atau harmonika.

Hilman Hilmansyah

Narasumber: Herlita Jayadianti, SIP dari Sekolah Tumbuh, Yogyakarta

6 Cara Bermain Si Batita

Dunia anak adalah dunia bermain. Istilah itu begitu populer. Bermain adalah sebuah stimulasi, bermain juga sekaligus belajar. Jadi, bermain tidak sekadar menyenangkan. Akan tetapi juga banyak manfaat yang bisa didapat si batita.  Apalagi pada usia ini merupakan masa emas pertumbuhan otak, di mana stimulasi, perkembangan kognisi, sosial dan emosi anak mencapai tahap optimal.

Nah, agar stimulasi melalui kegiatan bermain dapat optimal, kita tentu perlu memahami cara bermain si batita. Adalah Mildred Parten, yang mempopulerkan teori perilaku bermain sosial. Dalam studinya, Parten mengidentifikasikan 6 tahapan perkembangan bermain anak, dengan sebutan Parten’s Classic Study of Play, yaitu :

  1. Unoccupied play

Pada tahap ini, anak terlihat tidak bermain seperti yang umumnya dipahami sebagai kegiatan bermain. Ia hanya mengamati kejadian di sekitar yang menarik perhatiannya. Bila tak ada hal yang menarik, ia akan menyibukkan diri. Ia mungkin hanya berdiri di suatu sudut, melihat ke sekeliling ruangan atau melakukan beberapa gerakan tanpa tujuan tertentu. Ia belum menunjukkan minat pada aktivitas atau objek lainnya. Begitulah anak di awal usia batita.

2. Solitary play (Bermain Sendiri)

Pada tahap ini, anak bermain sendiri dan tidak berhubungan dengan permainan teman-temannya. Anak asyik sendiri dan menikmati aktivitasnya. Ia tidak memperhatikan hal lain yang terjadi. Anak belum menunjukkan antusiasmenya kepada lingkungan sekitar, khususnya orang lain. Tahapan bermain ini dilakukan batita hingga usia 2 tahun.

Perlu dipahami mama papa, bagi si kecil, bermain tidak selalu seperti aktivitas bermain yang dipahami oleh orang dewasa. Ketika ia merasa antusias dan tertarik akan sesuatu, saat itulah anak disebut bermain, walaupun mungkin anak hanya sekedar menggoyangkan badan, menggerakkan jari-jarinya, dan lain-lain. 

3. Onlooker play (Pengamat)

Pada tahap ini, anak melihat atau memperhatikan anak lain yang sedang bermain. Anak mulai memperhatikan lingkungannya. Di sinilah anak mulai mengembangkan kemampuannya untuk memahami bahwa dirinya adalah bagian dari lingkungan. Walaupun anak sudah mulai tertarik dengan aktivitas lain yang diamatinya, anak belum memutuskan untuk bergabung. Dalam tahapan ini anak biasanya cenderung mempertimbangkan apakah akan bergabung atau tidak.

4. Parrarel play (Bermain Paralel)

Pada tahap ini, anak bermain terpisah dengan teman-temannya namun ia menggunakan jenis mainan yang sama ataupun melakukan kegiatan yang sama dengan temannya. Anak bahkan sudah berada dalam suatu kelompok, walaupun belum/tak ada inteaksi di antara mereka. Umumnya mereka mulai tertarik satu sama lain, namun belum merasa nyaman untuk bermain bersama.

5. Associative play (Bermain Asosiatif)

Pada tahap ini, anak mulai terlibat dalam interaksi sosial yang intens dan bekerja sama. Sudah ada kesamaan tujuan yang ingin dicapai bersama namun biasanya belum ada peraturan permainan. Misal, anak bermain kejar-kejaran, namun seringkali tak jelas siapa mengejar siapa. Tahapan bermain ini biasanya dilakukan oleh sebagian besar masa anak-anak prasekolah.

6. Cooperative play (Bermain Bersama)

Pada tahap ini, anak memiliki interaksi sosial yang teratur. Kerja sama atau pembagian tugas/peran dalam permainan sudah mulai diterapkan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Umpama, bermain sekolah-sekolahan, membangun rumah-rumahan, dan lain-lain.  Tipe permainan ini yang mendorong timbulnya kompetisi dan kerja sama anak. Tahapan bermain ini dapat dimainkan anak prasekolah dalam bentuk sederhana.

Gagasan Parten mengenai tahapan perkembangan bermain ini sering dijadikan acuan dalam menilai kemampuan sosial anak. Biasanya, bila memang sampai usia tertentu,  perilaku bermain sosialnya tidak berkembang, orangtua dapat melakukan konsultasi kepada psikolog anak. Gagasan Parten ini juga dapat digunakan untuk membantu mama papa untuk memberi stimulus perkembangan kemampuan sosial. Bila anak sudah mampu melewati tahapan bermain yang satu, kita dapat mulai mengenalkan tahapan bermain yang selanjutnya pada anak. (hil)

Foto: freepik.com

Bila Si Batita Suka Meniru Ucapan Buruk (2)

Si Kecil suka meniru perkataan orang lain? Nah, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak suka meniru Anda atau orang lain.

Berikut di antaranya:

1.Perkembangan kognitif

Anak di bawah usia 2 tahun belum mampu mengingat apa yang terjadi. Ketidakmampuan mengingat pada awal-awal tahun kelahiran ini disebut infantile amnesia. Bayi dan balita belajar mengenai diri mereka sendiri dan dunianya melalui perkembangan aktivitas sensori dan motorik. Pada tahap awal anak belajar mengordinasikan masukan dari pancaindera atau sense dan mengatur aktivitas mereka untuk berhubungan dengan lingkungan sekelilingnya. Ini disebut dengan organization adaptation dan equilibration.

Pada tahapan selanjutnya, anak sudah belajar dari trial-error dalam menggunakan simbol dan konsep untuk memecahkan masalah sederhana. Seiring bertambahnya usia, daya tangkap anak pun semakin berkembang. Anak lebih mudah menyerap kata-kata yang ia dengar dari kesehariannya.

2. Perkembangan bahasa

Perkembangan bahasa melibatkan seluruh aspek perkembangan, misalnya perkembangan fisik yang dibutuhkan untuk menghasilkan suara dan neuronal penting untuk menghubungkan suara dengan makna dari suara tersebut. Begitu juga dengan interaksi pada lingkungan sosialnya yang berpengaruh dalam memperkenalkan anak mengenai cara berkomunikasi .

Sebelum anak dapat menggunakan kata-kata untuk mengutarakan keinginannya, ia menggunakan suara seperti menangis, cooing, dan babbling atau mengoceh, kemudian meniru secara tiba-tiba dan meniru secara sengaja. Suara-suara ini dikenal dengan prelinguistic speech. Anak mulai mengucapkan kata pertama  pada akhir satu tahun pertamanya, dan mulai berbicara dalam kalimat setelah delapan bulan kemudian.

Adapun tahapan perkembangan bahasa yang dialami pada usia 12 hingga 18 bulan, mulai mengeluarkan kata pertamanya. Ini merupakan tahapan holophrase (satu tunggal) untuk banyak arti atau ide. Misalnya “bing” anak ingin mengatakan  “mobil”  dan makna yang anak sampaikan adalah ayah datang, mendengar mobil datang.

Pada usia 18 bulan, ia mampu mengucapkan ekspresi 2 kata atau merangkai 2 kata, seperti “ibu pergi, mobil pergi”. Pada usia ini ia juga mengucapkan kalimat telegraphic yaitu kalimat pendek dan sederhana yang terdiri dari kata benda dan kata kerja.

3. Pengaruh Lingkungan dan teman sebaya

Pada usia ini anak mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungan dan teman sebaya. Lingkungan memberikan pengaruh yang cukup besar pada anak. Dalam berinteraksi, anak akan menerima kata-kata baru yang didengar dari teman-teman dan juga orang lain. Bisa saja anak tidak langsung menangkap perkataan yang ia dengar, akan tetapi jika perkataan tersebut terus diulang-ulang dan didengar oleh anak, akan terekam dalam ingatannya. Anak akan menirunya tanpa paham makna dari kata tersebut.

4. Teve

Teve memiliki daya tarik yang sangat tinggi bagi anak-anak. Banyak sekali hal menarik yang bisa anak lihat di teve, seperti iklan, film kartun, sinetron dan sebagainya. Oleh sebab itu, orangtua harus selektif dalam memilih tontonan untuk anak dan mengawasi, serta mendampingi ia ketika menonton teve. Hal ini dilakukan agar Mama-Papa bisa memberikan pemahaman pada si batita tentang apa yang ditontonnya itu. (hil)

Foto: freepik.com

Bila Si Batita Suka Meniru Ucapan Buruk (1)

Barangkali kita kerap menyaksikan bocah batita meniru kata-kata yang diucapkan Mama-Papa. Si kecil pun sering melontarkan kembali ucapan kakak, saudara, teman, bahkan suara dari teve atau video yang ditontonnya.

Melihat momen itu, kadang kita tergelitik. Lucu juga mendengarnya ketika Si Batita suka meniru ucapan kita. Ya, seperti burung beo yang sering berceloteh menirukan suara perkataan  manusia. Anak usia 1-3 tahun memang suka menirukan ucapan yang didengar.

Bila dilihat dari kacamata psikologi perkembangan, perilaku membeo merupakan proses alami yang terjadi pada tahapan perkembangan bahasa. Proses ini tentu sangat berdampak baik bagi si batita. Dengan membeo, anak berarti menunjukkan peningkataan kemampuan bahasa dan kosakata yang dimilikinya.

BELUM PAHAM MAKNA KATA

Akan tetapi, kebiasaan membeo pada batita ini tak jarang meresahkan Mama-Papa. Terutama ketika ia suka menirukan perkataan yang tidak layak diucapkan. Hal ini disebabkan kemampuan filter (menyaring) kata-kata pada batita belum berkembang dengan optimal.

Pada dasarnya, batita belum memahami makna kata-kata yang ia tirukan. Ia belum mampu membedakan mana kata-kata yang mengandung makna positif atau negatif. Apakah yang diucapkannya itu perkataan baik atau bukan.

Ketika anak menirukan kata-kata yang negatif, bisa saja membuat citra diri anak menjadi negatif. Bahkan hal tersebut dapat berdampak buruk bagi orangtuanya. Kemungkinan Mama-Papa dicap kurang benar dalam mendidik anak.

Itulah sebabnya, orangtua harus berhati-hati dalam berkomunikasi dengan si batita. Gunakanlah kata-kata dan kalimat yang positif dalam berkomunikasi dengan sang buah hati. Berikan contoh kepada anak usia 1-3 tahun bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan sopan. Misalnya ketika bertemu dengan orang lain, ajarkan untuk memberikan salam dan sapaan selamat pagi. “Halo, apa kabar?.  Atau bahkan mengucapkan terima kasih ketika menerima sesuatu atau hadiah dari orang lain.

Jika anak mampu menirukan perkataan dan perilaku yang baik tersebut, hendaknya orangtua memberikan respons positif. Bentuknya berupa reward  sehingga akan mendorong anak untuk terus berperilaku baik. Reward yang diberikan bisa berupa pujian atau bahkan kontak fisik seperti pelukan, tepukan di bahu, atau menciumnya.

Ya, pada 5 tahun pertama merupakan waktu terbaik bagi anak untuk mempelajari berbagai keterampilan yang akan menunjang dan mempengaruhi perkembangannya di masa mendatang. Intinya. sebisa mungkin pergunakanlah kalimat yang positif dalam pola pengasuhan dan mendidik anak. Kenapa begitu? Karena orangtua merupakan role model atau teladan bagi anak.

Bila kita mendapati anak berperilaku negatif, dalam hal ini menirukan ucapan yang buruk, berikut hal yang dilakukan:

  1. Abaikan

Hindari memberikan respons yang ekspresif ketika anak menirukan perilaku negatif atau berucap tidak baik/kata-kata kotor. Respons yang ekspresif justru akan mendorong si batita untuk melakukannya lagi. Pasalnya, anak merasa seperti mendapat perhatian lebih dari orangtua.Bersikaplah tenang dalam menanggapi perilaku anak. jika sang buah hati masih mengulangi perilaku tersebut maka abaikan. Soalnya, kecenderungan anak hanya mencari perhatian saja.

2. Berikan penjelasan

Berikan penjelasan kepada si usia 1-3 tahun mengenai perilakunya. Tidak perlu dengan mengomel atau bahkan membentak anak. Cukup dengan memberikan penjelasan yang konsisten kepada anak bahwa ucapannya itu tidak baik.

3. Berikan punishment (hukuman)

Jika anak masih mengulangi perilaku tersebut walaupun sudah diberi penjelasan, orangtua bisa memberikan punishment (hukuman) berupa konsekuensi. Jadi hukuman yang diberikan kepada anak bukan berupa fisik melainkan bersifat mendidik. Misalnya, anak tidak diizinkan bermain bersama temannya untuk beberapa hari. Atau anak tidak boleh menonton acara kesukaannya.

4. Introspeksi

Hal lain yang tak kalah penting adalah orangtua harus mencari tahu sumber peniruan anak. Apabila sumber peniruan anak adalah dari orangtua sendiri, Mama-Papa tentu harus menghilangkan kebiasaan menggunakan kata-kata negatif tersebut. Cobalah untuk introspeksi diri. (hil)

Foto: freepik.com