Waspada Bullying di Sekitar Anak (3)

Ada baiknya sebelum tindakan bully muncul di sekolah atau di rumah, pihak sekolah dan orangtua perlu duduk bersama untuk merancang program preventif guna menghindari kasus bullying terjadi.Upaya preventif bisa diawali dengan penanaman nilai-nilai moral dan agama yang mendalam dan kuat.

Sekolah perlu menanamkan nilai menghargai satu sama lain, nilai berbagi. Sekolah juga perlu menyediakan variasi aktivitas untuk anak/remaja sehingga mereka memiliki kesempatan menunjukkan keahliannya walau tidak memiliki prestasi akademis yang mendukung.

Berikut yang dapat dilakukan sekolah:

-Pahami karakter tiap anak serta miliki gambaran potensi anak didik. Maka sekolah perlu membuat pendataan individu sehingga mengenali potensi yang dimiliki sang anak.

– Perkenalkan aturan-aturan di sekolah mengenai perilaku ini. Apa saja konsekuensinya, tindakan yang akan dilakukan, peneguran atau pemanggilan orangtua, dan lain sebagainya.

Lalu, upaya preventif di rumah lebih ke arah pengasuhan. Komunikasi yang aktif antara orangtua dan anak. Orangtua memahami karakter anak dan membantunya bagaimana menyelesaikan perselisihan. Berikan reward/ penghargaan terhadap perilaku baik anak. Berikan arahan tanpa judgemental terhadap anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Intinya, orangtua perlu memahami anak, minat dan dinamika psikologis si anak. misalnya, apa saja pemicu yang membuat si kakak mudah sekali marah? Apa yang selama ini sering menjadi keresahan si adik di rumah, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, komunikasi intensif terhadap anak-anak secara adil dan merata. Orangtua siap menjadi pendengar untuk mereka, bagaimana di dunia sekolahnya, adakah masalah dalam pertemanan dan lainnya.

Maraknya Cyber bullying

Cyber bullying yang terjadi saat ini cukup memprihatinkan terlebih anak-anak usia muda (usia di bawah 17 tahun) mudah mengakses internet dan memahami mekanisme penggunaan media sosial (medsos).

Medos bagi anak/remaja bagaikan catatan harian digital (diary digital) dimana ia bisa mencurahkan pikiran dan perasaannya sekaligus ingin dikenal orang lain. Namun kehadiran kecanggihan ini disalahgunakan anak untuk tindakan lain yang justru malah berakibat negatif dan merugikan orang lain, seperti menyindir, mengeluarkan kata-kata kasar atau menyinggung tema.

Dampak yang terlihat akan seperti “peperangan” media atau jika korban yang merasa tidak mampu menghadapi ini akan merasa sedih, kecewa, sakit hati, atau bahkan depresi yang berkepanjangan.

Upaya penanganan harus melibatkan semua pihak, terutama lingkungan rumah. Pasalnya, kehidupan anak berangkat dari rumah. Supervisi orangtua perlu dilakukan, apakah pernyataan-pernyataan anak di sosmed membangun/menciptakan ide atau bahkan memancing argumentasi orang lain. Mengenali kondisi serta permasalahan yang dialami anak, orangtua juga perlu mengetahui tren yang terjadi di lingkungan sosial si anak.

Ajak anak membangun pemikiran positif. Orangtua perlu mengajarkan anak untuk tidak mudah terpancing dengan pernyataan-pernyataan negatif, anak perlu mengonfirmasi kepada orangtua mengenai hal-hal yang kurang jelas yang diterimanya di media internet, sehingga ia lebih cerdas dalam menanggapi masalah yang muncul. (hil)

Foto: freepik.com