Waspada Bullying di Sekitar Anak (1)

Mungkin sering kita dengar, lihat dan membaca berita tentang kasus bullying di kalangan anak-anak. Hal tersebut membuktikan bahwa peristiwa bullying semakin marak di sekitar kita.

Apa itu bullying? Sebenarnya tidak ada definisi yang harafiah untuk menjelaskan secara spesifik pengertian dari bullying. Namun kita dapat deskripsikan sebagai perilaku yang melibatkan tindakan dan ucapan yang berisi muatan agresivitas yang ditujukan ke anak atau remaja yang memiliki karakteristik tertentu.

Bullying dinilai sebagai perilaku yang menyakiti dan memalukan anak/ remaja lain, seperti mengeluarkan kata-kata kasar, mendorong, atau bahkan meminta (korban) untuk melakukan tindakan sesuai perintah pelaku bully. Tindakan bully kerap terjadi berulang bahkan mampu menjatuhkan self esteem si anak/remaja yang menjadi korban.

Biasanya bully terjadi pada saat anak mulai memasuki lingkungan baru seperti sekolah atau tempat tinggal baru (tetangga). Di saat inilah anak mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang seusianya. Namun tak ada patokan, mulai usia berapa umumnya anak/remaja mengalami bully.

LEMAH SECARA PSIKOLOGIS

Siapa korban bully? Anak remaja yang menjadi korban bully biasanya adalah mereka yang dianggap “lemah” secara psikologis, seperti suka menyendiri, anak yang jumlah temannya sangat sedikit, anak/remaja yang dianggap “kurang terkenal” di kalangan teman lainnya, anak /remaja yang memiliki keahlian/keterampilan yang dianggap tidak tren di kalangannya atau beda minat dan ketertarikan. Misal, ketika anak/remaja lain sibuk membahas gadget terbaru, ia lebih tertarik membahas fenomena terjadinya asap kebakaran.

Nah, dampak yang muncul bisa beragam tergantung usia dan seberapa besar perilaku bully yang didapat, yaitu :

– Merasa tidak bahagia/senang jika berkumpul dengan teman-temannya.

– Merasa tidak nyaman di sekolah atau lingkungan dekat rumah.

– Sering bolos untuk menghindari orang tertentu atau takut pergi ke sekolah.

– Performansi di sekolah menurun.

– Menarik diri

– Depresi

– Meninggalkan sekolah (dropping out)

– bahkan sampai bunuh diri.

TAK PUNYA KOMPETENSI

Di sisi lain, anak/remaja melakukan bully karena ia merasa dirinya tidak memiliki kompetensi atau presetasi akademis yang bisa dibanggakan dan ditunjukkan ke teman, orangtua atau gurunya. Sebagai kompensasi “menutupi” kelemahannya itu, si anak/remaja berusaha menjadi pihak yang “ dominan” dan dikenal di lingkungannya. Dengan perilaku bullying ini, si anak/remaja mampu berkuasa di antara kelompoknya dan menjadi figur yang disegani di sekolah/rumah.

Lalu, pelaku biasanya adalah anak/remaja yang merasa tidak nyaman di lingkungannya, merasa bosan dengan rutinitas dan aktivitas di sekolah atau rumah. Sebab lain, kurangnya komunikasi dengan orangtua, membuat ia  merasa dirinya tidak diperhatikan secara psikologis. Ketika anak merasa kecewa atau marah, tidak ada teman atau saudara yang bersedia mendengarnya atau menemani ketika merasa kesepian.

Orangtua juga kurang memahami minat anak. Misal, anak menyukai melukis, tapi orangtua kurang menyediakan fasilitas yang menunjang kemampuan anak seperti buku gambar, kanvas, alat melukis dan lainnya. Alhasil, si anak sibuk mencoret-coret buku adiknya dan senang menganggu adiknya di rumah .

Tak kalah penting, anak merasa kurang memiliki kemampuan penyelesaian masalah (problem solving skill) jika ia menemui kendala. Misalnya dia tidak bisa kompak atau merasa disepelekan dalam peer group-nya. (hil)

Foto: freepik.com