Waspada Bullying di Sekitar Anak (2)

Kemudian, bagaimana penanganan kasus bullying? Berikut uraiannya:

Penanganan terhadap korban:

– Jika terjadi di lingkungan sekolah, diharapkan konselor sekolah, wali kelas dan kepala sekolah segera bertindak menangani kasus ini. Jangan dibiarkan begitu saja atau dianggap sebagai hal sepele.

– Konselor atau psikolog sekolah berperan sebagai mediator dan memberi penanganan psikologis terhadap korban, seperti perasaan terancamnya, rasa khawatir dan takut terhadap pelaku. Psikolog sekolah perlu memberikan rasa nyaman dan penerimaan positif terhadap si pelaku, kemudian membangun ide pemikiran positif (positive mind).

– Orangtua perlu mendalami karakter anak dan kondisi sekitar si anak, misalnya mengenal bila anak berubah jadi pendiam. Biasakan berkomunikasi secara intens dengan anak tanpa memberikan judgemental

– Berikan anak dukungan dan masukan bagaimana ia menghadapi lingkungan dan teman-temannya yang dominan atau teman-teman yang membuatnya tidak nyaman.

– Orangtua perlu kritis kondisi dalam keluarga (jika bullying terjadi di lingkungan rumah atau sibling rivalry). Orangtua perlu bersikap netral dalam menyingkapi perselisihan antara kakak- adik dan berbuat adil. Orangtua perlu menanamkan nilai kasih sayang dan kekompakkan di antara kakak-adik.

– Orangtua perlu membangun rasa percaya diri  anak, beri penghargaan terhadap “self esteem” anak supaya ia merasa berharga di hadapan orang lain, kehadirannya sangat dinantikan teman-temannya di sekolah, pun bila  dia memiliki kepintaran yang bisa membantu teman-temannya yang kesulitan.

– Setelah orangtua sudah cukup memberi edukasi anak bagaimana cara menghadapi lingkungannya, orangtua juga perlu menanamkan kemandirian dalam mengambil keputusan. Bahwa si anak mampu menyelesaikan masalah dengan temannya, seperti berbicara baik-baik atau menghiraukan perilaku bullying itu sendiri dan melaporkan kepada guru atau wali kelasnya.

Penanganan terhadap pelaku:

– Pihak sekolah perlu membuat peraturan mengenai tindakan ini, bagaimana sekolah memperlakukan si pelaku ataupun si korban, seperti pemberlakuan hukuman, atau suspension (anak ditarik dari kelas untuk melakukan penyelesaian tugas sekolah yang belum terselesaikan dan dilakukan di ruang lain atau di rumah). Anak perlu mengetahui informasi (inform  consent) terhadap peraturan ini.

– Pelaku bullying dianggap sebagai anak/remaja yang sebenarnya sudah mandiri dan memahami norma yang berlaku namun dilanggar. Berarti pemberlakukan punishment juga merupakan bagian dari pembelajaran perilaku, di mana setiap perilaku memiliki konsekuensi. Pemilihan hukuman harus disesuaikan dengan usia pekembangan anak dan efek dari hukuman harus dimaknai oleh si anak/remaja sehingga ia bisa merefleksikan dirinya mengapa berbuat demikian terhadap anak lain.

– Hukuman dengan meminta anak menulis kalimat-kalimat yang sama berulang kali sebanyak 100 atau 1000 kali bukanlah solusi tepat, karena ia tidak memaknai dari hukuman ini. Dengan adanya hukuman, justru membuat anak menyadari dan merefleksikan dirinya telah menyakiti anak lain.

– Orangtua dan pihak sekolah perlu menyalurkan keterampilan yang selama ini dimiliki si anak dan bagaimana mewujudkannya. Misal, selama ini si anak jago bermain basket. Namun orangtua melarang untuk latihan basket setiap sore karena ia harus ikut les tambahan. Anak tidak bisa melawan orangtua dan ia melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya ke anak-anak lain yang ikut eskul basket.

– Berikan anak/remaja peran di lingkungannya. Pelaku biasanya merasa “perannya” di sekolah atau di rumah kurang diperhatikan sehingga ia mencari kompensasi dengan menganggu anak lain dengan cara bully. Jika si anak memiliki keahlian tertentu, salurkan kemampuannya melalui kompetisi atau eskul. (hil)

Foto: freepik.com