Kenapa Anak Tantrum? Ini Penyebabnya…

Moms,Si Kecil suka tantrum? Ya, salah satu problem yang cukup sering dialami oleh anak usia balita adalah tantrum. Sebenarnya, apa itu tantrum?

Secara definisi, tantrum diistilahkan sebagai “ledakan” emosi. Biasanya ditunjukkan dengan berbagai respons. Di antaranya menangis, menjering, berteriak, sikap keras kepala, membangkang bahkan marah.

Moms mungkin merasa bingung dan khawatir Ketika mendapatkan anak bersikap tantrum. Hal itu wajar Moms. Pastikan ada upaya yang bisa  dilakukan untuk mengatasi masalah tantrum ini.

Perlu Moms ketahui, tantrum merupakan bagian dari perkembangan anak yang normal. Pasalnya, Si Kecil sedang berupaya menunjukkan bahwa dirinya tengah merasa jengkel.

Biasanya, sikap tantrum ini dialami pada tahun kedua kehidupan Si Kecil. Pada momen tersebut, perkembangan Bahasa anak mulai berkembang.

Si Kecil bersikap tantrum lantaran belum mampu mengatakan dan menjelaskan yang diinginkan, dirasakan atau dibutuhkannya.

Akan tetapi, seiring kemampuan bahasa Si Kecil makin meningkat, tantrum yang ditunjukkan Si Kecil cenderung berkurang.

Lalu, apa yang menyebabkan anak mengalami tantrum? Anak mengalami tantrum lantaran merasa marah, kesal, Lelah, lapar, merasa tak nyaman atau bahkan frustasi. Ia menunjukkan sikap menangis, menjerit, menendang, merenget, bahkan memukul.

Sikap tantrum ini umumnya terjadi pada usia antara 1-3 tahun. Sikap tantrum ini terjadi lantaran anak kesulitan untuk mengungkapkan yang diinginkan atau dibutuhkannya.

Seiring waktu, anak makin mampu untuk mengendalikan emosi . hal ini seiring dengan perkembangan kemampuan sosial emosional anak.

Meski dikatakan sikap normal dan dinilai sebagai bagian dari proses perkembangan anak, namun Moms perlu mengetahui tanda tantrum pada anak yang di luar batas, di antaranya adalah :

  • Anak sering tantrum
  • Anak tantrum dalam waktu yang lama
  • Ketika tantrum, Si Kecil melakukan kontak fisik dengan orang lain
  • Anak tantrum hingga melukai dirinya sendiri.

Bila hal itu yang terjadi pada anak, maka menjadi risiko gangguan emosional. Maka bila diketahui tantrum anak berlebihan, Moms sebaiknya berkonsultasi dengan ahli. Foto : freepik