Aspek Psikologis anak Usia Dini Yang Wajib Diperhatikan

 

Psikologi perkembangan anak merupakan salah satu cabang dari ilmu psikologi yang sangat banyak diminati dan dipelajari.  Hal ini memfokuskan pada cara berpikir dan berperilaku anak ketika masih dalam kandungan sampai dewasa. Setelah dipahami lebih dalam psikologi anak usia dini tidak hanya seputar tentang pertumbuhan fisik anak, namun juga pertumbuhan mental, sosial dan emosionalnya.

 

Oleh sebab itu, sangat wajib diperhatikan dan dipahami oleh para orangtua terkait dengan psikologi yang terjadi pada anak usia dini.

 

Perkembangan Dan Pertumbuhan Anak

 

Di dalam dunia psikologi, pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak usia dini meliputi dari tiga aspek yaitu itu perkembangan kognitifnya, perkembangan fisik, serta pengembangan emosional.

 

Perkembangan fisik ini ini menitikberatkan pada sebuah perubahan fisik yang dialami oleh anak. Perubahan yang terjadi pada tubuh si anak  ini dapat dikatakan dapat terprediksi dan cenderung lebih stabil.

 

Sehingga pada pertumbuhan dan perkembangan fisik ini dapat dikatakan sebagai kemampuan motorik halus dan kasar. Sedangkan perkembangan kognitif pada anak usia dini ini diartikan sebagai proses dalam pemerolehan ilmu pengetahuan yang meliputi tentang penalaran, imajinasi, pola pikir, dan juga bahasa.

 

Lalu perkembangan emosional yang terjadi pada anak usia dini ini cenderung mengarah kepada aktivitas yang dilakukan secara berkelompok. Contohnya anak yang sedang bermain bersama teman-temannya. Jadi kegiatan ini menjadi salah satu dari perkembangan sosial anak.

 

Sementara emosional anak ini didasari oleh perasaan yang dimiliki dan bagaimana cara anak tersebut dalam mengungkapkan perasaannya. Seperti halnya rasa percaya diri, bangga, takut, dan lain-lain.

 

Pencapaian

Pencapaian ini merupakan salah satu aspek yang dinilai sangat penting dalam perkembangan anak usia dini.

 

Pada pencapaian perkembangan anak ini mencakup empat kategori yang diantaranya pencapaian mental, fisik, sosial dan juga bahasa.

 

Pencapaian fisik ini lebih mengutamakan segi pencapaian dalam kemampuan di bidang motorik halus dan juga motorik kasar.

 

Sedangkan pencapaian mental pada anak usia dini ini menitikberatkan kepada kemampuan anak dalam hal belajar, memecahkan masalah, dan juga kemampuan untuk berpikir.

 

Kemudian pencapaian bahasa ini memfokuskan anak agar dapat mencapai kemampuan dalam berkomunikasi baik secara non verbal maupun secara verbal.

 

Sosialisasi Yang Terjalin

 

Sosialisasi ini tidak jarang memprediksi anak dalam menjalankan kegiatan yang bernilai positif yang dilakukan bersama teman, keluarga, guru, dan orang lain.

 

Proses sosialisasi yang dilakukan pada anak usia dini akan terus berlanjut sehingga akan menjadi salah satu periode terpenting dalam perkembangan anak.

 

Dalam bersosialisasi ini yang terpenting adalah pemberian pengalaman yang cukup baik kepada anak usia dini yang nantinya akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan sosial di masa yang akan datang.

 

Perilaku

Perilaku yang dibahas dalam psikologi anak usia dini ini seperti adanya konflik yang terjadi antara orang tua dengan si anak yang disebabkan oleh tingkah nakal atau perilaku impulsif yang ditunjukkan oleh anak.

 

Namun tanpa disadari perilaku yang dimiliki oleh anak tersebut ternyata merupakan hal wajar dan juga salah satu bagian dari proses perkembangan dan pendewasaan pada anak didik.

 

Akan tetapi ada pula perilaku yang terkadang sulit untuk dikendalikan, maka untuk mengatasi hal ini orang tua juga disarankan agar meminta bantuan kepada seorang psikolog.

 

Emosi Yang Timbul

Emosi yang terjadi pada proses perkembangan pada anak ini memiliki tujuan agar dapat memahami perasaan dan emosional anak secara mandiri.

 

Dengan memahami sebab timbulnya emosi pada anak ini akan dapat membantu anak dalam proses pendewasaan.

 

Proses emosi ini dapat dikatakan rumit ketika masih fase remaja dan juga akan berlanjut sampai masa dewasa sehingga terbentuk Psikologis anak usia dini.

Foto : freepik.com

Tujuh Manfaat Melakukan Rutinitas dengan Anak

Tujuh Manfaat Melakukan Rutinitas dengan Anak

Melakukan aktivitas rutin Bersama anak tentu ada manfaatnya. Yuk simak 7 manfaat melakukan rutinitas dengan Si Kecil berikut ini:

  1. Rutinitas memastikan anak melakukan sesuatu tanpa disuruh

Rutinitas yang dilakukan anak membuatnya melakukan sesuatu tanpa disuruh orangtua. Misalnya, kegiatan seperti menyikat gigi, tidur siang, mematikan televisi dan sebagainya. Orang tua tidak perlu lagi mengingatkan atau memerintah anak berulang kali. Pasalnya, anak sudah memiliki kesadaran sendiri untuk melakukan hal tersebut.

  1. Rutinitas membantu anak-anak bekerja sama

Rutinitas membantu anak-anak bisa bekerja sama dengan Anda. Misalnya, bekerja sama membereskan rumah. Anak tanpa disuruh mau membereskan mainannya dengan rapi. Atau, kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan orangtua dan anak.

  1. Rutinitas membantu anak-anak belajar mengendalikan aktivitasnya

Seiring waktu, anak-anak belajar menyikat gigi, mengemasi tas dan lain-lain tanpa perlu diingatkan lagi. Anak-anak belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Perasaan ini meningkatkan rasa penguasaan dan kompetensi mereka. Anak-anak yang merasa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri.

  1. Anak-anak belajar tentang menunda keinginan atas yang mereka sukai

Misalnya, anak ingin bermain ke taman sekarang ini. Namun, dia bisa belajar bahwa pergi ke taman bermain biasanya pada sore hari. Jadi, dia bisa menantikannya nanti sore.

  1. Rutinitas yang teratur membantu anak-anak memenuhi jadwal

Rutinitas yang teratur membantu anak-anak menentukan jadwal, sehingga mereka lebih mudah tidur pada malam hari.

  1. Rutinitas membantu orang tua membangun momen hubungan yang berharga

Kita semua tahu bahwa perlu terhubung dengan anak-anak setiap hari. Jika kita membangun ritual koneksi kecil ke dalam rutinitas kita, itu akan menjadi kebiasaan. Cobalah berpelukan dengan setiap anak saat Anda pertama kali melihatnya di pagi hari, misalnya.

Ritual seperti ini akan menghubungkan Anda pada tingkat yang mendalam dengan anak. Jika Anda melakukannya sebagai “bagian dari rutinitas” anak  membangun keamanan serta koneksi dan kerja sama.

  1. Jadwal rutin membantu orang tua menjaga konsistensi dalam ekspektasi.

Jika semuanya bertengkar, orang tua akhirnya menyelesaikan: lebih banyak TV, tidak menyikat gigi untuk malam ini, dll.

Dengan rutinitas, semua anggota keluarga akan lebih akan menjaga konsistensi kegiatan sehari-harinya sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Dengan demikian, segalanya akan berjalan lebih lancar.

Foto : Freepik

 

Mengapa Anak Perlu Rutinitas?

Mengapa anak-anak membutuhkan rutinitas? Rutinitas memberikan mereka rasa aman dan membantu mereka mengembangkan disiplin diri.

Anak mengalami semacam “ketakutan” akan hal yang tidak diketahui mencakup perubahan-perubahan besar dalam hidupnya bahan mulai dari makanan baru yang didapatkannya, seperti sayuran. Yang pasti, anak akan dihadapkan anak-anak dihadapkan pada perubahan setiap hari, entah itu hal yang baik atau tidak, yang merupakan peluang bagi stimulasi pertumbuhan. Meskipun mungkin juga bisa membuat stres.

Tentunya anak akan tumbuh dan berkembang dengan menghadapi perubahan yang terus-menerus. Awalnya bayi menyusu, seiring waktu mereka akan menggunakan gelas untuk minum. Empeng dan botol sudah tak digunakan lagi.

Seiring bertambah umur anak, ia akan belajar berbagai ketampilan baru dengan kecepatan yang menakjubkan. Anak akan belajar membaca, dan menyeberang jalan hingga bermain sepak bola bahkan mengendarai sepeda. Sebagian anak aka tinggal di rumah yang sama selama masa kecilnya. Namun, sebagian anak lainnya akan berpindah-pindah rumah beberapa kali, ke kota lainnya pertama dikunjungi, menemukan lingkungan dan sekolah yang baru lagi.

Nah, dalam perubahan yang dialami setiap saat ini, anak-anak diharapkan dapat menjalani runitasnya dengan baik.  Dengan demikian, anak akan merasa aman dan mampu menguasai atau menjalani kehidupannya. Saat rasa penguasaan ini diperkuat, anak dapat menangani perubahan yang lebih luas lagi, misalnya berjalan ke sekolah sendirian, membayar pembelian di toko, mengikuti kegiatan perkemahan dan sebagainya.

Adanya perubahan yang tak terduga bisa mengikis rasa aman dan membuat anak cemas bahkan kurang mampu mengatasi perubahan yang dialami. Misalnya, sahabat karibnya harus pindah rumah, dan sebagainya.

Tentu saja banyak perubahan yang tidak bisa dihindari. Tetapi itulah mengapa anak membutuhkan rutinitas yang dapat diprediksi sebagai landasan dalam hidup mereka – sehingga mereka dapat mengambil kesempatan untuk menangani perubahan besar saat membutuhkannya.

Rutinitas membantu anak-anak merasa aman dan siap untuk menghadapi tantangan baru. Hal itu juga memiliki peran perkembangan penting lainnya. Rutinitas mengajari anak-anak cara mengelola diri dan lingkungannya secara konstruktif.

Anak-anak yang datang dari rumah yang “semrawut” di mana barang-barangnya tidak dibereskan tidak akan pernah belajar bahwa hidup dapat berjalan lebih lancar jika segala sesuatunya diatur sedikit. Di rumah di mana tidak ada waktu atau ruang yang ditentukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, anak-anak tidak pernah belajar bagaimana duduk sendiri untuk menyelesaikan tugas yang baginya tidak menyenangkan.

Selain itu, anak-anak yang tidak mengembangkan rutinitas perawatan diri dasar, mulai dari merawat diri hingga makan, mungkin merasa sulit untuk merawat diri mereka sendiri Ketika mulai beranjak remaja bahkan saat dewasa. Struktur memungkinkan kita untuk menginternalisasi kebiasaan yang membangun rutinitas yang baik.

Apakah ini berarti bayi harus menjalani rutinitas sedini mungkin? Tentu tidak demikian. Bayi memberi tahu kita apa yang mereka butuhkan. Kita memberi mereka makan saat lapar, mengganti popoknya saat basah.

Seiring waktu, mereka mempelajari berbagai rutinitas. Saat kita tidur di malam hari, hal ini “memaksa” bayi untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas kita. Namun, hal itu tidak responsif terhadap kebutuhan bayi. Dia belum mampu beradaptasi dengan kita. Jika kebutuhannya tidak terpenuhi, dia akan merasa seolah-olah dunia adalah tempat di mana kebutuhannya tidak terpenuhi.

Saat bayi memasuki masa kanak-kanak, ia akan menetapkan rutinitasnya sendiri, menyesuaikan dengan semacam jadwal. Kebanyakan bayi menyesuaikan diri dengan pola yang dapat diprediksi. Kita dapat membantu mereka dalam hal ini dengan Menyusun jadwal berdasarkan kebutuhan mereka. Jadi, misalnya, kita memastikan atau menyiapkan kondisinya saat tidur siang. Secara bertahap, seiring waktu, kita dapat merespons jadwal makan dan tidurnya yang alami dengan mengembangkan rutinitas yang sesuai untuk dirinya dan seluruh anggota keluarga.

Foto : freepik.com

Cara Mengasah Kreativitas Anak (3)

Setiap orang tua pasti menginginkan anak tumbuh dan berkembang dengan optimal, salah satunya menjadi sosok yang kreatif. Nah, berikut ini beberapa tips cara mengasah kreativitas anak:

  1. Bantu anak untuk fokus dengan aktivitasnya

Konon, orang kreatif mungkin membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar bagaimana tetap terpusat dengan aktivitasnya. Anda dapat membantu anak untuk hal ini. Pastikan ia untuk dapat mengatur jadwal kegiatannya, agar tidak sepanjang hari berkutat dengan kegiatannya. Walaupun ia senang dengan kegiatannya, namun perlu ada pembagian waktu untuk aktivitas lain. Misalnya, untuk makan, istirahat dan lainnya.

Dengan kata lain, meski kita dorong anak untuk bisa fokus dengan kegiatan yang disenanginya, namun jangan sampai melupakan hal penting lainnya. Anda dan anak bisa membicarakan mengenai jadwal kegiatan dalam sehari sehingga ia tetap bisa konsisten dan fokus melakukan kegiatan yang disukainya. Namun, di sisi lain, kebutuhan lainnya pun tetap terpenuhi.

  1. Jangan takut merasa bosan

Orang tua seringkali menanggapi kebosanan anak dengan memberikan aktivitas lain yang mungkin kurang disenanginya. atau, memberikan gadget agar anak beralih dari kegiatan sebelumnya. Sebaiknya ajak anak untuk melakukan kegiatan yang mengasah imajinasi dan menciptakan serta berkreasi.

Sebenarnya, hindari anak merasa bosan dalam melakukan kegiatan yang mengasah kreativitasnya. Soalnya, anak membutuhkan latihan dengan waktu tidak terstruktur. Yang lebih penting, anak membutuhkan waktu kosong untuk menjelajahi dunia kreativitas.

Jadi bagaimana menanggapi ketika anak mengeluh bahwa dirinya meras bosan? Yang pasti, bantu ia untuk bertukar pikiran tentang kemungkinan kegiatan. Akan tetapi perjelas bahwa itu tugas ia untuk mencari cara menikmati waktunya sendiri. Untuk lebih lanjut tentang menangani kebosanan.

Tip penting: Ini sangat membantu untuk mencegah anak bergantung pada layar televisi atau gadaget.  Anak-anak yang secara teratur menonton televisi atau komputer lebih cenderung merasa bosan daripada anak-anak lain. Bahkan setelah menghilangkan kebiasaan itu, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menemukan aktivitas lain yang disukainya. Tapi jangan putus asa. Mulailah mengurangi menonton televisi. Anak mungkin akan merasa keberatan, tetapi Anda akan melihat keterlibatan baru dengan kreativitasnya sendiri mulai berkembang.

  1. Dorong anak untuk berkreasi bersama

Meskipun kita biasanya menganggap kreativitas sebagai upaya individu, terkadang pengalaman kreatif yang paling berharga datang saat saling bekerja sama. Sebuah organisasi paling kreatif dan inovatif dikenal karena mendorong kerja tim.  Pasalnya, ide terbaik sering kali merupakan produk kolaborasi. Jadi, apakah anak-anak sedang berkutat membangun sesuatu dengan balok atau menulis cerita, ada baiknya Anda dukung  ia untuk mengatasi tantangan dalam berkreasi dengan orang lain, karena pengalaman dapat menjadi transformatif.

Foto : freepik.com

Bagaimana Mengasah Kreativitas Anak? (1)

Kreativitas dapat didefinisikan sebagai melakukan berbagai hal dengan cara baru, atau melihat dunia  atau kondisi tertentu dengan cara yang berbeda.

Kita tahu bahwa sebagian orang terlahir dengan bakat tertentu, baik itu talenta di bidang seni rupa, seni suara atau seni musik dan sebagainya. Setiap orang sebetulnya memiliki kapasitas untuk menjadi kreatif.

Kita semua tentunya membutuhkan kemampuan untuk kreatif dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Kita semua perlu mengekspresikan kreativitas untuk melibatkan seluruh daya diri kita.

Seseorang tidak dapat memberikan bakat kepada orang lain. Namun, kita dapat melatih mata, telinga, dan pikiran anak sehingga mampu memiliki cara pandang yang kreatif. Kita juga dapat membantu anak untuk dapat berkonsentrasi, kompetensi, tekun, dan memiliki optimisme yang diperlukan untuk berhasil di kemudian hari.

Nah, studi terbaru yang meneliti tentang kreativitas telah mengejutkan para peneliti. Para peneliti memiliki asumsi bahwa anak-anak yang direkomendasikan oleh guru seni sebagai yang paling kreatif adalah mereka yang tidak teratur dan t yang berprestasi lebih buruk di kelas.  Ternyata, mereka keliru.

Guru seni  menyebut anak paling kreatif sama unggul dalam menyelesaikan tugas mereka di kelas lain. Anak-anak ini menunjukkan konsentrasi selama peragaan teknik, mampu berkompetensi untuk merencanakan proyek, memiliki optimisme untuk mengambil risiko menangani ide yang lebih sulit atau orisinal, dan ketekunan untuk memberikan waktu ekstra yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang menyeluruh dalam menyelesaikan proyek.

Meskipun ini tidak berbicara tentang bakat, hal ini menyoroti poin penting bahwa kreativitas membutuhkan kualitas kompetensi yang sama. Ini juga menyiratkan bahwa pola asuh yang sama yang membantu anak-anak menjadi sehat secara emosional mendorong kreativitas.

Jadi, Bagaimana Anda Membantu Anak mengembangkan Kreativitasnya?

  1. Kerapian dinilai terlalu tinggi.

Entah itu karena mereka takut tangan mereka kotor atau karena mereka hidup dengan terlalu banyak peraturan dan tidak berpikir out of the box. Anak yang tinggal di rumah engan fokus pada kerapian dinilai kurang kreatif. Seperti yang dikatakan Ms. Frizzle dari Magic Schoolbus, “Ambil Kesempatan! Menjadilah berantakan! ”

  1. Anak yang sering mengalami keterbatasan karena berpikir “di dalam kotak”.

Anak yang masih berusia bayii tentu harus dijaga keamanan lingkungan sekitarnya, misalnya jauhi dari kompor. Tapi sebaliknya, mengapa tidak membiarkan bayi Anda mengosongkan rak buku, misalnya. Mengapa balita Anda tidak boleh “mengecat” teras dengan kuas cat dan seember air?

  1. Fokus pada permainan dan proses, bukan produktivitas.

Ketika anak melakukan kegiatan seni untuk mendapatkan komentar positif dari orang dewasa, terkadang ia tidak sabar untuk menyelesaikan gambar lain demi untuk mendapatkan pujian “Karya yang bagus!” Namun yang jelas, yang terpenting bukanlah berapa banyak gambar yang ia hasilkan, melainkan seberapa terlibat dirinya dalam prosesnya. Perhatikan bagaimana perjuangannya mengerjakan gambar itu. Anak tak perlu terburu-buru untuk melanjutkan membuat gambar lainnya hanya demi unntuk mengejar komentar positif.

Foto : freepik.com

Tips Cegah Anak Tantrum di Tempat Umum

Anak tantrum di tempat umum? Moms mungkin mengalami hal ini. Lalu, bagaimana supaya Si Kecil tidak tantrum saat di tempat umum? Yuk, simak uraian berikut ini.

Bawa mainan atau benda favoritnya

Saat bepergian, jangan lupa Moms untuk membawa mainan atau  benda favoritnya. Misalnya, boneka, mobil-mobilan atau lainnya.

Pasalnya, menurut National Association of School Psychologists, tantrum yang terjadi pada anak umumnya terjadi karena ia mengalami perubahan aktivitas rutin.

Misal, pada siang hari biasanya lagi asyik bermain boneka. Namun, pada kesempatan siang lainnya, Moms mengajak ia mengunjungi tempat lain. Nah, perubahan aktivitas rutin ini dapat menimbulkan tantrum pada Si Kecil.

Kenapa demikian? Karena adanya perubahan rutinitas memicu rasa bosan pada anak. Mungkin ia mengharapkan bisa bermain-main Bersama temannya. Namun, pada saat itu ternyata ia justru berada di suatu tempat yang berbeda, yang tidak ia kenal dan tidak familiar, apalagi harus bertemu dengan orang banyak.

Karena itu, Moms coba bawakan juga mainan atau apapun benda kesukaannya agar ia tidak merasa bosan saat di tempat umum. Dengan begitu, mungkin akan mengurangi risiko ia melakukan tantrum.

Sempatkan istirahat

Nah, saat Moms mengajak Si Kecil ke area publik, pastikan Moms meluangkan waktu sejenak untuk beristirahat. Hal ini dapat mengurangi potensi anak mengalami tantrum. Bisa jadi, berada di keramaian dan bertemu dengan banyak orang membuat anak lelah.

Coba perhatikan, apakah Si Kecil tampak kelelahan. Kalau ia terlihat lemas dan kurang bersemangat, tidak banyak bicara, mungkin ia sudah capek. Ujung-ujungnya malah memicu ia melakukan tantrum.

Akan tetapi sebaliknya, bila Si Kecil masih tampak aktif, bersemangat, banyak bertanya kemungkinan ia belum merasa lelah.

Oh ya, perlu kita pahami Moms, ketika anak berada di tempat yang baru didatangi, kemungkinan muncul rasa bosan. Apalagi, ia merasa di tempat yang tidak membuatnya nyaman untuk bergerak secara leluasa. Kemungkinan ia akan merengek karena bosan, ingin pulang dan tak betah di tempat tersebut. Pastikan untuk tidak terlalu berlama-lama di tempat tersebut supaya anak tidak tantrum.

Karena itu, untuk menghindari terjadi tantrum, pastikan Moms menjelaskan pada Si Kecil mengenai kegiatan berikutnya yang bisa membuatnya senang. Misalnya, jelaskan bahwa selanjutnya ia akan diajak ke tempat area bermain.

Nah, selamat mencoba mengantisipasi anak tantrum ya Moms!

Foto : freepik.com

Anak Tantrum di Depan Umum? Ini Cara Mengatasinya

Mungkin tak sedikit Moms yang merasa kewalahan menghadapi Si Kecil yang mengalami tantrum. Terlebih, bila tantrum itu dilakukan di depan keramaian atau area umum.

Anak yang tantrum di depan umum sering membuat Moms panik dan takut mengganggu orang lain. Mungkin tak sedikit Moms yang kemudian mnjadi emosi. Lalu, bagaimana cara mengatasi anak tantrum saat  di depan umum?

Untuk langkah penting mengatasi anak tantrum dan mengamuk di depan umum, cobalah Moms untuk memeluk Si Kecil. Pelukan merupakan Langkah utama dan pertama yang bisa Moms lakukan untuk mengatasi tantrum anak di depan umum.

Kenapa pelukan bisa meredakan tantrum anak? Pasalnya, pelukan dapat membuat anak merasakan aman. Ia jadi tahu bahwa ibunya peduli dan sayang. Meskipun pada saat itu Moms tidak menyetujui perilakunya.

Pastikan Moms memberikan pelukan atau dekapan yang erat serta tegas. Namun, berbeda dengan pelukan sayang, seperti yang Moms lakukan saat hendak menidurkan Si Kecil.

Kemudian, Moms hindari mengucapkan kata-kata atau kalimat apapun saat memeluk atau mendekap anak.

Sebenarnya, tantrum akan menjadi problem yang besar ketika Moms merasa menyerah terlalu cepat atau terlalu sering. Soalnya, menyerah membuat anak mendapatkan apa yang ia inginkan. Alhasil, anak jadi sering berperilaku tantrum.

Foto : freepik

Kenapa Anak Tantrum? Ini Penyebabnya…

Moms,Si Kecil suka tantrum? Ya, salah satu problem yang cukup sering dialami oleh anak usia balita adalah tantrum. Sebenarnya, apa itu tantrum?

Secara definisi, tantrum diistilahkan sebagai “ledakan” emosi. Biasanya ditunjukkan dengan berbagai respons. Di antaranya menangis, menjering, berteriak, sikap keras kepala, membangkang bahkan marah.

Moms mungkin merasa bingung dan khawatir Ketika mendapatkan anak bersikap tantrum. Hal itu wajar Moms. Pastikan ada upaya yang bisa  dilakukan untuk mengatasi masalah tantrum ini.

Perlu Moms ketahui, tantrum merupakan bagian dari perkembangan anak yang normal. Pasalnya, Si Kecil sedang berupaya menunjukkan bahwa dirinya tengah merasa jengkel.

Biasanya, sikap tantrum ini dialami pada tahun kedua kehidupan Si Kecil. Pada momen tersebut, perkembangan Bahasa anak mulai berkembang.

Si Kecil bersikap tantrum lantaran belum mampu mengatakan dan menjelaskan yang diinginkan, dirasakan atau dibutuhkannya.

Akan tetapi, seiring kemampuan bahasa Si Kecil makin meningkat, tantrum yang ditunjukkan Si Kecil cenderung berkurang.

Lalu, apa yang menyebabkan anak mengalami tantrum? Anak mengalami tantrum lantaran merasa marah, kesal, Lelah, lapar, merasa tak nyaman atau bahkan frustasi. Ia menunjukkan sikap menangis, menjerit, menendang, merenget, bahkan memukul.

Sikap tantrum ini umumnya terjadi pada usia antara 1-3 tahun. Sikap tantrum ini terjadi lantaran anak kesulitan untuk mengungkapkan yang diinginkan atau dibutuhkannya.

Seiring waktu, anak makin mampu untuk mengendalikan emosi . hal ini seiring dengan perkembangan kemampuan sosial emosional anak.

Meski dikatakan sikap normal dan dinilai sebagai bagian dari proses perkembangan anak, namun Moms perlu mengetahui tanda tantrum pada anak yang di luar batas, di antaranya adalah :

  • Anak sering tantrum
  • Anak tantrum dalam waktu yang lama
  • Ketika tantrum, Si Kecil melakukan kontak fisik dengan orang lain
  • Anak tantrum hingga melukai dirinya sendiri.

Bila hal itu yang terjadi pada anak, maka menjadi risiko gangguan emosional. Maka bila diketahui tantrum anak berlebihan, Moms sebaiknya berkonsultasi dengan ahli. Foto : freepik

Jurus Hadapi Ulah Si Balita (1)

Balita Anda suka berpolah?  Suka memukul, cengeng, sulit diatur serta beragam ulah lain yang kadang membuat kita ‘naik darah’. Hmm…perilaku seperti itu terjadi seiring dengan tahap kemampuannya yang terus berkembang. Untuk itu, kita perlu mengetahui tahap perkembangan di usia ini dan mencari solusi atas ulahnya yang selalu ‘nyeleneh’.

Perkembangan Kognitif

Pada usia ini, menurut Piaget, kemampuan berpikir anak pada tahap praoperasional sehingga ia belajar melalui modeling/ meniru perilaku yang ada di lingkungannya. Tapi anak belum mampu memahami makna perilaku tersebut benar atau salah, baik atau buruk dan belum mampu memprediksi konsekuensi yang akan dialami karena perilaku tersebut. Cara berpikirnya masih egosentris, yaitu belum mampu memahami sudut pandang orang lain sehingga ia terkesan selalu ingin dimengerti dan dituruti. Perilaku ini membuat orangtua menilai anak keras kepala dan sulit diatur.

Perkembangan Emosi

Pada usia 2-3 tahun anak berada pada tahap perkembangan emosi yaitu periode tantrum. Sebaiknya anak diajarkan mengenali jenis emosi yang dirasakannya, baik emosi positif (gembira, senang, bersemangat) maupun emosi negatif (sedih, kecewa, marah). Bantu pula anak agar perlahan dapat mengelola emosi dan mengekspresikan emosi secara tepat. Pada usia 4 tahun, sebaiknya perilaku tantrum sudah berkurang intensitas dan frekuensinya seiring dengan berkembangnya keterampilan berbahasa untuk menyampaikan keinginan serta berkembangnya kemampuan kognitif untuk memahami sudut pandang orang lain.

Perkembangan Motorik

Anak mulai belajar keterampilan motorik halus yang lebih sulit, seperti menggunting, menempel, melipat dan menjahit. Pada usia ini, anak juga dilatih untuk dapat menggunakan pakaiaN sendiri, termasuk mengancingkan baju atau retsliting. Keterampilan motorik halus mengembangkan kemandirian dan kematangan emosi. Keterampilan motorik kasar juga sudah meningkat seperti menangkap dan melempar bola yang berukuran kecil seperti bola tenis, berdiri dan melompat dengan satu kaki.

Penguasaan anak pada keterampilan motorik kasar dan halus ini akan meningkatkan harga diri. Karena itu, orangtua sebaiknya hadir untuk memfasilitasinya agar mampu menguasai keterampilan-keterampilan itu bukan membantu anak untuk melakukan pekerjaan tersebut. 

Perkembangan Sosial

Erikson berpendapat, umur 3 tahun adalah periode pembentukan kontrol diri dan harga diri yang dilalui dengan proses interaksi anak dengan lingkungannya. Maka memberikan kesempatan buah hati untuk mengeksplorasi kemampuannya bersama teman sebaya akan meningkatkan harga diri dan kontrol dirinya.

Proses sosialisasi dengan lingkungan terdekat seperti bermain dengan anak tetangga sebaiknya dimulai menjelang usia 2 tahun dengan pendampingan orangtua atau pengasuh. Bagi ibu yang bekerja di rumah, sebaiknya juga membiasakan untuk berpisah/ meninggalkan anak dalam pengawasan kerabat dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian diharapkan pada usia 3 tahun, anak mulai terbiasa berani bermain dengan teman sebaya tanpa didampingi orangtua meskipun tetap dalam pengawasan.

Nah, keterampilan sosialisasi anak usia 3 tahun terdiri dari kemampuan memperkenalkan diri (nama, usia, nama orangtua), menyatakan pendapat pada teman sebaya, bertoleransi, berempati, mematuhi aturan dan bekerja sama. Kemampuan sosialisasi anak usia 4 tahun merupakan pematangan keterampilan sosialisasi usia sebelumnya sehingga anak dapat lebih mandiri dalam melakukannya. Misal, ia memiliki kesadaran untuk bergantian dengan teman saat menggunakan alat permainan tanpa diminta orangtua.

Pada usia 4 tahun, anak juga mulai bermain pura-pura, misalnya pura-pura menjalankan aktivitas berjualan atau berbelanja di toko, pura-pura menjadi dokter, atau pura-pura menjadi pilot. Saat bermain, beri kebebasan untuk berkreasi menciptakan properti yang akan digunakan sebagai sarana bermain. Kegiatan ini akan mengembangkan inisiatif dan keberanian anak untuk menciptakan ide sekaligus mengimplementasikan ide tersebut. Anak yang banyak mendapat pembatasan dari lingkungan, cenderung dicemooh atau diejek akan menyebabkan anak tumbuh menjadi pasif karena takut berbuat salah. Jadi disimpulkan, usia 3-4 tahun adalah masa yang sangat penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berinisiatif, mandiri, dan mampu bekerja sama. (hil)

Foto: freepik.com

Perilaku Balita (2)

Nah, berikut ini beberapa perilaku anak usia balita dan cara menanganinya:

1.Tantrum

Perilaku anak usia 3-4 tahun merupakan kelanjutan dari perilaku yang dipelajarinya atau dibentuk lingkungannya bahkan sejak bayi. Anak usia 3-4 tahun masih belajar untuk membentuk perilaku yang sesuai (adaptif) dengan norma sosial sehingga ia terkadang masih berperilaku kurang tepat, seperti tantrum namun frekuensi maupun intensitasnya sudah berkurang dibanding saat usia 2 tahun.

Umumnya, usia 2-3 tahun adalah periode puncak perilaku tantrum. Anak menangis keras, memukul, melempar, berguling-guling, dan berteriak apabila keinginannya tidak dikabulkan. Julukan/labelling biasanya mulai disematkan berdasarkan perilaku yang diperlihatkannya saat tantrum maupun interpretasi dari orangtua. Misal, anak tidak menuruti nasehat orangtua lalu menangis dengan suara keras sambil berguling-guling. Lalu,  orangtua akan berkata bahwa anak nakal. Hal ini seharusnya tidak dilakukan karena labelling cengeng atau nakal dapat menyebabkan anak mengidentifikasi dirinya seperti apa yang disematkan.  Anak akan mempertahankan perilaku tersebut karena menganggap hal itu bagian dari dirinya, terlebih jika lingkungan menjadi penguat perilaku tersebut. Misal, saat anak merengek meminta sesuatu yang dilarang, lalu orangtua mengatakan ia cengeng seraya menuruti keinginannya.

Tak sedikitorangtua yang tidak tahan mendengar rengekan anak agar keinginannya dikabulkan. Alhasil, segera dituruti tanpa berpikir panjang apakah keinginan tersebut baik untuk anak atau sekadar mempertimbangkan nominal rupiah dari barang yang diinginkan anak. Orangtua seperti ini cenderung berpikir bahwa dengan bertambahnya usia maka perilaku anak akan berubah padahal hal itu tidak mungkin terjadi. Anak justru akan mempelajari, rengekan adalah cara tepat mendapatkan keinginan. Dengan bertambahnya usia, anak semakin pintar mencari cara lain agar keinginannya dikabulkan. Misal, menangis keras seraya berguling-guling di tanah untuk menarik perhatian orang lain sehingga orangtua merasa malu. Di usia remaja kelak bisa jadi anak mengancam tidak mau sekolah jika keinginan tak dikabulkan. Anak yang merasa diabaikan orangtua juga dapat membuat ulah untuk mendapatkan perhatian.

Solusi:

Ajak anak bicara dengan intonasi suara yang tegas, tidak membentak dan perlahan. Misal, saat anak merengek kita dapat mengatakan, “Mama/papa tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tenang dulu baru bicara. Ayo sekarang tarik nafas dan hembuskan perlahan agar tenang.”

Setelah anak mampu bersikap tenang dan menyampaikan keinginan, beri apresiasi. Lalu, orangtua mulai menyatakan penolakan atau persetujuan. Bila menolak mengabulkan keinginan, alasannya harus rasional, bukan menakut-nakuti anak atau memberi janji yang tak mungkin dipenuhi. Sebelum menyampaikan alasan penolakan sebaiknya orangtua menyampaikan permintaan maaf sebagai bentuk empati. Sebaliknya, jika orangtua hendak mengabulkan keinginannya namun tidak saat itu, anak perlu mendapat penjelasan termasuk mengajaknya untuk bekerja sama dalam merealisasikannya. Misal dengan menabung atau menggunakan sistem token

2. Penakut

 Anak usia 3-4 tahun menunjukkan perilaku penakut karena dibentuk oleh lingkungan dengan menanamkan rasa takut serta membiasakan anak untuk merasa nyaman dengan rasa takut tersebut.Lingkungan sering menakut-nakuti anak saat terjadi situasi tertentu misalnya saat ada halilintar. Alhasil, anak akan mengembangkan rasa takut karena doktrin dari lingkungan. Tanpa disadari sebenarnya sikap menakut-nakuti telah mengurangi potensi anak untuk belajar karena lingkungan menanamkan rasa takut melakukan eksplorasi ataupun menghadapi situasi.

Saat anak menunjukkan rasa takut dengan perilaku menangis ataumenghindari situasi tertentu, lingkungan justru berharap anak bersikap berani.  Maka lingkungan pun memberi labelling penakut pada anak. Terlebih lagi saat anak merasa takut, lingkungan tidak mengajarkan anak bagaimana mengatasi rasa takutnya namun cenderung merespons dengan perilaku yang kurang mendidik seperti hanya memberikan rasa nyaman (memeluk) tanpa membantu anak untuk terampil mengatasi rasa takut.  Atau justru malah mencemoh maupun menertawakan anak.       

Solusi:

Amati perilaku anak saat takut, misal meremas tangan, memejamkan mata, menarik diri, atau menangis. Amati objek atau situasi yang menyebabkan anak merasa takut. Lalu, gali informasi dari anak apa yang ditakutinya dari objek atau situasi tersebut (apakah karena bentuk benda, suara, dan lainnya) serta hal buruk apa yang anak pikirkan tentang situasi atau objek tersebut. Bantu anak untuk mengatasi rasa takutnya dengan:

-Beri penjelasan untuk mengkoreksi pemikiran salah sang anak mengenai situasi ataupun objek tersebut.

-Latih ia untuk mengendalikan rasa takut seperti dengan mengatur nafas agar menjadi tenang, melakukan self talk bahwa anak dapat menghadapi situasi tersebut.

-Dampingi anak untuk melakukan poin di atas saat menghadapi situasi atau objek tersebut. Orangtua dapat mengurangi pendampingan saat anak sudah dapat melakukan poin di atas.

-Orangtua juga sebaiknya memberi contoh bagaimana cara anak seharusnya menghadapi situasi atau objek tersebut. Orangtua sebaiknya berhenti menjuluki penakut.

-Beri apresiasi atas usaha yang anak lakukan bahkan untuk kemajuan yang kecil sekalipun dan motivasi ia untuk terus mau berusaha.(hil)

Foto: freepik.com