Bila Si Batita Suka Meniru Ucapan Buruk (1)

Barangkali kita kerap menyaksikan bocah batita meniru kata-kata yang diucapkan Mama-Papa. Si kecil pun sering melontarkan kembali ucapan kakak, saudara, teman, bahkan suara dari teve atau video yang ditontonnya.

Melihat momen itu, kadang kita tergelitik. Lucu juga mendengarnya ketika Si Batita suka meniru ucapan kita. Ya, seperti burung beo yang sering berceloteh menirukan suara perkataan  manusia. Anak usia 1-3 tahun memang suka menirukan ucapan yang didengar.

Bila dilihat dari kacamata psikologi perkembangan, perilaku membeo merupakan proses alami yang terjadi pada tahapan perkembangan bahasa. Proses ini tentu sangat berdampak baik bagi si batita. Dengan membeo, anak berarti menunjukkan peningkataan kemampuan bahasa dan kosakata yang dimilikinya.

BELUM PAHAM MAKNA KATA

Akan tetapi, kebiasaan membeo pada batita ini tak jarang meresahkan Mama-Papa. Terutama ketika ia suka menirukan perkataan yang tidak layak diucapkan. Hal ini disebabkan kemampuan filter (menyaring) kata-kata pada batita belum berkembang dengan optimal.

Pada dasarnya, batita belum memahami makna kata-kata yang ia tirukan. Ia belum mampu membedakan mana kata-kata yang mengandung makna positif atau negatif. Apakah yang diucapkannya itu perkataan baik atau bukan.

Ketika anak menirukan kata-kata yang negatif, bisa saja membuat citra diri anak menjadi negatif. Bahkan hal tersebut dapat berdampak buruk bagi orangtuanya. Kemungkinan Mama-Papa dicap kurang benar dalam mendidik anak.

Itulah sebabnya, orangtua harus berhati-hati dalam berkomunikasi dengan si batita. Gunakanlah kata-kata dan kalimat yang positif dalam berkomunikasi dengan sang buah hati. Berikan contoh kepada anak usia 1-3 tahun bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan sopan. Misalnya ketika bertemu dengan orang lain, ajarkan untuk memberikan salam dan sapaan selamat pagi. “Halo, apa kabar?.  Atau bahkan mengucapkan terima kasih ketika menerima sesuatu atau hadiah dari orang lain.

Jika anak mampu menirukan perkataan dan perilaku yang baik tersebut, hendaknya orangtua memberikan respons positif. Bentuknya berupa reward  sehingga akan mendorong anak untuk terus berperilaku baik. Reward yang diberikan bisa berupa pujian atau bahkan kontak fisik seperti pelukan, tepukan di bahu, atau menciumnya.

Ya, pada 5 tahun pertama merupakan waktu terbaik bagi anak untuk mempelajari berbagai keterampilan yang akan menunjang dan mempengaruhi perkembangannya di masa mendatang. Intinya. sebisa mungkin pergunakanlah kalimat yang positif dalam pola pengasuhan dan mendidik anak. Kenapa begitu? Karena orangtua merupakan role model atau teladan bagi anak.

Bila kita mendapati anak berperilaku negatif, dalam hal ini menirukan ucapan yang buruk, berikut hal yang dilakukan:

  1. Abaikan

Hindari memberikan respons yang ekspresif ketika anak menirukan perilaku negatif atau berucap tidak baik/kata-kata kotor. Respons yang ekspresif justru akan mendorong si batita untuk melakukannya lagi. Pasalnya, anak merasa seperti mendapat perhatian lebih dari orangtua.Bersikaplah tenang dalam menanggapi perilaku anak. jika sang buah hati masih mengulangi perilaku tersebut maka abaikan. Soalnya, kecenderungan anak hanya mencari perhatian saja.

2. Berikan penjelasan

Berikan penjelasan kepada si usia 1-3 tahun mengenai perilakunya. Tidak perlu dengan mengomel atau bahkan membentak anak. Cukup dengan memberikan penjelasan yang konsisten kepada anak bahwa ucapannya itu tidak baik.

3. Berikan punishment (hukuman)

Jika anak masih mengulangi perilaku tersebut walaupun sudah diberi penjelasan, orangtua bisa memberikan punishment (hukuman) berupa konsekuensi. Jadi hukuman yang diberikan kepada anak bukan berupa fisik melainkan bersifat mendidik. Misalnya, anak tidak diizinkan bermain bersama temannya untuk beberapa hari. Atau anak tidak boleh menonton acara kesukaannya.

4. Introspeksi

Hal lain yang tak kalah penting adalah orangtua harus mencari tahu sumber peniruan anak. Apabila sumber peniruan anak adalah dari orangtua sendiri, Mama-Papa tentu harus menghilangkan kebiasaan menggunakan kata-kata negatif tersebut. Cobalah untuk introspeksi diri. (hil)

Foto: freepik.com